Anda di halaman 1dari 22

BAB 1

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
A.1 Pengertian nyamuk
Nyamuk merupakan vektor atau penular utama dari penyakit. Menurut
klasifikasinya nyamuk dibagi dalam dua subfamili yaitu Culicinae yang
terbagi menjadi 109 genus dan Anophelinae yang terbagi menjadi 3
genus. Di seluruh dunia terdapat lebih dari 2500 spesies nyamuk namun
sebagian besar dari spesies nyamuk tidak berasosiasi dengan penyakit
virus (arbovirus) dan penyakit- penyakit lainnya. Jenisjenis nyamuk yang
menjadi vektor utama, dari subfamili Culicinae adalah Aedes sp, Culex sp,
dan Mansonia sp, sedangkan dari subfamili Anophelinae adalah Anopheles
sp (Harbach,2008).
Semua jenis nyamuk membutuhkan air untuk hidupnya, karena larva
nyamuk melanjutkan hidupnya di air dan hanya bentuk dewasa yang
hidup di darat (Sunaryo, 2001). Telur nyamuk menetas dalam air dan
menjadi larva. Nyamuk betina biasanya memilih jenis air tertentu untuk
meletakkan telur seperti pada air bersih, air kotor, air payau, atau jenis air
lainnya. Bahkan ada nyamuk yang meletakkan telurnya pada axil
tanaman, lubang kayu (tree holes), tanaman berkantung yang dapat
menampung air, atau dalam wadah bekas yang menampung air hujan
atau air bersih (Rattanarithikul dan Harrison, 2005).
Telur nyamuk menetas dalam air dan menjadi larva. Larva nyamuk
hidup dengan memakan organisme kecil, tetapi ada juga yang bersifat
sebagai predator seperti larva Toxorhynchites sp yang memangsa jenis
larva nyamuk lain yang hidup dalam air. Kebanyakan nyamuk betina
menghisap darah manusia atau hewan lain seperti kuda, sapi, babi, dan
burung dalam jumlah yang cukup sebelum perkembangan telurnya.
Namun ada jenis nyamuk yang bersifat spesifik dan hanya menggigit
manusia atau mamalia. Nyamuk jantan biasanya hidup dengan memakan

cairan tumbuhan (Sembel, 2009). Tingkah laku dan aktivitas nyamuk pada
saat terbang dan menghisap darah berbeda-beda menurut jenisnya. Ada
nyamuk yang aktif pada waktu siang hari seperti Aedes sp dan aktif pada
waktu malam hari seperti Anopheles sp dan Culex sp. (Sembel, 2009).

I. Rumusan masalah
1. .
Bagaimana siklus
2.
3.
4.
5.

hidup

dan

morfologi

nyamuk Aedes

aegypti, Anopheles sp, Culex sp dan mansonia?


Bagaimana perilaku nyamuk di lingkungan sekitar ?
Bagaimana penularan fektor penyakit yang di bawa ?
Bagaimana jenis pemeriksaan labaoratorium yang di gunakan. ?
Bagaimna Pengendalian nyamuk ?

II. Tujuan masalah


1. Untuk mengetahui siklus hidup dan morfologi nyamuk Aedes
aegypti, Anopheles sp, Culex sp dan mansonia
2. Untuk mengetahui perilaku nyamuk di lingkungan sekitar
3. Untuk mengetahui penularan fektor penyakit yang di bawa
4. Untuk megetahui jenis pemeriksaan yang di gunakan

di

laboratorium medik
5. Untuk mengetahui Bagaimna Pengendalian nyamuk

BAB II
PEMBAHASAN
2

B. MORFOLOGI DAN SIKLUS DIDUP NYAMUK


1. Nyamuk Anhopeles sp
Kingdom

: Animal

Phylum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Diphtera

Family

: Culicidae

Sub Family
Genus
Spesies

: Anophelini
: Anopheles
: Anopheles sp

a. Morfologi nyamuk Anopheles sp


Panjang telur kurang-lebih 1mm dan memiliki pelampung di kedua

sisinya.
Dalam keadaan diam (istirahat), jentik nyamuk Anopheles sejajar
dengan permukaan air dan ciri khasnya yaitu spirakel pada bagian
posterior abdomen, tergal plate pada bagian tengah sebelah dorsal

abdomen dan bulu palma pada bagian lateral abdomen.


Larva beristirahat secara paralel dengan permukaan air.
Pupa, Mempunyai tabung pernapasan (respiratory trumpet) yang
berbentuk lebar dan pendek yang digunakan untuk pengambilan

oksigen dari udara.


Dewasa, bercak pucat dan gelap pada sayapnya dan beristirahat di

kemiringan 45 derajat suatu permukaan.


