Anda di halaman 1dari 20

PRAKTIKUM KULTUR JARINGAN

INISIASI EKSPLAN TANAMAN JAMBU AIR (Eugenia aquea)


SECARA IN VITRO

Disusun Oleh
Nama
: Andri Ardiansyah
NIM
: 4442121500
Kelas
: VI B
Kelompok
: 1 (satu)

JURUSAN AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2015

KATA PENGANTAR

Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan nikmat-Nya sehingga laporan kultur jaringan dengan judul Inisiasi
Eksplan Tanaman Jambu Air (Eugenia aquea) Secara In Vitro Dapat di
selesaikan tepat pada waktunya.
Laporan ini berisi tentang subkultur eksplan tanaman kultur jaringan.
Tidak lupa penyusun ucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu
dalam proses penyelesaian laporan ini.
Penyusun menyadari bahwa dalam pembuatan laporan ini masih belum
sempurna, oleh karena itu saya mengharapkan saran yang bersifat membangun
agar dalam pembuatan laporan selanjutnya tidak terjadi kesalahan atau kekeliruan
lagi.

Serang, 10 Juni 2015

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................

DAFTAR ISI ..............................................................................................

II

DAFTAR TABEL ......................................................................................

III

DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................

IV

I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................
1.2 Tujuan .............................................................................................

1
1

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1 Tinjauan Umum Tanaman Jambu Air .............................................
2.2 Inisiasi Kultur Jaringan ...................................................................

2
3

III. METODODOLOGI PENELITIAN


3.1 Waktu Dan Tempat ..........................................................................
3.2 Bahan dan Alat ................................................................................
3.3 Cara Kerja .......................................................................................

6
6
6

IV. HASIL DAN PEMBAHANSAN


4.1 Hasil ................................................................................................
4.2 Pembahasan .....................................................................................

8
9

V. PENUTUP
5.1 Simpulan .........................................................................................
5.2 Saran ................................................................................................

11
11

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................

12

LAMPIRAN................................................................................................

13
2

DAFTAR TABEL

No

halaman

1. Hasil Pengamatan Jambu Air (Eugenia aquea)................................ 8


2. Hasil Pengamatan Jambu Air (Eugenia aquea) ............................... 8
3. Hasil Pengamatan Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus)............ 9
4. Hasil Pengamatan Tanaman Delima (Punica granatum L.)............. 9

DAFTAR LAMPIRAN

No

halaman

1. Foto Kegiatan................................................................................. 13

BAB I PENDAHULUAN
1.1.

Latar belakang
Kultur jaringan adalah teknik pengisolasian bagian tanaman seperti organ

jaringan sel yang selanjutnya ditumbuhkan dalam media buatan secara aseptik
sehingga bagian tersebut beregenerasi menjadi tanaman lengkap. Kultur jaringan
memiliki potensi yang besar sebagai suatu cara propagasi vegetatif bagi tanaman
ditinjau dari segi ekonomi. Tahapan yang dilakukan dalam perbanyakan tanaman
dengan teknik kultur jaringan adalah pembuatan media, inisiasi, sterilisasi,
multiplikasi, pengakaran, aklimatisasi. Proses kultur jaringan dapat dilakukan
dengan mengabil langsung bagian tanaman dari lapangan. Secara langsung,
tanaman yang akan di gunakan untuk kegiatan kultur jaringan pada umumnya
berasal dari jaringan yang masih muda (juvenile) dimana jaringan tersebut dapat
berkembang dengan baik walaupun dikembangkan di dalam botol.
Untuk menunjang keberhasilan dalam kultur jaringan, tahapan inisiasi
merupakan tahapan yang cukup penting dimana bagian tanaman yang diisolasi
dari lapanng merupakan bahan yang rentan dari kontaminasi baik yang
disebabkan dari bakteri, cendawan atau mikroorganisme lain karena berasal dari
lingkungan luar yang tidak aseptic sehingga perlu adanya perlakuan sterilisasi.
Inisiasi merupakan upaya penumbuhan meristem atau bagian tanaman agar
tumbuh dalam botol yang steril atau bebas dari hama dan penyakit atau tahap
pengambilan eksplan dari tanaman induk. Dengan demikian, perlu adanya
kegiatan inisiasi bagian tanaman yang benar sehingga meningkatkan keberhasilan
dalam menumbuhkan tanaman secara in vitro.

1.2.

Tujuan
Agar mahasiswa dapat mengetahui dan melaksanakan inisiasi eksplan

tanaman jambu Air secara in vitro.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1.

