Anda di halaman 1dari 73

BAB 6

PENGOLAHAN AIR LIMBAH


DENGAN PROSES
TRICKLING FILTER

9
7

6.1 Proses Pengolahan


Pengolahan air limbah dengan proses Trickilng Filter
adalah proses pengolahan dengan cara menyebarkan air limbah
ke dalam suatu tumpukan atau unggun media yang terdiri dari
bahan batu pecah (kerikil), bahan keramik, sisa tanur (slag),
medium dari bahan plastik atau lainnya. Dengan cara demikian
maka pada permukaan medium akan tumbuh lapisan biologis
(biofilm) seperti lendir, dan lapisan biologis tersebut akan
kontak dengan air limbah dan akan menguraikan senyawa
polutan yang ada di dalam air limbah.
Proses pengolahan air limbah dengan sistem Trickilng
Filter pada dasarnya hampir sama dengan sistem lumpur aktif,
di mana mikroorganisme berkembang-biak dan menempel pada
permukaan media penyangga. Di dalam aplikasinya, proses
pengolahan air limbah dengan sistem triclikg filter secara garis
besar ditunjukkan seperti pada Gambar 6.1.

Gambar 6.1 : Diagram Proses Pengolahan Air Limbah Dengan


Sistem Trickling Filter.
Pertama, air limbah dialirkan ke dalam bak pengendapan
awal untuk mengendapkan padatan tersuspensi (suspended
solids), selanjutnya air limbah dialirkan ke bak trickling filter
9
8

melalui pipa berlubang yang berputar. Dengan cara ini maka


terdapat zona basah dan kering secara bergantian sehingga
terjadi transfer oksigen ke dalam air limbah. Pada saat kontak
dengan media trickling filter, air limbah akan kontak dengan
mikroorganisme yang menempel pada permukaan media, dan
mikroorganisme inilah yang akan menguraikan senyawa
polutan yang ada di dalam air limbah.
Air limbah yang masuk ke dalam bak trickling filter
selanjutnya akan keluar melalui pipa under-drain yang ada di
dasar bak dan keluar melalui saluran efluen. Dari saluran
efluen dialirkan ke bak pengendapan akhir dan air limpasan
dari bak pengendapan akhir adalah merupakan air olahan.
Lumpur yang mengendap di dalam bak pengendapan
akhir selanjutnya disirkulasikan ke inlet bak pengendapan
awal. Gambar penampang bak trickling filter dapat
ditunjukkan seperti pada Gambar 6.2. dan 6.3.

Gambar 6.2 : Penampang Bak Trickling Filter.

9
9

Gambar 6.3 : Penampang Bak Trickling Filter


6.2

Disain Parameter Operasional

Di dalam operasional trickling filter secara garis besar


dibagi menjadi dua yakni trickling filter standar (Low Rate)
dan trickling filter kecepatan tinggi. Parameter disain untuk
trickling filter standar dan trickling filter kecepatan tinggi
ditunjukkan pada Tabel 6.1.
6.3 Masalah Yang Sering Terjadi Pada Proses Trickling
Filter
Masalah yang sering timbul pada pengoperasian trickling
filter adalah sering timbul lalat dan bau yang berasal dari
reaktor. Sering terjadi pengelupasan lapisan biofilm dalam
jumlah yang besar. Pengelupasan lapisan biofilm ini
disebabkan karena perubahan beban hidrolik atau beban
organik secara mendadak sehingga lapisan biofilm bagian
dalam kurang oksigen dan suasana berubah menjadi asam
10
0

karena menerima beban asam organik sehingga daya adhesiv


dari biofilm berkurang sehingga terjadi pengelupasan.
Cara mengatasi gangguan tersebut yakni dengan cara
menurunkan debit air limbah yang masuk ke dalam reaktor
atau dengan cara melakukan aerasi di dalam bak ekualisasi
untuk menaikkan kensentrasi oksigen terlarut.
Tabel 6.1 : Parameter disain Trickling Filter.
PARAMETER

Beban Hidrolik
3
2
m /m .hari
Beban BOD
3
kg/m .hari
Jumlah
Mikroorganisme
3
(kg/m .media)
Stabilitas Porses
BOD Air Olahan
Nitrat dalam Air
Olahan
Efisiensi Pengolahan

TRICKLING
FILTER
STANDAR
0,5 - 4

TRICKLING FILTER
(HIGH RATE)

0,08 - 0,4

0,4 - 4,7

4,75 - 7,1

3,3 - 6,5

Stabil
< 20
Tinggi

Kurang Stabil
Fluktuasi
Rendah

90 -95

+ 80

8 - 40

Sumber : Gesuidou Shisetsu Sekkei Shishin to Kaisetsu, Nihon Gesuidou Kyoukai


(Japan Sewage Work Assosiation),1984.

10
1

Trickling Filter
Trickling Filter
Pengertian Trickling Filter
Trickling Filter merupakan salah satu aplikasi pengolahan air
limbah dengan memanfaatkan teknologi Biofilm. Trickling filter ini
terdiri dari suatu bak dengan media fermiabel untuk pertumbuhan
organisme yang tersusun oleh materi lapisan yang kasar, keras,
tajam dan kedap air.

Kegunaan

Trickling
10
2

Filter

Kegunaannya adalah untuk mengolah air limbah dengan dengan


mekanisme air yang jatuh mengalir perlahan-lahan melalui melalui
lapisan batu untuk kemudian tersaring.

Bagian- Bagian Trickling Filter

10
3

Operasi
Trickling
Filter
Penghapusan polutan dari aliran limbah yang melibatkan kedua
absorpsi dan adsorpsi senyawa organik oleh lapisan biofilm
mikroba. Media filter biasanya dipilih untuk menyediakan luas
permukaan yang sangat tinggi untuk volume, bahan Khas sering
berpori dan memiliki luas permukaan internal yang cukup besar di
samping permukaan eksternal medium. Bagian dari air limbah
yang melalui media memoles terlarut udara, oksigen yang lapisan
lendir diperlukan untuk oksidasi biokimia senyawa organik dan
melepaskan gas karbon dioksida, air dan produk akhir teroksidasi.
Sebagai mengental lapisan biofilm, akhirnya sloughs off ke effluen
diperlakukan dan selanjutnya merupakan bagian dari lumpur
sekunder. Biasanya, trickling filter diikuti dengan sebuah tangki
clarifier atau sedimentasi untuk pemisahan dan penghapusan
peluruhan tersebut. Filter lainnya memanfaatkan media lebih
tinggi kepadatan seperti pasir, busa dan gambut tidak
menghasilkan lumpur yang harus dibuang, tetapi membutuhkan
paksa blower udara dan lingkungan anaerobik tertutup.
Perlakuan air limbah atau limbah lainnya dengan tipe trickling filter
adalah salah satu teknologi pengolahan tertua dan paling baik
ditandai.
Jenis
Trickling
Filter
Tiga jenis dasar Trickling Filter filter digunakan untuk:
* Pengolahan limbah perumahan atau pedesaan kecil individu
* Terpusat sistem yang besar untuk pengobatan limbah kota
* sistem diterapkan pada pengolahan air limbah industri.
Perlakuan air limbah atau limbah lainnya dengan tipe Trickling
Filter adalah salah satu teknologi pengolahan tertua dan paling
10
4

baik

ditandai.

Bidang
Resapan
Sistem
Septik
Ini adalah bentuk paling sederhana dari sistem pembuangan
limbah cair, biasanya menggunakan pipa dikuburkan di pasir
longgar atau kerikil untuk mengusir keluar cairan dari tangki
septik. Pemurnian cair dilakukan oleh biofilm yang secara alami
membentuk sebagai pelapis di atas pasir dan kerikil di bidang
penyerapan dan memakan nutrisi yang terlarut dalam aliran
limbah.
Karena sistem yang benar-benar dikuburkan dan umumnya
terisolasi dari lingkungan permukaan, proses pemecahan limbah
lambat dan membutuhkan area permukaan yang relatif besar
untuk menyerap dan mengolah limbah cair. Jika limbah cair terlalu
banyak memasuki lapangan terlalu cepat, limbah dapat lulus dari
biofilm sebelum dikonsumsi limbah dapat terjadi, menyebabkan
pencemaran
air
tanah.
Dalam rangka untuk memperpanjang umur lapangan leaching,
salah satu metode konstruksi untuk membangun dua bidang
perpipaan sisi ke sisi, dan menggunakan aliran katup berputar
untuk limbah langsung ke satu bidang sekaligus, berpindah antar
bidang setiap tahun atau dua. Hal ini memungkinkan masa
istirahat untuk membiarkan mikroorganisme punya waktu untuk
memecah
limbah
dibangun
di
ranjang
kerikil.
Di daerah di mana tanah tidak cukup serap (gagal uji perkolasi)
pemilik rumah mungkin diperlukan untuk membangun suatu
sistem gundukan yang merupakan limbah pembuangan khusus
tidur direkayasa pasir dan kerikil mounded pada permukaan tanah
dengan
penyerapan
cairan
miskin.
Komponen Sistem Trickling Filter
Tiga komponen utama Trickling Filter yaitu :
DistributorAir limbah didistribusikan pada bagian atas
lengan distributor yang dapat berputar
10
5

Pengolahan (Pada Media Trickling Filter)Pengolahan


Trickling Filter terdiri dari suatu bak atau bejana dengan
media permiable untuk pertumbuhan bakteri.

PengumpulFilter juga di lengkapi dengan Underdrain untuk


mengumpulkan Biofilm yang mati,kemudian diendapkan
dalam bak sedimentasi. Bagian cairan yang keluar
biasanya dikembalikan lagi ke Trickling Filter sebagai iar
pengencer dari air baku yang diolah.

Faktor-faktor yang Berpengaruh pada Efisiensi Trickling Filter


Persyaratan Abiotis
a.Jenis Media
Bahan untuk media Trickling Filter harus kuat, keras dan
tahan tekanan, tahan lama, tidak mudah berubah dan
mempunyai luas permukaan per nit volume yang tinggi.
Bahan-bahan yang biasa digunakan adalah batu kali, krikil,
antrasit, batu bara, dan sebagainya. Akhir-akhir ini telah
digunakan media plastik yang dirancang sedemikian rupa
sehingga menghasilkan panas yang tinggi
b.
Diameter
Media
Diameter media Trickling Filter biasanya antara 2,5-7,5
cm. Sebaiknya dihindari penggunaan media dengan
diameter terlalu kecil karena akan memperbesar
kemungkinan penyumbatan. Makin luas permukaan media
maka semakin banyak pula mikroorganisme yang hidup di
atasnya.
c.
Ketebalan
Susunan
media
Ketebalan meda Trickling Filter minimum 1 meter dan
maksimum 3-4 meter. Makin tinggi ketebalan media maka
maka makin besar pula total luas permukaan yang
ditumbuhi mikroorganisme sehingga makin banyak pula
mikroorganisme yang tumbuh menempel diatasnya.
10
6

d.
lama
Waktu
Tinggal
Trickling
Filter
Diperlukan lama waktu tinggal yang disebut waktu
pengkondisian atau pendewasaan agar mikroorganisme
yang tumbuh diatasa permukaan media telah tumbuh
cukup memadai untuk terselenggaranya proses yang
diharapkan. Masa pendewaas biasa berkisar 2-6 minggu.
Lama waktu tinggal ni dimaksudkan agar mikroorganisme
dapat menguraikan bahan-bahan organik dan tumbuh
dipermukaan media Trickling Filter membentuk lapisan
Biofilm
atau
lapisan
berlendir.
d.
PH
Pertumbuhan
mikroorganisme
khususnya
bakteri
dipngaruhi oleh nilai PH. Agar pertumbuhan baik
diusahakan agar PH mendekati keadaan netral. Nilai PH
antara 4-9,5 dengan nilai PH yang optimum 6,5-7,5
merupakan
lingkungan
yang
sesuai.
e.
Suhu
Suhu yang baik untuk Mikroorganisme adalah 25-37
Derajat Celcius. Selain itu suhu juga mempengaruhi
kecepatan reaksi dari suatu proses biologis. Bahkan
efisiensi dari Trickling Filter sangat dipengaruhi oleh suhu.
f.
Aerasi
Agar Aerasi berlangsung dengan baik media Trickling Filter
harus disusun sedemikian rupa sehingga memungkinkan
masuknya udara kedalam sistem Trickling Filter tersebut.
Ketersediaan udara, dalam hal ini adalah Oksigen sangat
berpengaruh
terhadap
proses
penguraian
oleh
mikroorganisme.

