Anda di halaman 1dari 28

ANALISIS PENGARUH CORPORATE GOVERNANCE,

STRUKTUR KEPEMILIKAN, DAN CASH HOLDINGS


TERHADAP NILAI PERUSAHAAN
Rizka Kharisma Putri
Drs. H. Tarmizi Achmad, MBA, Ph.D, Akt.
(Universitas Diponegoro)

ABSTRACT
The purposes of this research is to analyze the influence of corporate
governance (board size, board independence, and audit quality), ownership
structure (mangerial ownership, foreign ownership, and family ownership), and
also cash holdings to firm value which occured by Tobins Q.
This research uses Ordinary Least Square (OLS) regression by using
manufacture companies which are listed in Indonesian Stock Exchange (IDX)
from 2006 to 2009 as the samples. From the analysis result, we got regression
equality, that is:
Y = 1,046 + 0,604 X1 + 0,378 X2 + 0,809 X3 0,221 X4 0,275 X5 0,804 X6 0,028 X7 + e
The result of this research shows that managerial ownership and family
ownership has negative and significant relationships to firm value. Corporate
governance variable, audit quality, has positive and significant relationships to
firm value. While, other variables in this research such as board size, board
independence, foreign share ownership, and cash holdings were found not
signifficantly affect on firm value.
Keywords: Firm Value, Corporate Governance, Ownership Structure, Cash
Holdings

I. PENDAHULUAN

Pada dasarnya perusahaan adalah lembaga ekonomi yang didirikan oleh


pemilik untuk mendapatkan keuntungan. Salah satu kepentingan pokok pemegang
saham (shareholder) adalah bahwa perusahaan harus memupuk keuntungan
(profit motive) sehingga dapat meningkatkan nilai perusahaan bagi keuntungan
para pemegang saham (Djalil, 2000). Perusahaan perlu mendapatkan daya saing
strategis agar dapat meningkatkan nilai perusahaannya pada titik maksimum.
Namun beberapa bahkan banyak perusahaan gagal untuk melakukan aktivitas
penciptaan nilai tersebut.
Kegagalan perusahaan berskala besar , skandal-skandal keuangan, dan
krisis-krisis di berbagai negara, telah memusatkan perhatian pada pentingnya
corporate governance. Buruknya praktik corporate governance sering dituding
menjadi salah satu penyebab terjadinya krisis. Kurniawan dan Indriantoro (2000)
dalam Susanti (2010) menunjukkan beberapa indikasi buruknya praktik corporate
governance di Indonesia yaitu: (1) Struktur kepemilikan yang masih didominasi
keluarga sehingga perlindungan terhadap investor kecil masih lemah, (2) Fungsi
dewan komisaris dalam membawa inspirasi atau kepentingan pemegang saham
non-mayoritas juga masih lemah, (3) Belum adanya kewajiban untuk membentuk
audit committee sehingga informasi keuangan yang disampaikan diragukan
kualitasnya, (4) Praktek fair business yang masih lemah, (5) Transparansi dan
disclosure yang masih rendah, (6) Praktek manajemen risiko yang belum baik,
dan (7) Perlindungan terhadap kreditur yang masih lemah. Menurut Naim, 2000
(dalam Hastuti, 2005), hadirnya Good Corporate Governance dalam pemulihan
krisis di Indonesia menjadi mutlak diperlukan, mengingat Good Corporate
Governance mensyaratkan suatu pengelolaan yang baik dalam sebuah organisasi.
GCG merupakan sistem yang mampu memberikan perlindungan dan jaminan hak
kepada stakeholders.
Mekanisme corporate governance seringkali dihubungkan dengan teori
keagenan, yaitu dimana pihak prinsipal dalam hal ini pemilik perusahaan
mendelegasikan tanggung jawab operasional perusahaan kepada agen yang dalam