Warnanya bermacam-macam, ada yang hitam, ada pula yang kakinya
berbercak- bercak putih.
b. Siklus didup nyamuk Anopheles sp
.
Stadium telur

Lonjong seperti perahu, kedua ujung meruncing

Mepunyai alat pengapung

Tersusun teratur

Diletakkan sendiri-sendiri (terpisah)

Mudah musnah diatas 40o C dan dibawah 0o C dan tidak berkembang


di bawah 12oC

Segera menetas bila berada dalam air dalam waktu 2-3 hari

Stadium Larva

Terdiri atas kepala, torax dan abdomen

Panjang tanpa kaki

Kepala mempunyai mata majemuk

Antena berbulu, bagian mulut digunakan untuk menggigit

Kedelapan ruas abdomen mengandung spirakel yang berfungsi


untuk lubang udara

Terletak sejajar dengan permukaan air

Mempunyai sikat palmata seperti kipas

Tidak mempunyai siphon (corong nafas)

Pada bagian anus mempunyai insang anal yang berfungsi untuk


menyerap air

Mampu menahan suhu rendah maupun sedang

Stadium Pupa

Bentuk seperti koma

Terdiri atas cephalothorax dan abdomen

Mempunyai siphon

Mempunyai terompet yang digunakan untuk bernafas pada thorax

Mempunyai kantong udara yang terletak diantara bakal sayap pada


bentuk dewasa

Mempunyai sepasang pengayuh yang saling menutupi pada ruas


abdomen terakhir yang berfungsi untuk : menyelam cepat, dengan
serangan jungkiran sebagai reaksi terhadap rangsangan

Sangat mudah musnah pada kekeringan maupun pembekuan


c. Perilaku Mencari Darah.
Perilaku mencari darah nyamuk dapat ditinjau dari beberapa segi

yaitu:

Perilaku mencari darah dikaitkan dengan waktu.


Nyamuk Anopheles pada umumnya aktif mencari darah

pada waktu malarn hari.apabila dipelajari dengan teliti

ternyata tiap
5

spesies mempunyai sifat yang tertentu, ada spesies yang aktif mulai senja
hingga menjelang tengah malam dan sampai pagi hari.

Perilaku mencari darah dikaitkan dengan tempat.


Apabila dengan metode yang sama kita adakan. Penangkapan

nyarnuk didalam dan diluar rumah maka dari hasil penangkapan tersebut
dapat diketahui ada dua golongan nyamuk, yaitu: eksofagik yang lebih
senang mencari darah diluar rumah dan endofagik yang lebih senang
mencari darah didalam rumah.

Perilaku mencari darah dikaitkan dengan sumber darah.


Berdasarkan macam darah yang disenangi, kita dapat membedakan

atas: antropofilik apabila lebih senang darah manusia, dan zoofilik apabila
nyamuk lebih senang menghisap darah binatang dan golongan yang tidak
mempunyai pilihan tertentu.
d. Frekuensi menusuk
Telah diketahui bahwa nyamuk betina biasanya hanya
kawin

satu

kali

selama

hidupnya

Untuk

mempertahankan

dan

memperbanyak keturunannya, nyamuk betina hanya memerlukan darah


untuk proses pertumbuhan telurnya. Tiap sekian hari sekali nyamuk akan
mencari

darah.

dipengaruhi

Interval

tersebut

oleh temperatur

dan

tergantung

pada

species,

kelembaban, dan disebut

dan
siklus

gonotrofik.Untuk iklim Indonesia memerlukan waktu antara 48-96 jam.

e. Perilaku Istirahat.
Istirahat bagi nyamuk mempunyai 2 macam artinya: istirahat yang
sebenarnya selama waktu menunggu proses perkembangan telur dan
istirahat sementara yaitu pada waktu nyamuk sedang aktif mencari
darah. Meskipun pada umumnya nyamuk memilih tempat yang teduh,
lembab dan aman untuk beristirahat tetapi apabila diteliti lebih lanjut tiap
species ternyata mempunyai perilaku yang berbeda-beda.Ada spesies
yang

halnya

hinggap

tempat-tempat

dekat

dengan

tanah

(AnAconitus) tetapi ada pula species yang hinggap di tempat-tempat yang


6

cukup tinggi (An.Sundaicus).Pada waktu malam ada nyamuk yang masuk


kedalam rumah hanya untuk menghisap darah orang dan kemudian
langsung keluar. Ada pula yang baik sebelum maupun sesudah menghisap
darah orang akan hinggap pada dinding untuk beristirahat.
f. Perilaku Berkembang Biak.
Nyamuk Anopheles betina

