Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Halusinasi merupakan akibat adanya gangguan dalam proses berpikir dan
orientasi realitas. Individu tidak mampu membedakan rangsangan internal dan
eksternal.Halusinasi didefinisikan sebagai persepsi sensori dari suatu obyek
tanpa adanya suatu rangsangan dari luar. Gangguan persepsi ini meliputi
seluruh panca indra.
Disfungsi yang terjadi pada halusinasi menggambarkan hilangnya
kemampuan menilai realitas, klien hidup dalam dunianya sendiri dan merasa
terganggu dalam interaksi sosialnya sehingga menyebabkan gangguan
berhubungan sosial, komunikasi susah, dan kadang-kadang membahayakan
diri klien, orang lain maupun lingkungan, menunjukan bahwa klien
memerlukan

pendekatan

asuhan

keperawatan

secara

intensif

dan

komprenhensif.
B. Rumusan Masalah
1. Apakah definisi mengenai halusinasi?
2. Apa saja klasifikasi halusinasi?
3. Apa penyebab halusinasi?
4. Bagaiman manifestasi klinis gangguan sensori persepsi: halusinasi?
5. Bagaimana tahapan halusinasi?
6. Bagaimana penatalaksanaan gangguan sensorti persepsi:
halusinasi?
7. Bagaimana asuhan keperawatan dengan gangguan sensori persepsi:
halusinasi?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui definisi halusinasi.
2. Untuk mengetahui klasifikasi halusinasi.
3. Untuk mengetahui penyebab halusinasi.
4. Untuk mengetahui manifestasi klinis gangguan sensori persepsi:
halusinasi.
5. Untuk mengetahui tahapan halusinasi.

6. Untuk mengetahui penatalaksanaan gangguan sensorti persepsi:


halusinasi.
7. Untuk mengetahui asuhan keperawatan dengan gangguan sensori
persepsi: halusinasi.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Halusinasi adalah pengalaman panca indera tanpa adanya rangsangan
(stimulus) misalnya penderita mendengar suara-suara, bisikan di telinganya
padahal

tidak

ada

sumber

dari

suara

bisikan

itu

(Hawari,

2001).Halusinasiadalah kesan, respon dan pengalaman sensori yang salah


(Stuart, 2007).
Halusinasi pendengaran adalah mendengar suara manusia, hewan atau mesin,
barang, kejadian alamiah dan musik dalam keadaan sadar tanpa adanya
rangsang apapun (Maramis, 2005)
B. Klasifikasi Halusinasi

Pada klien dengan gangguan jiwa ada beberapa jenis halusinasi dengan
karakteristik tertentu, diantaranya :
1. Halusinasi pendengaran : karakteristik ditandai dengan mendengar suara,
teruatama suara suara orang, biasanya klien mendengar suara orang yang
sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan
untuk melakukan sesuatu.
2. Halusinasi penglihatan : karakteristik dengan adanya stimulus penglihatan
dalam bentuk pancaran cahaya, gambaran geometrik, gambar kartun dan /
atau panorama yang luas dan kompleks. Penglihatan bisa menyenangkan
3.

atau menakutkan.
Halusinasi penghidu : karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk,
amis dan bau yang menjijikkan seperti : darah, urine atau feses. Kadang
kadang terhidu bau harum. Biasanya berhubungan dengan stroke, tumor,

kejang dan dementia.


4. Halusinasi peraba : karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau
tidak enak tanpa stimulus yang terlihat. Contoh : merasakan sensasi listrik
datang dari tanah, benda mati atau orang lain.
5. Halusinasi pengecap : karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu
yang busuk, amis dan menjijikkan.
6. Halusinasi sinestetik : karakteristik ditandai dengan merasakan fungsi
tubuh seperti darah mengalir melalui vena atau arteri, makanan dicerna
atau pembentukan urine.
C. Etiologi
Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah:
1. Faktor predisposisi
a. Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan
respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini
ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang berikut:
1) Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak
yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah
frontal, temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik.

2) Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang


berlebihan dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin
dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia.
3) Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan
terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi
otak klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral
ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil
(cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh
otopsi (post-mortem).
b. Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi
respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan
yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah
penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien.
c. Sosial Budaya
Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita
seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana
alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress.
2. Faktor Presipitasi
Secara umum klien dengan gangguan halusinasi timbul gangguan setelah
adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak
berguna, putus asa dan tidak berdaya. Penilaian individu terhadap stressor
dan masalah koping dapat mengindikasikan kemungkinan kekambuhan
(Keliat, 2006).
Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan halusinasi
adalah:
a. Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur
proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk
dalam otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif
menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.

b. Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor
lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
c. Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi
stressor. Pada halusinasi terdapat 3 mekanisme koping yaitu :
1) With Drawal :Menarik diri dan klien sudah asyik dengan
pengalaman internalnya.
2) Proyeksi
: Menggambarkan dan menjelaskan persepsi yang
membingungkan ( alam mengalihkan respon kepada sesuatu atau
seseorang ).
3) Regresi

: Terjadi dalam hubungan sehari-hari untuk

memproses masalah dan mengeluarkan sejumlah energi dalam


mengatasi cemas.
Pada klien dengan halusinasi, biasanya menggunakan pertahanan
diri dengan menggunakan pertahanan diri dengan cara proyeksi
yaitu untuk mengurangi perasaan emasnya klien menyalahkan
orang lain dengan tujuan menutupi kekurangan yang ada pada
dirinya.
D. Manifestasi Klinis
Menurut Stuart dan Sundeen (1998) yang dikutip oleh Nasution (2003),
seseorang yang mengalami halusinasi biasanya memperlihatkan gejala-gejala
yang khas yaitu:
1. Menyeringai atau tertawa yang tidak sesuai.
2. Menggerakkan bibirnya tanpa menimbulkan suara.
3. Gerakan mata abnormal.
4. Respon verbal yang lambat
5. Diam.
6. Bertindak seolah-olah dipenuhi sesuatu yang mengasyikkan.
7. Peningkatan sistem saraf otonom yang menunjukkan ansietas misalnya
peningkatan nadi, pernafasan dan tekanan darah.
8. Penyempitan kemampuan konsenstrasi.
9. Dipenuhi dengan pengalaman sensori.
10. Mungkin kehilangan kemampuan untuk membedakan antara halusinasi
dengan realitas.

11. Lebih cenderung mengikuti petunjuk yang diberikan oleh halusinasinya


12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.

daripada menolaknya.
Kesulitan dalam berhubungan dengan orang lain.
Rentang perhatian hanya beberapa menit atau detik.
Berkeringat banyak.
Tremor.
Ketidakmampuan untuk mengikuti petunjuk.
Perilaku menyerang teror seperti panik.
Sangat potensial melakukan bunuh diri atau membunuh orang lain.
Kegiatan fisik yang merefleksikan isi halusinasi seperti amuk dan agitasi.
Menarik diri atau katatonik.
Tidak mampu berespon terhadap petunjuk yang kompleks.
Tidak mampu berespon terhadap lebih dari satu orang

E. Tahapan Halusinasi
Tahapan terjadinya halusinasi terdiri dari 4 fase menurut Stuart dan Laraia
(2001) dan setiap fase memiliki karakteristik yang berbeda, yaitu:
1. Fase I : Klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas, kesepian,
rasa bersalah dan takut serta mencoba untuk berfokus pada pikiran yang
menyenangkan untuk meredakan ansietas. Di sini klien tersenyum atau
tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan lidah tanpa suara, pergerakan
mata yang cepat, diam dan asyik sendiri.
2. Fase II : Pengalaman sensori menjijikkan dan menakutkan. Klien mulai
lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya
dengan sumber yang dipersepsikan. Disini terjadi peningkatan tanda-tanda
sistem saraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan tanda-tanda vital
(denyut jantung, pernapasan dan tekanan darah), asyik dengan pengalaman
sensori dan kehilangan kemampuan untuk membedakan halusinasi dengan
realita.
3. Fase III : Klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan
menyerah pada halusinasi tersebut. Di sini klien sukar berhubungan
dengan orang lain, berkeringat, tremor, tidak mampu mematuhi perintah
dari orang lain dan berada dalam kondisi yang sangat menegangkan
terutama jika akan berhubungan dengan orang lain.
4. Fase IV : Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti
perintah halusinasi. Di sini terjadi perilaku kekerasan, agitasi, menarik

diri, tidak mampu berespon terhadap perintah yang kompleks dan tidak
mampu berespon lebih dari 1 orang. Kondisi klien sangat membahayakan.
F. Penatalaksanaan Medis
Penatalaksanaan klien skizoprenia adalah dengan pemberian obat obatan dan
tindakan lain, yaitu :
1. Psikofarmakologis
Obat obatan yang lazim digunakan pada gejala halusinasi pendengaran
yang merupakan gejala psikosis pada klien skizoprenia adalah obat
obatan anti psikosis.
Adapun kelompok yang umum digunakan adalah :
Kelas Kimia
Fenotiazin

Nama Generik (Dagang)


Asetofenazin (Tindal)

Dosis Harian
60-120 mg

Klorpromazin

30-800 mg

(Thorazine)

