Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang paling majemuk akan tetapi tetap satu tujuan
dan satu cita-cita. Salah satu hak suatu bangsa yaitu kemerdekaan, telah berhasil diraih
dengan susah payah sekitar 70 tahun yang lalu. Memasuki usia 70 tahun sebagai suatu
bangsa, memang masih relatif muda. Namun berbagai langkah yang ditempuh telah banyak
memberikan hasil, baik itu menyangkut perbaikan kesejahteraan umum, perkembangan
kecerdasan kehidupan bangsa, atau partisipasi aktif dalam memelihara ketertiban dunia yang
berdasarkan pada kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Dengan kata lain,
peran dan fungsi pemerintah sebagaimana tercantum pada pembukaan UUD 1945 sudah
berjalan relatif baik, meskipun belum optimal.
Masalah pemerintahan sebagai suatu kenyataan yang tak dapat di hindarkan dalam
hidup setiap warganegara memiliki banyak arti bagi mereka, secara perorangan atau secara
bersama-sama. Pemerintah adalah harapan dan peluang untuk mewujudkan hidup yang
sejahtera dan berdaulat melalui pengelolaan kebebasan dan persamaan yang di miliki oleh
warganegara. Pada sisi lain pemerintah adalah tantangan dan kendala bagi warganegara
terutama ketika pemerintah terjauhkan dari pengalaman etika pemerintah. Suatu masyarakat
tanpa pemerintah adalah sebuah kekacauan massal.
Di dalam masyarakat manusia beradab di perlukan lebih banyak peraturan, di
perlukan juga lebih banyak upaya dan kekuatan untuk menjamin bahwa peraturan-peraturan
itu di taati. Harapan lain yang ingn di wujudkan oleh setiap warganegara melalui proses
pemerintahan adalah berlangsungnya kehidupan secara wajar, dalam semua bidang dan
ukuran kehidupan mereka. Pemerintah pertama-tama di harapkan dapat membentuk
kesepakatan warganegara tentang bingkai kepatutan dalam proses kehidupan kolektif
warganegara.
Dengan demikian, kebutuhan akan kehidupan yang wajar mensyaratkan kewajiban
pemerintah untuk membentuk hukum yang adil dan melakukan penegakkan hukum demi rasa
keadilan tersebut pada semua warganegara. Untuk mewujudkan tujuan dan harapan tersebut,
maka di perlukan suatu system pemerintahan yang baik dan efektif yang sesuai dengan
prinsip-prinsip bersifat demokratis.
1

Pemerintah Negara Indonesia dibentuk tak lain untuk melindungi segenap Bangsa
Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Untuk melindungi suatu bangsa, tentu saja
diperlukan pemerintahan yang kuat, bersih dan berwibawa. Apalagi mengingat era globalisasi
yang merambah seluruh segi kehidupan, naungan pemerintah terhadap bangsa harus semakin
kokoh. Pemerintahan yang bersih merupakan tujuan dan harapan yang selalu diinginkan oleh
masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, untuk menciptakan pemerintah yang bersih dan
berwibawa sangat perlu peranan penting dan kerjasama oleh seluruh masyarakat bangsa
Indonesia.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apakah pengertian dari negara yang bersih dan berwibawa ?
2. Jelaskan prinsip-prinsip penyelenggaraan pemerintahan yang baik dan berwibawa !
3. Bagaimana peran masyarakat dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dan
berwibawa ?

BAB II
PEMBAHASAN
2

2.1. Pengertian negara yang bersih dan berwibawa


Berdasarkan Undang - Undang Republik Indonesia No 28 Tahun 1999 Tentang
Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme
Pasal 1 Ayat 2 Penyelenggara Negara yang bersih adalah Penyelenggara Negara
yang menaati asas2 umum penyelenggaraan negara dan bebas dari praktek korupsi,
kolusi,dan nepotisme, serta perbuatan tercela lainnya. Kemudian dalam suatu Negara
yang berdaulat tidak akan memiliki kewibawaan di hadapan bangsa lain apabila potensi
Negara tidak mampu diurus dan dikelola secara baik dan benar oleh pemerintah.
Sehingga pengertian dari Negara yang bersih dan berwibawa erat kaitannya dengan
pemerintah yang bersih dan berwibawa.
Pemerintah yang bersih dan berwibawa adalah pemerintah yang selalu
memberlakukan dan menunjang nilai-nilai demokrasi serta bebas dari praktik
KKN. Pemerintahan

secara

popular

sering

disebut

dengan good

governance.

Istilah Good governance ini secara umum diterjemahkan dengan pemerintahan yang
baik, good governance dapat juga diartikan sebagai tindakan atau tingkah laku yang
didasarkan pada nilai-nilai yang bersifat mengarahkan, mengendalikan, atau
mempengaruhi masalah publik untuk mewujudkan nilai-nilai itu dalam tindakan dan
kehidupan keseharian.

