Anda di halaman 1dari 16

UJI ANTIDIARE OBAT LOPERAMID DAN DIAPET TERHADAP MENCIT

Diajukan untuk Melengkapi Salah Satu Laporan Akhir pada Praktikum FarmakologiToksikologi di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

Oleh :
Ni Komang Ayu Terra B

(148114079)

Indrie Lestarie

(148114080)

Rabulas Tri Nugroho

(148114081)

LABORATORIUM FARMAKOLOGI-TOKSIKOLOGI
FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2015

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan
Penelitian ini adalah eksperimental murni dengan pola rancangan penelitian searah
B. Variabel
1. Variabel Utama
a. Variabel Bebas
Pemberian dosis kontrol NaCl 0,9 % , Diapet(R) , dan Loperamid pada mencit.
b. Variabel Tergantung
-

Kondisi setelah pemejanan NaCl 0,9 % , Diapet(R) , Loperamid.

Panjang Norit yang melalui usus.

Panjang usus normal.

2. Variabel Pengacau
a. Terkendali
-

Galur pada mencit

:Galur CBS-Swiss

Jalur pemejanan

: Peroral (p.o)

b. Tak Terkendali
Kondisi hewan uji (mencit) dan keadaan fisiologis serta patologis.
C. Bahan
-

NaCl 0,9 %

Loperamid ( 2 tablet tiap praktikum)

Diapet (2 kapsul tiap praktikum)

Suspensi goam arabicum 20 % + norit 5 %

Etanol cuci

Hewan uji : Mencit

D. Alat
-

Alat bedah

Jarum oral

Gelas beker

Penggaris

E. Tata Cara (skema kerja)


Terlebih dahulu dipuasakan hewan uji mencit.
Ditimbang bobot mencit dan dibagi menjadi 3 kelompok perlakuan. Kelompok 1
kontrol (NaCl 0,9 %), kelompok 2 larutan loperamid, kelompok 3 larutan jamu diapet.
Diberi larutan fisiologi tersebut pada masing-masing kelompok mencit secra per-oral
pada menit ke nol.
Ditunggu sampai menit ke 45, kemudian dipejankan tinta cina/norit secara p.o terhadap semua
kelompok perlakuan.
Dimenit ke 65, semua hewan uji dikorbankan dengan cara dislokasi tulang leher .
Dikeluarkan usus sampai teregang, diukur panjang yang dilalui norit mulai dari pilorus
sampai dengan ujung akhir usus.
Diukur panjang seluruh usus mulai dari pilorus hingga rectum masing-masing hewan
uji.
Dihitung nilai rasio normal jarak dilakukan yang ditempuh norit terhadap panjang
usus seluruhnya dan dibandingkan untuk masing-masing kelompok perlakuan.

F. Analisis Hasil
Dari data panjang usus yang dilalui norit, dan panjang usus normal dirata-rata dan
dicari rasionya. Kemudian dimasukkan sebagai data statistik uji anova. Hasil uji anova
akan memberikan gambaran, ada/tidaknya efek antidiare dari senyawa yang diujikan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Perhitungan
Diapet

Volume PemberianDiapet :

Perhitungankonsentrasi :

Diapet 1

Diketahui :

BB = 29,1 gram

D = 600 mg/70kg BB x 2 kapsul

D = 3,12 mg/20g BB = 0,156 mg/g BB

= 1200 mg/70kg BB

C = 13,26 mg/mL

D mencit = 1200 mg/70kg BB x 0,0026

D x BB =

CxV

= 3,12 mg/20kg BB

0,156

Sehingga,
D x BB

=CxV

mg
BB x 29,1 g
g
mg
13,26
mL

3,12 mg/20g BB x 42,5 g = C x 1/2V


C

= 6,63 x 2
C

= 13,26 mg/mL

13,26 mg
1 mL
x

D = 0,156 mg/g BB

C2
=

Diapet 2
BB = 33,3 gram

Pengenceran :
C1

0,34 mL

C = 13,26 mg/mL

1200 mg
x mL

D x BB =

CxV
0,156

= 90,5 mL

Loperamid

mg
BB x 33,3 g
g
mg
13,26
mL

0,4 m

Perhitungankonsentrasi :
Diketahui :
D mencit = 4 mg/70kg BB x0,0026
= 0,0104 mg/20kg BB
= 5,2 x 10-4 mg/g BB
Sehingga,
D x BB

