Anda di halaman 1dari 5

Borang Portofolio Kasus Gawat Darurat

Nama Peserta: Muhammad Yusuf


Nama Wahana : RSD Kalisat Jember
Topik : Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) grade III
Tanggal Kasus : 21 Oktober 2015
Nama Pasien : Tn. JA
Nomor RM :
Tanggal Presentasi : 19 Januari 2015
Nama Pendamping : dr. Dani Riandi
Tempat Presentasi : Ruang dokter internship
Objektif Presentasi :
Keilmuan
Ketrampilan
Penyegaran
Tinjauan Pustaka
Diagnostik
Manajemen
Masalah
Istimewa
Neonatus Bayi Anak
Remaja Dewasa
Lansia
Bumil
Deskripsi :
Laki-laki, 45 tahun datang dengan keluhan sulit buang air kecil sejak 2 hari yang lalu.
Pasien awalnya sering mendadak merasakan ingin BAK dan sulit menahan BAK. Pasien mengeluh kesulitan
untuk memulai BAK sehingga harus mengejan. Urin keluar sedikit dan pada akhir BAK urin masih menetes,
pasien merasa BAK tidak tuntas masih terasa anyang-anyangan. Keluhan awalnya dirasakan sejak 6 bulan
yang lalu namun semakin lama semakin parah. Penderita kadang terbangun pada malam hari untuk BAK
kurang lebih 3 kali. Warna kencing penderita tidak kemerahan, tidak ada riwayat BAK keluar batu atau butirbutir pasir. Pasien tidak mengeluhkan badannya demam dan tidak nyeri saat BAK. Pasien mengaku tidak
mengalami penurunan berat badan.
Tujuan :
Menangani secara tepat Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) serta mencegah terjadinya
komplikasi.
Bahan Bahasan : Tinjauan Pustaka
Cara Membahas : Diskusi
Data Pasien :
Nama Klinik :
Data Utama untuk Bahan Diskusi :
1. Diagnosis / Gambaran Klinis :

Riset
Presentasi dan Diskusi
Nama : Tn. JA
Nomor Telepon :

Kasus
Audit
Email
Pos
Nomor Registrasi :
Terdaftar Sejak :

Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) grade III


2. Riwayat Pengobatan :
3. Riwayat Kesehatan / Penyakit :
HT (-), DM (-), Asma (-)
4. Riwayat Keluarga :
Tidak ada anggota keluarga yang memiliki keluhan sama seperti pasien
5. Riwayat Pekerjaan :
Pedagang
1

6. Pemeriksaan Fisik :
-

Kesadaran

Keadaan umum : tampak sakit sedang

Tekanan darah

: 128/ 89 mmHg

Nadi

: 88 x / menit

Respiratory rate

: 20 x / menit

Temperatur

: 36,3 oC

Kepala / leher

: oedem palpebra (-), pembesaran KGB (-), JVP tidak meningkat

Mata

: pupil bulat isokor 3/3 mm, konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-

Hidung

: pernapasan cuping hidung (-)

Telinga

: simetris, pendengaran baik

Thorax

: Inspeksi

: compos mentis

: gerakan dada simetris, retraksi (-)

Palpasi

: fremitus raba simetris, pengembangan paru simetris

Perkusi

: paru sonor +/+

Auskultasi : suara napas vesikuler, ronkhi -/-, wheezing -/bunyi jantung S1/S2 tunggal, murmur -, gallop -

Abdomen

: bising usus + normal, supel

Extremitas

: oedem -/-, akral dingin -/-

Status urologis :
a. Ginjal (dengan bimanual palpasi):
Flank Mass (-/-)
Flank Pain dengan nyeri ketok costo vertebrae angle (-/-)
b. Buli buli : teraba penuh
c. Rectal toucher
Tonus sphincter ani baik
Ampula tidak kolaps
Mukosa rectum : Licin, Massa (-)
Prostat
- Prostat membesar, sulkus mediana teraba cembung, pole atas tidak teraba
- Konsistensi kenyal
- Permukaan rata, tidak teraba nodul
- Nyeri tekan (-)
- Sarung tangan lendir (-) darah (-) feses (+)
- Kesan: pembesaran prostat grade III, tidak terdapat nodul.
Daftar Pustaka :
1. Tanagho. Emil A, Mc Aninch Jack W. 2008. Smiths General urology 17th Edition.
2. Wein, Kavoussi, Novick,Partin,Peters. 2007. Campbell-Walsh Urology 9th Edition.

