Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH

BIMBINGAN BAGI PESERTA DIDIK BERKEBUTUHAN KHUSUS

MATA KULIAH : BIMBINGAN DAN KONSELING


DOSEN : UST. SAPARI. M.Pd
SEMESTER : VI ( ENAM )
DISUSUN OLEH :

1. YAZID
2. HARI SUSANTO

NIM

01301040

Sekolah Tinggi Agama Islam As-Syukriyyah Tangerang

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah pemakalah panjatkan kehadirat Allah SWT. atas segala


rahmat dan hidayah-Nya pada kita semua, serta tak lupa sholawat serta salam kami
curahkan pada junjungan Nabi Besar Nabi Muhammad SAW. akhirnya penulis
mampu menyelesaikan makalah yang berkaitan dengan anak berkebutuhan khusus.
Penulisan makalah ini ditujukan agar lebih memahami klasifikasi tentang anak
berkebutuhan khusus, serta karakteristiknya. Apa yang pemakalah sajikan dalam
penulisan ini merupakan sebuah pengetahuan tentang anak berkebutuhan khusus.
Terima kasih pemakalah ucapkan kepada dosen pengampu Ust.Sapari M.Pd,
selaku pembimbing mata kuliah Bimbingan Konseling, dan pemakalah mengucapkan
terima kasih kepada teman-teman yang memberikan support dan arahan dalam
membantu penyusunan makalah ini.
Pemakalah mengucapkan mohon maaf apabila dalam makalah ini banyak
kekurangan maupun kesalahan, pemakalah mengharapkan saran dan kritik dari
pembaca agar disampaikan kepada pemakalah sebagai bahan evaluasi pemakalah.
Tangerang, 01 mei 2016
Hormat kami,

Pemakalah

DAFTAR ISI
Kata pengantar ...................................................................................................... i
Daftar isi .............................................................................................................. ii
BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar belakang .................................................................................................... 1

B. Rumusan masalah................................................................................................ 1
C.

Tujuan penulisan ................................................................................................ 1


BAB II
PEMBAHASAN

A.

Pengertian anak berkebutuhan khusus ................................................................. 2

B.

Karakteristik anak berkebutuhan khusus .............................................................. 2

C.

Pendidikan inklusi ............................................................................................... 6

D.

Klasifikasi anak berkebutuhan khusus .................................................................. 8


BAB III
PENUTUP

A.

Kesimpulan....................................................................................................... 22

B.

Saran .............................................................................................................. 22
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 23

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Beberapa jumlah siswa yang diidentifikasi sebagai siswa yang mengalami
hambatan khusus berasal dari kelompok minoritas-etnis dan keluarga-keluarga
berpenghasilan rendah. Dan secara historis, anggota dari beberapa kelompok
minoritas, kurang terwakili dalam program-program yang menyangkut orang-orang
berbakat.
Sebagian besar ahli berpendapat bahwa perbedaan dalam kondisi lingkungan
turut memainkan peran terhadap besarnya jumlah siswa dari berbagai latar
belakang yang mengikuti pendidikan khusus. Sebagai contoh, siswa yang berasal
dari sejumlah kelompok minoritas-etnis cenderung hidup dalam lingkungan keluarga
berpenghasilan rendah, dimana jaminan kesehatan yang kurang memadai,
lingkungan yang tercemar, tekanan hidup yang tinggi, dan kurangnya akses
memperoleh

layanan

pendidikan

prasekolah

dapat

berkontribusi

terhadap

kemampuan intelektual yang lebih rendah dan masalah perilaku yang lebih serius.
Berbagai kelompok yang tidak seimbang dalam berbagai kategori hambatan
khusus menimbulkan dilema bagi pendidik. Di satu sisi, kita tidak ingin
menggunakan kategori seperti keterbelakangan mental atau gangguan emosi dan
perilaku untuk siswa-siswa yang perilaku dan performanya dikelas mungkin terutama
disebabkan kondisi lingkungan tempat tinggal yang tidak mendukung. Di sisi lain,
kita juga tidak ingin siswa ini tidak memperoleh layanan pendidikan khusus yang
mungkin dapat sangat membantu mereka agar dapat belajar dan berhasil lebih baik
dalam jangka panjang.
B.

Rumusan Masalah

1.

Memahami klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus.

2.

Memahami Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus.

3.

Memahami Pendidikan Inklusi bagi Anak Berkebutuhan Khusus.

C.

Tujuan Penulisan

1.

Dapat menjelaskan tentang Anak Berkebutuhan Khusus

2.

Dapat memahami Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus


4

3.

Dapat mengerti tentang Pendidikan Inklusi bagi Anak Berkebutuhan Khusus


BAB II
PEMBAHASAN

A.

Pengertian Anak Berkebutuhan Khusus


Anak berkebutuhan khusus adalah mereka yang mempunyai kebutuhan baik
permanen maupun sementara untuk memperoleh pelayanan pendidikan yang
disesuaikan yang disebabkan oleh :
1. Kondisi sosial-emosi
2. Kondisi ekonomi
3. Kondisi politik
4. Kelainan bawaan maupun yang didapat kemudian. 1
Anak berkebutuhan khusus menurut ahli :

1.

Mulyono (2006) : anak berkebutuhan khusus dapat dimaknai dengan anak-anak


yang tergolong cacat atau menyandang ketentuan dan juga anak yang berbakat.

2.

Heward : anak berkebutuhan khusus adalah anak dngan karakteristik khusus


yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada
ketidakmampuan mental, emosi atau fisik.2

B.

Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus


Anak berkebutuhan khusus yang dimaksud di sini adalah anak yang mengalami
penyimpangan sedemikian rupa dari anak normal baik dalam hal karakteristik
mental, fisik, sosial, emosi ataupun kombinasi dari hal-hal tersebut, sehingga
memerlukan layanan pendidikan khusus supaya dapat mengembangkan potensinya
seoptimal mungkin. Jelas dari definisi itu anak berkebutuhan khusus memerlukan
layanan/program khusus dalam pendidikannya supaya potensinya/kemampuannya
dapat berkembang secara optimal. Dalam pembahasan ini anak berkebutuhan
khusus hanya dibatasi dengan lima anak berkebutuhan khusus diantaranya ; anak
tunanetra, anak tunarungu, anak terbelakang, anak tunadaksa, dan anak tunalaras.
Dalam segi perkembangan intelektual rata-rata semua jenis anak berkebutuhan
khusus terhambat bahkan ada yang terlambat sekali. Hal ini tergantung tingkat

1Drs.hidayat,dkk,Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus, Bandung : Upi Press


2Winda, andria, dalam situs nya anak berkebutuhan khusus (diakses pada 29 April 2016 ))

intensitas

kelainannya

dan

derajat

kedalaman

pengalaman

yang

diberikan

kepadanya.
Dalam segi sosialisasi pada umumnya mereka mengalami kesulitan dalam
menyesuaikan diri dengan lingkungannya, meskipun di balik itu mengalami
kemudahan dalam menyesuaikan dengan sesama anak berkebutuhan khusus yang
sama kelainannya. Kesulitan menyesuaikan diri dapat terjadi karena adanya rasa
rendah diri yang disebabkan adanya kelainan ataupun keterbatasan dalam
kesanggupannya menyesuaikan diri.
Dilihat dari segi stabilitas emosinya, nampak bahwa pada umumnya emosi
kurang stabil, mudah putus asa, tersinggung, konflik diri dan sebagainya. Hal ini
muncul

diduga

karena

keterbatasannya

di

dalam

gerak,

wawasan

dan

mengendalikan diri.
Sedangkan dalam segi komunikasi juga mengalami hambatan atau gangguan
terutama bagi mereka yang mempunyai kelainan cukup berat, meskipun terbantu
dengan kemampuan-kemampuan lainnya, misalnya : yang mengalami gangguan
penglihatan

dapat

diatasi

dengan

pendengaran

atau

perabaan,

gangguan

pendengaran dapat diatasi dengan penglihatannya dan sebagainya.


1.

Karakteristik dan Permasalahan Anak Tunanetra

Yang dimaksud dengan anak tunanetra adalah anak yang mengalami penyimpangan
atau kelainan indera penglihatan baik kelainan itu bersifat berat maupun ringan,
sehingga memerlukan pelayanan khusus dalam pendidikannya untuk dapat
mengembangkan potensinya seoptimal mungkin.
Karena kekurangan daya penglihatan dan bahkan tidak adanya kemampuan melihat
sama sekali, anak tunanetra memiliki kekhasan tingkah laku dan kepribadian serta
kondisi fisik lainnya yang tidak dimiliki oleh individu yang awas, sehingga pada
umumnya mereka tidak dapat berkembang setaraf dengan orang awas.
Karakteristik anak tunanetra di antaranya sebagai berikut :

Anak

tunanetra

tidak

mengharapkan

simpati

dari

orang

lain,

tetapi

mengharapkan diperlukan sebagaimana orang lain dan memperoleh kesempatan


untuk mengembangkan diri agar dapat mandiri di kemudian hari.

Dia tidak mampu mengamati bagaimana orang lain melakukan sesuatu.

Pada umumnya mempunyai kepribadian yang relatif berbeda dengan anak awas,
misalnya merasa rendah diri, hidupnya tidak terarah dan tak bermakna, mudah
mengalami frustasi dan sebagainya.

Pada umumnya memiliki perbedaan yang cukup tajam di dalam menanggapi dan
mereaksi lingkungan.
Dari karakteristik yang dimilikinya muncullah beberapa jenis masalah yang
dihadapi individu terutama yang dihadapi oleh murid-murid sekolah. Masalah yang
dimaksud sekurang-kurangnya dapat digolongkan sebagai berikut :

1)

Masalah pengajaran
Misalnya : kesulitan dalam menangkap pelajaran yang verbalistik, menggunakan
buku, kesulitan dalam hal menuli dan membaca, dll.

2)

Masalah pendidikan
Misalnya, susah dalam memilih ektrakulikuler yang sesuai dengan bakat, dll.

3)

Masalah gangguan emosi


Misalnya, perasaan mudah tersinggung, mudah marah, dll.

4)

Masalah penyesuain diri


Misalnya, susah menyesuaikan diri dengan yang lain, dll.

2.

Karakteristik dan Permasalahan Anak Tunarungu


Seseorang dikatakan tunarungu bila seseorang itu tidak memiliki atau masih memiliki
sisa pendengaran sedemikian rendahnya sehingga tidak dapat berfungsi untuk
kehidupan sehari-hari sebagaimana pada umumnya baik dengan atau tanpa
menggunakan alat bantu mendengar.
Berbicara masalah anak tunarungu tidak dapat dipisahkan dengan anak tunawicara.
Karena secara faktual antara keduanya ini sulit diditeksi dalam waktu singkat,
meskipun yang selalu dapat dilihat itu ketidakmampuannya dalam berkomunikasi.

a.

Karakteristik fisik, meliputi :


Cara berjalannya kaku dan agak membungkuk karena daya keseimbangan
terganggu;

Gerakkan kaki dan tangannya lincah/cepat sebab sering digunakan untuk


berkomunikasi dengan lingkungannya, sebagai pengganti bahasa lainnya;

Gerakan matanya cepat dan bringas, apabila organ ini tidak dijaga dengan baik
dapat berakibat kemampuan melihat menurun karena selalu digunakan sebagai
pengganti alat pendengarannya;

Kemampuan pernapasannya pendek-pendek terganggu, sehingga tidak mampu


berbahasa dengan baik.

b.

Karakteristik dalam segi bicara/bahasa, meliputi :


o Biasanya individu yang tuli juga mengalami ketidakmampuan dalam berbahasa;
o Tunarungu yang diperoleh sejak lahir dapat belajar bicara dengan suara normal;
o Dia kurang menguasai irama dan gaya bahasa;
o Dia mengalami kesulitan dalam berbahasa verbal dan pasif dalam berbahasa.

c.

Karakteristik kepribadiannya, meliputi :


o Anak tunarungu yang tidak berpendidikan cenderung murung, penuh curiga.
o Lingkungan yang menyenangkan dan memanjakan dapat berpengaruh terhadap
ketidakmampuan dalam penyesuaian mental maupun emosi; dan
o Anak

tunarungu

menunjukkan

kondisi

yang

lebih

neurotik,

mengalami

ketidakamanan, dan berkepribadian tertutup ( introvert ).


d.

Karakteristik emosi dan sosialnya, meliputi :


o Suka menafsirkan secara negatif
o Kurang mampu dalam mengendalikan emosinya dan sering emosinya bergejolak
o Memiliki rasa cemburu dan merasa di perlakukan tidak adil serta sulit bergaul.
Masalah-masalah lainnya, sebagai berikut :

1)

Masalah komunikasi

2)

Masalah pribadi

3)

Masalah pengajaran atau kesulitan belajar

4)

Masalah penggunaan waktu terluang

5)

Masalah pembinaan keterampilan dan pekerjaan

3.