= CxV

5,2 x 10-4 mg/g BB x 42,5 g = C x 1/2V


C

= 0,0221 x 2

= 0,442 mg/mL

Pengenceran :

C1

C2

0,442mg
1 mL

4 mg
x mL

4
0,442

= 90,498 mL

Volume PemberianLoperamid :
BB = 30 g ; D = 0,0104 mg/20g BB
C = 0,0442 mg/mL
D x BB

CxV
mg
BB x 30 g
20 g
mg
0,0442
mL

0,0104
V

= 0,4 mL

NaCl
Volume PemberianNaCl
D = 1 mL/100g BB
BB = 36,3 gram
Sehingga,
V = BB x D
= 36,3 gram x 1 mL/100g
= 0,363 mL
Norit
Volume PemberianNorit
1. MencitKontrol

12.

Sehingga,
V = BB x D

2.

D = 1 mL/100g BB

13.

3.

BB = 36,3 gram

14.

4.

Sehingga,

mL/100g

5.

V = BB x D

15.

6.

= 36,3 gram x 1

mL/100g
7.

= 30 gram x 1
= 0,3 mL

16.
17.

= 0,363 mL

8.

18.
19. Mencit 2

9. Mencit 1
10.

D = 1 mL/100g BB

20.

D = 1 mL/100g BB

11.

BB = 30 gram

21.

BB = 29,1 gram

22.

Sehingga,

23.

V = BB x D

24.

= 29,1 gram x 1

mL/100g
25.

= 0,291 mL

29.

BB = 33,3 gram

30.

Sehingga,

31.

V = BB x D

32.

26.

= 33,3 gram x 1

mL/100g

27. Mencit 3
28.

33.

D = 1 mL/100g BB

= 0,333 mL

34. Tabelpenyajiandata :

0,

19

59

0,

59.

60.

61.

62.

63.

64.

65.

47,

63

0,

44,

0,

69.

70.

71.

72.

73.

74.

75.

20,

57,

0,

51

73

0,

56. 4

57. 6

5
66. 8

5
67. 4
3

76. 1

77. 5

48.

55.

47.
Normal

54.

(cm)

53.

46.
Norit (cm)

55

42.
52.

(cm)

51.

45.

47

50.

38. Diapet

44.
Normal

41.
Normal

49.

40.
Norit(cm)

37. Loperamid

(cm)

36. Kontrol

43.
Norit (cm)

35.

58.
0,

68.
0,
78.
0,

,
79.

80.

81.

82.

83.

84.

85.

26

53

0,

24

69

0,

89.

90.

91.

92.

93.

94.

95.

17

57

0,

23

46,

0,

86. 1

8
87. 5

96. 1

97. 5

88.
0,
98.
0,

,
99.

100.

101.

3,
105.

106.
X

111.

0,

102.

5
103.

2,
107.

108.
0,

104.
1,

109.

110.
0,

112.

113.

114.

115.

116.

117.

x1
118.

x2
119.

x3
120.

x12
121.

x22
122.

x32
123.

0,85
124.

0,32
125.

0,71
126.

0,7225
127.

0,1024
128.

0,5041
129.

0,75
130.

0,17
131.

0,18
132.

0,5625
133.

0,0289
134.

0,0324
135.

0,35
136.

0,69
137.

0,30
138.

0,1225
139.

0,4761
140.

0,0900
141.

0,49
142.

0,34
143.

0,35
144.

0,2401
145.

0,1156
146.

0,1225
147.

0,85
148.

0,49
149.

0,36
150.

0,7225
151.

0,2401
152.

0,1296
153.

= 2,01

3,

1,9

2,37

0,96

0,87

29

01

31

86

154.
2

155. JKT

( x)
N

= (x1 + x2 + x3 ) 51,84
15

156. = 4,2118 157. = 0,7558


158.
159.

160. JKK

T 21 T 22 T 23
+ +
N 1 N2 N3

( x)
N

161. = (2,16482 + 0,80802 + 0,7220) -

51,84
15

162. = 3,69484 3,4560


163. = 0,23884
164.

