Anda di halaman 1dari 19

SATUAN ACARA PENYULUHAN KESEHATAN

PENCEGAHAN BATU GINJAL DI RUANG BEDAH DAHLIA


RSUD DR. SOETOMO SURABAYA

Disusun oleh :
Luluk Anggarani, S.Kep

131523143034

Eko Yeppianto, S,Kep

131523143028

Yan Laras Malahayati M, S.Kep

131523143037

Sondi Andika Septian, S.Kep

131523143057

Buyung Tegar Aribowo, S.Kep

131523143038

Desi Wulan Eliawardani P, S.Kep

131523143077

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN NERS


FAKULTAS KEPERAWATANUNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2016

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)


Pokok Bahasan
Sasaran
Hari/ Tanggal
Tempat
Pelaksana
Waktu
1.

: Pencegahan Batu Ginjal


: Keluarga dan pengunjung Ruang Bedah Dahlia
RSUD Dr. Soetomo Surabaya
: Rabu,04 Mei 2016
: Ruang Bedah Dahlia RSUD Dr. Soetomo Surabaya
: Program Pendidikan Profesi Ners Fakultas Keperawatan
Universitas Airlangga dan TIM PKRS RSUD
Dr.Soetomo
: Pukul 10.00 WIB

A. TUJUAN
Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan, diharapkan keluarga
pasien dan pengunjung pasien di RSUD Dr. Soetomo Surabaya mengerti

2.

dan memahami tentang pencegahan batu ginjal.


Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikutipenyuluhan kesehatan selama 1 x 30 menit
diharapkan keluarga dan pengunjung pasien di ruang bedah Dahlia
mampu :
a. Memahami tentang pengertian batu ginjal
b. Menyebutkan penyebab batu ginjal
c. Menyebutkan tanda dan gejalabatu ginjal
d. Menyebutkan pencegahan batu ginjal
B. POKOK BAHASAN
1. Pengertian batu ginjal
2. Penyebabbatu ginjal
3. Tanda dan gejala batu ginjal
4. Pencegahan batu ginjal

C. METODE
1. Ceramah
2. Tanya jawab
D. MEDIA
1. Slide Power Point
2. Leaflet

E. KEGIATAN PENYULUHAN
Nomo
r
1.

2.

3.

Penyuluhan Pengurangan Resiko Jatuh


Tahapan dan Waktu Kegiatan Pendidikan Kegiatan Peserta
5 Menit sebelum
Petugas menyiapkan
Peserta
acara dimulai acara
daftar hadir, ruangan,
penyuluhan
dimulai
dan tempat untuk
mengisi daftar
peserta penyuluhan
hadir dan duduk
ditempat yang
telah disediakan
Pendahuluan 5 menit Pembukaan :
1. Mengucapkan
1. Menjawab
salam dan
salam
memperkenalkan
2. Mendengarkan
diri
tujuan dan
2. Menyampaikan
maksud dari
tujuan dan maksud
penyuluhan
penyuluhan
3. Mendengarkan
3. Menjelaskan
kontrak waktu
kontrak waktu dan 4. Menyetujui
mekanisme
kontrak topik
4. Kontrak topik
penyuluhan
materi penyuluhan
yang diberikan
Pelaksanaan kegiatan Pelaksanaan :
15 menit
1. Menggali
pengetahuan dan
pengalaman peserta
tentang pencegahan
batu ginjal
2. Menjelaskan materi
meliputi :
1) Pengertian batu
ginjal
2) Penyebab batu
ginjal dan
penyakit yang
berkontribusi
untuk terjadinya
batu ginjal
3) Tanda dan gejala
batu ginjal
4) Pencegahan batu
ginjal

1. Menjelaskan
apabila
mengetahui
tentang batu
ginjal
2. Mendengarkan
materi
penyuluhan
yang
disampaikan
3. Peserta
penyuluhan
mengajukan
pertanyaan
mengenai
materi yang
belum
dipahami
4. Mendengarkan
dan
memperhatikan
jawaban
penyaji
mengenai

Penutup 5 menit

4.

