Anda di halaman 1dari 4

Enam tahun lalu ketika Wak Suto, suami Mbok Pinah, sedang asyik bekerja -mencangkul- di

sawah, secara tiba-tiba tubuhnya tersungkur ke tanah penuh lumpur. Wak Suto kena stroke.
Lalu dia dibawa oleh teman-temannya sesama petani pulang ke rumah. Melihat suaminya
dalam keadaan tak sadarkan diri, Mbok Pinah juga ikut tersungkur ke tanah, pingsan.
Baru setelah diberi bau-bauan dari minyak kayu putih, Mbok Pinah sadar. Namun, Wak Suto
masih memejamkan matanya. Belum juga sadarkan diri. Karena lama tak sadarkan diri, temantemannya memanggil "orang pinter." Orang itu membacakan mantra-mantra di telinga Wak
Suto. Lalu sadarlah Wak Suto. Ketika sadar dari stroke, dia hanya dapat melihat sebuah dunia
yang hanya berwarna ungu pekat. Juga merasakan tubuhnya lemas tak bertenaga, sampai
sekarang.
Segala sesuatu yang menyangkut kebutuhan Wak Suto selalu dipenuhi dan dilayani sang istri.
Mbok Pinah dengan tulus dan ikhlas selalu melayani suaminya yang tergolek sakit. Tak ada hal
lain yang dapat dilakukan. Dengan kata lain, dunia Wak Suto hanya seluas dimensi kasur.
Makan, minum, mandi, hingga rutinitas buang air kecil dan besar pun harus dengan pelayanan
istrinya. Suap demi suap bubur dengan cermatnya disodorkan ke mulut sang suami. Semua
terkesan tulus dan ikhlas. Jika ada bubur yang membelepoti bibirnya, maka dengan hati-hati
Mbok Pinah menyeka dengan sapu tangan.
Mereka tinggal berdua di sebuah rumah yang rapuh. Temboknya terbuat dari papan ala
kadarnya dan tiang penyangga tua. Sebentar lagi akan roboh jika terserempet puting beliung.
Tak ada sesuatu apa pun yang berharga di rumah itu selain setrika listrik yang dibelikan
anaknya yang merantau di Surabaya. Padahal, di rumahnya tak ada listrik. Walaupun, listrik
sudah masuk desa dan dapat dinikmati penduduk.
Kedua anaknya pergi meninggalkan emak dan bapaknya. Juga meninggalkan Desa
Karangwungu yang membesarkannya. Hanya uang dan uang yang datang menjenguk Mbok
Pinah dan suaminya. Uang yang tak cukup untuk menyambung hidup. Sudah dua kali Idul Fitri
Gambar perahu layar itu sudah selesai."

Dia tersenyum, tipis saja, "Siapa yang mau ikut saya berlayar subuh nanti?"

Kami berlima saling melihat gambar itu, lalu menahan senyum yang bersiap muncul.

"Berhenti."

Dia setengah membentak, menjaga suaranya tidak memenuhi lorong, sampai ke telinga para
sipir.

"Apa kalian pikir saya sedang bergurau?"

Kami diam, menunduk, sesekali melihat wajahnya. Disapu sinar lampu tembak dari menara
jaga, melintas lewat lubang angin sebesar batu bata di dinding sisi selatan, kami melihat
gambar perahu layar itu, di dinding sisi timur. Bagus, lebih bagus daripada perahu layar yang
dulu membawa kami ke negeri sialan ini.

"Sekali lagi saya tanya dan jangan tertawa."

Dia memandang wajah kami kembali satu per satu, "Siapa yang mau ikut saya berlayar subuh
nanti?"

Kami diam, hanya memandang sesekali wajahnya. Meski selama ini kami selalu menuruti katakatanya (semata karena menghormati dia sebagai orang yang jauh lebih tua) tapi untuk hal
yang satu ini kami yakin tidak perlu. Kami maklum jika berbulan-bulan di dalam penjara
membuat seseorang berpikiran macam-macam, tentang dirinya, dan tentang apa saja.

Banyak yang kemudian tidak mengenali lagi dirinya dan setiap kali bicara selalu ngawur.Pak
Yus, begitu kami memanggil, baru sekali ini kami dengar bicara ngawur, di luar kepala dan tidak
menginjak tanah. Selama kami mengenalnya, sudah sembilan bulan, ia lebih banyak diam,
kemudian kami tahu dia memang seorang pendiam. Dia bicara sesekali, bila penting saja.
Kalimat yang keluar dari mulutnya selalu mempunyai makna, tidak asal keluar seperti Marbun
yang sering kali malah tidak pernah dipikir.