Tinjauan Umum Tanaman Jambu Air


Tanaman jambu biji (P. guajava) diperkirakan berasal dari Amerika

Tengah, mungkin di sekitar Meksiko dan Peru. Selanjutnya, dari kawasan tersebut
oleh pelaut Spanyol disebarkan ke seluruh Filipina dan oleh bangsa Portugis ke
India. Tanaman yang lebih menyukai kawasan tropis itu sekarang sudah menyebar
ke seluruh dunia. Jumlah dan jenis tanaman tersebut cukup banyak, diperkirakan,
kini, ada sekitar 150 spesies di dunia. Tanaman jambu biji termasuk pohon,
percabangannya dekat tanah. Tanaman jambu biji tersebar luas sampai ke Asia
Tenggara termasuk Indonesia. Tanaman jambu biji sangat mudah dibudidayakan.
Kandungan nutrisinya yang tinggi dan produk pengolahannya yang modern
menempatkan tanaman tersebut sebagai komoditas perdagangan dunia yang cukup
penting.
Klasifikasi dari tanaman jambu biji (Psidium guajava L.) menurut Benson
(1957) dalam Sinaga (2006) adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Plantae

Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi

: Angiospermae

Kelas

: Dicotyledoneae

Ordo

: Myrtales

Famili

: Myrtaceae

Genus

: Psidium

Spesies

: Psidium guajava L.

Tanaman jambu biji (P. guajava) termasuk famili Myrtaceae, banyak


tumbuh di tanah air kita. Menurut Kartasapoetra (1988), daun-daun jambu biji
berbau aromatik, rasanya sepat, ciri-ciri tanaman jambu biji adalah sebagai
berikut: daun tunggal, bewarna hijau abu-abu, helai daun berbentuk jorong sampai
bulat memanjang, ujung daun meruncing sedangkan pangkal daun meruncing pula
tapi membulat, berukuran panjang antara 6cm sampai 15cm, lebar antara 3cm
sampai 7,5cm, tangkainya lebih kurang 1 cm, daun berambut penutup pendek,
tampak berbintik-bintik yang sesungguhnya merupakan rongga-rongga lisigen,
warnanya gelap. Menurut Heyne (1987), tinggi tanaman dapat mencapai 10 m,
mulai berbuah antara umur 2 sampai dengan 4 tahun dan umur tanaman produktif
30-40 tahun. Perdu atau pohon kecil, tinggi 2-10 m, percabangan banyak,
batangnya berkayu, keras, kulit batang licin, mengelupas, berwarna cokelat
kehijauan. letak daun berhadapan, berambut halus, permukaan atas daun licin.
pertulangan daun menyirip, bunga tunggal, bertangkai, keluar dari ketiak daun,
berkumpul 1-3 bunga, berwarna putih. Buahnya buah buni, berbentuk bulat
sampai bulat telur, berwarna hijau sampai hijau kekuningan.Daging buah tebal,
buah yang masak bertekstur lunak, berwarna putih kekuningan atau merah jambu.
Biji mengumpul di tengah, buah kecil-kecil, keras, berwarna kuning kecoklatan.
Jambu biji (P. guajava) memiliki varietas antara lain berdaging-buah putih
dan berdaging buah merah. Perbedaan dari varietas tersebut terletak pada buah,
dimana pada P. guajava berdaging buah merah memiliki daging buah bewarna
merah apabila buahnya telah masak sedangkan P. guajava berdaging-buah putih
tetap memiliki daging buah bewarna putih walau buahnya telah masak; dan
helaian daun dari P. guajava berdaging-buah merah lebih halus dibandingkan
dengan helaian daun P. guajava berdaging-buah putih.

2.2.

