Anda di halaman 1dari 5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Spinal cord injury


1. Definisi Spinal cord injury
Chin LS, 2013 berpendapat bahwa Spinal cord injury adalah salah satu proses patologi
yang disebabkan karena trauma. Kerusakannya dapat meliputi sensorik, motorikm dan fungsi
otonom. Sedangkan pendapat lain mengatakan bahwa cidera medulla spinalis merupakan
gangguan pada medula spinalis yang menyebabkan perubahan baik sementara maupun
permanen pada fungsi motorik, sensorik dan otonom (Ardi, 2014).
Pendapat lain juga dikemukakan oleh Gondim FAA, Gest TR, 2013, Spinal Cord
Trauma adalah kerusakan medulla spinalis yang disebabkan karena trauma langsung atau
pengaruh dari suatu penyakit jaringan sekitar (tulang, dan darah). Kerusakan atau cidera pada
medulla spinalis berarti suatu pemutusan informasi motoris maupun sensoris dari sentral ke
perifer dan sebaliknya (Young W, 2002).
2. Etiologi Spinal cord injury
Penyebab terjadinya cidera medulla spinalis dapat dikelompokkan menjadi akibat
trauma dan non trauma. Kejadian trauma merupakan penyebab tersering terjadinya SCI.
Kejadian yang dapat menimbulkan cidera medulla spinalis dapat berupa, kecelakaan lalu
lintas, kecelakaan kerja, cidera olahraga, kecelakaan drumah, bencana alam, luka tembak.
Sedangkan penyebab spinal cord injury nontrauma dapat berupa tumor, kelainan vascular,
multiple sclerosis, transver myelitis (Siamy, 2012).
Sedangkan menurut, Gondim FAA, Gest TR, 2013 menyatakan bahwa luka kecil dapat
menyebabkan SCI jika medulla spinalis dalam keadaan sakit, seperti rheumatoid arthritis atau
osteoporosis. Trauma langsung seperti memar, dapat menyebabkan spinal cord injury jika
sendi pada vertebra rusak. Hal ini bisa saja terjadi pada kepala, leher, dada belakang, atau
penyebab lain akibat abnormal chiropractic manipulation.
3. Patofisiologi Spinal cord injury
Beberapa penelitian dibidang neurologi berusaha untuk menginvestigasi proses
perjalanan suatu penyakit, patofisiologi dari spinal cord injury. Penelitian proses patologi
spinal cord biasanya menggunakan subyek sperti monyet maupun hewan yang telah
dimanipulasi dengan berbagai tempat lesi dilakukan pada penelitian yang lama. Dewasa ini
paradigma penelitian telah bergeser dengan menilik struktur sel syaraf atau segmen anatomi
pada medulla spinalis dengan subyek manusia.

Spinal cord injury disebabkan oleh kerusakan akibat faktor mekanik yang
mengakibatkan efek berkelanjutan kerusakan jaringan progresif, dan diikuti oleh proses
ischemic dan halangan untuk calcium influx ke dalam neuron sehingga terjadi gangguan
kelistrikan pada neuron dan akson. Cidera primer disebabkan oleh trauma yang melingkar.
Cidera primer dapat dimungkinkan karena stress mekanis yang menyertai adanya kompresi,
kontusi dari segmen tulang, ligamen, dan pendarahan pada canalis spinalis. Mekanisme yang
bertanggung jawab atas terjadinya spinal cord injury adalah hilangnya aligment tulang yang
normal pada waktu tertentu. Dengan adanya dislokasi perpindahan posisi tulang dapat
menyebabkan distrupsi pada ligamen sehingga dapat mengakibatkan kompresi pada medulla
spinalis.
Cidera pada medulla spinalis baik berupa adanya pergeseran fragmen tulang belakang,
diskus maupun adanya kerobekan ligamen dapat mengakibatkan kerusakan microvasculer
bahkan pembuluh darah di sekitar haringan yang terkena trauma. Kerusakan pada pembuluh
darah diikuti dengan proses peradangan yang disertai dengan pembengkakkan pada spinal
cord. Adanya edema pad spinal cord menyebabkan penurunan aliran darah dan oksigen.
Apabila suplai oksigen dan aliran darah dibiarkan terus menerus maka akan menimbulkan
ischemic. Ischemic yang terjadi adanya hambatan dan kerusakan pada arteri utama sehingga
mempengaruhi proses perfusi dan juga disebabkan karena mikro sirkulasi yang tidak lancar.
Penurunan volume darah dapat mengakibatkan penderita mengalami penderira mengalami
systemic hypotension oleh karena hilangnya regulasi otonom karena ischemia. Kongesti yang
berlebihan pada vena dapat mengakibatkan ruptur vena. Ruptur mengakibatka pendarahan
yang hebat pada grey motor, dan mengalami spinal shock. Spinal shock berlangsung
beberapa hari bahkan beberapa minggu dengan gejala awal seperti hilangnya fungsi sel-sel
saraf medulla spinalis di bawah lesi, hilangnya reflek, flaccid. Pada akhir pemulihan spinal
shock maka akan menjadi spastik (Siamy, 2012).
4. Klasifikasi cidera medulla spinalis (Spinal cord injury)
American Spinal Injury Association (ASIA) bekerjasama dengan Internasional Medical
Society Of Paraplegia (IMSOP) telah mengembangkan dan mempublikasikan standart
internasional untuk klasifikasi fungsional dan neurologis cedera medula spinalis. Klasifikasi
ini berdasarkan pada Frankel di tahun 1969. Klasifikasi ASIA/ IMSOP dipakai di banyak
negara karena sistem tersebut dipandang akurat dan komperhensif.
Skala kerusakan menurut ASIA/ IMSOP:
a. Grade A Komplit Tidak ada fungsi motorik/ sensorik yg diinervasi oleh segmen
sakral 4-5.
b. Grade B Inkomlpit Fungsi sensorik tapi bukan motorik dibawah tingkat lesi dan
menjalar sampai segmen sakral (S4-5).

