Anda di halaman 1dari 25

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kariotipe merupakan gambaran dari kromosom suatu sel dengan berbagai
struktur dari masing-masing kromosom. Kariotipe dapat digunakan untuk
mengidentifikasi berbagai kelainan kromosom. Kariotipe adalah susunan
kromosom yang berurutan menurut panjang, jumlah dan bentuk dari sel somatis.
Kromosom dikelompokkan menjadi kelompok A G berdasarkan ukuran
kromosom serta letak dari sentromer. Sedangkan untuk membedakan kromosom
seks antara perempuan dan laki-laki terlihat pada kromosom X dan Y. Peranan
kariotype

dapat

mengetahui

kelainan

kromosom

pada

manusia

(Febiriyanti dkk, 2014).


Kariotipe umumnya dilakukan dengan cara mengambil citra sel pada saat
metafase

sehingga

kromosom

terlihat

jelas

terlebih

dahulu,

kemudian

menggunting setiap citra kromosom dan mengidentifikasi masing-masing


kromosom untuk dibuat ideogramnya. Proses kariotipe dapat digunakan untuk
mendeteksi aberasi kromosom akibat paparan radiasi. Proses pembuatan
kariotipe

sangat

menyita

waktu

dan

tenaga

sehingga

telah

banyak

dikembangkan perangkat lunak untuk membantu kariotipe kromosom baik yang


otomatis maupun semiotomatis (Ramadhani dkk, 2011).
Kromosom adalah kumpulan material genetik yang terdiri dari molekul DNA
(yang mengandung banyak gen) yang melekat pada sejumlah besar protein yang
mempertahankan struktur kromosom dan berperan dalam ekspresi gen. Sel-sel
somatik manusia mengandung kromosom dengan 22 pasang autosom dan 1
pasang kromosom seks. Semua sel-sel somatik adalah

diploid-23 pasang

kromosom. Hanya gamet yang haploid dengan 22 autosom kromosom dan 1


kromosom seks. Variasinya ukuran kromosom mulai dari 50 juta sampai 250 juta

pasangan basa. Kromosom 1 mengandung paling banyak gen (2968 gen) dan
kromosom Y mengandung jumlah gen yang paling sedikit (231 gen)
(Hamzah, 2011).
Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diketahui bahwa kariotipe
merupakan gambaran individu yang ditunjukkan berdasarkan jumlah dan bentuk
kromosomnya. Maka dari itu praktikum preparasi kromosom (kariotipe) dilakukan
untuk memudahkan manusia memahaminya.
B. Tujuan dan Kegunaan Praktikum
Tujuan dari praktikum ini adalah mahasiswa mampu melakukan preparasi
kromosom jaringan padat dan dapat mengamati, mengetahui serta menganalis
jumlah dan bentuk kromosom untuk menentukan tingkat ploidi dan karakteristik
spesies ikan yang dihadapi.
Kegunaan

dari percobaan ini adalah

membantu mahasiswa

untuk

memahami prepapasi kromosom (kariotipe) dengan bantuan peraga struktur


kromosom ikan yang telah dibuat.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A.Ikan Nila Bakau Hitam (Tilapia mariae)

Gambar 1. Ikan Nila Tutul (Sugianti dkk, 2014).


Menurut Sugianti dkk (2014), Klasifikasi ikan nila bakau hitam, yaitu :
Kingdom : Animalia
Filum

: Chordata

Kelas

: Actinopterygii

Ordo

: Perciformes

Famili

: Cichildae

Genus

: Tilapia

Spesies

: Tilapia mariae

Tilapia mariae adalah ikan yang dapat bertahan pada hampir semua kondisi
perairan, ketika juvenil ikan ini memiliki garis pada tubuhnya, dan berubah
menjadi titik-titik ketika sudah dewasa. Ikan ini biasanya menghuni perairan
tawar tergenang atau mengalir dengan substrat lumpur,hidup pada kisaran
suhu perairan 11-37 C dengan kisaran suhu yang lebih disukai 25-33 C.
Meskipun merupakan spesies air tawar, ikan ini memiliki toleransi salinitas yang
relatif luas dan hidup di daerah muara (Sugianti, dkk, 2014).
Pada Tilapia mariae memiliki pasangan kromosom besar yang paling
karakteristik. Kromosom fusi juga diyakini telah terjadi untuk menciptakan

sepasang kromosom yang terbesar pada kariotipe ikan cichlid (tilapiine).