Persyaratan Biotis
Persyaratan biotis yang diperlukan dalam penggunaan
trickling filter adalah jenis, jumlah, dan kemampuan
mikroorganisme dalam trickling filter serta asosiasi
kehidupan didalamnya.
10
7

Trickling Filter Bukanlah Filter


Trickling Filter Bukanlah Filter
Oleh Gede H. Cahyana
10
8

Filter dikenal luas di kalangan insan PDAM. Yang biasa digunakan


di PDAM adalah filter pasir cepat (rapid sand filter). Yang sedikit
diterapkan adalah filter pasir lambat (slow sand filter). Selain itu,
dikenal juga filter kasar (roughing filter). Filter ini pun relatif
jarang dijumpai di PDAM karena kebanyakan PDAM menerapkan
prasedimentasi, unit operasi yang sama fungsinya dengan filter
kasar. Lantas ada satu lagi, yaitu trickling filter. Meskipun berisi
kata filter, sesungguhnya trickling filter bukanlah filter. Tidak ada
proses filtrasi di unit proses ini. Kalaupun ada, ia hanyalah efek
samping saja, bukan mekanisme utama. Dengan ukuran media
(diameter) yang mencapai 2,5 13 cm, mustahil terjadi
mekanisme filtrasi. Yang utama adalah proses oksidasi zat organik
menjadi material lainnya dalam kondisi aerob.
Oleh sebab itu, unit proses trickling filter dikenal juga dengan
nama biofilter, yakni filter yang memanfaatkan makhluk hidup
(mikroba) untuk menurunkan pencemar organik. Tampak jelas
bedanya, biofilter dan fisikofilter. Biofilter diterapkan di dalam
pengolahan air limbah, fisikofilter diterapkan di bidang
pengolahan air minum. Makanya, menjadi aneh kalau
fisikofilter seperti filter pasir cepat diterapkan untuk mengolah air
limbah. Anehnya lagi, ada juga pemerintah daerah, cq dinas-dinas
teknisnya yang menerapkannya di beberapa daerah, bahkan untuk
mengolah lindi (leachate), yaitu air rembesan dari lapisan sampah
di TPA. Kontan saja, hanya dalam hitungan hari, filter itu sudah
tersumbat (clogging) dan tidak bisa dioperasikan lagi karena tidak
dilengkapi dengan fasilitas backwashing. Jadilah unit filter ini
sebagai monumen sejarah.
10
9

Jenis Trickling Filter


Singkat kata, terapan trickling filter adalah di bidang air limbah,
terutama air limbah domestik dan air limbah industri makanan
minuman. Sesuai dengan namanya, aliran air limbah yang masuk
ke reaktor berupa tetesan-tetesan (trickling) yang disebar di atas
permukaan media filter. Umumnya air limbah disebar melalui
lengan (arm) yang berputar di atas media. Lengan ini berjumlah
empat buah, tapi ada juga yang menggunakan dua lengan. Di
dalam lengan ini dipasang pipa inlet yang berlubang, dilengkapi
dengan nozel sehingga air limbah tersebar di atas permukaan
media. Pada saat air disemprotkan atau diteteskan inilah oksigen
melarut ke dalam tetesan air.
Tetesan air jatuh di media filter seperti batu, plastik, kayu, bambu,
dll. Mikroba yang tumbuh di permukaan media lantas
mengoksidasi pencemar organik yang secara kontinyu dialirkan
(diteteskan) dari lengan trickling filter. Sentuhan antara mikroba
dan pencemar inilah yang mengolah air limbah sehingga
konsentrasi BOD atau COD-nya turun ke tingkat tertentu. Makna
sentuhan ini adalah metabolisme mikroba terhadap zat organik
yang terlarut. Zat organik yang berupa koloid dan tersuspensi
ukurannya jauh lebih besar daripada mikroba sehingga tidak bisa
langsung dimetabolisme di dalam sel mikroba tetapi didahului
oleh reaksi enzimatis ekstraseluler. Analoginya adalah singkong
besar yang akan dimakan oleh seseorang maka ukuran singkong
itu harus diperkecil atau dipotong-potong dulu agar mudah masuk
ke mulut dan mudah dikunyah.
Media filter adalah bagian penting di dalam unit trickling filter.
Kedalaman media berkisar antara 0,8 s.d 2,5 m. Media harus
langsung bersentuhan dengan udara dan di bagian bawahnya
sebaiknya diberi ventilasi agar udara bisa masuk. Bentuk desain
underdrain mempengaruhi ventilasinya. Struktur kolom dan pelat
trickling filter juga harus mampu menahan beban media batu,
terutama struktur penahan media yang melayang di atas pelat
dasar trickling filter. Batu memiliki parasitas (perviousness)
kurang lebih 0,5 sehingga makin luas dan tinggi media filter akan
menambah berat beban yang menimpa struktur pelat dan
baloknya. Oleh sebab itu, sejak tahun 1960-an plastik menjadi
11
0

alternatif karena parasitasnya bisa mencapai 0,95 dan ringan


sehingga tinggi media bisa ditambah agar makin banyak peluang
sentuhan antara zat organik dan mikroba. Selain faktor
parasitas, media yang bagus digunakan adalah yang porositasnya
(porocity) tinggi agar mikroba mudah melekat di permukaan
media.
Berdasarkan kecepatan pembebanan organik (KPO), trickling
filter bermedia batu dapat dikelompokkan menjadi low rate,
intermediate rate, dan high rate. Adapun media plastik biasanya
digunakan untuk trickling filter high rate. Terlampir adalah tabel
pengelompokan trickling filter dan klasifikasi kriteria desain yang
bisa diterapkan. Dalam praktiknya, sebelum masuk ke trickling
filter bermedia batu, sistem dilengkapi dengan unit pengendap
untuk mereduksi potensi penyumbatan (clogging). Apabila
bermedia plastik, unit pengendap boleh ditiadakan asalkan sudah
dilengkapi dengan barscreen untuk memisahkan sampah dari
aliran air limbah. Air limbah yang cenderung berfluktuasi dapat
mengganggu kinerja trickling filter. Disarankan unit dilengkapi
dengan bak ekualisasi untuk menghomogenkan variasi BOD/COD
dan meratakan debitnya yang masuk ke trickling filter. Kinerja
trickling filter laju rendah tanpa resirkulasi, menurut Edward J.
Martin, 1991 adalah BOD: 75 90%, P: 10 30%, N: 20 40%,
TSS: 75 90%.
Tabel 1. Klasifikasi kriteria desain trickling filter
Kriteria Desain
Type of packing
Hydraulic
loading, m3/m2.d
Recirculation
ratio
Depth, m

Low,
Standard
Rate
rock

Intermediate
Rate

High Rate

rock

rock

1-4

4 - 10

10 - 40

0-1

1-2

1.8 - 2.4

1.8 - 2.4

1.8 - 2.4

Sumber: Metcalf & Eddy, 2003


Seperti ditulis di atas, unit trickling filter laju rendah mampu
menyisihkan nitrogen antara 20 s.d 40%. Ini terjadi karena di
11
1

bagian bawah media filternya tumbuh bakteri nitrifying autotrof


yang mengoksidasi nitrogen ammonia menjadi nitrit dan nitrat.
Artinya, terjadi proses nitrifikasi di unit trickling filter. Namun
secara faktual, pengubahan ammonia menjadi nitrat belum
menurunkan konsentrasi nitrogen di dalam air limbah. Unit harus
dilengkapi lagi dengan denitrifikasi, yaitu bioreaktor yang
bertugas mengubah nitrat menjadi gas nitrogen yang lepas ke
atmosfer. Di bagian atas trickling filter laju rendah, lapisan
mikroba atau biofilm biasanya tumbuh subur di media pada
kedalaman 0,6 - 1,2 m.
Media ideal trickling filter adalah material yang luas permukaan
per satuan volumenya relatif besar, murah, daya tahannya tinggi,
porositas dan parasitasnya tinggi sehingga penyumbatan dapat
diminimalkan dan lancar sirkulasi udaranya. Material yang cocok
agar tinggi kinerjanya adalah batu kali bulat atau batu pecah
(split) dengan keseragaman pecahan 95%, ukuran 75 sampai 100
mm. Untuk meningkatkan kinerjanya, trickling filter dimodifikasi
dengan penambahan resirkulasi, dijadikan multitahap, distributor
influen secara elektrik, penambahan ventilasi, penutup filter dan
unit pra dan pascaolah.
Terakhir, operator trickling filter harus rajin memantau agar
biofilm atau slime tetap basah, tidak boleh kering agar
mikrobanya tetap hidup. Kematian mikroba dapat menyebabkan
slime-nya luruh atau lepas (sloughing off) sehingga harus dimulai
dari awal lagi untuk mengoperasikannya, mulai dari start up:
seeding dan aklimatisasi. Ini memakan waktu dan biaya lagi. *

Mengenal limbah industri secara spesifik terkadang sangatlah


rumit, karena pada dasarnya limbah industri di level praktik
melibatkan berbagai unsur-unsur kimia, fisika, dan biologis yang
membutuhkan ilmu pengetahuan eksakta untuk menangani. Tapi
mari kita coba mengenal salah satu metode dalam pengolahan
limbah industri cair yang bernama trickling filter.
Pada dasarnya sistem trickling filter merupakan metode untuk
menyaring air limbah. Prinsipnya adalah trickling filter terdiri atas
11
2

tumpukan media padat yang memiliki kedalam sekitar 2 meter dan


biasanya berbentuk silinder.
Limbah industri cair disebarkan ke permukaan media bagian atas
dan kemudian air akan menetes ke bawah melalui lapisan media.
Prinsip ini pada dasarnya menggunakan prinsip penyaringan dasar
dimana mikroorganisme yang ditumbuh kembangkan pada media
akan menyerap polutan dalam limbah cair.
Setelah mencapai ketebalan tertentu, lapisan tersebut akan terbawa
aliran limbah industri cair ke bagian bawah. Limbah cair di bagian
bawah kemudian akan dialirkan ke tangki sedimentasi untuk
kemudian memisahkan lapisan biomassa tersebut.
Sistem ini memiliki kelebihan karena prinsip dasarnya yang
sederhana. Untuk pengolahan limbah industri cair, sistem ini relatif
mudah. Namun sistem ini membutuhkan klarifier yang berlapis
dan juga ada potensi terjadi penyumbatan pada media filter oleh
benda berukuran besar (plastik, kayu, daun) terutama jika sistem
tidak dilengkapi fasilitas penyaringan kasar.
Dengan memahami prinsip dasar trickling filter kita dapat
memahami salah satu metode pengolahan limbah industri cair
secara lebih spesifik. Pada dasarnya terdapat berbagai metode yang
bisa dilakukan seperti sistem lumpur aktif, sequencing batch
reactor, kolam oksidasi, rotating biological disk, dan lain-lain.
Namun trickling filter merupakan salah satu metode yang paling
mudah untuk dipahami.
About these ads
pengolahan air limbah secara biologi
A.

KUALITAS AIR MELALUI PARAMETER BIOLOGI


Parameter biologi adalah indikator (petunjuk) biotik
11
3

yang dapat mengidentifikasi bahwa suatu perairan telah


mengalami pencemaran. Unsur biotik yang dijadikan
parameter ini ialah waterborn patogen (mikroorganisme
patogen yang menetap dan berkembangbiak pada air
tercemar),

waterborn

patogen

yang

paling

umum

diperhatikan diantaranya :
Bakteri

; Makhluk bersel tunggal dengan ukuran

tubuh antara 0,12 -ratusan mikron yang merupakan


makhluk paling banyak jumlahnya dan tersebar luas di
bumi.
Virus

; parasit

obligat (hanya dapat bereproduksi

di dalam inangnya, diluar itu ia akan mati) berukuran


mikroskopik (sampai dengan 20 nm).
Protozoa
; mikroorganisme plankton dari
golongan kingdom Protista yang berukuran kurang dari 10
mikron.
Helmint

; mikroorganisme dari filum protozoa , kelas

rhizopoda yang bersifat parasit dengan ukuran tubuh 31000 mikron. Sering disebut pula amoeba.
Untuk menganalisa kehadiran waterborn

patogen

tersebut biasanya dilakukan pengujian langsung pada air


limbah sampel dengan mikroskop (mikroskop electron /
mikroskop ultraviolet) maupun pengujian langsung secara
mikrobiologi.
B.
1.

PENGOLAHAN AIR LIMBAH SECARA BIOLOGI


Pengertian
Yaitu pengolahan (treatment) air limbah dengan
11
4

mendayagunakan mikroorganisme untuk mendekomposisi


bahan-bahan organik yang terkandung dalam air limbah
menjadi bahan yang kurang menimbulkan potensi bahaya
(misalnya keracunan, kematian biotik akibat penurunan
DO, maupun kerusakan ekosistem). Pengolahan secara
biologi seringkali merupakan pengolahan tahap kedua
(secondary treatment) dalam sebuah IPAL.
2.

Prinsip Kerja
Biasanya disediakan media penunjang sebagai
tempat

hidup

mikroorganisme,

baik

secara

melekat

maupun tersuspensi sehingga mereka dapat hidup secara


optimal dan
3.

menguraikan sampah organik pada air

limbah tersebut.
Tujuan dan Manfaat
Secara umum tujuan serta manfaat pengolahan air
limbah secara biologi yaitu sebagai berikut :

Degradasi (penguraian) bahan organik


Transformasi zat organik menjadi zat yang
berbahaya
Nitrifikasi/Denitrifikasi
Menggunakan kembali zat

kurang

organik dalam air limbah

(misalnya gas metana).


4. Metode pengolahan
Banyak sekali jenis pengolahan air limbah secara
biologi, namun yang

paling sering digunakan

sebagai berikut :
a)

LUMPUR AKTIF [AKTIVATED SLUDGE]


11
5

ialah

Pengolahan limbah dengan sistem lumpur aktif


mulai dikembangkan di Britania Raya (Inggris) pada tahun
1914 oleh Ardern dan Lockett. Dinamakan lumpur aktif
karena prosesnya melibatkan massa mikroorganisme aktif
yang tumbuh saat prosesnya, biasanya berwarna kelabu
hingga coklat-kehitaman. Massa mikroorganisme aktif
tersebut umumnya tersusun atas :

Bakteri (seperti spesies Acinetobacter, nitrosomonas,

nitrobacter dan Zoogloea ramigera)


Protozoa (seperti Aspidisca, Carchesium, Opercularia,

Trachelophyllum, Vorticella)
Amoeba (seperti Cochliopodium dan Euglypha )
Organisme lain yang ada antara lain jamur, rotifer dan
nematoda.
Penyaringkasar
Proses kerja sistem pengolahan lumpur aktif dapat

1.

dijabarkan dengan flowchart dibawah ini :


Air limbah mula-mula dilewatkan pada saringan kasar
(screen) untuk memisahkan sampah berukuran besar,
kemudian dipompa menuju bak pengendap/penampung
awal

untuk

mengendapkan

padatan

tersuspensi

(suspended solid) sekitar 30-40 %. Padatan tersuspensi


yang terendapkan akan dibuang ke bak pengering lumpur.
Bak pengendap/penampung ini yang juga dilengkapi alat
2.

pengatur debit aliran.


