Anda di halaman 1dari 5

KHUTBAH IDUL ADHA 1435 H

Disampaikan oleh: Syaiful Bakhri, S.Sos, MM

Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.


Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.
Pada hari ini, di pagi yang berbahagia ini, jutaan manusia mengumandangkan takbir,
tahlil dan tahmid, sebagai proklamasi internasional atas kebesaran dan keagungan Allah, Rabbul
alamin, Pencipta dan Penguasa tunggal alam semesta. Dia-lah satu-satunya yang berhak
disembah, dipuji dan dipuja.
Proklamasi akbar ini dilakukan sekaligus dalam rangka memperingati dua momentum
(peristiwa) penting, yang menunjukkan kesatuan dan persatuan yang diikat oleh aqidah
Islamiyah. Pertama, di kawasan Makkatul Mukarramah berkumpul kaum Muslimin dari seluruh
penjuru dunia guna melaksanakan ibadah haji. Mereka berkumpul tanpa dibedakan bahasa,
bangsa, status sosial, dan warna kulit. Kedua, di setiap sudut dari lima benua di dunia ini,
serentak dilakukan shalat Idul Adha dan penyembelihan hewan qurban.
Setiap kali kita mengenang dua peristiwa penting ini, kita tidak pernah lupa kisah
manusia agung yang diutus oleh Allah SWT untuk menjadi Nabi dan Rasul, yakni Nabi Ibrahim
as beserta keluarganya, Hajar dan Ismail as. Keagungan pribadinya membuat kita, bahkan Nabi
Muhammad Saw, harus mampu mengambil keteladanan darinya. Allah SWT berfirman:

Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang
bersamanya. (QS Al-Mumtahanah: 4).
Dari sekian banyak hal yang harus kita teladani dari Nabi Ibrahim beserta keluarga dan
dari pelaksanaan ibadah haji yang sedang berlangsung di Tanah Suci, Makkah al-Mukarramah,
paling tidak ada ada empat pelajaran yang sangat penting.
Pertama, kesinambungan generasi yang shalih.
Belajar dari profil kehidupan Nabi Ibrahim as membuat kita harus memberikan perhatian
yang lebih besar terhadap kesinambungan generasi shalih yang dapat memperjuangkan tegaknya
nilai-nilai kebenaran. Hal ini karena ketika usia Nabi Ibrahim as sudah semakin tua,
kerinduannya pada generasi pelanjut perjuangan menjadi semakin besar dan iapun terus berdoa
agar Allah SWT menganugerahkan kepadanya keturunan yang shalih. Kondisi generasi muda
kita sekarang boleh dibilang cukup memprihatinkan. Kasus-kasus perzinaan, pemerkosaan,
pembunuhan, perkelahian, pencurian, narkoba, AIDS, dan berbagai kasus kriminal lainnya
adalah kasus-kasus yang banyak dilakukan oleh generasi muda.
1