Sehingga Tilapia mariae hanya memiliki kromom sebanyak 40 (2n=40)
(Cnani, 2007).
B. Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)

Gambar 2. Ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus) (Aji, 2009)


Kedudukan taksonomi ikan lele dumbo adalah sebagai berikut (Aji, 2009) :
Kingdom : Animalia
Filum

: Chordata

Kelas

: Pisces

Ordo

: Ostariophysi

Famili

: Claridae

Genus

: Clarias

Spesies

: Clarias gariepinus Burchell

Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus Burchell) berasal dari Benua Afrika dan
pertama kali didatangkan ke Indonesia pada tahun 1984. Jenis ikan lele ini
termasuk hibrida dan pertumbuhan badannya cukup spektakuler baik panjang
tubuh maupun beratnya. Dibanding kerabat dekatnya ikan lele lokal (Clarias
batrachus) lele dumbo memiliki pertumbuhan empat kali lebih cepat. Oleh
sebab itu, ikan jenis ini dengan mudah menjadi populer di masyarakat. Di
Indonesia ada 6 (enam) jenis ikan lele yang dikembangkan (Aji, 2009) :
1. Clarias batrachus dikenal sebagai ikan lele (Jawa), ikan kalang (Sumatera
Barat), ikan maut (Sumatera Utara) dan ikan pintet (Kalimantan Selatan).

2. Clarias teysmani dikenal sebagai lele Kembang (Jawa Barat) dan Kalang
putih (Padang).
3. Clarias melanoderma yang dikenal sebagai ikan duri (Sumatera Selatan),
wais (Jawa Tengah) dan wiru (Jawa Barat).
4. Clarias nieuhofi yang dikenal sebagai ikan lindi (Jawa), limbat (Sumatera
Barat) dan kaleh (Kalimantan Selatan).
5. Clarias loiacanthus yang dikenal sebagai ikan keli (Sumatera Barat) dan
ikan penang (Kalimantan Timur).
6. Clarias gariepinus Burchell yang dikenal sebagai lele dumbo berasal dari
Afrika
Menurut Puspowardoyo dan Djarijah (2002), ikan lele dumbo (Clarias
gariepinus Burchell) memiliki morfologi yang mirip dengan lele lokal (Clarias
batrachus). Bentuk tubuh memanjang, agak bulat, kepala gepeng dan batok
kepalanya keras, tidak bersisik dan berkulit licin, mulut besar, warna kulit
badannya terdapat bercak-bercak kelabu seperti jamur kulit manusia (panu).
Ikan lele dalam bahasa Inggris disebut pula catfish, siluroid, mudfish dan
walking catfish (Aji, 2009).
Jumlah kromosom diploid C. gariepinus di Sungai Anambra ditemukan dua
puluh delapan pasang (2n =56) dan autosom nomor lengan dasar (NF) adalah
88 untuk laki-laki dan 89 untuk perempuan. Hal itu juga ditemukan bahwa C.
gariepinus laki-laki memiliki 8 metasentrik, 24 submetasentrik dan 24 kromosom
akrosentrik, sementara perempuan tercatat 8 metasentrik, 25 submetasentrik
dan 23 kromosom akrosentrik. Ini adalah fenomena yang diketahui bahwa
kromosom akrosentrik memiliki kecenderungan untuk menempel satu sama lain
dengan sentromer mereka dan dengan cara ini mereka membentuk kromosom
metasentrik (Okonkwo, 2010).

C. Ikan nila (Oreochromis niloticus)

Gambar 3. Ikan nila (Oreochromis niloticus) (Agung, 2015).


Menurut Suyanto (1993) ikan nila dalam klasifikasi biologi termasuk
dalam (Agung, 2012) :
Kingdom : Animalia
Filum

: Chordata

Class

: Osteichthyes

Ordo

: Percomorphi

Famili

: Cichlidae

Genus

: Oreochromis

Spesies

: Oreochromis niloticus, L

Berdasarkan morfologinya, ikan Nila umumnya memiliki bentuk tubuh


panjang dan ramping, dengan sisik berukuran besar. Matanya besar, menonjol
dan bagian tepinya berwarna putih. Gurat sisi (linea literalis) terputus dibagian
tengah badan kemudian berlanjut, tetapi letaknya lebih ke bawah dari pada
letak garis yang memanjang di atas sirip dada. Sirip punggung, sirip perut dan
sirip dubur mempunyai jari-jari keras dan tajam seperti duri. Sirip punggungnya
berwarna hitam dan sirip dadanya juga tampak hitam. Bagian pinggir sirip
punggung berwarna abu-abu atau hitam. Ikan Nila memiliki lima sirip, yaitu sirip

punggung (dorsal fin), sirip dada (pectoral fin), sirip perut (venteral fin), sirip
anus (anal fin) dan sirip ekor (caudal fin). Sirip punggung memanjang dari
bagian atas tutup insang hingga bagian atas sirip ekor. Ada sepasang sirip
dada dan sirip perut yang berukuran kecil. Sirip anus hanya satu buah dan
berbentuk agak panjang. Sementara itu, sirip ekornya berbentuk berbentuk
bulat dan hanya berjumlah satu buah (Agung, 2012).
Ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah sejenis ikan konsumsi air tawar.
Ikan ini diintroduksi dari Afrika pada tahun 1960an. Ikan nila termasuk jenis
ikan yang tahan terhadap perubahan

lingkungan, memiliki sifat omnivora

(memakan fitoplankton, perifiton, tanaman air, avertebrata kecil, fauna bentik,


detritus dan bakteri yang berasosiasi dengan detritus) dan mampu mencerna
makanan secara efisien serta pertumbuhannya cepat dan tahan terhadap
serangan penyakit. kromosom ikan nila yaitu 22 pasang (2n=44) kromosom
diploid. Ikan nila jantan normal (kromosom XY) dan betina (kromosom XX)
(Tinova, 2011).
D. Ikan mas (Cyprinus carpio)

Gambar 4. Ikan mas (Cyprinus carpio) (Aji, 2009).