Karakteristik dan Permasalahan Anak Tunagrahita


Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami keterbelakangan kecerdasan dan
kekurangmatangan aspek mental lainnya dan sosialnya sedemikian rupa, yang
terjadi selama masa perkembangan, sehingga untuk mencapai perkembangan yang
optimal diperlukan pelayanan dan pengajaran dengan program khusus.

a.

Karakteristik mental, meliputi :


8

Mereka menunjukkan kecenderungan menjawab dengan ulangan respon


terhadap pertanyaan yang berbeda;

Mereka tidak mampu memberikan kritik;

Kemampuan asosiasinya terbatas;

Kapastitas inteleknya sangat rendah.

b.

Karakteristik fisik, meliputi :


Mereka cenderung memiliki penyimpangan fisik dari bentuk rata-rata. Misalnya;
adanya ketidaksamaan/ketidakserasian anatar kepala dan wajah (muka), dari ukuran
besar kepala ada yang besar atau ada yang kecil, dll.

Biasanya mereka mengalami hambatan bicara dan berjalan.

Pemeliharaan diri kurang (terutama yang tingkat bawah)

c.

Karakteristik sosial-emosi, meliputi :

Ada kecenderungan tidak mampu menyesuaikan diri.

Minat permainan mereka tidak cocok dengan anak yang seusianya.

Memiliki problem emosi dan tingkah laku.


Kemungkinan-kemungkinan masalah yang dihadapi anak terbelakang dalam konteks
pendidikan, diantaranya dapat disebutkan sebagai berikut :

1)

Masalah kesulitan dalam kehidupan sehari-hari

2)

Masalah kesulitan belajar

3)

Masalah penyesuaian diri

4)

Masalah penyaluran ke tempat kerja

5)

Masalah gangguan kepribadian dan emosi

4.

Karakteristik dan Permasalahan Anak Tunadaksa


Yang dimaksud dengan anak tunadaksa adalah anak yang mempunyai kelainan
ortopedik atau salah bentuk atau berupa gangguan dari fungsi normal pada tulang,
otot, dan persendian yang mungkin karena bawaan sejak lahir, penyakit atau
kecelakaan, sehingga apabila mau bergerak atau berjalan perlu alat bantu.

a.

Karakteristik kepribadian, meliputi :

Mereka yang cacat sejak lahir tidak pernah memperoleh pengalaman.

Tidak ada hubungan antara pribadi yang tertutup dengan lamanya kelainan fisik
yang diderita.
9

Adanya kelainan fisik tidak mempengaruhi kepribadian atau ketidakmampuan


individu dalam menyesuaikan diri.

b.

Karakteristik emosi-sosial, meliputi :


Kegiatan-kegiatan yang tidak dapat dijangkau oleh anak tunadaksa dapat
berakibat timbulnya emosi.

Menyingkirkan diri dari keramaian.

Cenderung acuh ketika dikumpulkan pada anak-anak normal.

c.

Karakteristik intelegensi, meliputi :

Tidak ada hubungan antara tingkat kecerdasan dengan kecacatan, tetapi ada
beberapa kecenderungan yakni adanya penurunan sedemikian rupa kecerdasan
individu bila kecacatan meningkat.

d.

IQ anak tunadaksa rata-rata normal.


Karakteristik fisik, meliputi :
Biasanya disamping mengalami cacat tubuh, ada kecenderungan mengalami
gangguan-gangguan lain, misalnya: sakit gigi, berkurangnya daya pendengaran, dll.

Kemampuan motoriknya terbatas.


Penggolongan masalah lainnya, antara lain :

1)

Masalah kesulitan belajar

2)

Masalah sosialisasi

3)

Masalah kepribadian

4)

Masalah keterampilan

5)

Masalah latihan gerak3

C.

Pendidikan Inklusif
Pendidikan inklusif adalah pendidikan untuk :

1.
2.

Semua anak dan orang dewasa yang butuh belajar


Anak-anak daan orang dewasa yang mempunyai kemampuan tinggi seperti
talenta dan anak cerdas

3.

Orang-orang dengan hambatan fisik maupun psikis baik yang permanen maupun
sementara

seperti

gangguan

emosional

dan

tingkah

laku,

gangguan

penglihatan,pendengaran,kesulitan belajar,disfungsi otak,gangguan motorik dsb


3Drs.hidayat,dkk,Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus, Bandung : Upi Press

10

4.

Orang-orang yang terpinggirkan seperti anak jalanan, pekerja anak, dan pemakai
bahan minoritas
kelompok sasaran dalam pendidikan inklusif itu bukan anak yang berkelainan
saja tapi meliputi sebagian besar anak yang belajar. oleh karenanya sekolah
hendaknya mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi fisik, intelektual,
sosial, emosi, bahasa, ataupun kondisi lainnya. Sekolah harus mencari cara agar
berhasil mendidik semua anak, termasuk mereka yang berkebutuhan pendidikan
khusus.4

D. Klasifikasi Anak Berkebutuhan Khusus


A.

Anak Berkebutuhan Khusus Temporer


Anak berkebutuhan khusus yang bersifat sementara (temporer) adalah anak
yang mengalami hambatan belajar dan hambatan perkembangan disebabkan oleh
faktor-faktor eksternal. Misalnya anak yang yang mengalami gangguan emosi karena
trauma akibat diperkosa sehingga anak ini tidak dapat belajar. Pengalaman
traumatis seperti itu bersifat sementara tetapi apabila anak ini tidak memperoleh
intervensi yang tepat boleh jadi akan menjadi permanen. Anak seperti ini
memerlukan layanan pendidikan kebutuhan khusus, yaitu pendidikan yang
disesuikan dengan hambatan yang dialaminya tetapi anak ini tidak perlu dilayani di
sekolah khusus. Di sekolah biasa banyak anak-anak yang mempunyai kebutuhan
khusus yang bersifat temporer, dan mereka memerlukan pendidikan yang
disesuaikan yang disebut pendidikan kebutuhan khusus.

B.

