Anda di halaman 1dari 13

KEGAWAT DARURATAN BEDAH

A. Kegawat Darutan Bedah


Gawat darurat adalah suatu keadaan bila tidak dilakukan tindakan segera
dapatmengakibatkan

seseorang

kehilangan

organ

anggota

tubuhnya

atau

dapatmengancam jiwa.
Kegawatdaruratan bedah terdiri atas :
1. Perdarahan
Perdarahan adalah suatu kejadian dimana terdapatnya saluran pembuluhdarah
yang putus atau pecah (arteri,vena atau kapiler) akibat suatu trauma,dapatterjadi
pada pembuluh darah bagian luar maupun bagian dalam.
Klasifikasi Pendarahan
ATLS

membuat

klasifikasi

pendarahan

berdasarkan

persentase

volumekehilangan darah, sebagai berikut (2):

Kelas I : Dengan kehilangan volume darah hingga maksimal 15% of bloodvolume.


Kelas II : Dengan kehilangan volume darah antara 15-30% dari total volume.
Kelas III : Dengan kehilangan darah antara 30-40% dari volume pada

sirkulasidarah.
Kelas IV : Dengan kehilangan yang lebih besar daripada 40% volume sirkulasidarah.

WHO menetapkan skala gradasi ukuran risiko yang dapat diakibatkan


oleh pendarahan sebagai berikut:

Grade 0 : tidak terjadi pendarahan


Grade 1 : pendarahan petekial
Grade 2 : pendarahan sedang dengan gejala klinis yang signifikan
Grade 3 : pendarahan gross, yang memerlukan transfusi darah
Grade 4 : pendarahan debilitating yang fatal, retinal maupun cerebral

Perdarahan terbagi atas:


a. Perdarahan Thorax

Hematothoraks atau hemothoraks adalah akumulasi darah pada rongga


intrapleura. Perdarahan dapat berasal dari pembuluh darah sistemik
maupun pembuluh darah paru. Pada trauma, yang tersering perdarahan
berasal dari arteri interkostalis dan arteri mammaria interna. hematothorax
adalah masalah yang relatif umum , paling sering akibat cedera untuk
intrathoracic struktur atau dinding dada.
Tujuan utama terapi dari hemothoraks adalah untuk menstabilkan
hemodinamik pasien, menghentikan perdarahan dan mengeluarkan darah
serta udara dari rongga pleura. Langkah pertama untuk menstabilkan
hemodinamik adalah dengan resusitasi seperti diberikan oksigenasi, cairan
infus, transfusi darah, dilanjutkan pemberian analgetik dan antibiotik.
Langkah

selanjutnya

untuk

penatalaksanaan

pasien

dengan

hemothoraks adalah mengeluarkan darah dari rongga pleura yang dapat


dilakukan dengan cara:

Chest tube (Tube thoracostomy drainage) : tube thoracostomy drainage


merupakan terapi utama untuk pasien dengan hemothoraks. Insersi
chest tube melalui dinding dada untuk drainase darah dan udara.
Pemasangannya selama beberapa hari untuk mengembangkan paru ke
ukuran normal.
Indikasi untuk pemasangan thoraks tube antara lain:

Adanya udara pada rongga dada (pneumothorax)

Perdarahan di rongga dada (hemothorax)

Post operasi atau trauma pada rongga dada (pneumothorax


or

hemothorax)

abses paru atau pus di rongga dada (empyema).