mempunyai

kemampuan

memilih

tempat

perindukan atau tempat untuk berkembang biak yang sesuai dengan


kesenangan dan kebutuhannya Ada species yang senang pada tempattempat yang kena sinar matahari langsung (an. Sundaicus), ada pula yang
senang pada tempat-tempat teduh (An. Umrosus). Species yang satu
berkembang dengan baik di air payau (campuran tawar dan air laut)
misalnya (An. Aconitus) dan seterusnya Oleh karena perilaku berkembang
biak ini sangat bervariasi, maka diperlukan suatu survai yang intensif
untuk inventarisasi tempat perindukan, yang sangat diperlukan dalam
program pemberantasan.
g. Penyebarannya anopheles
Nyamuk anopheles terutama hidup di daerah tropik dan subtropik,
namun bisa juga di daerah beriklim sedang dan bahkan di daerah afrika,
anopheles jarang ditemukan pada ketinggian lebih dari 2600m, sebagian
besar nyamuk anopheles ditemukan pada daerah rendah.

2. Nyamuk Aedes aegypti


Kerajaan

: Animalia

Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Ordo

: Diptera

Famili

: Culicidae

Genus

: Aedes

Upagenus

:Stegomyia

Spesies

:Aedes aegyptia.
7

a.

Morfologi nyamuk Aedes aegypti

Ukuran sedang, warna hitam dan terdapat garis-garis dan titik-titik


putih pada badan dan kaki.

Nyamuk betina mempunyai antena dengan bulu yang tidak lebat,


sikap hinggap sejajar sama dengan culex maupun mansonia
b. siklus hidup nyamuk Aedes aegypti

Telur
Telur Aedes aegypti berukuran 0,5 0,8 mm, berwarna hitam, bulat
panjang dan berbentuk oval. Di alam bebas, telur nyamuk terdapat pada
air dan menempel pada dinding wadah atau tempat perindukan nyamuk
sejauh kurang lebih 2,5 cm. Setiap kali bertelur nyamuk betina
mengeluarkan telur sebanyak 100 butir perhari apabila berada pada
tempat yang kering (tanpa air).
Jentik
Nyamuk Aedes aegypti tubuhnya memanjang tanpa kaki dengan bulubulu sederhana yang tersusun bilateral simetris. Jentik ini dalam
pertumbuhan dan perkembangannya mengalami empat kali pergantian
kulit (tingkatan) yang biasa disebut instar dan terdiri dari instar I, II, III, IV.
Jentik instar I, tubuhnya sangat kecil, warna transparan, panjang 1 2
mm, duri- duri (spinae) pada dada (thorax) belum begitu jelas, dan corong
pernafasan (siphon) belum menghitam. Jentik instar II bertambah besar,
ukuraan 2,5 3,9 mm, duri dada belum jelas, dan corong pernafasan
sudah berwarna hitam. Jentik instar IV telah lengkap struktur anatominya
dan jelas tubuh dapat dibagi menjadi bagian kepala (chepal), dada
(thorax),dan perut (abdomen).

Pupa
Pupa nyamuk Aedes aegypti bentuk tubuhnya bengkok, dengan bagian
kepala- dada (chepalothorax) lebih besar apabila dibandingkan dengan
besar perutnya, sehingga tampak seperti tanda baca koma.Pada bagian
punggung (dorsal) dada terdapat alat bernafas seperti terompet.Pada ruas
perut kedelapan terdapat sepasang alat pengayuh yang berguna untuk
berenang.Alat pengayuh tersebut berjumbai panjang dan bulu di nomor
tujuh pada ruas kedelapan tidak bercabang.Pupa adalah bentuk tidak
makan, tampak gerakannya lebih lincah bila dibandingkan dengan
jentik.Waktu istirahat posisi pupa sejajar dengan bidang permukaaan air.
Nyamuk Dewasa
Nyamuk Aedes aegypti tubuhnya tersusun dari tiga bagian yaitu kepala,
dada dan perut.Pada bagian kepala terdapat sepasang mata majemuk dan
antena yang berbulu. Alat mulut nyamuk betina tipe penusuk- pengisap
(piercing-

sucking)

dan

termasuk

lebih

menyukai

manusia

(anthropophagus), sedangkan nyamuk hjantan bagian mulut lebih lemah


sehingga tidak mampu menembus kulit manusia, karena itu tergolong
lebih

menyukai

cairan

tumbuhan

(phytophagus).

Nyamuk

betina

mempunyai antena tipe pilose.


c. Perilaku Mencari Darah

Mempunyai perilaku makan yaitu mengisap nectar dan jus tanaman

sebagai sumber energinya


Setelah kawin, nyamuk betina memerlukan darah untuk bertelur
Nyamuk betina menghisap darah manusia setiap 2 3 hari sekali
9

Menghisap darah pada pagi hari sampai sore hari, dan lebih suka

pada jam 08.00 12.00 dan jam 15.00 17.00.


