Anda di halaman 1dari 53

REVIEW PERKULIAHAN BIMBINGAN DAN

KONSELING

Dosen Pembimbing

Ust. Sapari, M.Pd

Disusun Oleh;
Bambang Priyanto
NIRM: 4671010114054
Achyar Mukhtar
NIRM:4671010114058

SEMESTER 6
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAM ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM ASY SYUKRIYYAH
TANGERANG
2016

KATA PENGANTAR

Alhamdulillaahirobbil aalamiin. Segala puji dan syukur hanya milik Allah


SWT, atas izin dan ridho-Nya, Penyusun dapat menyelesaikan tugas mata kuliah
Bimbingan dan Konseling di semester 6 ini dengan baik dan lancar. Shalawat dan
salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Semoga
Penyusunan Tugas Akhir ini dapat menjadi amal soleh dan bermanfaat terutama
untuk Penyusun dan para pembaca pada umumnya.
Makalah Review Perkuliahan merupakan penjelasan secara garis besar
materi Pembelajaran Bimbingan dan Konseling yang telah disampaikan Dosen
pengampu yaitu, Ust. Sapari, M.Pd, pada semester 5 dan semester 6, dan sejauh
mana internalisasi materi Bimbingan dan Konseling dalam prilaku mendidik.
Penyusun menyadari, masih banyak kekurangan dalam penyusunan tugas,
dikarenakan terbatasnya pengetahuan dan kemampuan yang Penyusun miliki.
Oleh karena itu Penyusun mengharapkan masukan dan sarannya untuk perbaikan
di masa mendatang.

Parungpanjang, April 2016

Penyusun

DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang

B. .......................................................................................... B
atasan Masalah

BAB II

MATERI INTI BIMBINGAN DAN KONSELING


A.

Konsep Bimbingan dan Konseling

B.

Pendekatan bimbingan dan konseling

C.

Landasan BK

D.

Jenis-jenis layanan BK

E.

Strategi Layanan Bimbingan dan konseling

F.

Pembelajaran berbasis bimbingan dan konseling

G.

Dasar-dasar pemahaman peserta didik

H.

Diagnostik dan remedial teaching

BAB III

INTERNALISASI MATERI BK

BAB IV

PENUTUP

DAFTAR PUSTAKA

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bimbingan dan Konseling adalah proses interaksi antara konselor dengan
konseli baik secara langsung maupun tidak langsung dalam rangka untuk
membantu konseli agar dapat mengembangkan potensi dirinya atau pun
memecahkan permasalahan yang dialaminya. 1 Bimbingan dan Konseling juga
dapat

didefinisikan

sebagai

upaya

sistematis,

objektif,

logis,

dan

berkelanjutan serta terprogram yang dilakukan oleh konselor untuk


memfasilitasi perkembangan konseli untuk mencapai kemandirian dalam
kehidupannya. 2
Lahirmya Bimbingan dan Penyuluhan (kini Bimbingan dan Konseling)
di Indonesia merupakan hasil Konferensi Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan (disingkat FKIP, yang kemudian menjadi IKIP) pada tanggal 2024 Agustus 1960 di Malang.[3] Pada tahun 1964, IKIP Bandung dan IKIP
Malang medirikan jurusan Bimbingan dan Penyuluhan. 3Bimbingan dan
Penyuluhan diakui oleh pendidikan di Indonesia sejak dimasukan ke dalam
Kurikulum 1965. Pada tahun 1971, berdiri Proyek Perintis Sekolah
Pembangunan (disingkat PPSP, kini Labschool) pada delapan IKIP, yaitu
IKIP Padang (kini Universitas Negeri Padang), IKIP Jakarta (kini Universitas
Negeri Jakarta), IKIP Bandung (kiniUniversitas Pendidikan Indonesia), IKIP
Yogyakarta

(kini Universitas

Negeri

Yogyakarta),

IKIP

Semarang

(kini Universitas Negeri Semarang), IKIP Surabaya, IKIP Malang, dan IKIP
Manado (kini Universitas Negeri Manado).

PanduanGuru.com, diakses pada tanggal 26 Desember 2014, diakses pada tanggal 26


April 2016.
2
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 111 Tahun
2014 tentang Bimbingan dan Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah,
diakses pada tanggal 26 April 2016. Halaman 2.
3
Sulistyarini & Mohammad Jauhar (2014). Dasar-Dasar Konseling. Prestasi
Pustaka. ISBN 978-602-256-018-0. Halaman 2-3.

Bimbingan dan Konseling, adalah salah satu ilmu pendidikan yang


mempelajari bagaimana memberikan konsultasi secara perorangan maupun
kelompok. Jurusan bimbingan dan konseling dipersiapkan untuk menjawab
tuntutan dunia pendidikan yang membutuhkan tenaga pengajar atau guru
yang memiliki kompetensi serta keahlian dalam menangani permasalahan dan
pengembangan siswa, mulai dari TK, SD, SMP hingga SMA.
Dalam jurusan konseling, akan banyak mempelajari bagaimana cara
menangani kasus atau permasalahan yang dimiliki oleh siswa, baik itu
masalah yang menyangkut pribadi, sekolah maupun keluarga. Dalam jurusan
bimbingan dan konseling, tidak hanya permasalahan yang akan dipelajari,
melainkan bagaimana cara mengembangkan potensi serta bakat yang ada
pada diri siswa akan turut menjadi fokus inti dari jurusan ini.

B.

Batasan Masalah
Batasan masalah dalam responsi/review mata kuliah Bimbingan dan
Konseling yaitu :
1. Menjelaskan garis besar/inti materi Bimbingan dan Konseling
2. Menjelaskan tentang internalisasi materi Bimbingan dan Konseling dalam
perilaku mendidik

BAB II
MATERI INTI BIMBINGAN DAN KONSELING

A. Konsep Bimbingan dan Konseling


1. Pengertian BK
Bimbingan adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh
orang yang ahli kepada seorang atau beberapa orang individu dalam hal
memahami diri sendiri, menghubungkan pemahaman tentang dirinya
sendiri dengan lingkungan, memilih, menentukan dan menyusun rencana
sesuai dengan konsep dirinya dan tuntutan lingkungan berdasarkan
norma-norma yang berlaku.
Konseling adalah usaha membantu konseli/klien secara tatap muka
dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri
terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.
Jadi, Bimbingan dan Konseling adalah proses pemberian bantuan
yang dilakukan melalui wawancara konseling (face to face) oleh seorang
ahli (disebut konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu
masalah (disebut konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang
dihadapi konseli serta dapat memanfaatkan berbagai potensi yang
dimiliki dan sarana yang ada, sehingga individu atau kelompok individu
itu dapat memahami dirinya sendiri untuk mencapai perkembangan yang
optimal, mandiri serta dapat merencanakan masa depan yang lebih baik
untuk mencapai kesejahteraan hidup.

2. Tujuan BK
a. Tujuan Umum BK
Prayitno dan erman amti (2004:114) mengemukakan bahwa:
Tujuan umum bimbingan dan konseling adalah untuk membantu
individu mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap
perkembangan dan predisposisi yang dimilkinya (kemampuan dasar
dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang yang ada(latar belakang
5

keluarga, pendidikan,status sosial dan ekonomi) serta sesuai dengan


tuntutan positif lingkungannya. Dalam kaitan ini bimbingan dan
konseling membantu individu untuk menjadi insan yang berguna
dalam hidupnya yang memiliki wawasan, pandangan, interpretasi,
pilihan, penyesuaian, dan keterampilan yang tepat berkenaan dengan
diri sendiri dan lingkungannya.
b. Tujuan Khusus BK
1) Membantu murid-murid untuk mengembangkan pemahaman diri
sesuai dengan kecakapan, minat, pribadi, hasil belajar, serta
kesempatan yang ada.
2) Membantu proses sosialisasi dan sensitivitas kepada kebutuhan
orang lain.
3) Membantu murid-murid untuk mengembangkan motif-motif
instristik dalam belajar, sehingga tercapai kemajuan pengajaran
yang berarti dan bertujuan.
4) Memberikan dorongan di dalam pengarahan diri, pemecahan
masalah, pengambilan keputusan dan keterlibatan diri dalam proses
pendidikan.

3. Prinsip BK
a. Prinsip-prinsip berkenaan dengan sasaran layanan:
1) BK melayani semua individu tanpa memandang umur, jenis
kelamin, suku, agama, dan stasus sosial ekonomi
2) BK berurusan dengan pribadi dan tingkah laku individu yang unik
dan dinamis.
3) BK memperhatikan seepenuhnya tahap dan berbagai aspek
perkembangan individu
4) BK memberikan perhatian utama kepada perbedaan individual
yang menjadi orientasi pokok pelayanannya.
b. Prinsip-prinsip berkenaan dengan permasalahan individu:
1) BK berurusan dengan hal-hal yang menyangkut pengaruh kondisi
6

mental/fisik individu terhadap penyesuaian dirinya di rumah, di


sekolah, serta
dalam kaitannya dengan kontak sosia dan pekerjaan, dan
sebaliknya denganpengaruh lingkungan terhadap kondisi mental
dan fisik individu.
2) Kesenjangan sosial, ekonomi, dan kebudayaan merupakan faktor
timbulnya masalah pada individu yang kesemuanya menjadi
perhatian utama pelayanan BK.
c. Prinsip-prinsip berkenaan dengan program pelayanan:
1) BK merupakan bagian integral dari upaya pendidikan dan
pengembangan individu, oleh karena itu program BK harus
diselaraskan dan dipadukan dengan program pendidikan serta
pengembangan peserta didik.
2) program BK harus fleksibel, disesuaikan dengan kebutuhan
individu, masyarakat, dan kondisi lembaga.
3) program BK disusun secara berkelanjutan dari jenjang pendidikan
yang terendah sampai tertinggi.
4) terhadap isi dan pelaksanaan program BK perlu diadakan penilaian
yang teratur dan terarah.
a. Prinsip-prinsip berkenaan dengan tujuan pelaksanaan pelayanan:
1) BK harus diarahkan untuk pengembangan individu yang akhirnya
mampu

membimbing

diri

sendiri

dalam

menghadapi

permasalahan
2) dalam proses BK keputusan yang diambil dan yang akan dilakukan
oleh individu hendaknya atas kemauan individu itu sendiri, bukan
karena kemauan atau desakan dari pembimbing atau pihak lain
3) permasalahan individu harus ditangani oleh tenaga ahli dalam
bidang yang relevan dengan permasalahan yang dihadapi.
4) kerjasama antara guru BK/Konselor, guru-guru lain, dan orang tua
amat menentukan hasil pelayanan BK
5) pengembangan

program
7

pelayanan

BK

ditempuh

melalui

pemanfaatan yang maksimal dari hasil pengukuran dan penilaian


terhadap individuyang terlibat dalam proses pelayanan dan
program BK itu sendiri.