hal ini manajer. Namun, dalam prakteknya sering terjadi konflik kepentingan
antara agen dan prinsipal. Agen dalam hal ini cenderung bersifat oportunistik atau
mementingkan keuntungannya sendiri. Konflik yang terjadi disebut dengan
konflik agensi (agency conflict). Menurut Herawaty (2008) mekanisme
monitoring untuk menyelaraskan (alignment) perbedaan kepentingan pemilik dan
manajemen antara lain dengan: (1) memperbesar kepemilikan saham perusahaan
oleh manajemen (managerial ownership) (Jensen dan Meckling, 1976; (2)
kepemilikan saham oleh institusional karena mereka dianggap sebagai
sophisticated investor dengan jumlah kepemilikan yang cukup signifikan dapat
memonitor manajemen yang berdampak mengurangi motivasi manajer untuk
melakukan earnings management (Pranata dan Masud); (3) Peran monitoring
yang dilakukan dewan komisaris independen (Barnhart dan Rosenstein, 1998); (4)
kualitas audit yang dilihat dari peran auditor yang memiliki kompetensi yang
memadai dan bersikap independen sehingga menjadi pihak yang dapat
memberikan kepastian terhadap integritas angka-angka akuntansi yang dilaporkan
manajemen (Mayangsari, 2003).
Masalah corporate governance merupakan masalah yang timbul sebagai
akibat pihak-pihak yang terlibat dalam perusahaan mempunyai kepentingan yang
berbeda-beda. Perbedaan tersebut antara lain karena karakteristik kepemilikan
dalam perusahaan (Hastuti, 2005). Lauz et al. (2007) dalam Bopkin dan Isshaq
(2009) mendokumentasikan bahwa pihak asing secara signifikan mengurangi
investasi di perusahaan yang memiliki struktur kepemilikan yang tidak kondusif
untuk mengelola masalah, dan pada saat yang sama di perusahaan yang memiliki
proteksi yang lemah terhadap pihak luar dan pengungkapan. Menurut Ramaswary
dan Li (2001) dalam Bopkin dan Isshaq (2009) mengindikasikan bahwa
partisipasi investor asing dalam pasar saham telah menambah beberapa perubahan
regulasi. Selain itu menurut Anderson dkk (2002) dalam Siregar dan Utama
(2005) mengatakan bahwa perusahaan yang dikendalikan oleh keluarga
mempunyai struktur yang menyebabkan berkurangnya konflik agensi antara
pemegang saham dan kreditur, dimana kreditur menganggap kepemilikan
keluarga lebih melindungi kepentingan kreditur.

Dalam usahanya untuk meningkatkan nilai, perusahaan yang mempunyai


corporate governance yang lemah menyebabkan ketidakefisienan pada investasi
mereka sehingga berdampak pada profitabilitas dan nilai perusahaan. Menurut
Harford et al., 2008 dalam Ishaaq, 2009 literatur penilaian perusahaan
menjelaskan bahwa arus kas diskresioner merupakan salah satu cara menentukan
nilai perusahaan, dan sejauh ini jika terjadi investasi kas yang tidak efisien akan
berpengaruh pada nilai perusahaan. Ada bukti yang menunjukkan bahwa investasi
kas oleh para manajer pada corporate governance yang lemah akan berdampak
pada profitabilitas perusahaan di masa depan, yang berpengaruh pada harga saham
perusahaan.
Penelitian ini merupakan pengembangan dari penelitian yang dilakukan
oleh Isshaq, dkk. yang dilakukan pada tahun 2009 dengan menggunakan sampel
perusahaan yang listing di Ghana Stock Exchange (GSE) pada tahun 2001-2007.
Namun demikian terdapat beberapa penelitian lain yang berkaitan dengan
corporate governance, struktur kepemilikan, dan cash holdings dengan
menggunakan beberapa variabel-variabel pengukuran untuk menilai suatu
perusahaan, yang menunjukkan hasil berbeda. Hubungan positif antara
mekanisme corporate governance ditemukan dalam penelitian Isshaq, dkk.
(2009), Siallagan dan Machfoedz (2006), serta Herawaty (2008). Sedangkan
penelitian yang dilakukan Kin-Wae Lee dan Cheng Few Lee (2008) menemukan
hubungan negatif. Mekanisme struktur kepemilikan juga terdapat beberapa
perbedaan hasil. Dalam studi yang dilakukan Herawaty (2008), Isshaq, dkk.
(2009), dan Suranta dan Machfoedz (2003) ditemukan hubungan negatif antara
kepemilikan manajerial dengan nilai perusahaan, Hal ini bertentangan dengan
penelitian Jensen dan Meckling (1976) yang menyatakan bahwa kepemilikan
manajerial dapat meluruskan kepentingan manajer dan pemegang saham yang
mana dapat meningkatkan nilai perusahaan. Arifin (2003) dalam Siregar dan
Utama (2005)dan Barontini dan Caprio (2005) menemukan hubungan negatif
antara kepemilikan keluarga dengan nilai perusahaan sedangkan hubungan negatif
ditemukan dalam studi yang dilakukan oleh Shleifer dan Vishny (1997) serta
Amit dan Villalonga (2004). Sedangkan peneltian mengenai cash holdings, Kin-