Air limpahan dari bak pengendap awal dialirkan ke bak
aerasi secara gravitasi. Di dalam bak aerasi ini air limbah
11
6

dihembus udara (O2) dengan sebuah blower sehingga


mikroorganisme yang ada akan menguraikan polutan
organik yang ada dalam air limbah, berkembangbiak,
hingga terbentuk biomassa aktif berwarna kelabu/coklat
kehitaman yang disebut lumpur aktif. Didalam bak aerasi
3.

ini unjuk kerja lumpur aktif dilaksanakan.


Dari bak aerasi, air beserta kelebihan lumpur aktif
dialirkan ke bak pengendap akhir. Di dalam bak ini
sebagian lumpur aktif diendapkan dan dipompa kembali
ke bagian inlet bak aerasi dengan pompa sirkulasi lumpur.
Sementara sebagian lumpur lagi akan alirkan menuju bak
pengering lumpur setelah dilakukan disinfeksi terlebih
dahulu untuk kedibuang/dibakar. Pembuangan lumpur ini

4.

bertujuan untuk menjaga kestabilan jumlah lumpur aktif.


Air limpahan dari bak pengendap akhir dialirkan ke bak
khlorinasi. Di dalam bak kontaktor khlor ini air limbah
dikontakkan dengan senyawa khlor (berupa cairan/tablet)
untuk membunuh mikroorganisme patogen. Air olahan,
yakni air yang keluar setelah proses khlorinasi dapat
langsung

dibuang

ke

sungai

atau

saluran

umum/mengalami proses pengolahan selanjutnya.


Kelebihan & kekurangan sistem pengolahan lumpur
aktif
Kelebihan :
o Dapat mengolah air limbah dengan beban BOD yang
cukup besar yaitu 250-300 mg/liter
o Tidak memerlukan lahan yang luas
o Mampu membentuk gumpalan (flok) yang dapat menjerap
11
7

bahan anorganik, seperti logam berat


o
Jumlah biomassa tidak akan

pernah

habis

(melimpah).
Kekurangan :
o Perlu pengontrolan yang relatif ketat agar diperoleh
perbandingan yang tepat antara jumlah makanan dan
jumlah mikroorganisme yang ada
o Sering menimbulkan bau bila jumlah lumpur terlalu banyak
o Banyak menghabiskan suplay oksigen.
Contoh aplikasi : sistem pegolahan air limbah pada rumah
sakit & industri kertas (pulp).
b)

KOLAM AERASI [LAGOON AERATION]


Lagoon aeration adalah sebuah kolam yang dilengkapi
dengan aerator. Proses kerja reaktor ini ialah menampung
air limbah dalam sebuah kolam besar yang diatur supaya
suasana aerobik berjalan melalui pengadukan mekanis
ataupun

memasang

penggelembung

udara

seperti

gambar dibawah ini. Biomassa yang terbentuk akan


mendegradasi
terkadang

polutan organik. Suplay oksigen juga

mendapat

bantuan

dari

fotosintesis

alga

maupun ganggang dalam kolam tersebut.


Gambar Lagoon Aeration
Kelebihan & kekurangan sistem pengolahan lagoon
aeration
Kelebihan :
o Biaya pemeliharaan rendah
o Effluent yang dihasilkan baik karena daya larut oksigen
dalam air limbah lebih besar sehingga mengoptimalkan
11
8

kinerja mikroorganisme
o Dapat menampung air limbah dengan kuantitas volume
yang sangat besar
o Tidak menimbulkan bau.
Kekurangan :
o Membutuhkan lahan yang luas
o Membutuhkan energi yang besar, karena disamping untuk
suplai oksigen juga untuk pengadukan secara
sempurna.
Contoh aplikasi : sistem pengolahan air limbah pada
industri pangan.
c) SARINGAN TETES [TRICKLING FILTER]
Merupakan wahana penyaring berbentuk silinder
dengan media berpori yang disusun secara bertumpuk.
Proses kerja dari reaktor ini yakni mendistribusikan air
limbah melalui bagian atas oleh lengan yang dapat
berputar sehingga membentuk spray/tetes-tetes kecil,
kemudian

berkontak

dengan

mikroorganisme

yang

menempel pada media. Tujuan pendisribusian berputar


ialah untuk menyebarkan air limbah ke permukaan
seluruh media secara merata. Media itu sendiri dapat
berupa potongan potongan batu kerikil/zeolit, silika,
arang, pozzolan ataupun bahan isian dari plastik yang
berukuran antara 40 -80 mm. Permukaan batuan ini
mengandung lapisan (film) mikroorganisme biasanya,
bakteri Zoogloea ramigera dan spesies protozoa bersilia
(Carchesium, Opercularia dan Vorticella). Suplai oksigen
11
9

didapat dari penghembusan oleh blower dari bagian


bawah. Penghembusan oleh blower ini juga berfungsi
untuk mendistribusikan air limbah menjadi tetesan kecil
pada lengan putar.
Gambar Trickling Filter
Kelebihan & kekurangan sistem pengolahan trickling
filter
Kelebihan :
o Tidak memerlukan lahan yang terlalu luas serta mudah
pengoperasiannya
o Sangat ekonomis dan praktis
o Tidak membutuhkan pengawasan yang ketat
o Suplai oksigen dapat diperoleh secara alamiah melalui
permukaan paling atas media.
Kekurangan :
o Tidak bisa diisi dengan beban volume yang tinggi
mengingat masa biologi pada filter akan bertambah
banyak sehingga bisa menimbulkan penyumbatan filter.
o Timbulnya bau yang tidak sedap
o Prosesnya sering terganggu oleh lalat-lalat yang datang
menghampiri.
Contoh aplikasi :

sistem pengolahan limbah cair

domestik dan industri obat herbal.


d) Cakram Biologis Putar [Rotating Biological
Contactor]
RBC
/cakram

yaitu

pengolahan

melingkar

yang

yang

diputar

terdiri
oleh

atas

poros

disc
yang

diletakkan setengah tercelup dengan kecepatan tertentu


12
0

(2-3 rpm). Cakram digerakkan oleh motor drive system


yang dibenam dalam air limbah, dibawah media. Mikroba
tumbuh melekat pada permukaan media yang berputar
tersebut membentuk

suatu lapisan yang disebut biofilm

(biasanya terdiri atas bakteri, alga, protozoa, fungi).


Media film biologis ini berupa piringan (disk)
dari bahan polimer atau plastik yang ringan dan disusun
dari berjajar-jajar pada suatu poros sehingga membentuk
suatu modul atau paket. Pada saat cakram tercelup
kedalam air limbah, biofilm menyerap senyawa organik
yang ada dalam air limbah dan pada saat biofilm berada
di atas permuaan air, biofilm menyerap okigen dari udara
atau oksigen terlarut dalam untuk menguraikan senyawa
organik.
Pertumbuhan biofilm tersebut makin lama makin
tebal, sampai akhirnya karena gaya gravitasi sebagian
akan mengelupas dari mediumnya dan terbawa aliran air
keluar. Selanjutnya, biofilm pada permukaan medium
akan

tumbuh

lagi

dengan

sedirinya

hingga

kesetimbangan.
GAMBAR
RBC

Proses kerja sistem RBC dapat dijabarkan dengan


flowchart dibawah ini :
12
1

terjadi

1. Bak Pemisah Pasir

Air limbah dialirkan dengan tenang ke dalam bak


pemisah pasir, sehingga kotoran yang berupa pasir atau
lumpur kasar dapat diendapkan. Sedangkan kotoran yang
mengambang misalnya sampah, plastik, sampah kain dan
lainnya tertahan pada saringan (screen) yang dipasang
pada inlet kolam pemisah pasir tersebut.
2. Bak Pengendap Awal

Dari bak pemisah/pengendap pasir, air limbah


dialirkan ke bak pengedap awal. Di dalam bak pengendap
awal ini lumpur atau padatan tersuspensi sebagian besar
mengendap. Waktu tinggal di dalam bak pengedap awal
adalah 2 - 4 jam, dan lumpur yang telah mengendap
dikumpulkan dan dipompa ke bak pemekat lumpur.
3. Bak Pengatur Debit

Jika debit aliran air limbah melebihi kapasitas


perencanaan, kelebihan debit air limbah tersebut dialirkan
ke bak pengatur debit untuk disimpan sementara. Pada
waktu debit aliran turun, maka air limbah yang ada di
dalam bak kontrol dipompa ke bak pengendap awal
bersama-sama air limbah yang baru sesuai dengan debit
yang diinginkan.

12
2

4. Kontaktor (reaktor) Biologis Putar

Di dalam bak kontaktor ini, media berupa piringan


(disk) tipis dari bahan polimer atau plastik dengan jumlah
banyak, yang dilekatkan atau dirakit pada suatu poros,
diputar secara pelan dalam keadaan tercelup sebagian ke
dalam air limbah. Waktu tinggal di dalam bak kontaktor
kira-kira

2,5

jam.

Dalam

kondisi

demikian,

mikroorganisme akan tumbuh pada permukaan media


yang berputar tersebut, membentuk suatu lapisan (film)
biologis. Biofilm yang tumbuh pada permukaan media
inilah yang akan menguraikan senaywa organik yang ada
di dalam air limbah.
5. Bak Pengendap Akhir

Air limbah yang keluar dari bak kontaktor (reaktor)


selanjutnya dialirkan ke bak pengendap akhir, dengan
waktu pengendapan sekitar 3 jam. Dibandingkan dengan
proses lumpur aktif, lumpur yang berasal dari RBC lebih
mudah mengendap, karena ukurannya lebih besar dan
lebih berat. Air limpahan dari bak pengendap akhir relatif
sudah jernih, selanjutnya dialirkan ke bak khlorinasi.
Sedangkan lumpur yang mengendap di dasar bak di
pompa ke bak pemekat lumpur bersama-sama dengan
lumpur yang berasal dari bak pengendap awal.

12
3

6. Bak Khlorinasi

Air olahan atau air limpasan dari bak pengendap


akhir masih mengandung bakteri coli, bakteri patogen,
atau virus yang sangat berpotensi menginfeksi ke
masyarakat sekitarnya. Untuk mengatasi hal tersebut, air
limbah yang keluar dari bak pengendap akhir dialirkan ke
bak khlorinasi untuk membunuh mikroorganisme patogen
yang ada dalam air. Di dalam bak khlorinasi, air limbah
dibubuhi dengan senyawa khlorine sehingga seluruh
mikroorganisme patogennya dapat di matikan.
Selanjutnya dari bak khlorinasi air limbah sudah boleh
dibuang ke badan air.
7. Bak Pemekat Lumpur

Lumpur yang berasal dari bak pengendap awal


maupun

bak

pengendap

akhir

dikumpulkan

di

bak

pemekat lumpur. Di dalam bak tersebut lumpur di aduk


secara

pelan

kemudian

di

pekatkan

dengan

cara

didiamkan sekitar 25 jam, selanjutnya air supernatant


yang ada pada bagian atas dialirkan ke bak pengendap
awal, sedangkan lumpur yang telah pekat dipompa ke bak
pengering lumpur.
Kelebihan & kekurangan sistem pengolahan RBC :
Kelebihan :
o Mudah dalam pegoperasian & perawatan
12
4

o Tidak membutuhkan banyak lahan serta sangat ekonomis


o Untuk kapasitas kecil / paket, dibandingkan dengan proses
lumpur aktif konsumsi energi lebih rendah.
o Dapat dipasang beberapa tahap (multi stage)
o Reaksi nitrifikasi secara biologis oleh bakteri nitrobacter &
nitrosomonas lebih mudah terjadi, sehingga efisiensi
penghilangan ammonium lebih besar.
Kekurangan :
o Kerusakan pada materialnya seperti as, coupling, & motor
listrik
o Sensitif terhadap perubahan temperatur
o Dapat menimbulkan pertumbuhan cacing rambut, serta
kadang-kadang timbul bau yang kurang sedap.
Contoh aplikasi : sistem pengolahan limbah cair domestik
& industri pertambangan.