Thoracotomy : merupakan prosedur pilihan untuk operasi eksplorasi


rongga dada ketika hemothoraks massif atau terjadi perdarahan
persisten. Thoracotomy juga dilakukan ketika hemothoraks parah dan
chest tube sendiri tidak dapat mengontrol perdarahan sehingga operasi

(thoracotomy) diperlukan untuk menghentikan perdarahan. Perdarahan


persisten atau berkelanjutan yang segera memerlukan tindakan operasi
untuk menghentikan sumber perdarahan di antaranya seperti ruptur
aorta pada trauma berat.
b. Perdarahan Abdomen
Cedera pada organ visera yang padat akan menyebabkan perdarahan,
sedangkan cedera pada organ yang berongga biasanya menyebabkan
peritonitis, sementara kedua tipe lesi ini dapat disertai oleh syok. Terjadi
masalah koagulasi atau pembekuan dihubungkan dengan perdarahan massif
dan transfuse multiple. Limpa merupakan organ yang paling sering terkena
kerusakan yang diakibatkan oleh trauma tumpul. Sering terjadi hemoragi
atau perdarahan masif yang berasal dari limpa yang ruptur sehingga semua
upaya dilakukan untuk memperbaiki kerusakan di limpa. Liver karena
ukuran dan letaknya, hati merupakan organ yang paling sering terkena
kerusakan yang diakibatkan oleh luka tembus dan sering kali kerusakan
disebabkan oleh trauma tumpul. Hal utama yang dilakukan apabila terjadi
perlukaan dihati yaitu mengontrol perdarahan dan mendrainase cairan
empedu.
Gejala dan tanda dari trauma abdomen sangat tergantung dari organ
mana yang terkena, bila yang terkena organ-organ solid (hati dan lien) maka
akan tampak gejala perdarahan secara umum seperti pucat, anemis bahkan
sampai dengan tanda-tanda syok hemoragik. Gejala perdarahan di intra
peritoneal akan ditemukan, pasien mengeluh nyeri dari mulai nyeri ringan
sampai dengan nyeri hebat, nyeri tekan dan kadang nyeri lepas, defans
muskular (kaku otot), bising usus menurun, dan pada pasien yang kurus akan
tampak perut membesar, dari hasil perkusi ditemukan bunyi pekak.

c. Perdarahan Pelvis
Dilakukan pemeriksaan lebih cermat dengan memperlihatkan pelvis,
perut, perineum dan rectum. Liang meatus urethradiperiksa untuk mencari tanda
perdarahan. Tungkai bawah juga diperiksauntuk mencari tanda cedera saraf.
Apabila keadaan umum sudah stabil, pemeriksaan sinar-X dapat
dilakukan. Apabila dicurigai terdapat robekan urethra dapat dilakukan
uretrogram secara pelan-pelan. Sampai tahap ini dokter yang memeriksa
sudah

mendapat

pasien,tingkat

gambaran

cedera

yang

pelvis,

ada

baik

mengenai

tidaknya

keadaan

cedera

umum

visceral

dan

kemungkinan berlanjutnya perdarahan di rongga perut atau retroperitoneal.


Untuk perdarahan yang hebat, diagnosisnya sekalipun tampak jelas bahwa
berlanjutnya

syok

adalah

akibat

perdarahan,

untuk menemukan sumber perdarahan itu.


abdomenyang

mencurigakan

harus

Pasien

diselidiki

tidaklah
dengan

lebih

mudah

tanda-tanda

lanjut

dengan

aspirasi peritoneum atau pembilasan. Kalau terdapat aspirasi diagnostik,


perut harus dieksplorasi untuk menemukan dan menangani sumber perdarahan. Tetapi,
kalau terdapat hematom retroperitoneal yang besar , ini tidak boleh
dievakuasi karena hal ini dapat melepaskan efek tamponade dan
mengakibatkan perdarahan yang tak terkendali.
Cedera urologi terjadi sekitar 10% pasien dengan fraktur
cincin pelvis. Karena pasien sering sakit berat akibat cedera yang lain,
mungkindibutuhkan kateter urin untuk memantau keluaran urin. Tidak boleh
memasukkan kateter karena kemungkinan besar ini akan mengubah robekan
sebagian menjadi robekan lengkap. Untuk robekan yang tak lengkap,
pemasukan kateter suprapubik sebagai prosedur resmi saja yang dibutuhkan.
Sekitar 50% robekan tak lengkap akan sembuh dan tidak banyak memerlukan
penanganan jangka panjang.
Terapi

robekan

uretra

lengkap

masih

controversial.