Klasifikasi ikan mas menurut Saanin (1984) adalah sebagai berikut
(Sugianti dkk, 2014):

Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Class

: Actinopterygii

Ordo

: Cypriniformes

Famili

: Cyprinidae

Genus

: Cyprinus

Spesies

: Cyprinus carpio

Tubuh ikan mas memiliki ciri-ciri antara lain : bentuk badan memanjang dan
sedikit pipih ke samping, mulut terletak di ujung tengah (terminal) dan dapat
disembulkan (protektil) serta dihiasi dua pasang sungut. Selain itu di dalam
mulut terdapat gigi kerongkongan, dua pasang sungut ikan mas terletak di bibir
bagian atas. Gigi kerongkongan (pharyngeal teeth) terdiri atas tiga baris yang
berbentuk geraham, memiliki sirip punggung (dorsal) berbentuk memanjang
dan terletak di bagian permukaan tubuh, berseberangan dengan permukaan
sirip perut (ventral) bagian belakang sirip punggung memiliki jari-jari keras
sedangkan bagian akhir berbentuk gerigi, sirip dubur (anal) bagian belakang
juga memiliki jari-jari keras dengan bagian akhir berbentuk gerigi seperti halnya
sirip punggung, sirip ekor berbentuk cagak dan berukuran cukup besar dengan
tipe sisik berbentuk lingkaran (cycloid) yang terletak beraturan, gurat sisik atau
garis rusuk (linea lateralis) ikan mas berada di pertengahan badan dengan
posisi melintang dari tutup insang sampai ke ujung belakang pangkal ekor
(Agung, 2012).
Jumlah kromosom diploid ikan mas spesimen dari Vietnam ditemukan 2n =
100. Kariotipe konfigurasi terdiri dari 8 pasang metasentrik, 17 pasang
submetasentrik dan 25 pasang subtelo dan akrosentrik kromosom. Pewarnaan
dari metafase menyebar di semua kasus mengungkapkan adanya dua

nonhomolog kromosom submetasentrik (dua yang berbeda ukuran). Daerah


bantalan nucleolus pada Seluruh lengan atas mereka lebih pendek. Sebuah
pewarnaan

berurutan

dari

metafase

yang

sama

menyebar

dengan

chromomycin A3 mengakibatkan pewarnaan heterochromatin dari NOR yang


muncul sebagai zona terang dengan latar belakang gelap (Anjum, 2005).
E. Ikan lele (Clarias batrachus)

Gambar 5. Ikan lele (Clarias batrachus) (Aji, 2009).


Klasifikasi ikan lele (Aji, 2009) :
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Pisces

Ordo

: Ostariophysi

Familia

: Clariidae

Genus

: Clarias

Spesies

: Clarias batrachus

Ikan lele merupakan hewan nokturnal dimana ikan ini aktif pada malam hari
dalam mencari mangsa. Ikan-ikan yang termasuk ke dalam genus lele dicirikan
dengan tubuhnya yang tidak memiliki sisik, berbentuk memanjang serta licin.
Ikan Lele mempunyai sirip punggung (dorsal fin) serta sirip anus (anal fin)
berukuran panjang yang hampir menyatu dengan ekor atau sirip ekor. Ikan lele
memiliki kepala dengan bagian seperti tulang mengeras di bagian atasnya.
Mata ikan lele berukuran kecil dengan mulut di ujung moncong berukuran

cukup lebar. Dari daerah sekitar mulut menyembul empat pasang barbel
(sungut peraba) yang berfungsi sebagai sensor untuk mengenali lingkungan
dan mangsa. Lele memiliki alat pernapasan tambahan yang dinamakan
Arborescent. Arborescent ini merupakan organ pernapasan yang berasal dari
busur insang yang telah termodifikasi. Pada kedua sirip dada lele terdapat
sepasang duri (patil), berupa tulang berbentuk duri yang tajam. Pada beberapa
spesies ikan lele, duri-duri patil ini mengandung racun ringan. Hampir semua
species lele hidup di perairan tawar (Aji, 2009).
Ikan lele adalah salah satu jenis ikan air tawar yang termasuk ke dalam ordo
Siluriformes dan digolongkan ke dalam ikan bertulang sejati. Ikan lele
merupakan hewan nokturnal dimana ikan ini aktif pada malam hari dalam
mencari mangsa. ikan lele memiliki jumlah kromosom yaitu 74 (Nurasni, 2012).
F. Manusia (Homo sapiens)

Gambar 6. Manusia (Insani, 2013).


