Anda di halaman 1dari 30

Teori & Paradigma

Komunikasi
Mirza Shahreza, M.I.K
2016

Para ahli
berupaya

penjelasan &
pengertian

komunikasi

berbagai teori
& Penelitian

Pengertian
komunikasi
semakin
kabur ???

Namun disinilah letak


daya tarik ilmu
komunikasi karena selalu
membuka peluang untuk
diskusi dan argumentasi.
Hal ini tentu saja
menuntut praktisi
komunikasi untuk terus
menerus memperbaharui
pengetahuannya di

Berbagai
Berbagai
perbedaan
perbedaan
pandangan
pandangan
mengenai
mengenai
Komunikasi
Komunikasi

Tidak adanya
teori tunggal
dalam ilmu
komunikasi

Para ahli memiliki


ketertarikan yang
berbeda-beda
terhadap berbagai
bidang atau aspek
yang tercakup dalam
ilmu komunikasi.

mendorong kita
untuk memiliki
suatu metamodel
teori komunikasi
yang bersifat
menyeluruh
(komprehensif)

Pandangan yang tidak sama


mengenai hal apa yang
menjadi fokus perhatian
atau aspek apa dalam
komunikasi yang menurut
mereka paling penting
dalam ilmu komunikasi.

dapat membantu kita


menjelaskan berbagai
topik dan asumsi dan
membantu kita dalam
melakukan pendekatan
terhadap berbagai teori
yang ada butuh
Metamodel

Metamodel teori komunikasi menyediakan suatu sistem yang


kuat bagi kita untuk mengorganisir berbagai teori komunikasi.
Metamodel meta berarti lebih tinggi atau di atas sebuah model dari semua model Teori harus dipandang
sebagai sebuah pernyataan atau argument berdasarkan pendekatannya daripada hanya melihatnya sebagai sebuah
penjelasan dari sebuah proses Teori-teori merupakan sebuah bentuk dari wacana Teori-teori merupakan wacana-

Robert T. Craig menjelaskan berbagai teori komunikasi yang


jumlahnya banyak itu dengan membaginya ke dalam tujuh
kelompok pemikiran atau 7 (tujuh) tradisi pemikiran yaitu:[1]

1.
1.Sosiopsikologi
Sosiopsikologi
(sociopsychological).
(sociopsychological).

2.
Sibernetika
(cybernetic).
2. Sibernetika (cybernetic).
3.
Retorika
(rhetorical).
3. Retorika (rhetorical).
4.
4.Semiotika
Semiotika(semiotic).
(semiotic).
5.
5.Sosiokultural
Sosiokultural
(sociocultural).
(sociocultural).
6.
Kritis
(critical).
6. Kritis (critical).
7. Fenomenologi

1. SOSIOPSIKOLOGI
Pemikiran yang berada dibawah naungan sosiopsikologi
memandang individu sebagai makhluk sosial.
Teori-teori yang berada di bawah tradisi sosiopsikologi
memberikan perhatiannya antara lain pada perilaku
individu, pengaruh, kepribadian dan sifat individu atau
bagaimana individu melakukan persepsi.
Sosiopsikologi digunakan dalam topik-topik tentang diri
individu, pesan, percakapan, hubungan interpersonal,
kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.

2. SIBERNETIKA
Sibernetika memandang komunikasi sebagai suatu
sistem dimana berbagai elemen yang terdapat di
dalamnya saling berinteraksi dan saling mempengaruhi.
Komunikasi dipahami sebagai sistem yang terdiri dari
bagian-bagian atau variabel-variabel yang saling
mempengaruhi satu sama lain.
Sibernetika digunakan dalam topik-topik tentang diri
individu, percakapan, hubungan interpersonal,
kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.

3. RETORIKA
Retorika didefinisikan sebagai seni membangun
argumentasi dan seni berbicara.
Dalam perkembangannya retorika juga mencakup
proses untuk menyesuaikan ide dengan orang dan
menyesuaikan orang dengan ide melalui berbagai
macam pesan

4. SEMIOTIKA

Semiotika memandang komunikasi sebagai proses


pemberian makna melalui tanda, yaitu bagaimana
tanda mewakili objek, ide, situasi, dan sebagainya yang
berada diluar diri individu.
Semiotika digunakan dalam topik-topik tentang pesan,
media, budaya dan masyarakat.