Hasil Pembelajaran :
1. Diagnosis Benign Prostatic Hyperplasia (BPH).
2. Komunikasi efektif dengan pasien dan keluarganya akan pentingnya early diagnosis dan bahaya
komplikasinya.
3. Pentingnya penanganan kasus secara definitif.

Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:

1.

Subjektif :
Pasien sulit BAK sejak 2 hari yang lalu, sering mendadak ingin BAK, sulit menahan BAK, sulit
untuk memulai BAK sehingga harus mengejan, urin keluar sedikit, pada akhir BAK urin masih menetes,
BAK tidak tuntas masih terasa anyang-anyangan, kadang terbangun pada malam hari untuk BAK.

2.

Objektif :
Pada hasil pemeriksaan fisik Rectal Toucher (RT) teraba prostat membesar, sulkus mediana teraba

cembung, pole atas tidak teraba, konsistensi kenyal, permukaan rata, tidak teraba nodul.
3. Assessment :
Benign Prostate Hiperplasia (BPH) adalah pembesaran jinak kelenjar periurethral dari prostat.
Penyebab dari BPH belum diketahui secara pasti, tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa
hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar Dihydrotestosteron (DHT) dan proses aging
(penuaan). BPH merupakan tumor jinak yang terbanyak pada pria dan insidensinya berhubungan
dengan usia. Prevalensi BPH secara histologik pada pemeriksaan autopsi meningkat sekitar 20% pada
pria berusia 41-50 tahun, menjadi 50% pada pria berusia 51-60 tahun. Dan diatas 90% pada pria berusia
80 tahun. Pada pasien BPH didapatkan gejala-gejala LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms) berupa
gejala obstruktif dan gejala iritatif.. Gejala obstruksi diantaranya sulit dalam memulai miksi
(hesistancy), mengejan saat miksi (Straining to urine), pancaran miksi melemah (weak stream), miksi
terputus-putus (intermittency), miksi yang kedua dalam waktu < 2jam setelah miksi yang pertama
(double voiding), adanya perasaan belum puas setelah miksi akibat urine masih belum keluar semua
(sensation of incomplete bladder emptying),

di akhir miksi ada urine yang menetes (post void

dribbling). Gejala-gelaja iritatif diantaranya urgensi, frekuensi dan nokturia.


4. Plan :
Diagnosis berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan jika diperlukan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan fisik dapat dilakukan dengan pemeriksaan Rectal Toucher (RT) dengan menilai tonus
spincter ani, mukosa rektum dan

pembesaran, konsistensi dan permukaan prostat. Derajat berat

hyperplasia prostat berdasarkan gambaran klinik adalah:


-

Derajat I : pada RT penonjolan prostat, batas atas mudah diraba, sisa volume urin <50 ml.

Derajat II : pada RT penonjolan prostat jelas, batas atas dapat dicapai sisa volume urin 50-100
ml.

Derajat III : ada RT penonjolan prostat jelas, batas atas prostat tidak dapat diraba, sisa volume
urin >100 ml.

Pemeriksaan laboratorium seperti DL, UL, Faal Ginjal dapat dilakukan untuk menilai ada tidaknya
komplikasi. Pemeriksaan spesifik yang dapat dilakukan adalah PSA (Prostate Spesific Antigen).
Terkadang pemeriksaan radiologi ultrasonografi dan pemeriksaan biopsi digunakan untuk menemukan
jenis kelainan dari prostat. Tujuan terapi pada pasien hiperplasia prostat adalah menghilangkan gejala
obstruksi pada leher buli-buli.
Pengobatan : konsul Spesialis Bedah, pro prostatektomi. Motivasi pasien dan keluarga pasien untuk
dilakukan operasi, persiapan operasi pasang infus NaCl 0,9% 20 tpm , inj. Ceftriaxon 1 gr, inj. Ranitidin
50 mg, inj. Ketorolac 30 mg, pasang kateter, EKG, rontgen thorax, pemeriksaan laboratorium, puasa 6-8
jam pre operasi.
Pendidikan: dilakukan kepada pasien dan keluarganya untuk menjelaskan kondisi penyakit yang
diderita pasien, tindakan yang harus dilakukan, dan bahaya komplikasi seperti retensi urin berulang,
infeksi saluran kemih, refluks vesiko-ureter, batu saluran kemih serta gagal ginjal apabila tidak segera
diberikan terapi medikamentosa ataupun tindakan bedah.
Konsultasi: dijelaskan secara rasional perlunya konsultasi dengan spesialis bedah untuk penanganan
lebih lanjut.
Kontrol: melihat perkembangan penyakit pasien serta memperhatikan durasi penggunaan kateter.