Klasifikasi manusia menurut Linnaeus (1758) dalam zipcodezoo adalah
sebagai berikut:
Kingdom

: Animalia

Filum

: Chordata

Kelas

: Mammalia

Ordo

: Primates

Familia

: Hominidae

Genus

: Homo

Spesies
Manusia

adalah

: Homo sapiens
makhluk

yang

berkembang

secara

terus-menerus.

Perkembangan tersebut berkembang akibat kodrat manusia itu sendiri yang


berpikir, sosialisasi serta bergenerasi. Secara fisik dapat dikenali dari
perkembangan manusia mulai sejak lahir, kemudian berkembang menjadi
remaja, dewasa, tua dan kemudian mati.

Untuk selanjutnya digantikan oleh

generasi yang berikutnya. Manusia memiliki bentuk gigi yang terdiri atas gigi
seri, gigi taring dan gigi geraham, memiliki bentuk kaki yang tegak dengan jari
jari yang berfungsi untuk berjala serta manusia memiliki penutup kepala yaitu
rambut
(Muslimin, 2014).
Manusia memiliki 46 kromosom, tepatnya 23 kromosom homolog. Dari
jumlah tersebut, 44 (atau 22 pasang) merupakan autosom (A) dan 2 (atau
sepasang) merupakan gonosom. Seorang perempuan memiliki 22 pasang
autosom dan sepasang kromosom X sehingga rumus kromosomnya 22AAXX.
Seorang laki-laki memiliki 22 pasang autosom dan 1 kromosom X serta 1
kromosom Y sehingga rumus kromosomya 22AAXY (Muslimin, 2014).

III.

METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan


Alat yang digunakan pada praktikum preparasi kromosom adalah timbangan,
mikroskop binokuler, hot plate, kertas tissue, grlas objek, alat bedah (pinset dan
pisau), pipet tetes dan gelas objek cekung. Sedangkan bahan yang digunakan
adalah kolkisin (C22H25NO6), etanol atau metanol (C2H5OH), kalium klorida (KCl),
asam asetat glacial CH3COOH, giemsa dan akuades.
B. Prosedur kerja
Adapun prosedur kerja pada praktikum ini yaitu :
1. Pembuatan Reagen
a) Larutan kolkisin 0,007% w/v : dibuat dengan melarutkan 70 mg
kolkisin dalam 1 liter air.
b) Larutan hipotonik 0,075 M (1 liter) : dibuat dengan melarutkan 5,6
gram KCl dalam 1 liter akuades.
c) Larutan Carnoy : dibuat dengan mencampurkan Asam Asetat Glacial
dan Etanol atau Metanol dengan perbandingan volume 1:3.
d) Larutan alkohol 70% : dibuat dengan mencampurkan Etanol Absolut
dan akuades dengan perbandingan 7:3 (1 liter alkohol 70% = 700
ml etanol absolut + 300 ml akuades).
e) Larutan Giemsa 20% : dibuat dengan mencampurkan Giemsa dan
akuades dengan perbandingan 2:8 (100 ml larutan Giemsa 20% =
20 ml giemsa + 80 ml akuades).

f) Asam Asetat 50% : dibuat dengan mencampurkan Asam Asetat


Glacial dan akuades dengan perbandingan volume 1:1.
2. Perendaman dengan Kolkisin dan Pengawetan Jaringan
a) Ikan direndam dalam larutan Kolkisin 0,07 w/v selama 6-9 jam.
Selama perendaman, ikan dibiarkan berenang dalam wadah dengan
aerasi yang baik. Setelah itu ikan dibunuh.
b)Sirip ekor dan insang ikan dipotong kecil-kecil. Potongan jaringan
tersebut direndam dalam larutan hipotonik (KCl 0,075 M) selama 60
menit pada suhu ruang. Larutan hipotonik diganti setiap 30 menit
selama waktu perendaman dengan volume 20 kali volume jaringan.
c) Jaringan difiksasi dengan larutan Carnoy selama 60 menit. Larutan
Carnoy diganti dengan yang baru setiap 30 menit.
d) Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan preparat (bila diperlukan
jaringan yang telah difiksasi dapat disimpan dalam refrigerator
selama 2-3 minggu).
3. Pembuatan Preparat
a) Jaringan yang telah difiksasi diambil dengan menggunakan pinset
dan disentuhkan pada kertas tissue untuk menghilangkan larutan
fiksatif.
b) Kemudian jaringan tersebut diletakkan di atas gelas objek cekung
dan ditmbahkan 3-4 tetes asam asetat 50%. Setelah itu jaringan
digerak-gerakkan dengan menggunakan pisau bedah secara hati-hati
hingga terbentuk suspensi sel (larutan menjadi keruh).
c) Gelas objek yang akan digunakan sebagai preparat sebelumnya
direndam di dalam Alkohol 70% minimal selama 2 jam.
d) Suspensi sel yang terbentuk diambil dengan menggunakan pipet
tetes lalu diteteskan di atas gelas objek yang ditempatkan di atas hot