Anak Berkebutuhan Khusus Permanen


Anak berkebutuhan khusus yang bersifat permanen adalah anak-anak yang
mengalami hambatan belajar dan hambatan perkembangan yang bersifat internal
dan akibat langsung dari kondisi kecacatan, yaitu seperti anak yang kehilangan
fungsi penglihatan, pendengaran, gannguan perkembangan kecerdasan dan kognisi,
gangguan gerak (motorik), gangguan iteraksi-komunikasi, gangguan emosi, sosial
dan tingkah laku. Dengan kata lain anak berkebutuhan khusus yang bersifat
permanent sama artinya dengan anak penyandang kecacatan. Anak berkebutuhan
khusus permanen meliputi:

1.

Anak dengan Gangguan Penglihatan (Tunanetra)


4Ibid, hlm 2

11

Secara umum tunanetra dikelompokkan menjadi buta dan kurang lihat. Sebagian
ahli mengelompokkannya menjadi kurang lihat (low vision), buta (blind), dan buta
total (totally blind). Anak yang memiliki kerusakan ringan pada penglihatannya
(seperti myopia dan hypermetropia ringan) masih dapat dikoreksi dengan bantuan
kacamata dan bisa mengikuti pendidikan seperti anak lainnya, sehingga tidak
dikelompokkan pada tunanetra.
Ketunanetraan dapat diklasifikasikan berdasarkan 3 hal, yaitu tingkat ketajaman
penglihatan,saat terjadinya ketunanetraan serta adaptasi pendidikannya.
a.

Berdasarkan Tingkat Ketajaman Penglihatan

1)

Tunanetra dengan ketajaman penglihatan 6/20m-6/60m atau 20/70 feet-20/200


feet disebut tunanetra kurang lihat (low vision). Pada taraf ini para penderita masih
mampu melihat dengan bantuan alat khusus.

2)

Tunanetra dengan ketajaman penglihatan antara 6/60m atau 2/200 feet atau
kurang, dikatakan tunanetra berat atau secara umum dapat dikatakan buta (blind).
Kelompok ini masih dapat diklasifikasikan lagi menjadi tunanetra yang masih dapat
melihat gerakan tangan dan tunanetra yang hanya dapat membedakan terang dan
gelap.

3)

Tunanetra yang memiliki visus 0. Pada taraf yang terakhir ini, anak sudah tidak
mampu lagi melihat rangsangan cahaya atau dapat dikatakan tidak dapat melihat
apapun dan disebut buta total.

b.

Berdasarkan Saat Terjadinya Ketunanetraan

1)

Tunanetra sebelum dan sejak lahir


Kelompok ini masih belum mempunyai konsep penglihatan. Oleh karena itu,
peran orang tua sangat besar untuk melatih penggunaan indra-indra yang masih
dimilikinya.

2)

Tunanetra batita (di bawah 3 tahun)


Konsep penglihatan yang telah dimiliki lama kelamaan akan hilang sehingga kesankesan visual atau konsep-konsep tentang benda atau lingkungan yang dimilikinya
tidak terlalu bermanfaat bagi kehidupan selanjutnya. Oleh karena itu, orang-orang di

12

sekitarnya perlu membantu mengulang kembali segala sesuatu yang telah


dimengerti anak, saat ia masih dapat melihat.
3)

Tunanetra balita (3-5 tahun)


Konsep penglihatan akan tetap terbentuk dengan cukup berarti sehingga akan
menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan langkah-langkah pendidikannya.
Peran orang tua dan guru TK sangat besar artinya dalam membina dan
mengarahkan konsep yang telah dimiliki.

4)

Tunanetra pada usia sekolah (6-12 tahun)


Konsep penglihatan telah terbentuk dan mempunyai kesan-kesan visual yang
banyak dan bermanfaat bagi perkembangan pendidikannya. Namun demikian,
mereka harus tetap mendapat perhatian khusus dari orang tua dan gurunya dalam
menempuh pendidikannya karena mereka cenderung mengalami guncangan jiwa.
Oleh karena itu, tugas para guru adalah menyadarkan mereka agar mau menerima
kenyatan sehingga anak dapat berkembang dan menambah pengalamannya dalam
ketunanetraannya.

5)

Tunanetra remaja (13-19 tahun)


Anak remaja sudah memiliki kesan-kesan visual yang sangat mendalam. Kesan
ini akan bermanfaat dalam mendukung perkembangan kehidupan selanjutnya.
Namun, ketunanetraan pada usia remaja dapat menimbulkan guncangan jiwa yang
sangat berat karena terjadi konflik batin dan jasmani.

6)

Tunanetra dewasa (19 tahun ke atas)


Pada umumnya di usia dewasa ini mereka sudah memiliki keterampilan dan
kemungkinan pekerjaan yang diharapkan untuk kelangsungan hidupnya dan
keluarganya. Ketunanetraan yang dialaminya menjadi pukulan yang sangat berat
dan menimbulkan guncangan jiwa atau putus asa. Oleh karena itu, mereka
hendaknya mendapatkan layanan dan bimbingan baik secara jasmani, maupun
rohani secara khusus.

c.

Berdasarkan Adaptasi Pendidikan


Klasifikasi ini berdasarkan ketajaman penglihatan. Klasifikasi ini dikemukakan oleh
Kirk (1989: 348-349), yaitu sebagai berikut :

1)

Ketidakmampuan melihat taraf sedang (moderate visual disability)


13

Pada taraf ini, mereka dapat melakukan tugas tugas visual yang dilakukan
oleh orang awas dengan menggunakan alat bantu khusus dan dibantu dengan
pemberian cahaya yang cukup.
2)

Ketidakmampuan melihat taraf berat (severe visual disability)


Pada taraf ini, mereka memiliki kemampuan penglihatan yang kurang baik
atau kurang akurat meskipun dengan menggunakan alat bantu visual dan modifikasi
sehingga mereka membutuhkan lebih banyak waktu dan energi dalam melakukan
tugas- tugas visual.

3)

Ketidakmampuan melihat taraf sangat berat (profound visual disability)


Pada taraf ini, mereka mendapat kesulitan untuk melakukan tugas-tugas visual yang
lebih detail, seperti membaca dan menulis huruf awas. Dengan demikian, mereka
tidak dapat menggunakan penglihatannnya sebagai alat pendidikan sehingga indra
peraba

dan

pendengaran

memegang

peranan

pentimg

dalam

menempuh

pendidikannya.
2.

Anak dengan Gangguan Pendengaran dan / Wicara (Tunarungu)


Anak dengan gangguan pendengaran sering disebut tunarungu. Istilah
tunarungu dirasa lebih halus daripada tuli. Klasifikasi tunarungu:

a.