165. JKG

= JKT JKK

166. = 0,7558 0,23884


167. = 0,51696
168. df1
169. = 3-1
170. = 2

= k-1

171. S1

JKK
df 1

172. =

0,23884
2

173. = 0,11942
174.
175. df2
176. = 15-3

= N-k

177. = 12
178. S12

179. =

0,51696
12

180. = 0,04308

JKG
df 2

181. Fhitung

S1
2
S2

0,11942
0,04308

182. = 2,78
183. Ftabel

= 3,89

184.
185. Fhitung<Ftabel ,artinya Hoditerima.
186. Padatarafkepercayaan95%pemberianantidiare loperamiddandiapettidakjauhberbeda.
187.
188.
189.
190.
191.
192.
193.
194.
195.
196.
197.
198.
199.
200.
201.
202.
203.
204.
205.
B. Pembahasan
206.
207.

Tujuan dari percobaan ini yaitu memahami prosedur pengujian efek antidiare

dengan metode transit intestinal serta memahami tentang diare serta gejalanya, dan
memahami mekanisme obat antidiare. Metode transit intestinal memiliki prinsip yang
berdasarkan pengaruh rasio jarak usus yang ditempuh oleh suatu marker dalam waktu
tertentu terhadap panjang usus keseluruhan pada hewan percobaan. Metode ini

digunakan untuk mengevaluasi obat yang mekanisme kerjanya

terhadap motilitas

seperti loperamid HCl.


208.

Diare adalah suatu kondisi buang air besar (defekasi) yang tidak normal yaitu

lebih dari 3 kali sehari dengan konsistensi tinja yang encer dan dapat disertai atau tanpa
darah atau lendir sebagai akibat dari terjadinya proses inflamasi pada lambung atau
usus (Sriyanto, 2004)
209.

Gejala diare meliputi buang air besar secara terus menerus disertai rasa mual

yang berkepanjangan, tinja yang encer dengan frequensi 3 kali atau lebih dalam sehari,
dehidrasi, mual, muntah, badan terasa lesu, merasa panas, tidak nafsu makan, dan
terkadang terdapat darah atau lendir dalam kotoran.
210.Mekanisme terjadinya diare yaitu dampak gangguan yang ada didalam tubuh,
gangguan osmotik, gangguan sekresi, dan gangguan gerak usus.Gangguan osmotik
terjadi karena zat yang terdapat dalam makanan tidak dapat diserap oleh tubuh dan
menyebabkan tekanan osmotik. Tekanan osmotik ini terjadi pada rongga usus dan
apabila tekanan osmotik meningkat maka elektrolit dan air akan bergeser hal ini
menyebabkan isi rongga usus menjadi penuh dan merangsang usus untuk
mengeluarkan zat yang tak menjadi porsinya. Hal ini lah yang memicu terjadinya
diare.Gangguan sekresi terjadi akibat adanya hal yang mengganggu pada dinding usus,
misalnya racun. Racun akan merangsang dinding usus dan berlanjut pada terjadinya
peningkatan air ke rongga usus, usus penuh dan terjadi diare. Yang terakhir ialah
gangguan gerak usus, gerak hiperperistaltik pada usus akan menyebabkan usus kurang
optimal dalam menyerap makanan sehingga terjadi diare. Diare juga dapat terjadi
karena infeksi virus, kuman pathogen, gangguan psikis, gangguan syaraf, hawa dingin,
defisiensi imun, kurang asupan makanan (karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan
mineral). Fase-fase terjadinya diare ada tiga, yaitu :
a. Fase promoral : fase dimana pasien mengeluh penuh diabdomen, nansea, berkeringat
211.

dan sakit kepala.

b. Fase diare
212.

: fase dimana pasien mengeluh diare dengan komplikasi (dehidrasi)


abdomen, kejang dengan/tanpa demam dan sakit kepala

c. Fase pemulihan : fase dimana, gejala pada pasien mulai berkurang dan pasien lemah
213.
214.

(Tan, 2002).
Berdasarkan lamanya, diare dapat dibedakan menjadi dua yaitu diare akut dan

diare kronik.Diare akut, diare yang memiliki gejala yang datang tiba-tiba dan
berlangsung kurang dari 14 hari dan disebabkan oleh virus/kuman, efek samping obat.

Sedangkan diare kronik merupakan diare yang berlangsung selama lebih dari 14 hari
dan disebabkan oleh virus, bakteri dan parasite, maupun non infeksi (Sriyanto, 2004)
215.