4. Azas BK
a. Asas kerahasiaan, yaitu asas BK yang menuntut dirahasiakannya
segenap data dan keterangan tentang peserta didik (konseli) yang menjadi
sasaran layanan, yaitu data atau keterangan yang tidak boleh dan tidak
layak diketahui oleh orang lain. Dalam hal ini guru BK/Konselor
berkewajiban penuh memelihara dan menjaga semua data dan keterangan
itu sehingga kerahasiannya benar-benar terjamin.
b. asas kesukarelaan, yaitu asas BK yang menghendaki adanya kesukaan
dan

kerelaan

peserta

didik

(konseli)

mengikuti/menjalankan

layanan/kegiatan yang diperuntukkan baginya. Dalam hal ini guru


BK/Konselor berkewajiban membina dan mengembangkan kesukarelaan
seperti itu.
c. asas keterbukaan, yaitu asas BK yang menghendaki agar peserta didik
yang menjadi sasaran layanan/kegiatan bersikap terbuka dan tidak
berpura-pura, baik di dalam memberikan keterangan tentang dirinya
sendiri maupun dalam menerima berbagai informasi dan materi dari luar
yang berguna bagi pengembangan dirinya. Dalam hal ini guru
BK/Konselor berkewajiban mengembangkan keterbukaan peserta didik
(Konseli). Keterbukaan ini amat terkait pada terselenggaranya asas
kerahasiaan dan adanya kesukarelaan pada diri peserta didik yang menjadi
sasaran layanan/kegiatan. Agar peserta didik dapat terbuka, guru
BK/Konselor terlebih dahulu harus bersikap terbukadan tidak berpura2
d. Asas kegiatan, yaitu asas BK yang menghendaki agar peserta didik
(konseli) yang menjadi sasaran layanan berpartisipasi secara aktif di dalam
penyelenggaraan layanan/kegiatan BK. Dalam hal ini guru BK perlu
mendorong peserta didik untuk aktif dalam setiap
layanan/kegiatan BK yang diperuntukkan baginya.
8

e. Asas kemandirian, yaitu asas BK yang menunjuk pada tujuan umum


BK, yaitu: peseta didik sebagai sasaran layanan BK diharapkan menjadi
individu-individu yang mandiri dengan ciriciri mengenal dan menerima
diri

sendiri

dan

lingkungannya,

mampu

mengambil

keputusan,

mengarahkan serta mewujudkan diri sendiri. Guru BK hendaknya mampu


mengarahkan layanan BK yang
diselenggarakannya bagi berkembangnya kemandirian peserta didik.
f. Asas kekiknian, yaitu asas bimbinga menghendaki agar obyek sasaran
layanan BK ialah permasalahan peserta didik (konseli) dalam kondisinya
sekarang. Layanan yang berkenaan dengan masa depan atau kondisi masa
lampau dilihat dampak dan/atau kaitannya dengan kondisi yang ada dan
apa yang dapat diperbuat sekarang.
g. Asas kedinamisan, yaitu asas BK yang menghendaki agar isi layanan
terhadap sasaran layanan (konseli) yang sama kehendaknya selalu
bergerak maju, tidak monoton, dan terus berkembang serta berkelanjutan
sesuai
dengan kebutuhan dan tahap perkembangannya dari waktu ke waktu.
h. asas keterpaduan, yaitu asas BK yang menghendaki agar berbagai
layanan dan kegiatan BK, baik yang dilakukan oleh guru BK/Konselor
maupun pihak lain, saling menunjang, harmonis dan terpadukan. Untuk
inikerjasama antara guru BK dan pihakpihak yang berperanan dalam
penyelenggaraan pelayanan BK perlu terus dikembangkan. Koordinasi
segenap layanan/kegiatan BK itu harus dilaksanakan dengan sebaikbaiknya.
i. Asas kenormatifan, yaitu asas BK yang menghendaki agar segenap
layanan dan kegiatan BK didasarkan pada dan tidak boleh bertentangan
dengan nilai dan norma-norma yang ada, yaitu norma-norma agama,
hukum dan peraturan, adat istiadat, ilmu pengetahuan, dan kebiasaan yang
berlaku. Layanan dan kegiatan BKharus dapat meningkatkan kemampuan
peserta didik (konseli) memahami, menghayati, dan mengamalkan
norma-norma tersebut.
9

j. Asas keahlian, yaitu asas BK yang menghendaki agar layanan dan


kegiatan BK diselenggarakan atas dasar kaidah-kaidah profesional.
Keprofesionalan guru BK harus terwujud baik dalam penyelenggaraan
jenis-jenis layanan dan kegiatan BK.
k. Asas alih tangan, yaitu asas BK yang menghendaki agar pihak-pihak
yang tidak mampu menyelenggarakan layanan BK secara tepat dan tuntas
atas suatu permasalahan peserta didik (konseli) mengalihtangankan
permasalahan itu kepada pihak yang lebih ahli. Guru BK/Konselor dapat
menerima alih tangan kasus dari orang tua, guru-guru lain, atau ahli lain,
selain juga dapat mengalihtanagankan kasus kepada guru mata
pelajaran/praktik dan ahli-ahli lain.
l. Asas tut wuri handayani, yaitu asas BK yang menghendaki agar
pelayanan BK secara keseluruhan dapat menciptakan suasana yang
mengayomi (memberikan rasa aman), mengembangkan keteladanan,
memberikan rangsangan dan dorongan serta kesempatan yang seluasluasnya kepada peserta didik (konseli) untuk maju. Segenap asas perlu
diselenggarakan secara terpadu dan tepat waktu yang satu tidak perlu
didahulukan atau dikemudiankan dari yang lain.

5. Fungsi BK
a. Fungsi pemahaman, yaitu fungsi BK yang akan menghasilkan
pemahaman tentang sesuatu oleh pihakpihak tertentu sesuai dengan
kepentingan penembangan peserta didik. Pemahaman itu meliputi;
1) Pemahaman tentang diri peserta didik, terutama oleh peserta didik
sendiri, orang tua, dan guru (termasuk guru BK/Konselor).
2)

Pemahaman tentang lingkungan peserta didik (termasuk di


dalamnya lingkungan keluarga dan sekolah), terutama oleh peserta
didik sendiri, orang tua, dan guru (termasuk guru BK/Konselor).

3)

Pemahaman tentang lingkungan (termasuk di dalamnya informasi


pendidikan, informasi jabatan/pekerjaan, informasi sosial dan
budaya/nilai-nilai), terutama oleh peserta didik sendiri, orang tua,
10

dan guru (termasuk guru BK/Konselor).


b. Fungsi pencegahan, yaitu fungsi BK yang akan menghasilkan
tercegahnya atau terhindarnya peserta didik dari permasalahan yang
mungkin timbul, yang akan dapat mengganggu, menghambat ataupun
menimbulkan kesulitan dan kerugian-kerugian tertentu dalam proses
perkembangannya.
c. Fungsi pengentasan, yaitu fungsi BK yang akan menghasilkan
terentaskannya atau teratasinya berbagai permasalahan yang dialami oleh
peserta didik.
d. Fungsi pemeliharaan dan pengembangan, yaitu fungsi BK yang akan
menghasilkan terpelihara dan terkembangkannya berbagai potensi dan
kondisi positif peserta didik dalam rangka perkembangan dirinya secara
mantap dan berkelanjutan.
e. Fungsi Advokasi, yaitu fungsi untuk membantu peserta didik
memperoleh pembelaan atas hak dan atau kepentingannya yang kurang
mendapat perhatian.

B. Pendekatan bimbingan dan konseling


1. Pendekatan krisis
Pendekatan krisis adalah upaya bimbingan yang diarahkan kepada
individu yang mengalami krisis atau masalah. Bimbingan ini ditujukan
untuk mengatasi krisis atau masalah-masalahyang dialami oleh individu.
Dalam pendekatan krisis ini, konselor menunggu klien ayng datang dan
selanjutnya memberikan bimbingan kepada sang klien berdasarkan
masalah yang sedangf dihadapi oleh sang klien.
Pendekatan ini banyak dipengaruhi oleh aliran psikoanalis. Dalam
psikoanalisis, proses pendekatannya menggunakan pengaruh masa lampau
sebagai suatu hal yang menentukan sebagai hasil terbentuknya individu
masa kini, yang dalam artian bahwa apa yang dialami oleh sang individu
dalam beberapa tahun terakhir memiliki aspek atau dasar atau akar dari
krisis yang sedang dialami oleh individu tersebut pada saat ini.
11

2. Pendekatan remedial
Pendekatan Remedial adalah upaya bimbingan yang diarahkan kepada
individu yang mengalami kesulitan. Namanya saja remedial, maksudnya
mengulang sesuatu yang sudah dilakukan dengan upaya tertentu untuk
memperbaiki kesalahan sebelumnya yang menyebabkan kegagalan
sehingga dicapai tujuan yang diharapkan. Dalam pendekatan ini, sang
konselor fokus pada kelemahan-kelemahan sang individu yang selanjutnya
berupaya untuk memperbaikinya.
Kalau pendekatan krisis dipengaruhi oleh aliran Psikoanalisis, maka
pendekatan

Remedial

banyak

dipengaruhi

oleh

aliran Psikologi

Behavioristik (baca artikel kami tentang Pendekatan Teori Psikologi


Behavioristik). Pendekatan behavioristik mengedepankan pada perilaku
individu yang dialami klien disini dan saat ini. Perilaku individu saat ini
pastinya dipengaruhi oleh suasana lingkungan sang individu saat ini pula.
Oleh karenanya maka untuk memperbaiki perilaku individu, perlu ditata
lingkungan yang mendukung untuk perbaikan perilaku tersebut.

3. Pendekatan preventif
Pendekatan PreventiF adalah bimbingan yang diarahkan untuk
mengantisipasi masalah-masalah umum yang dihadapi oleh individu dan
mencoba jangan sampai terjadi masalah tersebut pada individu. Konselor
berupaya untuk mengajarkan pengetahuan dan keterampilan untuk
mencegah masalah tersebut.

4. Pendekatan developmental
Pendekatan Perkembangan adalah yang paling berkembang saat ini.
Bimbingan dan Konseling Perkembangan memiliki visi edukatif,
pengembangan, dan outreach.
Disebut memiliki visi Edukatif karena titik berat kepedulian
bimbingan dan konseling terletak pada pencegahan dan pengembangan,
12

bukan pada korektif atau terapeutik, walaupun hal tersebut tetap ada
dalam kepedulian bimbingan konseling perkembangan.
Disebut memiliki visi Pengembangan karena titik sentral tujuan
bimbingan dan konseling adalah perkembangan optimal, lalu strategi
pokoknya ialah memberikan kemudahan perkembangan bagi individu
melalui perekayasaan lingkungan perkembangan. Teknik yang digunakan
dalam bimbingan dan konseling perkembangan adalah pembelajaran,
pertukaran informasi, bermain peran, tutorial dan konseling (Muro and
Kottmann dalam Yusuf dan Nurihsan (2011)

C. Landasan BK
1. Landasan historis. Konsep bimbingan dan konseling sebetulnya telah
dikenal manusia lewat sejarah. Sejarah tentang pengembangan potensi diri
dapat ditelusuri dari masyarakat Yunani kuno yang menekankan pada
upaya pengembangan pendidikan. Terkait dengan perhatian masyarakat
Yunani ini, Plato dapat dipandang sebagai "konselor" yang telah menaruh
perhatian begitu besar terhadap isuisu moral, pendidikan, hubungan antar
individu, dan teologis.
2. Landasan filosofis. Bimbingan dan konseling sesungguhnya terkait erat
dengan cara pandang para ahli tentang hakikat manusia, tujuan, clan tugas
hidupnya di dunia ini, serta kiat-kiat untuk mengembangkan dan
memelihara nilainilai kemanusiaannya. Oleh karena itu, seorang konselor
harusnya memiliki pemahaman yang akurat tentang filsafat manusia.
3. Landasan sosial budaya. Pada bagian ini menunjukkan bahwa kebutuhan
akan bimbingan timbul karena adanya masalah-masalah yang dihadapi
oleh individu yang terlibat dalam kehidupan masya-rakat. Semakin rumit
struktur masyarakat dan keadaannya, semakin rumit pula masalah yang
dihadapi oleh individu tersebut.
4. Landasan Religius. Tak dapat dipungkiri, agama merupakan pedoman
hidup bagi manusia dalam rangka mencapai kebahagiaan yang hakiki di
dunia ini dan di akhirat nanti. Menurut para ahli, bahwa agama sangat
13

berperan terhadap pencerahan diri dan kesehatan mental individu. Dalam


konteks ini, penerapan nilai-nilai agama dalam layanan bimbingan dan
konseling merupakan suatu keniscayaan.
5. Landasan psikologis. Di sini diterangkan tentang karakteristik masingmasing individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya tidak selalu berlangsung secara linear. Dalam proses pendidikan, misalnya, peserta
didik tidak jarang yang mengalami stagnasi sehingga memunculkan
masalah-masalah psikologis, seperti terwujud dalam perilaku yang
menyimpang. Untuk menghindari berbagai masalah psikologis tersebut
perlu diberikan bantuan yang bersifat pribadi melalui layanan bimbingan
dan konseling.
. Judul:LANDASAN BIMBINGAN DAN KONSELINGPengarang
:SYAMSU YUSUF LN.2005
D. Jenis-jenis layanan BK
1. Layanan Dasar Bimbingan
a.

