Anda di halaman 1dari 12

PENDAHULUAN

Abses otak adalah suatu proses infeksi yang melibatkan parenkim otak, dan terjadi
akibat dari fokus infeksi yang ada di sekitarnya, implantasi langsung karena trauma, atau
penyebaran hematogen, penyebaran langsung saat operasi, meningitis,sinusitis frontal, dan
karies gigi. Selain itu dapat juga disebabkan oleh otitis media yang merupakan sumber
langsung dari infeksi ataupun bronitis kronis juga merupakan sumber hematogeneous.
Sebagian besar kasus menunjukkan beberapa bukti dari infeksi sistemik, seperti leukositosis
perifer, peningkatan protein C-reaktif (CRP), peningkatan laju endap darah, dan peningkatan
temperature tubuh. Namun, indikator ini dari proses infeksi tidak menonjol dalam tahap awal.
Sulitnya membuat diagnosis dini berpengaruh atas kematian berulang yang tinggi. Hasil
terbaik hanya dapat dicapai jika dokter tetap waspada terhadap kemungkinan suatu abscess.
Selain itu melakukan analisis untuk menemukan informasi lebih lanjut tentang oemilihan
antibiotik yang cocok untuk digunakan ( Oyama, H et al, 2012).
Meskipun penggunaan antibiotik modern dalam pengobatan predisposisi penyebab
abses otak, kejadian abses otak tampaknya cukup menurunkan kasus abses otak. Penegakan
diagnosis pada abese otak yang disebabkan oleh jamur, parasit, atau organisme oportunistik
lainnya cukup meningkatkan ini mungkin disebabkan oleh peningkatan kemampuan untuk
membuat diagnosis dengan teknik pencitraan modern (Gorgan, A et al, 2012).
Perawatan dapat diberikan antibiotik intravena saja, atau bersamaan dengan intervensi
bedah gabungan: seperti aspirasi abses dan / atau eksisi abses .Obat antibiotik harus diberikan
secara intravena untuk menghasilkan kadar serum yang tinggi. Edema otak parah mungkin
juga memerlukan pemberian manitol intravena. Pengobatan antibiotik penisilin G intravena
dan kloramfenikol telah digunakan untuk mengobati abses otak dalam beberapa kasus dan
memberikan hasil yang memuaskan. Metronidazol sangat aktif terhadap bakteri anaerob,
termasuk Bacteroides fragilis (Lumbiganon & Chaikitpinyo, 2013).

Page 1

ABSES SEREBRI

A. EPIDEMIOLOGI
Abses otak dapat mengenai semua kelompok umur. Bayi dan anak-anak mempunyai
kekerapan lebih tinggi. Laki-laki lebih banyak daripada perempuan, bahkan menurut
Browning dan Nunez perbandingan antara . laki - laki dan perempuan adalah 3. Di
Palembang dari tahun 2005 - 2009 ditemukan sebanyak 9 kasus abses otak. Dan kasus
terbanyak dijumpai dalam tahun 2009 ini sebanyak 5 kasus (Ghanie, 2009)
Abses otak - salah satu komplikasi intrakranial dari otitis media supuratif kronis,
merupakan kegawat-daruratan di bidang THT, yang berpotensi menjadi serius dan
mengancam jiwa. Kejadiannya 25% dari seluruh komplikasi intrakranial, terutama di negara
berkembang. Keadaan ini dihubungkan dengan pengobatan otitis media tidak adekuat
terutama di kalangan sosial ekonomi rendah.Walaupun angka kesakitan dan kematian
komplikasi intrakranial turun dari 35% menjadi 5% sejak pemakaian antibiotika, teknik
diagnosis dan metoda operasi yang canggih dan maju, abses otak masih merupakan kasus
fatal. Di Walton Hospital sekitar 0,5% otitis media akut dan 3% OMSK berkembang menjadi
abses otak, dengan angka kematian sebesar 47,2%, kebanyakan karena terlambat
mendapatkan pengobatan (Sucipta & Suardana, 2011).
B. ETIOLOGI
Bakteri streptokokus adalah paling umum (70%) ditemukan pada abses otak. Bakteri
ini, terutama Streptococcus anginosus dan S.indermedius biasanya berada di rongga mulut,
usus buntu, dan saluran kelamin perempuan, dan memiliki kecenderungan untuk
pembentukan abses. Staphylococcus Aureus ditemukan sekitar 10% sampai 20% kasus.
Biasanya pada pasien dengan trauma kranial atau infeksi endokarditis. Salmonella spp.
dilaporkan telah jarang menimbulkan abses otak, bakteremia biasanya telah dikompromi oleh
sistem retikuloendotelial (Mustafa, M et al, 2014).
Insiden abses otak akibat jamur telah meningkat sebagai hasil dari agen
imunosupresif, terapi antimikroba spektrum luas dan kortikosteroid. Dalam studi otopsi,
Candida spp. telah muncul sebagai agen etiologi yang paling umum. Lesi neuropathological
Page 2