5. SOSIOKULTURAL

Cara pandang sosiokultural menekankan gagasan


bahwa realitas dibangun melalui suatu proses interaksi
yang terjadi dalam kelompok, masyarakat dan budaya.
Sosiokultural lebih tertarik untuk mempelajari pada cara
bagaimana masyarakat secara bersama-sama
menciptakan realitas dari kelompok sosial, organisasi
dan budaya mereka.
Sosiokultural digunakan dalam topik-topik tentang diri
individu, percakapan, kelompok, organisasi, media,
budaya dan masyarakat.

6. KRITIS

Pertanyaan-pertanyaan mengenai kekuasaan (power)


dan keistimewaan (privilege) yang diterima kelompok
tertentu di masyarakat menjadi topik yang sangat
penting dalam teori kritis.
Kritis memandang komunikasi sebagai bentuk
pemikiran yang menentang ketidakadilan.
Tradisi kritis digunakan dalam topik-topik tentang diri
individu, pesan, percakapan, hubungan interpersonal,
kelompok, organisasi, media, budaya dan masyarakat.

7. FENOMENOLOGI
Fenomenologi memandang komunikasi sebagai pengalaman melalui diri
sendiri atau diri orang lain melalui dialog.
Tradisi memandang manusia secara aktif menginterpretasikan
pengalaman mereka sehingga mereka dapat memahami lingkungannya
melalui pengalaman personal dan langsung dengan lingkungan.
Tradisi fenomenologi memberikan penekanan sangat kuat pada persepsi
dan interpretasi dari pengalaman subjektif manusia.
Pendukung teori ini berpandangan bahwa cerita atau pengalaman individu
adalah lebih penting dan memiliki otoritas lebih besar dari pada hipotesa
penelitian sekalipun.
Fenomenologi digunakan dalam teori-teori tentang pesan, hubungan
interpersonal, budaya dan masyarakat.

Metode Riset
Berbagai perbedaan yang terkandung dalam masingmasing kelompok tradisi komunikasi tersebut
mempengaruhi pada cara melakukan riset atau
penelitian komunikasi dan mempengaruhi pilihan teori
yang akan digunakan.
Setiap teori menggunakan cara atau metode riset yang
berbeda yang secara umum dapat dibagi ke dalam dua
kelompok besar paradigma penelitian yaitu:

objektif dan interpretatif.

1. Objektif
Ilmu pengetahuan seringkali diasosiasikan dengan sifatnya yang objektif
(objectivity) yang berarti bahwa pengetahuan selalu mencari
standarisasi dan kategorisasi.
Dalam hal ini, para peneliti melihat dunia sedemikian rupa sehingga
peneliti lain yang menggunakan cara atau metode melihat yang sama
akan menghasilkan kesimpulan yang sama pula.
Dengan kata lain, suatu replikasi atau penelitian yang berulang-ulang
akan selalu menghasilkan kesimpulan yang persis sama sebagaimana
penelitian dalam ilmu pengetahuan alam (natural sciences).
Penelitian yang menggunakan metode objektif sering disebut dengan
penelitian empiris (scientific scholarship) atau positivis.
Perlu ditegaskan disini bahwa apa yang dikenal selama ini sebagai tipe
penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif masuk dalam kategori
penelitian objektif positivis ini.

2. Interpretatif
Mereka yang menggunakan pendekatan ini sering disebut dengan
humanistic scholarship.
Jika metode objektif (penelitian kuantitatif/kualitatif) bertujuan
membuat standarisasi observasi maka metode subjektif (penelitian
interpretatif) berupaya menciptakan interpretasi.
Jika ilmu pengetahuan berupaya untuk mengurangi perbedaan
diantara para peneliti terhadap objek yang diteliti maka para peneliti
humanistik berupaya untuk memahami tanggapan subjektif individu.
Pendekatan interpretatif memandang metode penelitian ilmiah
tidaklah cukup untuk dapat menjelaskan 'misteri' pengalaman
manusia sehingga diperlukan unsur manusiawi yang kuat dalam
penelitian.
Kebanyakan mereka yang berada dalam kelompok ini lebih tertarik
pada kasus-kasus individu daripada kasus-kasus umum.

Berdasarkan klasifikasi teori komunikasi oleh Robert Craig tersebut,


yang manakah dari ketujuh tradisi teori komunikasi tersebut yang
memiliki sifat objektif dan yang manakah yang bersifat interpretatif.
Dalam hal ini, kita dapat menggunakan pandangan Griffin melalui
peta tradisi teori komunikasi sebagai berikut:

Sumber: EM Griffin, dan Glen McClish (special consultant), A First Look At Communication Theory, Fifth Edition, McGraw Hill, 2003. Hal 33.