Masing-masing kami berbeda, tentu saja. Kami tiba di penjara hampir bersamaan. Aku, Marbun,
Karmin, keduanya tetanggaku, datang hari Sabtu, puluhan lainnya dipisah ke berbagai blok.
Sukardi dan Hamdan hari Kamis. Pak Yus tiga minggu berikutnya. Perampokkah kami hingga
dijebloskan ke penjara pengap dan bau ini? Bukan. Kami bukan perampok. Bukan pula
pembunuh, pembuat rusuh, penipu, atau perampas rezeki orang. Kami hanya orang-orang yang
ingin mendapat hidup lebih baik karena negeri kami dilanda kerusuhan berkepanjangan dan
kelaparan.

Apakah itu salah? Apakah itu dosa? Kalau memang mencari rezeki halal (kami berencana
menjadi buruh pabrik di negeri ini) dianggap sebagai sebuah kesalahan dan dosa, bagaimana
dengan cukong yang menipu kami dengan janji akan memberi pekerjaan di negeri ini tapi malah
entah ke mana sekarang? Apakah itu tidak salah? Apakah itu tidak dosa?

Itu memang soal lain, meski itulah penyebab kami dijebloskan ke dalam penjara ini, katanya
hanya untuk pendatang ilegal (untuk kata yang satu ini kami harus berhari-hari mencari tahu
artinya), dituduh memasuki negeri ini tanpa surat-surat lengkap resmi. Kami tidak tahu itu. Kami
hanya tahu, sesuai ucapan si cukong, bahwa kami hanya perlu membayar beberapa ratus ribu,
dijamin dapat langsung pergi ke negeri impian.

"Jangan lupa membawa pakaian dan beberapa puluh ribu uang untuk membayar makan
sesampainya di sana."

Negeriku, tidak pernah kusangka akan menjadi seperti sekarang. Dulu, setiap menyaksikan
berita luar negeri di satu-satunya tv yang ada, milik pemerintah, aku selalu bersyukur karena
kata 'pengungsi', 'kelaparan', 'kerusuhan', 'antre belanja', dan 'teror bom', tidak pernah ada di
dalam kehidupan semua orang di negeriku.

Mungkin aku terlalu tinggi hati, begitu juga semua orang di negeriku, hingga Tuhan pun
memperlihatkan amarahnya. Maka dihantamlah kami dengan badai yang selama berpuluhpuluh bulan aku bosan mendengar namanya, seperti nama manusia saja. Tapi apakah ada
manusia yang mau memakai nama celaka itu?

Sejak itu bencana bertubi-tubi, tapi aku lebih menganggapnya sebagai azab, melanda negeri
kami. Maka kata-kata yang tidak pernah ada di dalam kehidupan semua orang di negeriku itu
pun mendera tubuhku, juga semua orang, hingga aku memutuskan untuk meninggalkannya.
Aku bisa mati bila terus-menerus di sana.

Mungkin sebelumnya menjadi gila, kemudian ditemukan mati kaku kelaparan atau mati dibunuh
orang gila.Kujual sepetak tanah di sebelah rumah gubukku (Marbun dan Karmin hanya menjual
simpanan perhiasan emas, ditambah beberapa sapi dan kerbau milik mereka), pemberian
almarhum bapak, pada seorang rentenir desa dengan harga beberapa ratus ribu. Sisanya,

sungguh tepat, hanya beberapa puluh ribu, cukup untuk biaya membayar makan di negeri ini,
seperti yang dipesankan si cukong.

Kutinggalkan istri dan kedua anakku yang belum lewat sepuluh tahun umurnya. Tidak lupa
kuminta restu pada ibuku yang sudah tua renta yang tinggal bersamaku. Tapi yang kudapat
hanya mereka. Berhari-hari kami terombang-ambing di perahu layar penuh manusia, hanya
berdoa yang kami lakukan, berharap Tuhan tidak menenggelamkan kami di lautan entah di
mana ini.Ternyata Tuhan benar-benar ada.

Kami selamat, tiba di tanah tidak kami kenal, disambut mata merah orang-orang berseragam
warna cokelat lumpur, mengarahkan moncong senjata laras panjang ke kening kami,
membentak, menghina dengan bahasa yang kedengarannya sangat lucu.

"Pulanglah, pendatang haram! Jangan menumpang mencari makan di negeri kami, tapi kalian
hina juga bahasa kami! Punyalah rasa malu!"