Anda di halaman 1dari 11

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufiq, dan
hidayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah tentang KURBAN ini kami susun untuk memenuhi tugas kelompok Agama
Islam. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan
memerlukan banyak perbaikan. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat
membangun untuk penyempurnaan makalah ini.
Pada kesempatan ini, dengan tulus ikhlas kami menyampaikan terima kasih kepada temanteman yang telah memberikan bantuan dan partisipasinya baik dalam bentuk moril maupun
materil untuk keberhasilan dalam penyusunan makalah ini.
Kami selaku penyusun berharap semoga makalah ini ada guna dan manfaatnya bagi para
pembaca. Amin.

Gunung Sari, 30 September 2015

Penulis

DAFTAR ISI

KATA
PENGANTAR.. i
DAFTAR
ISI. ii
BAB I
PENDAHULUAN 1
1. Latar Belakang 1
2. Rumusan Masalah.. 1
3. Tujuan.. 1
4. Manfaat Penulisan.. 1
BAB II
PEMBAHASAN 2
1. Pengertian Kurban 2
2. Ketentuan Hewan Kurban
3. Pembagian daging kurban
4. Hikmah pelaksanan hawan kurban. 3
BAB III
PENUTUP6
1. Kesimpulan 6
2. Saran. 6
DAFTAR
PUSTAKA.. 7

BAB I
PENDAHULUAN

1. A.

Latar Belakang

2. Dalam sejarah sebagaimana yang disampaikan dalam Al Qur'an terdapat dua peristiwa
dilakukannya ritual kurban yakni oleh Habil (Abel) dan Qabil (Cain), putra Nabi
Adamalaihis salam, serta pada saat Nabi Ibrahim akan mengorbankan Nabi Ismail atas
perintah Allah.

1.Habil dan Qabil


Kisah Habi dan Qabil di kisahkan pada al-Qur'an:

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil)
menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan
kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil)
dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti
membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima
(kurban) dari orang-orang yang bertakwa". (Al Maaidah: 27)

2.Ibrahim dan Ismail


Disebutkan dalam Al Qur'an, Allah memberi perintah melalui mimpi kepada Nabi Ibrahim
untuk mempersembahkan Ismail. Diceritakan dalam Al Qur'an bahwa Ibrahim dan Ismail
mematuhi perintah tersebut dan tepat saat Ismail akan disembelih, Allah menggantinya
dengan domba. Berikut petikan surat Ash Shaaffaat ayat 102-107 yang menceritakan hal
tersebut.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersamasama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat
dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa

pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang


diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar". Tatkala keduanya telah berserah diri dan
Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran
keduanya ), dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu
telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami
memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat
baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata, dan Kami
tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (Ash Shaaffaat:
102-107)

1. B.
1)
2)
3)

Rumusan Masalah
Apakah pengertian Kurban?
Bagaimanakah ketentuan hewan Kurban dan pembagian daging Kurban?
Apa hikmah dari pelaksanan Kurban

1. C. Tujuan
Pembaca dapat memahami tentang kurban,ketentuan hewan dan pembagian daging
kurban,hikmah dari pelaksanan kurban
D.

Manfaat Penulisan

Agar kita mengetahui lebih tantang kurban.

BAB II
PEMBAHASAN
1. A. pengertian kurban
Kurban: : Qurban),yang berarti dekat atau mendekatkan atau disebut
juga Udhhiyah atau Dhahiyyah secara harfiah berarti hewan sembelihan. Sedangkan ritual
kurban adalah salah satu ritual ibadah pemeluk agama Islam, dimana dilakukan
penyembelihan binatang ternak untuk dipersembahkan kepada Allah. Ritual kurban
dilakukan pada bulan Dzulhijjah pada penanggalan Islam, yakni pada tanggal 10 (hari nahar)
dan 11,12 dan 13 (hari tasyrik) bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha

2. A.ketentuan hewan kurban

Ayat dalam Al Qur'an tentang ritual kurban antara lain :


surat Al Kautsar ayat 2: Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah
Sementara hadits yang berkaitan dengan kurban antara lain:

Siapa yang mendapati dirinya dalam keadaan lapang, lalu ia tidak berkurban, maka
janganlah ia mendekati tempat salat Ied kami. HR. Ahmad dan ibn Majah.