c. Grade C Inkomlpit Gangguan fungsi motorik di bawah tingkat lesi dan mayoritas
otot-otot penting dibawah tingkat lesi memiliki nilai kurang dari 3.
d. Grade D Inkomlpit Gangguan fungsi motorik dibawah tingkat lesi dan meyoritas
otot-otot penting memiliki nilai lebih dari 3.
e. Grade E Normal Fungsi motorik dan sensorik normal.
Cedera umum medula spinalis dapat dibagi menjadi komplet dan tidak komplet
berdasarkan ada/tidaknya fungsi yang dipertahankan di bawah lesi. Spinal cord injuri terdiri
atas tipe komplit dan tipe parsial berdasarkan ada atau tidaknya fungsi yang dipertahankan di
bawah lesi (Young, 2002). Pada tipe komplit, pasien akan kehilangan seluruh fungsi sensorik
dan motorik hingga segmen sakral terbawah. Sedangkan pada pada tipe inkomplit pasien
kehilangan sebagian fungsi sensorik dan atau motorik di bawah level cedera termasuk hingga
segmen sacral yang terbawah. Pembagian tipe cedera penting dalam menentukan prognosis
da penanganan selanjutnya. Pembagian tipe cedera penting dalam menentukan prognosis dan
penanganan selanjutnya.
Terdapat 5 sindrom utama cedera medula spinalis inkomplet menurut American Spinal
cord injury Association yaitu :
Tabel 1. Sindrom utama cedera medulla spinalis inkomplit menurut American Spinal
cord injury Association.
Nama Sindroma

Pola dari lesi saraf


Cedera

pada

Kerusakan
posisi Menyebar

ke

daerah

sentral dan sebagian pada sacral. Kelemahan otot


Central cord syndrome

daerah

lateral.

Dapat ekstremitas

atas

sering terjadi pada daerah ekstremitas


servikal.

jarang

dan
bawah

terjadi

pada

ekstremitas bawah
Anterior
Brown- Sequard
Syndrome

dan

posterior Kehilangan

ipsilateral

hemisection dari medulla proprioseptiv


spinalis atau cedera akan kehilangan
menghasilkan

dan
fungsi

medulla motorik.

spinalis unilateral.
Kerusakan pada anterior Kehilangan
Anterior cord syndrome

dari daerah putih dan motorik


abu- abu medulla spinalis

dan

secara komplit.

funsgsi
sensorik

Kerusakan pada anterior Kerusakan proprioseptiv


Posterior cord

dari daerah putih dan diskriminasi

syndrome

abu- abu medulla spinalis


Kerusakan

pada

getaran. Funsgis motor

juga terganggu
saraf Kerusakan sensori dan

lumbal atau sacral samapi lumpuh


Cauda equine syndrome

dan

ujung medulla spinalis

flaccid

pada

ekstremitas bawah dan


kontrol berkemih dan
defekasi.

Derajat beratnya spinal cord injury selain ditentukan oleh tipe cedera, juga ditentukan
oleh level ataupun topis lesi dari cedera. Berasarkan topis lesi terjadinya spinal cord injury
dapat dibedakan menjadi lower cervical bila mengenai segment cervical 5-7, mid thoracic
bila mengenai segmen thoracal 4-7 dan thoraco lumbal bila mengenai segmen thoracal 10
sampai lumbal 2. Efek dari cedera medulla spinalis sesuai dengan fungsi saraf yang
mengalami kerusakan.
Tabel 2. Efek cidera medulla spinalis berdasar level lesi
Lokasi cedera
Pada

dan

Efek yang mungkin dapat terjadi

atau Respiratory paralysis dan quadriplegi

diantara C5
Antara C5 dan C6

Paralisis pada tungkai, jari tangan, tangan, kelemahan


pada abduksi bahu dan fleksi siku serta hilangnya reflek
brachioradialis

Antara C6 dan C7

Paralisis pada tungkai, jari tangan, tangan, tetapi gerakan


bahu dan fleksi dari siku mungkin dapat dilakukan,
kehilangan reflek bisep jerk.

Antara C7 dan C8

Paralisis pada kedua tungkai dan tangan.

Pada C8 sampai T1

Dengan lesi tranversal timbul Horners syndromw(ptosis,


miotic pupils, facial anhidrosis), paralisis tungkai.

Antara
T12

T11

dan Paralysis otot tungkai bagian atas dan dibawah lutut.

Pada T12 sampai Paralisis dibawah lutut.


L1
Cauda equina

Hyporeflexia atau areflexia parese pada ekstremitas


bawah,

biasanya

timbul

nyeri

dan

hyperesthesia

disepanjang distribusi akar saraf, dan biasanya kehilangan


control bowel dan bladder.
Pada S3 S5 atau Kehilangan total control bowel dan bladder.
conus medularis at
L1
Dengan mengetahui level cedera pada SCU dapat di proyeksikan kemampuan
fungsional yang dapat dicapai oleh pasien sehingga mampu memberikan gambaran mengenai
prognosis pada pasien.