1-40 mg

Flufenazine

(Prolixine, 30-400 mg

Permiti

12-64 mg

Mesoridazin (Serentil)

15-150 mg

Perfenazin (Trilafon)

40-1200 mg

Proklorperazin

150-800mg

(Compazine)

2-40 mg

Promazin (Sparine)

60-150 mg

Tioridazin (Mellaril)
Trifluoperazin (Stelazine)
Trifluopromazin
Tioksanten

(Vesprin)
Klorprotiksen (Taractan

75-600 mg

Tiotiksen (Navane)
8-30 mg
Butirofenon
Haloperidol (Haldol)
1-100 mg
Dibenzodiazepin
Klozapin (Clorazil)
300-900 mg
Dibenzokasazepin Loksapin (Loxitane)
20-150 mg
Dihidroindolon
Molindone (Moban) 15-225
2. Terapi kejang listrik/Electro Compulsive Therapy (ECT)

3. Terapi aktivitas kelompok (TAK)


G. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Menurut Stuart dan Laraia (2001), pengkajian merupakan tahapan awal
dan dasar utama dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas
pengumpulan data meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual.
Data pada pengkajian kesehatan jiwa dapat dikelompokkam menjadi
faktor predisposisi, faktor presipitasi, penilaian terhadap stressor, sumber
koping dan kemampuan koping yang dimiliki klien.
Berbagai aspek pengkajian sesuai dengan pedoman pengkajian umum,
pada formulir pengkajian proses keperawatan. Pengkajian menurut Keliat
(2006) meliputi beberapa faktor antara lain:
a. Identitas klien dan penanggung
Yang perlu dikaji yaitu: nama, umur, jenis kelamin, agama, suku,
status, pendidikan, pekerjaan, dan alamat.
Alasan masuk rumah sakit
Umumnya klien halusinasi di bawa ke rumah sakit karena keluarga
merasa tidak mampu merawat, terganggu karena perilaku klien dan hal
lain, gejala yang dinampakkan di rumah sehingga klien dibawa ke
rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.
Faktor predisposisi:
1) Faktor perkembangan terlambat
a). Usia bayi tidak terpenuhi kebutuhan makanan, minum dan rasa
aman.
b). Usia balita, tidak terpenuhi kebutuhan otonomi.
c ). Usia sekolah mengalami peristiwa yang tidak terselesaikan.
2) Faktor komunikasi dalam keluarga
a). Komunikasi peran ganda.
b). Tidak ada komunikasi.
c). Tidak ada kehangatan.
d). Komunikasi dengan emosi berlebihan.
e) . Komunikasi tertutup.

f). Orang tua yang membandingkan anak anaknya, orang tua


yang otoritas dan komplik orang tua.
3) Faktor sosial budaya
Isolasi sosial pada yang usia lanjut, cacat, sakit kronis, tuntutan
lingkungan yang terlalu tinggi.
4) Faktor psikologis
Mudah kecewa, mudah putus asa, kecemasan tinggi, menutup diri,
ideal diri tinggi, harga diri rendah, identitas diri tidak jelas, krisis
peran, gambaran diri negatif dan koping destruktif.
5) Faktor biologis
Adanya kejadian terhadap fisik, berupa : atrofi otak, pembesaran
vertikel, perubahan besar dan bentuk sel korteks dan limbik.
6) Faktor genetic
Telah diketahui bahwa genetik schizofrenia diturunkan melalui
kromoson tertentu. Namun demikian kromoson yang keberapa
yang menjadi faktor penentu gangguan ini sampai sekarang masih
dalam tahap penelitian. Diduga letak gen skizofrenia adalah
kromoson nomor enam, dengan kontribusi genetik tambahan
nomor 4,8,5 dan 22. Anak kembar identik memiliki kemungkinan
mengalami skizofrenia sebesar 50% jika salah satunya mengalami
skizofrenia, sementara jika di zygote peluangnya sebesar 15 %,
seorang anak yang salah satu orang tuanya mengalami skizofrenia
berpeluang 15% mengalami skizofrenia, sementara bila kedua
orang tuanya skizofrenia maka peluangnya menjadi 35 %.
Faktor presipitasi
1)

Faktor faktor pencetus respon neurobiologis meliputi:


Berlebihannya proses informasi pada system syaraf yang menerima dan

2)

memproses informasi di thalamus dan frontal otak.


Mekanisme penghataran listrik di syaraf terganggu

3)

penerimaan abnormal).
Adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak
berguna, putus asa dan tidak berdaya.