Wae Lee dan Cheng-Few Lee (2008) menemukan hubungan negatif dan Isshaq,
dkk. (2009) menemukan hubungan positif terhadap nilai perusahaan.

II. TELAAH TEORI

Corporate Governance terhadap Nilai Perusahaan


Ukuran dewan Direksi terhadap Nilai Perusahaan
Ukuran dewan direksi adalah jumlah anggota dewan direksi yang ada di
dalam perusahaan. Bennedsen (2002) dalam Suranta dan Machfoedz (2003)
bahwa suatu perusahaan akan mempunyai dua motif untuk memiliki dewan
direksi yaitu: (1) motif governance (penciptaan nilai perusahaan) dan (2) motif
distributif (membatasi kepentingan controlling owner). Oleh karena itu semakin
banyak jumlah dewan direksi yang ada di dalam perusahaan, maka akan semakin
efektif fungsi monitoring serta kontrol terhadap kinerja perusahaan. Dengan
kinerja perusahaan yang baik maka nilai perusahaan juga akan meningkat.

Dewan Komisaris Independen terhadap Nilai Perusahaan


Dewan komisaris independen merupakan proporsi anggota dewan
komisaris independen yang ada di dalam perusahaan. Proporsi tersebut dapat
dilihat dengan melakukan perbandingan antara jumlah anggota komisaris
independen dengan total jumlah anggota dewan komisaris di dalam perusahaan.
Jumlah dewan komisaris independen yang semakin banyak menandakan bahwa
dewan komisaris yang melakukan fungsi pengawasan dan koordinasi dalam
perusahaan semakin baik. Karena semakin banyak anggota dewan komisaris
independen maka tingkat integritas pengawasan terhadap dewan direksi yang
dihasilkan semakin tinggi, dengan begitu maka akan semakin mewakili
kepentingan stakeholders lainnya selain daripada kepentingan pemegang saham
mayoritas dan dampaknya akan semakin baik terhadap nilai perusahaan.

Kualitas Audit terhadap Nilai Perusahaan


Kualitas audit mencerminkan kredibilitas auditor yang digunakan dan
kesalahan dalam laporan keuangan. Semakin kredibel laporan keuangan yang
diaudit oleh auditor maka semakin baik kualitas laporan keuangan yang dihasilkan
dan disampaikan kepada penggunanya terutama pemegang saham. Sehingga
semakin baik tingkat kepercayaan dan keputusan yang diambil pemegang saham.
Dengan begitu nilai perusahaan akan meningkat. Dalam penelitian Herawaty
(2008) kualitas audit berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Struktur Kepemilikan terhadap Nilai Perusahaan


Struktur Kepemilikan Manajerial terhadap Nilai Perusahaan
Kepemilikan manajemen terhadap saham perusahaan dipandang dapat
menyelaraskan potensi perbedaan kepentingan antara pemegang saham luar
dengan manajemen (Jensen dan Meckling, 1976). Dengan meningkatkan
kepemilikan saham oleh manajer, diharapkan manajer akan bertindak sesuai
dengan keinginan para principal karena manajer akan termotivasi untuk
meningkatkan kinerja (Siallagan dan Machfoedz, 2006). Dengan begitu
manajemen tidak hanya bekerja untuk kepentingan pemegang saham eksternal
namun demi kepentingannya sendiri, karena mereka juga merupakan bagian dari
pemegang saham. Kinerja manajer akan semakin baik dan semakin meningkatkan
nilai perusahaan.

