Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ginjal merupakan organ penting dalam tubuh dan berfungsi untuk membuang
sampah metabolisme dan racun tubuh dalam bentuk urin, yang kemudian
dikeluarkan dari tubuh. Tetapi pada kondisi tertentu karena adanya gangguan pada
ginjal, fungsi tersebut akan berubah. Gagal ginjal kronik biasanya terjadi secara
perlahan-lahan sehingga biasanya diketahui setelah jatuh dalam kondisi parah.
Gagal ginjal kronik tidak dapat disembuhkan. Gagal ginjal kronik dapat terjadi pada
semua umur dan semua tingkat sosial ekonomi. Pada penderita gagal ginjal kronik,
kemungkinan terjadinya kematian sebesar 85 %.
Melihat kondisi seperti tersebut di atas, maka perawat harus dapat mendeteksi
secara dini tanda dan gejala klien dengan gagal ginjal kronik. Sehingga dapat
memberikan asuhan keperawatan secara komprehensip pada klien anak dengan
gagal ginjal kronik.
B. Tujuan
Dapat memberikan asuhan keperawatan pada dengan gagal ginjal kronik.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A.

PENGERTIAN
Gagal ginjal kronik (GGK) biasanya akibat akhir dari kehilangan fungsi
ginjal lanjut secara bertahap (Doenges, 1999; 626)
Gagal ginjal kronis atau penyakit renal tahap akhir (ESRD) merupakan
gangguan fungsi renal yang progresif dan irreversible dimana kemampuan tubuh
gagal untuk mempertahankan metabolisme dan keseimbangan cairan dan
elektrolit,menyebabkan uremia (retensi urea dan sampah nitrogen lain dalam
darah). (Brunner & Suddarth, 2001; 1448)
Gagal ginjal kronik merupakan perkembangan gagal ginjal yang progresif
dan lambat,biasanya berlangsung beberapa tahun. (Price, 1992; 812)
Sesuai dengan topik yang saya tulis didepan cronic kidney disease
( CKD ),pada dasarnya pengelolaan tidak jauh beda dengan cronoic renal failure
( CRF ), namun pada terminologi akhir CKD lebih baik dalam rangka untuk
membatasi kelainan klien pada kasus secara dini, kerena dengan CKD dibagi 5
grade, dengan harapan klien datang/merasa masih dalam stage stage awal yaitu
1 dan 2. secara konsep CKD, untuk menentukan derajat ( stage ) menggunakan
terminology CCT ( clearance creatinin test ) dengan rumus stage 1 sampai stage
5. sedangkan CRF ( cronic renal failure ) hanya 3 stage. Secara umum
ditentukan klien datang dengan derajat 2 dan 3 atau datang dengan terminal
stage bila menggunakan istilah CRF.

B.

ETIOLOGI

Infeksi misalnya pielonefritis kronik, glomerulonefritis

Penyakit

vaskuler

hipertensif

misalnya

nefrosklerosis

benigna,

nefrosklerosis maligna, stenosis arteria renalis

Gangguan jaringan penyambung misalnya lupus eritematosus sistemik,


poliarteritis nodosa,sklerosis sistemik progresif

Gangguan

kongenital

dan

herediter

misalnya

penyakit

ginjal

polikistik,asidosis tubulus ginjal

Penyakit metabolik misalnya DM,gout,hiperparatiroidisme,amiloidosis

Nefropati toksik misalnya penyalahgunaan analgesik,nefropati timbal

Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli neoplasma,


fibrosis netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostat,
striktur uretra, anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra.

C.

Batu saluran kencing yang menyebabkan hidrolityasis

PATOFISIOLOGI
Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk
glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron
utuh). Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang
meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya
saring. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai dari
nefronnefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar
daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan
haus. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri
timbul disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada
pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila
kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% - 90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang
demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah
itu. ( Barbara C Long, 1996, 368)
Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang
normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia
dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk

sampah maka gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia membaik setelah
dialisis. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1448).
Klasifikasi
Gagal ginjal kronik dibagi 3 stadium :
-

Stadium 1 : penurunan cadangan ginjal, pada stadium kadar kreatinin


serum normal dan penderita asimptomatik.

Stadium 2 : insufisiensi ginjal, dimana lebihb dari 75 % jaringan telah


rusak, Blood Urea Nitrogen ( BUN ) meningkat, dan kreatinin serum
meningkat.

Stadium 3 : gagal ginjal stadium akhir atau uremia.