Inisiasi Kultur Jaringan


Inisiasi adalah tahap pengambilan eksplan dari tanaman induk yang akan

diperbanyak secara kultur jaringan. Sebelum melakukan inisiasi sebaiknya


4

terlebih dahulu melakukan sterilisasi. Tujuan utama tahap ini adalah


mengusahakan kultur yang aseptic atau aksenik. Aseptik berarti bebas dari
mikroorganisme, sedangkan aksenik berarti bebas dari mikroorganisme yang tidak
diinginkan.
Menurut Anjar (2006) Inisiasi merupakan upaya penumbuhan meristem
atau bagian tanaman agar tumbuh dalam botol yang steril atau bebas dari hama
dan penyakit atau tahap pengambilan eksplan dari tanaman induk.
Pertumbuhan dan morfogenesis dalam kultur jaringan sangat dipengaruhi
oleh keadaan jaringan tanaman yang digunakan sebagai eksplan. Selain faktor
genetis eksplan yang telah disebutkan di atas, kondisi eksplan yang
mempengaruhi keberhasilan kultur adalah jenis eksplan, ukuran, umur dan fase
fisiologis jaringan yang digunakan sebagai eksplan. Meskipun masing-masing sel
tanaman memiliki kemampuan totipotensi, namun masing-masing jaringan
memiliki kemampuan yang berbeda-beda untuk tumbuh dan beregenerasi dalam
kultur jaringan. Oleh karena itu, jenis eksplan yang digunakan untuk masingmasing kultur berbeda-beda tergantung tujuan pengkulturannya.
Umur eksplan sangat berpengaruh terhadap kemampuan eksplan tersebut
untuk tumbuh dan beregenerasi. Umumnya eksplan yang berasal dari jaringan
tanaman yang masih muda (juvenil) lebih mudah tumbuh dan beregenerasi
dibandingkan dengan jaringan yang telah terdiferensiasi lanjut. Jaringan muda
umumnya memiliki sel-sel yang aktif membelah dengan dinding sel yang belum
kompleks sehingga lebih mudah dimodifikasi dalam kultur dibandingkan jaringan
tua. Oleh karena itu, inisiasi kultur biasanya dilakukan dengan menggunakan
pucuk-pucuk muda, kuncup-kuncup muda, hipokotil, inflorescence yang belum
dewasa, dll. Jika eksplan diambil dari tanaman dewasa, rejuvenilisasi tanaman
induk melalui pemangkasan atau pemupukan dapat membantu untuk memperoleh
eksplan muda agar kultur lebih berhasil.
Ukuran eksplan juga mempengaruhi keberhasilan kultur. Eksplan dengan
ukuran kecil lebih mudah disterilisasi dan tidak membutuhkan ruang serta media
yang banyak, namun kemampuannya untuk beregenerasi juga lebih kecil sehingga
5

dibutuhkan media yang lebih kompleks untuk pertumbuhan dan regenerasinya.


Sebaliknya semakin besar eksplan, maka semakin besar kemungkinannya untuk
membawa penyakit dan makin sulit untuk diterilkan, membutuhkan ruang dan
media kultur yang lebih banyak. Ukuran eskplan yang sesuai sangat tergantung
dari jenis tanaman yang dikulturkan, teknik dan tujuan pengkulturannya.
Tahap awal ini amat sangat penting dan menentukan bagi keberhasilan
mikropropagasi. Keberhasilan tahap ini pertama kali terlihat dari keberhasilan
penanaman eksplan pada kondisi aseptis (bebas dari segala kontaminan) dan harus
diikuti dengan pertumbuhan awal eksplan sesuai tujuan penanamannya (misalnya:
perpanjangan pucuk, pertumbuhan awal tunas, atau pertumbuhan kalus pada
eksplan). Setelah 1 2 minggu inkubasi, kultur yang terkontaminasi oleh bakteri
atau jamur (baik pada media maupun eksplannya) dibuang. Tahap ini selesai dan
kultur bisa dipindahkan ke tahap berikutnya bila eksplan yang tidak
terkontaminasi telah tumbuh sesuai dengan harapan (misalnya tunas lateral atau
tunas adventif tumbuh). Untuk eksplan yang mengalami kontaminasi berat atau
yang sulit untuk disterilisasi maka eksplan terlebih dahulu dapat ditanam pada
media inkubasi atau establishment yaitu media yang hanya mengandung gula dan
agar saja dengan tujuan untuk isolasi eskplan yang tidak terkontaminasi sebelum
diinisiasi pada tahap 1 mikropropagasi.
Tujuan dari tahap ini adalah memproduksi kultur axenic. Untuk
kebanyakan pekerjaan mikropropagasi, eksplan yang dipilih adalah tunas aksilar
atau terminal; hanya pada tanaman terbatas eksplan yang digunakan dapat dari
potongan daun seperti pada Begonia dan Saintpaulia (African violet) atau
perbungaan pada tanaman Gerbera spp. Faktor-faktor yang berpengaruh pada
keberhasilan pada tahap ini adalah:
Umur tanaman induk
Umur fisiologis dari eksplan
Tahap perkembangan dari eksplan
Ukuran dari eksplan.
6

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


3.1.

Waktu dan Tempat Praktikum


Praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis 18 April 2015 pukul 11.00

WIB sampai selesai, bertempat di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Pertanian


Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.

3.2.

Alat dan Bahan


Adapun alat yang digunakan dalam praktikum adalah sebagai berikut:

botol kultur berisi media MS, bunsen, pinset , LAF (laminar air flow), cawan
petri, masker dan scalpel . Sedangkan untuk bahan yang digunakan antara lain:
alkohol 70%,pucuk jambu biji, BAP, bayclean 50%, plastic seal (segel plastik),
fungisida, bakterisida, tween, dan aquades..