termasuk abses mikro, granuloma, dan nodul glial menyebar. Faktor risiko untuk infeksi
Candida invasif mencakup penggunaan kortikosteroid, spectrum terapi antimikroba yang
luas, dan hiperalimentasi. Kasus infeksi intrakranial disebabkan oleh Aspergillus spp. telah
dilaporkan seluruh dunia, dengan kebanyakan kasus terjadi pada orang dewasa. Berbagai
protozoa dan heliminths telah dilaporkan dapat menyebabkan abses otak, termasuk
Trypanosoma cruzi, Entamoebahistolyitica, Schistosoma spp, dan Paragonimus spp.,
Neurocysticcercosis, disebabkan oleh bentuk larva Taneiasolium (Mustafa, M et al, 2014).

C. PATOFISIOLOGI
Pada umumnya abses otak terjadi akibat masuknya organisme ke dalam susunan saraf
pusat akibat trauma kepala, prosedur operasi, melalui proses penyebaran langsung, atau
metastasis dari fokus-fokus infeksi. Proses tersebut melalui dua jalur, yaitu pertama melalui
cara ekstensi langsung dimana telinga tengah atau sinus nasal merupakan suatu basis sebagai
osteomielitis yang kemudian diikuti dengan inflamasi dan penetrasi bahan-bahan infeksi
menembus duramater dan leptomeningens serta membuat suatu traktus supuratif ke dalam
otak, dan atau dengan cara menyebar melalui sepanjang dinding vena yang diperberat oleh
tromboflebitis vena-vena pia serta sinus duramater (Wijanarko & Turchan, 2010).
Trauma yang meninggalkan benda asing, atau riwayat kraniotomi sebelumnya
merupakan faktor-faktor predisposisi yang bermakna dalam kejadian timbulnya abses otak
(10-20%). Di samping itu ada juga kejadian abses sebagai akibat komplikasi penggunaan alat
medis seperti Halo Orthosis yang biasanya dipasang untuk fraktur servikal dan juga paska
tindakan lain seperti dilatasi striktur esofagus, tindakan pemasangan shunt untuk hidrosefalus,
terutama yang dilakukan berulang-ulang. Kurang lebih sepertiga dari seluruh abses otak
merupakan infeksi metastatik melalui penyebaran bakteri melalui hematogen, terutama sistem
vertebrobasiler dari fokusfokus infeksi yang letaknya jauh dari kepala, dan biasanya abses ini
merupakan jenis yang multipel dengan lokasi yang khas, yaitu di antara perbatasan antara
substansia putih dan kelabu, lokasi dimana aliran darah kapiler adalah yang paling lambat
(Wijanarko & Turchan, 2010).
Fokus sistemik sering menjadi sumber infeksi antara lain fokus septik di paru-paru
atau pleura (bronkhiektasis, empiema, abses paru, fistula bronkhopleura), abnormalitas
jantung berupa infeksi atau defek kongenital (seperti Tertralogi Fallot) yang memungkinkan
emboli yang terinfeksi masuk ke dalam lintas pendek sirkulasi paru dan mencapai otak,
Page 3

pustula-pustula kulit, abses gigi dan tonsil, bakterialis, divertikulitis, dan osteomielitis tulangtulang nonkranial (Wijanarko & Turchan, 2010).
Dinamika perkembangan suatu abses otak berdasar penelitian eksperimental klasik
dan studi klinisnya mengidentifikasi empat stadium proses patologi abses otak yaitu
(Wijanarko & Turchan, 2010) :
1. Stadium serebritis dini / Early cerebritis (1-3 hari)
Respon inflamasi perivaskuler mengelilingi pusat nekrotik pada hari ke tiga
Terdapat edema pada substansia alba
Munculnya pusat nekrotik dan respon inflamasi lokal di sekeliling pembuluh darah
(mencapai puncak pada hari ke-3 dengan adanya edema)
Pada saat ini lesi tidak dapat dibedakan dari jaringan otak sehat.
2. Stadium serebritis lanjut / Late cerebritis (4-9 hari)
Pusat nekrotik mencapai bentuk maksimum
Muncul fibroblas (membentuk kapsul dan menambah neovaskularisasi perifer dari