Antidiare adalah obat yang diberikan untuk mengatasi gejala diare. Obat

antidiare dapat digolongkan menjadi beberapa golongan antara lain:


- Antimotilitas: Mekanisme obat golongan ini yaitu bekerja padareseptorsaraf usus untuk
menghambat pelepasanasetil danmenurunkan sistem peristaltik. Obatgolongan ini
tidak boleh diberikan pada anak-anak dan penderita infeksi usus berat karena dapat
menyebabkan megatolin toksik akibatpenghilangan selsel saraf usus. Contohnya
loperamid.
- Adsorben :Mekanisme obat golongan ini yaitu bekerjadenganmengadsorbsitoksin
ataupunmikroorganisme dalamusus.Golongan ini lebihamandibanding obat golongan
antimobilitassehingga cocok diberikan pada serangan diareaktif. Contohnya kaolin
pektin.
- Kemoterapetika:Mekanismenya yaitu obat bekerja dengan membunuhbakterisel lokal
yang dilalui oleh obatgolongan ini.Contohnyaniturosazid (Mycek, Harvey, Champe,
2011)
216.

Salah satu akibat dari diare adalah dehidrasi.Dehidrasi adalah

suatu keadaan dimanatubuh kekurangan cairan, kekurangan kalium dan ada kalanya
terjadi acidasi (darah menjadi asam).Dehidrasi ditandai dengan mata kering, mulut dan
bibir lebih kering, jarang buang air kecil dan lemas. Cara-cara yang dilakukan untuk
menangani dehidrasi yaitu :
a. Atasi kekurangan cairan dengan memberikan cairan sebanyak mungkin setiap kali
buang air besar seperti oralit, air sup, air buah, atau air tajin.
b. Dehidrasi berat ditangani dengan pemberian cairan infus.
c. Menghindari minum minuman yang mengandung kafein, karena kafein akan
meningkatkan potensi buang air kecil.
d. Menghindari meminum minuman bersoda (Tan, 2002)
217.

Percobaan mengenai uji antidiare ini dilakukan pada hewan

uji berupa mencit.Mencit yang digunakan adalah mencit yang sudah dipuasakan.
Tujuannya agar saluran pencernaan mencit bersih dari bolus-bolus makanan sehingga
mempermudah dalam mengamati jalannya obat norit dan obat lain diusus mencit.
Senyawa uji diberikan pada mencit secara peroral (p.o.).pemberian secar peroral
dimaksudkan agar senyawa uji langsung masuk ke dalam saluran pencernaan mencit,
sehingga sesuai dengan tujuan percobaan yaitu mengamati efek antidiare yang terjadi

diusus mencit.Dalam percobaan, hewan uji mencit di kelompokan menjadi 3 kelompok


perlakuan.Kelompok 1 diberikan larutan NaCl, kelompok 2 diberikan loperamid dan
kelompok 3 diberikan Diapet.
218.

Larutan NaCl yang diberikan pada kelompok mencit 1

berfungsi sebagai kontrol negatif.Kontrol negatif dibuat untuk melihat apakan larutan
NaCl sebagai pelarut loperamid memberikan pengaruh terhadap efek antidiare pada
saluran pencernaan mencit.Larutan NaCl digunakan sebagai kontrol negatif karena
larutan NaCl merupakan cairan yang mirip dengan cairan tubuh.Mencit 2 diberikan
loperamid sebagai control positif. loperamid termasuk dalam golongan antimotilitas
dan sekresi usus golongan opiate.
219.

Loperamid berfungsi sebagai obat antidiare yang bekerja

dengan cara memperlambat proses peristaltik usus sehingga mengurangi fraquensi


defekasi dan memperbaiki konsistensi feses. Loperamid dapat menghambat motilitas
usus dan mengurangi sekresi gastrointestinal. Obat ini bekerja dengan mengganggu
mekanisme kolinergik dan non kolinergik yang terlibat dalam reflex peristaltik,
menurunkan aktifitas otot sirkular dan

longitudinal pada dinding usus. Tetapi

loperamid tidak cocok diberikan pada saat pertama kali diare, karena pada saat pertama
kali terjadi diare, gerak peristaltik pada usus menjadi cepat hal ini bertujuan agar toksik
serta kotoran dapat dikeluarkan dengan cepat dari dalam tubuh melalui feses, jika pada
masa-masa awal pada diare diberikan loperamid makan akan memperlambat gerak
peristaltik usus sehingga racun dan kotoran akan semakin lambat dikeluarkan dari
dalam tubuh (Sardjono, 1995)
220.