K/DOQI merekomendasikan pembagian CKD berdasarkan stadium dari tingkat


penurunan LFG :
-

Stadium 1 : kelainan ginjal yang ditandai dengan albuminaria persisten


dan LFG yang masih normal ( > 90 ml / menit / 1,73 m2

Stadium 2

: Kelainan ginjal dengan albuminaria persisten dan LFG

antara 60-89 mL/menit/1,73 m2


-

Stadium 3

: kelainan ginjal dengan LFG antara 30-59

mL/menit/1,73m2
-

Stadium 4 : kelainan ginjal dengan LFG antara 15-29mL/menit/1,73m2

Stadium5 : kelainan ginjal dengan LFG < 15mL/menit/1,73m2 atau


gagal ginjal terminal.

Untuk menilai GFR ( Glomelular Filtration Rate ) / CCT ( Clearance Creatinin


Test ) dapat digunakan dengan rumus :
Clearance creatinin ( ml/ menit ) = ( 140-umur ) x berat badan ( kg )
72 x creatini serum
Pada wanita hasil tersebut dikalikan dengan 0,85

D. MANIFESTASI KLINIS
Manifestasi klinik antara lain (Long, 1996 : 369):

a. Gejala dini : lethargi, sakit kepala, kelelahan fisik dan mental, berat
badan berkurang, mudah tersinggung, depresi
b. Gejala yang lebih lanjut : anoreksia, mual disertai muntah, nafas dangkal
atau sesak nafas baik waktui ada kegiatan atau tidak, udem yang disertai
lekukan, pruritis mungkin tidak ada tapi mungkin juga sangat parah.
Manifestasi klinik menurut (Smeltzer, 2001 : 1449) antara lain : hipertensi,
(akibat retensi cairan dan natrium dari aktivitas sisyem renin - angiotensin
aldosteron), gagal jantung kongestif dan udem pulmoner (akibat cairan
berlebihan) dan perikarditis (akibat iriotasi pada lapisan perikardial oleh
toksik, pruritis, anoreksia, mual, muntah, dan cegukan, kedutan otot, kejang,
perubahan tingkat kesadaran, tidak mampu berkonsentrasi).
Manifestasi klinik menurut Suyono (2001) adalah sebagai berikut:
a. Gangguan kardiovaskuler
Hipertensi, nyeri dada, dan sesak nafas akibat perikarditis, effusi
perikardiac dan gagal jantung akibat penimbunan cairan, gangguan irama
jantung dan edema.
b. Gannguan Pulmoner
Nafas dangkal, kussmaul, batuk dengan sputum kental dan riak, suara
krekels.
c. Gangguan gastrointestinal
Anoreksia, nausea, dan fomitus yang berhubungan dengan metabolisme
protein dalam usus, perdarahan pada saluran gastrointestinal, ulserasi dan
perdarahan mulut, nafas bau ammonia.
d. Gangguan muskuloskeletal
Resiles leg sindrom ( pegal pada kakinya sehingga selalu digerakan ),
burning feet syndrom ( rasa kesemutan dan terbakar, terutama ditelapak
kaki ), tremor, miopati ( kelemahan dan hipertropi otot otot
ekstremitas.
e. Gangguan Integumen
kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuning kuningan akibat
penimbunan urokrom, gatal gatal akibat toksik, kuku tipis dan rapuh.

f. Gangguan endokrim
Gangguan seksual : libido fertilitas dan ereksi menurun, gangguan
menstruasi dan aminore. Gangguan metabolic glukosa, gangguan
metabolic lemak dan vitamin D.
g. Gangguan cairan elektrolit dan keseimbangan asam dan basa
biasanya retensi garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan
natrium

dan

dehidrasi,

asidosis,

hiperkalemia,

hipomagnesemia,

hipokalsemia.
h. System hematologi
anemia yang disebabkan karena berkurangnya produksi eritopoetin,
sehingga rangsangan eritopoesis pada sum sum tulang berkurang,
hemolisis akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana
uremia toksik, dapat juga terjadi gangguan fungsi trombosis dan
trombositopeni.

E.

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Didalam memberikan pelayanan keperawatan terutama intervensi maka perlu
pemeriksaan penunjang yang dibutuhkan baik secara medis ataupun kolaborasi
antara lain :
1.Pemeriksaan lab.darah
-

hematologi
Hb, Ht, Eritrosit, Lekosit, Trombosit

RFT ( renal fungsi test )


ureum dan kreatinin

LFT (liver fungsi test )

Elektrolit
Klorida, kalium, kalsium

koagulasi studi
PTT, PTTK

BGA

2. Urine
-

urine rutin

urin khusus : benda keton, analisa kristal batu

3. pemeriksaan kardiovaskuler
-

ECG

ECO

4. Radidiagnostik

F.