Realignment primer pada uretre dapat dicapai dengan melakukan sistotomi suprapubik,
mengevakuasi hematom pelvis dan kemudian memasukkan kateter melewati

cedera

untuk

mendrainase

kandung

kemih.

Kalau

kandung

kemihmengambang tinggi, ini harus direposisi dan diikat dengan


penjahitanmelalui bagian anterior bawah kapsul prostat.
Untuk penanganan fraktur, pada fraktur tipe A hanya membutuhkan
istirahat total di tempat tidur, dikombinasi denagn traksitungkai bawah kurang
lebih 4-6 minggu. Fraktur tipe B, apabila cedera open book kurang dari 2,5cm biasanya
dapat diterapi dengan bed rest total dengan pemasangan korset elastic bermanfaat
untuk mengembalikan ke posisi semula. Apabila lebih dari 2,5cm dapat
dicoba dengan membaringkan pasien miring dan menekan ala ossis ilii.
Selain itu jugadapat dilakukan fiksasi internal apabila fiksasi eksternal tidak
berhasildilakukan. Fraktur tipe C merupakan paling berbahaya dan paling sulit diterapi.
Pasien harus bedrest total kurang lebih selama 10 minggu. Operasi berbahaya
dilakukan karena bisa terjadi perdarahan massif dan infeksi. Pemakaian traksi
kerangka dan fiksasi luar mungkin lebih aman
d. Perdarahan Collum Femur
Prinsip penatalaksanaan termasuk di antaranya :
1)
2)
3)
4)

Minimalkan komplikasi yang potensial pada avascular necrosis (AVN).


Hindari cedera pada lempeng fisis.
Reduksi fragmen fragmen secara anatomis
Stabilisasi dengan pin atau sekrup mengakibatkan protesi dini
menahan berat.

Dekompresi terhadap hemarthrosis dan fiksasi internal stabilmerupakan


aspek penting terhadap treatment untuk semua fraktur dengan pergeseran.
Fraktur yang tidak mengalami pergeseran dapat ditangani secara konservatif
dengan cast immobilisasi menggunakan hip spica.
e. Perdarahan Retroperitoneal

Cedera Duodenum dan Pankreas


Masalah utama trauma pankreas adalah keluarnya

cairan

pankreas bila disertai cedera duktus. Pada trauma pankreas berat

dengan cederaduktus pankreatikus (derajat III - V), yang mengenai


pankreas

bagiandistal

(sebelah

kiri

dari

arteri/vena mesentrial

superior) penderita langsung dipasang packing dan drainase eksterna. Pada


cedera bagian proksimaldengan melibatkan duodenum, dilakukan
pengikatan/penjahitanduodenum, packing pankreas dan pasang drain
eksterna, tanpa rekontruksi.
Pada
trauma
duodenum

yang

melibatkan

pankreas,

operasidilakukan dengan tujuan mengalihkan cairan lambung dan


saliva, dengan cara ekslusi pilorus dan by pass gastroyeyenostomi. Ekslusi
pilorus dilakukan dengan jahitan jelujur (Jordan) atau jahitan kantung
tembakau( Moore dan Moore), dengan menggunakan benang yang diserap
sehingga jahitan akan terlepas setelah tiga minggu, jahitan dapat
dilakukan melaluigastrotomi atau dari luar (tanpa gastrotomi). Setelah tiga
minggudiharapkan luka di duodenum sembuh. Gastroyeyenostomi
dikerjakanuntuk mengalihkan cairan dari gaster langsung ke yeyenum. Bila
kondisitidak memungkinkan, gastroyeyenostomi dapat ditunda dan
dilakukangastrostomi atau dipasang sonde lambung. Keuntungan melakukan
ekslusi pilorus