Evaluasi :
1. Menanyakan
kembali materi
yang telah
disampaikan
2. Penyaji
menyimpulkan
materi yang telah
disampaikan
3. Mengajak peserta
untuk mencuci
tangan setelah
kegiatan selesai
4. Tim penyuluh
membagikan leaflet
kepada semua
peserta penyuluhan

1.

2.

3.

4.

pertanyaan
peserta
penyuluhan
Peserta
penyuluhan
menjawab
pertanyaan
yang diajukan
oleh penyaji
Peserta
penyuluh
mendengarkan
kesimpulan
materi yang
disampaikan
Peserta
penyuluhan
menerima
leaflet
Peserta
penyuluhan
mempraktekka
n cuci tangan

F. PENGORGANISASIAN
1. Pembimbing Akademik

:Herdina Mariyanti, S.Kep,Ns.,M.Kep

2. Pembimbing Klinik

:Rini Winarsih, S.Kep.,Ns

3. Penyaji

:Eko Yeppianto, S.Kep

4. Moderator

: Buyung Tegar Aribowo, S.Kep

5. Observer Dan Notulen

:Desi Wulan Eliawardani P, S.Kep

6. Fasilitator

:Luluk Anggarani, S.Kep


Yan Laras Malahayati, S.Kep
Sondi Andika Septian, S.Kep

G. JOB DESCRIPTION
1. Penyaji
a. Menggali pengetahuan keluarga dan pengunjung pasien tentang
pengurangan batu ginjal

b. Menyampaikan materi kepada peserta penyuluhan agar bisa


memahami hal-hal tentang isi, makna, dan maksud dari penyuluhan
2. Moderator
a. Bertanggung jawab atas kelancaran acara
b. Membuka dan menutup acaram
c. Mengatur waktu penyajian materi sesuai dengan rencana kegiatan
3. Fasilitator
a. Membantu kelancaran acara penyuluhan
b. Mendorong peserta untuk bertanya kepada penyaji
c. Membagikan leaflet kepada semua peserta penyuluhan
4. Observer dan Notulen
a. Mengamati jalannya acara penyuluhan
b. Mencatat pertanyaan dari peserta
c. Mengevaluasi serangkaian acara penyuluhan mulai dari awal hingga
akhir
H. SETTING TEMPAT

SLIDE MATERI
PENYAJI

MODERATOR

FASILITATOR

OBSERVER DAN NOTULEN

FASILITATOR

PEMBIMBIN

Keterangan :
P

: Peserta penyuluhan ( Keluarga dan pengunjung pasien)

I. KRITERIA EVALUASI

1. Kriteria struktur
a. Kontrak waktu dan tempat diberikan 2 hari sebelum acara
dilakukan
b. Pengumpulan SAP 2 hari sebelum pelaksanaan penyuluhan
c. Peserta hadir pada tempat yang telah ditentukan
d. Penyelenggaraan penyuluhan dilakukan oleh mahasiswa bekerja
sama dengan TIM PKRS RSUD Dr. Soetomo Surabaya
e. Pengorganisasian penyelenggaraan penyuluhan dilakukan
sebelum dan saat penyuluhan dilaksanakan
2. Kriteria proses
a. Acara dimulai tepat waktu
b. Peserta antusias terhadap materi penyuluhan
c. Peserta mengikuti kegiatan sesuai dengan aturan yang telah
dijelaskan
d. Peserta mendengarkan dan memperhatikan penyuluhan
e. Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan POA (Plan of Action)
f. Pengorganisasian berjalan sesuai dengan Job Description
3. Kriteria hasil
a. Peserta yang datang sejumlah 7 orang atau lebih
b. Ada umpan balik positif dari peserta seperti dapat menjawab
pertanyaan yang diajukan pemateri
c. Peserta mampu menjawab dengan benar 75% dari pertanyaan
penyuluh.

