Anda di halaman 1dari 5

BAB I

KLARIFIKASI ISTILAH

1.1.

BAB II
IDENTIFIKASI MASALAH
1.
2.
3.
4.

Apa penyebab terjadinya serangan bersin-bersin pasien?


Apa penyebab keluarnya cairan yang berwarna putih dan encer dari hidung?
Apa hubungan cuaca dingin dengan keluhan pasien sekarang?
Apa hubungan riwayat alergi makan kacang tanah dengan keluhan pasien

sekarang?
5. Diagnosis banding kasus?

BAB III
ANALISIS MASALAH
3.1.

Penyebab terjadinya serangan bersin-bersin pada pasien


Menurut Muluk (2009) bersin adalah respon tubuh yang dilakukan oleh membran

hidung ketika mendeteksi adanya bakteri dan kelebihan cairan yang masuk ke dalam
hidung, sehingga secara otomatis tubuh akan menolak bakteri tersebut. Bersin juga dapat
timbul akibat adanya peradangan (rhinosinusitis), benda asing, infeksi virus, atau reaksi
alergi.
Adapun penyebab terjadinya serangan bersin pada pasien dikarenakan adanya
peradangan di saluran hidung sehingga terjadi refleks bersin. Rangsang yang memulai

refleks bersin adalah iritasi/peradangan pada saluran hidung, dimulai dari


terangsangnya bagian - bagian yang peka pada saluran pernafasan .
Rangsangan ditangkap oleh sensor taktil dan kemoreseptor aferen
melalui Nervous Vagus, yang mana impuls aferennya berjalan di dalam saraf

maksilaris ke medulla oblongata dimana refleks ini digerakkan. Terjadi


serangkaian reaksi yang mirip dengan yang terjadi pada refleks batuk, di sini
uvula tertekan sehingga sejumlah besar udara mengalir dengan cepat melalui

hidung dan mulut, sehingga membersihkan saluran hidung dari benda asing
(Muluk, 2009).

3.2. Penyebab keluarnya cairan yang berwarna putih dan encer dari
hidung
Rambe (2003) menyatakan bahwa sistem saraf otonom mengontrol aliran
darah ke mukosa hidung dan sekresi dari kelenjar. Diameter resistensi pembuluh
darah di hidung diatur oleh sistem saraf simpatis sedangkan parasimpatis
mengontrol sekresi kelenjar. Pada saat adanya peradangan akibat rinitis terjadi
disfungsi sistem saraf otonom yang menimbulkan peningkatan kerja parasimpatis
yang disertai penurunan kerja saraf simpatis. Baik sistem simpatis yang hipoaktif
maupun sistem parasimpatis yang hiperaktif, keduanya dapat menimbulkan
dilatasi arteriola dan kapiler disertai peningkatan permeabilitas kapiler, yang
akhirnya akan menyebabkan transudasi cairan/rinore dan hidung tersumbat.

3.3. Hubungan cuaca dingin dengan kekambuhan keluhan pasien


Rambe (2003) menyatakan bahwa cuaca dingin merupakan faktor pemicu
terjadinya rinitis vasomotor. Adapun Pulungan (2013) menyatakan bahwa faktor
predisposisi cuaca dingin memegang peranan penting pada terjadinya rinitis
infeksi akut. Dengan demikian, terjadi hubungan yang erat antara cuaca dingin
dengan kekambuhan keluhan pasien, mengingat bahwa cuaca dingin merupakan
faktor predisposisi terjadinya rinitis.

3.4. Hubungan riwayat alergi makan kacang tanah dengan keluhan

pasien sekarang
Menurut Sin & Togias (2011) dan Wheatley & Togias (2015) rinitis alergi
adalah istilah umum yang digunakan untuk menunjukkan setiap reaksi alergi
mukosa hidung akibat paparan alergen, dimana alergen tersebut diantaranya dapat
berupa debu, asap, sebuk/tepung sari yang ada di udara.
Sedangkan riwayat alergi pasien adalah memakan kacang tanah yang
menimbulkan kemerahan dan gatal di kulit.

Dengan demikian, tidak ada

hubungan riwayat alergi makan kacang tanah pasien dengan keluhan penyakit
rinitis pasien, mengingat berbeda alergennya dan berbeda juga keluhan yang
ditimbulkannnya.
3.5.
DD kasus pasien
Menurut Rambe (2003) diagnosis banding dari kasus pasien ini adalah :
Rinitis infeksi akut

Rinitis vasomotor

Rinitis alergi

DAFTAR PUSTAKA

Muluk, A. (2009). Pertahanan saluran pernapasan. Majalah


Kedokteran Nusantara, 42(1), 55-61.

Pulungan, A.S. (2013). Rinitis akut et causa infeksi baktrri pada


laki-laki dewasa 22 tahun. Medula, 1(5), 7-12.

Rambe, A.Y.M. (2003). Rinitis Vasomotor. Medan


Ilmu Penyakit THT Univ. Sumatera Utara.

FK Bagian

Sin, B. & Togias, A. (2011). Pathophysiology of allergic and nonallergic rhinitis.


Proceedings of The American Thoracic Society, 6, 108-114.

Wheatley, L.M. & Togias, A. (2015). Allergic rhinitis. The New England Journal
of Medicine, 372(5), 456-462.