plate dengan suhu 45-50 C, dan dihisap kembali dengan cepat


setelah terbentuk lingkaran (ring) dengan diameter 1-1,5 cm. Pada
setiap gelas objek idealnya dapat dibuat menjadi 3 lingkaran.
4. Pewarnaan Preparat
a)

Preparat yang telah berisi lingkaran (ring) diwarnai dengan larutan

Giemsa 20% dengan cara memberikan larutan sebanyak 3-5 tetes


lalu disebarkan hingga menutupi ring dengan menggunakan tusuk
gigi, atau melalui teknik perendaman. Pewarnaan dilakukan selama
20-30 menit pada suhu kamar.
b)

Preparat dibilas dengan menggunakan akuades lalu dibiarkan

kering udara.
c)

Preparat diamati di bawah mikroskop.

5. Preparat yang diperoleh kemudian difoto lalu digunting satu persatu.


Selanjutnya kromosom tersebut diukur dan disusun mulai dari ukuran
kromosom yang paling besar hingga terkecil.

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
1.

Ikan Nila Bakau Hitam (Tilapia mariae)

Gambar 7. Hasil preparasi kromosom (kariotipe) pada ikan nila bakau hitam
(Tilapia mariae).
2. Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)

Gambar 8. Hasil preparasi kromosom (kariotipe) pada ikan lele dumbo


(Clarias gariepinus).
3. Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

Gambar 9. Hasil preparasi kromosom pada ikan nila (Oreochromis niloticus).


4. Ikan Mas (Cyprinus carpio)

Gambar 10. Hasil preparasi kromosom (kariotipe) ikan mas (Cyprinus carpio).
5. Ikan Lele (Clarias batrachus)

Gambar 11. Hasil preparasi kromosom (kariotipe) ikan lele (Clarias batrachus).
6. Manusia (Homo sapiens)

Gambar 12. Hasil preparasi kromosom (kariotipe) manusia (Homo sapiens)


B. Pembahasan
1. Ikan Nila Bakau Hitam (Tilapia mariae)
Pada Tilapia mariae memiliki pasangan kromosom besar yang
paling karakteristik. Kromosom fusi juga diyakini telah terjadi untuk
menciptakan sepasang kromosom yang terbesar pada kariotipe ikan
cichlid (tilapiine). Sehingga Tilapia mariae hanya memiliki kromom
sebanyak 40 (2n=40) (Cnaani, 2007).
Menurut Poletto dkk (2010) terdapat 20 pasang kromosom pada
gambar 7. Hal ini sesuai dengan hasil praktikum, di mana kromosom
tersebut disusun berdasarkan letak sentromernya. Adapun urutannya
yaitu 1 pasang metasentrik, 3 pasang submetasentrik, 15 pasang
akrosentrik dan 1 pasang kromosom seks (Poletto dkk, 2010)
Menurut Poletto dkk (2010) the tilapiines tampaknya sangat
konservatif dalam kaitannya dengan kariotipe evolusi, dengan sebagian
besar dari mereka menunjukkan 44 kromosom, kecuali O. alcalicus
dengan 48 kromosom dan O. karongae dengan 38 kromosom.
Sedangkan pada T. mariae jumlah kromosomnya juga berkurang 2n=40,
penurunan ini bisa menjadi hasil dari fusi kromosom yang berbeda
sehingga kromosom nomor 1 dan 2 pada T. mariae tidak bisa diamati
dalam Oreochromis atau spesies nila lainnya (Poletto dkk, 2010)
2. Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus)
Jumlah kromosom diploid C. gariepinus di Sungai Anambra ditemukan
dua puluh delapan pasang (2n =56) dan autosom nomor lengan dasar