Kesimpulan :
Parameter biologi sangat diperlukan sebagai acuan/tolak
ukur

guna

menganalisa

suatu

perairan

yang

telah

tercemar.
Pengolahan air limbah secara biologi biasanya merupakan
tahapan kedua [secondary treatment] dalam sebuah IPAL,
hal tersebut dikarenakan air limbah harus diolah terlebih
dahulu [primary treatment] misalnya proses netralisasi di
tahapan pertama agar pH mendekati netral namun agak
asam,

supaya

dapat

mikroorganisme.
12
5

menunjang

kehidupan

Berbagai

mikroorganisme

yang

berperan

dalam

mendekomposisi senyawa organik antaralain bakteri,


protozoa, amoeba, fungi, maupun nematoda, sisanya
merupakan organisme patogen yang selanjutnya akan
dimusnahkan melalui proses disinfeksi.
Pengolahan air limbah secara biologi beranekaragam,
biasanya dipilih berdasarkan tipe sumber limbah itu
sendiri maupun ketersediaan ruang & material.
Sebagian besar pengolahan air limbah secara biologi
menggunakan sistem aerob [dengan injeksi oksigen], hal
itu dikarenakan proses penguraian berjalan lebih cepat,
biaya

operasional

relative

murah,

serta

tidak

menimbulkan hasil sampingan yang berbahaya [misal gas


hydrogen sulfida yang merupakan hasil sampingan dari
pengolahan anaerob].
pertengahan waktu yaitu percobaan dengan media bioball dan
tanaman kiambang pada hari (ke-2), pertumbuhan
mikroorganisme telah mencapai titik optimal terhadap
ketersediaan nutrient atau telah memasuki fase stasioner,
sedangkan pada hari ke-3 percobaan dengan bioball dan
tanaman kiambang mengakibatkan naiknya parameter BOD, hal
ini disebabkan karena mikroorganisme menuju fase kematian.
Terjadinya penurunan BOD pada penelitian ini terjadi pada proses
biofilter oleh media bioball dan tanaman kiambang yang terdapat
pada reaktor, media bioball mempunyai luas permukaan spesifik
yang besar dan volume rongga (porositas) yang besar sehingga
dapat melekatkan mikrooraganisme dalam jumlah yang besar. Hal
ini juga dibantu dengan adanya tanaman kiambang dalam
kemampuan sistem perakaran serta penyerapan hara yang
12
6

membentuk filter dapat menahan partikel solid yang terdapat


dalam air limbah, hal ini karena akar merupakan organ tanaman
yang berfungsi sebagai alat penyerapan air dan unsur hara serta
mineral (Haryanti, dkk, 2009) Berikut Gambar grafik efesiensi
BOD (
Biochemical Oxigen Demand).
Dapat dilihat pada Gambar 3.
Gambar 3.
Efesiensi BOD limbah cair rumah makan Dari Gambar 3 diatas
dapat dilihat bahwa efisiensi penurunan BOD yang optimal terjadi
pada hari ke-2, dengan efisiensi 68,98% pada hari tersebut nilai
BOD mencapai titik terendahnya 235,29 mg/l hal itu disinyalir
karena terjadinya peningkatan biomassa mikroorganisme (dalam
hal ini bakteri). Meningkatnya biomassa mikroorganisme akan
menyebabkan turunnya konsentrasi bahan organik pada limbah.
Peningkatan biomassa disebabkan oleh pertumbuhan
mikroorganisme yang melekat pada rongga-rongga media filter
bioball yang digunakan sebagai tempat tinggal mikroorganisme.
Pemilihan
Salvinia molesta
didasari penelitian Rahmansyah (2009) bahwa
Salvinia molesta
berpotensi sebagai tanaman hiperakumulator yang baik dengan
pertumbuhan dan kelangsungan hidup. Selain itu
Salvinia molesta
mampu tumbuh pada nutrisi yang rendah. Pada penelitian yang
telah dilakukan, konsentrasi BOD masih diatas Baku Mutu
12
7

Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.112 Tahun 2003, yaitu


konsentrasi yang diperbolehkan untuk parameter BOD sekitar 100
mg/L. Dengan penurunan konsentrasi BOD mengindikasikan
bahwa bahan organik yang terkandung dalam air limbah sebagian
besar merupakan bahan organik yang bersifat
biodegradable
(dapat terdegradasi secara biologis).
D.

Penurunan Minyak dan Lemak


Berdasarkan hasil pemeriksaan di Laboratorium Fakultas
Pertanian Universitas Tanjungpura, hasil penelitian untuk
parameter Minyak lemak dapat dilihat pada Tabel 4

9
0% 20% 40% 60% 80% 100% 1 2 3
E

f i s i e n s i

( %

t (hari)
Tabel 4
Hasil Parameter Minyak Lemak (mg/L) SAMPEL ANALISA AWAL
HARI KE PERCOBAAN ANALISA AKHIR EFISIENSI MINYAK
LEMAK 5213 1 2465 52.71% 2 831 84.06% 3 177.5 96.60% Dari
Tabel 4 diatas dapat dilihat bahwa pada percobaan dengan media
bioball dan tanaman kiambang pada hari ke-1 efisiensinya
12
8

sebesar 52,71%, sedangkan pada hari ke-2 efisiensinya


meningkat menjadi 84,06%, hal ini disebabkan adanya kandungan
nutrient yang melimbah pada reaktor biofilter . Pada hari ke-3,
bakteri memasuki fase optimum untuk pengolahan dengan bioball
dan tanaman kiambang semakin hari semakin meningkat, dapat
dilihat dengan efisiensi penurunan sebesar 96,60% hal ini
dikarenakan kandungan minyak yang berada dalam reaktor telah
tersaring pada akar kiambang. Dapat dilihat bahwa tanaman
kiambang berpengaruh terhadap penurunan minyak lemak karena
adanya aktifitas mikroorganisme dalam sistem perakaran (
Rhizosfer
) yang terdapat dalam reaktor. Akar tanaman dapat meningkatkan
kepadatan dan aktivitas mikroba yang disediakan oleh permukaan
akar untuk pertumbuhan mikroba. (Vymazal 2008). Adanya
aktivitas mikroorganisme yang tumbuh pada media bioball dalam
reaktor mendegradasi sebagian besar bahan organik dalam air
limbah, tentu akan mempengaruhi konsentrasi Minyak Lemak
pada awal penelitian. Menurut Nababan (2008), bakteri memiliki
peran yang sangat penting dalam biodegradasi limbah minyak,
sehingga faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bakteri juga
berdampak pada keberhasilan proses biodegradasi. Faktor-faktor
yang dapat mempengaruhi proses biodegradasi antara lain suhu,
pH, keadaan nutrisi, dan ketersediaan O2. Sedangkan pada
tanaman, akar tanaman berfungsi sebagai filtrasi dan mampu
mengadsorpsi padatan tersuspensi serta tempat hidup
mikroorrganisme yang mampu menghilangkan unsur hara. Proses
filtrasi dilakukan oleh media bioball dan pada akar tanaman
kiambang yang terdapat dalam reaktor, terjadinya proses tersebut
terjadi karena kemampuan partikel-partikel media maupun sistem
perakaran membentuk filter yang dapat menahan partikel-partikel
solid yang terdapat dalam air limbah. Berikut Gambar grafik
efisiensi minyak lemak dapat dilihat pada Gambar 4
Gambar 4.

12
9

Grafik efesiensi penurunan minyak lemak Konsentrasi minyak


lemak menurun seiring dengan bertambahnya waktu pengolahan.
Dari hasil penelitian yang dilakukan, tanaman kiambang memiliki
potensi untuk menjernihkan air

10 limbah rumah makan terutama dalam menurunkan kandungan


pencemar khususnya parameter dan minyak lemak. Walaupun
dengan adanya tanaman kiambang dapat menurunkan beban
pencemar, minyak lemak, tetapi nilai tersebut masih di atas baku
mutu Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.112 Tahun 2003.
5.

Kesimpulan dan Saran A.

Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, pengolahan
limbah cair rumah makan dengan biofilter aerob dengan
menggunakan media bioball dan tanaman kiambang (
Salvinia Molesta
) mampu menurunkan kandungan BOD tertinggi dengan efisiensi
68,98% dari kadar BOD awal sebesar 758,5 mg/l dan penurunan
minyak lemak dengan efisiensi sebesar 96,60% dari kadar awal
5213 mg/l. Dari hasil penelitian yang sudah dilakukan, kandungan
BOD, minyak dan lemak yang telah diolah dengan biofilter aerob
menggunakan media bioball dan tanaman kiambang masih di
atas baku mutu Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.112
13
0

Tahun 2003 untuk BOD sebesar 100 mg/L dan Minyak lemak
sebesar 10 mg/L.
B.

Saran
Berdasarkan hasil yang telah didapat dalam penelitian ini, maka
perlu dilakukan kajian lebih lanjut yaitu dibutuhkan pengolahan
pendahuluan (
pretreatment
) untuk mengolah minyak dan lemak yang terkandung dalam
limbah cair domestik akibat kegiatan memasak. Pengolahan
pendahuluan dapat berupa
oil and grease trab
, untuk mengurangi kandungan BOD serta minyak lemak yang
ada pada limbah rumah makan, sebelum dilakukan pengolahan
dengan biofilter aerob
Referensi
Edahwati, L dan Suprihatin. 2009.
Kombinasi Proses Aerasi, Adsorpsi dan Filtrasi pada Pengolahan
Limbah Industri Perikanan
. Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan; Vol.1 No.2 Haryanti, Sri, Nintya
Setiari, Rini Budi Hastuti, Endah Dwi Hastuti, dan Yulita
Nurchayati. 2009.

13
1

Respon Fisiologi dan Anatomi Eceng Gondok di Berbagai


Perairan Tercemar
. Jurnal Penelitian Sains dan Teknologi. Vol.10,No1:30-40.
Herlambang, A. 2002.
Teknologi Pengolahan Limbah Cair Industri Tahu
. Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan (BPPT)
dan Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Samarinda
Herlambang, A dan R. Marsidi. 2003.
Proses Denitrifikasi dengan Sistem Biofilter untuk Pengolahan Air
Limbah yang Mengandung Nitrat
. Jurnal Teknologi Lingkungan; Vol 4 (1): 46-55 Metcalf dan Eddy,
Inc.
2003.
Wastewater Engineering: Treatment, Disposal and Reuse
. McGraw-Hill, Inc: USA. Said, N. 2005.
Aplikasi bioball untuk media biofilter strudi kasus pengolahan air
limbah pencucian jeans
. Pusat Pengkajian dan Penerapan Teknologi Lingkungan (BPPT).
Jurnal; Vol 1 No.1 Tri Apriadi, 2008.
Jurnal Kombinasi bakteri dan tumbuhan air sebagai
bioremediator dalam mereduksi kandungan bahan organik limbah
kantin
. INSTITUT
13
2

Pertanian Bogor 2008 Wijeyekoon, S., Mino T., Satoh, H., dan
Matsuo, T. 2000.
Growth and novel Structural features of tubular biofilms
. Journal water science and technolo

1.
1. 1. Air Limbah
Limbah merupakan bahan buangan yang berbentuk cair, gas dan
padat yang mengandung bahan kimia yang sukar untuk
dihilangkan dan berbahaya sehingga air limbah tersebut harus
13
3

diolah agar tidak mencemari dan tidak membahayakan kesehatan


lingkungan.
Air limbah yaitu air dari suatu daerah permukiman yang telah
dipergunakan untuk berbagai keperluan, harus dikumpulkan dan
dibuang untuk menjaga lingkungan hidup yang sehat dan baik.
Unsur unsur dari suatu sistem pengolahan air limbah yang
modern terdiri dari :
1. Masing masing sumber air limbah
2. Sarana pemrosesan setempat
3. Sarana pengumpul
4. Sarana penyaluran
5. Sarana pengolahan, dan
6. Sarana pembuangan.

Dan dua faktor yang penting yang harus diperhatikan dalam sistem
pengolahan air limbah yaitu jumlah dan mutu.
1. 2. Ciri- Ciri Air Limbah
Disamping kotoran yang biasanya terkandung dalam persediaan air
bersih air limbah mengandung tambahan kotoran akibat pemakaian
untuk keperluan rumah tangga, komersial dan industri. Beberapa
analisis yang dipakai untuk penentuan ciri ciri fisik, kimiawi, dan
biologis dari kotoran yang terdapat dari air limbah.
13
4

Ciri-ciri fisik

Ciri ciri fisik utama air limbah adalah kandungan padat, warna,
bau, dan suhunya.
Bahan padat total terdiri dari bahan padat tak terlarut atau bahan
padat yang terapung serta senyawa senyawa yang larut dalam air.
Kandungan bahan padat terlarut ditentukan dengan mengeringkan
serta menimbang residu yang didapat dari pengeringan.
Warna adalah ciri kualitatif yang dapat dipakai untuk mengkaji
kondisi umum air limbah. Jika warnanya coklat muda, maka umur
air kurang dari 6 jam. Warna abu abu muda sampai setengah tua
merupakan tanda bahwa air limbah sedang mengalami
pembusukanatau telah ada dalam sistem pengumpul untuk
beberapa lama. Bila warnanya abu abu tua atau hitam, air limbah
sudah membusuk setelah mengalami pembusukan oleh bakteri
dengan kondisi anaerobik.
Penentuan bau menjadi semakin penting bila masyarakat sangat
mempunyai kepentingan langsung atas terjadinya operasi yang
baik pada sarana pengolahan air limbah. Senyawa utama yang
berbau adalah hidrogen sulfida, senyawa senyawa lain seperti
indol skatol, cadaverin dan mercaptan yang terbentuk pada kondisi
anaerobik dan menyebabkan bau yang sangat merangsang dari
pada bau hidrogen sulfida.
Suhu air limbah biasanya lebih tinggi dari pada air bersih karena
adanya tambahan air hangat dari pemakaian perkotaan. Suhu air
limbah biasanya bervariasi dari musim ke musim, dan juga
tergantung pada letak geografisnya.