Pengertian
Layanan dasar adalah salah satu komponen program pelayanan
bimbingan dan konseling komprehensif. Pelayanan dasar diartikan
sebagai proses pemberian bantuan kepada seluruh konseli melalui
kegiatan penyiapan pengalaman terstruktur secara klasikal atau
kelompok

yang

disajikan

secara

sistematis

dalam

rangka

mengembangkan perilaku jangka panjang sesuai dengan tahap dan


tugas-tugas

perkembangan

(yang

dituangkan

sebagai

standar

kompetensi kemandirian) yang diperlukan dalam pengembangan


kemampuan memilih dan mengambil keputusan dalam menjalani
kehidupannya.
a.

Tujuan Layanan Dasar


Pelayanan dasar bertujuan untuk membantu semua konseli agar
memperoleh perkembangan yang normal, memiliki mental yang sehat,
dan memperoleh keterampilan dasar hidupnya, atau dengan kata lain
membantu

konseli

agar

mereka
14

dapat

mencapai

tugas-tugas

perkembangannya. Materi pelayanan dasar dirumuskan dan dikemas


atas dasar standar kompetensi kemandirian antara lain mencakup
pengembangan:

(1)

self-esteem,

(2)

motivasi

berprestasi,

(3)

keterampilan pengambilan keputusan, (4) keterampilan pemecahan


masalah, (5) keterampilan hubungan antar pribadi atau berkomunikasi,
(6) penyadaran keragaman budaya, dan (7) perilaku bertanggung jawab.
2. Layanan Responsif
b.

Pengertian
Pelayanan responsif merupakan pemberian bantuan kepada
konseli yang menghadapi kebutuhan dan masalah yang memerlukan
pertolongan dengan segera, sebab jika tidak segera dibantu dapat
menimbulkan gangguan dalam proses pencapaian tugas-tugas
perkembangan. Konseling indiviaual, konseling krisis, konsultasi
dengan orangtua, guru, dan alih tangan kepada ahli lain adalah ragam
bantuan yang dapat dilakukan dalam pelayanan responsif.

c.

Tujuan Layanan Responsif


Tujuan pelayanan responsif adalah membantu konseli agar dapat
memenuhi kebutuhannya dan memecahkan masalah yang dialaminya
atau membantu konseli yang mengalami hambatan, kegagalan dalam
mencapai

tugas-tugas

perkembangannya.

Untuk

memahami

kebutuhan dan masalah konseli dapat ditempuh dengan cara asesmen


dan analisis perkembangan konseli, dengan menggunakan berbagai
teknik, misalnya inventori tugas-tugas perkembangan (ITP), angket
konseli, wawancara, observasi,sosiometri, daftar hadir konseli, leger,
psikotes dan daftar masalah konseli atau alat ungkan masalah.
3. Layanan Perencanaan Individual
a.

Pengertian
Perencanaan individual diartikan sebagai bantuan kepada konseli
agar mampu merumuskan dan melakukan aktivitas yang berkaitan
dengan peren-canaan masa depan berdasarkan pemahaman akan
kelebihan dan kekurangan dirinya, serta pemahaman akan peluang dan
15

kesempatan yang tersedia di lingkungannya.


b.

Tujuan Layanan Perencanaan Individual


Perencanaan individual bertujuan untuk membantu konseli agar (1)
memiliki pemahaman tentang diri dan lingkungannya, (2) mampu
merumuskan

tujuan,

perencanaan,

atau

pengelolaan

terhadap

perkembang-an dirinya, baik menyangkut aspek pribadi, sosial, belajar,


maupun karir, dan (3) dapat melakukan kegiatan berdasarkan
pemahaman, tujuan, dan rencana yang telah dirumuskannya
4. Dukungan sistem
a. Pengertian
Pelayanan dukungan sistem merupakan komponen pelayanan dan
kegiatan manajemen, tata kerja, infra struktur (misalnya Teknologi
Informasi

dan

Komunikasi),

dan

pengembangan

kemampuan

profesional konselor secara berkelanjutan, yang secara tidak langsung


memberikan bantuan kepada konseli atau memfasilitasi kelancaran
perkembangan konseling.

b. Tujuan Dukungan Sistem


Bertujuan untuk memantapkan, memelihara, dan meningkatkan
program bimbingan secara menyeluruh melalui pengembangan
profesinal; hubungan masyarakat dan staf, konsultasi dengan guru, staf
ahli/penasehat, masyarakat yang lebih luas; manajemen program;
penelitian dan pengembangan. Program ini memberikan dukungan
kepada guru pembimbing dalam memperlancar penyelenggaraan
layanan diatas. Sedangkan bagi personel pendidik lainnya adalah untuk
memperlancar penyelenggaraan program pendidikan di sekolah.
Dukungan sistem ini meliputi dua aspek, yaitu : (1) pemberian layanan,
dan (2) kegiatan manajemen.
.

E. Strategi Layanan Bimbingan dan konseling


16

1. Bimbingan kelompok
2. Konsultasi
Teknik lain dalam peluncuran bimbingan adalah konsultasi.
Konsultasi merupakan salah satu strategi bimbingan yang penting sebab
banyak masalah karena suatu hal akan lebih berhasil jika ditangani secara
tidak langsung oleh konselor. Brown dan teman-temanya telah
menegaskan bahwa konsultasi itu bukan konseling atau psikoterapi sebab
konsultasi tidak merupakan layanan yang langsung diberikan kepada
siswa, tetapi secara tidak langsung melayani siswa melalui bantuan yang
diberikan orang lain.
Adapun tujuan konsultasi yaitu:
a. Mengembangkan dan menyempurnakan lingkungan belajar bagi
siswa, orang tua, dan administator sekolah;
b. Mengajak bersama pribadi yang memiliki peranan dan fungsi yang
bermacam-macam untuk menyempurnakan lingkungan belajar;
c. Memperluas layanan pendidikan bagi guru dan administator;
d. Membantu orang lain bagaimana belajar tentang prilaku
e. Menciptakan suatu lingkungan yang berisi semua komponen

lingkungan belajar yang baik.

3. Konseling Individual
Konseling individual adalah proses belajar melalui hubungan
khusus secara pribadi dalam wawancara antara konselor dan seorang
konseli (Siswa). Konseli mengalami kesukaran pribadi yang tak dapat ia
pecahkan sendiri, kemudian ia meminta bantuan konselor untuk membantu
menyelesaikan masalahnya. Dalam strategi ini diusahakan agar hubungan
konseli dan konselor terjalin secara dinamis dan khusus. Dalam hubungan
ini, konselor dapat menerima konseli secara pribadi dan tidak memberikan
suatu penilaian apapun, sehingga konseli merasakan adanya orang lain
yang dapat mengerti permasalahnaya.
Secara umum proses konseling individual terbagi atas tiga tahapan yaitu:
17

a. Tahap Awal Konseling


Tahap awal ini terjadi sejak klien bertemu dengan konselor,
Cavanagh (1982) menyebut tahap awal ini dengan istilah
Introduction, inivation and environmental support. Adapun yang
dilakukan oleh konselor dalam tahapan awal ini adalah:
1) Membangun hubungan konseling dengan melibatkan klien yang
mengalami masalah.
2) Memperjelas dan mengidentifikasi Masalah
3) Membuat Penjajakn Alternatif Bantuan untuk Mengatasi
Masalah
4) Menegosiasikan Kontrak
b. Tahap Pertengahan
Berdasarkan masalah klien yang telah diketahui pada tahap awal,
kegiatan selanjutnya memfokuskan pada:
1) Penjelajahan masalah yang dialami klien; dan
2) Bantuan apa yang akan diberikan berdasarkan penilaian
kembali apa-apa yang di jelajahi tentang masalah klien.

Hal diatas akan membantu klien memperoleh pemahaman


baru, alternatif baru yang mungkin berbeda dengan yang
sebelumnya. Pemahaman ini akan membantu dalam membuat
keputusan dan tindakan apa yang akan digunakan untuk mengatasi
masalah tersebut. Adapun tujuan pada tahapan ini adalah:
1) Menjelajahi dan mengeksflorasi masalah serta kepedulian klien
dan lingkungannya dalam mengatasi masalah tersebut.
2) Menjaga agar konseling selalu terpelihara.
3) Proses konseling agar sesuai dengan kontrak

c. Tahap Akhir Konseling


Cavanagh

(1982)

menyebut

tahap

ini

dengan

istilah

termenination. Pada tahapan ini, konseling ditandai oleh beberapa


18

hal berikut:
1) Menurunya kecemasan klien
2) Adanya perubahan prilaku kearah yang lebih positif, sehat dan
dinamik.
3) Adanya tujuan hidup yang jelas dimasa yang akan datang
dengan program yang jelas pula.
4) Terjadinya perubahan sikap yang positif terhadap masalah yang
dialaminya, dapat mengkoreksi diri dan meniadakan sikaf yang
suka menyalahkan dunia luar.
4. Konseling Kelompok
Bimbingan kelompok dimaksudkan untuk mencegah berkembangnya
masalah atau kesulitan pada diri konseli (siswa). Isi kegiatan bimbingan
kelompok terdiri atas penyampaian informasi yang berkenaan dengan
masalah pendidikan, pekerjaan, pribadi, dan masalah sosial yang tidak
disajikan dalam bentuk pelajaran.
Penataan bimbingan kelompok pada umumnya berbentuk kelas yang
beranggotakan 20 sampai 30 orang. Adapun langkah-langkanya adalah:
a. Langkah Awal
Langkah awal diselenggarakan dalam rangka pembentukan
kelompok sampai dengan mengumpulkan para peserta yang siap
melaksanakan kegiatan kelompok, langkah ini dimulai dengan
menjelaskan tentang adanya layanan bimbingan kelompok bagi
para siswa, pengertian, tujuan dan kegunaan bimbingan kelompok.
Setelah penjelasan ini, langkah selanjutnya menghasilakan
kelompok yang langsung merencanakan waktu dan tempat
menyelenggarakan bimbingan kelompok.
a. Perencanaan Kegiatan
Perencanaan

kegiatan

penetapan:
1) Materi layanan
2) Tujuan yang ingin dicapai

19

bimbingan

kelompok

meliputi

3) Sarana kegiatan
4) Bahan atau sumber bahan untuk bimbingan kelompok;
5) Rencana penilaian; dan
6) Waktu dan tempat

b. Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan yang telah di rencanakan itu selanjutnya dilaksanakan
melalui kegiatan sebagai berikut:
1) Persiapan menyeluruh yang meliputi persiapan fisik (tempat dan
kelengkapannya); persiapan bahan, persiapan keterampilan dan
persiapan administrasi.
2) Pelaksanaan seluruh kegiatan
3) Penutup
c. Evaluasi Kegiatan
Penilaian kepada bimbingan kelompok berorientasi pada
perkembangan yaitu mengenali kemajuan atau perkembangan
fositif yang terjadi pada diri peserta.

5. Pengajaran remedial
Pengajaran remedial dapat didefinisikan sebagai upaya guru untuk
menciptakan suatu situasi yang memungkinkan individu atau kelompok
siswa tertentu lebih mampu mengembangkan dirinya seoptimal mungkin
sehingga dapat memenuhi kriteria keberhasilan minimal yang diharapkan.
Pengajaran remedial merupakan salah satu tahap kegiatan utama dalam
seluruh kerangka pola layanan bimbingan belajar. Secara sistematika
prosedur remedial tersebut dapat digambarkaan sebagai berikut:
a. Diagnosik kesulitan belajar mengajar
b. Rekomendasi
c. Penelaahan kembali kasus
d. Pilihan alternatif tindakan
e. Layanan konseling
20

f. Pelaksanaan pengajaran remidial


g. Pengukuran kembali hasil belajar-mengajar
h. Reevaluasi
i. Tugas tambahan
j. Hasil yang di harapkan

Strategi dan teknik pengajaran remedial dapat dilakukan secara


preventif, kuratif dan pengembangan. Tindakan pengajaran remedial
dikatakan bersifat kuratif jika dilakukan setelah program PBM utama
selesai diselenggarakan.