pusat nekrotik)
Terdapat respon reaktif astrosit di sekitar edema substansia alba
Pus membentuk pembesaran dari pusat nekrotik yang dikelilingi oleh zona sel

inflamasi dan makrofag.


Fibroblas membentuk jaringan retikulin yang perupakan prekursor dari kapsul

3.

kolagen
Stadium formasi kapsul dini / Early capsule formation (10-13 hari)
Penurunan bentuk pusat nekrotik
Terdapat fibroblas dengan deposisi retikulin pada bagian korteks
Di luar kapsul terdapat serebritis dan neovaskularisasi dengan peningkatan astrosit

reaktif.
Kapsul semakin menebal di sekitar pusat nekrotik.
Formasi kapsul tersebut membatasi penyebaran infeksi dan perusakan parenkim

otak.
Formasi kapsul berkembang lebih lambat pada daerah medial / ventrikel karena

vaskularisasi yang lebih sedikit pada substansia alba yang lebih dalam.
4. Stadium formasi kapsul lanjut / Late capsule formation (> 14 hari)
Kapsul menebal dengan reaktif kolagen pada minggu ketiga
Ditandai dengan 5 zona histologi :
a. Adanya pusat nekrotik
b. Zona perifer dari sel inflamasi dan fibroblas
c. Kapsul kolagen
d. Lapisan neovaskularisasi di luar kapsul dengan cerebritis sisa (residual
cerebritis)
e. Zona edema dan gliosis reaktif di luar kapsul.
D. MANIFESTASI KLINIS

Page 4

Gejala umum abses otak adalah gejala proses desak ruang ditambah gejala infeksi.
Stadium awal abses otak berupa ensefalitis, yang menimbulkan edema otak dan peningkatan
tekanan intrakranial, menyebabkan gejala mual, nyeri kepala dan muntah, somnolen dan rasa
bingung kadang-kadang disertai delusi dan halusinasi. Bila penyakit bertambah berat dapat
terjadi stupor dan koma. Edema papil mulai timbul 10-14 hari setelah onset (Prasetyo, 2012).
Pada kasus progresif dapat terjadi herniasi tentoria atau herniasi tonsil serebelum
ditandai dengan fiksasi dan dilatasi pupil dan akhirnya paralisis pernafasan. Kapsul mulai
terbentuk dalam 10-14 hari. Kapsul fibrosis terbentuk dalam 5-6 minggu. Pembentukan
kapsul tersebut diikuti menurunnya gejala karena berkurangnya ensefalitis dan edema di
sekitar abses. Kekambuhan terjadi jika abses berkapsul pecah dan menyebabkan abses satelit;
hal tersebut masih dapat terjadi walaupun telah terbentuk dinding abses fibrosis yang kuat.6
Sekitar 5-10% abses otak dapat kambuh (Sucipta & Suardana, 2011).
Berdasarkan patogenesisnya, gejala dan tanda klinis dapat dibagi menjadi empat
stadia yaitu :
1. Stadium inisial, demam tidak terlalu tinggi, rasa mengantuk, kehilangan konsentrasi,
kehilangan nafsu makan, nyeri kepala serta malaise, kadang-kadang mual dan muntah
non proyektil.
2. Stadium laten, secara klinis tidak jelas karena gejala berkurang, terdapat malaise,
kurang nafsu makan dan nyeri kepala yang hilang timbul.
3. Stadium manifes : kejang fokal atau afasia pada abses lobus temporal, pada abses
serebelum terjadi ataksia atau tremor. Nyeri kepala hebat disertai mual dan muntah
proyektil dianggap khas untuk penyakit intrakranial.
4. Stadium akhir berupa kesadaran menurun dari sopor sampai koma dan akhirnya
meninggal, karena ruptur abses ke dalam sistem ventrikel dan rongga sub arakhnoid.
Selain itu, terdapat pula gejala khas yang dapat terjadi dengan tanda neurologis fokal
sesuai lokasi abses yang terjadi (Price&Wilson. 2006):
Lobus
Frontalis