Berdasarkan tingkat kehilangan pendengaran, ketunarunguan dapat


diklasifikasikan sebagai berikut :

1)

Tunarungu ringan (mild hearing loss) anatara 27-40 dB.


Siswa yang mengalami kondisi ini sulit mendengar suara yang jauh sehingga
membutuhkan tempat duduk yang strategis.

2)

Tunarungu sedang (moderate hearing loss) anatara 41-55 dB.


Ia dapat mengerti percakapan dari jarak 3-5 feet secara berhadapan (face to face),
tetapi tidak dapat mengikuti diskusi kelas. Ia membutuhkan alat bantu dengar serta
terapi bicara.

3)

Tunarungu agak berat (moderately severe hearing loss) antara 56-70dB.


Ia hanya dapat mendengar suara dari jarak dekat sehingga ia perlu menggunakan

hearing aid.
4)

Tunarungu berat (severe hearing loss) antara 71-90dB.

14

Ia hanya dapat mendengar suara suara yang keras dari jarak dekat. Siswa
tersebut membutuhkan pendidikan khusus secara intensif, alat bantu dengar, serta
latihan untuk mengembangkan kemampuan bicara dan bahasanya.
5)

Tunarungu berat sekali (profound hearing loss)


Pada kondisi ini mengalami kehilangan pendengaran lebih dari 90dB. Mungkin ia
masih mendengar suara yang keras, tetapi ia lebih menyadari suara melalui
getarannya (vibrations) daripada pola suara.

b.

Berdasarkan saat terjadinya, ketunarunguan dapat diklasifikasikan:

1)

Ketunarunguan prabahasa (prelingual deafness), yaitu kehilangan pendengaran


yang terjadi sebelum kemampuan bicara dan bahasa berkembang.

2)

Ketunarunguan

pascabahasa

(post

lingual

deafness),

yaitu

kehilangan

pendengaran yang terjadi beberapa tahun setelah kemampuan bicara dan bahasa
berkembang.
c.

Berdasarkan letak gangguan pendengaran secara anatomis, ketunarunguan


dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1)

Tunarungu tipe konduktif, yaitu kehilangan pendengaran yang disebabkan oleh


terjadinay kerusakan pada telinga bagian luar dan tengah yang berfungsi sebagai
alat konduksi atau pengantar getaran suara menuju telinga bagian dalam.

2)

Tunarungu tipe sensorineural, yaitu tunarungu yang disebabkan oelh terjadinya


kerusakan pada telinga dalam serta saraf pendengaran (nervus chochlearis).

3)

Tunarungu tipe campuran yang merupakan gabungan antara tipe konduktif dan
sensorineural, artinya kerusakan terjadi pada telinga luar / tengah dengan telinga
dalam/saraf pendengaran.

d.
1)

Berdasarkan etiologi atau asal usulnya, ketunarunguan dibagi menjadi :


Tunarungu endogen, yaitu tunarungu yang disebabkan oleh faktor genetik
(keturunan).

2)

Tunarungu eksogen, yaitu tunarungu yang disebabkan oleh faktor nongenetik


(bukan keturunan).

15

3.

Anak dengan Kelainan Kecerdasan di bawah Rata-rata (Tunagrahita)


Anak dengan kelainan kecerdasan di bawah rata rata sering disebut dengan
istilah tunagrahita. Klasifikasi tunagrahita yang dikemukakan oleh AAMD (Halaman,
1982:43) sebagai berikut:

a.

Mild mental retardation (tunagrahita IQ-nya 70 55 ringan)

b.

Moderate mental retardation (tunagrahita IQ-nya 55 40 sedang)

c.

Severe mental retardation (tunagrahita IQ-nya 40 25 berat)

d.

Profound mental retardation (tunagrahita IQ-nya 25 ke bawah) (sangat berat).


Pengelompokkan tunagrahita berdasarkan kelainan jasmani (tipe klinis) :

a.

Down Syndrome(Mongoloid)
Anak tunagrahita jenis ini disebut demikian karena memiliki raut muka menyerupai
orang mongol dengan mata sipit dan miring, lidah tebal suka menjulur keluar,
telinga kecil, kulit kasar, susunan gigi kurang baik.

b.

Kretin (Cebol)
Anak ini memperlihatkan ciri-ciri, seperti badan gemuk dan pendek, kaki dan tangan
pendek dan bengkok, kulit kering, tebal dan keriput, rambut kering, lidah dan bibir,
kelopak mata, telapak tangan dan kaki tebal, pertumbuhan gigi lambat.

c.

Hydrocephal
Anak ini memiliki ciri -ciri kepala besar, raut muka kecil, pandangan dan
pendengaran tidak sempurna, mata kadang-kadang juling.

d.

Microcephal
Anak ini memiliki ukuran kepala yang kecil.

e.

Macrocephal
Anak ini memiliki ukuran kepala yang besar dari ukuran normal.

4.
a.

Anak dengan kecerdasan dan bakat istimewa (gifted and talented)


Cerdas istimewa (gifted IQ 140-179 and genius IQ 180 ke atas) anak dengan IQ
di atas rata-rata.

Gifted, yang termasuk dalam golongan ini yaitu mereka yang tidak jenius, tetapi
menonjol dan terkenal. Anak cerdas istimewa memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

16

1)

Membaca pada usia lebih muda, lebih cepat, dan memiliki perbendaharaan kata
yang luas.

2)

Memiliki rasa ingin tahu yang kuat, minat yang cukup tinggi.

3)

Berinisiatif, kreatif, dan original dalam menunjukkan gagasan.

4)

Mampu memberikan jawaban-jawaban atau alasan yang logisi, sistematis dan


kritis.

5)

Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu yang panjang, terutama terhadap


tugas atau bidang yang diminati.

6)

Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi.

7)

Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah.

Genius, pada kelompok ini bakat dan keistimewaannya telah tampak sejak kecil.
Misalnya, umur 2 tahun mulai belajar membaca dan pada umur empat tahun belajar
bahasa asing. Kelompok ini mempunyai kecerdasan yang sangat luar biasa.
Walaupun tidak sekolah, mereka mampu menemukan dan memecahkan masalah.
Jumlahnya sangat sedikit, namun terdapat semua ras dan bangsa, semua jenis
kelamin, serta dalam semua tingkatan ekonomi. Contoh orang yang jenius, antara
lain: John Stuart Mill (IQ 200), Francis Galton (IQ 200), dan Goethe (IQ 185).
Menurut Francis Galto Goethe
Ciri-cirianakjenius:
a)

Punya kemampuan bernalar yang bagus.

b)

Bisa belajar dengan cepat.

c)

Punya perbendaharan kata yang luas.

d)

Punya kemampuan mengingat yang bagus.

e)

Bisa konsentrasi lama pada hal-hal yang menarik bagi dirinya.

f)

Sensitif perasaannya dan mudah merasa tertusuk.

g)

Cepat menunjukkan rasa peduli.

h)

Perfeksionis dan intensif.

b.