F. Pembelajaran berbasis bimbingan dan konseling.


Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran, untuk dipilih dan
dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kondisi yang dihadapi.
Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian dan
rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip, modifikasinya
diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian, Penyusun yakin
kreativitas para guru sangat tinggi.
1. Koperatif (CL, Cooperative Learning).
Pembelajaran koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk
sosial yang penuh ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan
dan tanggung jawab bersama, pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan
memanfaatkan kenyatan itu, belajar berkelompok secara koperatif, siswa
dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan,
pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih
beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniatur dari
hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan
masing-masing.
Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran
dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu
mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut
21

teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap


anggota kelompok terdiri dari 4 5 orang, siswa heterogen (kemampuan,
gender, karekter), ada kontrol dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab
hasil kelompok berupa laporan atau presentasi. Sintaks pembelajaran
koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok
heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.
2. Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan
sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait
dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan
terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul,
dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif
nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual adalah
aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton
dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.
Ada tujuh indikator pembelajaran kontekstual sehingga bisa
dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian,
motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, ramburambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun,
mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning
community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau
individual,

minds-on,

hands-on,

mencoba,

mengerjakan),

inquiry

(identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan),


constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsepaturan, analisis-sintesis), reflection (reviw, rangkuman, tindak lanjut),
authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran,
penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio,
penilaian seobjektif-objektifnya dari berbagai aspek dengan berbagai
cara).
3. Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)

22

Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus


pada keterampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara
pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian
informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan
evaluasi. Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori
(ceramah bervariasi).
4. Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)
Kehidupan adalah identik dengan menghadapi masalah. Model
pembelajaran ini melatih dan mengembangkan kemampuan untuk
menyelesaikan masalah yang berorientasi pada masalah otentik dari
kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemampuan berpikir tingkat
tinggi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana kondusif,
terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar
siswa dapat berpikir optimal. Indikator model pembelajaran ini adalah
metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi,
investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri
5. Problem Solving
Dalam hal ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang
tidak rutin, belum dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving
adalah mencari atau menemukan cara penyelesaian (menemukan pola,
aturan, .atau algoritma). Sintaknya adalah: sajikan permasalahan yang
memenuhi

kriteria

di

atas,

siswa

berkelompok

atau

individual

mengidentifikasi pola atau aturan yang disajikan, siswa mengidentifkasi,


mengeksplorasi, menginvestigasi, menduga, dan akhirnya menemukan
solusi.
6. Problem Posing
Bentuk lain dari problem posing adalah problem posing, yaitu
pemecahan masalah dengan melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali
masalah menjadi bagian-bagian yang lebih simple sehingga dipahami.
Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar, identifikasi kekeliruan,
menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative, menyusun soal-pertanyaan.
23

7. Problem Terbuka (OE, Open Ended)


dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang
menyajikan permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility)
dan solusinya juga bisa beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini
melatih dan menumbuhkan orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi,
kritis, komunikasi-interaksi, sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa
dituntut untuk berimprovisasi mengembangkan metode, cara, atau
pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh jawaban, jawaban siswa
beragam. Selanjutnya siswa juga diminta untuk menjelaskan proses
mencapai jawaban tersebut. Dengan demikian model pembelajaran ini
lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentuk pola
pikir, keterpasuan, keterbukaan, dan ragam berpikir.
Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik
(gunakan gambar, diagram, table), kembangkan permasalahan sesuai
dengan kemampuan berpikir siswa, kaitkan dengan materi selanjutnya,
siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri).
Sintaknya adalah menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran,
perhatikan dan catat respon siswa, bimbingan dan pengarahan, membuat
kesimpulan.
8. Probing-prompting
Teknik probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru
menyajikan serangkaian pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali
sehingga terjadi proses berpikir yang mengaitkan pengetahuan setiap siswa
dan pengalamannya dengan pengetahuan baru yang sedang dipelajari.
Selanjutnya

siswa

mengkonstruksi

pengetahuan

baru,

dengan

konsep-prinsip-aturan

demikian

pengetahuan

menjadi

baru

tidak

diberitahukan.
Dengan model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan
menunjuk siswa secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus
berpartisipasi aktif, siswa tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran,
setiap saat ia bisa dilibatkan dalam proses tanya jawab. Kemungkinan akan
24

terjadi suasana tegang, namun demikian bisa dibiasakan. Untuk


mengurangi kondisi tersebut, guru hendaknya serangkaian pertanyaan
disertai dengan wajah ramah, suara menyejukkan, nada lembut. Ada
canda, senyum, dan tertawa, sehingga suasana menjadi nyaman,
menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang salah
harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah
berpartisipasi.

https://fingeridea.wordpress.com/2012/05/23/model-

pembelajaran-berbasis-bimbingan-dan-konseling/

G. Dasar-dasar pemahaman peserta didik


1. Konsep dasar dan aspek-aspek perkembangan
2. Perspektif psikologis dan faktor-faktor yg mempengaruhi perkembangan
peserta didik
3. Tugas-tugas dan karakteristik perkembangan periode bayi, anak-anak,

H. Diagnostik dan remedial teaching


Setiap anak didik pada prinsipnya tentu berhak memperoleh peluang
untuk mencapai kinerja akademik (academic performance) yang memuaskan.
Namun dari kenyataan sehari-hari tampak jelas bahwa anak didik itu
memiliki perbedaan dalam hal kemampuan intelektual, kemampuan fisik,
latar belakang keluarga, kebiasaan dan pendekatan belajar yang terkadang
sangat mencolok antara seorang anak didik dengan anak didik lainnya.
Sementara itu, penyelenggaraan pendidikan di sekolah-sekolah kita pada
umumnya hanya ditujukan kepada anak didik yang berkemampuan rata-rata,
sehingga anak didik yang berkemampuan lebih atau yang berkemampuan
kurang terabaikan. Dengan demikian, anak didik yang berkategori "di luar
rata-rata" itu (sangat pintar dan sangat bodoh) tidak mendapat kesempatan
yang memadai untuk berkembang sesuai dengan kapasitasnya. Dari sini
kemudian timbulah apa yang disebut kesulitan belajar (learning difficulty)
yang tidak hanya menimpa siswa berkemampuan rendah saja, tetapi juga
dialami oleh anak didik yang berkemampuan tinggi.
25

Selain itu, kesulitan belajar juga dapat dialami oleh anak didik yang
berkemampuan rata- rata (normal) disebabkan oleh faktor-faktor tertentu
yang menghambat tercapainya kinerja akademik yang sesuai dengan harapan.
Fenomena kesulitan belajar seorang anak didik biasanya tampak jelas dari
menurunnya kinerja akademik atau prestasi belajarnya. Namun, kesulitan
belajar juga dapat dibuktikan dengan munculnya kelainan perilaku
(misbehavior) anak didik seperti kesukaan berteriak-teriak di dalam kelas,
mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah, dan sering minggat
dari sekolah.
Secara garis besar, faktor-faktor penyebab timbulnya kesulitan belajar
terdiri atas dua macam, yakni: Faktor intern anak didik meliputi gangguan
atau kekurangmampuan psiko-fisik anak didik, yakni: (a) yang bersifat
kognitif

(ranah

cipta),

antara

lain

seperti

rendahnya

kapasitas

intelektual/inteligensi siswa; (b) yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain
seperti labilnya emosi dan sikap; (c) yang bersifat psikomotor (ranah karsa),
antara lain seperti terganggunya alat-alat indera penglihat dan pendengar
(mata dan telinga). Faktor ekstern anak didik meliputi semua situasi dan
kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar siswa.
Faktor lingkungan ini meliputi:(a) lingkungan keluarga, contohnya:
ketidakharmonisan hubungan antara ayah dengan ibu, dan rendahnya
kehidupan ekonomi keluarga; (b) lingkungan perkampungan/masyarakat,
contohnya: wilayah perkampungan kumuh (slum area), dan teman
sepermainan (peer group) yang nakal; (c) lingkungan sekolah, contohnya:
kondisi dan letak gedung sekolah yang buruk seperti dekat pasar, kondisi
guru dan alat-alat belajar yang berkualitas rendah.
Selain faktor-faktor yang bersifat umum di atas, ada pula faktor-faktor lain
yang juga menimbulkan kesulitan belajar anak didik. Di antara faktor-faktor
yang dapat dipandang sebagai faktor khusus ini ialah sindrom psikologis
berupa learning disability (ketidakmampuan belajar).
Sindrom (syndrome) yang berarti satuan gejala yang muncul sebagai
indikator adanya keabnormalan psikis (Reber, 1988) yang menimbulkan
26

kesulitan belajar itu terdiri atas:


a. disleksia (dyslexia), yakni ketidakmampuan belajar membaca;
b. disgrafia (dysgraphia), yakni ketidakmampuan belajar menulis;
c. diskalkulia (dyscalculia) yakni ketidakmampuan belajar matematika.

1. Diagnosis Kasus
Diagnosis kasus merupakan upaya untuk menemukan faktor-faktor
penyebab atau faktor yang melatarbelakangi timbulnya masalah siswa. Dalam
konteks proses belajar mengajar faktor- faktor yang menyebabkan kegagalan
belajar siswa, bisa dilihat dari segi input, proses, ataupun output belajarnya.
W.H. Burton membagi ke dalam dua bagian faktor - faktor yang
mungkin dapat menimbulkan kesulitan atau kegagalan belajar siswa, yaitu :
a. faktor internal; faktor yang besumber dari dalam diri siswa itu sendiri,
seperti : kondisi jasmani dan kesehatan, kecerdasan, bakat,
kepribadian, emosi, sikap serta kondisi-kondisi psikis lainnya; dan
b. faktor eksternal, seperti : lingkungan rumah, lingkungan sekolah
termasuk didalamnya faktor guru dan lingkungan sosial dan
sejenisnya.
Dalam melakukan diagnosis diperlukan adanya prosedur yang terdiri
atas langkah- langkah tertentu yang diorientasikan pada ditemukannya
kesulitan belajar jenis tertentu yang dialami siswa. Prosedur seperti ini
dikenal sebagai "diagnostik" kesulitan belajar.
Banyak langkah-langkah diagnostik yang dapat ditempuh guru, antara
lain yang cukup terkenal adalah prosedur Weener & Senf (1982)
sebagaimana yang dikutip Wardani (1991) sebagai berikut:

Melakukan observasi kelas untuk melihat perilaku menyimpang


siswa ketika mengikuti pelajaran;

Memeriksa penglihatan dan pendengaran siswa khususnya yang


diduga mengalami kesulitan belajar;

Mewawancarai orang tua atau wali siswa untuk mengetahui hal


ihwal keluarga yang mungkin menimbulkan kesulitan belajar;
27

Memberikan tes diagnostik bidang kecakapan tertentu untuk


mengetahui hakikat kesulitan belajar yang dialami siswa;

Memberikan tes kemampuan intelegensi (IQ) khususnya kepada


siswa yang diduga mengalami kesulitan belajar.

Secara umum, langkah-langkah tersebut dapat dilakukan dengan mudah


oleh guru kecuali langkah ke-5 (tes IQ). Untuk keperluan tes IQ, guru dan
orangtua anak didik dapat berhubungan dengan klinik psikologi. Dalam hal
ini, yang perlu dicatat ialah apabila anak didik yang mengalami kesulitan
belajar itu ber-IQ jauh di bawah normal (tuna grahita), orang tua hendaknya
mengirimkan anak didik tersebut ke lembaga pendidikan khusus anak-anak
tuna grahita (sekolah luar biasa), karena lembaga/sekolah biasa tidak
menyediakan tenaga pendidik dan kemudahan belajar khusus untuk anakanak abnormal. Selanjutnya, para siswa yang nyata-nyata menunjukkan
misbehavior berat seperti perilaku agresif yang berpotensi antisosial atau

kecanduan narkotika, harus diperlakukan secara khusus pula, umpa-manya


dimasukkan ke lembaga pemasyarakatan anak-anak atau ke "pesantren"
khusus pecandu narkotika.