Pada mencit 3 dan 4, hewan uji mencit diberikan

Diapet(R).Diapet merupakan produk obat herbal terstandar. Komposisi dari diapet antara
lain attapulgite (pada diapet NR), karbon aktif, ekstrak Psidil folium (daun jambu biji),
ekstrak Curcuma domesticate rhizome (rimpang kunyit), Coicis semen(biji jail), ekstrak
Chebulae fruktus (buah mojokeling) dan ekstrak Granati pericarpium (kulit buah
delima).Pada percobaan ini, diapet yang digunakan adalah diapet biasa yang tidak
mengandung attapulgite.Pada diapet yang digunakan pada percobaan ini, bahan utama
yang memiliki efek antidiare adalah daun jambu biji.
221.

Mekanisme kerja dari ekstrak daun jambu biji adalah lektin

yang terkandung dalam Psidium guava mengikat bakteri E.coli yang akan mencegah
adhesi dinding usus sehingga feses memadat.Selain itu juga daun jambu biji memiliki
mekanisme kerja yaitu menghambat efek prospulsi gastrointestinal (Hariana, 2008)

222.

Setelah ke-3 kelompok mencit diberikan obat secara peroral,

diberi waktu jeda selama 45 menit sebelum diberikan tinta cina atau norit secara
peroral.Tujuan dari pemberian jeda waktu tersebut yaitu agar obat terabsorbsi oleh
usus. Setelah dipejankan, norit akan melewati sistem pencernaan hingga ke usus. Di
usus, norit berfungsi sebagai penanda usus yang telah dilalui obat (norit). Pada menit
ke-65, dilakukan dislokasi tulang leher pada semua mencit, yang bertujuan agar dapat
melakukan pembedahan pada mencit dengan cara membuka bagian perutnya. Setelah
dibedah, usus mencit dibentangkan, kemudian usus mencit diukur dari pirolus usus
hingga ujung akhir usus.Panjang usus yang dilalui oleh norit dihitung mulai dari bagian
pirolus sampai rektum.
223.

Dalam metode ini, apabila panjang rasio usus yang ditempuh

oleh norit dengan panjang keseluruhan usus lebih kecil daripada kontrol, maka bisa
dikatakan bahwa bahan uji memiliki efek antidiare. Hal ini dikarenakan pada kontrol
negatif, perjalanan norit akan lebih panjang karena konsistensi feses lebih cair sehingga
lebih cepat dikeluarkan. Sedangkan usus pada hewan uji yang diberi bahan uji
antidiare, perjalanan norit lebih pendek dikarenakan oleh gerakan peristaltik usus
diperlambat sehingga terjadi penyerapan air di usus yang akhirnya akan menyebabkan
feses menjadi lebih padat.
224.

Dalam data yang diperoleh pada uji antidiare, rata-rata rasio

panjang usus yang dilalui norit pada usus mencit, kontrol NaCl mempunyai rasio
paling besar yaitu 3, 29 cm ini menunjukkan bahwa tidak ada mekanisme
penghambatan karena tidak diberi perlakuan. Loperamid diperoleh nilai rata-rata
rasionya adalah 2,01 cm dan diapet nilai rasio rata-rata yaitu 1,9 cm. Sehingga dapat
disimpulkan pemberian diapet

lebih kecil dibandingkan rasio pada pemberian

loperamid dan NaCl. Data yang diperoleh yaitu rasio diapet < rasio loperamid < rasio
control NaCl. Data yang diperoleh ini belum sesuai teori dimana seharusnya rasio
loperamid < rasio Diapet < rasio kontrol NaCl. Dimana seharusnya, loperamid lebih
efektif daripada jamu diapet karena mekanisme kerja loperamid adalah memperlambat
gerak peristaltik usus dan juga mengurangi sekresi gastrointestinal.Sedangkan pada
jamu diapet mekanisme kerjanya sebagai penyerap.
225.

Pada hasil statistik didapat hasil bahwa H o diterima Fhitung

Ftabel. Jika Ho diterima maka pemberian obat antidiare tidak menimbulkan efek. Hal ini
menunjukkan bahwa obat yang digunakan tidak memberikan efek sebagai antidiare.

226.
227.
228.
229.
230.
231.
232.

BAB V

233.

KESIMPULAN DAN SARAN


234.