Bakat istimewa (talented) anak dengan bakat khusus (akademik atau non
akademik.

17

Anak yang memiliki potensi kecerdasan istimewa (gifted) dan anak yang
memiliki bakat istimewa (talented) adalah anak yang memiliki potensi kecerdasan
(intelegensi), kreativitas, dan tanggung jawab terhadap tugas (task commitment) di
atas anak-anak seusianya (anak normal), sehingga untuk mengoptimalkan
potensinya, diperlukan pelayanan pendidikan khusus. Anak cerdas dan berbakat
istimewa disebut sebagai gifted & talented children.
Bakat khusus akademik yaitu bakat yang sejak awal sudah ada yang berkaitan
dengan intelektual, seperti bakat dalam mata pelajaran matematika, bakat bidang
bahasa dan bakat ilmu.
Bakat khusus non akademik yaitu bakat yang sejak awak sudah ada dan terarah
pada suatu lapangan yang terbatas, seperti bakat musik, bakat melukis, dan bakat
seni.
5.

Anak dengan gangguan anggota gerak (tunadaksa).


Tunadaksa adalah anak yang mengalami kelainan atau cacat yang menetap pada
anggota gerak (tulang, sendi, otot). Pengertian anak Tunadaksa bisa dilihat dari segi
fungsi fisiknya dan dari segi anatominya.Dari segi fungsi fisik, tunadaksa diartikan
sebagai seseorang yang fisik dan kesehatanya terganggu sehingga mengalami
kelainan di dalam berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Ciri-ciri anak tunadaksa
dapat dilukiskan sebagai berikut:

a)

Jaritangankakudantidakdapatmengenggam.

b)

Adabagiananggotagerak yang tidaksempurna/lebihkecildaribiasa.

c)

Kesulitandalamgerakan (tidaksempurna, tidaklentur, bergetar)

d)

Terdapatcacatpadaanggotagerak

e)

Anggotageraklayu, kaku, lemah/lumpuh.


Anak dengan gangguan anggota gerak (tunadaksa), contohnya:

Anak layuh anggota gerak tubuh (polio)

Anak dengan gangguan fungsi syaraf otak (cerebral palsy)

6.

Anak Tunalaras (anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku).


Anak Tunalaras (anak yang mengalami gangguan emosi dan prilaku) memiliki
ciri-ciri, diantaranya:

a.

Cenderung membangkang.
18

b.

Mudahterangsangemosinya/emosional/mudahmarah.

c.

Seringmelakukantindakanagresif, merusak, mengganggu.

d.

Seringbertindakmelanggarnormasosial/normasusila/hukum.

e.

Cenderungprestasibelajardanmotivasirendah, sering bolos, jarangmasuksekolah.


Anakdengangangguanperilakudanemosi, dibagi menjadi dua, yaitu:

a.

Anakdengangangguanperilaku

1)

Anakdengangangguanperilakutarafringan

2)

Anak dengan gangguan perilaku taraf sedang

3)

Anak dengan gangguan perilaku taraf berat

b.

Anakdengangangguanemosi

1)

Anak dengan gangguan emosi taraf ringan

2)

Anak dengan gangguan emosi taraf sedang

3)

Anak dengan gangguan emosi taraf berat

7.

Anak Dengan Kesulitan Belajar Spesifik (specific learning disability)


Menurut Federal law atau hukum federal (IDEA, 1997): Istilah kesulitan belajar
spesifik menerangkan semua anak yang mengalami gangguan pada satu atau lebih
proses psikologis dasar yang melibatkan pemahaman atau penggunaan bahasa, lisan
atau tulisan dimana gangguan yang terjadi dapat termanifestasikan menjadi
kemampuan yang tidak sempurna untuk mendengar, berpikir, berbicara, membaca,
menulis, mengeja, atau mengerjakan perhitungan matematika. Menurut Association
for Children and Adult with Learning Disability (ACALD) Kesulitan belajar spesifik
adalah suatu kondisi kronis yang diduga bersumber dari faktor neurologis yang
secara selektif mengganggu perkembangan, integrasi dan /atau kemampuan verbal
dan/atau non verbal.
Berdasarkan pengertian-pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa
kesulitan belajar spesifik meupakan kelainan sistem saraf yang dialami oleh
seseorang yang mengakibatkan pola pertumbuhan yang tidak seimbang dan
kelemahan pada proses syaraf, sehingga akan mengakibatkan seseorang kesulitan
dalam menyelesaikan tugas akademik dan pembelajaran. Kesulitan-kesulitan tersbut

19

seperti kesulitan berfikir, membaca, berhitung, berbicara. Karakteristik anak


berkesulitan belajar spesifik antara lain:
a.

Pada masa kanak-kanak:

1)

Kesulitan mengekspresikan diri.

2)

Lambat dalam mengerjakan tugas seperti mengikat sepatu

3)

Tidak perhatian, mudah terganggu

4)

Ketidakmampuan mengikuti arahan karena ketidakmampuan memahami instruksi


lisan.

5)

Lemah dalam ketrampilan bermain di lapangan.

b.

Pada usia remaja dan dewasa:

1)

Kesulitan dalam memproses informasi auditori

2)

Kehilangan barang-barang miliknya, keterampilan mengatur lemah

3)

Lambat dalam membaca, pemahaman rendah

4)

Kesulitan dalam mengingat nama orang dan tempat

5)

Kesulitan mengatur ide untuk menulis


Anak-anak yang termasuk kedalam kesulitan belajar spesifik meliputi:

a.

Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia), ciri-cirinya seperti:

1)

Perkembangan kemampuan membaca terlambat

2)

Kemampuan memahami isi bacaan rendah

3)

Serta ketika membaca sering banyak kesalahan.

b.

Anak yang mengalami kesulitan belajar menulis (disgrafia) ciri-cirinya:

1)

Ketika menyalin tulisan sering terlambat selesai, sering salah menulis huruf.

2)

Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca

3)

Tulisannya banyak salah atau terbalik atau huruf hilang

4)

Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.

c.