dengan

gastroyeyenostomi,

selain

mengalihkan

cairan

gaster, penderita dapat langsung diet enteral lebih dini sehingga dapat
mengurangi biaya akibat pemakaian nutrisi parenreral total.
Dekompresi dilakukan dengan memasang kateter besar padaduodenum
yang dialirkan melalui retroperitoneal, sehingga dapatmengurangi
kebocoran, dibandingkan drain melalui dinding depan abdomen.
Keuntungan dekompresi adalah berkurangan kejadian fistel mencapai
kurang 0,5%, dibandingkan tanpa dekompresi yaitu 19,3%.
2. Obstruksi
Obstruksi adalah hambatan atau sumbatan pada organ berongga ataumemiliki
saluran. Obstruksi pada traktus dibagi menjadi lima jenis, yaitu : obstruksi pada
traktus respiratorius, traktus digestivus, traktus urinarius, traktusurogenitalis dan
traktus biliaris yang akan dijelaskan sebagai berikut.

a. Obstruksi traktus digestivus


Obstruksi mekanis di usus dan jepitan atau ilitan harus dihilangkan segera
setelah keadaan umum diperbaiki. Tindakan umum sebelum dan
sewaktu pembedahan

meliputi

tata

laksana

dehidrasi,

perbaikan

keseimbangan elektrolit,dan dekompresi pipa lambung.


Penatalaksanaan

obstruksi

ditatalaksana dengan pembedahan.

saluran

pencernaan

ini

Dengan perawatan

hampir
intensif

semua
dan

perawatan multidisiplin, maka angka kesakitan dan kematian dari kasus obstruksi
saluran pencernaan secara drastis akan menurun dan terutama ditentukan
oleh koeksistenso dari kelainan kongenital mayor (cardiak), diagnosis yang lambat
da penatalaksanaan atau koeksistensi keadaan kesahatan. Penatalaksaan
terbaru dan perkembangan zaman dapat mengurangi kematian pada kasus ini.
b. Obstruksi traktus respiratorius
Obstruksi jalan napas atas sering terjadi dan merupakan kejadian
yangserius dalam masalah anak. Gejala yang dikeluhkan berupa stridor,
apneu, atauedem akut pulmonal. Bagaimana pun kejadian ini dapat
berlangsung kronis,dikategorikan dengan infeksi dada berulang atau obstruksi
atau apnue obstruktif,yang dimna dapat menyebabkan retardasi pertumbuhan,
perubahan psikologis,gagal nafas kronik,cor pulmonal dan kematian.
Kebanyakan penyebab dari obstruksi jalan nafas atas dan bermacammacam dari prosedur diagnostis dapat digunakan dalam pemeriksaaan, pemeriksaan
radiologi merupakan pemeriksaan yang lebih sering digunakandengan
kemungkinan

diagnostik

yang

direncanakan

dan

efisien

untuk

pemantauan perkembangan penyakit.


1) Obstruksi karena Benda Asing
Gejalanya dapat berupa sesak napas, sianosis, dan kematian
mendadak.Biasanya benda asing tersebut masuk ke dalam bronkus kanan karena
anatomi bronkus kanan lebih vertikal dibandingkan dengan yang kiri. Bila
tidak dikeluarkan benda asing tersebut, dapat menimbulkan atelektasis,
pneumonitis,dan abses paru.
Bila tidak bisa dikeluarkan secara perasat Heimlich, benda asing harus
dikeluarkan melalui bronkoskopi dan bila gagal dengan tindakan trakeotomi.