(mekanisme

Faktor pemicu:
1) Respon neurobiologis
2) Kesehata
3) Nutrisi dan tidur kurang, ketidaksiembangan irama sirkardian,
kelelahan dan infeksi, obat-obatan system syaraf pusat, kurangnya
latihan dan hambatan untuk menjangkau pelayanan kesehatan.
4) Lingkungan
Lingkungan sekitar yang memusuhi, masalah dalam rumah tangga,
kehilangan kebebasan hidup dalam melaksanakan pola aktivitas
sehari-hari, sukar dalam berhubungan dengan orang lain, isoalsi
social, kurangnya dukungan social, tekanan kerja (kurang terampil
dalam

bekerja),

stigmasasi,

kemiskinan,

kurangnya

alat

transportasi dan ketidakmamapuan mendapat pekerjaan.


5) Sikap
Merasa tidak mampu (harga diri rendah), putus asa (tidak percaya
diri),

merasa

gagal

(kehilangan

motivasi

menggunakan

keterampilan diri), kehilangan kendali diri (demoralisasi), merasa


punya kekuatan berlebihan, merasa malang (tidak mampu
memenuhi kebutuhan spiritual), bertindak tidak seperti orang lain
dari segi usia maupun kebudayaan, rendahnya kemampuan
sosialisasi, perilaku agresif, perilaku kekerasan, ketidakadekuatan
pengobatan dan ketidak adekuatan penanganan gejala.
6) Perilaku
Respon perilaku klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga,
ketakutan, rasa tidak aman, gelisah, bingung, perilaku merusak
diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan, bicara
inkoheren, bicara sendiri, tidak membedakan yang nyata dengan
yang tidak nyata.
Perilaku klien yang mengalami halusinasi sangat tergantung pada
jenis halusinasinya. Apabila perawat mengidentifikasi adanya
tanda tanda dan perilaku halusinasi maka pengkajian selanjutnya
harus dilakukan tidak hanya sekedar mengetahui jenis halusinasi
saja. Validasi informasi tentang halusinasi yang diperlukan

10

meliputi:
a). Isi halusinasi
Ini dapat dikaji dengan menanyakan suara siapa yang didengar, apa
yang dikatakan suara itu, jika halusinasi audiotorik. Apa bentuk
bayangan yang dilihat oleh klien, jika halusinasi visual, bau apa
yang tercium jika halusinasi penghidu, rasa apa yang dikecap jika
halusinasi pengecapan,dan apa yang dirasakan dipermukaan tubuh
jika halusinasi perabaan.
b). Waktu dan frekuensi.
Ini dapat dikaji dengan menanyakan kepada klien kapan
pengalaman halusinasi muncul, berapa kali sehari, seminggu, atau
sebulan pengalaman halusinasi itu muncul. Informasi ini sangat
penting

untuk

mengidentifikasi

pencetus

halusinasi

dan

menentukan bilamana klien perlu perhatian saat mengalami


halusinasi.
c). Situasi pencetus halusinasi.
Perawat perlu mengidentifikasi situasi yang dialami sebelum
halusinasi muncul. Selain itu perawat juga bias mengobservasi apa
yang dialami klien menjelang munculnya halusinasi untuk
memvalidasi pernyataan klien.
d). Respon Klien
Untuk menentukan sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi
klien bisa dikaji dengan apa yang dilakukan oleh klien saat
mengalami pengalaman halusinasi. Apakah klien masih bisa
mengontrol stimulus halusinasinya atau sudah tidak berdaya
terhadap halusinasinya.
b. Pemeriksaan fisik
Yang dikaji adalah tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernafasan dan
tekanan darah), berat badan, tinggi badan serta keluhan fisik yang
dirasakan klien.
1) Status Mental
Pengkajian pada status mental meliputi:

11

a)
b)
c)
d)

f)

Penampilan: tidak rapi, tidak serasi dan cara berpakaian.