Struktur Kepemilikan Asing terhadap Nilai Perusahaan


Salvatore (2005) dalam Nuraini (2010) menyatakan bahwa sebuah
portofolio yang mengandung saham-saham domestik dan asing menawarkan
risiko yang lebih rendah dan tingkat pengembalian yang lebih tinggi bagi
investornya dibanding portofolio yang hanya mengandung saham-saham
domestik. Hal tersebut bisa menjadi pertimbangan bagi pemegang saham. Dengan

begitu terdapat asumsi dampak positif terhadap kinerja perusahaan dan nilai
perusahaan akan meningkat.

Struktur Kepemilikan Keluarga terhadap Nilai Perusahaan


Menurut penelitian Arifin (2003) dalam Siregar dan Utama (2005)
menunjukkan bahwa perusahaan publik di Indonesia yang dikendalikan keluarga
atau negara atau institusi keuangan masalah agensinya lebih baik jika
dibandingkan perusahaan yang dikontrol oleh publik atau tanpa pengendali utama.
Menurutnya, dalam perusahaan yang dikendalikan keluarga, masalah agensinya
lebih kecil karena berkurangnya konflik antara principal dan agent. Dengan
berkurangnya konfik tersebut, maka kinerja perusahaan akan semakin optimal dan
dengan begitu berdampak baik terhadap nilai perusahaan.

Cash Holdings terhadap Nilai Perusahaan


Banyak penelitian menemukan bahwa pada perusahaan dengan corporate
governance yang lemah lebih cepat menghabiskan kepemilikan kas (cash
holdings) mereka untuk investasi yang tidak efisien. Isshaq, dkk. (2009)
mengatakan bahwa investasi yang tidak efisien yang disebabkan oleh corporate
governance yang lemah, akan memberi konsekuensi pada profitabilitas
perusahaan juga nilai perusahaan. Hal tersebut sejalan dengan hasil penelitian
Kin-Wae Lee dan Cheng-Few Lee (2008) yang menemukan hubungan negatif
antara tingkat kepemilikan kas dengan nilai perusahaan. Berdasarkan penjelasan
di atas, maka penelitian ini menarik hipotesis:
H1a

: Ukuran dewan direksi berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

H1b

: Dewan komisaris independen berpengaruh positif terhadap nilai


perusahaan.

H1d

: Kualitas audit berpengaruh positif terhadap nilai

perusahaan.

H2a

: Struktur kepemilikan manajerial berpengaruh positif terhadap nilai


perusahaan.

H2b

: Struktur kepemilikan asing berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

H2c

: Struktur kepemilikan keluarga berpengaruh positif

terhadap nilai

perusahaan.
H3

: Cash Holdings berpengaruh negatif terhadap nilai perusahaan.

III. METODE PENELITIAN

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel

Variabel Dependen
Nilai Perusahaan
Nilai perusahaan merupakan variabel dependen yang diukur dengan
menggunakan Tobins Q yang dihitung dengan menggunakan rumus :


  
  

= Nilai perusahaan

MVE

= Nilai pasar ekuitas (Equity Market Value)

= Nilai buku dari total hutang

BVE

= Nilai buku dari ekuitas (Equity Book Value)

Market Value Equity (MVE) diperoleh dari hasil perkalian harga saham
dan penutupan (closing price) akhir tahun dengan jumlah saham yang beredar
pada akhir tahun. BVE diperoleh dari selisih total aset perusahaan dengan total
kewajibannya (Herawaty, 2008).
Variabel Independen
1.

Corporate Governance
Dalam

penelitian

ini

corporate

governance

diproksikan

dengan

menggunakan, antara lain:


a. Board Size atau Ukuran Dewan Direksi
Ukuran dewan direksi dapat dilihat dari jumlah anggota dewan direksi
yang ada di dalam perusahaan diformulasikan sebagai berikut:


    



b. Board Independence atau Komisaris Independen


Komisaris independen diukur dari proporsi atau jumlah anggota komisaris
dalam dewan komisaris yang ada di dalam perusahaan diformulasikan
sebagai berikut:
   





   




  
 

c. Kualitas Audit
Dalam penelitian ini, auditor dikelompokkan menjadi dua yaitu auditor big
4 dan non big 4 dan diukur dengan menggunakan variabel dummy yaitu 1
untuk KAP Big 4 dan 0 untuk KAP non Big Four.
2.