MATERI PENYULUHAN PENCEGAHAN BATU GINJAL


A. Definisi Batu Ginjal
Batu ginjal (nefrolitiasis) merupakan suatu keadaan terdapatnya batu
(kalkuli) di ginjal yang terbentuk pada tubuli ginjal kemudian berada di
kaliks, infundibulum, pelvis ginjal, dan bahkan bisa mengisi pelvis serta
seluruh kaliks ginjal.
B. Penyebab Batu Ginjal
Faktor dibawah ini merupakan faktor utama predisposisi kejadian batu
ginjal dan menggambarkan kadar normal air kemih. Lebih dari 85% batu
pada laki-laki dan 7% pada perempuan mengandung kalsium, terutama

kalsium oksalat. Predisposisi kejadian batu khususnya batu kalsium


(Sudoyo,2010) dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Hiperkalsiuria
Kelainan ini dapat menyebabkan hematuri tanpa ditemukan
pembentukan batu. Kejadian hematuri diduga disebabkan kerusakan
jaringan lokal yang dipengaruhi oleh agregasi kristal kecil. Peningkatan
ekskresi kalsium dengan air kemih dengan atau tanpa faktor resiko
lainnya, ditemukan pada setengah dari pembentuk batu kalsium idiopatik.
Kejadian hiperkalsuria idiopatik diajukan dalam tiga bentuk:
a. Hiperkalsiuria absortif ditandai oleh adanya kenaikan absorbsi
kalsium dari lumen usus. Kejadian ini paling banyak dijumpai.
b. Hiperkalsiuria puasa ditandai adanya kelebihan kalsium, diduga
berasal dari tulang.
c. Hiperkalsiuria ginjal yang diakibatkan reabsorbsi kalsium di tubulus
ginjal.
Kemaknaan klinis dan patogenesis klasifikasi di atas masih belum jelas.
Masalah hiperkalsiuria idiopatik ini dapat disebabkan oleh : a). Diturunkan
autonom dominan dan sering dihubungkan dengan kenaikan konsentrasi
kalsitriol plasma atau 1,25-dihidroksi vitamin D3 ringan sampai sedang; b).
Masukan protein tinggi diduga meningkatkan kadar kalsitriol dan
kecenderungan pembentukan batu ginjal. Faktor yang meningkatkan kadar
kalsitriol belum jelas, kemungkinan faktor kebocoran fosfat dalam air kemih
dianggap sebagai kelainan primer. Penurunan kadar fosfat plasma dianggap
akan memicu sistesis kalsitriol. Mekanisme ini dijumpai pada sebagaian
kecil pasien.
2. Hipositraturia
Suatu penurunan sekresi inhibitor pembentukan kristal dalam air
kemih, khususnya sitrat, merupakan suatu mekanisme lain untuk
timbulnya batu ginjal. Masukan protein merupakan salah satu faktor
utama yang dapat membatasi ekskresi sitrat. Peningkatan reabsorbsi sitrat
akibat peningkatan asam di proksimal dijumpai pada asidosis metabolik
kronik, diare kronik, asidosis tubulus ginjal,diversi ureter, atau masukan

protein tinggi. Sitrat pada lumen tubulus akan meningkatkan kalsium


membentuk larutan kompleks yang tidak terdisosiasi. Hasilnya kalsium
bebas untuk menngikat oksalat berkurang. Sitrat juga dianggap
menghambat proses aglomerasi kristal.
Kekurangan inhibitor pembentukan batu selain sitrat, meliputi
glikoproteinyang disekresi oleh sel epitel tubulus ansa Henle asenden
seperti muko-protein Temm-Horsfall dan nefrokalsin. Nefrokalsin
muncul untuk mengganggu pertumbuhan kristal dengan mengabsorbsi
permukaan kristal dan memutus interaksi dengan larutan kristal lainnya.
Produk seperti mukoprotein Tamm-Horsfall dapat berperan dalam
kontribusi batu kambuh.
3. Hiperurikosuria
Hiperurikosuria merupaka suatau peningkatan asam urat air kemih
yang dapat memacu pembentukan batu kalsium, minimal sebagian oleh
kristal asam urat dengan membentuk nidus untuk presipitasi kalsium
oksalat atau presipitasi kalsium fosfat. Pada kebanyakan pasien dengan
lebih kearah diet purin yang tinggi.
4. Penurunan asupan cairan yang diminum
Keadaan ini biasanya disebabkan masukan cairan sedikit.Selanjutnya
dapat menimbulkan pembentukan batu dengan peningkatan reaktan dan
pengurangan

aliran

air

kemih.Penambahan

masukan

air

dapat

dihubungkan dengan rendahnya jumlah kejadian batu kemih.