Pembicaraan: terorganisir atau berbelit-belit.
Aktivitas motorik: meningkat atau menurun.
Alam perasaan: suasana hati dan emosi.
e) Afek: sesuai atau maladaptif seperti tumpul, datar, labil dan
ambivalen
Interaksi selama wawancara: respon verbal dan nonverbal.
g) Persepsi : ketidakmampuan menginterpretasikan stimulus
yang ada sesuai dengan informasi.
h) Proses pikir: proses informasi yang diterima tidak berfungsi
dengan baik dan dapat mempengaruhi proses pikir.
i) Isi pikir: berisikan keyakinan berdasarkan penilaian
realistis.
j) Tingkat kesadaran: orientasi waktu, tempat dan orang.
k) Memori
(1) Memori jangka panjang: mengingat peristiwa setelah
lebih setahun berlalu.
(2) Memori jangka pendek: mengingat peristiwa seminggu
yang lalu dan pada saat dikaji.
l) Kemampuan konsentrasi dan berhitung: kemampuan
menyelesaikan tugas dan berhitung sederhana.
m) Kemampuan penilaian: apakah terdapay masalah ringan
sampai berat.
n) Daya tilik diri: kemampuan dalam mengambil keputusan
tentang diri.
Kebutuhan persiapan pulang: yaitu pola aktifitas sehari-hari
termasuk makan dan minum, BAB dan BAK, istirahat tidur,
perawatan diri, pengobatan dan pemeliharaan kesehatan
sera aktifitas dalam dan luar ruangan.
2) Mekanisme koping
a) Regresi: menjadi malas beraktifitas sehari-hari.
b) Proyeksi: menjelaskan prubahan suatu persepsi dengan
berusaha untuk mengalihkan tanggung jawab kepada orang
lain.
c) Menarik diri: sulit mempercayai orang lain dan asyik
dengan stimulus internal.

12

3) Masalah psikososial dan lingkungan: masalah berkenaan


dengan ekonomi, pekerjaan, pendidikan dan perumahan atau
pemukiman.
2. Pohon masalah
Klien yang mengalami halusinasi dapat kehilangan kontrol dirinya
sehingga bisa membahayakan diri sendiri, orang lain maupun lingkungan.
Hal ini terjadi jika halusinasi sudah sampai pada fase empat, dimana klien
mengalami

panik

dan

perilakunya

dikendalikan

oleh

isi

halusinasinya.Masalah yang menyebabkan halusinasi itu adalah harga diri


rendah dan isolasi sosial, akibat rendah diri dan kurangnya berhubungan
sosial maka klien menjadi menarik diri dari lingkungan (Keliat, 2006).
3. Diagnosa Keperawatan
Ada beberapa diagnosa keperawatan yang sering ditemukan pada klien
dengan halusinasi menurut Keliat (2006) yaitu:
a. Resiko mencederai diri sendiri, orang lain, dan lingkungan
berhubungan dengan halusinasi pendengaran.
b. Perubahan persepsi sensori: halusinasi pendengaran berhubungan
dengan menarik diri.
c. Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah.
Defisit perawatan diri berhubungan dengan intoleransi aktifitas.
4. Perencanaan
a. Diagnosa I
Tujuan umum:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x pertemuan Tidak
terjadi perilaku kekerasan yang diarahkan kepada diri sendiri, orang
lain dan lingkungan klien.
Tujuan khusus:
SP 1:
Klien

dapat

membina

hubungan

saling

percaya

Ekspresi wajah bersahabat, klien nampak tenang, mau berjabat tangan,

13

membalas

salam,

mau

duduk

dekat

perawat.

Intervensi:
1) Bina hubungan saling percaya dengan klien dengan menggunakan/
komunikasi terapeutik yaitu sapa klien dengan ramah, baik secara
verbal maupun non verbal, perkenalkan nama perawat, tanyakan
nama lengkap klien dan panggilan yang disukai, jelaskan tujuan
pertemuan, jujur dan menepati janji, bersikap empati dan menerima
klien apa adanya.
Rasional:
Hubungan saling percaya sebagai dasar interaksi perawat dan klien.
2) Dorong klien mengungkapkan perasaannya.
Rasional:
Mengetahui masalah yang dialami oleh klien.
3) Dengarkan

klien

dengan

penuh

perhatian

dan

empati.

Rasional:
Agar klien merasa diperhatikan.
SP 2:
Klien dapat mengenal halusinasinya.Klien dapat membedakan antara
nyata dan tidak nyata
1) Adakan kontak sering dan singkat.
Rasional:
Menghindari waktu kosong yang dapat menyebabkan timbulnya
halusinasi.
2) Observasi segala perilaku klien verbal dan non verbal yang
berhubungan dengan halusinasi.
Rasional:
Halusinasi harus kenal terlebih dahulu agar intervensi efektif
3) Terima halusinasi klien sebagai hal yang nyata bagi klien, tapi
tidak nyata bagi perawat.