Anak yang kesulitan belajar berhitung (diskalkulia) ciri-cirinya seperti:

1)

Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, =,

2)

Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan.


20

3)

Sering salah membilang dengan urut.

4)

Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3


dengan 8, dan sebagainya.

5)

Sulit membedakan bangun-bangun geometri.


Cara pengajaran anak berkesulitan belajar di sekolah antara lain:

a.

Pemberdayaan sensori visual dapat dilakukan dengan :

1)

Diskriminasi visual, pembelajaran dengan mencari perbedaan dan persamaan


huruf atau suku kata. Misal : Mintalah anak untuk membedakan kata-kata yang
hampir sama, seperti : batu, bata, tabu.

2)

Memori visual. Misal : Guru menunjukkan suatu kata selama beberapa detik lalu
menyembunyikannya. Siswa berupaya mengingat huruf-huruf yang ada dalam kata
itu.

3)

Menyebutkan nama huruf. Misal : Minta anak mencari kata dengan huruf depan
m atau w di majalah lalu menggunting dan ditempel di buku kegiatan.

b.
1)

Pemberdayaan sensori auditori dapat dilakukan dengan cara :


Irama, ini penting untuk belajar tentang word familiar (kata dengan bunyi
sama). Siswa diajarkan untuk melengkapi puisi atau sajak a-a-a.

2)

Blending (menggabung huruf).


Langkah pengajarannya :

1)

Ucapkan dua suku kata yang berbeda (Ba-Tu).

2)

Minta anak mengulang dan bantu ia mengenali 2 suku kata pembentuknya

3)

Memori auditori.

4)

Ucapkan kalimat sederhana dan minta anak mengulang. Kalimat dapat


ditingkatkan semakin panjang.

5)

Minta anak menghafal puisi atau lagu.

8.

Anak Lamban Belajar (slow learner)


Anak lamban belajaradalah anak yang mengalami hambatan atau keterlambatan
dalam perkembangan mental (fungsi intelektual di bawah teman-teman seusianya)
disertai ketidakmampuan untuk belajar dan
21

menyesuaikan diri, sehingga

memerlukan pelayanan pendidikan khusus. Masalah-masalah yang mungkin bisa jadi


penyebab anak lamban belajar antara lain karena masalah tingkat konsentrasinya
yang rendah, daya ingat yang lemah, kognisi, serta masalah sosial dan emosional.
a.

Karakteristik Anak Yang Lamban Belajar

1)

Rata-rata prestasi belajarnya kurang dari 6

2)

Dalam menyelesaikan tugas-tugas akademik sering terlambat dibandingkan


teman-teman seusianya

3)

Daya tangkap terhadap pelajaran lambat

4)

Pernah tidak naik kelas.

b.

Bimbingan Terhadap Siswa Yang Lambat Belajar


Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh seorang guru dalam melakukan bimbingan
terhadap siswa yang lambat belajar antara lain:

1)

Bimbingan bagi anak dengan masalah konsentrasi

a)

Ubahlah cara mengajar dan jumlah materi yang akan diajarkan. Siswa yang
mengalami masalah perhatian dapat ketinggalan jika materi yang diberikan terlalu
cepat. Oleh karena itu, akan berguna bagi mereka untuk memperlambat laju
pembelajaran, melibatkan siswa dengan memberi pertanyaan, dan gunakan media
dalam pembelajaran untuk lebih membantu siswa berkonsentrasi belajar.

b)

Adakan pertemuan dengan siswa. Dalam pertemuan ini seorang guru


memberikan penjelasan dengan cara yang tanpa memberikan hukuman dan tanpa
ancaman akan sangat berguna bagi siswa.

c)

Bimbing siswa lebih dekat ke proses pengajaran. Dengan cara membawa mereka
dekat dengan kita sebagai guru secara fisik dan harfiah akan membawa si anak lebih
dekat kepada proses pengajaran.

d)

Berikan dorongan secara langsung dan berulang-ulang, seperti dengan


memberikan penghargaan atas kehadirannya.

e)

Utamakan ketekunan perhatian daripada kecepatan

menyelesaikan tugas. Siswa

mungkin merasa kecil hati dan tidak diperhatikan bila mereka dihukum karena
terlambat menyelesaikan dibanding temannya. Guru haruslah membuat penyesuaian
dalam jumlah tugas maupun waktu yang disediakan untuk menyelesaikan tugas
berdasar kemampuan masing-masing individu.

22

f)

Ajarkan self-monitoring of attention. Melatih siswa untuk memonitor perhatian


mereka sendiri sewaktu-waktu dengan menggunakan timer. Hal ini akan membantu
menciptakan perhatian yang lebih besar bagi kebutuhan dalam memfokuskan
perhatian juga bisa berguna dalam strategi untuk memperkokoh keterampilan
memperhatikan.

2)
a)

Bimbingan bagi anak dengan masalah daya ingat.


Ajarkan menggaris bawahi dengan penanda, untuk membantu memancing
ingatan. Guru harus memberi tahu siswa cara memilih kalimat dan istilah kunci
untuk diberi garis bawah.

b)

Perbolehkan menggunakan alat bantu memori. Karena alat-alat itu bisa berfungsi
bagi mereka sebagai alat pengingat dan bisa jadi juga sebagai alat pengajaran.

c)

Biarkan siswa yang mengalami masalah sulit mengingat untuk mengambil


tahapan yang lebih kecil dalam pengajaran. Misalnya dengan membagi tugas kelas
dan rumah atau dengan memberikan tes kemampuan penguasaan lebih sering.

d)

Ajarkan siswa untuk berlatih mengulang dan mengingat. Misalnya dengan


memberikan tes langsung setelah pelajaran disampaikan.

3)

Bimbingan bagi anak dengan masalah kognisi.

a)

Berikan materi yang dipelajari dalam konteks high meaning. Ini berguna untuk
untuk mengetahui apakah siswa memahami arti bacaan suatu pertanyaan mengenai
materi baru.

b)

Menunda ujian akhir dan penilaian. Bagi sebagian siswa, menunda ujian akhir
mereka sampai siswa menguasai sepenuhnya materi yang dipelajari, mungkin
merupakan cara terbaik.

c)

Tempatkan siswa dalam konteks pembelajaran yang tidak pernah gagal. Siswa
biasanya memiliki perasaan akan gagal berbagai hal yang mereka lakukan.
Memutuskan rantai kegagalan dan menciptakan kepercayaan diri bagi siswa ini
merupakan sesuatu yang paling penting bagi guru untuk melakukannya.