USG abdominal

CT scan abdominal

BNO/IVP, FPA

Renogram

RPG ( retio pielografi )

PENATALAKSANAAN KEPERAWATAN
Penatalaksanaan keperawatan pada pasien dengan CKD dibagi tiga yaitu :
a) Konservatif
-

Dilakukan pemeriksaan lab.darah dan urin

Observasi balance cairan

Observasi adanya odema

Batasi cairan yang masuk

b) Dialysis
-

peritoneal dialysis
biasanya dilakukan pada kasus kasus emergency.
Sedangkan dialysis yang bisa dilakukan dimana saja yang tidak bersifat
akut adalah CAPD ( Continues Ambulatori Peritonial Dialysis )

Hemodialisis
Yaitu dialisis yang dilakukan melalui tindakan infasif di vena dengan
menggunakan mesin. Pada awalnya hemodiliasis dilakukan melalui
daerah femoralis namun untuk mempermudah maka dilakukan :

AV fistule : menggabungkan vena dan arteri

Double lumen : langsung pada daerah jantung ( vaskularisasi ke jantung )

c) Operasi
-

Pengambilan batu

transplantasi ginjal

G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Menurut Doenges (1999) dan Lynda Juall (2000), diagnosa keperawatan yang
muncul pada pasien CKD adalah:
1. Penurunan curah jantung
2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
3. Perubahan nutrisi
4. Perubahan pola nafas
5. Gangguan perfusi jaringan
6. Intoleransi aktivitas
7. kurang pengetahuan tentang tindakan medis
8. resti terjadinya infeksi

H.

INTERVENSI
1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan beban jantung yang
meningkat
Tujuan:
Penurunan curah jantung tidak terjadi dengan kriteria hasil :
mempertahankan curah jantung dengan bukti tekanan darah dan frekuensi
jantung dalam batas normal, nadi perifer kuat dan sama dengan waktu
pengisian kapiler

Intervensi:
a. Auskultasi bunyi jantung dan paru
R: Adanya takikardia frekuensi jantung tidak teratur
b. Kaji adanya hipertensi
R: Hipertensi dapat terjadi karena gangguan pada sistem aldosteronrenin-angiotensin (disebabkan oleh disfungsi ginjal)
c. Selidiki keluhan nyeri dada, perhatikanlokasi, rediasi, beratnya (skala 010)
R: HT dan GGK dapat menyebabkan nyeri
d. Kaji tingkat aktivitas, respon terhadap aktivitas
R: Kelelahan dapat menyertai GGK juga anemia
2. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan dengan edema
sekunder : volume cairan tidak seimbang oleh karena retensi Na dan H2O)
Tujuan: Mempertahankan berat tubuh ideal tanpa kelebihan cairan dengan
kriteria hasil: tidak ada edema, keseimbangan antara input dan output
Intervensi:
a. Kaji status cairan dengan menimbang BB perhari, keseimbangan
masukan dan haluaran, turgor kulit tanda-tanda vital
b. Batasi masukan cairan
R: Pembatasan cairan akn menentukan BB ideal, haluaran urin, dan
respon terhadap terapi
c. Jelaskan pada pasien dan keluarga tentang pembatasan cairan
R: Pemahaman meningkatkan kerjasama pasien dan keluarga dalam
pembatasan cairan
d. Anjurkan pasien / ajari pasien untuk mencatat penggunaan cairan
terutama pemasukan dan haluaran
R: Untuk mengetahui keseimbangan input dan output
3. Perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia,
mual, muntah