(NF) adalah 88 untuk laki-laki dan 89 untuk perempuan. Hal itu juga
ditemukan bahwa C. gariepinus laki-laki memiliki 8 metasentrik, 24
submetasentrik dan 24 kromosom akrosentrik, sementara perempuan
tercatat 8 metasentrik, 25 submetasentrik dan 23 kromosom akrosentrik.
Ini adalah fenomena yang diketahui bahwa kromosom akrosentrik
memiliki kecenderungan untuk menempel satu sama lain dengan
sentromer mereka dan dengan cara ini mereka membentuk kromosom
metasentrik
(Okonkwo, 2010).
Dari hasil praktikum yang dilakukan urutan kromosom pada gambar 8
disusun berdasarkan letak sentromernya. Adapun urutan kromosom
berdasarkan letak sentromernya yaitu 8 pasang metasentrik, 12 pasang
submetasentrik dan 8 pasang telosentrik. Kromosom seks pada ikan lele
dumbo dikode pada nomor 43 dan 44 (Okonkwo, 2010).
Kelainan yang terjadi pada ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) yaitu
terjadi variasi dalam jumlah kromosom atau adanya sel aneuploid pada
ikan lele dumbo yaitu kegagalan pembelahan mitosis yang normal
khususnya non-disjunction yang akibatnya menyebabkan peningkatan inti
set kromosom atau adanya sel aneuploid. Selain itu variasi dalam jumlah
kromosom dan morfologi bisa disebabkan fusi centric dari kromosom dari
pasangan yang berbeda, non disjungsi dan hilangnya kromosom kecil
selama pembelahan sel (Omotayo, 2012).
3. Ikan nila (Oreochromis niloticus)
Ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah sejenis ikan konsumsi air
tawar. Ikan ini diintroduksi

dari Afrika pada tahun 1960an. Ikan nila

termasuk jenis ikan yang tahan terhadap perubahan lingkungan, memiliki


sifat omnivora (memakan fitoplankton, perifiton, tanaman air, avertebrata

kecil, fauna bentik, detritus dan bakteri yang berasosiasi dengan detritus)
dan mampu mencerna makanan secara efisien serta pertumbuhannya
cepat dan tahan terhadap serangan penyakit. kromosom ikan nila yaitu
22 pasang (2n=44) kromosom diploid. Ikan nila jantan normal (kromosom
XY) dan betina (kromosom XX) (Tinova, 2011).
Dari hasil praktikum yang dilakukan urutan kromosom pada gambar 9
disusun berdasarkan ukurannya yaitu diawali dengan ukuran yang besar
sampai ukuran yang kecil. Kromosom seks pada ikan nila dikode pada
nomor 41 dan 42.
Kelainan kromosom pada ikan nila (Oreochromis niloticus) yaitu
keberadaan satu lokus dalam setiap kelompok linkage mempengaruhi
beberapa ciri-ciri ikan ini. Beberapa perbedaan kariotipe intraspesifik
diamati hasil modifikasi evolusi pada populasi genetik terisolasi, ada
beberapa bukti untuk variasi antar populasi telah terjadi pada tingkat
molekuler untuk sejumlah spesies ikan nila, sehingga studi lanjut pada
tingkat molekuler penting untuk membangun saran ini. Kromosom nomor
1, yang lebih besar dari semua kromosom lain dalam kariotipe, diproduksi
oleh fusi tiga kromosom dan menjelaskan pengurangan keseluruhan
jumlah kromosom dari leluhur teleost kariotipe 2n = 48 sampai 2n = 44
diamati pada ikan nila (Sofy, 2008).
4. Ikan mas (Cyprinus carpio)
Jumlah kromosom diploid ikan mas spesimen dari Vietnam ditemukan
2n = 100. Kariotipe konfigurasi terdiri dari 8 pasang metasentrik, 17
pasang submetasentrik dan 25 pasang subtelo dan akrosentrik
kromosom. Pewarnaan dari metafase menyebar di semua kasus
mengungkapkan adanya dua nonhomolog kromosom submetasentrik
(dua yang berbeda ukuran). Daerah bantalan nucleolus pada Seluruh

lengan atas mereka lebih pendek. Sebuah pewarnaan berurutan dari


metafase yang sama menyebar dengan chromomycin A3 mengakibatkan
pewarnaan heterochromatin dari NOR yang muncul sebagai zona terang
dengan latar belakang gelap (Anjum, 2005).
Menurut Pudjirahaju dkk (2008) jumlah kromosom pada gambar 10
ikan mas (Cyprinus carpio L.) sangat besar yaitu 2 N = 100 (50 pasang)
diurut berdasarkan ukurannya yaitu dari ukuran yang besar sampai
ukuran kecil sehingga sulit untuk diidentifikasi secara tepat. Meskipun
demikian, dari hasil analisa kromosom yang telah dilakukan dalam
penelitian ini menunjukkan bahwa jumlah kromosom yang kami dapatkan
berbeda yaitu 49 pasang. Hal ini disebabkan hilangnya kromosom pada
saat pengguntingan kromosom.
Menurut Pudjirahaju dkk (2008) kelainan pada ikan mas terjadi pada
variasi jumlah kromosom dapat disebabkan kesalahan penghitungan
sebagai akibat adanya penyimpangan dari teknik preparasi kromosom,
hilangnya kromosom pada proses pembuatan preparat atau selnya
aneuploid.
5. Ikan lele (Clarias batrachus)
Ikan lele adalah salah satu jenis ikan air tawar yang termasuk ke
dalam ordo Siluriformes dan digolongkan ke dalam ikan bertulang sejati.
Ikan lele merupakan hewan nokturnal dimana ikan ini aktif pada malam
hari dalam mencari mangsa. ikan lele memiliki jumlah kromosom yaitu 74
(Nurasni, 2012).
Pada gambar 11 kromosom ikan lele diurut berdasarkan letak
sentromernya. Di mana terdapat 5 pasang kromosom metasentrik, 4
pasang kromosom submetasentrik, 17 pasang kromosom telosentrik dan
1 pasang kromosom seks.