3.3.

Cara Kerja

Sterilisasi Eksplan:
1. Siapkan tanaman yang akan disterilkan.
2. Cuci dengan air mengalir.
3. Rendam 30 menit didalam tween.
4. Bilas dengan air hingga tidak berbuih.
5. Rendam dengan larutan bakterisida 2 gr/100 ml selama 1 jam.
6. Bilas dengan aquades hingga tidak berbuih.
7

7. Rendam dengan larutan fungisida selama 1 jam.


8. Bilas dengan aquades.
Sterilisasi Didalam Laminar:
1. Rendam eksplan dengan larutan bayclean 50%.
2. Bilas dengan aquades.
3. Rendam eksplan dengan larutan alkohol 70%.
4. Bilas dengan aquades.
5. Tanama eksplan.
Penanaman Eksplan:
1. Membuka plastik penutup botol media kultur
2. Mengambil eksplan/memecah eksplan kalus/tunas/buku yang ada dan
menanammnya di media kultur baru dengan pinset. Setelah digunakan, pinset
harus selalu dibakar di atas api.
3. Selama penanaman, mulut botol harus selalu dekat dengan api untuk
menghindari kontaminasi.
Pengamatan selama 2 minggu, dengan mengamati:
1. Mengamati saat muncul akar, tunas, dan daun (MST)
2. Mengamati jumlah daun, tinggi tanaman, persentase kontaminasi, persentase
hidup dan persentase browning

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.

Hasil

Tabel 1. Hasil Pengamatan Jambu Air (Eugenia aquea)

Foto

Jumlah
Ekspla
n

Tinggi
Eksplan (cm)

Kontaminasi

Browning

1 MST (25-05-15)

0,5

2 MST (01-06-15)

0,5

Kontaminasi

Browning

Tabel 2. Hasil Pengamatan Jambu Air (Eugenia aquea)

Foto

Jumlah
Ekspla
n

Tinggi
Eksplan (cm)

0,3

1 MST

0,3

2 MST

Tabel 3. Hasil Pengamatan Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus)


Foto

Jumlah
Eksplan

Tinggi
Eksplan (cm)

Kontaminasi

Browning

1 MST

0,3

2 MST

0,3

Tabel 4. Hasil Pengamatan Tanaman Delima (Punica granatum L.)


Foto

Jumlah
Eksplan

Tinggi
Eksplan (cm)

Kontaminasi

Browning

1 MST

0,8

10

4.2.

Pembahasan
Umur fisiologis, umur otogenetik, ukuran eksplan, serta bagian tanaman

yang diambil merupakan hal-hal yang harus dipertimbangkan dalam memilih


eksplan yang akan digunakan sebagai bahan awal kultur (Yusnita, 2003) dalam
sinaga (2006). Penggunaan pucuk atau jaringan muda sebagai eksplan pada tahap
awal inisiasi kultur jaringan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan
keberhasilan kegiatan kultur jaringan. Jaringan tanaman muda seperti pucuk
umumnya lebih cepat tumbuh dan berkembang dibandingkan dengan jaringan
yang sudah berdifetensiasi. Jaringan muda umumnnya masih aktif dalam
pembelahan sel-sel dengan dinding sel yang belum kompleks sehingga lebih
mudah dimodifikasi dalam kultur dibandingkan jaringan tua yang sudah menurun
tingkat regenerasi maupun pembelahan selnya. Oleh karena itu, inisiasi kultur
biasanya dilakukan dengan menggunakan pucuk-pucuk muda, kuncup-kuncup
muda, hipokotil, inflorescence yang belum dewasa, dan lain-lain.
Dari tabel data pengamatan diatas dapat dilihat bahwa persentase hidup
dari eksplan pucuk jambu air sebesar 0% dan persentase kontaminasi sebesar
100%. Tingginya tingkat kontaminasi dapat disebabkan karena kurang tepatnya
proses sterilisasi eksplan, tidak sterilnya peralatan atau bahan yang digunakan atau
kecerobahan praktikan dalam proses penanaman yang dilakukan di laminer.
Proses sterlisisasi eksplan menggunakan bahan kimia seperti tween, bayclean atau
yang lainnya dapat menyebabkan jaringan tanaman rusak karena sifat racun pada
bahan tersebut. Jayusman (2006), menyatakan bahwa setiap jenis tanaman akan
menghendaki perlakuan sterilisasi yang berbeda. Eksplan yang mati kemungkinan
disebabkan karena tidak tahan terhadap zat kimiia karena bahan-bahan sterilisasi
ini pada umumnya bersifat meracuni terhadap jaringan tanaman. eksplan yang
mati akibat keracunan dapat menyebabkan kontaminasi pada permukaan media.
media dasar yang relatif cepat dan peka terhadap kontaminasi dari sumber eksplan
dan teknik sterilisasi yang berbeda pada umumnya adalah media 1/2 MS dan MS.
menurut Haris (2013), Sebagaimana diketahui bahwa Pertumbuhan
eksplan (pembentukan tunas) dalam kultur jaringan ditentukan oleh banyak faktor,
11