Untuk mendapatkan darah yang cukup, nyamuk betina sering

menusuk lebih dari satu orang.


Jarak terbang nyamuk sekitar 100 meter.
Umur nyamuk betina dapat mencapai sekitar 1 bulan.
d. Perilaku Pada Saat Istirahat

Setelah kenyang menghisap darah, nyamuk betina perlu istirahat

sekitar 2 3 hari untuk mematangkan telur.


Tempat istirahat yang disukai :
Tempat-tempat yang lembab dan kurang terang, seperti kamar

mandi, dapur, WC
Di dalam rumah seperti baju yang digantung, kelambu, tirai
Di luar rumah seperti pada tanaman hias di halaman rumah.

d. Perilaku Berkembang Biak

Nyamuk Aedes Aegypti bertelur dan berkembang biak di tempat


penampungan air bersih seperti : Tempat penampungan air untuk
keperluan sehari-hari : bak mandi, WC, tempayan, drum air, bak

menara (Tower air) yang tidak tertutup, sumur gali.


Wadah yang berisi air bersih atau air hujan : tempat minum burung,
vas bunga, pot bunga, ban bekas, potongan bambu yang dapat
menampung air, kaleng, botol, tempat pembuangan air di kulkas
dan barang bekas lainnya yang dapat menampung air meskipun

dalam volume kecil.


Telur diletakkan menempel pada dinding penampungan air, sedikit

di atas permukaan air.


Setiap kali bertelur, nyamuk betina dapat mengeluarkan sekitar

100 butir telur dengan ukuran sekitar 0,7 mm per butir.


Telur ini di tempat kering (tanpa air) dapat bertahan sampai 6 bulan.
Telur akan menetas menjadi jentik setelah sekitar 2 hari terendam

air.
Jentik nyamuk setelah 6 8 hari akan tumbuh menjadi pupa

nyamuk.
Pupa nyamuk masih dapat aktif bergerak didalam air, tetapi tidak
makan dan setelah 1 2 hari akan memunculkan nyamuk Aedes
Aegypti yang baru.
10

3. Nyamuk Culex sp
Kingdom
: Animal
Phylum
: Arthropoda
Family
: Culicidae
Kelas
: Insecta
Ordo
: Dipthera
Sub Family : Culicini
Genus
: Culex
Spesies
: Culex sp

a. Morfologi Nyamuk Culex sp


Telur berwarna coklat, panjang

permukaan air, tersementasi pada susunan 300 telur.


Panjang susunan biasanya 3 4mm dan lebarnya 2 3mm

dan

silinder,

vertical

pada

Telur.Telur culex diletakkan secara berderet- deret rapi seperti kait

dan tanpa pelampung yang berbentuk menyerupai peluru senapan.


Pada stadium jentik nyamuk Culex mempunyai siphon yang
mengandung bulu- bulu siphon (siphonal tuft) dan pekten, sisir atau
comb dengan gigi- gigi sisir (comb teeth), segmen anal dengan

pelana tertutup dan tampak tergantung pada permukaan air.


Stadium
pupa Culex mempunyai
tabung
pernafasan
bentuknya

kelihatan

sempit

dan

panjang,

digunakan

yang
untuk

pengambilan oksigen
b. siklus hidup Nyamuk Culex sp
Stadium telur

Tersusun berderet seperti rakit

Diletakkan berkelompok

Berbentuk seperti peluru senapan

Bagian ujung telur terdapat bangunan seperti corolla


Stadium larva

Terdiri atas kepala, thorax dan abdomen

Siphon panjang, dan langsing dengan hair tuft lebih dari 1 pasang
11

menggantungkan tubuhnya dengan membentuk sudut terhadap


permukaan air

Pupa Culex

Terdiri atas cephalothorax dan abdomen

Bentuk seperti koma

Mempunyai siphon
c.

Dewasa Culex sp

Warna coklat muda

Probosis dan palpus maxilaris tidak sama panjang

Jantan : Palpus maxilaris hampir sama panjang dengan proboscis,


antena bulu lebat (Plumose)

Betina : Palpus maxilaris lebih pendek dari pada proboscis, antena


bulu jarang (pilose)
12

Waktu istirahahat sejajar dengan tempat yang dihinggapi

Scutellum trilobi
c. Perilaku nyamuk Culex SP
Nyamuk Culex mempunyai kebiasaan mengisap darah pada malam

hari.Jarak terbang biasanya pendek mencapai jarak rata- rata beberapa


puluh

meter

saja.

Umur

nyamuk Culex baik

di

alam

maupun

di

laboratorium sama seperti Anopheles, biasanya kira- kira dua minggu.