5. Jenis cairan yang diminum
Jenis cairan yang diminum dapat memperbaiki masukan cairan yang
kurang. Minum soft drink lebih dari 1 liter per minggu menyebabkan
pengasaman dengan asam fosfor dapat meningkatkan resiko penyakit
batu. Kejadian ini tidak jelas, tetapi sedikit beban asam dapat
meningkatkan ekskresi kalsium dan ekskresi asam urat dalam air kemih
serta mengurangi kadar sitrat air kemih. Jus apel dan jus anggur juga
dihubungkan dengan peningkatan risiko pembentukan batu, sedangkan
kopi, teh, bir, dan anggur diduga dapat mengurangi risiko kejadian batu
ginjal.

6. Hiperoksaluria
Merupakan kenaikan eksresi oksalat di atas normal.Ekskresi oksalat
air kemih normal.Ekskresi oksalat air kemih normal dibawah 45 mg/hari
(0,5mmol/hari). Peningkatan kecil ekskresi oksalat menyebabkan
perubahan cukup besar dan dapat memacu presi[itasi kalsium oksalat
dengan derajat yang lebih besar dibandingkan kenaikan absolut ekskresi
kalsium. Oksalat air kemih berasal dari metabolisme glisin sebesar 40%,
dari asam askorbat sebesar 40%, dari oksalat diet sebesar 10%.
Kontribusi oksalat dan diet disebabkan sebagian garam kalsium oksalat
tidak larut di lumen intestinal.Absorbsi oksalat intestinal dan ekskresi
oksalat dalam air kemih dapat meningkat bila kekurangan kalsium pada
lumen intestinal untuk mengikat oksalat. Kejadian ini dapat terjadi pada
tiga keadaan : a) diet kalsium rendah, biasanya tidak dianjurkan untuk
pasien batu kalsium. b) hiperkalsiuria disebabkan oleh peningkatan
absorbsi kalsium intestinal. c) penyakit usus kecil atau akibat reseksi
pembedahan yang mengganggu absorbs lemak dan absorbs garam
empedu. Peningkatan absorbsi oksalat disebabkan oleh peningkatan
kalsium bebas dengan asam lemak pada lumen intestinal dan peningkatan
permeabilitas kolon terhadap oksalat.
Hiperoksaluria

dapat

disebabkan

oleh

hiperoksaluria

primer.Kelainan ini berbentuk kerusakan akibat kekurangan enzim dan


menyebabkan kelebihan produksi oksalat dari glikosalat.
7. Ginjal sponglosa medulla
Pembentukan batu kalsium meningkat pada kelainan ginjal
spongiosa, medula, terutama pasien dengan predisposisi faktor metabolik
hiperkalsiuria atau hiperurikosuria. Kejadian ini diperkirakan akibat
adanya kelainan duktus kolektus terminal dengan daerah statis yang
memacu presipitasi kristal dan kelekatan epitel tubulus.
8. Batu kalsium fosfat dan asidosis tubulus ginjal tipe 1
Faktor resiko batu kalsium fosfat pada umumnya berhubungan
dengan faktor resiko yang sama seperti batu kalsium oksalat. Keadaan ini

pada beberapa kasus diakibatkan ketidakmampuan menurunkan pH air


kemih sampai normal.
9. Penyakit penyerta batu ginjal
Batu ginjal dapat disebabkan oleh penyakit seperti : seseorang yang
sudah pernah mengalami penyakit gangguan ginjal, gagal jantung ,
penyakit hati dan diabetes, adanya infeksi pada ginjal dan gangguan
prosta, penyakit lupus.
10. Faktor diet
Faktor diet dapat berperan penting dalam mengawali pembentukan
batu.Contoh :
a. Suplementasi vitamin dapat meningkatkan absorbsi kalsium dan
ekskresi kalsium
b. Masukan kalsium tinggi dianggap tidak penting, karena hanya
diabsorbsi sekitar 6% dari kelebihan kalsium yang bebas dari oksalat
intestinal. Kenaikan kalsium air kemih ini terjadi penurunan absorbsi
oksalat dan penurunan ekskresi oksalat air kemih.
c. Masukan natrium klorida.
Masukan natrium korida yang tinggi dapat meningkatkan ekskresi
kalsium.Hubungan ini diperkirakan disebabkan sebagian oleh
reabsorbsi kalsium secara pasif mengikuti natrium dan air pada
tubulus