Kelainan yang terjadi pada ikan lele lokal yaitu dikemukakan oleh
Tatarenkov (2006) yaitu diakibatkat oleh sifat yang kadang-kadang
muncul dari ikan lele lokal yaitu monogami. Hal ini mengakibatkan Fusi
kromosom. Dalam hubungan ini telah diketahui bahwa fusi kromosom
terjadi sehingga mutasi kromosom

sebenarnya merupakan fenomena

umum ditinjau dari sudut pandang evolusi. Dijelaskan bahwa fusi


kromosom disebut juga dengan

translocation merupakan suatu tipe

translokasi nonresiprok yang berakibat bergabungnya lengan-lengan


panjang dari dua kromosom akrosentrik (pada penggabungan tersebut
hanya satu sentromer yang disertakan) (Tatarenkov dkk, 2006).
6. Manusia (Homo sapiens)
Manusia memiliki 46 kromosom, tepatnya 23 kromosom homolog. Dari
jumlah tersebut, 44 (atau 22 pasang) merupakan autosom (A) dan 2 (atau
sepasang) merupakan gonosom. Seorang perempuan memiliki 22
pasang

autosom

dan

sepasang

kromosom

sehingga

rumus

kromosomnya 22AAXX. Seorang laki-laki memiliki 22 pasang autosom


dan 1 kromosom X serta 1 kromosom Y sehingga rumus kromosomya
22AAXY
(Muslimin, 2014).
Menurut Campbell dkk (2008) penyusunan kromosom manusia pada
gambar 12 diurut berdasarkan ukurannya yaitu ukuran yang besar sampai
ukuran kecil. Kromosom seks pada manusia dikode pada kromosom
nomor 45 dan 46 (Campbell dkk, 2008).
Menurut Campbell dkk (2008) kelainan manusia akibat perubahan
kromosom contohnya sindrom down (trisomi 21) yaitu disebabkan oleh
kromosom ekstra, sehingga setiap sel tubuh total 47 kromosom
kromosom (Campbell dkk, 2008)

V.

PENUTUP

A. Simpulan
Kariotipe adalah gambaran dari kromosom suatu sel dengan berbagai
struktur

dari

masing-masing

kromosom.

Kariotiper

berfungsi

untuk

mengetahui kelainan genetik yang terjadi pada organisme.


Dari hasil praktikum dapat diketahui bahwa jumlah kromosom pada ikan
nila bakau hitam (Tilapia mariae) 40 kromosom (20 pasang). Jumlah
kromosom pada ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) adalah 56 kromosom
(28 pasang). Jumlah kromosom pada ikan nila (Oreochromis niloticus)
adalah 44 kromosom (22 pasang). Jumlah kromosom pada ikan mas
(Cyprinus carpio) adalah 100 kromosom (50 pasang). Kromosom pada ikan
lele dumbo (Clarias batrachus) berjumlah 54 kromosom (22 pasang). Pad
manusia (Homo sapiens) kromosomnya berjumlah 46 kromosom (23
pasang).
Kelainan yang terjadi pada kromosom makhuk hidup bisa disebabkan
oleh adanya lengan kromosom yang patah, terjadinya trisomi dan akibat dari
mutasi.
B. Saran
Sebaiknya dalam praktikum preparasi kromosom (kariotipe) penjelasan
mengenai kariotipe lebih mendalam dan sebaiknya dilakukan praktikum
secara nyata agar praktikan dapat mengetahui kariote sebenarnya pada ikan
yang dibudidayakan.

DAFTAR PUSTAKA
Agung,

A. 2012. Online pada (https://www.google.co.id/eprints.uny.ac.id).


Diakses pada Rabu, 30 September 2015 pukul 20.00 Wita di Makassar.