Hadits Zaid ibn Arqam, ia berkata atau mereka berkata: Wahai Rasulullah SAW, apakah
kurban itu? Rasulullah menjawab: Kurban adalah sunahnya bapak kalian, Nabi Ibrahim.
Mereka menjawab: Apa keutamaan yang kami akan peroleh dengan kurban itu? Rasulullah
menjawab: Setiap satu helai rambutnya adalah satu kebaikan. Mereka menjawab: Kalau
bulu-bulunya? Rasulullah menjawab: Setiap satu helai bulunya juga satu kebaikan. HR.
Ahmad dan ibn Majah

Jika masuk tanggal 10 Dzul Hijjah dan ada salah seorang di antara kalian yang ingin
berkurban, maka hendaklah ia tidak cukur atau memotong kukunya. HR. Muslim

Kami berkurban bersama Nabi SAW di Hudaibiyah, satu unta untuk tujuh orang, satu
sapi untuk tujuh orang. HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi.

B. Hukum kurban
Mayoritas ulama dari kalangan sahabat, tabiin, tabiut tabiin, dan fuqaha (ahli fiqh) menyatakan
bahwa hukum kurban adalah sunnah muakkadah (utama), dan tidak ada seorangpun yang
menyatakan wajib, kecuali Abu Hanifah (tabiin). Ibnu Hazm menyatakan: Tidak ada seorang
sahabat Nabi pun yang menyatakan bahwa kurban itu wajib.

A.Syarat dan pembagian daging kurban

Syarat dan ketentuan pembagian daging kurban adalah sebagai berikut :

Orang yang berkurban harus mampu menyediakan hewan sembelihan dengan cara halal
tanpa berutang.
Kurban harus binatang ternak, seperti unta, sapi, kambing, atau biri-biri.

Binatang yang akan disembelih tidak memiliki cacat, tidak buta, tidak pincang, tidak sakit,
dan kuping serta ekor harus utuh.

Hewan kurban telah cukup umur, yaitu unta berumur 5 tahun atau lebih, sapi atau kerbau
telah berumur 2 tahun, dan domba atau kambing berumur lebih dari 1 tahun.

Orang yang melakukan kurban hendaklah yang merdeka (bukan budak), baligh, dan
berakal.

Daging hewan kurban dibagi tiga, 1/3 untuk dimakan oleh yang berkurban, 1/3
disedekahkan, dan 1/3 bagian dihadiahkan kepada orang lain.

B. Waktu berkurban

1.Awal waktu
Waktu untuk menyembelih kurban bisa di 'awal waktu' yaitu setelah salat Id langsung dan tidak
menunggu hingga selesai khutbah. Bila di sebuah tempat tidak terdapat pelaksanaan salat Id,
maka waktunya diperkirakan dengan ukuran salat Id. Dan barangsiapa yang menyembelih
sebelum waktunya maka tidak sah dan wajib menggantinya .
Dalilnya adalah hadits-hadits berikut:
a. Hadits Al-Bara` bin Azib radhiyallahu anhu, dia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wa

sallam bersabda:




Barangsiapa yang salat seperti salat kami dan menyembelih hewan kurban seperti
kami, maka telah benar kurbannya. Dan barangsiapa yang menyembelih sebelum salat
maka hendaklah dia menggantinya dengan yang lain. (HR. Al-Bukhari no. 5563 dan
Muslim no. 1553) Hadits senada juga datang dari sahabat Jundub bin Abdillah Al-Bajali
radhiyallahu anhu riwayat Al-Bukhari (no. 5500) dan Muslim (no. 1552).
b. Hadits Al-Bara` riwayat Al-Bukhari (no. 5556) dan yang lainnya tentang kisah Abu Burdah
radhiyallahu anhu yang menyembelih sebelum salat. Rasulullah Shallallahu alaihi wa
sallam bersabda: Kambingmu adalah kambing untuk (diambil) dagingnya

saja. Dalam lafadz lain (no. 5560) disebutkan:
Barangsiapa yang menyembelih (sebelum salat), maka itu hanyalah daging yang dia
persembahkan untuk keluarganya, bukan termasuk hewan kurban sedikitpun.