Oleh karena itu, satu hal yang harus kita ingat bahwa anak merupakan anugerah sekaligus
amanah. Disebut anugerah karena manusia tidak mampu dan tidak akan bisa menciptakan anak.
Sebagai orang tua kita harus ingat bahwa anak itu bukan buatan kita, kita hanyalah sebab bagi
lahirnya sang anak, karena itu tidak sedikit suami- istri yang sudah lama berumah tangga dan
mendambakan lahirnya sang anak belum juga lahir anak yang didambakan itu karena anak itu
bukan ia yang mencipta.
Di samping itu tidak sedikit orang tua yang menginginkan punya anak laki-laki tapi yang
lahir ternyata perempuan atau menginginkan anak perempuan tapi yang lahir justru anak lakilaki, begitulah seterusnya. Sebagai anugerah dari Allah SWT, maka setiap orang tua harus
mensyukuri kehadiran sang anak, apapun jenis kelaminnya dan bagaimanapun keadaan anak itu.
Hal lain yang harus mendapat perhatian kita dalam kaitan dengan anak sebagai generasi pelanjut
adalah bahwa anak merupakan amanah dari Allah SWT yang tidak boleh disia-siakan. Anak
selanjutnya harus dididik dengan sebaik-baiknya sebagaimana Nabi Ibrahim dan Hajar telah
mendidik anaknya Ismail dengan sedemikian baik. Sebagai seorang ibu, Hajar memberikan
perhatian kepada anaknya Ismail dengan begitu baik sehingga ia harus berlari bolak balik dari
shafa ke marwa untuk mencari air minum. inilah yang kemudian disebut dengan sai dari shofa
ke Marwa. Di samping itu, Allah SWT juga mengabadikan perhatian dari orang tua yang begitu
besar kepada anaknya dengan apa yang disebut dengan hijr Ismail, yang berarti pangkuan Ismail,
suatu tempat yang begitu mulia yang di situlah dahulu Ismail dipangku, diasuh, dididik dan
dibesarkan oleh ibunya yaitu Hajar.
Untuk bisa melahirkan generasi yang shalih, yang harus shalih terlebih dahulu adalah kita
sebagai orang tuanya. Bagaimana bisa orang tua mendambakan anaknya menjadi shalih bila ia
sendiri tidak shalih? Mendidik anak harus dimulai dengan keteladanan yang baik, karenanya
bagaimana mungkin orang tua bisa mendidik anak-anaknya dengan baik kalau ia tidak menjadi
contoh yang baik. Tak cukup hanya bisa memberi contoh yang baik. Tapi harus menjadi contoh
yang baik.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Maasyiral Muslimin Rahimakumullah.
Kedua, menjauhi segala bentuk keburukan dan melakukan segala bentuk kebaikan.
Hikmah yang harus kita tangkap dari profil Nabi Ibrahim dan keluarganya serta dari
ibadah haji yang harus ditunaikan oleh kaum muslimin sekali seumur hidupnya adalah menjauhi
segala bentuk keburukan dan melakukan segala bentuk kebaikan. Kaitan ibadah haji bukan
hanya bagi mereka yang sedang atau sudah menunaikan ibadah haji, tapi seluruh kaum muslimin
terkait dengannya. Karenanya kemarin kita disunnahkan untuk puasa Arafah yang terkait
langsung dengan wuquf di Arafah bagi sekitar empat juta jamaah haji. Oleh karena itu bila
ibadah haji yang hanya berlangsung beberapa hari para jamaah harus membekali dirinya dengan
ketaqwaan kepada Allah SWT, apalagi dengan kehidupan kita yang berlangsung bertahun-tahun,
Allah SWT berfirman:

Haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi. Barang siapa yang menetapkan niatnya dalam
bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh mengerjakan rafats (perkataan maupun
perbuatan yang bersifat seksual), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa
mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya.
Dan berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepadaKu hai orang-orang yang berakal (QS Al-Baqarah: 197)

Taqwa yang menjadi bekal untuk menjalani kehidupan ini merupakan sesuatu yang
sangat penting, karenanya taqwa harus selalu melekat dalam jiwa setiap muslim. Itu sebabnya
taqwa disebut dengan istilah libasut taqwa (pakaian taqwa), karena taqwa menjadi pakaian
rohani manusia, sedangkan ke mana pergi, bahkan di manapun manusia berada ia harus selalu
menggunakan pakaian secara jasmaniah seperti baju, celana, gamis, sarung dan sebagainya.
Namun, pakaian yang paling baik adalah taqwa. Karenanya betapa hina manusia yang tidak
bertaqwa dalam hidupnya di dunia ini meskipun pakaian jasmani yang dimiliki dan
dikenakannya sangat bagus dengan harga yang sangat mahal sekalipun. Dalam kondisi
masyarakat dan bangsa yang sulit, seharusnya ketaqwaan yang diperkokoh, karena dengan
ketaqwaan akan ada jalan keluar dari setiap persoalan, termasuk persoalan ekonomi sedangkan
bila banyak urusan yang sulit dilaksanakan, maka Allah SWT akan memudahkannya.
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.
Ketiga, selalu istiqamah.
Profil Nabi Ibrahim as dan keluarganya memberikan pelajaran kepada kita semua akan
keharusan mempertahankan dan memperkokoh jati diri sebagai seorang mukmin yang selalu
berusaha untuk berada pada jalan hidup yang benar, apapun tantangan, keadaan dan
bagaimanapun situasi serta kondisinya. Begitulah memang yang telah ditunjukkan oleh Nabi
Ibrahim as dan keluarganya dengan hujjah, argumentasi atau alasan yang kuat. Dalam sejarah
Nabi Ibrahim kita dapati beliau menghancurkan berhala-berhala yang biasa disembah oleh
masyarakat di sekitarnya, saat itu Ibrahim adalah seorang anak remaja, hal ini tercermin dalam
firman Allah SWT yang menceritakan soal ini:

Maka Ibrahim membuat berhala-berhala itu hancur berpotong-potong, kecuali yang terbesar
dari patung-patung yang lain, agar mereka kembali (untuk bertanya) kepadanya. Mereka berkata:
Siapakah yang melakukan perbuatan ini terhadap tuhan-tuhan kami, sesungguhnya dia termasuk
orang-orang yang zalim. Mereka berkata: Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela
berhala-berhala ini, namanya Ibrahim. (QS Al-Anbiya: 58-60).
Untuk mempertahankan jati diri yang luhur itu, Ibrahim bahkan siap untuk terus berjuang
sampai mati meskipun harus berjuang di wilayah yang lain, ia menyebut dirinya sebagai orang
yang pergi kepada Allah SWT, Tuhannya yang Esa. Dalam hal ini Nabi Ibrahim menyatakan di
hadapan orang-orang kafir:

Dan Ibrahim berkata: Sesungguhnya aku pergi menghadap Tuhanku dan Dia akan memberi
petunjuk kepadaku. (QS Ash-Shaaffat: 99).
Oleh karena itu, Jati diri luhur yang ditunjukkan oleh Nabi Ibrahim as tidak hanya saat ia
masih muda belia. Tapi bandingkanlah dengan suatu peristiwa yang amat menakjubkan, saat
Ibrahim diperintah oleh Allah SWT untuk menyembelih anaknya Ismail, saat itu Ibrahim sudah
sangat tua, sedangkan Ismail adalah anak yang sangat didambakan sejak lama. Maka Ibrahim
pun melaksanakan perintah Allah SWT yang terasa lebih berat dari sekedar menghancurkan
berhala-berhala di masa mudanya. Ini menunjukkan kepada kita bahwa Ibrahim memiliki
idealisme dari muda sampai tua dan inilah yang amat dibutuhkan dalam kehidupan di negeri kita,
3

jangan sampai ada generasi yang pada masa mudanya menentang kezaliman, tapi ketika ia
berkuasa pada usia yang lebih tua justru ia sendiri yang melakukan kezaliman yang dahulu
ditentangnya itu, jangan sampai ada generasi yang semasa muda menentang korupsi, tapi saat ia
berkuasa atau dipercaya menjadi pegawai, pejabat atau wakil rakyat di usianya yang sudah
semakin tua justru ia sendiri yang melakukan korupsi padahal dahulu sangat ditentangnya.
Dalam kehidupan kita sekarang, kita dapati banyak orang yang tidak mampu
mempertahankan idealisme atau dengan kata lain tidak istiqomah sehingga apa yang dahulu
diucapkan tidak tercermin dalam langkah dan kebijakan hidup yang ditempuhnya, apalagi bila
hal itu dilakukan karena terpengaruh oleh sikap dan prilaku orang lain yang tidak baik.
Rasulullah Saw mengingatkan:

Janganlah kamu menjadi orang yang ikut-ikutan. Kamu berprinsip kalau orang lain baik, kami
pun akan berbuat baik dan kalau mereka berbuat zalim, kami pun akan berbuat zalim. Tetapi
teguhkanlah dirimu dengan berprinsip, kalau orang lain berbuat kebaikan maka berbuatlah
kebaikan pula dan kalau orang lain berbuat kejahatan maka janganlah kamu turut
melakukannya. (HR. Tirmidzi).
Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.
Jamaah Shalat Id Yang Dimuliakan Allah.
Keempat, waspada terhadap godaan-godaan syaitan. Ini merupakan pelajaran penting dari
sekian banyak hikmah dari kehidupan Nabi Ibrahim dan keluarganya serta dari ibadah haji yang
dilaksanakan oleh kaum muslimin. Hal ini karena ketika manusia ingin menjadi muslim yang
sejati, kendala besar yang akan dihadapinya adalah godaan-godaan syaitan. Karena itu, Allah
SWT berfirman:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan dan
janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan, sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata
bagimu. (QS Al-Baqarah: 208).
Oleh karena itu kewaspadaan dan perlawanan kita terhadap godaan syaitan harus selalu
membara. Ibrahim, Hajar dan Ismail berusaha mengusir syaitan melempari dengan batu yang
kemudian dilambangkan dalam ibadah haji dengan melontar jumroh. Ini juga berarti setiap
muslim harus kuat permusuhannya kepada syaitan meskipun harus dengan bersusah payah
sebagaimana jamaah haji mau bersusah payah saat melontar jumroh. Bahkan melontar jumrah
diakui oleh para jamaah haji sebagai rangkaian ibadah haji yang paling berat dengan risiko yang
paling besar. Untuk itulah, di dalam Islam kita sangat ditekankan untuk selalu berlindung kepada
Allah SWT dari godaan-godaan syaitan, sehingga untuk membaca Al-Quran yang sudah jelasjelas baik, kita tetap harus berlindung kepada Allah SWT dari gangguan syaitan dengan
membaca taawudz. Namun yang amat disayangkan adalah banyak di antara kita yang untuk
membaca Al-Quran berlindung kepada Allah dari gangguan syaitan, tapi untuk berdagang tidak,
untuk ke kantor tidak, untuk ke parlemen tidak, untuk ke istana tidak, untuk berumah tangga
tidak dan begitulah seterusnya, akhirnya banyak di antara kita mengikuti godaan setan saat di
pasar, di kantor, di gedung DPR, di jalan, di hotel dan di tempat-tempat lainnya.
Perlu diketahui bahwa di akhirat nanti Syaitan tidak mau disalahkan oleh manusia, tapi
manusia itulah yang harus menyalahkan dirinya sendiri. Allah SWT menceritakan masalah ini
dalam firman-Nya:
4

Dan berkatalah syaitan tatkala perkara (hisab) telah diselesaikan: Sesungguhnya Allah telah
menjanjikan kepadamu janji yang benar, dan akupun telah menjanjikan kepadamu tetapi aku
menyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu melainkan (sekedar) aku
menyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku, oleh sebab itu janganlah kamu mencerca aku,
tetapi cercalah dirimu sendiri. Aku sekali-kali tidak dapat menolongmu dan kamupun sekali-kali
tidak dapat menolongku. Sesungguhnya aku tidak membenarkan perbuatanmu mempersekutukan
aku (dengan Allah) sejak dahulu.Sesungguhnya orang-orang yang zalim itu mendapat siksa
yang pedih. (QS 14:22).
Demikianlah Nabi Ibrahim beserta keluarganya telah memberi contoh kepada kita semua,
yang kisahnya selalu kita peringati setiap tahun sekali. Kini, marilah kita dengar apa pesan Nabi
Ibrahim di akhir hayatnya:

Dan ingatlah ketika Ibrahim berpesan kepada anak-anaknya, begitu pula nabi Yaqub: Wahai
anak-anakku sesungguhnya Allah telah memilih untuk kamu agama (Islam) ini, maka janganlah
kalian mati kecuali kalian benar-benar menjadi orang Islam. (Al-Baqarah: 132).

Mengakhiri khutbah ini, marilah munajat pada Allah Rabbul Alamin, dengan meluruskan niat,
membersihkan hati dan menjernihkan pikiran, Semoga Allah berkenan mengijabah doa hambaNya yang ikhlas.