2. Remedial Teaching (Pengajaran Perbaikan)


Remedial teaching atau pengajaran perbaikan adalah suatu bentuk

pengajaran yang bersifat menyembuhkan atau membetulkan, atau dengan


kata lain pengajaran yang membuat menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Dapat dikatakan pula bahwa pengajaran perbaikan itu berfungsi terapis untuk
penyembuhan. Yang disembuhkan adalah beberapa hambatan / gangguan
kepribadian yang berkaitan dengan kesulitan belajar sehingga dapat timbal
balik dalam arti perbaikan belajar atau perbaikan pribadi. Remedial teaching
berasal dari kata remedy (Bahasa Inggris) yang artinya menyembuhkan.
Istilah pengajaran remedial pada mulanya adalah kegiatan mengajar untuk
anak luar biasa yang mengalami berbagai hambatan dalam belajar. Tapi
dewasa ini pengertian itu sudah mengalami berkembang. Sehingga anak yang
28

normal pun memerlukan pelayanan pengajaran remedial.

I.

Bimbingan bagi peserta didik berkebutuhan khusus


1. Anak Berkebutuhan Khusus
1. Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus (ABK)
Anak berkebutuhan khusus (ABK) memiliki beberapa istilah yang
digunakan sebagai variasi dari kebutuhan khusus, seperti disability,
impairment, dan handicap.
Anak berkebutuhan khusus adalah anak dengan karakteristik
khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya. 4 Anak berkebutuhan
khusus adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan
anak pada umumnya tanpa selalu menunjukkan pada ketidakmampuan
mental, emosi, atau fisik. 5Anak berkebutuhan khusus dapat diartikan
sebagai seorang anak yang memerlukan pendidikan yang disesuaikan
dengan hambatan belajar dan kebutuhan masing-masing anak secara
individual.
2. Jenis-jenis Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) Ada beberapa jenis anak
berkebutuhan khusus, sebagai berikut:
a. Tunanetra

Tunanetra adalah orang yang memiliki ketajaman penglihatan


20/200 atau kurang pada mata yang baik, walaupun dengan memakai
kacamata, atau yang daerah penglihatannya sempit sedemikian kecil
sehingga yang terbesar jarak sudutnya tidak lebih dari 20 derajat.
b. Tunarungu

Tunarungu adalah istilah umum yang digunakan untuk


menyebut kondisi seseorang yang mengalami gangguan dalam indera
pendengaran.
c. Tunagrahita

Tunagrahita adalah istilah yang digunakan untuk menyebut


4

Aqila Smart, Anak Cacat Bukan Kiamat, (Yogyakarta: Ar-ruzz Media, 2010), hlm. 33
Geniofam, Mengasuh & Mensukseskan Anak Berkebutuhan Khusus, (Yogyakarta:
Garailmu, 2010), hlm.11
5

29

anak yang memunyai kemampuan intelektual di bawah rata-rata dan


ditandai oleh keterbatasan intelegensi dan ketidakcakapan dalam
interaksi sosial.
d. Tunadaksa

Tunadaksa merupakan suatu keadaan rusak atau terganggu


sebagai akibat gangguan bentuk atau hambatan pada tulang, otot, dan
sendi pada fungsinya yang normal. Kondisi ini dapat disebabkan oleh
penyakit, kecelakaan, atau dapat juga disebabkan oleh pembawaan
sejak lahir.
e. Autis

Kata autis berasal dari bahasa Yunani auto berarti sendiri yang
ditujukan pada seseorang yang menunjukkan gejala hidup dalam
dunianya sendiri. Anak autis memiliki gangguan perkembangan pada
anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam
bidang kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.

2. Bimbingan dan Konseling bagi Anak Berkebutuhan Khusus


1. Pengertian Bimbingan bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Bimbingan bagi anak berkebutuhan khusus diberikan agar anak
berkebutuhan khusus tersebut lebih mengenal dirinya sendiri, menerima
keadaan dirinya, mengenali kelemahan, kekuatannya dan dapat
mengarahkan dirinya sesuai dengan kemampuannya. Langkah awal
dalam melaksanakan bimbingan bagi anak berkebutuhan khusus
adalah melakukan identifikasi anak. Untuk menghimpun informasi
yang lengkap mengenai kondisi anak dalam rangka penyusunan
program bimbingan

yang sesuai dengan

kebutuhannya, maka

identifikasi perlu dilakukan oleh guru bimbingan dan konseling dan jika
memungkinkan dapat meminta bantuan atau bekerja sama dengan
tenaga profesional dalam menangani anak yang bersangkutan. 6
6

Muhdar Mahmud, Layanan Bimbingan bagi Anak Berkebutuhan Khusus di Sekolah


Dasar Wilayah Kota Bandung, Tesis (Bandung: Program BP-BAK PPs UPI, 2003), hlm. 31-32

30

2. Pengertian Konseling bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Konseling bagi anak berkebutuhan khusus adalah upaya batuan


yang diberikan oleh konselor kepada konseli agar konseli tersebut dapat
menyelesaikan

masalah

yang

sedang

dihadapinya

dan

mampu

menyesuaikan diri dengan lingkungan yang berbeda dengan dirinya serta


mereka mampu untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya sesuai
dengan kemampuan yang dimiliki anak berkebutuhan khusus tersebut.
3. Tujuan Bimbingan dan Konseling bagi Anak Berkebutuhan

Khusus
a.

Tujuan UmumSecara umum, tujuan bimbingan dan konseling


bagi anak berkebutuhan khusus adalah untuk membantu anak
berkebutuhan

khusus

dalam

mengembangkan

diri

dan

menyesuaikan dirinya secara optimal sesuai dengan hambatan,


gangguan, atau kelainannya. 7
Sesuai dengan pengertian bimbingan dan konseling
bagi anak berkebutuhan khusus sebagai upaya membentuk
perkembangan dan kepribadian siswa secara optimal sesuai
dengan kemampuan anak tersebut, maka secara umum layanan
bimbingan dan konseling di sekolah haruslah dikaitkan dengan
sumberdaya manusia. Yaitu

dengan menerapkan layanan

bimbingan dan konseling untuk membantu anak berkebutuhan


khusus dalam mengenal bakat, minat, dan kemampuannya
serta mengembangkan potensinya secara optimal sesuai
dengan kemampuan yang dimilikinya.
b. Tujuan khusus dari layanan bimbingan dan konseling adalah
bertujuan untuk membantu siswa agar dapat mencapai tujuantujuan perkembangan yang meliputi aspek pribadi-sosial,
belajar, dan karier. Tujuan khusus bimbingan dan konseling
bagi anak berkebutuhan khusus disesuaikan dengan kebutuhan
anak tersebut yang mana dia dapat percaya diri, dapat bergaul,
hlm. 50

31

menghadapi dirinya sendiri juga mengenal potensi dirinya.


4. Layanan Bimbingan dan Konseling bagi Anak Berkebutuhan

Khusus
Suatu kegiatan bimbingan dan konseling disebut pelayanan
apabila kegiatan tersebut dilakukan melalui kontak langsung
dengan

konseli,

dan

secara

langsung

berkenaan

dengan

permasalahan ataupun kepentingan tertentu yang dirasakan oleh


konseli itu. Berbagai jenis pelayanan perlu
dilakukan sebagai wujud nyata penyelenggaraan pelayanan
bimbingan dan konseling terhadap konseling.

J.

Layanan BK di sekolah
1. Pandangan pihak sekolah terhadap layanan BK
Tujuan pendidikan menengah acap kali dibiaskan oleh pandangan
umum; demi mutu keberhasilan akademis seperti persentase lulusan,
tingginya nilai Ujian Nasional, atau persentase kelanjutan ke perguruan
tinggi negeri. Kenyataan ini sulit dimungkiri, karena secara sekilas tujuan
kurikulum menekankan penyiapan peserta didik (sekolah menengah
umum/SMU) untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi atau
penyiapan peserta didik (sekolah menengah kejuruan/SMK) agar sanggup
memasuki dunia kerja. Penyiapan peserta didik demi melanjutkan ke
pendidikan yang lebih tinggi akan melulu memperhatikan sisi materi
pelajaran, agar para lulusannya dapat lolos tes masuk perguruan tinggi.
Akibatnya, proses pendidikan di jenjang sekolah menengah akan
kehilangan bobot dalam proses pembentukan pribadi. Betapa pembentukan
pribadi, pendampingan pribadi, pengasahan nilai-nilai kehidupan (values)
dan pemeliharaan kepribadian siswa (cura personalis) terabaikan. Situasi
demikian diperparah oleh kerancuan peran di setiap sekolah. Peran
konselor dengan lembaga bimbingan konseling (BK) direduksi sekadar
sebagai polisi sekolah. Bimbingan konseling yang sebenarnya paling
potensial menggarap pemeliharaan pribadi-pribadi, ditempatkan dalam
32

konteks tindakan-tindakan yang menyangkut disipliner siswa. Memanggil,


memarahi, menghukum adalah proses klasik yang menjadi label BK di
banyak sekolah. Dengan kata lain, BK diposisikan sebagai musuh bagi
siswa bermasalah atau nakal.
Penyusun merujuk pada rumusan Winkel untuk menunjukkan hakikat
bimbingan konseling di sekolah yang dapat mendampingi siswa dalam
beberapa hal. Pertama, dalam perkembangan belajar di sekolah
(perkembangan akademis). Kedua, mengenal diri sendiri dan mengerti
kemungkinan-kemungkinan yang terbuka bagi mereka, sekarang maupun
kelak. Ketiga, menentukan cita-cita dan tujuan dalam hidupnya, serta
menyusun rencana yang tepat untuk mencapai tujuan-tujuan itu. Keempat,
mengatasi masalah pribadi yang mengganggu belajar di sekolah dan terlalu
mempersukar hubungan dengan orang lain, atau yang mengaburkan citacita hidup. Empat peran di atas dapat efektif, jika BK didukung oleh
mekanisme struktural di suatu sekolah.
Proses cura personalis di sekolah dapat dimulai dengan menegaskan
pemilahan peran yang saling berkomplemen. Bimbingan konseling dengan
para konselornya disandingkan dengan bagian kesiswaan. Wakil kepala
sekolah bagian kesiswaan dihadirkan untuk mengambil peran disipliner
dan hal-hal yang berkait dengan ketertiban serta penegakan tata tertib.
Siswa suka membolos, berkelahi, pakaian tidak tertib, bukan lagi konselor
yang menegur dan memberi sanksi. Reward dan punishment, pujian dan
hukuman adalah dua hal yang mesti ada bersama-sama. Pemilahan peran
demikian memungkinkan BK optimal dalam banyak hal yang bersifat
reward atau peneguhan. Jika tidak demikian, BK lebih mudah terjebak
dalam tindakan hukum-menghukum.
Mendesak

untuk

diwujudkan,

prinsip

keseimbangan

dalam

pendampingan orang-orang muda yang masih dalam tahap pencarian diri.