Ciri-ciri kimia

13
5

Selain pengukuran BOD, COD dan TOC pengujian kimia yang


utama adalah yang bersangkutan dengan Amonia bebas, Nitrogen
organik, Nitrit, Nitrat, Fosfor organik dan Fosfor anorganik.
Nitrogen dan fosfor sangat penting karena kedua nutrien ini telah
sangat umum diidentifikasikan sebagai bahan untuk pertumbuhan
gulma air. Pengujian pengujian lain seperti Klorida, Sulfat, pH
serta alkalinitas diperlukan untuk mengkaji dapat tidaknya air
limbah yang sudah diolah dipakai kembali serta untuk
mengendalikan berbagai proses pengolahan. (Linsley.K.R. 1995).
1. 3. Jenis Limbah
Berdasarkan karakteristiknya, limbah dapat digolongkan menjadi 4
macam, yaitu :
1. Limbah cair
2. Limbah padat
3. Limbah gas dan partikel
4. Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).

Limbah cair

Limbah cair adalah sisa dari suatu hasil usaha atau kegiatan yang
berwujud cair (PP 82 thn 2001).

Limbah padat

Limbah padat berasal dari kegiatan industri dan domestik. Limbah


domestik pada umumnya berbentuk limbah padat rumah tangga,
limbah padat kegiatan perdagangan, perkantoran, peternakan,
pertanian serta dari tempat-tempat umum. Jenis-jenis limbah padat:
13
6

kertas, kayu, kain, karet/kulit tiruan, plastik, metal, gelas/kaca,


organik, bakteri, kulit telur, dll

Limbah gas dan partikel

Polusi udara adalah tercemarnya udara oleh berberapa partikulat


zat (limbah) yang mengandung partikel (asap dan jelaga),
hidrokarbon, sulfur dioksida, nitrogen oksida, ozon (asap kabut
fotokimiawi), karbon monoksida dan timah.

Limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun)

Suatu limbah digolongkan sebagai limbah B3 bila mengandung


bahan berbahaya atau beracun yang sifat dan konsentrasinya, baik
langsung maupun tidak langsung, dapat merusak atau
mencemarkan lingkungan hidup atau membahayakan kesehatan
manusia.Yang termasuk limbah B3 antara lain adalah bahan baku
yang berbahaya dan beracun yang tidak digunakan lagi karena
rusak, sisa kemasan, tumpahan, sisa proses, dan oli bekas kapal
yang memerlukan penanganan dan pengolahan khusus. Bahanbahan ini termasuk limbah B3 bila memiliki salah satu atau lebih
karakteristik berikut: mudah meledak, mudah terbakar, bersifat
reaktif, beracun, menyebabkan infeksi, bersifat korosif, dan lainlain, yang bila diuji dengan toksikologi dapat diketahui termasuk
limbah B3.
Berdasarkan sumbernya, limbah B3 dapat diklasifikasikan
menjadi:

Primary sludge, yaitu limbah yang berasal dari tangki


sedimentasi pada pemisahan awal dan banyak mengandung
biomassa senyawa organik yang stabil dan mudah
menguap.
Chemical sludge, yaitu limbah yang dihasilkan dari proses
koagulasi dan flokulasi
13
7

Excess activated sludge, yaitu limbah yang berasal dari


proses pengolahan dengan lumpur aktif sehingga banyak
mengandung padatan organik berupa lumpur dari hasil
proses tersebut.
Digested sludge, yaitu limbah yang berasal dari pengolahan
biologi dengan digested aerobic maupun anaerobic di mana
padatan/lumpur yang dihasilkan cukup stabil dan banyak
mengandung padatan organik.

Macam Limbah Beracun

Limbah mudah meledak adalah limbah yang melalui reaksi


kimia dapat menghasilkan gas dengan suhu dan tekanan
tinggi yang dengan cepat dapat merusak lingkungan.
Limbah mudah terbakar adalah limbah yang bila
berdekatan dengan api, percikan api, gesekan atau sumber
nyala lain akan mudah menyala atau terbakar dan bila telah
menyala akan terus terbakar hebat dalam waktu lama.
Limbah reaktif adalah limbah yang menyebabkan
kebakaran karena melepaskan atau menerima oksigen atau
limbah organik peroksida yang tidak stabil dalam suhu
tinggi.
Limbah beracun adalah limbah yang mengandung racun
yang berbahaya bagi manusia dan lingkungan. Limbah B3
dapat menimbulkan kematian atau sakit bila masuk ke
dalam tubuh melalui pernapasan, kulit atau mulut.
Limbah yang menyebabkan infeksi adalah limbah
laboratorium yang terinfeksi penyakit atau limbah yang
mengandung kuman penyakit, seperti bagian tubuh
manusia yang diamputasi dan cairan tubuh manusia yang
terkena infeksi.
Limbah yang bersifat korosif adalah limbah yang
menyebabkan iritasi pada kulit atau mengkorosikan baja,
yaitu memiliki pH sama atau kurang dari 2,0 untuk limbah
13
8

yang bersifat asam dan lebih besar dari 12,5 untuk yang
bersifat basa.
(http://educorolla8.blogspot.com)
1. 4. Volume Limbah
Semakin besar volume limbah, pada umumnya, bahan
pencemarnya semakin banyak. Hubungan ini biasanya terjadi
secara linier. Oleh sebab itu dalam pengendalian limbah sering
juga diupayakan pengurangan volume limbah. Kaitan antara
volume limbah dengan volume badan penerima juga sering
digunakan sebagai indikasi pencemaran. Perbandingan yang
mencolok jumlahnya antara volume limbah dan volume penerima
limbah juga menjadi ukuran tingkat pencemaran yang ditimbulkan
terhadap lingkungan. Misalnya limbah sebanyak 100 m3 air per 8
jam mempunyai konsentrasi plumbum 4 mg/hari dialirkan ke suatu
sungai. Yang mempunyai debit 8.000 m3 perjam.
(http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/).
1. 5. Pengolahan Limbah Cair
Secara umum penanganan air limbah dapat dikelompokkan
menjadi

Pengolahan Awal/Pendahuluan (Preliminary Treatment)

Tujuan utama dari tahap ini adalah usaha untuk melindungi alatalat yang ada pada instalasi pengolahan air limbah. Pada tahap ini
dilakukan penyaringan, penghancuran atau pemisahan air dari
partikel-partikel yang dapat merusak alat-alat pengolahan air
limba, seperti pasir, kayu, sampah, plastik dan lain-lain.

Pengolahan Primer (Primary Treatment)


13
9

Tujuan pengolahan yang dilakukan pada tahap ini adalah


menghilangkan partikel-artikel padat organik dan organik melalui
proses fisika, yakni sedimentasi dan flotasi. Sehingga partikel
padat akan mengendap (disebut sludge) sedangkan partikel lemak
dan minyak akan berada di atas / permukaan (disebut grease).

Pengolahan Sekunder (Secondary Treatment)

Pada tahap ini air limbah diberi mikroorganisme dengan tujuan


untuk menghancurkan atau menghilangkan material organik yang
masih ada pada air limbah. Tiga buah pendekatan yang umum
digunakan pada tahap ini adalah fixed film, suspended film dan
lagoon system.

Pengolahan Akhir (Final Treatment)

Fokus dari pengolahan akhir (Final Treatment) adalah


menghilangkan organisme penyebab penyakit yang ada pada air.
Hal ini dapat dilakukan dengan cara menambahkan khlorin
ataupun dengan menggunakan sinar ultraviolet

Pengolahan Lanjutan (Advanced Treatment)

Pengolahan lanjutan diperlukan untuk membuat komposisi air


limbah sesuai dengan yang dikehendaki. Misalnya untuk
menghilangkan kandungan fosfor ataupun amonia dari air limbah.
(http://aimyaya.com/)
Menurut Ehless dan Steel, air limbah adalah cairan buangan yang
berasal dari rumah tangga, industry, dan tempat-tempat umum
lainnya dan biasanya mengandung bahan-bahan atau zat yang
dapat membehayakan kehidupan manusia serta mengganggu
kelestarian lingkungan.
Air limbah dapat berasal dari berbagai sumber, antara lain:
14
0

1. Rumah tangga
Contoh: air bekas cucian,air bekas memasak, air bekas mandi, dan
sebagainya.
2. Perkotaan
Contoh: air limbah dari perkantoran, perdagangan, selokan, dan
dari tempat-tempat ibadah.
3. Industri
Contoh: air limbah dari pabrik baja, pabrik tinta, pabrik cat, dan
pabrik karet.
Industri dan kegiatan lainnya yang mempunyai air buangan yang
membentuk limbah cair dalam skala besar harus melakukan
penanganan agar tidak berdampak pada lingkungan disekitarnya.
Apabila limbah cair tersebut tidak dilakukan pengolahan dan
dibuang langsung ke lingkungan umum, sungai, danau, laut akan
berdampak pada lingkungan karena jumlah polutan di dalam air
menjadi semakin tinggi. Pada dasarnya ada dua alternative
penanganan yaitu membawa limbah cair ke pusat pengolahan
limbah atau memiliki sendiri instalasi pengolahan air limbah
(IPAL) proses pengolahan limbah cair pada dasarnya
dikelompokkan menjadi tiga tahap yaitu proses pengolahan primer,
sekunder, dan tersier. ( Sunu.P., 2001)
Air limbah sebelum dilepas kepembuangan akhir harus menjalani
pengolahan terlebih dahulu. Untuk dapat melaksanakan
pengolahan air limbah yang efektif diperlukan rencana pengelolaan
yang baik. Adapun tujuan dari pengelolaan air limbah itu sendiri,
antara lain:
1. Mencegah pencemaran pada sumber air rumah tangga.
14
1

2. Melindungi hewan dan tanaman yang hidup dalam air.


3. Menghindari pencemaran tanah permukaan.
4. Menghilangkan tempat berkembangbiaknya bibit dan vector
penyakit.
Sementara itu, sistem pengelolaan air limbah yang diterapkan
harus memenuhi persyaratan berikut.
1. Tidak mengakibatkan kontaminasi terhadap sumber-sumber air
minum.
2. Tidak mengakibatkan pencemaran air permukaan.
3. Tidak menimbulkan pencemaran pada flora dan fauna yang
hidup di air didalam penggunaannya sehari-hari.
4. Tidak dihinggapi oleh vector atau serangga yang menyebabkan
penyakit.
5. Tidak terbuka dan harus tertutup.
6. Tidak menimbulkan bau atau aroma tidak sedap.
(Chandra.B.2007).
Pabrik yang secara kontiniu membuang limbah berbeda dengan
pabrik yang membuang limbah secara periodik walau konsentrasi
pencemar sama, dan jumlah buangan nya pun sama. Pengaruh
terhadap lingkungan mengalami perbedaan.
Dalam hal sering tidaknya suatu pabrik membuang limbah
tergantung terhadap proses pengolahan dalam pabrik. Artinya
volume air buangannya tergantung dari volume produksinya.
Semakin tinggi produksi semakin tinggi volume limbahnya. Ada
14
2

pabrik yang dalam periode tertentu jumlah airnya melebihi dari


pada kondisi sehari-hari. Setiap lima hari dalam sebulan volume
limbahnya sangat berlebih, kecuali bila pabrik blow down. Atau
ada pabrik yang hanya membuang limbah sekali dalam seminggu
sedangkan pada hari-hari lainnya tidak. Semakin banyak frekuensi
pembuangan limbah, semakin tinggi tingkat pencemaran yang
ditimbulkan.
Dampak pencemaran limbah terhadap lingkungan harus dilihat dari
jenis parameter pencemar dan konsentrasinya dalam air limbah.
Dari satu sisi suatu limbah mempunyai parameter tunggal dengan
konsentrasi yang relatif tinggi. Disisi lain ada limbah dengan 10
parameter tapi dengan konsentrasi yang juga melewati ambang
batas. Persoalannya bukan yang mana lebih baik dari pada yang
terburuk, melainkan seharusnya lebih mendapat prioritas.
( Ginting.P.1992).
1. Karakter Limbah

Domestik

Limbah domestic adalah semua buangan yang berasal dari kamar


mandi, kakus, dapur, tempat cuci pakaian, cuci peralatan rumah
tangga, apotek, rumah sakit, rumah makan dan sebagainya yang
secara kuantitatif limbah tadi terdiri dari zat organic baik berupa
zat padat ataupun cair, bahan berbahaya, dan beracun, garam
terlarut, lemah dan bakteri terutama golongan fekal coli, jasad
pathogen, dan parasit.