proksimal

dan

sepanjang

lengkung

Henle.Penurunan

reabsorbsi natrium proksimal disebabkan oleh volume berlebih


menyebabkan pengurangan transportasi kalsium dan peningkatan
ekskresi kalsium air kemih. Peningkatan masukan natrium dari 80 ke
200 meq/hari pada pembentuk batu dengan hiperkalsiuria idiopatik,
dilaporkan menyebabkan kenaikan ekskresi kalsium sebesar 40% (dari
278 ke 384 mg/hari atau 7 ke 9,5 mmol/hari). Suatu penelitian
melaporkan peningkatan resiko pembentukan batu pada perempuan
dengan masukan natrium tinggi, namun tidak pada pria.Mekanisme
penurunan ekskresi sitrat air kemih akibat masukan natrium tinggi
belum jelas.Anion bersama natrium muncul menjasi determinan dari
efek ekskresi kalsium.Untuk timbulnya kalsiuresis tampaknya

diperlukan klorida. Hasil penelitian oada perawat dilaporkan bahwa


pada perempuan dengan masukan natrium kelompok seperlima
tertinggi mempunyai resiko relatif sebesar 1,3 untuk timbulnya batu
dengan keluhan, didandingkan kelompok sperlima terendah.
d. Masukan tinggi purin
Masukan

protein

tinggi

umumnya

dihubungkan

dengan

peningkatan insidens penyakit batu.Hal ini disebabkan peningkatan


kalsium dan asam urat, fosfat dan penurunan ekskresi sitrat.Sebagian
besar protein hewani mempunyai proporsi kandungan fosfat 10-15
kali dibandingka kandungan kalsium.Namun, pada keong sawah/emas
didapatkan proporsi kalsium yang lebih tinggi dibandingkan
kandungan fosfat (212/68). Masukan protein dan metabolisme purin
dan sulfur menghasilkan asam amino dan asam urat. Keadaan ini akan
memacu pembentukan batu kalsium. Hal ini disebabkan peningkatan
ekskresi

kalsium

dan

asam

urat

dan

penururnan

ekskresi

sitrat.Gangguan ini dapat diperberat dengan masukan natrium


tinggi.Kenaikan ekskresi kalsium dalam air kemih dapat pula
disebabkan oleh penglepasan kalsium dari tulang.Penurunan pH air
kemih disebabkan oleh peningkatan asam air kemih.Penurunan pH
dapat menyebabkan presipitasi asam urat menjadi nidus pembentukan
batu kalsium.Presipitasi kalsium oksalat berbeda dengan presipitasi
asam urat karena tidak tergantung pada pH.Pembentukan batu
bertambah dengan kenaikan turunan asam urat dan kenaikan ekskresi
asam urat.Penurunan pH cairan tubular dapat menurunkan ekskresi
sitrat disebabkan oleh peningkatan reabsorbsi sitrat di proksimal.
Peningkaan ion hidrogen akan mengubah anion sitrat valensi tiga
mnjasi anion sitrat valensi dua, yang lebih mudah diabsorbsi kembali
lewat ko-transport natrium-sitrat pada membrane luminal. Penurunan
pH intraseluler berperan dalam peningkatan pemakaian sitrat oleh sel.
Pengurangan sitrat dalam sel menyebabkan sitrat mengalir dari lumen
tubular ke dalam sel. Hipositraturia akibat asidosis dapat menambah

pembentukan batu pada pasien dengan diet protein tinggi, pasien


dengan diare kronik atau dengan minum obat inhibitor asetazolamid.
e. Masukan kalium
Masukan kalium memiliki efek paradoks pada pembentukan batu.
Untuk setiap peningkatan masukan kalium 100 mg, pada subyek
normal dilaporkan sekitar 8% diabsorbsi kemudian di ekskresi dan
pada pasien hiperkalsiuria sebesar 20%. Diet kalsium tinggi
diperkirakan dapat menimbulkan penyakit batu, meskipun insidens
pembentukan batu ditemukan menurun pada kelompok pria dan
perempuan.Peningkatan oksalat diet dalam usus