Tujuan: Mempertahankan masukan nutrisi yang adekuat dengan kriteria


hasil: menunjukan BB stabil
Intervensi:
a. Awasi konsumsi makanan / cairan
R: Mengidentifikasi kekurangan nutrisi
b. Perhatikan adanya mual dan muntah
R: Gejala yang menyertai akumulasi toksin endogen yang dapat
mengubah atau menurunkan pemasukan dan memerlukan intervensi
c. Beikan makanan sedikit tapi sering
R: Porsi lebih kecil dapat meningkatkan masukan makanan
d. Tingkatkan kunjungan oleh orang terdekat selama makan
R: Memberikan pengalihan dan meningkatkan aspek sosial
e. Berikan perawatan mulut sering
R: Menurunkan ketidaknyamanan stomatitis oral dan rasa tak disukai
dalam mulut yang dapat mempengaruhi masukan makanan
4. Perubahan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi sekunder:
kompensasi melalui alkalosis respiratorik
Tujuan: Pola nafas kembali normal / stabil
Intervensi:
a. Auskultasi bunyi nafas, catat adanya crakles
R: Menyatakan adanya pengumpulan sekret
b. Ajarkan pasien batuk efektif dan nafas dalam
R: Membersihkan jalan nafas dan memudahkan aliran O2
c. Atur posisi senyaman mungkin
R: Mencegah terjadinya sesak nafas
d. Batasi untuk beraktivitas
R: Mengurangi beban kerja dan mencegah terjadinya sesak atau hipoksia
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pruritis
Tujuan: Integritas kulit dapat terjaga dengan kriteria hasil :

10

Mempertahankan kulit utuh

Menunjukan perilaku / teknik untuk mencegah kerusakan kulit

Intervensi:
a. Inspeksi kulit terhadap perubahan warna, turgor, vaskuler, perhatikan
kadanya kemerahan
R: Menandakan area sirkulasi buruk atau kerusakan yang dapat
menimbulkan pembentukan dekubitus / infeksi.
b. Pantau masukan cairan dan hidrasi kulit dan membran mukosa
R: Mendeteksi adanya dehidrasi atau hidrasi berlebihan yang
mempengaruhi sirkulasi dan integritas jaringan
c. Inspeksi area tergantung terhadap udem
R: Jaringan udem lebih cenderung rusak / robek
d. Ubah posisi sesering mungkin
R: Menurunkan tekanan pada udem , jaringan dengan perfusi buruk
untuk menurunkan iskemia
e. Berikan perawatan kulit
R: Mengurangi pengeringan , robekan kulit
f. Pertahankan linen kering
R: Menurunkan iritasi dermal dan risiko kerusakan kulit
g. Anjurkan pasien menggunakan kompres lembab dan dingin untuk
memberikan tekanan pada area pruritis
R: Menghilangkan ketidaknyamanan dan menurunkan risiko cedera
h. Anjurkan memakai pakaian katun longgar
R: Mencegah iritasi dermal langsung dan meningkatkan evaporasi
lembab pada kulit
6. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan oksigenasi jaringan yang tidak
adekuat, keletihan
Tujuan: Pasien dapat meningkatkan aktivitas yang dapat ditoleransi
Intervensi:
a. Pantau pasien untuk melakukan aktivitas

11

b. Kaji fektor yang menyebabkan keletihan


c. Anjurkan aktivitas alternatif sambil istirahat
d. Pertahankan status nutrisi yang adekuat
7. Kurang pengetahuan tentang

kondisi, prognosis dan tindakan medis

(hemodialisa) b.d salah interpretasi informasi.


a. Kaji ulang penyakit/prognosis dan kemungkinan yang akan dialami.
b. Beri pendidikan kesehatan mengenai pengertian, penyebab, tanda dan
gejala CKD serta penatalaksanaannya (tindakan hemodialisa ).
c. Libatkan keluarga dalam memberikan tindakan.
d. Anjurkan keluarga untuk memberikan support system.
e. Evaluasi pasien dan keluarga setelah diberikan penkes