2.2. Prinsip prinsip penyelenggaraan pemerintah yang bersih dan berwibawa


Pemerintah adalah organisasi yang memiliki kekuasaan untuk membuat dan
menerapkan hukum serta undang-undang di wilayah tertentu. Berikut sembilan aspek
fundamental (asas) dalam perwujudan good governance, yaitu :
a) Partisipasi (Participation)
Semua warga negara berhak terlibat dalam keputusan, baik langsung maupun
melalui lembaga perwakilan yang sah untuk mewakili kepentingan mereka.
Paradigma sebagai center for public harus diikuti dengan berbagai aturan sehingga
proses sebuah usaha dapat dilakukan dengan baik dan efisien, selain itu pemerintah
juga harus menjadi public server dengan memberikan pelayanan yang baik,
efektive, efisien, tepat waktu serta dengan biaya yang murah, sehingga mereka
memiliki kepercayaan dari masyarakat. Partisipasi masyarakat sangat berperan
besar dalam pembangunan, salah satunya diwujudkan dengan pajak.
3

b) Penegakan Hukum (Rule of Law)


Penegakan hukum adalah pengelolaan pemerintah yang profesional dan harus
didukung oleh penegakan hukum yang berwibawa. Penegakan hukum sangat
berguna untuk menjaga stabilitas nasional. Karena suatu hukum bersifat tegas dan
mengikat. Perwujudan good governance harus di imbangi dengan komitmen
pemerintah untuk menegakkan hukum yang mengandung unsur-unsur sebagai
berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Supremasi Hukum
Kepastian hokum
Hukum yang responsive
Penegakan hukum yang konsisten dan nondiskriminatif
Independensi peradilan

c) Tranparasi (Transparency)
Akibat tidak adanya prinsip transparansi ini bangsa indonesia terjebak dalam
kubangan korupsi yang sangat parah. Salah satu yang dapat menimbulkan dan
memberi ruang gerak kegiatan korupsi adalah manajemen pemerintahan yang tidak
baik.
d) Responsif (Responsiveness)
Asas responsif adalah bahwa pemerintah harus tanggap terhadap persoalanpersoalan masyarakat secara umum. Pemerintah harus memenuhi kebutuhan
masyarakatnya, bukan menunggu masyarakat menyampaikan aspirasinya, tetapi
pemerintah harus proaktif dalam mempelajari dan mengalisa kebutuhan-kebutuhan
masyarakat. Jadi setiap unsur pemerintah harus memiliki dua etika yaitu etika
individual yang menuntut pemerintah agar memiliki kriteria kapabilitas dan
loyalitas profesional. Dan etika sosial yang menuntut pemerintah memiliki
sensitifitas terhadap berbagai kebutuhan pubik.
e) Orientasi kesepakatan atau Konsensus (Consensus Orientation).
Asas konsensus adalah bahwa setiap keputusan apapun harus dilakukan
melalui proses musyawarah. Cara pengambilan keputusan secara konsensus akan
mengikat

sebagiah

besar

komponen

yang

bermusyawarah

dalam

upaya

mewujudkan efektifitas pelaksanaan keputusan. Semakin banyak yang terlibat


dalam proses pengambilan keputusan maka akan semakin banyak aspirasi dan
4

kebutuhan masyarakat yang terwakili selain itu semakin banyak yang melakukan
pengawasan serta kontrol terhadap kebijakan-kebijakan umum maka akan semakin
tinggi tingkat kehati-hatiannya dan akuntanbilitas pelaksanaannya dapat semaki di
pertanggungjawabkan.
f) Keadilan dan Kesetaraan (Equity)
Asas kesetaraan dan keadilan adalah kesamaan dalam perlakuan dan
pelayanan publik. Pemerintah harus bersikap dan berprilaku adil dalam memberikan
pelayanan terhadap publik tanpa mengenal perbedaan kedudukan, keyakinan, suku,
dan kelas sosial.
g) Efektivitas (Effectifeness) dan Efisiensi (Efficiency)
Yaitu pemerintah harus berdaya guna dan berhasil guna. Kriteria efektivitas
biasanya diukur dengan parameter produk yang dapat menjangkau sebesar-besarnya
kepentingan masyarakat dari berbagai kelopok dan lapisan sosial. Sedangkan asas
efisiensi umumnya diukur dengan rasionalitas biaya pembangunan untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat. Semakin kecil biaya yang dipakai untuk mencapai tujuan
dan sasaran maka pemerintah dalam kategori efisien.
h) Akuntabilitas (Accountability)
Asas akuntabilitas adalah pertanggungjawaban pejabat publik terhadap
masyarakat yang memberinya kewenangan untuk mengurusi kepentingan mereka.6
Setiap pejabat publik dituntut untuk mempertanggungjawabkan semua kebijakan,
perbuatan, moral, maupun netralitas sikapnya terhadap masyarakat. Inilah yang
dituntut dalam asas akuntabilitas dalam upaya menuju pemerintahan yang bersih
dan berwibawa.