14

Rasional:
Meningkatkan realita klien dan rasa percaya klien. Klien dapat
menyebutkan

situasi

yg

dapat

menimbulkan

dan

tidak

menimbulkan halusinasi.
4) Diskusikan dengan klien situasi yang menimbulkan dan tidak
menimbulkan situasi.
Rasional:
Peran serta aktif klien membantu dalam melakukan intervensi
keperawatan.
5) Diskusikan dengan klien faktor predisposisi terjadinya halusinasi.
Rasional

Dengan diketahuinya faktor predisposisi membantu dalam


mengontrol halusinasi.
SP 3:
Klien dapat mengontrol halusinasi.Klien dapat menyebutkan tindakan
yang dapat dilakukan apabila halusinasinya timbul.
1) Diskusikan dengan klien tentang tindakan yang dilakukan bila
halusinasinya timbul.
Rasional:
Mengetahui tindakan yang dilakukan dalam mengontrol
halusinasinya. Klien akan dapat menyebutkan cara memutuskan
halusinasi yaitu dengan melawan suara itu dengan mengatakan
tidak mau mendengar, lakukan kegiatan : menyapu/mengepel,
minum obat secara teratur, dan lapor pada perawat pada saat timbul
halusinasi.
2) Diskusikan dengan klien tentang cara memutuskan halusinasinya.
Rasional:
Meningkatkan pengetahuan klien tentang cara memutuskan
halusinasi.

15

3) .Dorong klien menyebutkan kembali cara memutuskan halusinasi.


Rasional:
hasil diskusi sebagai bukti dari perhatian klien atas apa yg
dijelaskan.
4) .Berikan

reinforcement

positif

atas

keberhasilan

klien

menyebutkan kembali cara memutuskan halusinasinya.


Rasional:
Meningkatkan harga diri klien.
SP 4:
Klien dapat memanfaatkan obat dalam mengontrol halusinanya.
Klien mau minum obat dengan teratur.
1) Diskusikan

dengan

klien

tentang

obat

untuk

mengontrol

halusinasinya.
Rasional:
Meningkatkan pengetahuan klien tentang fungsi obat yang
diminum agar klien mau minum obat secara teratur.
SP 5:
Klien mendapat sistem pendukung keluarga dalam mengontrol
halusinasinya. Klien mendapat sistem pendukung keluarga.
1) Kaji kemampuan keluarga tentang tindakan yg dilakukan dalam
merawat klien bila halusinasinya timbul.
Rasional :
Mengetahui tindakan yang dilakukan oleh keluarga dalam merawat
klien.
2) Diskusikan juga dengan keluarga tentang cara merawat klien yaitu
jangan biarkan klien menyendiri, selalu berinteraksi dengan klien,
anjurkan kepada klien untuk rajin minum obat, setelah pulang

16

kontrol 1 x dalam sebulan.


Rasional:
Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang cara merawat klien.
b. Diagnosa II
Tujuan umum:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x pertemuan Klien
dapat berhubungan dengan orang lain untuk mencegah timbulnya
halusinasi.
Tujuan khusus:
SP 1:
Klien dapat membina hubungan saling percaya. Ekspresi wajah
bersahabat, klien nampak tenang, mau berjabat tangan, membalas
salam, mau duduk dekat perawat.
1) Bina hubungan saling percaya dengan klien dengan menggunakan/
komunikasi terapeutik yaitu sapa klien dengan ramah, baik secara
verbal maupun non verbal, perkenalkan nama perawat, tanyakan
nama lengkap klien dan panggilan yang disukai, jelaskan tujuan
pertemuan, jujur dan menepati janji, bersikap empati dan menerima
klien apa adanya.
Rasional:
Hubungan saling percaya sebagai dasar interaksi perawat dan klien.
2) Dorong klien mengungkapkan perasaannya.
Rasional:
Mengetahui masalah yang dialami oleh klien.
3) Dengarkan klien dengan penuh perhatian dan empati
Rasional :
Agar klien merasa diperhatikan.
SP 2:
Klien

dapat

mengenal

penyebab

17

menarik

diri.

Klien

dapat

menyebutkan penyebab menarik diri pada dirinya.


1) Kaji

Pengetahuan

klien

tentang

perilaku

menarik

diri.

Rasional:
Untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien tentang menarik diri.
2) Dorong klien untuk menyebutkan kembali penyebab menarik diri.
Rasional:
Membantu mengetahui penyebab menarik diri sehingga membantu
dlm melaksanakan intervensi selanjutnya.
3) Beri

reinforcement

positif

atas

keberhasilan

klien

dalam

mengungkapkan penyebab menarik diri.


Rasional:
Meningkatkan harga diri klien.
SP 3:
Klien dapat mengetahui manfaat berhubungan dengan orang lain.
Klien dapat mengungkapkan keuntungan berhubungan dengan orang
lain.
1) Diskusikan bersama klien manfaat berhubungan dengan orang lain.
Rasional:
Meningkatkan pengetahuan klien tentang manfaat berhubungan
dengan orang lain.
2) Dorong klien untuk menyebutkan kembali manfaat berhubungan
dengan orang lain.
Rasional:
Mengetahui tingkat pemahaman klien tentang informasi yg
diberikan.
3) Beri reinforcement positif atas keberhasilan klien menyebutkan
kembali manfaat berhubungan dengan orang lain.