Non domestik

Limbah domestic sangat bervariasi, terlebih lebih untuk limbah


industri. Limbah pertanian biasanya terdiri atas bahan padat bekas
tanaman yang besifat organis, bahan pemberantas hama dan
14
3

penyakit ( peptisida bahan pupuk yang mengandung nitrogen,


fosfor, sulfur, mineral, dan sebagainya. (Sastrawijaya.T.A. 2001).
Dalam air buangan terdapat zat organic yang terdiri dari unsure
karbon, hydrogen, dan oksigen dengan unsure tambahan yang lain
seperti nitrogen, belerang dan lain-lain yang cenderung menyerap
oksigen.
Bentuk lain untuk mengukur oksigen ini adalah COD. Pengukuran
ini diperlukan untuk mengukur kebutuhan oksigen terhadap zat
organic yang sukar dihancurkan secara oksidasi. Oleh karena itu
dibutuhkan bantuan pereaksi oksidator yang kuat dalam suasana
asam. Nilai BOD selalu lebih kecil dari pada nilai COD diukur
pada senyawa organic yang dapat diuraikan maupun senyawa
organic yang tidak dapat berurai. ( Agusnar.H.2008 )
Laju aliran dan keragaman laju aliran merupakan factor penting
dalam rancangan proses. Sejumlah unit dalam kebanyakan system
penanganan harus dirancang berdasarkan puncak laju aliran dan
memberikan pertimbangan untuk meminimumkan keragaman laju
aliran bila mana mungkin. ( Jenie.L.S.1993 ).
1. 7. Logam Berat
Air sering tercemar oleh berbagai komponen anorganik,
diantaranya berbagai jenis logam berat yang berbahaya, yang
beberapa diantaranya banyak digunakan dalam skala industri.
Industri industri logam berat tersebut harus mendapatkan
pengawasan yang ketat sehingga tidak membahayakan bagi para
pekerja maupun lingkungan sekitarnya.
Logam berat yang berbahaya dan sering mencemari lingkungan,
yang terutama adalah Merkuri (Hg), Timbal (Pb), Arsenik (As),
Kadmium (Cd), Kromium (Cr), Nikel (Ni), dan Zink (Zn). Logamlogam berat tersebut diketahui dapat mengumpul dalam tubuh
14
4

suatu organisme dan tetap tinggal dalam tubuh dalam jangka waktu
yang lama sebagai racun yang terakumulasi. ( Kristanto.P. 2002 ).
1. Chemical Demand Oxygen (COD)
Chemical Oxygen Demand (COD) adalah jumlah oksigen (mg O2)
yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organis yang terdapat
dalam 1 ml sampel air, di mana pengoksidasi K2Cr2O7 digunakan
sebagai sumber oksigen terlarut.
Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran oleh zat-zat
organis yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses
mukrobiologi dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut di
dalam air. (Alaerts.1984)
Uji COD adalah suatu pembakaran kimia secara basah dari bahan
organik dalam sampel. Larutan asam dikromat digunakan untuk
mengoksidasi bahan organik pada suhu tinggi. Berbagai prosedur
COD yang menggunakan waktu reaksi dari menit sampai 2 jam
dapat digunakan.
Penggunaan dua katalis perak sulfat dan merkuri sulfat diperlukan
masing-masing untuk mengatasi gangguan klorida dan untuk
menjamin oksidasi senyawa-senyawa organik kuat menjadi
teroksidasi.
Analisis BOD dan COD dari suatu limbah akan menghasilkan
nilai-nilai yang berbeda karena kedua uji mengukur bahan yang
berbeda. Nilai-nilai COD selalu lebih tinggi dari nilai BOD.
Perbedaan di antara kedua nilai disebabkan oleh banyak faktor
seperti bahan kimia yang tahan terhadap oksidasi kimia, seperti
lignin ; bahan kimia yang dapat dioksidasi secara kimia dan peka
terhadap oksidasi biokimia tetapi tidak dalam uji BOD 5 hari
seperti selulosa, lemak berantai panjang atau sel-sel mikroba dan
14
5

adanya bahan toksik dalam limbah yang akan menggangu uji BOD
tetapi tidak uj COD.
Walaupun metode COD tidak mampu mengukur limbah yang
dioksidasi secara biologik, metode COD mempunyai nilai praktis.
Untuk limbah spesifik dan pada fasilitas penanganan limbah
spesifik, adalah mungkin untuk memperoleh korelasi yang baik
antara nilai COD dan BOD.
Perubahan nilai-nilai BOD dan COD suatu limbah akan terjadi
selama penanganan. Bahan yang teroksidasi secara biologik akan
turun selam penanganan, sedangkan bahan yang tidak teroksidasi
secara biologik tetapi teroksidasi secara kimia tidak turun. Bahan
yang tidak teroksidasi secara biologik akan terdapat dalam limbah
yang belum diberi penanganan dan akan meningkat karena residu
massa sel dari respirasi endogenes. Nisbah COD dan BOD akan
meningkat dengan stabilnya bahan yang teroksidasi secara
biologik.(Jenie.L.S.1993.).
Terdapat 2 macam limbah yaitu :
Limbah rumah tangga yaitu limbah yang berasal dari dapur, kamar
mandi, cucian, limbah bekas industri rumah tangga dan kotoran
manusia.
Limbah industri yaitu limbah yang berasal dari industri berupa
bahan-bahan kimia berbahaya.
Berdasarkan bentuknya, limbah dibagi menjadi 2 macam yaitu :
Limbah Padat
Limbah Cair (terdiri atas limbah organik dan anorganik)

14
6

Sesuai dengan sumber asalnya, air limbah mempunyai komposisi


yang sangat bervariasi dari setiap tempat dan setiap saat. Akan
tetapi, secara garis besar zat yang terdapat di dalam air limbah
dikelompokkan seperti skema berikut :

Pengetahuan mengenai karakteristik air buangan baik kuantitas


maupun kualitasnya adalah suatu hal yang perlu dipahami dalam
merencanakan suatu unit pengolahan limbah air buangan. Kualitas
air buangan dibedakan atas tiga karakteristik, yaitu :
1. 1. Karakteristik fisik.
Parameter yang termasuk dalam kategori ini adalah solid ( zat
padat ), temperatur, warna, bau.
1. 2. Karakteristik kimia
terbagi dalam tiga kategori : zat organik, zat anorganik dan gas
gas. Polusi zat organik biasanya dinyatakan dalam BOD
(Biological Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen
Demand ).
1. 3. Karakteristik Biologi
14
7

Merupakan banyaknya mikroorganisme yang terdapat dalam air


limbah tersebut, seperti : bakteri, algae, virus, fungi. Sifat biologis
ini perlu diketahui dalam kaitannya untuk mengetahui tingkat
pencemar air limbah sebelum dibuang ke badan air penerima.
Bahan polutan yang terkandung di dalam air buangan secara umum
dapat diklasifikasikan dalam tiga kategori, yaitu bahan terapung,
bahan tersuspensi dan bahan terlarut. Selain dari tiga kategori
tersebut, masih ada lainnya yaitu panas, warna, rasa, bau dan
radioaktif. Menurut sifatnya tiga kategori bahan polutan tersebut
dapat dibedakan sebagai yang mudah terurai secara biologi
(biodegradable) dan tidak mudah terurai secara biologi (non
biodegradable).
Dampak terhadap badan air, limbah industri dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :

Suhu

Setiap organisme mempunyai suhu minimum, optimum dan


maksimum untuk hidupnya dan mempunyai kemempuan
menyesuaikan diri sampai batas tertentu. Suhu air mempunyai
pengaruh yang besar dalam proses pertukaran zat atau
metabolisme dari makhluk hidup. Selain itu suhu juga berpengaruh
terhadap kadar oksigen terlarut dalam air. Semakin tinggi
temperatur suatu perairan, semakin cepat pula perairan tersebut
mengalami kejenuhan. Suhu air untuk budidaya ikan berkisar
antara 25 300C.

pH

Efek polutan bersifat asam terhadap kehidupan ikan dapat


mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangbiakan. Batas
14
8

minimum air tawar pada umumnya adalah pada pH 4 dan batas


maksimum pada pH11.

Oksigen terlarut (DO)

Kadar DO merupakan salah satu parameter kualitas air yang


penting bagi kelangsungan hidup dan pertumbuhan ikan. Ikan
memerlukan oksigen dalam bentuk oksigen terlarut. Oksigen
terlarut dipengaruhi oleh suhu, pH dan karbondioksida. Air kolam
yang mengandung konsentrasi oksigen terlaut yang rendah akan
mempengaruhi kesehatan ikan, karena ikan lebih mudah terserang
penyakit atau parasit. Bila konsentrasi oksigen terlarut dibawah 4
5 mg/l maka ikan tidak mau makan dan tidak berkembang dengan
baik. Bila konsentrasi oksigen terlarut tetap sebesar 3 atau 4 mg/l
untuk jangka waktu yang lama maka ikan akan menghentikan
makan dan pertumbuhannya terhenti. Kadar oksigen 0,2 0,8 mg/l
merupakan konsentrasi yang dapat mematikan ikan gurameh.

Zat organik terlarut (BOD)

Zat organik terlarut menyebabkan menurunnya kadar oksigen


terlarut di badan air, sehingga badan air tersebut mengalami
kekurangan oksigen yang sangat diperlukan oleh kehidupan air dan
menyebabkan menurunnya kualitas badan air tersebut.

COD (Chemical Oxygen Demand)

COD diperlukan untuk menentukan kekuatan pencemaran suatu


limbah dengan mengukur jumlah oksigen untuk mengoksidasi zat
zat organik yang terdapat pada air limbah tersebut. COD adalah
ukuran dari jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi
kimia bahan bahan organik perairan. COD juga dikatakan
sebagai jumlah oksigen yang dikonsumsi.

14
9

Mengingat sifat sifat limbah sedemikian kompleksnya maka cara


pengolahannya harus disesuaikan dengan sifat sifat limbah yang
bersangkutan, harus dilakukan survei, analisis contoh limbah dan
yang paling penting adalah dilakukan percobaan dalam skala
laboratorium untuk menentukan parameter yang akan digunakan
sebagai kriteria perencanaan. Proses pengolahan air limbah
merupakan proses tiruan dari proses self purification, yaitu proses
pemurnian kembali pada badan air yang terkena buangan limbah
tanpa pengolahan/bantuan manusia, dimana selama prosesnya
meliputi tahapan tahapan perbaikan kualitas air yang terdiri dari
empat zone, yaitu dimulai dari zone degradasi, zone pengurai aktif,
zone perbaikan dan zone normal yang waktunya dipersingkat.
Penyingkatan waktu tersebut dapat dilakukan dengan cara melalui
pengolahan limbah. Unsur unsur yang tidak dikehendaki
kehadirannya dalam air limbah dapat dihilangkan dengan cara
fisik, kimia, dan biologi. Cara pengolahan secara fisik disebut unit
operasi. Sedangkan pengolahan dengan mempergunakan zat zat
kimia atau aktivitas biologi disebut unit proses. Pengolahan fisik
sering disebut pengolahan primer dengan maksud untuk mereduksi
zat padat tersusupensi dan tergantung dari waktu tinggal dalam bak
pengendapan. Pengolahan kimia sering disebut pengolahan
sekunder yang bertujuan untuk mengendapkan partikel yang
mudah mengendap. Pengolahan biologi sering pula disebut
pengolahan sekunder dengan tujuan untuk mengurangi kandungan
bahan organik dalam limbah cair (BOD).
B.

Pengolahan air limbah

Pengolahan Fisik

Pada umumnya sebelum dilakukan pengolahan lanjutan terhadap


air buangan diinginkan agar bahan bahan tersusupensi berukuran
besar dan ang mudah mengendap atau bahan bahan yang
terapung disisihkan terlebih dahulu. Metode metode pengolahan
15
0

secara fisik meliputi penyaringan, pengendapan, pengapungan,


pengadukan dan pengeringan lumpur.
1. Screen (Penyaringan)
Fungsinya adalah untuk menahan benda- benda kasar seperti
sampah dan benda- benda terapung lainnya.
2. Equalisasi
Karakteristik air buangan dari industri seringkali tidak konstan,
misalnya unsur unsur pH, warna, BOD dan sebagainya. Hal ini
akan menyulitkan dalam pengoperasian suatu instalasi pengolahan
air limbah, sehingga dibuat suatu sistem equalisasi sebelum air
limbah tersebut diolah.
3. Sedimentasi (Pengendapan)
Proses Pengendapan adalah pengambilan partikel partikel
tersuspensi yang terjadi bila air diam atau mengalir secara lambat
melalui bak. Partikel partikel ini akan terkumpul pada dasar
kolam, membentuk suatu lapisan lumpur. Air yang mencapai outlet
tangki akan berada dalam kondisi yang jernih. Proses pengendapan
yang terjadi dalam suatu bak pengendapan merupakan unit utama
pada pengolahan fisik. Ada dua macam bak pengendapan yaitu bak
pengendapan dengan arah aliran horizontal dan aliran vertikal.
4. Mixing dan Stiring (Pencampuran dan pengadukan)
Mixing adalah pencampuran dua zat atau lebih membentuk
campuran yang homogen. Stiring adalah pengadukan campuran
homogen hasil mixing sehingga terjadi proses penggumpalan dari
zat zat yang ingin dipisahkan dari air.
5. Pengeringan lumpur
15
1

Penurunan kadar lumpur yang dilakukan dengan pengolahan fisik


yang terdiri dari salah satu atau kombinasi unit unit berikut :
1. Pengentalan lumpur (Sludge Thickener)
2. Pengeringan lumpur (Sludge Drying Bed)

Pengolahan Kimia

Pengolahan kimia untuk air yang dapat dilakukan pada pengolahan


air buangan industri adalah koagulasi flokulasi, netralisasi,
adsorbsi, dan desinfeksi. Pengolahan ini menggunakan zat zat
kimia sebagai pembantu yang bertujuan untuk menghilangkan
partikel partikel yang tidah mudah mengendap (koloid), logam
berat dan zat organik beracun.