2) Tumor Jinak paru


Tumor jinak paru dapat menimbulkan gejala sumbatan saluran napas,dengan
tau tanpa atelektasis, abses, atau perdarahan. Tumor jinak yang
ditemukan pada paru adalah hamartoma, fibroma, kondroma, dan lipoma. Untuk
menegakkandiagnosis tumor jinak dipakai prosedur seperti pada nodul soliter.
Tumor jinak diatasi dengan tindak bedah berupa reseksi. prognosis
tumor jinak paru yang telah dioperasi adalah baik.
3) Adenoma Karsinoid
Tumor karsinoid biasanya ditemukan di bronkus. Perbandingan pria
:wanita sama dengan 1:1. Umumnya, tumor karsinoid terdapat pada orang
mudadewasa sampai umur pertengahan. Tumor bronkus ini pada 10-15%
bermetastasiske kelenjar limf regional. Karsinoid dapat menyebabkan
obstruksi dengan komplikasinya. Kadang ada hemoptisis. Sindrom
karsinoid

dapat

terjadi

karenadisekresinya

serotonin/katekolamin

oleh karsinoid.
3. Infeksi
Appendisitis akut merupakan kasus bedah emergensi yang paling sering
ditemukan pada anak-anak dan remaja. Apendisitis akut merupakan radang bakteri
yang dicetuskan berbagai faktor, diantaranya adalah hiperplasia jaringan limfe,
fekalith, tumor apendiks dan cacing ascaris dapat juga menimbulkan penyumbatan.
Penatalaksanaan Apendisitis Akut
Perawatan Kegawatdaruratan

Berikan terapi kristaloid untuk pasien dengan tanda-tanda klinis dehidrasi atau
Septicemia

Pasien dengan dugaan apendisitis sebaiknya tidak diberikan apapun melalui


mulut.

Berikan analgesik dan antiemetik parenteral untuk kenyamanan pasien.

Pertimbangkan adanya kehamilan ektopik pada wanita usia subur, dan lakukan
pengukuran kadar hCG

Berikan antibiotik intravena pada pasien dengan tanda-tanda septicemia dan

pasien yang akan dilanjutkan ke laparotomi.


Antibiotik Pre-Operatif

Pemberian antibiotik pre-operatif telah menunjukkan keberhasilan dalam


menurunkan tingkat luka infeksi pasca bedah.

Pemberian antibiotic spektrum luas untuk gram negatif dan anaerob


diindikasikan.

Antibiotik preoperative harus diberikan dalam hubungannya pembedahan.

Tindakan Operasi

Apendiktomi, pemotongan apendiks.

Jika apendiks mengalami perforasi, maka abdomen dicuci dengan garam


fisiologis dan antibiotika.

Bila terjadi abses apendiks maka terlebih dahulu diobati dengan antibiotika IV,
massanya mungkin mengecil, atau abses mungkin memerlukan drainase dalam
jangka waktu beberapa hari

4. Strangulasi
Strangulasi atau vascular compromised adalah keadaan dimana vasa dari suatu
saluran terjepit sehingga terjadi hipoksia jaringan sampai anoksia jaringan. Biasanya
terjadi pada ileus obstruktif.
Ileus merupakan suatu kondisi dimana terdapat gangguan pasase (jalannya
makanan) di usus yang segera memerlukan pertolongan atau tindakan. Ileus terutama
dibagi dua berdasarkan penyebabnya, yaitu ileus obstruktif dan ileus paralitik
(Hamami, 2003). Merupakan kegawatan dalam bedah abdominalis yang sering
dijumpai 60- 70% dari seluruh kasus akut abdomen yang bukan apendisitis akut. Ileus
memiliki mortalitas tinggi jika tidak segera didiagnosis dan ditangani dalam 24 jam.
Obstruksi mekanis di usus dan jepitan atau lilitan harus dihilangkan segera setelah
keadaan umum diperbaiki. Tindakan umum sebelum dan sewaktu pembedahan
meliputi tatalaksana dehidrasi, perbaikan keseimbangan elektrolit dan dekompresi pipa
lambung. Tindakan bedah dilakukan apabila terdapat strangulasi, obstruksi lengkap,
hernia

inkarserata

dan

tidak

ada

perbaikan

pada

pengobatan

konservatif.