4. Nyamuk Mansonia SP
d. Morfologi Nyamuk Mansonia SP

Bentuk lonjong, satu ujung runcing seperti duri, salah satu ujungnya
hitam seperti duri. Hal ini berfungsi unt menempel pada akar atau
daun tumbuhan air (pistia sp)

Tanpa pelampung

Berkelompok disawah Mansonia


e. Siklus hidup nyamuk
Telur

Bentuk lonjong, satu ujung runcing seperti duri, salah satu ujungnya
hitam seperti duri. Hal ini berfungsi unt menempel pada akar atau
daun tumbuhan air (pistia sp)

Tanpa pelampung

Berkelompok disawah
Stadium larva

Melekat pada akar tumbuhan air

Mempunyai siphon pendek, dengan ujung runcing hitam dengan


katup penembus untuk mencari oksigen

13

Seluruhnya berada dipermukaan air


Pupa

Seperti koma, terdiri atas cephalothorax dan abdomen

Melekat pada tumbuhan air, Mempunyai trumpet dengan katub


menembus yang berfungsi untuk mencari O2

Siphon yang berujung runcing yang digunakan untuk melekat pada


tanaman air
dewasa

Warna kuning, palpus maxilaris tidak sama panjang dengan


proboscis

Waktu istirahat sejajar dengan tumbuhan yang dihinggapi

Scutellum trilobi
BAB III
PENULARAN PENYAKIT YANG DI BAWA

A. MALARIA
Nyamuk Anopheles bisa menyebabkan penyakit malaria.Nyamuk ini
suka menusuk dalam posisi menungging alias posisi badan, mulut,
dan jarum yang dibenamkan ke kulit manusia dalam keadaan
segaris.Malaria adalah penyakit menular yang disebabkan oleh
parasit jenis plasmodium ditandai demam berkala, menggigil dan
berkeringat.Penyakit

ini

dapat

mengakibatkan

kematian

bagi

penderitanya.Pada saat ini nyamuk vektor malaria di Indonesia yang


ditemukan sebanyak20 spesies dari genus Anopheles.Empat di
antaranya

adalah Anopheles

Aconitus,

AnophelesSundaicus,

Anapheles Maculatus dan Anopheles Barbirostris. Terdapat empat


jenis parasit malaria yang menginfeksi manusia yaitu Plasmodium
falciparum,

Plasmodium

vivax,

Plasmodium

malariae

dan
14

Plasmodium

ovale

Dua

spesies

yang

pertama

merupakan

penyebab lebih dari 95% kasus malaria di dunia (Snow dan Gilles,
2002).
Penyakit malaria memiliki hubungan yang erat, baik yang
berelasi dengan kehadiran vektor, iklim, kegiatan kemanusiaan dan
lingkungan setempat. Adanya kerusakan dan eksplorasi lingkungan
menyebabkan bertambahnya jumlah dan luas tempat perindukan.
Lingkungan akan mempengaruhi kapasitas vektor di dalam
menularkan Plasmodium dan menyebarkan malaria dari satu orang
ke orang lain melalui gigitan nyamuk Anopheles.
1. Diagnosis
Diagnosis demam malaria secara garis besar digolongkan
menjadi 2 kelompok yaitu pemeriksaan mikroskopis, Pemeriksaan
laboratorium demam malaria pada penderita dengan melakulan
pemeriksaan darah tepi secara mikroskopis merupakan standar
emas (gold standard). Pemeriksaan mikroskop dilakukan dengan
membuat tetes tebal (thick-smear) atau dengan hapusan darah tipis
(thin-smear), termasuk menggunakan Quantitative Buffy Coat (QBC)
dan uji imunoserologis untuk menditeksi antigen spesifik atau
antibodi spesifik terhadap Plasmodium dengan teknik Polymerase
Chain Reaction (PCR).
B. DBD (Demam berdarah dengue )
Aedes aegypti merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus
dengue

penyebab

penyakit

demam

berdarah.Selain

dengue, A.

aegypti juga merupakan pembawa virus demam kuning (yellow fever) dan
chikungunya.Penyebaran jenis ini sangat luas, meliputi hampir semua
daerah tropis di seluruh dunia. Sebagai pembawa virus dengue, A.
aegypti merupakan pembawa utama (primary vector) dan bersama Aedes
albopictus menciptakan siklus persebaran dengue di desa dan kota
Apabila nyamuk terinfeksi itu menusuk inang (manusia) untuk
mengisap cairan darah, maka virus yang berada di dalam air liurnya
masuk ke dalam sistem aliran darah manusia. Setelah mengalami masa
inkubasi sekitar empat sampai enam hari, penderita akan mulai mendapat
15