lebih dapat

menjelaskan terjadinya pengurangan absorbsi dan pengurangan


ekskresi oksalat air kemih.Besarnya pengurangan presentase kenaikan
eksresi kalsium, bila ekskresi oksalat lebih rendah dibandingkan
dibandingkan ekskresi kalsium.Supersaturasi relatif air kemih
terhadap kalsium oksalat ditemukan menurun.Masukan diet tinggi
kalsium dihubungkan dengan kejadian batu ginjal yang rendah pada
penelitian kesehatan perawat mengubah pandangan tentang ekskresi
oksalat pada air kemih. Risiko relatif batu dilaporkan sebesar 0,65
pada kelompok masukan kalsium tertinggi dibanding dengan
kelompok masukan kalsium terendah. Sebaliknya masukan tambahan
kalsium dilaporkan meningkatkan risiko relatif sebesar 1,2 dibanding
kelompok tanpa masukan tambahan kalsium. Perbedaan hasil diduga
karena perbedaan saat pemberian masukan kalsium. Pemberian
masukan kalsium waktu makan akan mengikat masukan oksalat secara
maksimal. Bila diberikan di luar saat makan, kalsium menghilangkan
kesempatan mengikat masukan oksalat, sehingga oksalat tetap
diekskresikan dan kalsium tetap bebas dalam lumen intestinal.
Akhirnya akan terjadi kenaikan absorbsi kalsium dan kenaikan
ekskresi kalsium dalam air kemih.
f. Masukan kalium
Diet tinggi kalium dapat mengurangi resiko pembentukan batu
denga menurunkan ekskresi kalsium dan dengan meningkatkan

ekskresi sitrat dalam air kemih.Dua hasil penelitian mendapatkan


penurunan

risiko

pembentukan

batu

dengan

masukan

kalium.Penelitian secara acak dengan suplemen kalium sitrat


menunjukkan efek protektif.
g. Sukrosa
Telah diketahui bahwa sukrosa dan turunan karbohidrat lainnya
dapat meningkatkan ekskresi kalsium dalam air kemih dengan
mekanisme yang belum diketahui.Dalam dua penelitian yang
melibatkan perempuan, masukan tinggi sukrosa berhubungan dengan
peningkatan risiko pembentukan batu, namun tidak pada laki-laki.
h. Vitamin
Vitamin C (asam askorbat) dalam dosis besar merupakan salah
satu risiko pembentukan batu kalsium oksalat.Secara in vivo, asam
askorbat dimetabolisir menjadi oksalat yang dieksresikan dalam air
kemih. Suatu penelitian potong lintang berskala besar mendapatkan
peningkatan risiko pembentukan batu pada laki-laki dan perempuan
yang mengkonsumsi suplemen vitamin C. Namun, dalam penelitian
prospektif didapatkan tidak ada hubungan antara risiko pembentukan
batu dengan masukan vitamin C meskipun dalam dosis tinggi lebih
dari 1500 mg/hr.Hal ini mungkin disebabkan oleh masukan vitamin C
yang relatif tinggi pada kelompok referensi yang mengurangi tingkat
ketelitian pada perbedaan yang tipis, sehingga masih merupakan hal
yang mungkin bahwa masukan vitamin C dosis tinggi meningkatkan
risiko pembentukan batu. Vitamin B6 (piridoksin) bermanfaat
mengurangi ekskresi oksalat dalam air kemih pada pasien dengan
hiperoksaluria

idiopatik.Suatu

penelitian

mendapatkan

risiko

pembentukan batu pada perempuan yang mengkonsumsi B6 lebih dari


40 mg/hr, namun tidak pada laki-laki.
i. Asam lemak
Suatu penelitian jangka pendek menunjukkan penurunan ekskresi
saluran kemih pada pasien hiperkalsiuria idiopatik setelah pemberian
suplemen kapsul minyak ikan. Pemberian suplemen kapsul minyak