(Purnawan,2009). Pada umumnya dikenal 4 macam (cara) tindakan bedah yang


dikerjakan pada obstruksi ileus :
a. Koreksi sederhana (simple correction). Hal ini merupakan tindakan bedah
sederhana untuk membebaskan usus dari jepitan, misalnya pada hernia
incarcerata non-strangulasi, jepitan oleh streng/adhesi atau pada volvulus
ringan.
b. Tindakan operatif by-pass. Membuat saluran usus baru yang "melewati" bagian
usus yang tersumbat, misalnya pada tumor intralurninal, Crohn diseases dan
sebagainya.
c. Membuat fistula entero-cutaneus pada bagian proximal dari tempat obstruksi,
misalnya pada Ca stadium lanjut.
d. Melakukan reseksi usus yang tersumbat dan membuat anastomosis ujungujung usus untuk mempertahankan kontinuitas lumen usus, misalnya pada
carcinomacolon, invaginasi strangulate dan sebagainya
5. Kombinasi dari beberapa kegawatan diatas
B. Kegawat Daruratan Ortopedi
Kejadian kegawatan ortopedi (emergency orthopedics) banyak dijumpai.
Penanganan emergency orthopedics telah mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Teknologi dalam bidang kesehatan juga memberikan kontribusi yang sangat untuk
menunjang penanganan emergency orthopedics. Tenaga medis dituntut untuk
mempunyai pengetahuan dan keterampilan yang adekuat terkait dengan proses
perawatan emergency orthopedics pertama kali di IGD yang komprehensif, yang
dimulai dari pengkajian yang komprehensif, perencanaan intervensi yang tepat,
implementasi tindakan, evaluasi hasil yang ditemukan selama perawatan serta
dokumentasi hasil yang sistematis. Kasus-kasus yang termasuk dalam emergency
orthopedics, yaitu open fracture, compartment syndrome, dislokasi dan fractur
dislokasi, lesi vascular besar, septic arthritis, acute osteomyelitis, unstable pelvis, fat
emboli, unstable cervical spine, dan traumatic amputasi.

Berdasar sifatnya emergency orthopedics dibedakan menjadi dua, yaitu sifatnya


yang mengancam jiwa (life threatening ) dan yang mengancam kelangsungan
ekstremitas ( limb threatening). Kejadian fraktur banyak ditemukan saat ini, begitu
juga kasus open fraktur di IGD. Kalau tidak ditangani akan menjadikannya infeksi
kronis yang berkepanjangan.Once osteomyelitis, forever : Appley. Jangan sampai
melewati Golden periode (0 s/d 6 jam) pada awalnya infestasi kuman masih melekat
secara fisik, sesudah itu akan melekat secara kimawi dan sulit dibersihkan dengan
pencucian saja.
Penanganan definitif fraktur ada yang perlu tindakan operatif ada yang tidak.
Fraktur yang harus di operasi : Fraktur yang gagal dengan tindakan konservatif, fraktur
intra artikuler, fraktur joint depressed lebih dari 5 mm, fraktur avulsi akibat tarikan
ligament, dan fraktur dengan atrioventriculer node disturbances. Kasus emengency
ortopedics lain adalah compartment syndrome .
Compartment syndrome adalah peningkatan tekanan intra compartement
(Osteofascial compartement) pada cruris atau pada Antebrachii akibat peningkatan
permeabilitas sesudah terjadinya trauma, menyebabkan odema dan menghalangi aliran
arteri yang menyebabkan ischemia jaringan yang diikuti gejala klinis 5 P (Pulseless,
Pale, Pain, Paraestesi, Paralyse). Bila tak segera dilakukan fasciotomi akan
menyebabkan nekrosis otot dan timbul cacat menetap volkmann ischemic contracture.
Selain kasus open fraktur dan kompartemen sindrom, kejadian dislokasi dan
fractur dislokasi juga bisa ditemui di IGD. Pada keadaan normal cartilage mendapat
nutrisi dari cairan synovial yang berasal dari darah yang sudah tersaring eritrositnya,
terjadi diffusi masuk ke joint space bila terjadi mekanisme gerak sendi. Saat dislokasi
nutrisi terhenti. Cartilage yang mati sulit regenerasi. Penanganan dislokasi adalah
segera reposisi dan stabilisasi 2-3 minggu.
Selain kasus kasus di atas, lesi vasculer besar juga termasuk dalam emergency
orthopedics. Lesi vaskuler besar yang tersering adalah arteri poplitea dan arteri radialis,
juga plexus vein sacral pada sacro iliac disruption atau unstable pelvis atau fractur
malgaigne. Kasus emergency ortopedic lain adalah septic arthritis. Pasien akan
mengalami panas badan , nyeri sendi sangat hebat bila digerakkan. Area yang sering