18

Rasional:
Meningkatkan harga diri klien.
SP 4:
Klien dapat berhubungan dengan orang lain secara bertahap.
Klien dapat menyebutkan cara berhubungan dengan orang lain secara
bertahap.
1) Dorong

klien

untuk

berhubungan

dengan

orang

lain.

Rasional:
Mencegah timbulnya halusinasi.
2) Diskusikan dengan klien cara berhubungan dengan orang lain
secara bertahap.
Rasional:
Meningkatkan pengetahuan klien cara yang yg dilakukan dalam
berhubungan dengan orang lain.
3) Beri reinforcement atas keberhasilan yg dilakukan.
Rasional:
Meningkatkan harga diri klien.
SP 5 :
Klien dapat mengungkapkan perasaannya setelah berhubungan dengan
orang

lain.Klien

dapat

mengungkapkan

perasaannya

setelah

berhubungan dengan orang lain.


1) Dorong klien untuk mengungkapkan perasaannya berhubungan
dengan orang lain.
Rasional:
Untuk mengetahui perasaan klien setelah berhubungan dengan
orang lain.
2) Diskusikan dengan klien tentang manfaat berhubungan dengan
orang lain.
Rasional:
Mengetahui pengetahuan klien tentang manfaat berhubungan

19

dengan orang lain.


3) Berikan

reinforcement

positif

atas

kemampuan

klien

mengungkapkan perasaan manfaat berhubungan orang lain.


Rasional:
Meningkatkan harga diri klien.
SP 6:
Klien dapat memberdayakan sistem pendukung atau keluarga.
Keluarga dapat menjelaskan cara merawat klien yang menarik diri.
1) Bina hubungan saling percaya dengan keluarga.
Rasional:
Agar terbina rasa percaya keluarga kepada perawat.
2) Diskusikan dengan anggota keluarga perilaku menarik diri,
penyebab perilaku menarik diri dab cara keluarga menghadapi
klien.
Rasional:
Meningkatkan pengetahuan keluarga tentang menarik diri dan cara
merawatnya.
3) Anjurkan kepada keluarga secara rutin dan bergantian datang
menjenguk klien (1 x seminggu).
Rasional:
Agar klien merasa diperhatikan.
c. Diagnosa III
Tujuan umum:
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama x pertemuan Klien
dapat berhubungan dengan orang lain tanpa merasa rendah diri.
Tujuan khusus:
SP 1:
Klien dapat membina hubungan saling percaya.Ekspresi wajah

20

bersahabat, klien nampak tenang, mau berjabat tangan, membalas


1)

salam, mau duduk dekat perawat.


Bina hubungan saling percaya dengan klien dengan menggunakan/
komunikasi terapeutik yaitu sapa klien dengan ramah, baik secara verbal
maupun non verbal, perkenalkan nama perawat, tanyakan nama lengkap
klien dan panggilan yang disukai, jelaskan tujuan pertemuan, jujur dan
menepati janji, bersikap empati dan menerima klien apa adanya.
Rasional:
Hubungan saling percaya sebagai dasar interaksi perawat dan klien.

2)

Dorong klien mengungkapkan perasaannya.


Rasional:
Mengetahui masalah yang dialami oleh klien.

3)

Dengarkan

klien

dengan

penuh

perhatian

dan

empati.

Rasional:
Agar klien merasa diperhatikan.
SP 2 :
Klien dapat mengidenfikasi kemampuan dan sisi positif yang dimiliki.
Klien dapat menyebutkan cita-cita dan harapan sesuai dengan
kemampuannya.
1) Diskusikan dengan klien tentang ideal dirinya : apa harapan klien
bila pulang nanti dan apa yg menjadi cita-citanya.
Rasional:
Untuk mengetahui sampai dimana realitas dari harapan klien.
2) Bantu klien mengembangkan antara keinginan dengan kemampuan
yang dimilikinya.
Rasional:
Membantu klien membentuk harapan yang realitas.
SP 3:

21

Klien dapat menyebutkan keberhasilan yang pernah dialaminya.


Klien dapat mengevaluasi dirinya.
1) Diskusikan dengan klien keberhasilan yg pernah dialaminya.
Rasional:
Mengingatkan

klien

bahwa

tidak

selamanya

dia

gagal.

Klien dapat menyebutkan kegagalan yang pernah terjadi pada


dirinya
2) Diskusikan dengan klien kegagalan yang pernah terjadi pada
dirinya.
Rasional:
Mengetahui sejauh mana kegagalan yg dialami oleh klien.
3) Beri reinforcement positif atas kemampuan klien menyebutkan
keberhasilan

dan

kegagalan

yang

pernah

dialaminya.