BAB III
TINJAUAN KASUS
Pengkajian
Nama

: Tn B

Umur

: 86 Tahun

Jenis kelamin

: laki laki

Agama

: islam

Suku bangsa

: jawa

Pekerjaan

:-

Alamat

: jl kusuma bangsa no 03 Bekasi Barat

Status

: Janda

Penanggung jawab
Nama

: Ny A

Alamat

: Jl veteran no 45 jakarta

Pekerjaan

: PNS

Status

: Anak kandung

12

Keluhan Utama

Klien mengeluh lemas

Klien mengeluh cepat capek

Klien mengeluh sesak napas

Klien mengeluh tremor

Klien mengeluh gatal-gatal seluruh tubuh

Klien mengeluh sering keluar darah dari hidung

Klien mengatakan tekanan darah tinggi

Riwayat Penyakit sekarang


Tn B seorang duda 86 th datang ke unit hemodialisis. Saat datang muka
klien tampak pucat, oedema anasarka, dan mengeluh lemas. Saat dikaji oleh
perawat, klien mengeluh cepat capek dan napas terasa sesak saat aktivitas dan
diikuti tremor, gatal-gatal seluruh tubuh, sering keluar darah dari hidung, kulit
tampak kering dan banyak yang mengelupas,rambut tampak kusam dan
kemerahan
Riwayat penyakit dahulu
Klien mengatakan mempunyai riwayat penyakit hipertensi ( tekanan darah
tinggi ) sejak 15 tahun yang lalu dan tidak terkontrol dan dia telah melakukan
hemodialisis sejak 2 tahun yang lalu. Pemeriksaan tekanan darah terakhir
160/100 mmHg.
Riwayat kesehatan keluarga
Tn B menceritakan bahwa beliau mempunyai riwayat penyakit hipertensi
sejak 15 tahun yg lalu. Dan ibu dari Tn B pun dulu semasa hidupnya mengidap
penyakit hipertensi juga.
Pemeriksaan fisik
Tanda tanda vital
Tekanan Darah
Nadi
RR
fisik
Kulit
Rambut

: 160/90 mmHg
: 96 x /menit
: 24 x /menit
: turgor kulit kering, mudah mengelupas
: rambut kusam dan warna kemerahan

13

Mata

:Pada

pandangan kabur .
THT

:Pada

klien
GGK

GGK

mata

telinga

mengalami

hidung

dan

tenggorokan tidak mengalami gangguan pada mulut ditemukan


adanya perdarahan pada gusi dan lidah.
1. Pada thorax dan abdomen.
Pada pemeriksaan abdomen dan thorak ditemukan adanya nyeri pada
dada dan abdomen ditemukan disternsi perut (asietas atau penumpukan
cairan, pembesaran heper pada stadium akhir).
2. Sistem kardiovaskuler.
GGK berlanjut menjadi tekanan darah tinggi, detak jantung menjadi
irregular

( termasuk detak jantung yang mengancam kehidupan atau

terjadi fibrilasi), pembengkakan, gagal ginjal kongestif.


3. Sistem genitourinaria.
Karena ginjal kehilangan kesanggupan mengekskresi natrium, penderita
mengalami retensi natrium dan kelebihan natrium sehingga penderita
mengalami iritasi dan menjadi lemah. Pengeluaran urine mengalami
penurunan serta mempengaruhi komposisi kimianya, berkurangnya
frekwensi kencing, urine sedikit, urine tidak ada pada gagal ginjal, perut
mengembung, diare atau justru sulit BAB, perubahan warna urine
misalnya

Kuning, coklat, merah, gelap, urin sedikit dan beda negative.


4. Sistem gastrointestinal.
Pada saluran pencernaan terjadi peradangan ulserasi pada sebagaian
besar alat pencernaan. Gejala lainnya adalah terasa metal di mulut, nafas
bau amonia, nafsu makan menurun, mual muntah, perut mengembung,
diare atau justru sulit BAB.
5. Sistem neuromuscular
Didapatkan penurunan tingkat kesadaran, disfungsi serebral. Klien sering
terjadi kejang ( tremor)
6. Sistem kardiovaskuler
Hipertensi akibat penimbunan cairan dan garam / peningkatan aktivitas
sistem rennin-angiotensin-aldosteron. Nyeri dada dan sesak napas akibat
perikarditis,

efusi

pericardial,penyakit

jantung

koroner

akibat

14

ateroskelerosisyang timbul dini, serta gagal jantung akibat penimbunan


cairan dan hipertensi.
-

Sistem perkemihan
Penurunan urine output < 400 ml / hari

Data focus
Data objek
klien tampak terengah-engah
Klien terlihat gelisah
Klien tampak menggaruk-garuk kulit

Data subjek
Klien mengeluh sesak napas
Klien mengatakan tekanan darah tinggi
Klien mengeluh gatal-gatal

klien tamapak memegangi kulit


Klien tampak pucat
Klien tampak tidak bertenaga

Klien mengeluh lemas


Klien mengeluh mudah capek

Analisa Data
Data
Ds : klien mengeluh sesak
napas
Do : klien tampak terengahengah saat bernapas

Etiologi
Bendungan atrium kiri naik

Masalah
Gangguan pola napas

Tekanan vena pulmunalis


Kapiler paru naik
Odema paru
Gangguan pola napas

15

Ds : klien mengatakan
tekanan darahnya tinggi

Sekresi eritropoitis menurun Ketidakefektifan perfusi


Produksi Hb menurun

Do : saat dikaji TD 160/100

Oksihemoglobin menurun

mmHg

Suplain O2 darah menurun

renal

Ketidakefektifan perfusi
renal
Ds : klien mengeluh gatal-

Sekresi protein terganggu

gatal

Sindrom uremia

Do : klien tampak

Perpospatemia

menggaruk-garuk kulit

Gangguan integritas kulit

Pruritis

Klien tamapak memegangi


kulit

B.