Pengolahan Biologi

Pengolahan biologi adalah pengolahan air limbah dengan


memanfaatkan aktivitas biologi (aktivitas mikroorganisme) dengan
tujuan menyisihkan bahan pencemar dalam air limbah. Proses
pengolahan biologi adalah penurunan bahan organik terlarut dan
koloid dalam air limbah menjadi serat serat sel biologi (berupa
endapan lumpur), kemudian diendapkan pada bak sedimentasi.
Proses ini dapat berlangsung secara aerob (dengan bantuan
oksigen) maupun anaerob (tidak dengan bantuan oksigen).
Ada 3 macam pengolahan biologi yang banyak diterapkan saat ini,
yaitu:
1. Lumpur aktif.
2. Trickling filter.
3. Kolam oksidasi.
15
2

Diantara sistem pengolahan limbah secara biologi tesebut tricling


filter dapat menurunkan nilai BOD 80 90 %. Pada proses
pengolahan biologi dengan menggunakan jenis trickling filter
dengan cara melewatkan air limbah ke dalam media filter yang
terdiri dari materi yang kasar dan keras. Zat organik yang terdapat
di dalam air limbah diuraikan oleh bakteri dari mikroorganisme
baru, sehingga populasi mikroorganisme pada permukaan media
filter semakin banyak dan membentuk lapisan seperti lendir
(slyme).
1. C. Unit IPAL
Unit IPAL dirancang sedemikan rupa agar cara operasinya mudah
dan biaya operasionalnya murah. Unit ini terdiri dari perangkat
utama dan perangkat penunjang. Perangkat utama dalam system
pengolahan terdiri dari unit pencampur statis (static mixer), bak
antara, bak koagulasi-flokulasi, saringan multimedia/ kerikil, pasir,
karbon, mangan zeolit (multimedia filter), saringan karbon aktif
(activated carbon filter), dan saringan penukar ion (ion exchange
filter). Perangkat penunjang dalam sistem pengolahan ini dipasang
untuk mendukung operasi treatment yang terdiri dari pompa air
baku untuk intake (raw water pump), pompa dosing (dosing
pump), tangki bahan kimia (chemical tank), pompa filter untuk
mempompa air dari bak koagulasi-flokulasi ke saringan/filter, dan
perpipaan serta kelengkapan lainnya.
Proses pengolahan diawali dengan memompa air baku dari bak
penampungan kemudian diinjeksi dengan bahan kimia ferrosulfat
dan PAC (Poly Allumunium Chloride), kemudian dicampur melalui
static mixer supaya bercampur dengan baik. Kemudian air baku
yang teroksidasi dialirkan ke bak koagulasiflokulasi dengan waktu
tinggal sekitar 2 jam. Setelah itu air dari bak dipompa ke saringan
multimedia, saringan karbon aktif dan saringan penukar ion. Hasil
air olahan di masukkan ke bak penampungan untuk digunakan
15
3

kembali sebagai air pencucian. Diagram proses IPAL industri


pelapisan logam dapat dilihat
Gambar 3.6. Proses Pengolahan Limbah Industri Kecil
D.

Cara Kerja IPAL

a. Pompa Air Baku (Raw water pump)


Pompa air baku yang digunakan jenis setrifugal dengan kapasitas
maksimum yang dibutuhkan untuk unit pengolahan (daya tarik
minimal 9 meter dan daya dorong 40 meter). Air baku yang
dipompa berasal dari bak akhir dari proses pengendapan pada hasil
buangan limbah industri pelapisan logam.
b. Pompa Dosing (Dosing pump)
Merupakan peralatan untuk mengijeksi bahan kimia (ferrosulfat
dan PAC) dengan pengaturan laju alir dan konsentrasi tertentu
untuk mengatur dosis bahan kimia tersebut. Tujuan dari pemberian
bahan kimia ini adalah sebagai oksidator.
c. Pencampur Statik (Static mixer)
Dalam peralatan ini bahan-bahan kimia dicampur sampai homogen
dengan kecepatan pengadukan tertentu untuk menghindari pecah
flok.
d. Bak Koagulasi-Flokulasi
Dalam unit ini terjadi pemisahan padatan tersuspensi yang
terkumpul dalam bentuk-bentuk flok dan mengendap, sedangkan
air mengalir overflow menuju proses berikutnya.

15
4

e. Pompa Filter
Pompa yang digunakan mirip dengan pompa air baku. Pompa ini
harus dapat melalui saringan multimedia, saringan karbon aktif,
dan saringan penukar ion.
f. Saringan Multimedia
Air dari bak koagulasi-flokulasi dipompa masuk ke unit
penyaringan multimedia dengan tekanan maksimum sekitar 4 Bar.
Unit ini berfungsi menyaring partikel kasar yang berasal dari air
olahan. Unit filter berbentuk silinder dan terbuat dari bahan
fiberglas. Unit ini dilengkapi dengan keran multi purpose
(multiport), sehingga untuk proses pencucian balik dapat dilakukan
dengan sangat sederhana, yaitu dengan hanya memutar keran
tersebut sesuai dengan petunjuknya. Tinggi filter ini mencapai 120
cm dan berdiameter 30 cm. Media penyaring yang digunakan
berupa pasir silika dan mangan zeolit. Unit filter ini juga didisain
secara khusus, sehingga memudahkan dalam hal pengoperasiannya
dan pemeliharaannya. Dengan menggunakan unit ini, maka kadar
besi dan mangan, serta beberapa logam-logam lain yang masih
terlarut dalam air dapat dikurangi sampai sesuai dengan kandungan
yang diperbolehkan untuk air minum.
g. Saringan Karbon Aktif
Unit ini khusus digunakan untuk penghilang bau, warna, logam
berat dan pengotor-pengotor organik lainnya. Ukuran dan bentuk
unit ini sama dengan unit penyaring lainnya. Media penyaring
yang digunakan adalah karbon aktif granular atau butiran dengan
ukuran 1 2,5 mm atau resin sintetis, serta menggunakan juga
media pendukung berupa pasir silika pada bagian dasar.
15
5

h. Saringan Penukar Ion


Pada proses pertukaran ion, kalsium dan magnesium
ditukardengan sodium. Pertukaran ini berlangsung dengan cara
melewatkan air sadah ke dalam unggun butiran yang terbuat dari
bahan yang mempunyai kemampuan menukarkan ion. Bahan
penukar ion pada awalnya menggunakan bahan yang berasal dari
alam yaitu greensand yang biasa disebut zeolit, Agar lebih efektif
Bahan greensand diproses terlebih dahulu. Disamping itu
digunakan zeolit sintetis yang terbuat dari sulphonated coals dan
condentation polymer. Pada saat ini bahan-bahan tersebut sudah
diganti dengan bahan yang lebih efektif yang disebut resin penukar
ion. Resin penukar ion umumnya terbuat dari partikel cross-linked
polystyrene. Apabila resin telah jenuh maka resin tersebut perlu
diregenerasi. Proses regenerasi dilakukan dengan cara melewatkan
larutan garam dapur pekat ke dalam unggun resin yang telah jenuh.
Pada proses regenerasi terjadi reaksi sebaliknya yaitu kalsium dan
magnesium dilepaskan dari resin, digantikan dengan sodium dari
larutan garam.
i. Sistem Jaringan Perpipaan
Sistem jaringan perpipaan terdiri dari empat bagian, yaitu jaringan
inlet (air masuk), jaringan outlet (air hasil olahan), jaringan bahan
kimia dari pompa dosing dan jaringan pipa pembuangan air
pencucian. Sistem jaringan ini dilengkapi dengan keran-keran
sesuai dengan ukuran perpipaan. Diameter yang dipakai sebagian
besar adalah 1 dan pembuangan dari bak koagulasi-flokulasi
sebesar 2. Bahan pipa PVC tahan tekan, seperti rucika.
Sedangkan keran (ball valve) yang dipakai adalah keran tahan
karat terbuat dari plastik.
j. Tangki Bahan-Bahan Kimia

15
6

Tangki bahan kimia terdiri dari 2 buah tangki fiberglas dengan


volume masing-masing 30 liter. Bahan-bahan kimia adalah
ferrosulfat dan PAC. Bahan kimia berfungsi sebagai oksidator.
1. E. IPAL Skala Rumah Tangga
Cara yang lebih efektif adalah membuat instalasi pengolahan yang
sering disebut dengan sistem pengolahan air limbah (SPAL).
Caranya gampang; bahan yang dibutuhkan adalah bahan yang
murah meriah sehingga rasanya tak sulit diterapkan di rumah
Anda. Instalasi SPAL terdiri dari dua bagian, yaitu bak pengumpul
dan tangki resapan. Di dalam bak pengumpul terdapat ruang untuk
menangkap sampah yang dilengkapi dengan kasa 1 cm persegi,
ruang untuk penangkap lemak, dan ruang untuk menangkap
pasir.Tangki resapan dibuat lebih rendah dari bak pengumpul agar
air dapat mengalir lancar. Di dalam tangki resapan ini terdapat
arang dan batu koral yang berfungsi untuk menyaring zat-zat
pencemar yang ada dalam greywater.
Cara kerja ipal skala rumah tangga, air bekas cucian atau bekas
mandi dialirkan ke ruang penangkap sampah yang telah dilengkapi
dengan saringan di bagian dasarnya. Sampah akan tersaring dan air
akan mengalir masuk ke ruang di bawahnya. Jika air mengandung
pasir, pasir akan mengendap di dasar ruang ini, sedangkan lapisan
minyak karena berat jenisnya lebih ringan akan mengambang di
ruang penangkap lemak.
Air yang telah bebas dari pasir, sampah, dan lemak akan mengalir
ke pipa yang berada di tengah-tengah tangki resapan. Bagian
bawah pipa tersebut diberi lubang sehingga air akan keluar dari
bagian bawah. Sebelum air menuju ke saluran pembuangan, air
akan melewati penyaring berupa batu koral dan batok kelapa.
Beberapa kompleks perumahan seperti Lippo Karawaci dan
hampir semua apartemen telah memiliki instalasi pengolah limbah
15
7

greywater yang canggih dan modern. Greywater yang telah diolah


akan digunakan lagi untuk menyiram tanaman, mengguyur kloset,
dan untuk mencuci mobil. Di Singapura dan negara-negara maju,
greywater bahkan diolah lagi menjadi air minum.
Berdasarkan pemaparan tersebut maka sistem pengolahan limbah
(SPAL) yang menghasilkan greywater seperti ini akan sangat
bagus ubtuk diterapkan di lingkungan perumahan dosen
Universitas Haluoleo karena selain biayanya yang murah dan
bahan yang digunakan mudah didapatkan, juga air hasil olahannya
ramah lingkungan bahkan dapat digunakan kembali atau diolah
lebih lanjut menjadi air minum.

Dampak dari IPAL Rumah Tangga yaitu terjadi


pencemaran air
Cara Mengatasi Pencemaran IPAL Rumah Tangga

Salah satu alternative untuk mengatasi masalah pencemaran oleh


air limbah rumah tangga adalah dengan cara mengolah air limbah
rumah tangga tersebut secara individual (on site treatment)
sebelum di buang ke saluran umum.

Prses Pengolahan Air Limbah dengan system


Kombinasi Biofilter Anaerob Aerob

Air limbah rumah tangga di alirkan melalui saringan kasar (bar


screen) untuk menyaring sampah berukuran besar seperti daun,
kertas, plastic dan lain-lain. Stelah melaui screen air limbah di
alirkan ke bak pengendap awal, untuk mengendapkan partikel
lumpur, pasir dan kotoran lainnya. Selain sebagai bak
pengendapan, juga berfungsi sebagai bak pengontrol aliran, bak
pengurai senyawa organic yang berbentuk padatan, sludge
digestion (pengurai lumpur) dan penampung lumpur.

15
8

Air limpasan dari bak pengendap awal dialirkan ke bak kontaktor


bak anaerob (dapat dipasang lebih dari satu sesuai dengan kualitas
dari jumlah air baku yang akan di olah) yang diisi dengan media
dari bahan plastik atau kerikil/batu split dengan arah aliran dari
atas ke bawah dan bawah ke atas.
Efesiensi penyaringan akan sangat besar karena dengan adanya
biofilter up flow yakni penyaringan dengan sistem aliran dari
bawah keatas akan mengurangi kecepatan partikel yang terdapat
pada air buangan dan partikel yang tidak terbawa aliran ke atas
akan mengendapkan di dasar bak filter. Sistem biofilter anaerbaerob ini sangat sederhana, operasinya mudah dan tanpa memakai
bahan kimia serta sedikit membutuhkan energi. Proses ini cocok
digunakan untuk mengolah air limbah rumah tangga dengan
kapasitas yang tidak terlalu besar.

Skema proses pengolahan air limbah rumah tangga dengan dengan


system biofilter anaerob-aerob:

15
9

IPAL SKALA LABORATORIUM KIMIA UNIVERSITAS


HALUOLEO
Limbah menurut Recycling and Waste Management Act
(krW-/AbfG) didefinisikan sebagai benda bergerak yang
diinginkan oleh pemiliknya untuk dibuang atau pembuangannya
dengan cara yang sesuai, yang aman untuk kesejahteraan umum
dan untuk melindungi lingkungan. Adanya bahan kimia di
universitas di mulai dari pemberian bahan yang diperlukan dari
gudang bahan kimia kepada pekerja atau mahasiswa yang
mengambil mata kuliah praktek di laboratorium. Bahan tersebut
digunakan untuk sintesis maupun analisis. Karena tujuan
penggunaannya maka terbentuk bahan awal, produk samping,
pelarut yang digunakan dan bahan kimia yang terkontaminasi,
dimana bahan ini harus diurai atau dibuang jika daur ulangnya
tidak mungkin dilakukan. Berlawanan dengan limbah industri,
limbah kimia dari laboraotrium di universitas yang terbentuk
biasanya dalam jumlah kecil dari campuran yang sangat kompleks.
Intinya, hal ini menyatakan jumlah limbah yang berarti, yang harus
dibuang dari universitas dengan menggunakan dananya sendiri.
Untuk membuang limbah laboratorium, yang mungkin berbeda
16
0

pada tempat yang berbeda pula, cara yang sesuai bergantung pada
tipe percobaan yang dilakukan dan bahan kimia yang digunakan.
Tetapi beberapa tipe limbah berbahaya yang dihasilkan tidak dapat
dibuang dalam bentuk aslinya dan harus diolah terlebih dahulu.
Dengan bantuan proses yang sesuai, limbah tersebut dapat
dihilangkan sifat racunnya di tempat bahan tersebut dihasilkan.
Keuntungan dari penghilangan sifat racun juga mengurangi resiko
kontaminasi pada pekerja yang tidak berpengalaman dalam
menanganinya bila terjadi kecelakaan dengan limbah ini, oleh
karena itu hal ini juga untuk menghindari resiko terhadap
kontaminasi lingkungan.