2.Akhir waktu
Waktu penyembelihan hewan kurban adalah 4 hari, hari Iedul Adha dan tiga hari sesudahnya.
Waktu penyembelihannya berakhir dengan tenggelamnya matahari di hari keempat yaitu tanggal
13 Dzulhijjah. Ini adalah pendapat Ali bin Abi Thalib, Al-Hasan Al-Bashri (imam
penduduk Bashrah), Atha` bin Abi Rabah (imam penduduk Makkah), Al-Auzai (imam
penduduk Syam), dan Asy-Syafi'i (imam fuqaha ahli hadits). Pendapat ini dipilih oleh Ibnul
Mundzir, Ibnul Qayyim dalam Zadul Maad (2/319), Ibnu Taimiyah, Al-Lajnah Ad-Da`imah
(11/406, no. fatwa 8790), dan Ibnu Utsaimin dalam Asy-Syarhul Mumti (3/411-412).
Alasannya disebutkan oleh Ibnul Qayyim sebagai berikut: 1. Hari-hari tersebut adalah hari-hari
Mina. 2. Hari-hari tersebut adalah hari-hari tasyriq. 3. Hari-hari tersebut adalah hari-hari
melempar jumrah. 4. Hari-hari tersebut adalah hari-hari yang diharamkan puasa padanya.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: Hari-hari
tasyriq adalah hari-hari makan, minum, dan dzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Adapun
hadits Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif radhiyallahu anhu, dia berkata:
Dahulu kaum muslimin, salah seorang mereka membeli


hewan kurban lalu dia gemukkan kemudian dia sembelih setelah Iedul Adha di akhir bulan

Dzulhijjah. (HR. Al-Baihaqi, 9/298) Al-Imam Ahmad rahimahullahu mengingkari hadits ini dan
berkata: Hadits ini aneh. Demikian yang dinukil oleh Ibnu Qudamah dalam Syarhul Kabir
(5/193). Wallahu alam.

3. Menyembelih di waktu siang atau malam


Tidak ada khilafiah di kalangan ulama tentang kebolehan menyembelih kkurban di waktu pagi,
siang, atau sore, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala: Dan
supaya mereka menyebut nama Allah pada hari yang telah ditentukan. (Al-Hajj: 28)
Mereka hanya berbeda pendapat tentang menyembelih kurban di malam hari. Yang rajih adalah
diperbolehkan, karena tidak ada dalil khusus yang melarangnya. Ini adalah tarjih Ibnu Utsaimin
dalam Asy-Syarhul Mumti (3/413) dan fatwa Al-Lajnah Ad-Da`imah (11/395, no. fatwa 9525).
Yang dimakruhkan adalah tindakan-tindakan yang mengurangi sisi keafdhalannya, seperti
kurang terkoordinasi pembagian dagingnya, dagingnya kurang segar, atau tidak dibagikan sama
sekali. Adapun penyembelihannya tidak mengapa.
Adapun ayat di atas (yang hanya menyebut hari-hari dan tidak menyebutkan malam), tidaklah
menunjukkan persyaratan, namun hanya menunjukkan keafdhalan saja.
Adapun hadits yang diriwayatkan Ath-Thabrani dalam Al-Kabir dari Ibnu Abbas radhiyallahu
anhuma dengan lafadz:
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam
melarang menyembelih di malam hari. Al-Haitsami rahimahullahu dalam Al-Majma (4/23)
menyatakan: Pada sanadnya ada Salman bin Abi Salamah Al-Janabizi, dia matruk. Sehingga
hadits ini dhaif jiddan (lemah sekali). Wallahu alam. (lihat Asy-Syarhul Kabir, 5/194)