Gangguan integritas kulit

Diagnosa Keperawatan
Dx 1

: ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan adanya tekanan pada

organ paru akibat oedema anasarka


Ds : klien mengeluh sesak napas
Do : klien tampak terengah-engah saat bernapas
Dx 2

:ketidakefektifan perfusi jaringan renal berhubungan hipoperfusi akibat

hipertensi
Ds : klien mengatakan tekanan darahnya tinggi
Do : saat dikaji TD 160/100 mmHg
Dx 3

: Gangguan integritas kulit berhubungan dengan penumpukan urokrum

akibat oedema anasarka


Do : klien tampak menggaruk-garuk kulit
Klien tamapak memegangi kulit

16

C. Intervensi Keperawatan
No

Tanggal/

Diagnosa

pukul

keperawatan
ketidakefektifan

Tujuan dan criteria hasil

polaSelama dilakukan asuhan


keperawatan selama 2x24
napas
berhubungan
jam diharapkan klien:
dengan adanya tekanan dapat bernapas dengan
pada organ paru akibat lega
pola napas kembali
oedema anasarka
normal
napas tidak terengahengah

Rencana Tindakan

Mandiri :
1. Observasi pola napas
2. Ajarkan pola napas dalam
3. Berikan posisi semiflowler
Kolaborasi :
4. Berikan oksigen sesuai
dengan indikasi hasil GDA dan
toleransi pasien

Rasional

1. Agar perawat dapat


membantu menegakkan
diagnosa dan mengetahui pola
napas klien
2. Untuk melatih pernapasan
agar mengurangi sesak
3. Agar pasien dapat merasa
nyaman
4. Membantu memudahkan
klien untuk bernapas
ketidakefektifan
Selama dilakukan asuhan Mandiri :
1. Agar dapat mengetahui
keperawatan selama 2x24 1. Pantau tekanan darah
perubahan tekanan darah
perfusi jaringan renal
jam diharapkan klien:
2. Kaji lingkunga
darah pada klien
berhubungan
-Tekanan darah kembali 3. Pertahankan pembatasan
2. Supaya klien dapat merasa
aktivitas ( di tempatan tidur atau
rileks
hipoperfusi akibat normal 120/80 mmHg
kursi)
3. Untuk menurunkan stres
hipertensi
4. Lakukan tindakan -tindakan
dan ketegangan yang
yang nyaman seperti pijatan
mempengaruhi tekanan
punggung dan leher
darah dan perjalanan
5. Ajarkan teknik relaksasi,
penyakit hipertensi
panduan imajinasi, aktivitas
4. Untuk mengurangi ketidak
pengalihan.
nyamanan dan dapat
Kolaborasi dengan tim medis :
menurunkan rangsangan
1. Berikan obat diuretik tiazid
simpatis

Paraf

Kolaborasi dengan tim gizi:


2. Berikan diet rendah garam
dan diet rendah kolesterol

3.

Gangguan

integritasSelama dilakukan asuhan


keperawatan selama 2x24
kulit
berhubungan
jam diharapkan klien:
dengan penumpukan-tidak mengeluh gatalgatal lagi
urokrum
akibat
oedema anasarka

Mandiri :
1. Kaji terhadap kekeringan
kulit, dan infeksi
2. Gunting kuku pertahankan
kuku terpotong bersih
Kolaborasi
3.Berikan pengobatan
antipruritis sesuai pesanan

5. Dapat menurunkan
rangsangan yang dapat
menimbulkan stres,
membuat efek tenang
sehingga menurunkan
tekanan darah
6. Tiazid di gunakan untuk
menurunkan tekana
Diuretiknya memperkuat
agen- agen hipertensif lain
dengan membatasi retensi
cairan
7. Untuk menjaga tekanan
darah agar stabil
1. Perubahan mungkin
disebabkan oleh penurunan
aktivitas kelenjar keringat
atau pengumpulan kalsium
dan posfat pada lapisan
kutancus
2. Area-area ini sangat mudah
terjadinya infeksi
3. Mengurangi stimulus gatal
pada kulit

D. Implementasi dan Evaluasi Keperawatan


No
DX
1

Tanggal / jam

.Implementasi
1. Mengobservasi pola napas
2.
3.
4.