demam yang tinggi. Untuk mendapatkan inangnya, nyamuk aktif terbang


pada pagi hari yaitu sekitar pukul 08.00-10.00 dan sore hari antara pukul
15.00-17.00.
1.Diagnosis
Penegakkan diagnosis DBD masih menggunakan kriteria WHO,
1997, yaitu kriteria klinis dan laboratoris berupa trombositopenia kurang
dari 100.000/ul atau peningkatan hematokrit 20%. Hal yang tak kalah
penting

adalah

memahami

kelemahan

pemeriksaan

laboratorium

tersebut. Pemeriksaan hemoglobin, leukosit, hitung jenis, hapusan darah


tepi maupun enzim hati seperti SGOT dan SGPT, juga diperlukan untuk
memberi informasi lebih terhadap penunjang diagnosis DBD. Saat ini
sudah ada tes yang dapat mendiagnosis DBD dalam waktu demam 8 hari
pertama yaitu antigen virus dengue yang disebut dengan antigen NS1.
Keuntungan mendeteksi antigen NS1 yaitu untuk mengetahui adanya
infeksi dengue pada penderita tersebut pada fase awal demam, tanpa
perlu menunggu terbentuknya antibodi. Pemeriksaan IgM dan IgG
antidengue juga diperlukan untuk membedakan apakah infeksi tersebut
pertama kali/ primer atau infeksi sekunder/tersier/berikutnya. Hal ini
penting

untuk

penatalaksanaan

manajemen

terapi

di

samping

epidemiologi, karena pada infeksi sekunder keadaan dapat menjadi lebih


berat (DBD/SSD= Sindrom Syok Dengue).
Pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui serotipe DEN1,2,3,4 dari
virus dengue saat ini banyak dilakukan dengan metode molekuler yaitu
RT-PCR (Reverse Transcriptase Polymerase Chain Reaction ).

C.

filariasis (kaki gajah)

Jenis nyamuk seperti Culex pipiens dapat menularkan penyakit


filariasis (kaki gajah), ensefalitis, dan virus chikungunya (Sembel, 2009).
Gejala klinis falariasi malayi sama dengan gejala klinis falariasis timori.
Falariasis malaya khas dengan adanya limfadonopati superfisial dan
dengan eosinofilia yang tinggi ( 7 70%). Gejala faliriasis dapat di
timbulkan oleh mikrofilaria dan cacing dewasa. Mikrofilaria tidak di jumpai

16

di dalam darah tetapi mikrofilaria atau sisa sisanya dapat di temukan di


jaringa kelenjar limfe dan hati. Pada jaringan tersebut terdapat benjolan
benjolan kecil berwarna kuning kelabu dengan penampang 1 -2 mm terdiri
dari

infiltrasi

sel

eosinofil

dan

di

kenal

dengan

nama

benda

menyerskounar. Stadium akut ditandai dengan serangan demam dan


gejala peradangan pada saluran dan kelenjar linfe yang hilang timbul
berulang kali
D. Japanese Encephalitis
apanese encephalitis (JE) adalah salah satu penyakit virus yang
disebabkan oleh virus JE yang dapat menyerang ternak dan manusia yang
ditularkan melalui gigitan nyamuk. Virus tersebut merupakan anggota dari
kelompok Arbovirus, genus Flavivirus, famili Flaviviridae (Rosen, 1986).
Virus JE telah ditemukan hampir di semua negara Asia, termasuk
Indonesia (Van Peenen et al., 1975a,b). Pada ternak, penyakit JE tidak
menimbulkan gejala klinis yang khas, sehingga sulit diagnosa, walaupun
jumlah hewan yang terinfeksi virus JE cukup tinggi. Pada manusia,
penyakit JE dapat menyebabkan radatig otak. JE merupakan salah satu
penyakit arbovirus yang bersifat zoonotis dan dapat ditularkan dari hewan
ke manusia. Namun, gejala klinis yang dihasilkan akibat infeksi JE pada
ternak dan manusia tidak sama. Hal ini tergantung dari spesies dan umur
temak yang terinfeksi. Pada manusia, anak-anak lebih peka terhadap
infeksi JE. Gejala tersebut berupa gangguan syaraf seperti diuraikan
berikut ini.
a. Pada Hewan
Infeksi JE pada kuda dan keledaim dapat menimbulkan gejala ensefalitis
seperti terjadi pada manusia. Akan tetapi, kuda bukan merupakan sumber
yang nyata untuk penularan oleh nyamuk atau vektor, karena populasi
kuda di dunia sangatlah kecil dibandingkan dengan populasi babi (Huang,
1982), sedangkan
pada ternak lainnya gejala tersebut tidak nampak kecuali babi.
b. Pada manusia,
gejala klinis seringtidak tampak, walaupun secara serologis antibodi
terhadap virus JE dapat
17