Gejala
Mengantuk, kurang konsentrasi, hambatan dalam mengambil keputusan,

Temporalis

gangguan intelegensi, kadang-kadang kejang


Tidak mampu menyebut objek, tidak mampu membaca, menulis ataupun

Parietalis

mengerti kata-kata, hemianopia


Gangguai sensasi posisi dan persepsi stereognostik, kejang fokal,

Serebelum

hemianopia, homonim, disfasia, agrafia


Sakit kepala suboksipital, leher kaku, gangguan koordinasi, nistagmus,
ganguan berjalan, tremor intensional
Page 5

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pada pemeriksaan darah tepi kadang-kadang terdapat leukositosis. Cairan


serebrospinal biasanya bersifat jernih dan steril, kecuali bila abses pecah yang akan
menyebabkan terjadinya meningitis. Tekanan cairan serebrospinal sering kali meningkat,
dengan kadar protein yang sedikit meninggi. Jumlah sel normal atau sedikit meninggi. Pada
stadium awal jumlah sel polimorfonuklear lebih banyak, namun bila sudah terbentuk kapsul,
maka jumlah limfosit akan lebih banyak. Pengukuran kadar C-reaktif Protein (CRP)
diterapkan untuk membedakan abses otak piogenik dengan tumor otak atau lesi massa
lainnya berkaitan dengan peningkatan kadarnya di dalam plasma sewaktu ada proses infeksi
akut dan kronis. Pengukuran kadar CRP ini bermakna dan sangat membantu pada kasuskasus dalam stadium dini (Wijanarko & Turchan, 2010).
Pemeriksaan EEG pada abses otak mirip dengan kasus-kasus tumor otak yang tumbuh
cepat.

EEG

(Electroencephalogram)

dapat

menunjukkan

lokasi

abses,

dengan

memperlihatkan gelombang delta voltase tinggi pada tempat lesi supuratif. Pemeriksaan EEG
diperlukan untuk melihat adanya pembentukan dan penambahan gelombang delta
setempat(Wijanarko & Turchan, 2010).
CT (Computerised Tomography) scan merupakan prosedur yang sangat bermanfaat
untuk memastikan diagnosis abses otak. CT Scan mampu melihat daerah dengan densitas
yang kurang. Apabila sudah terbentuk kapsul daerah tersebut akan dilingkari oleh daerah
dengan densitas yang lebih tinggi. Pemeriksaan angiografi serebral hanya dilakukan sebagai
tambahan dari pemeriksaan CT scan otak. Pemeriksaan ini dapat menunjukkan lokasi suatu
massa avaskuler (yang terdiri dari abses dan edema sekelilingnya), dan dalam fase arteriil
kadang-kadang ditampilkan area neovaskularisasi yang mengelilingi zone nekrosis sentral
(Wijanarko & Turchan, 2010).
Pemeriksaan MRI cenderung unggul dalam menegakkan diagnosa lebih dini dan
akurat serta lebih definitif untuk menentukan penyebaran dan tampilan kompleks proses
inflamasi, khususnya dengan penggunaan zat kontras. Di samping itu pemeriksaan MRI
merupakan pemeriksaan penunjang yang bermanfaat untuk investigasi diagnostik lesi-lesi
intraserebral lainnya. MRI dapat membedakan antara bekuan darah dan free flowing blood
Page 6

seperti malformasi arterio-venosus, tumor, atau lesi-lesi nonvaskuler (Wijanarko & Turchan,
2010).

F. TATALAKSANA

Pengobatan

abses

otak

memerlukan

pendekatan

multidisiplin.

Pencitraan

memungkinkan diagnosis dini dan memungkinkan untuk menetapkan lokalisasi lesi otak
yang memerlukan intervensi bedah. Stereotactic aspirasi jarum merupakan terapi yang
dilakukan untuk drainase dan mendapatkan spesimen diagnostik untuk identifikasi organisme
penyebab. Pencitraan ulang dilakukan untuk memantau respon terapi dan mengidentifikasi
Page 7

lesi berulang atau sekunder yang mungkin memerlukan drainase berulang (Lumbiganon &
Chaikitpinyo, 2013).