1.
2.
3.

4.

5.

6.
-

Respon klien

Do :pola napas klien belum teratur


Ds :klien mengatakan napasnya
Mengajarkan pola napas dalam masih sesak
Do: klien tampak kooperatif
Memberikan posisi
terhadap anjuran perawat
semiflowler
Ds: pasien mengatakan napasnya
sedikit lega
Memberikan oksigen sesuai Do: klien terlihat nyaman
dengan indikasi hasil GDA dan Ds: klien mengatakan merasa
toleransi pasien
nyaman
Do:klien tampak kooperatif
Ds: klien mengatakan napasnya
agak lancar
Memantau tekanan darah
Do : klien tampak kooperatif
Ds :
mengkaji lingkungan
Do: klien terlihat rileks
Ds: klien mengatakan merasa
mempertahankan pembatasan nyaman
aktivitas ( di tempat tidur atau Do:klien tampak sedikit stres dan
kursi)
kurang tenang
Ds: klien mengatakan dirinya
melakukan tindakan tindakan kurang tenang dan sedikit
yang nyaman seperti pijatan
mengalami stres
punggung dan leher
Do: klien tampak sedikit rileks
Ds: klien mengatakan sedikit
mengajarkan teknik relaksasi, merasa rileks
panduan imajinasi, aktivitas
Do: klien tampak kooperatif
pengalihan.
Ds: klien mengatakan sudah
sedikit bisa untuk berimajinasi
Kolaborasi dengan tim medis : Do: saat dikaji Tekanan Darah :
memberikan obat
140/90 mmHg.
diuretiktiazid
Ds:
Do: klien tampak kooperatif
7. Kolaborasi dengan tim gizi: Ds:
memberikan diet rendah garam
dan diet rendah kolesterol

Mandiri :
Do :saat dikaji kulit klien tampak
1. mengkaji terhadap kekeringan kering kemerahan
kulit, dan infeksi
Ds :
Do : klien tampak kooperatif

Ttd

2. Menggunting kuku &


mempertahankan kuku
terpotong bersih

terhadap perawat
Ds : klien mengatakan merasa
nyaman.
Do : klien tampak kooperatif
Kolaborasi
Ds : klien mengatakan gatal-gatal
3. memberikan pengobatan sedikit berkurang.
antipruritis sesuai pesanan

EVALUASI HARI KE 1
NO. DX KEP
EVALUASI
1
ketidakefektifan pola napasS: - klien mengatakan napasnya masih sesak
pasien mengatakan napasnya sedikit lega
berhubungan dengan adanya
O: - pola napas klien belum teratur
tekanan pada organ paruA: - masalah belum teratasi
P: intervensi di lanjutkan
akibat oedema anasarka
2

ketidakefektifan perfusi

S: - klien mengatakan dirinya kurang tenang


dan sedikit mengalami stres
jaringan renal berhubungan
klien mengatakan sedikit merasa rileks
hipoperfusi akibat
klien mengatakan sudah sedikit bisa untuk
berimajinasi
hipertensi
O: - klien tampak sedikit stres dan kurang
tenang
klien tampak sedikit rileks
saat dikaji Tekanan Darah : 140/90 mmHg.
A: - masalah belum teratasi
P: - intervensi di lanjutkan
Gangguan integritas kulitS: - klien mengatakan masih merasa gatal-gatal
pada kullitnya
berhubungan
dengan
O: kulit klien tampak kering kemerahan
penumpukan urokrum akibatA: masalah belum teratasi
P:
intervensi di lanjutkan
oedema anasarka

IMPLEMENTASI HARI-2

TTD

No
DX
1

Tanggal / jam

.Implementasi
1. Mengobservasi pola napas
2. Mengajarkan pola napas
dalam
3. Memberikan posisi
semiflowler
4. Memberikan oksigen
sesuai dengan indikasi hasil
GDA dan toleransi pasien