Berdasarkan peta tersebut di atas maka kelompok teori


komunikasi yang paling objektif adalah
Sosisopsikologi.
Sedangkan kelompok teori yang paling subjektif
interpretatif adalah fenomenologi, sosiokultural
dan kritis. Pertanyaanya sekarang adalah:
SEBERAPA JAUH PANDANGAN SUBJEKTIF DAPAT
MASUK KE DALAM PENELITIAN INTERPRETATIF?

Dalam hal ini terdapat dua pandangan subjektif yaitu:


1. Pandangan subjektif dari objek penelitian yaitu manusia:
a. Dalam penelitian interpretatif, tidak ada batasan mengenai
seberapa jauh pandangan subjektif objek penelitian dapat masuk ke
dalam penelitian karena tujuan penelitian adalah untuk mengetahui
bagaimana objek penelitian memandang dirinya dan lingkungannya.
Dalam penelitian kualititatif keterangan narasumber yang salah atau
keliru dapat diabaikan, namun penelitian interpretatif tidak
mempersoalkan benar atau salah.
b. Dalam penelitian interpretatif, peneliti berupaya mengumpulkan
data mengenai objek penelitian (manusia) melalui pengamatan
(observasi), wawancara dan sebagainya. Dalam hal ini, peneliti
haruslah bersikap seobjektif mungkin. Dengan kata lain,

2. Pandangan subjektif peneliti.


Setelah data diperoleh secara cermat dan objektif, maka data tersebut
harus dijelaskan dan diinterpretasikan, dan disinilah pandangan
subjektif peneliti dapat masuk, sebagaimana dikemukakan Littlejohn
dan Foss:
"Once behavioral phenomena are accurately observed, they
must be explained and interpreted -and here's where the
humanistic part come in".
Salah satu bentuk laporan di bidang komunikasi yang sering dibuat dan
seringkali diklaim sebagai penelitian interpretatif adalah apa yang
disebut dengan analisis wacana (discourse analysis) dan analisis
bingkai (framing analysis).

Analisa wacana memfokuskan perhatian pada


percakapan (lisan atau teks) untuk mengetahui
kondisi struktur sosial yang ada melalui percakapan
misalnya antara ibu dan anak, antara buruh pabrik
dll) dengan mengidentifiaksi berbagai kategori, ide,
pandangan dan sebagainya berdasarkan transkrip
percakapan yang diamatinya.
Analisa framing memfokuskan perhatian pada
bagaimana media massa mengelola ide dan isi berita
dan menunjukkan apa yang menjadi isu melalui
pemilihan, penekanan, penyisihan dan uraian berita.

Hal yang banyak menimbulkan perdebatan adalah......

Apakah analisis wacana (discourse analysis) dan


analisis bingkai (framing analysis) dapat
dikategorikan sebagai penelitian interpretatif
ataukah hanya merupakan suatu bentuk analisis saja?

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, jika terdapat


fokus perhatian mengenai apa yang akan diteliti atau
diamati, dan jika terdapat kegiatan pengumpulan data
mengenai objek penelitian (manusia) melalui:
Pengamatan (observasi), wawancara dan sebagainya
dan peneliti bertindak seobjektif mungkin, maka dapat
dikatakan analisis wacana dan framing masuk dalam
kategori penelitian (interpretatif), namun jika tidak ada,
maka keduanya tidak dapat masuk dalam kategori
penelitian interpretatif namun hanya masuk dalam
kategori analisis saja.
Namun demikian, kedua bentuk analisis ini sering kali
menimbulkan kritik tajam bahwa semuanya bisa dibuat
atau semuanya bisa masuk ("anything goes") melalui
kedua entuk laporan analisis tersebut.

Apa yang disebut sebagai analisis wacana dan analisis


bingkai seringkali dalam banyak kasus bahkan,
sebenarnya, tidak layak masuk dalam kategori analisis
karena tidak memenuhi syarat sebagai analisis karena
tidak adanya aturan yang jelas dalam melakukan analisa.
Setidaknya inilah pandangan yang dikemukakan Charles
Antaki, Michael Billig dan rekan dari Department of Social
Sciences, Loughborough University, Inggris dalam paper
mereka berjudul Discourse Analysis Means Doing Analysis:
A Critique Of Six Analytic Shortcomings.[2]
Menurut Antaki, Billig dan rekan setidaknya ada lima
kekurangan atau kelemahan yang sering terjadi dalam
penulisan analisis wacana (dan juga bingkai) sebagai
berikut:[3]

1. Bukan analisa jika meringkas transkrip (Under-Analysis Through


Summary).