terdeteksi. Hal ini dapat disebabkan oleh rendahnya virulensi dan days
patogenisitas strain virus yang menginfeksi manusia. Hasil penelitian
terdahulu menunjukkan bahwa infeksi JE lebih
banyak menyerang anak umur di bawah 10 tahun dibandingkan dengan
pada orang dewasa (Huang, 1982). Pada manusia, gejala klinis dapat
berupa demam mencapai 41 C, muntah, nyerikepala, dan gangguan
mental (Poneprasert, 1989). Gangguan syaraf terlihat dalam bentuk
gangguan gerak motorik
seperti kelumpuhan, kejang, dan kaku (spastis), sedangkan gangguan
mental terlihat dengan adanya gangguan dalam berkomunikasi,
pengertian, perasaan dan hiperalctif (Bui et al., 1994). Untuk kasus yang
lebih parah sering disertai dengan gangguan kesadaran (koma) dan
akhirnya meninggal.
1. Diagnosis
Diagnosis infeksi virus JE pada ternak, terutama babi dan manusia dapat
dilakukan berdasarkan data epidemiologik, gejala klinis,

uji serologik, virologik, patologik dan histopatologik. Uji serologik


meliputi ELISA, hemaglutinasi inhibisi (HI), serum netralisasi,
imunofluoresensi, dan uji pengikatan (fiksasi) komplemen (Zhang et
al., 1990; Widjaja et al., 1995; Sendow et al., 1997), yang dalam hal
ini diperlukan serum pasangan (paired sera) untuk mengetahui
adanya kenaikan titer antibodi JE. Serum pasangan tersebut diambil
dengan selang waktu satu hingga dua minggu. Apabila kenaikan
titer lebih besar dari tiga kali, maka penderita tersebut dinyatakan

telah terinfeksi virus JE.


Pemeriksaan virologik meliputi deteksi antigen atau virus JE
dengamengisolasi virus dari sampel penderit atau deteksi langsung
dari organ sampel penderita dengan menggunakan uji antibodi
fluoresensi, uji reversetranscriptase polymerase chain reaction (RT
PCR) (Fang et a1., 1997) atau ELISA (Brown et al., 1996). Isolasi
virus JE dapat dilakukan pada organ limps, ginjal, otak, cairan
cerebrospinal darah perifer ataupun serangga nyamuk yang
diinokulasikan pada biakan jaringan (Hasegawa et al., 1975). Biakan
18

jaringan yang dapat digunakan untuk isolasi virus antara lain biakan
jaringa primer seperti ginjal kera, ginjal hamste dan biakan jaringan
lestari seperti Aedes albopictus, Aedes pseudoscutellaris, Hep- 2
dan Vero, PMK, LLCMK2, dan BHK-21 (Tan et al., 1981).

BABIV
PENGENDALIAN NYAMUK
B. Pengendalian dengan Cara Sanitasi
Pengendalian melalui sanitasi lingkungan merupakan pengendalian
secara tidak langsung, yaitu membersihkan atau mengeluarkan tempattempat pembiakan nyamuk seperti kaleng-kaleng bekas, plastik-plastik
bekas, ban mobil /motor bekas, dan wadah-wadah lain yang dapat
menampung air bersih atau genangan air hujan. Barang-barang tersebut
dapat dipendam atau dibakar. Tempat-tempat yang bisa menampung air
sebagai dari konstruksi bangunan harus dibersihkan dan air-air yang
tergenang sesudah hujan harus dikeluarkan. Tempat-tempat
penampungan air termasuk sumur harus dibersihkan untuk mengeluarkan
atau membunuh telur-telur, larva-larva, dan pupa-pupa nyamuk. Program
yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia melalui Departemen
Kesehatan RI ialah menguras, menimbun, dan mengubur (3M). Menguras
berarti membersihkan tempat penampungan air (bak mandi) untuk
mengeluarkan larva nyamuk, menimbun berarti mengumpulkaan wadahwadah yang dapat menampung air menjadi tempat pembiakan. nyamuk,
dan mengubur yaitu mengumpulkan wadah-wadah dan menguburkannya
dalam tanah (Normitasari dkk, 2012)
C. Pengendalian dengan Insektisida
Penyemprotan dengan malathion (fogging) masih merupakan cara
yang umum dipakai untuk membunuh nyamuk dewasa, tetapi cara ini
tidak dapat membunuh larva yang hidup dalam air (Sembiring, 2009).
Pengendalian yang umum dipergunakan untuk larva nyamuk adalah
dengan menggunakan larvasida seperti abate (Sembel, 2009).