Respon klien

Do :pola napas klien tampak


sudah teratur
Ds :klien mengatakan napasnya
sudah tidak sesak
Do: klien tampak kooperatif
terhadap anjuran perawat
Ds: pasien mengatakan napasnya
sudah lega
Do: klien terlihat nyaman
Ds: klien mengatakan merasa
nyaman
Do:klien tampak kooperatif
Ds: klien mengatakan napasnya
sudah lancar
1. Memantau tekanan darah Do : klien tampak kooperatif
2. Mengkaji lingkungan
Ds :
3. Mempertahankan
Do: klien terlihat rileks
pembatasan aktivitas ( di
Ds: klien mengatakan merasa
tempat tidur atau kursi)
nyaman
4. Melakukan tindakan
Do:klien tampak tidak stres lagi
tindakan yang nyaman
dan sudah merasa tenang
seperti pijatan punggung
Ds: klien mengatakan dirinya
dan leher
sudah merasa tenang dan tidak
5. Mengajarkan teknik
mengalami stres lagi
relaksasi, panduan
Do: klien tampak sudah rileks
imajinasi, aktivitas
Ds: klien mengatakan sudah
pengalihan
merasa rileks
6. Kolaborasi dengan tim
Do: klien tampak kooperatif
medis :
Ds: klien mengatakan sudah bisa
- memberikan obat
untuk berimajinasi
diuretiktiazi
Do: saat dikaji Tekanan Darah :
7. Kolaborasi dengan tim gizi: 120/80 mmHg.
- memberikan diet rendah Ds:
garam dan diet rendah
Do: klien tampak kooperatif
kolesterol
Ds:

Ttd

Mandiri :
1. Mengkaji terhadap
kekeringan kulit dan infeksi
2. Menggunting kuku dan
mempertahankan kuku
terpotong bersih
Kolaborasi :
3. Memberikan pengobatan
anti pruritis sesuai indikasi

Do: saat dikaji klien sudah tidak


tampak kering kemerahan lagi
Ds:
Do: klien tampak kooperatif
Ds: klien mengatakan merasa
nyaman
Do: klien tampak kooperatif
Ds: klien mengatakan gatal gatal
sudah berkurang.

EVALUASI HARI KE 2
NO Diagnosa keperawatan
Evaluasi
paraf
1
ketidakefektifan pola napasS: klien mengatakan napasnya sudah tidak lagi sesak
berhubungan dengan adanyaPasien mengatakan napasnya sudah legah
tekanan pada organ paruO: pola napas klien tampak sudah teratur

akibat oedema anasarka

A: masalah teratasi

ketidakefektifan perfusi

P: hentikan intervensi
S:

jaringan renal

- Klien mengatakan dirinya sudah merasa tenang

berhubungan hipoperfusi
akibat hipertensi

dan tidak mengalami stres lagi


- Klien mengatakan sudah merasa rileks
- Klien mengatakan sudah bisa untuk berimajinasi
O:klien tampak tidak stres lagi dan sudah mulai
tenang
A: Masalah teratasi

P: Intervensi di hentikan
Gangguan integritas kulitS: klien mengatakan sudah tidak lagi merasa gatal
berhubungan
penumpukan

dengangatal pada kulitnya


urokrumO: Kulit klien sudah tampak tidak kering kemerahan

akibat oedema anasarka

A: Masalah teratasi
P: intervensi dihentikan.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. (2000). Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Jakarta :
EGC
Doenges E, Marilynn, dkk. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman Untuk
Perancanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3. Jakarta :
EGC
Long, B C. (1996). Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperawatan)
Jilid 3. Bandung : Yayasan Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan
Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. (1995). Patofisiologi Konsep Kllinis Prosesproses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G Bare. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner & Suddarth. Edisi 8. Jakarta :EGC
Suyono, Slamet. (2001). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 3. Jilid I II. Jakarta.:
Balai Penerbit FKUI

KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah
memberikan Rahmat dan Hidayah-Nya sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
Dalam penyusunan makalah ini kami banyak mendapat bantuan dari berbagai
pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh sebab itu, pada kesempatan
ini pula kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Dosen Mata Kuliah yang telah memberikan tugas dalam pembuatan makalah
Askep ini.
2. Akademik yang telah menyediakan buku-buku pedoman.
3. Teman-teman yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab
itu, saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk penyempurnaan pada
tugas pembuatan makalah berikutnya.
Semoga makalah ini dapat diterapkan sehingga berguna bagi mahasiswa
keperawatan secara umum, terutama mahasiswa AKPER BUTON pada khususnya.
Baubau,

September 2014

TUGAS INDIVIDU

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN Tn B


DENGAN GAGAL GINJAL KRONIK
DI RSUD KOTA BAUBAU

DISUSUN OLEH
HARYONO BUTON
Nim: 2013.0

AKADEMI KEPERAWATAN KABUPATEN BUTON


TAHUN AKADEMIK
2013/2014