4.Hikmah Pelaksanan Kurban


Hikmah Ibadah Qurban
Sekurang-kurangnya, ada dua hikmah ibadah qurban. Pertama, hikmah Vertikal dan Horizontal.
Vertikal, karena ibadah qurban bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, dan
Horizontal, lantaran dengan menyembelih hewan qurban, dagingnya dapat dinikmati oleh orangorang yang membutuhkan. Dan dari sinilah akan terbentuk solidaritas dan kesetiakawanan
sosial.
Kedua, Hikmah Sosial, Moral, dan Spiritual. Hikmah Sosial, karena qurban berdampak strategis
bagi ikhtiar membangun kebersamaan dan pemerataan dalam masyarakat. Misalnya, ada dalam
masyarakat kita yang belum tentu dapat makan daging sekali dalam setahun. Qurban dapat
dijadikan sarana membangun kebersamaan dan keharmonisan hubungan antara yang punya
(the have) dengan yang tidak punya (the haven).
Hikmah Moral, karena perintah berqurban mengingatkan bahwa pada hakikatnya kekayaan itu
hanyalah titipan Allah. Dari sini, seharusnya manusia menyadari bahwa pada harta yang
dimilikinya ada hak orang lain, yang harus ditunaikan dengan cara mengeluarkan zakat, infaq,

shadaqah, wakaf, termasuk qurban.


Hikmah Spiritual, qurban yang secara bahasa berasal dari kata: qaraba-yaqrobu-qurbaanan,
yang berarti dekat, dimaksudkan sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT
dengan cara mendekatkan diri kepada sesama manusia melalui ibadah qurban.
Imam Ghazali menegaskan bahwa: Penyembelihan hewan qurban adalah sebagai simbol dari
penyembelihan atau penghilangan sifat-sifat kebinatangan yang ada pada manusia, seperti sifat
rakus, tamak, serakah, dan mau menang sendiri. Dengan berqurban, diharapkan semua
manusia dapat membuang sifat-sifat kebinatangan yang dapat mendatangkan musibah dan
bencana itu.
Dalam hubungannya dengan kehidupan kita sekarang, ibadah qurban mengandung 7 (tujuh)
pesan moral. Pertama, Kepada para Pemimpin. Para Pemimpinlah yang seharusnya lebih dahulu
untuk berqurban. Bukan hanya dengan menyembelih binatang, tetapi juga dengan menyembelih
sifat-sifat kebinatangan yang ada pada mereka. Ibadah qurban, mengingatkan kepada para elit
Pemerintahan; dari Presiden sampai Pengurus RT, dari DPR Pusat sampai DPRD, dari
Pemimpin Ormas sampai Partai Politik, bahwa hanya dengan menyembelih sifat-sifat
kebinatangan yang ada pada mereka, mereka akan bermartabat di hadapan Allah dan terhormat
di mata manusia.
Kedua, Kepada Para Pengusaha dan Pedagang. Berqurbanlah dengan menyembelih sifat-sifat
curang dan tidak jujur, seperti mengurangi timbangan, curang dalam takaran, menipu dan
memperdaya pembeli. Jadilah pedagang yang jujur, yang dapat menjadi tiang tegaknya ekonomi
Islam. Jangan meminjamkan uang dengan maksud mengambil bunganya sebab termasuk
perbuatan riba yang dilarang Allah.
Ketiga, Kepada Para Aparat Penegak Hukum (Hakim, Jaksa, Pengacara, dan Polisi).
Berqurbanlah dengan menyembelih keinginan untuk menjual-belikan hukum, hindari mafia
peradilan dan mafia kasus, jauhkan diri dari perilaku menyuap dan disuap. Junjung tinggi
keadilan, jadikan hukum positif dan hukum normative sebagi pertimbangan dalam memutuskan
hukum. Asah terus kejujuran hati nurani.
Keempat, Kepada Para Dosen, Guru, dan Para Pendidik lainnya.
Berqurbanlah dengan kesungguhan melahirkan generasi yang berotak Jerman tetapi berhati
Mekkah. Lambang integrasi antara kecerdasan akal dan kecerdasan hati, intelektual quations
dan emotional quations, antara kecerdasan dan akhlak mulia, antara filsafat dan tasawuf.
Kelima, Kepada Orang Tua dan Anak-anak. Kepada Orang Tua, Jadikan Nabi Ibrahim dan Siti
Hajar sebagai suri tauladan dalam pengorbanan terhadap apa yang paling dicintainya; anak
semata wayang-nya, Ismail AS yang dia rindukan bertahun-tahun kehadirannya, dia qurbankan
karena kecintaan dan ketaatan kepada Allah SWT di atas segala-galanya. Karena itu, beri anakanak pendidikan agama dan pergaulan yang terbaik, ajarkan kepada mereka mengenal Allah