i)

Visi Strategis (Strategic Vision)


Visi strategis adalah pandangan-pandangan strategis untuk menghadapi masa
yang akan datang. Kualifikasi ini menjadi penting dalam rangka realisasi good and
clean governance. Dengan kata lain, kebijakan apapun yang akan diambil saat ini,
harus diperhitungkan akibatnya pada sepuluh atau dua puluh tahun ke depan. Tidak
sekedar memiliki agenda strategis untuk masa yang akan datang, seorang yang
5

menempati jabatan publik atau lembaga profesional lainnya harus mempunyai


kemampuan menganalisis persoalan dan tantangan yang akan dihadapi oleh
lembaga yang dipimpinnya.
2.1. Peran masyarakat dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 68 Tahun 1999 tentang Tata Cara
Pelaksanaan Peran Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Negara dinyatakan bahwa yang
dimaksud dengan peran serta masyarakat adalah peran aktif masyarakat untuk ikut serta
mewujudkan Penyelenggara Negara yang bersih dan berwibawa yang dilaksanakan
dengan menaati norma hukum, moral, dan sosial yang berlaku dalam masyarakat.
Peran masyarakat dalam mewujudkan Penyelenggara Negara yang bersih dan
berwibawa berdasarkan Undang - Undang Republik Indonesia No 28 Tahun 1999
Tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari Korupsi, Kolusi, dan
Nepotisme Bab VI :
Pasal 8
(1) Peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan negara merupakan hak dan
tanggung jawab masyarakat untuk ikut mewujudkan Penyelenggara Negara yang
bersih.
(2) Hubungan antara Penyelenggara Negara dan masyarakat dilaksanakan dengan
berpegang teguh pada asas2 umum penyelenggaraan negara sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 3.

Pasal 9
(1)

Peran serta masyarakat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 diwujudkan


dalambentuk :
a. Hak mencari.

memperoleh.

dan

memberikan

informasi

tentang

penyelenggaraan negara;

b. Hak

untuk

memperoleh

pelayanan

yang

sama

dan

adil

dari

Penyelenggara Negara;
c. Hak menyampaikan saran dan pendapat secara bertanggung jawab
terhadap kebijakan Penyelenggara Negara; dan
d. Hak memperoleh perlindungan hukum dalam hal :
1) melaksanakan haknya sebagaimana dimaksud dalam huruf a, b, dan c;
2) diminta hadir dalam proses penyelidikan, penyidikan, dan

di

siding pengadilan sebagai saksi pelapor, saksi; dan saksi ahli, sesuai
(2)

dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.


Hak sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilaksanakan sesuai dengan
ketentuanperaturan perundang-undangan yang berlaku dengan menaati norma

(3)

agama dan norma social lainnya.


Ketentuan mengenai tata cara pelaksanaan peran serta masyarakat dalam
penyelenggara negara sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur lebih lanjut
dengan Peraturan Pemerintah.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Sesuai dengan uraian di atas, pemerintahan yang baik adalah pemerintahan yang
baik dalam ukuran proses maupun hasilnya. Dan untuk mewujudkan pemerintahan
yang bersih dan berwibawa harus adanya peran masyarakat. Tanpa adanya peran
masyarakat dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa mungkin
7

akan sulit untuk terwujudnya pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Selain itu pula
untuk terwujudnya pemerintahan yang bersih dan berwibawa, para pelaku hukum
harus berani menindak tegas para pelaku KKN sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

3.2 Saran
Dalam rangka mewujudkan good governance (pemerintahan yang bersih dan
berwibawa), diharapkan adanya pemberian penghargaan (reward) kepada peran serta
masyarakat, pemberian penghargaan aparat pemerintah. Dengan sistem pemberian
penghargaan kepada peran serta massyarakat dan aparat pemerintah maka diharapkan
akan terjadi peningkatan motivasi untuk mewujudkan good governance (pemerintahan
yang bersih dan berwibawa).

DAFTAR PUSTAKA
http://hukum.kompasiana.com/2010/10/09/fungsi-hukum-tata-pemerintahan-dalammewujudkan-pemerintahan-yang-bersih-dan-berwibawa-283799.html
http://blog.umy.ac.id/juanyta/2012/11/19/pemerintah-yang-bersih-dan-berwibawa/
http://penelitihukum.org/tag/uu-nomor-28-tahun-1999-tentang-penyelenggaraan-negarayang-bersih-dan-bebas-dari-korupsi-kolusi-dan-nepotisme/
http://edukatif.blogspot.com/2012/11/kebijakan-dan-strategi-menuju.html
8

https://m.facebook.com/notes/stia-yappann/mewujudkan-pemerintahan-yang-bersih-danberwibawa/629448510444424/