diantaranya komposisi media, khususnya konsentrasi dari zat pengatur tumbuh


yang digunakan. Konsentrasi zat pengatur tumbuh dalam media sangat
mempengaruhi tingkat inisiasi tunas dari eksplan yang dikultur. Keseimbangan
antara sitokinin (BAP) dan auksin dalam media mementukan regenerasi dan
tingkat pertumbuhan serta perkembangan eksplan.

12

BAB V SIMPULAN DAN SARAN


5.2.

Simpulan
Dari data pengamatan didapat bahwa pucuk tanaman jambu air yang

diinisiasi pada media MS mengalami kontaminasi dan mati. Hal ini dapat
disebabkan oleh beberapa hal seperti kecerobohan praktikan saat proses
penanaman, peralatan yang kurang steril, ataupun penggunaan bahan kimia yang
berlebihan dan prosedur sterilisasi eksplan yang tidak tepat.

5.2.

Saran
Saat pemotongan eksplan diusahakan agar tidak keluar dari laminar karena

dapat menyebabkan cendawan atau mahluk hidup lain yang menyebabkan


kontaminasi dapat masuk ke media.

13

DAFTAR PUSTAKA
Abbas, Barahima. 2011. Prinsip Dasar Teknik Kultur Jaringan. Penerbit Alfabeta,
Bandung. 138 hal.
Anjar Kusuma, Leo. 2006. Kultur Jaringan Tanaman Jarak. [online]
https://leqi.files.wordpress.com/2009/02/inisiasi-tunas.pdf. Diakses pada
tanggal 09 Juni 2015 jam 19.32 wib.
Haris, Abdul; Zainuddin Basri dan Mirni Ulfa Bustami. 2013. Inisiasi Tunas
Cengkeh (Syzigium aromaticum L.) Dengan Berbagai Konsentrasi Bap
Secara In Vitro. E-Jurnal Agrotekbis, vol 1 no (04): 307-313.
Jayusman dan Arif Setiawan. 2006. Inisiasi Tunas Ramin Melalui Kultur
Jaringan. Jurnal Penelitian Hutan Tanaman, vol 3 no (01): 53-62.
P. Sriyanti Hendrayono, Daisy; dan Ari wijayani. 2012. Teknik Kultur Jaringan.
Penerbit Kanisius, Yogyakarta. 139 hal.
R Siringoringo, Lydia. 2011. Kultur Meristem Pucuk Stroberi (Fragaria
chiloensis dan F. Vesca) Dengan Pemberian Beberapa Zat Pengatur
Tumbuh. Skrpsi. Universitas Sumatera Utara. USU International
Repository. http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/26543. Diakses
Pada tanggal 10 Juni 2015 jam 05.02 wib.
Sinaga, Lusianna. 2008. Uji Antimikrobial Ekstrak Metanol Daun Jambu Biji
Daging Putih Dan Jambu Biji Daging Merah (Psidium guajava L.)
Terhadap Beberapa Spesies Bakteri Patogen. Skrpsi. Universitas Sumatera
Utara.
USU
International
Reposotiry.
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/16120. Diakses pada tanggal
10 Juni 2015 jam 03.55 wib.
Yuono, Teguh. 2012. Bioteknologi Pertanian : Inisiasi dan Inokulasi. [online]
http://teguh-yuono.blogspot.com/2012/05/bioteknologi-pertanian-inisiasidan.html. Diakses pada tanggal 10 Juni 2015 Jam 04.15 wib.

12

Lampiran 1 Foto kegiatan

Penimbangan dan pelarutan bakterisida


dan fungisida

Eksplan dimasukkan kedalam


larutan detergen dan di gojog
perlahan

Eksplan dibilas dengan aquades steril 3


kali

Eksplan di rendam dalam larutan


fungisida dan bakterisida masingmasing 1 jam dan dibilas aquades 3
kali

Didalam laminar eksplan di rendam


dalam alcohol selama 15 menit dan
direndam dalam klorox dengan
ditambahkan twin.

Setelah disterilisasi, eksplan jambu


air ditanam pada media MS.

13