Rasional:
Meningkatkan harga diri klien.
SP 4:
Klien dapat membuat rencana yang realistis.
Klien dapat menyebutkan tujuan yang ingin dicapai.
1) Bantu klien merumuskan tujuan yang ingin

di

capai.

Rasional:
Agar klien tetap realistis dengan kemampuan yang dimilikinya.
Klien dapat membuat keputusan dalam mencapai tujuan.
2) Motivasi klien untuk melakukan kegiatan yang telah dipilih.
Rasional:
Menghargai keputusan yang dipilih oleh klien.
Berikan pujian atas keberhasilan yang telah dilakukan.
Rasional:
Meningkatkan harga diri.
SP 5:

22

Klien dapat memanfaatkan system pendukung keluarga.


Keluarga memberi dukungan dan ujian.
1) Beri pendidikan kesehatan pada keluarga tentan cara merawat klien
dengan harga diri rendah.
Rasional:
Untuk meningkatkan pengetahuan keluarga tentang cara merawat
klien dengan harga diri rendah.
2) Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien dirawat.
Rasional :
Support system keluarga akan sangat berpengaruh dalam
mempercepat penyembuhan klien.
Keluarga memahami jadwal kegiatan harian klien.
3) Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah.
Rasional:
Meningkatkan peran serta keluarga dalam merawat klien di rumah.
4) Jelaskan cara pelaksanaan jadwal kegiatan klien di rumah.
Rasional:
Untuk meningkatkan pengetahuan keluarga tentang perawatan
klien di rumah.
5) Anjurkan

memberi

pujian

pada

klien

setiap

berhasil.

Rasional:
Meningkatkan harga diri klien.
5. Evaluasi
Hasil yang diharapkan pada asuhan keperawatan klien dengan
halusinasi adalah:
a. Klien mampu memutuskan halusinasi dengan berbagai cara yang
telah diajarkan.
b. Klien mampu mengetahui tentang halusinasinya
c. Meminta bantuan atau partisipasi keluarga.

23

d.
e.
f.
g.

Mampu berhubungan dengan orang lain.


Menggunakan obat dengan benar.
Keluarga mampu mengidentifikasi gejala halusinasi.
Keluarga mampu merawat klien di rumah dan mengetahui tentang
cara mengatasi halusinasi serta dapat mendukung kegiatan-kegiatan
klien.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan uraian diatas mengenai halusinasi dan pelaksanaan asuhan
keperawatan terhadap pasien, maka dapat diambil beberapa kesimpulan
sebagai berikut :
1. Saat memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan halusinasi
ditemukan adanya perilaku menarik diri sehingga perlu dilakukan
pendekatan secara terus menerus, membina hubungan saling percaya
yang dapat menciptakan suasana terapeutik dalam pelaksanaan asuhan
keperawatan yang diberikan.
2. Dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien khususnya
dengan halusinasi, pasien sangat membutuhkan kehadiran keluarga
sebagai sistem pendukung yang mengerti keadaaan dan permasalahan

24

dirinya. Disamping itu perawat / petugas kesehatan juga membutuhkan


kehadiran keluarga dalam memberikan data yang diperlukan dan
membina kerjasama dalam memberi perawatan pada pasien. Dalam hal
ini penulis dapat menyimpulkan bahwa peran serta keluarga
merupakan faktor penting dalam proses penyembuhan klien.
B. SARAN
1. Dalam memberikan asuhan keperawatan hendaknya perawat mengikuti
langkah-langkah proses keperawatan dan melaksanakannya secara
sistematis dan tertulis agar tindakan berhasil dengan optimal
2. Dalam menangani kasus halusinasi hendaknya perawat melakukan
pendekatan secara bertahap dan terus menerus untuk membina
hubungan saling percaya antara perawat klien sehingga tercipta
suasana terapeutik dalam pelaksanaan asuhan keperawatan yang
diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
.Hamid, Achir Yani.(2000). Buku Pedoman Askep Jiwa-1 Keperawatan Jiwa
Teori dan Tindakan Keperawatan. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik
Indonesia.
Keliat, Budi Anna. (2006) Proses keperawatan kesehatan jiwa. Jakarta:
Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Maramis, W. F. (2005). Ilmu Kedokteran Jiwa. Edisi 9. Surabaya: Airlangga
University Press.
Stuart dan Laraia. (2001). Principle and Practice Of Psychiatric Nursing. edisi
6. St. Louis: Mosby Year Book.

25