Orang-orang muda di sekolah menengah lazimnya dihadapkan pada
celaan, cacian, cercaan, dan segala sumpah-serapah kemarahan jika
membuat kekeliruan. Namun, jika melakukan hal-hal yang positif atau
33

kebaikan, kering pujian, sanjungan atau peneguhan. Betapa ketimpangan


ini membentuk pribadi-pribadi yang memiliki gambaran diri negatif
belaka. Jika seluruh komponen kependidikan di sekolah bertindak sebagai
yang menghakimi dan memberikan vonis serta hukuman, maka semakin
lengkaplah pembentukan pribadi-pribadi yang tidak seimbang.
BK dapat diposisikan secara tegas untuk mewujudkan prinsip
keseimbangan. Lembaga ini menjadi tempat yang aman bagi setiap siswa
untuk datang membuka diri tanpa waswas akan privacy-nya. Di sana
menjadi tempat setiap persoalan diadukan, setiap problem dibantu untuk
diuraikan, sekaligus setiap kebanggaan diri diteguhkan. Bahkan orang tua
siswa dapat mengambil manfaat dari pelayanan bimbingan di sekolah,
sejauh mereka dapat ditolong untuk lebih mengerti akan anak mereka.
Tantangan pertama untuk memulai suatu proses pendampingan
pribadi yang ideal justru datang dari faktor-faktor instrinsik sekolah
sendiri. Kepala sekolah kurang tahu apa yang harus mereka perbuat
dengan konselor atau guru-guru BK. Ada kekhawatiran bahwa konselor
akan memakan gaji buta. Akibatnya, konselor mesti disampiri tugastugas mengajar keterampilan, sejarah, jaga kantin, mengurus perpustakaan,
atau jika tidak demikian hitungan honor atau penggajiannya terus
dipersoalkan jumlahnya. Sesama staf pengajar pun mengirikannya dengan
tugas-tugas konselor yang dianggapnya penganggur terselubung. Padahal,
betapa pendampingan pribadi menuntut proses administratif dalam
penanganannya.

BK yang baru dilirik sebelah mata dalam proses pendidikan tampak dari
ruangan yang disediakan. Bisa dihitung dengan jari, berapa jumlah sekolah
yang mampu (baca: mau!) menyediakan ruang konseling memadai. Tidak
jarang dijumpai, ruang BK sekadar bagian dari perpustakaan (yang disekat
tirai), atau layaknya ruang sempit di pojok dekat gudang dan toilet. Betapa
mendesak untuk dikedepankan peran BK dengan mencoba menempatkan
kembali pada posisi dan perannya yang hakiki. Menaruh harapan yang
34

lebih besar pada BK dalam pendampingan pribadi, sekarang ini begitu


mendesak, jika mengingat kurikulum dan segala orientasinya tetap saja
menjunjung supremasi otak. Untuk memulai mewujudkan semua itu,
butuh perubahan paradigma para kepala sekolah dan semua pihak yang
terlibat dalam proses kependidikan.

Bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik,


baik secara perorangan maupun kelompok agar mandiri dan bisa
berkembang secara optimal, dalam bimbingan pribadi, sosial, belajar
maupun karier melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung
berdaarkan norma-norma yang berlaku (SK Mendikbud No. 025/D/1995)
Bimbingan dan konseling merupakan upaya proaktif dan sistematik dalam
memfasilitasi individu mencapai tingkat perkembangan yang optimal,
pengembangan perilaku yang efektif, pengembangan lingkungan, dan
peningkatan fungsi atau manfaat individu dalam lingkungannya. Semua
perubahan perilaku tersebut merupakan proses perkembangan individu,
yakni proses interaksi antara individu dengan lingkungan melalui interaksi
yang sehat dan produktif. Bimbingan dan konseling memegang tugas dan
tanggung jawab yang penting untuk mengembangkan lingkungan,
membangun interaksi dinamis antara individu dengan lingkungan,
membelajarkan

individu

untuk

mengembangkan,

merubah

dan

memperbaiki perilaku.
Bimbingan dan konseling bukanlah kegiatan pembelajaran dalam konteks
adegan mengajar yang layaknya dilakukan guru sebagai pembelajaran
bidang studi, melainkan layanan ahli dalam konteks memandirikan peserta
didik. (Naskah Akademik ABKIN, Penataan Pendidikan Profesional
Konselor dan Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling dalam Jalur
Pendidikan Formal, 2007).
Merujuk pada UU No. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,
sebutan untuk guru pembimbing dimantapkan menjadi Konselor.
Keberadaan konselor dalam sistem pendidikan nasional dinyatakan
35

sebagai salah satu kualifikasi pendidik, sejajar dengan kualifikasi guru,


dosen, pamong belajar, tutor, widyaiswara, fasilitator dan instruktur (UU
No. 20/2003, pasal 1 ayat 6). Pengakuan secara eksplisit dan kesejajaran
posisi antara tenaga pendidik satu dengan yang lainnya tidak
menghilangkan arti bahwa setiap tenaga pendidik, termasuk konselor,
memiliki konteks tugas, ekspektasi kinerja, dan setting layanan spesifik
yang mengandung keunikan dan perbedaan.

2. Visi dan misi BK


a. Visi Bimbingan dan Konseling
Terwujudnya perkembangan dari dan kemandirian secara optimal
dengan hakekat kemanusiaan sebagai hamba Tuhan YME, sebagai
makhluk individu, dan makhluk social dalam berhubungan dengan
manusia dan alam semesta.
b. Misi Bimbingan dan Konseling
Menunjang perkembangan diri dan kemandirian siswa untuk dapat
menjalani kehidupannya sehari-hari sebagai siswa secara efektif,
kreatif, dan dimanis serta memiliki kecakapan hidup untuk masa
depan karir dalam :
1) Beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan
2) Pemahamn perkembangan diri dan lingkungannya
3) Pengarahan diri ke arah dimensi spiritual
4) Pengambilan keputusan berdsarkan IQ, EQ, dan SQ
5) Pengaktualisasian diri secara optimal.

3. Target populasi
4. Komponen program/bidang isi layanan BK
5. Evaluasi
a.

Pengertian Evaluasi Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling


Istilah evaluasi berasal dari bahasa Inggris, yaitu Evaluation. Dalam

buku Essentials of Educational Evaluation, Edwind Wand dan Gerald


36

W. Brown, mengatakan bahwa : Evaluation rafer to the act or prosses to


determining the value of something. Jadi menurut Wand dan Brown,
evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses utnuk menentukan nilai
dari pada sesuatu. Sesuai dengan pendapat tersebut maka evaluasi
pelaksanaan Bimbingan dan Konseling dapat diartikan sebagai suatu
tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam
pelaksanaan Bimbingan dan Konseling di sekolah yang diharapkan oleh
Departemen Pendidikan, telah dijabarkan dalam pedoman khusus
Bimbingan dan Penyuluhan, kurikulum 1975 buku IIIc.
Perlu dijelaskan disini bahwa evaluasi tidak sama artinya dengan
pengukuran (measurement). Pengertian pengukuran (measurement) Wand
dan Brown mengatakan : Measurement means the art or prosses of
exestaining the extent or quantity of something. Jadi pengukuran adalah
suatu tindakan atau proses untuk menentukan luas atau kuantitas dari pada
sesuatu.
Dari definisi evaluasi atau penilaian dan pengukuran (measurement)
yang disebut diatas, maka dapat diketahui perbedaannya dengan jelas
antara arti penilaian dan pengukuran. Sehingga pengukuran akan
memberikan jawaban terhadap pertanyaan How Much, sedangkan
penilaian akan memberikan jawaban dari pertanyaan What Value.
Walaupun ada perbedaan antara pengukuran dan penilaian, namun
keduanya tidak dapat dipisahkan. Karena antara pengukuran dan penilaian
terdapat hubungan yang sangat erat. Penilaian yang tepat terhadap sesuatu
terlebih dahulu harus didasarkan atas hasil pengukuran-pengukuran. Pada
akhir pelaksanaan program Bimbingan dan Konseling selalu tercantum
suatu kegiatan yang telah dilaksanakan sesuai dengan rencana tertentu.
Pendapat Good yang dikutip oleh I.Jumhur dan Moch. Surya (1975
:154),

tentang

evaluasi

adalah

Proses

menentukan

atau

mempertimbangkan nilai atau jumlah sesuatu melaluipenilaian yang


dilakukan dengan seksama.
Konseling, yang akhirnya perlu pula diketahui bagaimana hasil dari
37

pelaksanaan kegiatan itu. Dengan kata lain bahwa penilaian yang


dilakukan terhadap kegiatan Bimbingan dan Konseling ditujukan untuk
menilai bagaimana kesesuaian program, bagaimana pelaksanaan yang
dilakukan oleh para petugas Bimbingan, dan bagaimana pula hasil yang
diperoleh dari pelaksanaan program tersebut. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa evaluasi terhadap kegiatan Bimbingan dan Konseling,
mengandung tiga aspek penilaian, yaitu:
1) Penilaian terhadap program Bimbingan dan Konseling.
2) Penilaian terhadap proses pelaksanaan Bimbingan dan Konseling.
3) Penilaian terhadap hasil (Product) dari pelaksanaan kegiatan
pelayanan Bimbingan dan Konseling.

B. Tujuan Evaluasi
Dalam melaksanakan suatu program, hal ini program Bimbingan dan
Konseling, peranan evaluasi sangatlah penting. Hasil evaluasi akan
memberikan manfaat yang sangat berarti bagi pelaksanaan program
tersebut untuk selanjutnya. Beberapa hal yang diperoleh dari hasil evaluasi
diantaranya:
1.Untuk mengetahui apakah program Bimbingan sesuai dengan
kebutuhan yang ada?
2. Apakah pelaksanaan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan
program, dan mendukung pencapaian tujuan program itu?
3. Bagaimana

hasil

yang

diperoleh

telah

mencapai

criteria

keberhasilan sesuai dengan tujuan dari program itu?


4. Dapatkah diketemukan bahan balikan bagi pengembangan program
berikutnya ?
5. Adakah masalah-masalah baru yang muncul sebagai bahan
pemecahan dalam program berikutnya ?
6. Untuk memperkuat perkiraan-perkiraan (asumsi) yang mendasar
pelaksanaan program bimbingan ?
7. Untuk melengkapi bahan-bahan informasi dan data yang diperlukan
38

dan dapat digunakan dalam memberikan bimbingan siswa secara


perorangan.
8. Untuk mendapatkan dasar yang sehat bagi kelancaran pelaksanaan
hubungan masyarakat.
9. Untuk meneliti secara periodik hasil pelaksanaan program yang
perlu diperbaiki.

C. Ruang Lingkup Evaluasi Pelaksanaan Bimbingan.


Untuk mengungkapkan tujuan yang telah disebutkan diatas perlu
adanya kejelasan tentang aspek-aspek yang perlu dievaluasi. Berikut akan
diuraikan beberapa aspek yang menyangkut : program, proses, dan hasil
(product) dalam suatu kegiatan Bimbingan dan Konseling.

1. Evaluasi Peserta Didik


Untuk

mengadakan

evaluasi

terhadap

pelaksanaan

program

bimbingan konseling di sekolah, maka pemahaman terhadap peserta didik


yang mendapatkan bimbingan dan konseling penting dan perlu.
Pemahaman

mengenai

peserta

didik

perlu

dilakukan

sedini

mungking.Evaluasi jenis ini dimulai dari layanan pengumpulan data pada


saat peserta didik diterima di sekolah bersangkutan.
Adapun jenis data yang dikumpulkan dari peerta didik dapat berupa:
kemampuan sekolastik umum, bakat, minat, kepribadian, prestasi belajar,
riwayat kependidikan, riwayat hidup, cita-citapendidikan/jabatan, hobi dan
penggunaan waktu luang, kebiasaan belajar, hubungan social, keadaan
fisik dan kesehatan, kesulitan-kesulitan yang dihadapi, dan minat terhadap
mata pelajaran sekolah.

2. Evaluasi Program.
Apabila kita mempelajari pedoman penyusunan program Bimbingan
dan Konseling seperti terdapat pada buku IIIc, kurikulum 1975, dapat kita
simpulkan bahwa program Bimbingan dan Konseling di sekolah terdapat
39

beberapa kegiatan pelayanan. Sejalan dengan pendapat Koestoer


Partowisastro (1982:93), bahwa sesuai dengan pola dasar pedoman
operasional pelayanan Bimbingan ini terdiri atas:
a. Pelayanan kepada murid.
b. Pelayanan kepada guru.
c. Pelayanan kepada kepala sekolah.
d. Pelayanan kepada orang tua murid atau masyarakat.