Perawatan dapat diberikan antibiotik intravena saja, atau bersamaan dengan intervensi
bedah gabungan: seperti aspirasi abses dan / atau eksisi abses .Obat antibiotik harus diberikan
secara intravena untuk menghasilkan kadar serum yang tinggi. Edema otak parah mungkin
juga memerlukan pemberian manitol intravena. Pengobatan antibiotik penisilin G intravena
dan kloramfenikol telah digunakan untuk mengobati abses otak dalam beberapa kasus dan
memberikan hasil yang memuaskan karena kerja obat tersebut dapat masuk ke dalam abses.
Metronidazol sangat aktif terhadap bakteri anaerob, termasuk Bacteroides fragilis
(Lumbiganon & Chaikitpinyo, 2013).
Pengobatan abses otak adalah mengurangi efek masa dan menghilangkan kuman
penyebab. Penatalaksanaan abses otak dapat dibagi menjadi terapi bedah dan terapi
konservatif. Untuk menghilangkan penyebab, dilakukan operasi baik aspirasi maupun eksisi
dan pemberian antibiotik. Pemantauan ketat harus dilakukan terhadap keadaan umum dan
tanda vital penderita. Semua penderita dengan abses otak diberikan antibiotik berspektrum
luas, seperti juga pada meningitis bakterialis. Kita sering menemui kesulitan pada pemberian
antibiotik karena antibiotik tersebut harus dapat menembus sawar otak, mampu menembus
kapsul bila abses telah berkapsul, dan mempunyai spektrum yang luas karena adanya
berbagai macam mikroorganisme penyebab abses. Penyuntikan antibiotik langsung ke dalam
abses otak tidak dianjurkan, karena hal ini dapat menyebabkan fokus epileptogenesis
(Wijanarko & Turchan, 2010).
Ukuran abses penting dalam pengobatan dengan antibiotik. Abses dengan diameter
antara 0,8-2,5 cm dilaporkan bisa sembuh dengan pemberian antibiotik. Abses yang lebih
besar memerlukan tindakan pembedahan. Tindakan tanpa operasi biasanya dilakukan pada
penderita dengan abses multipel atau bila lesinya kecil dan sulit dicapai dengan operasi. Bila
Page 8

terdapat abses multipel, aspirasi abses yang besar tetap dilakukan untuk menentukan jenis
mikroorganisme dan uji resistensi. Kuman anaerob memerlukan metronidasol sebagai
pengobatannya (Wijanarko & Turchan, 2010).
Kriteria penderita yang merupakan kandidat untuk pengobatan dengan antibiotika
saja, yaitu bila diperkirakan operasi akan memperburuk keadaan, terdapat abses multipel
terutama yang jaraknya berjauhan satu sama lain, abses disertai dengan meningitis, abses
yang lokasinya sulit dicapai dengan operasi atau operasi diperkirakan akan merusak fungsi
vital, serta abses yang disertai dengan hidrosefalus yang mungkin akan terinfeksi bila
dioperasi. Pada penderita yang diduga atau terbukti mengalami peningkatan tekanan
intrakranial, dapat diberikan kortikosteroid atau cairan hiperosmoler, misalnya manitol.
Pengobatan penunjang serta perawatan yang baik perlu dilakukan dengan seksama termasuk
pengobatan simtomatik terhadap edema dan kejang (Wijanarko & Turchan, 2010).
G. KOMPLIKASI
Untuk pasien dengan penurunan kesadaran, segera lakukan pencitraan otak untuk
mendeteksi hidrosefalus atau herniasi otak yang akan datang. Abses pecah ke dalam sistem
ventrikel dapat terjadi ventriculitis. Terjadinya hidrosefalus dapat menyebabkan kematian
yang tinggi. Saat ini, 70% dari pasien dengan abses otak memiliki hasil yang baik, dengan
ada atau tidak

gejala neurologis minimal yang masih tersisa. Fungsional dan evaluasi

neuropsikologi juga dapat dilakukan setelah penanganan abses otak selesai (Brouwer, M. C et
al. (2014).
H. PROGNOSIS
Tergantung kecepatan diagnosis serta pengobatan yang diberikan. Prognosis makin
buruk, jika abses berukuran besar, abses ruptur ke dalam sistem ventrikel, abses disertai
meningitis, empiema, dan hidrosefalus serta abses multipel. Sekitar 72% penderita dapat
mengalami epilepsi setelah 5 tahun (Sucipta & Suardana, 2011).
KESIMPULAN