235.
A. Kesimpulan
236.
237.

Aktivitasobatantidiaredapatdiketahuimelaluipemberianloperamiddanjamudiape

tdenganmenggunakanmetode

transit

intestinal

denganhasiljamudiapetlebihefektifdaripadaloperamid. Dari data yang diperoleh pada


rasio rata-rata kontrol NaCl adalah 3,29 cm, loperamid 2,01 cm, dan jamu diapet 1,9 cm.
Notasinya yaitu diapet
dimanapadateori

loperamid

yang

kontrol. Hasilinibelumsesuaidenganteori,

seharusnyaloperamidmemilikikeefektifan

yang

lebihbesardaripadajamudiapet.
238.
B. Saran
239.
240.

Untuk mendapatkan pengobatan yang tepat terhadap diare, perlu diperhatikan

mengenai jenis antidiare yang digunakan saat terapi agar tidak membahayan ataupun
memperparah keadaan diare yang dialami.
241.
242.
243.
244.
245.
246.
247.
248.

249.
250.
251.
252.
253.
254.
255.
256.
257.
258.

Tugas Akhir

259.
1. Penangan yang diberikan untuk pasien diare agar tidak memperburuk keadaan yaitu :
-

Memperbanyak volume minum air putih. Minum air sebanyak 2 liter selama 2 jam
sekali, hal ini dilakukan karena saat diare semua cairan tubuh akan dikeluarkan
bersama dengan feses, sehingga tubuh akan mengalami dehidrasi dan membuat badan
menjadi lemas. Selain dengan air putih, diare juga dapat diatasi dengan cairan oralit
untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang.

Intake makanan. Dihindari makanan berlemak, pedas, berat, berminyak, dan bersifat
merangsang (kafein, termasuk juga minuman yang terdapat dalam minuman bersoda),
makanan dengan kadar laktosa tinggi, maupun makanan bersantan. Karena jenis
makanan yang telah disebutkan di atas dapat memperburuk kerja usus, sehingga diare
akan semakin parah.

Diberikan antidiare yang tepat pada terapi yang sesuai dengan kondisi diare pasien.
Karena beberapa antidiare dapat bersifat berbahaya jika digunakan tanpa
memperhatikan gejala dari diare yang dialami. Misalnya loperamide, dari segi
keefektifannya sangat bagus sebagai antidiare, tetapi loperamide dapat membahayakan
jika digunakan tidak tepat. Obat golongan ini yaitu bekerja padareseptorsaraf usus
untuk menghambat pelepasanasetil danmenurunkan sistem peristaltic. Sehingga jika
digunakan terus-menerus dalam dosis besar dan dalam jangka waktu lama bisa
menurunkan fungsi peristaltik usus dan menyebabkan feses mengeras dan tidak bisa
dikeluarkan.
260.
2. Dalam praktikum, yang paling baik sebagai antidiare yaitu diapet. Dalam literatur
yang diacu, loperamid lebih efektif sebagai antidiare karena sifat loperamide sebagai

penghambat motilitas usus. Sehingga hasil praktikum tidak sesuai dengan teori,
karena dari praktikum diketahui bahwa loperamid lebih kecil dari diapet, lebih kecil
dari kontrol.
261.
262.
263.
264.
265.
266.

DAFTAR PUSTAKA
267.
268.

269.

Hariana, A., 2008, Tumbuhan Obat dan Khasiatnya, Seri 3, Cetakan 4,


Penebar Swadaya, Jakarta, hal. 20.
270.

271.

Mycek M.J., Harvey, R.A., dan Champe, C.C., 2001, Farmakologi


Ulasan Bergambar. Lippincotts Illustrated Reviews: Pharmacology, Penerjmeah
Azwar Agoes, Edisi kedua, Widya Medika, Jakarta, hal. 259.

272.
273.

Sardjono, Santoso, Dewoto, 1995, Analgesik Opioid dan Antagonis


dalam Farmakologi dan Terapi, Edisi 4, FK-UI, Jakarta, hal. 200.
274.

275.

Sriyanto, 2004, Diare Akibat Adanya Infeksi Agensia Bakteri,


http://www.idhki.net Diakses Oktober 2015.
276.

277.

Tan , T.H., Rahardja, K, 2002, Obat-Obat Penting: Khasiat,

Penggunaan, dan Efek-efek Sampingnya, Edisi kelima, Cet 2, PT. Elex Media
Komputindo, Jakarta, hal. 270-273.
278.
279.