Pada hakikatnya tujuan umum program Bimbingan disekolah adalah


membantu siswa agar dapat:
a. Membuat pilihan pendidikan dan jabatan secara bijaksana
b. Memperoleh penyesuaian kepribadian yang lebih baik
c. Dapat memperoleh penyesuaian diri dalam menghadapi perubahanperubahan yang terjadi baik dimasyarakat, sekolah maupun dalam
keluarga.

Kegiatan operasional dari masing-masing pelayanan tersebut diatas,


perlu disusun dalam sistimatika sebagai berikut:
a. Masalah atau kebutuhan yang ditangani dalam pelayanan Bimbingan.
b. Tujuan khusus pelayanan Bimbingan.
c. Kriteria keberhasilan
d. Ruang lingkup pelayanan Bimbingan
e. Kegiatan-kegiatan pelayanan bimbingan beserta jadwal kegiatannya.
f. Hubungan antara kegiatan pelayanan bimbingan dengan kegiatan
sekolah dan kegiatan diluar sekolah.
g. Metode dan teknik pelayanan Bimbingan.
h. Sarana pelayanan bimbingan.
i. Pengelolaan pelayanan bimbingan.
j. Penilaian dan penelitian pelayanan bimbingan.

3. Evaluasi Proses.
40

Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dalam suatu program,


dituntut suatu proses pelaksanaan yang mengarah kepada tujuan yang
diharapkan. Didalam proses pelaksanaan program Bimbingan dan
Konseling di sekolah banyak faktor yang terlihat khususnya yang
berhubungan dengan pengelolaan. Hal itu dapat diuraikan seperti berikut :
a. Organisasi dan administrasi program bimbingan.
b. Personal / petugas pelaksana.
c. Fasilitas dan perlengkapan.
d. Kegiatan Bimbingan.
e. Partisipasi guru.
f. Anggaran pembiayaan.

4. Evaluasi Hasil (Product).


Aspek yang paling penting keberhasilan suatu program dari
pelaksanaan program itu sendiri. Untuk memperoleh gambaran tentang
hasil yang diharapkan sesuai dengan tujuan pelayanan bimbingan dapat
tercapai atau tidak, akan tercermin dalam diri siswa yang mendapat
pelayanan bimbingan itu sendiri.
Hal hal yang menyangkut diri siswa sesuai dengan tujuan pelayanan
bimbingan dapat dilihat dalam segi :
a. Pandangan para tamatan / lulusan tentang program pendidikan di
sekolah yang telah ditempuhnya.
b. Kualitas prestasi (performance) bagi tamatan / lulusan.
c. Pekerjaan / jabata yang dilakukan oleh siswa yang telah menamatkan
program pendidikannya .
d. Proporsi tamatan / lulusan yang bekerja dan yang belum bekerja.

D. Kriteria Keberhasilan
Beberapa kriteria keberhasilan yang dapat dijadikan landasan suatu
penilaian, dapat kita lihat dari hasil yang ingin diperoleh dari tujuan
pelayanan bimbingan. Berikut ini akan dikemukakan criteria keberhasilan
41

dalam pelayanan bimbingan, menurut Koestoer Partowisastro (1982),


bahwa :

1. Kriteria keberhasilan pelayanan kepada murid :


a. Menerima diri sendiri, baik mengenai kekuatan-kekuatannya maupun
kelemahan-kelemahannya, sehingga dapat membuat rencana untuk
menentukan cita-cita dan membuat keputusan-keputusannya yang realitas.
b. Memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang benar mengenai dunia
sekitarnya, sehingga dapat memperoleh tingkat social yang selaras dalam
pergaulan dan kehidupan di masyarakat.
c. Dapat memahami dan memecahkan masalahnya sendiri.
d. Dapat memilih secara tepat dan menyelesaikan program studi dan
berhasil sesuai dengan tingkat kemampuannya.
e. Dapat memilih pendidikan lanjutan secara tepat sesuai dengan bakat,
minat, dan kemampuannya.
f. Dapat memilih rencana dan lapangan kerja / jabatan yang tepat sesuai
dengan bakat, minat dan kemampuannya.
g. Memperoleh bantuan khusus dalam mengatasi kesulitan belajar,
sehingga dapat mengembangkan dan meningkatkan kepribadiannya secara
menyeluruh.
h. Memperoleh bantuan dan pelayanan dari orang-orang atau badan-badan
lain diluar sekolah, untuk memecahkan masalahnya yang tidak mampu
dipecahkannya dengan pelayanan langsung dari sekolah.

2. Kriteria keberhasilan pelayanan bimbingan kepada guru :


a. Guru berpartisipasi dan membantu pelaksanaan program bimbingan
disekolah.
b. Guru menggunakan fasilitas yang disediakan oleh staf BK.
c. Guru turut aktif mengkomunikasikan program BK kepada murid.
d. Ada keseragaman sikap dan tindakan terhadap murid diantara guru-guru
dan staf BK.
42

e. Guru memberikan informasi tentang murid kepada staf BK.


f. Guru membicarakan murid-murid yang memiliki kesulitan dengan
konselor.
g. Guru memperlakukan murid sesuai dengan keadaan dan kemampuan
murid.
h. Tersedia alat pengumpulan data yang baik buatan guru sendiri.
i. Guru menggunakan alat-alat pengmpulan data secara tepat.
j. Guru mengumpulkan dan menyusun data dengan baik.
k. Tercipta suasana belajar mengajar yang baik didalam kelas.
l. Adanya penempatan dan penugasan kepada murid oleh guru, sesuai
dengan keadaan dan kemampuan murid masing-masing.
m. Guru mengatasi kesulitan dalam menghadapi murid tanpa kerugian
sampingan, baik pada murid ataupun pada guru.
n. Guru mengarahkan penggarapan murid yang mengalami kesulitan yang
tidak dapat ditangani oleh guru sendiri.
o. Guru mempergunakan alat pengumpulan data sesuai dengan keadaan
dan kemampuannya sendiri.
p. Guru mempergunakan cara-cara untuk membantu murid sesuai dengan
keadaan dan kemampuan guru.

E. Hambatan-Hambatan

dalam

Evaluasi

Program

Bimbingan

dan

Konseling

1. Pelaksana bimbingan di sekolah tidak mempunyai waktu yang cukup


memadai untuk melaksanakan evaluasi pelaksanaan program BK.
2. Pelaksana bimbingan dan konseling memiliki latar belakang pendidikan
yang bervariasi baik ditinjau dari segi jenjang maupun programnya,
sehingga kemampuannya pun dalam mengevaluasi pelaksanaan program
BK sangat bervariasi termasuk dalam menyusun, membakukan dan
mengembangkan instrumen evaluasi.
3. Belum tersedianya alat-alat atau instrument evaluasi pelaksanaan
43

program bimbingan dan konseling di sekolah yang valis, reliable, dan


objektif.
4. Belum diselenggarakannya penataran, pendidikan, atau pelatihan khusus
yang berkaitan tentang evaluasi pelaksanaan program bimbingan dan
konseling pada umumnya, penyusunan dan pengembangan instrumen
evaluasi pelaksanaan bimbingan dan konseling di sekolah
5. Penyelenggaraan evaluasi membutuhkan banyak waktu dan uang. Tidak
dapat diragukan lagi untuk memulai mengadakan evaluasi tampaknya
memerlukan baya yang cukup mahal dan perlu biaya yang banyak.
6. Belum adanya guru inti atau instruktur BK yg ahli dlm bidang evaluasi
pelaksanaan peogram BK di sekolah. Sampai saat ini kebanyakan yg
terlibat dlm bidang ini adalah dari perguruan tinggi yang sudah tentu
konsep dan kerangka kerjanya tidak berorientasi kepada kepentingan
sekolah
7. Perumusan kriteria keberhasilan evaluasi pelaksanaan bimbingan dan
yang tegas dan baku belum ada sampai saat ini.

F. Prinsip-Prinsip Evaluasi Program Bimbingan Konseling


Menurut

Gibson

and

Mitchell

(1981),

Depdikbud

(1993)

mengemukakan beberapa prinsip yang semestinya diperankan dalam


penyelenggaraan evaluasi pelaksanaan peogram BK, sebagai berikut :
1. Evaluasi yang efektif menuntup pengenalan terhadap tujuan-tujuan
program
2. Evaluasi yang efektif memerlukan kriteria pengukuran yang jelas.
3. Evaluasi melibatkan berbagai unsur yang professional
4. Menuntut umpan balik (feed back) dan tindak lanjut (follow-up)
sehingga hasilnya dpt digunakan unt membuat kebijakan / keputusan.
5. Evaluasi yang efektif hendaknya terencana dan berkesinambungan. Hal
ini bahwa evaluasi program bimbingan dan konseling bukan
merupakan kgiatan yang bersifat insidental, melainkan proses
kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan.
44

G. Prosedur Pelaksanaan Evaluasi Program Bimbingan Konseling


1. Fase persiapan
Pada fase persiapan ini terdiri dari kegiatan penyusunan kisi-kisi evaluasi.
Dalam kegiatan penyusunan kisi-kisi evaluasi ini langkah-langkah yg
dilalui adalah:
a. Langkah pertama penetapan aspek-aspek yang dievaluasi baik evaluasi
proses maupun evaluasi hasil, meliputikesesuaian antara program dengan
pelaksanaan
1) keterlaksanaan program,hambatan yang dijumpai,
2) dampak terhadap KBM,
3) respon konseli, sekolah, orang tua, masyarakat
4) perubahan kemajuan dilihat dari capaian tujuan layanan, capaian tugas
perkembangan dan hasil relajar, keberhasilan lulusan.
b. Langkah-langkah kedua penetapan kriteria keberhasilan evaluasi.
Misalnya, bila proses aspek kegiatan yang akan dievaluasi maka kriteria
yang dapat dievaluasi ditinjau dari: lingkungan bimbingan, sarana yang
ada, dan situasi daerah.
c. Langkah ketiga penetapan alat-alat/ instrument evaluasi
Misalnya aspek proses kegiatn yang hendak dievaluasi dengan kriteria
bagian b di atas, maka instrument yang harus digunakan ialah: ceklis,
observasi kegiatan, tes situsasi, wawancara, dan angket

d. Langkah keempat penetapan prosedur evalusi


Seperti contoh pada butir b dan c di atas, maka prosedur evaluasinya
mlalui: penelaahan, kegiatan, penelaahan hasil kerja, konfrensi kasus, dan
lokakarya
e. Langkah kelima penetapan tim penilaian atau evaluator
Berkaitan dengan contoh diatas, maka yang harus menjadi evaluator dalam
penilaian proses kegiatan ialah: ketua bimbingan dan konseling, kepala
sekolah, tim bimbingan dan konseling, dan konselor
45

2. Fase persiapan alat / instrument evaluasi


Dalam fase kedua ini dilakukan kegiatan diantaranya:
a. Memilih alat-alat/instumen evaluasi yang ada atau menyusun dan
mengembangkan alat-alat evaluasi yang diperlukan.
b. Pengadaan alat-alat instrument evaluasi yang akan digunakan
3. Fase pelaksanaan kegiatan evaluasi
Dalam fase pelaksanaan evaluasi ini, evaluator melalui kegiatan, yaitu:
a. Persiapan pelaksanaan kegiatan evaluasi;
b. Melaksanakan kegiatan evaluasi sesuai dengan jadwal yang telah
ditetapkan.
4. Fase menganalisis hasil evaluasi
Dalam fase analisis hasil evaluAsi dan pengolahan data hasil evaluasi ini
dilakukan mengacu kepada jenis datanya. Data-data itu, diantarnya:
a. Tabulasi data;
b. Analisis hasil pengumpulan data melalui statistik atau non-statistik
5. Fase penafsiran atau interprestasi dan pelaporan hasil evaluasi
Pada fase ini dilakukan kegiatan membandingkan hasil analisis data
dengan kriteria penilaian keberhasilan & kemudian diinterprestasikan dng
memakai kode-kode tertentu, untuk kemudian dilaporkan serta digunakan
dalam rangka perbaikan dan atau pengembangan program layanan
Bimbingan Konseling.
6. Sarana prasarana
Agar layanan dasar bimbingan dan konseling, renponsif, perencanaan
individual, dan dukungan sistem berfungsi efektif diperlukan cara baru
dalam mengatur fasilitas-fasilitas program bimbingan dan konseling.
(Nurihsan, 2006: 63)
Sarana dan prasarana yang diperlukan antara lain sebagai berikut:
b. Sarana
1) Alat

pengumpul

data,seperti

format-format,

pedoman

observasi, pedoman wawancara, angket, catatan harian, daftar


46

nilai prestasi belajar, dan kartu konsultasi.