Abses otak adalah suatu proses infeksi yang melibatkan parenkim otak, dan terjadi
akibat dari fokus infeksi yang ada di sekitarnya, implantasi langsung karena trauma, atau
penyebaran hematogen, penyebaran langsung saat operasi, meningitis,sinusitis frontal, dan
Page 9

karies gigi. Abses otak dapat mengenai semua kelompok umur. Etiologi dari abses otak dapat
berasal dari bakteri, virus, jamur dan parasit. Stadium awal abses otak berupa ensefalitis,
yang menimbulkan edema otak dan peningkatan tekanan intrakranial, menyebabkan gejala
mual, nyeri kepala dan muntah, somnolen dan rasa bingung kadang-kadang disertai delusi
dan halusinasi. Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan darah tepi,
pemeriksaan EEG, CT-scan dan MRI. Perawatan dapat diberikan antibiotik intravena saja,
atau bersamaan dengan intervensi bedah gabungan: seperti aspirasi abses dan / atau eksisi
abses

DAFTAR PUSTAKA

Brouwer, M. C et al. (2014). Brain Abscess. The New England Journal of Medicine. N Engl J
Med

2014;371:447-56.

DOI:

10.1056/NEJMra1301635.

Available

from

http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMra1301635 [Accessed on 2 nd Mei

2015].
Page 10

Ghanie,Alba. (2009). Abses Otak Otogenik di Rsup Iit.Mohammad Hoesii Palembang.


Simposium

Otologi

Pito

Pbrhati.Kl

Di

Palembang.

http://eprints.unsri.ac.id/855/1/Abses_Otak_Otogenik_di_RSMH_.pdf.

Available

from:

[Accessed on 2 nd

Mei 2015].
Gorgan, A et al. (2012). Brain Abscesses: Management and Outcome Analysis in a Series of
84 Patients During 12 Year Period. Romanian Neurosurgery (2012) XIX 3: 175 182.
Available from: http://www.roneurosurgery.eu/atdoc/1Gorgan_BrainAbcesses.pdf [Accessed
on 2 nd Mei 2015].
Lumbiganon & Chaikitpinyo. (2013). Antibiotics for brain abscesses in people with cyanotic
congenital heart disease (Review). The Cochrane Collaboration and published in The
Cochrane

Library

2013,

Issue

http://www.bibliotecacochrane.com/pdf/CD004469.pdf

3.

Available

from

[Accessed on 2 nd Mei 2015].

Mustafa, M et al. (2014). Brain Abscess: Pathogenesis, Diagnosis and Management


Strategies. Impact: International Journal of Research in Applied, Natural and Social
Sciences ISSN(E): 2321-8851; ISSN(P): 2347-4580 Vol. 2, Issue 5, May 2014, 299308. Available from: http://www.impactjournals.us/download.php?fname=2-14-140138516934.%20Applied-Brain%20Abscess%20Pathogenesis,%20diagnosis%20and%20managementMurtaza%20Mustafa.pdf [Accessed

on 2 nd Mei 2015].

Oyama, H et al. (2012). Inflammatory Index and Treatment of Brain Abscess. Nagoya J. Med.
Sci. 74. 313 ~ 324, 2012. Ogaki, Gifu 503-8502, Japan. Available from:
http://www.med.nagoya-u.ac.jp/medlib/nagoya_j_med_sci/7434/10_Oyama.pdf

[Accessed on

2 nd Mei 2015].
Sucipta & Suardana. (2011). Abses Otak Otogenik Berulang. CDK 185/Vol.38 no.4/Mei-Juni
2011. Available from: http://www.kalbemed.com/Portals/6/12_185Absesotak.pdf [Accessed
on 2 nd Mei 2015].
Prasetyo, Edi. (2012). Advanced Neurology Life Support. PERDOSSI. Jakarta.ISBN 978979-24-4211-3

Page 11

Price&Wilson. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Ed 6. Jakarta: EGC,

Wijanarko & Turchan. (2010). Brain Abscess With Congenital Heart Desease. Neurosurgery
Subdivision

Dr

Moewardi

Hospital

Surakarta.

http://bedahsarafsolo.com/sites/default/files/ABSES%20SEREBRI.pdf

2015].

Page 12

Available

from:

[Accessed on 2 nd Mei