19

D. Pengembangan Infrastruktur Kesehatan


Sejumlah ahli meyakini bahwa negara-negara yang sedang
berkembang harus memfokuskan diri pada pengimplementasian
infrastruktur pusat-pusat kesehatan seperti puskesmas. Demikian pula
pencegahan penyakit dengan melibatkan individu-individu dalam satu
keluarga dan di sekitarnya serta oleh berbagai lapisan masyarakat dan
pusat-pusat pelayanan kesehatan sangat diperlukan. Kebutuhan yang
paling kritis bukan terletak pada metode pengendalian yang lebih baik,
tetapi para ahli pengendali vektor yang lebih terampil sehingga mereka
dapat melatih atau memberdayakan masyarakat mengenai cara
mengendalikan vektor. Selanjutnya, kelompok profesional harus
melakukan penelitian lapangan, evaluasi entomologis dan epidemiologis
di daerah endemik tempat aktivitas program pengendalian vektor
(Sembel,2009).

20

BAB V
KESIMPULAN

Nyamuk adalah serangga tergolong dalam order Diptera; genera


termasuk Anopheles, Culex, Psorophora, Ochlerotatus, Aedes, Sabethes,
Wyeomyia, Culiseta, dan Haemagoggus untuk jumlah keseluruhan sekitar
35 genera yang merangkum 2700 spesies. Nyamuk mempunyai dua
sayap bersisik, tubuh yang langsing, dan enam kaki panjang; antarspesies
berbeda-beda tetapi jarang sekali melebihi 15 mm.
Kebanyakan kelompok nyamuk modern tidak lagi bergantung
kepada racun

serangga berbahaya

tetapi

menjurus

kepada organisme khusus yang memakan nyamuk, atau menjangkiti


mereka dengan penyakit yang membunuh mereka. Hal-hal seperti itu bisa
terjadi walaupun di Kawasan Perlindungan, seperti "Forsyth refuge"
dan Seaview Marriott Golf Resort, di mana sekawanan nyamuk utama
dilaksanakan dan dipantau menggunakan "killifish" dan belut muda.
Kesannya di dokumen dengan menggunakan mikroskop maju bawah air
seperti ECOSCOPE. Bagaimanapun, wabah penyakit bawaan nyamuk
masih menyebabkan penyemburan dengan bahan kimia yang kurang
beracun dibandingkan yang digunakan pada masa lalu.
Sebagian

nyamuk

mampu

menyebarkan

penyakit

protozoa

seperti malaria, penyakit filaria seperti kaki gajah, dan penyakit bawaan
virus

seperti demam

kuning, demam

berdarah

dengue, encephalitis,

dan virus Nil Barat. Virus Nil Barat disebarkan secara tidak sengaja
ke Amerika Serikat pada tahun 1999 dan pada tahun 2003 telah merebak
ke seluruh negara bagian di Amerika Serikat. Berat nyamuk hanya 2
hingga 2,5 mg. Nyamuk mampu terbang antara 1,5 hingga 2,5 km/jam.
Pengusir nyamuk biasanya mempunyai kandungan aktif berikut: DEET,
sulingan

minyak Catnip - Nepetalactone, Citronella atau

sulingan

minyak eucalyptus.

21

Daftar pusaka
http://www.litbang.depkes.go.id/~djunaedi/data/emil.pdf
http://www.penyakitmenular.info/.pdf
email.pdf/http://www.wartamedika.com/2006/09/pencegahanmalaria.html/
http://www.geocities.com/mitra_sejati_2000/malaria.html/email.pdf
Anonim. 2009. Pedoman Pengendalian Nyamuk Aedes Aegypti.2009
( e book ).
Chahaya,I. 2011. Pemberantasan Vektor Demam Berdarah Di
Indonesia.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3715/1/fkmindra%20c5.pdf. Diakses tanggal 21 Maret 2011.
Depkes RI. 2004. Perilaku Hidup Nyamuk Aedes aegypti Sangat
Penting Diketahui Dalam Melakukan Kegiatan Pemberantasan Sarang
Nyamuk Termasuk Pemantauan Jentik Berkala. Bulletin Harian.
http://www.depkes.go.id/downloads/Bulletin%20Harian%2010032004.pdf.
Diakses tanggal 23 Maret 2011.
Annonimus.2010.Nyamuk.http://id.shvoong.com/medicine-andhealth/epidemology-public-health/2066459-nyamuk-aedesaegypti.Diakses pada Kamis, 5 April 2012, Pukul 14.00 WIB
Judarwanto, Widodo. 2007. Profil Nyamuk Aedes pembasmiannya.
http://indonesiaindonesia.com/f/2010/01/21/ciri-ciri-nyamuk-aedespembasmiannya/. Diakses pada Kamis, 5 April 2012, Pukul 12.30 WIB
Wirayoga, Raditya. 2010. Ciri-ciri Nyamuk Aedes aegypti.

22