terkena septic artritis adalah sendi panggul (coxitis) dan lutut (gonitis). Pus yang ada
dalam sendi akan merusak sendi, bila tidak segera ditangani, maka arthrotomi pilihan
terapi septic artritis pada sendi yang rusak.
Dan, acute osteomyelitis merupakan kasus emergency ortopedics. Osteomelitis
akut menunjukkan gejala panas, nyeri bila extremitas

yang mengalami infeksi

dipegang, tanda radang ( rubor, color , dolor , palor, functio laesa). Komplikasi
osteomelitis akut adalah sepsis.

Lalu, fat emboli, unstable cervical spine, dan

traumatic amputasi juga merupakan kasus emergency ortopedics.


Fraktur pelvis dapat bersifat unstable apabila cincin pelvis mengalami kerusakan
pada 2 tempat atau lebih, biasanya terjadi karena high energy injury. Pada daerah pelvis
terdapat plexus plexus vena, jika ada trauma seringkali menyebabkan pecahnya
pembuluh darah ini, dan pendarahan baru berhenti jika cavum pelvis terisi penuh
dengan darah. Pada fraktur unstable, pendarahan tidak berhenti karena pelvis tidak
terfiksasi dengan sempurna.
Fat emboly sering terjadi 3-5 hari sesudah fraktur tulang panjang (femur & tibia).
Fat globule dari sumsum tulang masuk sirkulasi dan bila masuk ke otak akan
mengganggu kesadaran, serta bila masuk paru mengakibatkan sesak. Pertolongan fat
emboli adalah oxygenasi dengan PEEP (positive expirasi end pressure) respirator dan
heparin atau antikoagulan. Diharapkan dengan mengetahui penanganan awal kasus
emergency ortopedic dapat menyelamatkan nyawa (life threatening ) dan yang
menyelamatkan extremitas (save the limb).

Daftar pustaka

De Jong, Wim. 2004. Buku Ajar Ilmu Bedah Ed.2. Jakarta: EGC.
Mansjoer, A. 2000. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta.

Rasjad, C. Buku pengantar Ilmu Bedah Ortopedi ed. III. Yarsif Watampone. Makassar:
2007. pp. 352-489
Mosby Inc. Elsevier Chapter 26. Thoracic Trauma. 2007
Paula R. 2007. Compartment syndrome, extremity. http://www.emedicine.com
Purnawan, Iwan. 2009. Ileus. Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto
Tim Revisi PDT Sub Komite Farmasi dan Terapi RSU DR.Soetomo. Pedoman Diagnosis
dan Terapi Ilmu Bedah RSUD Dr. Soetomo. Surabaya.2008
Syamsuhidayat, R dan de Jong, Wim. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Kedua. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.2004
Sabiston. Textbook of Surgery : The Biological Basis of Modern Surgical Practice. Edisi
16. USA: W.B Saunders companies.2002
Schwartz. Principles of Surgery. Edisi Ketujuh. USA:The Mcgraw-Hill companies.2005
R. Schrock MD, Theodore. Ilmu Bedah. Edisi Ketujuh. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC.1995