dan mencintai Allah. Didik anak-anak dengan perhatian penuh, jangan mendidik anak-anak dari
sisa waktu kita.
Keenam, Kepada Anak-anak. Jadikan Nabi Ismail AS sebagai teladan dalam ketaatan kepada
perintah Allah serta penghormatan kepada kedua orang tua. Ketika Nabi Ibrahim meminta
pendapat putranya, Ismail AS, bahwa Allah memerintahkan Ibrahim untuk mengurbankan Ismail,
Ismail menjawab: Ya Abatifal maa tumar satajidunii insya Allah min al-shabirin, Wahai ayahku
sayang, kerjakan apa yang diperintahkan Allah kepadamu, insya Allah engkau mendapati-ku
termasuk anak yang sabar.
Ketujuh, Kepada Kita Semua, Muslimin-Muslimat. Qurbankan nikmatnya tidur di malam hari
dengan sholat malam dan shalat subuh berjamaah. Qurbankan manisnya harta dengan
mengeluarkan zakat, infaq, shadaqah, dan memotong hewan qurban. Qurbankan empuknya
jabatan dengan melayani umat. Jadikan semua yang kita miliki sebagai alat mendekat kepada
Allah SWT. Wallahu alamosted in Fiqh, tagged aturan pembagian daging qurban menurut sunnah, aturan
pembagian hewan kurban, bolehkah yang berkurban memakan daging kurban, bolehkah yang berkurban
menikmati daging kurban, cara pendistribusian daging kurban, larangan menjual kulit dan bagian daging
kurban, pengurusan hewan kurban setelah disembelih on 16/10/2013 | Leave a Comment

Terdapat beberapa ayat Al-Quran dan hadits shahih yang menjelaskan


pembagian daging hewan kurban. Ayat Al-Quran yang menjelaskannya adalah firman Allah Taala:
)
(

Supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut nama
Allah pada hari yang telah ditentukan[yaitu tanggal 10-13 Dzulhijah] atas rezki yang Allah telah
berikan kepada mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan
(sebahagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir. (QS. Al-Hajj
[22]: 28)
)
(
Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (hewan kurban), supaya mereka
menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzkikan Allah kepada mereka. (QS.
Al-Hajj [22]: 34) (lebih)
Read Full Post

BAB III

PENUTUP

1. Kesimpulan
Kurban: : Qurban),yang berarti dekat atau mendekatkan atau disebut
juga Udhhiyah atau Dhahiyyah secara harfiah berarti hewan sembelihan. Sedangkan
ritual kurban adalah salah satu ritual ibadah pemeluk agama Islam, dimana dilakukan
penyembelihan binatang ternak untuk dipersembahkan kepada Allah. Ritual kurban
dilakukan pada bulan Dzulhijjah pada penanggalan Islam, yakni pada tanggal 10 (hari
nahar) dan 11,12 dan 13 (hari tasyrik) bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha

2. Saran
Semoga kita dapat Berkurban sesuai ketentuan syariat
islam

DAFTAR PUSTAKA

KELOMPOK 3

RIKI HERMAN KUSWANDI

(22)

RISMALA DIAN ISLAMI


(23)
RIZAL SANGADJI
(24)
RODIATUL IZAH
(25)
ROHUL IMAN
(26) ketua
SARMA HAERANI
(27)
SURYA HASANUDIN
(28)
TRITA ARYA SAPUTRA
(29)
VINA INDRA WATI
(30)
YULIANA SYARIDA
(31)
ZAHWA QOTRUNNADA MAULIDYA (32)