2) Alat penyimpanan data, seperti kartu pribadi, buku pribadi,
map, dan sebagainya.
3) Perlengkapan teknis, seperti buku pedoman, buku informasi,
paket bimbingan, blongko surat, alat-alat tulis, dan sebagainya.
c.

Prasarana
1) Ruangan bimbingan dan konseling, seperti ruang tamu, ruang
konsultasi, ruang diskusi, ruang dokumentasi dan sebainya.
2) Anggaran biaya untuk menunjang kegiatan layanan, seperti
anggaran untuk surat manyurat, transportasi, penataran,
pembelian alat-alat, dan sebagainnya. (Sukardi, 2002: 63)
3) Fasilitas dan pembiayaan merupakan aspek yang sangat
penting yang harus diperhatikan dalam suatu program
bimbingan

dan

konseling.

Adapun

aspek

pembiayaan

memerlukan perhatian yang lebih serius karena dalam


kenyataannya aspek tersebut merupakan salah satu factor
penghambat proses pelaksanaan bimbingan dan konseling.
(Nurihsan, 2006: 59).

47

BAB III
INTERNALISASI MATERI BIMBINGAN KONSELING

Menanamkan passion dan spiritual adalah salah satu upaya


meningkatkan kualitas terbaik bagi pembimbing dan konselor muslim dalam
menata jiwa, rasa, pikiran dan perilaku konseli (baca ummat) untuk menjalankan
kehidupan yang sehat dan menyehatkan. Mereka, para pembimbing atau konselor
muslim

adalah

barisan

pemegang

amanah

profesi

yang

harus

selalu

bertanggungjawab mengeluarkan manusia dari setiap kehidupan divergen


(keterpecahan) yang bersifat al-bathil dan al-munkar menuju kehidupan
konvergen (fokus) yang bersifat al-haq dan al-maruf. Sebab pada hakikatnya,
pembimbing dan konselor muslim merupakan juru pencerah bagi segenap
manusia yang telah diamanahkan Tuhan.
Seorang konselor adalah pribadi yang harus mampu menampilkan jati
dirinya secara utuh, tepat, dan dapat membangun hubungan antarpribadi
(interpersonal). Pribadi yang unik, harmonis, dinamis, persuasif dan kreatif
sehingga mampu menjadi motor penggerak bagi keberhasilan dalam melakukan
layanan bimbingan dan konseling yang menyelamatkan. Dalam hal ini, Corey
sebagai pemikir konseling dan therapi, menyebutkan tool yang paling penting
untuk dipakai dalam pekerjaan seorang konselor adalah dirinya sendiri sebagai
pribadi (our self as a person). Secara umum, Corey menegaskan bahwa para
konselor hendaknya mengalami sebagai konseli pada suatu saat, karena
pengenalan terhadap diri sendiri bisa menaikkan derajat kesadaran (self awarness)
konselor.
Pribadi konselor merupakan instrumen yang menentukan bagi adanya
hasil yang positif dalam proses konseling. Kondisi ini akan didukung oleh
keterampilan konselor dalam mewujudkan sikap dasar berkomunikasi dengan
konselinya. Pemaduan secara harmonis dua instrumen ini (pribadi dan
keterampilan) akan memperbesar peluang keberhasilan konselor. Sepakat dengan
beberapa pandangan pemikir konseling, Pribadi pembimbing dan konselor muslim
48

berdasarkan sifat hubungan helping meliputi: (1) Awareness of self and values
(kesadaran akan diri dan nilai). Pribadi pembimbing dan konselor muslim harus
menanam kesadaran tentang posisi nilai mereka sendiri di hadapan khaliq dan
sesama makhluq. Pembimbing dan konselor muslim harus mampu menjawab
dengan jelas pertanyaan-pertanyaan mengenai hal fundamental, yakni siapakah
saya? Apakah yang penting bagi saya? Apakah manfaat sosial dari apa yang
dilakukan? Mengapa saya harus menjadi pembimbing dan konselor?. Kesadaran
ini dapat membantu pembimbing dan konselor muslim dalam membentuk
kejujuran terhadap dirinya sendiri dan terhadap konseli mereka. Bahkan juga bias
membentuk pembimbing dan konselor menghindari perilaku memperalat secara
bertanggung jawab atau tidak etis terhadap konseli bagi kepentingan pemuasan
kebutuhan diri pribadi; (2) Awareness of cultural experience (kesadaran akan
pengalaman budaya). Suatu program latihan kesadaran diri yang terarah bagi
pembimbing dan konselor muslim mencakup pengetahuan tentang populasi
khusus konseli. Misal, jika seseorang telah menjalin hubungan dengan konseli
dalam masyarakat suku lain dengan latar belakang yang sangat berbeda,
pembimbing dan konselor muslim dituntut mengetahui lebih banyak lagi tentang
perbedaan pengalaman budaya. Kesadaran ini berguna dan penting bagi hubungan
helping yang efektif. Oleh karena, pembimbing dan Konselor professional
hendaknya mempelajari dan menguasai cirri-ciri khas budaya dan kebiasaan tiap
pribadu atau kelompok konseli; (3) Ability to analyze the helpers own feeling
(kemampuan untuk menganalisis kemampuan konselor sendiri). Observasi
terhadap diri pribadi sebagai pembimbing dan konselor muslim, yang harus
memiliki karakter berkepala dingin, terlepas dari perasaan-perasaan pribadi
mereka sendiri, dan mempunyai kesadaran untuk mengontrol perasaannya sendiri
agar terhindar dari sikap proyeksi yang lahir dari kebutuhan memperibadi; (4)
Ability to serve as model and influencer (kemampuan melayani sebagai teladan
dan pemimpin atau orang yang berpengaruh). Kemampuan ini penting terutama
berkaitan dengan kredibilitas pembimbing dan konselor muslim di mata
konselinya. Pembimbing dan Konselor muslim sebagai teladan atau model dalam
kehidupan sehari-hari adalah sangat diperlukan dalam proses konseling. Konselor
49

harus menampilkan perilaku beradab, matang, dewasa, dan hasanah dalam


kehidupan sehari-hari. Tampilan perilaku seperti ini dapat berdampak pada
efektifitas pemberian pengaruh yang baik kepada konseli dalam proses konseling;
(5) Altruism (sifat mendahulukan kepentingan orang lain) Pribadi altruis dari
pembimbing dan konselor muslim ditandai kesediaan untuk berkorban waktu,
tenaga, dan mungkin materi untuk kepentingan, kebahagiaan dan kesenangan
dalam konteks tugas penyelamatan orang lain (konseli). Pembimbing dan
Konselor muslim merasakan kepuasan tersendiri manakala dapat berperan
membantu orang lain dari pada diri sendiri; (6) Strong sense of ethics
(penghayatan etik yang kuat). Rasa etik pembimbing dan konselor muslim harus
menunjukkan rasa aman konseli dengan ekspektasi masyarakat. Pembimbing dan
konselor muslim harus memiliki kode etik untuk dihayati dan dipakai dalam
menumbuhkan kepercayaan dalam ruang lingkup layanan konseling, dan (7)
Responsibility (tanggung jawab). Tanggung jawab pembimbing dan konselor
muslim dalam upaya memberi bantuan yang akan diberikan kepada konseli harus
menjadi prioritas utama dalam tugas sosialnya. Akan tetapi, kalau upaya
pemberian bantuan tersebut diluar kapasitas dirinya, maka seorang pembimbing
dan konselor muslim harus bertanggungjawab mengupayakan referal kepada
yang ahli. Begitupun dalam menangani suatu kasus, para pembimbing dan
konselor muslim tidak boleh membiarkan kasus-kasus yang ditanganinya
terlunta-lunta tanpa penyelesaian.
Paparan mengenai kualitas dan karakteristik pribadi pembimbing dan
konselor muslim di atas, tentu tidak dapat dipenuhi secara utuh keseluruhan.
Namun, pembimbing dan konselor muslim tetap harus berupaya memenuhinya
sebanyak mungkin dengan tetap memiliki ciri pribadi sendiri yang khas (unik).
Dalam memenuhi kualitas dan karakteristik pribadi ideal tersebut, maka penulis
memandang seorang pembimbing dan konselor muslim harus senantiasa
menginternalisir nilai dan konsep kebaikan, yang harus dihidupkan dalam
kesehariannya ketika menjalankan tugas bimbingan dan konselingnya. diantara
nilai dan konsep kebaikan yang harus diinternalisir tersebut adalah passion dan
spiritual sebagai kompetensi pribadi yang harus dimiliki.
50

BAB III
PENUTUP

Perkembangan dunia pendidikan di Indonesia menyebabkan terjadinya


perubahan mendasar terhadap pelaksana bimbingan dan konseling di Sekolah.
Bimbingan dan konseling di sekolah merupakan satu kesatuan (integral)
dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah (Munandir:1993). Dalam
proses pembelajaran di Sekolah, selain membutuhkan guru mata pelajaran
dalam mengembangkan kemampuan kognitifnya, siswa juga membutuhkan
konselor untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang tidak bisa
diselesaikan menggunakan kemampuan kognitif sesuai dengan karakteristik
masing-masing siswa.
Pada dasarnya, bimbingan dan konseling dilakukan dalam bentuk upaya
pemahaman, pencegahan, pemeliharaan dan penyembuhan. Dalam hal ini,
Bimbingan mempunyai empat fungsi utama, yaitu fungsi pemahaman, fungsi
penyaluran, fungsi adaptasi dan fungsi penyesuaian.
Bimbingan dan konseling perkembangan di Sekolah menengah pada
dasarnya adalah membantu siswa agar mereka dapat memahami dirinya
sehingga mereka sanggup mengarahkan dirinya dan dapat bertindak secara
wajar sesuai dengan tuntutan dan keadaan lingkungan sekolah, keluarga, dan
masyarakat serta kehidupan pada umumnya.
Layanan bimbingan dan konseling dalam suatu program bimbingan dan
konseling yang dijabarkan dalam tiga kegiatan utama, yaitu layanan dasar
bimbingan, layanan responsif, dan layanan perencanaan individual. Sedangkan
strategi bimbingan dan konseling dapat berupa konseling individual,
konsultasi, konseling kelompok dan pengajaran remedial.
Konselor, guru, administrator / kepala sekolah, orang tua siswa, siswa,
semuanya berperan sebagai narasumber dalam program bimbingan. Semua
pihak yang terlibat, diharapkan dapat saling mendukung dan bertindak sesuai
dengan proporsinya masing-masing. Agar program yang dilaksanakan dapat
berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
51

DAFTAR PUSTAKA

https://imronfauzi.wordpress.com/2008/06/12/personel-dalam-pelaksanaanbimbingan-dan-konseling/ diakses pada tanggal 23 April 2016 pukul 17:59


http://trisnawati962.blogspot.co.id/2012/12/pentingnya-bimbingan-konselingdi.html ,diakses pada tanggal 23 April 2016 pukul 19:50
http://wahana-mahasiswa.blogspot.co.id/2012/05/strategi-layanan-bimbingandan.html
http://luthfilululum.blogspot.co.id/2015/02/resume-bk-layanan-bk.html
diakses pada tanggal 23 April 2016 pukul 20. 55

52