Aji, O. P. 2009. Online pada (https://www.google.co.id/journal.uajy.ac.id). Diakses


pada Rabu, 30 September 2015 pukul 20.00 Wita di Makassar.
Anjum, R. 2005. Cytogenetic Investigations On The Wild Common Carp
(Cyprinus carpio L.) from Vinh-Phu Province of Capital North
Vietnam. Online pada (http://www.ijab.org.). Di akses pada Selasa, 29
September 2015 pukul 21.00 Wita di Makassar.
Campbel, N. A., J. B. Reece, L. A. Urry, M. I. Cain, S. A. Wasserman, P. V.
Minorsky, R. B. Jackson. 2008. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1. Penerbit
Erlangga. Jakarta.
Cnaani, A., B.Y. Lee, N. Zilberman, C. O. Costaz, G. Hulata, M. Ron, A. DHont,
J. F. Baroiller, H. DCotta, D.J. Penman, E. Tomasino, J.P. Coutanceau, E.
Pepey, A. Shirak, T.D. Kocher. 2007. Genetics of Sex Determination in
Tilapiine Species. Jurnal Sexual Development. Volume (II). Hal 43-54.
Febiriyanti, A., A. J. Jamaluddin, A. R Talogo, A. A. Dori, H. D. Prasetiyo, M.
Nurfadilah, M. R. Al-Rizal, M. K. Faozi, R. Agassi , R. N. Sari, R.
Luthfikasari, W. Tafroji. 2014. Pengamatan Kariotipe, Barr Body dan
Drumstick. Online pada (http://www.academia.edu). Diakses pada Selasa,
06 Oktober 2015 pukul 06.00 Wita di Makassar.
Hamzah, E. 2011. Online pada (https://www.google.co.id/repository.usu.ac.id.).
Diakses pada Rabu, 30 September 2015 pukul 06.51 Wita di
Makassar.
Linnaeus. 1758. Homo Sapiens. Online pada (http://zipcodezoo.com). Diakses
pada Rabu 30 September 2015 pukul 18:00 WITA. Makassar.
Muslimin. 2011. Preparasi Kromosom (Kariotipe). Online pada (http://scrib.doc.)
Diakses pada hari Rabu, 30 September 2015 pukul 20:30 Wita di
Makassar.
Nurasni, A. 2012. Pengaruh Suhu dan Lama Kejutan Panas Terhadap
Triploidisasi Ikan Lele Sangkuriang (Clarias gariepinus). Volume (II). Hal

19-26. Online pada (http://download.portalgaruda.org). Di akses pada


Selasa 29 September 2015 pukul 21.00 Wita di Makassar.
Okonkwo, J. 2010. Karyological and Chromosomal Study of Catfish (Clariidae,
Clarias gariepinus, Burchell, 1822) from Anambra River, Anambra
State, Nigeria. Online pada (http://www.nda.agric.za.). Diakses pada
Rabu, 30 September 2015 pukul 19.00 Wita di Makassar.
Omotayo, F. 2012. Karyological analysis of the African Catfish, Clarias gariepinus
(Burchell, 1822). Online pada http://www.wudpeckerresearchjournals.org.
Diakses pada Sabtu 03 Oktober 2015 Pukul 11.39 WITA. Makassar.
Poletto, A. 2010. Research Article Chromosome Differentiation Patterns During
Cicchild
Fish
Evolution.
Online
pada
(http://www/biomedcentral.com/content/.pdf). Diakses pada tanggal
Sabtu, 03 Oktober 2015 pukul 12.00 Wita di Makassar.
Pudjirahaju A., Rustidja, Sutiman B., Sumitro. 2008. Penelusuran Genotipe Ikan
Mas (Cyprinus Carpio L.) Strain Punten Gynogenetik. Jurnal Ilmu-ilmu
Perairan dan Perikanan Indonesia. Jilid 15. Nomor 1. Hal 13-19.
Ramadhani D., Y. Lusiyanti, Z. Alatas dan S. Purnami. 2011. Semi Otomatisasi
Kariotipe untuk Deteksi Aberasi Kromosom Akibat Paparan Radiasi.
Online
pada
(https://www.google.co.id/papers.sttn-batan.ac.id.).
Diakses pada Rabu, 30 September 2015 pukul 06.25 Wita di
Makassar.
Sofy, H. 2008. Karyotypic diversity of some tilapia species. Online pada
(https://research.jcu.edu.au). Diakses pada Rabu 30 September 2015
Pukul 19.00 WITA. Makassar.
Sugianti, M., Enjang, H. H., Nuah, J., Yeni, A. 2014. Daftar Spesies yang
Berpotensi sebagai Spesies Asing Invasif Di Indonesia.
Online pada (http://www.bkipm.kkp.go.id.) Di akses pada Selasa, 29
September 2015 pukul 21.00 Wita di Makassar.
Tatarenkov, A. 2006. Genetic Monogamy in the Channel Catfish, Ictalurus
punctatus, a Species with Uniparental Nest Guarding. Online pada
(http://faculty.sites.uci.edu). Diakses pada Minggu 04 Oktober 2015
Pukul 22.11 WITA. Makassar.
Tinova, R. 2011. Studi morfometri dan jumlah kromosom ikan nila (Oreochromis
niloticus l.) Strain Gift dan Jica di Sentra Produksi Perikanan Padang
Belimbing
Kabupaten
Solok.
Online
pada
(http://repository.unand.ac.id.). Di akses pada Selasa, 29 September
2015, pukul 21.00 Wita. Makassar.