ikan pada 12 pembentuk batu hiperkalsiuria selama 8 minggu


menurunkan ekskresi kalsium air kemih sebesar 36% dan ekskresi
oksalat sebesar 51%.
j. Masukan air
Peningkatan volume masukan air dapat mengurangi risiko
pembentukan batu sehingga sangat dianjurkan bagi para pasien batu
ginjal, maupun untuk proteksi.Suatu penelitian pada insiden
pembentukan batu dan suatu studi acak terkontrol mendapatkan bahwa
peningkatan masukan air menurunkan pembentukan batu. Dengan
meningkatnya volume air kemih maka tingkat kejenuhan kalsium
oksalat menurun sehingga mengurangi kemungkinan pembentukan
kristal.
C. Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala menurut Manuputty (2010):
Gejala:
1

Sakit pada sudut CVA, sakit berupa pegal (akibat distensi parenkim
dan kapsul ginjal), kolik (hiperkristaltik otot polos pada kaliks dan
pelviks ginjal), rasa sakit tidak sebanding dengan bendungan yang
terjadi tetapi tergantung dari bendungan yang terjadi secara tiba-tiba
atau perlahan-lahan. Nyeri pada daerah pinggang menyebar ke perut
bawah, lipat paha atau daerah kemaluan.

Nausea, muntah-muntah disertai distensi abdomen disebabkan oleh


ileus paralitik.

Hematuria mikroskopik (5-10%), hematuria mikroskopik (90%).

Infeksi, bila terjadi sepsis, penderita akan mengigil, demam dan


apatis.

Tanda:
Biasanya tidak ditemukan kelainan, kadang-kadang dapat ditemukan
adanya

nyeri tekan, nyeri ketok pada sudut CVA, bila terjadi

hidronefrossis dapat teraba adanya massa.


Manifestasi klinis adanya batu dalam traktus urinarius bergantung
pada adanya obstruksi, infeksi dan edema.

Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi menyebabkan


peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter
proksimal.Infeksi (pielonefritis dan sistitis yang disertai menggigil, demam
dan dysuria) dapat terjadi iritasi batu yang terus menerus. Beberapa batu,
jika ada, menyebabkan sedikit gejala namun secara perlahan merusak unit
fungsional (nefron) ginjal, sedangkan yang lain menyebabkan nyeri yang
luar biasa dan ketidaknyamanan.
Batu di piala ginjal mungkin berkaitan dengan sakit yang dalam dan
terus menerus di area kostovertebral.Hematuria dan piuria dapat
dijumpai.Nyeri yang berasal dari area renal menyebar secara anterior dan
pada wanita kebawah mendekati kandung kemih sedangkan pada pria
mendekati testis.Bila nyeri mendadak menjadi akut, disertai nyeri tekan
diseluruh area kostovertebral, dan muncul mual dan muntah maka pasien
sedang mengalami episode kolik renal.Diare dan ketidaknyamanan
abdominal dapat terjadi. Gejala gastrointestinal ini akibat dari reflex
renointestinal dan proksimitas anatomic ginjal ke lambung, pancreas dan
usus besar (Smeltzer dan Bare, 2002).
D. Pemeriksaan
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Pemeriksaan sedimen urin


Kadar elektrolit darah dan urin
BNO/KUB
IVP
USG,CT scan dan MRI
Analisis batu ginjal dilakukan dengan sampel batu ginjal yang diperoleh
dari operasi ataupun batu yang terbawa keluar bersama urin.
Manfaatnya : untuk melihat komposisi ilmiah batu ginjal , analisis
kimia terhadap batu ginjal menentukan tipe batu. Informasi ini
menentukan pengobatan unuk mencegah terbentuknya batu ginjal.

E. Cara Pencegahan Batu Ginjal


1. Minum air putih 2 liter setiap hari
2. Hindari atau setidaknya mengurangi makanan yang mengandung oksalat
tinggi seperti : kacang-kacangan, bayam, ubi, cabe, tahu dan tempe,
buncis, kentang, jeruk, anggur, strawberry
3. Menghindari atau mengurangi makanan yang mengandung kalsium
tinggi seperti kol, lobak, brokoli, keju, sarden.

