Anda di halaman 1dari 4

STEP 3

Mekanisme bersin
Berdasarkan cara nasuknya allergen dibagi menjadi :
1. Allergen inhalan ,yang masuk bersama dengan udara pernapasan, misalnya
debu rumah, tungau ,serbuk sari, bulu kucing atau anjing, rerumputan,
jamur.
2. Allergen ingestan ,yang masuk ke saluran cerna ,berupa makanan,
misalnya susu, telur, coklat, ikan laut, udang ,kepiting, kacang-kacangan.
3. Allergen injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan ,misalnya
penisilin dan sengatan lebah.
4. Allergen kontaktan, yang masuk melalui kontak kulit atau jaringan
mukosa, misalnya bahan kosmetik, perhiasan.
Jika terjadi kontak pertama tubuh dengan allergen ,makrofag atau monosit yang
berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akan menangkap
allergen yang menempel dipermukaan mukosa hidung. Kemudian APC akan
melepaskan sitokin seperti interleukin 1 (IL 1) yang akan mengaktifkan sel T
helper (Th0) untuk berproliferasi menjadi Th 1 dan Th 2. Th 2 akan menghasilkan
berbagai sitokin seperti IL 3, IL 4, IL 5, dan IL 13. IL 4 dan IL 13 dapat diikat
oleh reseptornya dipermukaan sel limfosit B ,sehingga limfosit B menjadi aktif
dan akan memproduksi Imunoglobulin E (IgE). IgE disirkulasi darah akan masuk
ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE dipermukaan sel mastosit atau basophil
sehingga kedua sel ini menjadi aktif. Proses ini disebut sensitisasi yang
menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. Bila mukosa yang sudah
tersensitisasi terpapar dengan allergen yang sama , maka IgE akan mengikat
allergen dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basophil
dengan terlepasnya histamine. Histamine akan merangsang reseptor H1 pada
ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersinbersin. (Soepardi, 2012)
STEP 7
Patofisiologi rhinitis alergi
Berdasarkan cara nasuknya allergen dibagi menjadi :

1. Allergen inhalan ,yang masuk bersama dengan udara pernapasan, misalnya


debu rumah, tungau ,serbuk sari, bulu kucing atau anjing, rerumputan,
jamur.
2. Allergen ingestan ,yang masuk ke saluran cerna ,berupa makanan,
misalnya susu, telur, coklat, ikan laut, udang ,kepiting, kacang-kacangan.
3. Allergen injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan ,misalnya
penisilin dan sengatan lebah.
4. Allergen kontaktan, yang masuk melalui kontak kulit atau jaringan
mukosa, misalnya bahan kosmetik, perhiasan.
Jika terjadi kontak pertama tubuh dengan allergen ,makrofag atau monosit yang
berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akan menangkap
allergen yang menempel dipermukaan mukosa hidung. Kemudian APC akan
melepaskan sitokin seperti interleukin 1 (IL 1) yang akan mengaktifkan sel T
helper (Th0) untuk berproliferasi menjadi Th 1 dan Th 2. Th 2 akan menghasilkan
berbagai sitokin seperti IL 3, IL 4, IL 5, dan IL 13. IL 4 dan IL 13 dapat diikat
oleh reseptornya dipermukaan sel limfosit B ,sehingga limfosit B menjadi aktif
dan akan memproduksi Imunoglobulin E (IgE). IgE disirkulasi darah akan masuk
ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE dipermukaan sel mastosit atau basophil
sehingga kedua sel ini menjadi aktif. Proses ini disebut sensitisasi yang
menghasilkan sel mediator yang tersensitisasi. Bila mukosa yang sudah
tersensitisasi terpapar dengan allergen yang sama , maka IgE akan mengikat
allergen dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basophil
dengan terlepasnya histamine. Histamine akan merangsang reseptor H1 pada
ujung saraf vidianus sehingga menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersinbersin. Histamine juga akan menyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet
mengalami hipersekresi dan permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi
rinore. Rinore dapat menyebabkan terjadinya hidung tersumbat sehingga terdapat
lendir pada saluran napas. Yang dapat mengakibatkan obstruksi jalan napas
,sehingga pada scenario mahasiswa mengeluhkan sulit bernapas. (Soepardi, 2012)

Penatalaksanaan

1. Konservatif
Kurangi atau cegah pajanan terhadap allergen.
Jaga kebersihan dengan salin pencuci nasal.
2. Medika mentosa
a. Antihistamin
Antihistamin yang dipakai adalah antagonis histamine H1 ,yang
bekerja secara inhibitor kompetitif pada reseptor H1 sel target dan
dipakai sebagai lini pertama pengobatan rhinitis alergi.
Antihistamin dibagi dalam 2 golongan yaitu golongan antihistamin
generasi-1 (klasik) dan generasi-2 (non sedatif). Anti histamine
generasi-1 bersifat lipofilik, sehingga dapat menembus sawar darah
otak.

Yang termasuk kelompok ini antara lain difenhidramin,

klorfeniramin, prometasin, siproheptadin. Antihistamin generasi-2


bersifat lipofobik, sehingga sulit menembus sawar darah otak.
Antihistamin di absorpsi secara oral dengan cepat dan mudah serta
efektif untuk mengatasi gejala pada respons fase cepat seperti
rinore, bersin, gatal. Antihistamin non sedatif dapat dibagi menjadi
2 golongan menurut keamanannya. Kelompok pertama adalah
astemisol dan terfenadin. Kelompok kedua adalah cetirizine (10
mg PO 1X/hari), fexofenadine (120 mg 1x/hari), loratadin (10 mg
PO 1x/hari), levocetirizin, desloratadin.
b. Kortikosteroid intranasal
Untuk gejala sedang/berat. Contoh : beclomethasone ,budesonide,
fluticasone, mometasone furoate. Kortikosteroid topical bekerja
untuk mengurangi jumlah sel mastosit pada mukosa hidung,
mencegah

pengeluaran

protein

sitotoksik

dari

eosinophil,

mengurangi aktifitas limfosit, mencegah bocornya plasma. Hal ini


menyebabkan

epitel

hidung

tidak

hiperresponsif

terhadap

rangsangan allergen. Preparat sodium kromoglikat topical bekerja


menstabilkan mastosit sehingga penglepasan mediator dihambat.
c. Dekongestan intranasal
Diberikan jika disertai obstruksi nasal. Contoh : pseudoefedrin,
oksimetazolin, fenilepinefrin.
d. Antikolinergik topical
Contoh : ipratropium bromide, bermanfaat untuk mengatasi rinore.
e. Anti leukotriene
Contoh : zafirlukast atau montelukast

3. Operatif
Tindakan konkotomi parsial (pemotongan sebagian konka inferior),
konkoplasti atau multiple outfractured, inferior turbinoplasty perlu
dipikirkan bila konka inferior hipertrofi berat dan tidak berhasil dikecilkan
dengan cara kauterisasi memakai AgNO3 25%.
(Soepardi 2012 ; mansjoer 2000)