Konsep manajemen limbah


Menghindari, mengurangi dan membuang limbah laboratorium
Akan lebih baik untuk menghindari pembentukan limbah pada
langkah yang sangat awal. Hal ini juga merupakan tujuan utama
dari Recycling and Waste Management Act (krW-/AbfG) yang
dikemukakan pada tahun 1996. (Nama lengkapnya: Undangundang untuk manajemen daur ulang dan menyelamatkan limbah
buangan yang aman terhadap lingkungan). Setelah aturan tersebut,
setiap orang yang mengembangkan, menghasilkan, mengolah dan
memproses atau menyebarkan bahan mempunyai komitmen untuk
menghindari limbah. Jika tidak mungkin untuk dihindari maka
jumlah limbah harus dikurangi dengan pengumpulan terpisah dan
pengukuran daur ulang. Akhirnya, setelah semua usaha ini
16
1

dilakukan, jumlah limbah yang masih tersisa harus dibuang


sebagai tanpa resiko terhadap kesehatan dan lingkungan.
Penggunaan kembali limbah laboratorium dapat dilakukan,
misalnya: untuk bahan kimia yang telah digunakan setelah melalui
prosedur daur ulang yang sesuai. Sebagai contoh, hal ini paling
sesuai untuk pelarut yang telah digunakan. Pelarut organik seperti
etanol, aseton, kloroform dan dietil eter dikumpulkan di dalam
laboratorium secara terpisah dan diperlakukan dengan distilasi.
Selama semua pengerjaan (dalam hal ini: percobaan kimia) dimana
terbentuk sejumlah besar limbah harus diperiksa dengan hati-hati,
apakah mungkin untuk mengurangi jumlah limbah dengan
penggunaan pengukuran yang sesuai (misal: kondisi reaksi
lainnya, penurunan skala volume reaksi). Hanya dalam kasus
dimana pengurangan jumlah limbah lebih lanjut tidak mungkin
secara prophylaxis dan pengukuran daur ulang, maka cara lama
untuk pembuangan limbah harus dilakukan.

Limbah Berbahaya di Laboratorium


Kelompok penting dari limbah adalah bahan kimia sisa/residu
yang biasanya dikelompokkan sebagai limbah berbahaya. Senyawa
ini dilarang untuk dibuang melalui pengumpulan limbah publik
atau melalui saluran air limbah yang umum. Tipe limbah yang
digolongkan sebagai limbah berbahaya harus dikumpulkan secara
terpisah dan dikirimkan oleh penghasilnya kepada perusahaan
pembuangan yang telah disetujui. Penghasil limbah juga harus
16
2

mengirimkan data yang sesuai tentang tipe limbah berbahaya


tersebut. Berdasarkan tipe limbahnya, nilai ambang batas tertentu
untuk kandungan dan sifat bahan kimia harus dipatuhi. Senyawa
yang hanya bisa dibuang dengan biaya tinggi harus dihindari, jika
dimungkinkan diganti dengan bahan pengganti yang sesuai, yang
dapat dibuang dengan biaya yang lebih efektif dan dengan cara
yang ramah terhadap lingkungan.
Pengumpulan Limbah Berbahaya
Limbah berbahaya dikumpulkan dalam wadah khusus, mematuhi
aturan yang berlaku(misalnya: Ordinance on the Hazardous
Substances, juga lihat: Legal Conditions for the Handling of
Hazardous Substances and Technical Guidelines on Safety in
Chemical Laboratory Courses). Tipe limbah yang berbeda
sebaiknya tidak dicampur menjadi satu. Untuk setiap tipe limbah
digunakan wadah khusus, yang telah diberikan oleh universitas
untuk pengumpulan. Wadah ini akan dikembalikan ke gudang
penyimpanan limbah. Wadah tersebut tidak boleh diisi lebih dari
90% (untuk menghindari tumpahan selama pengangkutan) dan
harus ditutup rapat serta diberi label dengan benar. Jika tidak,
perusahaan penanganan limbah tidak diijinkan untuk
menerimanya. Wadah yang rusak, bocor atau terkontaminasi
dengan senyawa berbahaya juga tidak dapat diterima. Aturan
umum untuk penanganan limbah berbahaya adalah menghindari
resiko yang membahayakan terhadap manusia dan lingkungan baik
selama penyimpanan, pengangkutan dan pembuangan bahan-bahan
tersebut.

Air Limbah yang Terbentuk Di Laboratorium


Air limbah laboratorium adalah cairan apa saja yang berasal dari
tempat pencucian. Pada kasus yang ideal biasanya mengandung
16
3

sedikit air. Pada praktek sehari-hari, limbah ini biasanya


mengandung larutan berair yang telah terlebih dahulu dinetralkan
menjadi pH 6 sampai 8 dan tidak mengandung logam-logam
berat. Selama pembuangan air limbah, ambang batasnya harus
sesuai dan biasanya nilai ini diberikan oleh pejabat pengurus air
limbah yang berwenang. Harus dipatuhi bahwa dilarang
mengencerkan air limbah dalam usaha untuk mencapai nilai
ambang batas ini. Sebagai contoh Tabel 1-3 menyajikan nilai
ambang batas untuk polutan yang berbeda di Technical University
of Braunschweig. Bila hasilnya melebihi nilai tersebut maka biaya
perlakuan air limbah akan membengkak. Senyawa yang diijinkan
untuk dibuang ke dalam air limbah adalah senyawa yang tidak
terdapat dalam tabel berikut, tidak digolongkan sebagai senyawa
berbahaya, dan jika bahan tersebut tidak berbahaya untuk
lingkungan dan untuk pengoperasian instalasi pengolahan air
limbah.
Parameter Dasar yang Penting Untuk Kualitas Air Limbah
Nilai pH dari air limbah harus berkisar antara 6,0 sampai 10,5
Temperatur tidak melebihi 35oC
Toksisitas air limbah harus lebih kecil dari nilai yang dapat
mempengaruhi proses biologi pada Instalasi Pengolahan Air
Limbah (IPAL), pembuangan lumpur atau penggunaan lumpur.
Konsentrasi zat warna dalam air limbah harus kurang dari nilai
yang dapat menyebabkan perubahan warna pada IPAL umum.
Nilai ambang batas untuk fenol dibuat rendah (0,025 mg/L air
limbah) karena senyawa ini dapat menyebabkan rasa-sakit yang
sangat susah dihilangkan selama pemurnian air.

16
4

Nilai ambang batas untuk senyawa yang menggunakan oksigen


seperti natrium sulfit, garam besi (II) dan tiosulfat ditetapkan 50
mg/L air limbah.

Tabel 1: Senyawa anorganik Nilai ambang batas (TLV) untuk


kation
Kation TLV
Antimoni
Arsen
Barium
Timbal
Kadmium
Kromium
Kromium (VI)
Kobalt
Tembaga
Nikel
Merkuri
Perak
Zinc
Tin

(mg/L)
0,25
0,05
1,0
0,5
0,5
0,5
0,1
1,0
0,5
0,5
0,025
0,25
2,5
0,5

Tabel 2: Senyawa anorganik Nilai ambang batas (TLV) untuk


anion
Anion TLV
Sianida
Fluorida

(mg/L)
10
25
16
5

Sulfat
Sulfida

300
1,0

Catatan : larutan berair yang tersisa setelah ekstraksi dengan


diklorometana atau
kloroform harus dibuang sebagai limbah berbahaya (mengandung
hidrokarbon
terklorinasi, VOX) atau harus dibuat tidak volatil dengan
menggunakan metoda yang
sesuai (misalnya: purging).
Catatan Khusus Pada Pembuangan Limbah Kimia Dari
Laboratorium
Dianjurkan untuk mendetoksifikasi sejumlah kecil limbah bahan
kimia berbahaya di laboratorium oleh staff yang berkompeten.
Keterangan lebih rinci tentang prosedur yang dapat digunakan
terdapat pada cara pengerjaannya. Tipe limbah berbahaya berikut
selalu terjadi pada pekerjaan di laboratorium. Oleh karena itu,
berikut ini diberikan beberapa informasi untuk mengolah dan
membuangnya.

Bahan kimia sisa:


Sebagai bahan kimia sisa, hanya bahan berikut yang dapat dibuang
yaitu jika
penyusunnya telah diketahui
16
6

tidak digolongkan sebagai bahan yang mudah meledak, dan


tidak bersifat radioaktif
Semuanya harus tidak mengandung penyusun yang sangat beracun
seperti dibenzodioksin dan furan terpoliklorinasi (PCDD/F),
bifenil terpoliklorinasi (PCB) atau bahan untuk perang. Wadah
limbah harus diberi label dengan benar meskipun pada wadah yang
kecil. Bejana kecil dan vial yang digunakan untuk produk reaksi
dari pekerjaan lab dapat dikumpulkan dalam wadah untuk bahan
padataan dan diberi keterangan, contohnya: sebagai produk
sintesis dari pekerjaan lab kimia anorganik dalam vial). Jika bahan
kimia tidak diketahui (misal : dalam bejana tanpa label),
dianjurkan untuk mengelusidasi tipe dari senyawa yang tersebut.
Bahan kimia yang telah digolongkan pada golongan limbah
tertentu harus dibuang sesuai dengan golongan tersebut. Sebagai
contoh adalah asam klorida. Bahan ini dimasukkan ke dalam
kelompok limbah asam anorganik, campuran asam dan mordants.
Artinya, HCl harus tidak dibuang sebagai bahan kimia sisa/residu.
Bahan kimia lama yang disimpan di dalam bejana tertutup
sebaiknya ditawarkan kepada kelompok atau institusi lain untuk
kepentingan yang lain. Bahan ini dapat dibuang hanya jika tidak
ada seorangpun yang tertarik untuk memilikinya dalam jangka
waktu yang telah ditentukan. Terdapat pula pengambilan kembali
bahan kimia dan pelarut dalam jumlah besar oleh pembuat bahan
kimia tersebut. Sebagai contoh, Perusahaan Merck menawarkan
suatu layanan dengan nama Retrologistics. Bahan kimia yang
dikirimkan akan diuji kondisinya dan tipe serta jumlahnya
didokumentasikan. Kandungan dari bejana kecil dengan bahan
kimia yang diketahui akan digabungkan menjadi jumlah yang lebih
besar. Setelah analisis dan kontrol kualitas, senyawa tersebut akan
digunakan dalam produksi dan sintesis. Jika penggunaan kembali
tidak dimungkinkan, bahan kimia tersebut akan dibuang menurut
aturan yang telah ditetapkan.
16
7

Asam Anorganik, Campuran Asam dan Mordant


Nilai pH dari larutan ini harus di bawah 6. Larutan asam berair ini
harus bebas dari
sianida (jika tidak, maka akan terbentuk hidrogen sianida !)
ion amonium (maks. 0,1 mol/L diijinkan), dan
tipe senyawa organik lainnya (misal : pelarut, lemak dan minyak)
Asam yang telah digunakan yang mengandung asam nitrat
(misalnya campuran asam nitrat) harus dinetralkan dan kemudian
dibuang sebagai dibersihkan dan dicuci dengan air) Larutan
asam yang tidak mengandung logam berat atau bahan berbahaya
lainnya dapat dinetralkan dengan natirum hidroksida atau natrium
hidrogen karbonat dalam jumlah molar yang sama dan kemudian
dibuang ke dalam air limbah laboratorium.
Basa, Campuran Basa dan Mordant
Limbah golongan ini merupakan limbah cair dengan pH di atas 8.
Larutan basa hidroksida berair ini harus bebas dari
sianida
ion amonium (maks. 0,1 mol/L, jika tidak akan terjadi pelepasan
amonia !), dan
tipe senyawa organik lainnya (misal : pelarut, lemak dan minyak)
Larutan basa yang tidak mengandung logam berat atau bahan
berbahaya lainnya dapat dinetralkan dengan asam klorida dengan
jumlah molar yang sama dan kemudian dibuang ke dalam air
limbah laboratorium.
16
8

Air Dari Pembersihan Dan Pencucian yang mengandung garam


logam
Limbah golongan ini mengandung larutan berair dari garam logam
yang harus bebas dari
sianida
ion amonium (maks. 0,1 mol/L diijinkan), dan
tipe senyawa organik lainnya (misal : pelarut, lemak dan minyak)
Untuk larutan berair ini dimungkinkan terjadinya pengurangan
volume yang nyata dengan menggunakan pengukuran konsentrasi.
Berdasarkan pemaparan tersebut maka sistem pengolahan limbah
(SPAL) untuk skala laboratorium seperti di atas akan sangat bagus
untuk diterapkan pada lingkungan laboratorium kimia Universitas
Haluole

16
9