4)

Bimbingan bagi anak dengan masalah social dan emosional

23

a)

Buatlah sistem perhargaan kelas yang dapat diterima dan dapat diakses. Siswa
berkesulitan belajar perlu memahami sistem penghargaan dikelas dan merasa ikut
serta di dalamnya. Jangan sampai mereka merasa tidak memilki kesempatan untuk
mendapatkan penghargaan yang diterima siswa lain.

b)

Membentuk kesadaran tentang diri dan orang lain. Membantu siswa menjadi lebih
mengenal sikap mereka dan dampaknya pada orang lain merupakan kesempatan
yang berarti bagi perkembangan sosial dan emosional.

c)

Mengajarkan sikap positif. Ketika siswa berkesulitan belajar menjadi lebih sadar
terhadap sikapnya dan mendapat pemahaman yang lebih baik atas interaksi dengan
orang lain, mereka akan merespon dengan baik intruksi-intruksi tentang cara
membentuk hubungan yang baik dan lebih positif.

d)

Minta bantuan. Cari bantuan pada teman sejawat disekolah yang mungkin dapat
memberikan bantuan.

9.

Anak Autis
Autisme berasal dari kata autos yang berarti segala sesuatu yang mengarah
pada diri sendiri. Dalam kamus psikologi umum (1982), autisme berarti preokupasi
terhadap pikiran dan khayalan sendiri atau dengan kata lain lebih banyak
berorientasi kepada pikiran subyektifnya sendiri daripada melihat kenyataan atau
realita kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu penderita autisme sering disebut orang
yang hidup di alamnya sendiri.
Autisme adalah gangguan yang parah pada kemampuan komunikasi yang
berkepanjangan yang tampak pada usia tiga tahun pertama, ketidakmampuan
berkomunikasi ini diduga mengakibatkan anakpenyandang autis menyendiri dan
tidak

ada respon

terhadap orang lain

(Sarwindah, 2002). Yuniar

(2002)

menambahkan bahwa Autisme adalah gangguan perkembangan yang komplek,


mempengaruhi perilaku, dengan akibat kekurangan kemampuan komunikasi,
hubungan sosial dan emosional dengan orang lain, sehingga sulit untuk mempunyai
ketrampilan dan pengetahuan yang diperlukan sebagai anggota masyarakat.
Jadi dapat disimpulkan definisi autisme adalah gejala menutup diri sendiri secara
total, dan tidak mau berhubungan lagi dengan dunia luar, merupakan gangguan
perkembangan yang komplek, mempengaruhi perilaku, dengan akibat kekurangan
24

kemampuan komunikasi, hubungan sosial dan emosional dengan orang lain dan
tidak tergantung dari ras, suku, strata-ekonomi, strata sosial, tingkat pendidikan,
geografis tempat tinggal, maupun jenis makanan.
Autisme atau autisme infantil (Early Infantile Autism) pertama kali dikemukakan
oleh Dr. Leo Kanner 1943 seorang psikiatris Amerika. Istilah autisme dipergunakan
untuk menunjukkan suatu gejala psikosis pada anak-anak yang unik dan menonjol
yang sering disebut Sindrom Kanner. Ciri yang menonjol pada sindrom Kanner
antara lain ekspresi wajah yang kosong seolah-olah sedang melamun, kehilangan
pikiran dan sulit sekali bagi orang lain untuk menarik perhatian mereka atau
mengajak mereka berkomunikasi. Gejala-gejala anak autis tampak sejak lahir,
biasanya sebelum anak berusia 3 tahun.
Berikut beberapa gejala-gejala anak autis:
a.

Tidak bermain dengan teman sebaya dengan cara yang sesuai

b.

Terlambat bicara/tak bisa bicara tanpa kompensasi penggunaan isyarat

c.

Penggunaan bahasa yang berulang

d.

Minat yang terbatas dan abnormal dalam intensitas dan fokus

e.

Sensitifitas berlebihan /kurang sensitif

f.

Terdapat bakat-bakat dibidang membaca, aritmatika, menggambar, mengeja,


olahraga, komputer
Beberapa lembaga pendidikan (sekolah) yang selama ini menerima anak autis
adalah sebagai berikut :

a.

Anak Autis di sekolah Normal dengan Integrasi penuh.

b.

Anak Autis di sekolah Khusus.

c.

Anak Autis di SLB.

d.

Anak Autis hanya menjalani terapi

25

BAB III
PENUTUP
A.

SIMPULAN
Dari pembahasan dan uraian materi diatas, Kami menyimpulkan beberapa poin :

Anak berkebutuhan khusus adalah mereka yang mempunyai kebutuhan baik


permanen maupun sementara.

Pendidikan inklusif akan melibatkan sejumlah besar anak yang masuk sekolah,
termasuk di dalamnya anak berkebutuhna khusus. Dengan demikian kelas yang
inklusif

akan

menjadi

kelas

yang

beragam.

Pemahaman

terhadap

anak

berkebutuhan khusus sangatlah penting dalam pendidikan inklusif.

kelompok sasaran dalam pendidikan inklusif itu bukan anak yang berkelainan
saja tapi meliputi sebagian besar anak yang belajar. oleh karenanya sekolah
hendaknya mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi fisik, intelektual,
sosial, emosi, bahasa, ataupun kondisi lainnya. Sekolah harus mencari cara agar
berhasil mendidik semua anak, termasuk mereka yang berkebutuhan pendidikan
khusus.

26

DAFTAR PUSTAKA
Hidayat,dkk,Bimbingan Anak Berkebutuhan Khusus, Bandung : Upi Press
Winda, andria, dalam situs nya anak berkebutuhan khusus (diakses pada 23 Mei
2015)
Abdul Salim Chairi, dkk. 2009. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Secara

Inklusif. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.


Hadis Abdul. 2006. Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus Autistik. Bandung:
Alfabeta.
IG.A.K.Wardani, dkk. 2008. Pengantar Pendidikan Luar Biasa. Jakarta: Universitas
Terbuka.
Ihsan.

2009.

Karakteristik

Anak

Berkebutuhan

Khusus.

Diakses

dari

http://ihsan.com/artikel/karakteristik-anak-berkebutuhan-khusus.html pada tanggal


23 Mei 2015.
Sutratinah Tirtonegoro. 2001. Anak Supernormal dan Program Pendidikannya.
Yogyakarta: Bumi Aksara

27