Menurut Antaki dan Billig, analisis wacana (dan juga framing)


harus menyediakan transkrip, teks dan percakapan secara
lengkap, sebagai sumber data yang akan diteliti.
Transkrip tidak boleh dirangkum atau diringkas.
Namun seringkali transkrip dirangkum atau diringkas dan
kemudian berfungsi sebagai pengganti analisa.
Antaki dan Billig mengingatkan bahwa transkrip hanya berfungsi
sebagai penyedia data untuk dianalisa dan ringkasan transkrip
bukanlah analisa atau pengganti analisa. [4]
Seorang analis harus menawarkan sesuatu (gagasan atau ide) dari
transkrip dan bukan sekedar penjelasan atau ringkasan transkrip.

2. Bukan analisa jika berpihak


(Under-Analysis Through Taking
Sides).
Dalam banyak laporan analisa wacana dan bingkai,
sering kita melihat dan merasakan adanya pandangan
moral, politik dan pribadi dari penulisnya ketika
mengomentari kutipan pembicaraan atau teks.
Laporan yang memuat pandangan moral, politik dan
pribadi dari penulis tidak bisa disebut dengan analisis.
Pandangan penulis yang bernada simpati atau
mengejek tidak menjadikan apa yang ditulisnya menjadi
suatu analisa (wacana atau bingkai).[5]

3. Bukan analisa jika bersifat


mengeneralisir (Under-Analysis
through False Survey).

Pelaku analisis wacana dan framing sering terjebak


dalam tindakan 'berbahaya' yaitu menjadikan suatu
temuan kasuistis individual sebagai sesuatu yang
berlaku umum.
Jika terdapat temuan yang melibatkan mahasiswa di
suatu universitas, misalnya, maka hal itu juga ditulis
seolah-olah berlaku bagi mahasiswa lainnya di
universitas lainnya.[6]

4. Analisa tidak ditentukan dari banyaknya detail (Under-Analysis


through Spotting)

Suatu analisa wacana menuntut perhatian terhadap


detail atau hal-hal kecil dari ucapan atau teks namun
tidak berarti besarnya perhatian terhadap aspek detail
menjadikan laporan sebagai suatu analisis.

5. Analisa tidak ditentukan dari banyak kutipan (UnderAnalysis Through Over-Quotation or Isolated Quotation)

Jumlah kutipan yang diambil dari transkrip tidak boleh


terlalu banyak yang dapat mengurangi porsi pandangan
atau komentar penulis, tetapi juga tidak boleh terlalu
sedikit yang berfungsi hanya sekedar memperkuat
pandangan penulis.[7]

KESIMPULAN

1. Penelitian dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu penelitian


ilmiah yang terdiri atas penelitian kuantatif dan penelitian kualitatif
serta penelitian interpretatif.
2. Faktor subyektif dalam penelitian interpretatif hanya boleh
dilakukan oleh objek penelitian dan membatasi subjektivitas pada
diri peneliti.
3. Analisis wacana dan bingkai lebih merupakan bentuk analisa saja.

SARAN

1. Perlunya sosialisasi terhadap penelitian interpretatif di


kalangan dosen dan mahasiswa.
2. Perlunya sosialisasi terhadap perbedaan penelitian interpretatif
dengan analisis di kalangan dosen dan mahasiswa.

Footnote
[1]Robert T Craig, Communication Theory As a Field, Communication Theory 9, 1999.
[2]Untuk mendapatkan paper mereka dapat diakses di http://www.lboro.ac.uk/ departments/ss/centres/ dargindex.htm.
[3]Dalam hal ini, Antaki an Billig hanya menyoroti analisis wacana, namun menurut penulis, analisis bingkai juga dapat dimasukkan
kedalamnya.
[4]Sebagaimana dikemukakan Antaki dan Billig: "For our purposes here, however, we mean to warn against the notion that
transcription can be a replacement of, or substitute for, analysis. Transcription prepares the data for analysis. However, it is not
analysis in itself.
[5]Sebagaimana dikemukakan Antaki dan Billig: "What we do insist upon, however, is that position-taking - whether analysts align
themselves with, or critically distance themselves from, the speakers whom they are studying - is not analysis in itself. Sympathy
and scolding (either explicit or implicit) are not a substitute for analysis.
[6]Sebagaimana dikemukakan Antaki dan Billig: "It is fatally easy to slip into treating one's findings as if they were true of all
members of the category in which one has cast one's respondents.
[7]Sebagaimana dikemukakan Antaki dan Billig "Under-Analysis through Over-Quotation is often revealed by a low ratio of analyst's
comments to data extracts. If extract after extract is quoted with only the occasional sentence or paragraph of analyst's comment,
then one might suspect this type of under-analysis is happening."