Struktur kepemilikan
a. Struktur Kepemilikan Manajerial
Struktur

kepemilikan

manajerial

diproksikan

dengan

presentase

kepemilikan saham yang dimiliki oleh karyawan, manajer, serta pengelola


perusahaan dari total jumlah saham yang beredar.
b. Struktur Kepemilikan Asing
Struktur kepemilikan asing diproksikan dengan presentase kepemilikan
saham yang dimiliki oleh badan usaha, atau perorangan uang bertatus luar
negeri.
c. Struktur Kepemilikan Keluarga
Definisi keluarga dalam suatu perusahaan yang dipakai dalam penelitian
ini mengikuti definisi keluarga yang digunakan oleh Arifin (2003): semua
individu dan perusahaan yang kepemilikannya tercatat (kepemilikan > 5%
wajib dicatat), yang bukan perusahaan publik, negara, institusi keuangan,
dan publik (individu yang kepemilikannya tidak wajib dicatat), (Siregar
dan Utama, 2005).
3.

Cash Holdings
Dalam penelitian Isshaq, dkk. (2009) variabel cash holdings dapat diukur
dengan log dari saldo kas neraca akhir tahun.

Data dan Sampel Penelitian


Metode penentuan populasi yang digunakan adalah metode purposive
sampling. Objek penelitian yang digunakan adalah berupa perusahaan manufaktur
yang sudah go public dan listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) kriteria sebagai
berikut:
1.

Perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia selama periode


tahun 2006 2009.

2.

Perusahaan yang mempublikasikan laporan keuangan yang


dinyatakan dalam rupiah dan berakhir pada tanggal 31 Desember
selama periode tahun 2006 2009.

3.

Perusahaan

yang

mempunyai

kelengkapan

data

mengenai

kepemilikan manajerial, kepemilikan asing, kepemilikan keluarga,


dewan direksi, komisaris independen dan auditor.
Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu sumber data yang
diperoleh secara tidak langsung melalui media perantara. Sumber data yang
digunakan ini diperoleh melalui penelusuran dari Indonesia Capital Market
Directory (ICMD), annual report perusahaan, website www.idx.co.id, Jakarta
Stock Exchange (JSX), dan dari media internet.

Metode Analisis Data


Dalam penelitian ini digunakan model persamaan regresi dengan metode
Ordinary Least Square (OLS). Ordinary Least Square digunakan untuk menguji
pengaruh corporate governance yang diproksikan melalui board size, board
independence, kualitas audit, struktur kepemilikan (ownership structure), dan
cash holdings terhadap nilai perusahaan (Tobins Q) perusahaan manufaktur yang
terdaftar di BEI.
Sebelum analisa regresi melalui metode OLS dilakukan, maka harus diuji
dulu dengan uji asumsi klasik untuk memastikan apakah model regresi digunakan
tidak terdapat masalah normalitas, multikolinearitas, heteroskedastisitas, dan
autokolerasi. Jika terpenuhi maka model analisis layak untuk digunakan.

Kerangka Pemikiran
Variabel Independen
Corporate Governance
V 1. Ukuran Dewan Direksi
2. Dewan Komisaris Independen
3. Kualitas Audit

Variabel Independen
Struktur Kepemilikan
4. Kepemilikan Manajerial
5. Kepemilikan Asing
6. Kepemilikan Keluarga

Variabel Dependen
Nilai Perusahaan

Variabel Independen
Cash Holdings

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan klasifikasi perusahaan di atas, pengambilan sampel dilakukan


dengan metode purposive sampling, yaitu dengan menentukan kriteria khusus
untuk pengambilan sampel. Sesuai dengan metode pengambilan sampel tersebut,
perusahaan yang menjadi sampel dalam penelitian adalah sebanyak 68 perusahaan
yang dirinci dalam jumlah sampel per tahun sebagai berikut:

Tabel 4.1
Spesifikasi sampel
Spesifikasi Sampel

Jumlah

1. Perusahaan manufaktur yang listing di BEI


tahun 2009 dan mempunyai laporan
keuangan tahunan yang lengkap dan
disampaikan dalam ICMD
2. Perusahaan yang tidak memenuhi syarat
struktur kepemilikan
3. Perusahaan yang dapat dijadikan sampel
penelitian

147

(131)
16

Total sampel penelitian tahun 2006-2009 (16x4)

68

Pengujian Hipotesis
Uji Simultan
Tabel 4.2
Uji Simultan (F test)
ANOVAb
Sum of
Model
1

Squares

df

Mean Square

Regression

36.272

5.182

Residual

65.367

60

1.089

101.638

67

Total

F
4.756

a. Predictors: (Constant), LnLiqLog, LnOwnMan, LnBdInd, OwnFamily,


LnOwnFrg, AuditQuality, LnBdSize
b. Dependent Variable: LnTobinsQ

Sumber: Output SPSS 17

Sig.
.000a

Berdasarkan tabel diatas, nilai F hitung dari model regresi adalah 4,756
dengan nilai probabilitas sebesar 0,000 yang lebih kecil dari 0,05. Hal ini berarti
bahwa model regresi dapat digunakan dalam penelitian ini dimana penggunaan
variabel ukuran dewan direksi, komisaris independen, kualitas audit, kepemilikan
saham manajerial atau managerial ownership , kepemilikan saham asing atau
foreign ownership, kepemilikan keluarga atau family ownership dan cash holdings
dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap nilai saham perusahaan
Tobins Q.

Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)


Dari hasil pengujian terhadap asumsi klasik, diperoleh model regrsei
tersebut telah memenuhi asumsi normalitas, multikolinieritas, autokorelasi, dan
heteroskedastisitas. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menguji model
persamaan regresi secara parsial terhadap masing-masing variabel independen.
Hasil pengujian model regresi secara parsial diperoleh sebagai berikut

Tabel 4.3
Model Penelitian
Coefficientsa
Standardize
Unstandardized

Collinearity

Coefficients

Coefficients

Statistics
Toleranc

Model
1

Std. Error

(Constant)

1.046

1.015

LnBdSize

.604

.527

LnBdInd

.378

AuditQuality

Beta

Sig.

VIF

1.031

.307

.174

1.145

.257

.466

2.145

.547

.075

.691

.492

.900

1.111

.809

.340

.313

2.378

.021

.619

1.616

LnOwnMan

-.221

.092

-.347

-2.392

.020

.510

1.962

LnOwnFrg

-.275

.214

-.154

-1.288

.203

.753

1.327

OwnFamily

-.804

.320

-.285

-2.509

.015

.832

1.202

LnLiqLog

-.028

.087

-.049

-.328

.744

.475

2.104

a. Dependent Variable: LnTobinsQ

Sumber: Output SPSS 17

Berdasarkan hasil tersebut maka dapat dijabarkan model persamaan


regresi sebagai berikut :
Tobins Q = 1,046 + 0,604 LnBdSize + 0,378 LnBdInd + 0,809 AuditQuality
0,221 LnOwnMan 0,275 LnOwnFrg 0,804 LnOwnFamily
0,028 LnLiqLog + e
Model persamaan tersebut menunjukkan bahwa koefisien regresi positif dimiliki
oleh variabel Board Size, Board Independence, dan Audit Quality, sedangkan

koefisien regresi negatif dimiliki oleh variabel Managerial Ownership, Foreign


Ownership, Family Ownership dan LiqLog atau Cash.
Pengujian secara parsial atau individual terhadap pengaruh masing-masing
variabel diperoleh sebagai berikut :
1.

Variabel Corporate Governance

a.