4. Batasi konsumsi garam


5. Hindari atau kurangi makanan yang mengandung purin tinggi, seperti :
ikan laut, usus goreng, hati goreng, ikan sarden, emping melinjo, jeroan.
6. Kurangi konsumsi makanan yang berprotein tinggi seperti : daging ,
ayam , telur.
7. Oalahraga dan lakukan aktivitas cukup
8. Hindari konsumsi obat-obatan bebasa terutama yang berefek ke ginjal
9. Kurangi konsumsi obat-obatan kmia kecuali sangat terpaksa yang
dianjurkan oleh dokter
10. Tidak mengknsumsi vitamin C lebih dari 1 gr sehari
11. Hindari atau kurangi minuman seperti : coklat, kopi, teh , susu, soft drink
tau bersoda.

DAFTAR PUSTAKA
Baradero Mary. Klien Gangguan Ginjal. 2009. EGC. Jakarta
B. (2014). Medical Surgical Nursing. (9 thed). Missouri: Elsevier
Manuputty.D, 2010, Ilmu Bedah, Binarupa Aksara Publisher, Tangerang
Muttaqin A. dan Sari K. 2012. Asuhan Keperawatan Gangguan Perkemihan.
Jakarta: Salemba Medika

Nursalam, Baticaca, Fransisca B. (2009) Asuhan Keperawatan Pada Pasien


Dengan Gangguan Sistem Perkemihan. Jakarta : Salemba Medika
Sudoyo W, Aru., Setyabudi, Bambang., Alwi, Idrus., Simabrata, Marcellus.,
Setiati., Siti. 2010. Ilmu Penyakit Dalam

Jilid II edisi V. Jakarta:

Interna publishing.
Soenanto,H. & kuncoro, S. 20. Hancurkan batu ginjal dengan ramuan herbal.
Sjamsuhidajat. R & Jong.W, 2004, Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC, Jakarta
Smeltzer, Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner &
Suddarth vol 2 edisi 8. Jakarta: EGC.

LEMBAR OBSERVASI PELAKSANAAN PENYULUHAN MAHASISWA


PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS FAKULTAS
KEPERAWATAN UNIVERSITAS AIRLANGGA

Kriteria struktur
a)Kontrak waktu
dan tempat
diberikan 2 hari

Kriteria proses
Pembukaan:
1)Mengucapkan
salam dan

Kriteria hasil
a)Peserta antusias
terhadap materi
penyuluhan

sebelum
penyuluhan
b)Pembuatan
susunan rangkaian
acara penyuluhan,
leaflet
c)Perserta di
tempat yang telah
ditentukan dan
disediakan oleh
panitia
d)Pengorganisasian
penyelanggaraan
penyuluhan
dilakukan sebelum
dan saat
penyuluhan dan
saat penyuluhan
dilaksanakan

memperkenalkan
diri
2)Menyampaikan
tujuan,maksud, dan
manfaat dari
penyuluhan
3)Menjelaskan
kontrak waktu dan
susunan dari
rangkaian acara
penyuluhan
4)Menjelaskan
topik dari materi
penyuluhan yang
akan diberikan
Pelaksanaan:
1)Menjelaskan
materi
2)Memberikan
kesempatan peserta
untuk bertanya
mengenai materi
yang belum
dipahami
3)Menjawab
pertanyaan yang
ditujukan peserta
penyuluhan

b)Peserta
mendengarkan dan
memperhatikan
penyuluhan dengan
seksama
c)Peserta yang datang
minimal 7 orang
d)Acara dimulai tepat
waktu
e)Peserta mengikuti
acara sesuai dengan
aturan yang telah
diatur dan disepakati
f)Peserta mampu
menjawab materi dan
menjawab [ertanyaan
dengan benar dari
penyuluhan minimal
75%

DAFTAR HADIR PESERTA PENYULUHAN MAHASISWA PROGRAM


PENDIDIKAN PROFESI NERS FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
Ruang
Hari/tanggal
Waktu
No
1

: Dahlia
: Rabu, 4 Mei 2016
: 10.0 WIB - selesai
Nama

Alamat

TTD

2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
24