Board Size
Hipotesis 1a penelitian ini menghipotesiskan adanya pengaruh positif dari

ukuran dewan direksi terhadap Tobins Q. Namun demikian, hasil pengujian


hipotesis 1a mengenai pengaruh variabel ukuran dewan direksi atau board size
terhadap Tobins Q menunjukkan nilai t hitung sebesar 1,145 dengan signifikansi
sebesar 0,257 (p > 0,05). Dengan demikian Hipotesis 1a ditolak.
b.

Komisaris Independen
Hipotesis 1b penelitian ini menghipotesiskan adanya pengaruh positif dari

komisaris independen terhadap kinerja perusahaan. Namun demikian, hasil


pengujian hipotesis 1b mengenai pengaruh variabel komisaris independen
terhadap Tobins Q menunjukkan nilai t hitung sebesar 0,691 dengan signifikansi
sebesar 0,492 (p > 0,05). Hal ini berarti bahwa komisaris independen tidak
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kinerja perusahaan. Dengan
demikian Hipotesis 1b ditolak. Dengan kata lain diperoleh bahwa keberadaan
komisaris independen yang lebih besar tidak menunjang akan diperolehnya
kinerja perusahaan yang lebih besar.
c.

Kualitas Audit
Hipotesis 1c penelitian ini menghipotesiskan adanya pengaruh positif dari

kualitas audit terhadap kinerja perusahaan. Pengujian hipotesis 1c mengenai


pengaruh variabel kualitas audit terhadap kinerja perusahaan menunjukkan nilai t
hitung sebesar 2,378 dengan signifikansi sebesar 0,021 (p < 0,05). Hal ini berarti
bahwa kualitas audit memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap Tobins Q.
Dengan demikian Hipotesis 1c yang menyebutkan kualitas audit berpengaruh
positif terhadap nilai perusahaan dapat diterima.

2. Variabel Struktur Kepemilikan


a.

Kepemilikan Manajerial
Hipotesis 2a penelitian ini menghipotesiskan adanya pengaruh positif dari

kepemilikan manajerial terhadap Tobins Q. Namun demikian hasil pengujian


hipotesis 2a mengenai pengaruh variabel kepemilikan saham manajerial terhadap
Tobins Q menunjukkan nilai t hitung sebesar -2,392 dengan signifikansi sebesar
0,020 (p < 0,05). Meskipun memiliki pengaruh yang signifikan namun arah
pengaruh yang dihasilkan adalah negatif. Hal ini berarti bahwa kepemilikan
saham manajerial memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Tobins Q dengan
arah negatif. Dengan demikian Hipotesis 2a ditolak.
b.

Variabel Kepemilikan Asing


Hipotesis 2b penelitian ini menghipotesiskan adanya pengaruh positif dari

kepemilikan asing terhadap Tobins Q. Namun demikian hasil pengujian hipotesis


2c mengenai pengaruh variabel kepemilikan saham asing terhadap kinerja
perusahaan Tobins Q menunjukkan nilai t hitung sebesar -1,288 dengan
signifikansi sebesar 0,203 (p > 0,05). Hal ini berarti bahwa kepemilikan saham
asing

memiliki pengaruh negatif

yang tidak signifikan terhadap kinerja

perusahaan. Dengan demikian Hipotesis 2b ditolak.


c.

Kepemilikan Keluarga
Hipotesis 2c penelitian ini menghipotesiskan adanya pengaruh positif dari

kepemilikan keluarga terhadap Tobins Q. Namun demikian hasil pengujian


hipotesis mengenai pengaruh variabel kepemilikan saham manajerial terhadap
Tobins Q menunjukkan nilai t hitung sebesar -2,509 dengan signifikansi sebesar
0,015 (p < 0,05). Meskipun memiliki pengaruh yang signifikan namun arah
penelitian yang dihasilkan adalah negatif. Hal ini berarti bahwa kepemilikan
saham keluarga memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Tobins Q dengan
arah negatif. Dengan demikian Hipotesis 2c ditolak.
3.

Variabel Cash Holdings


Hipotesis 3 penelitian ini menghipotesiskan adanya pengaruh negatif dari

cash holdings terhadap Tobins Q. Namun demikian hasil pengujian hipotesis


mengenai pengaruh variabel cash holdings terhadap Tobins Q menunjukkan nilai t

hitung sebesar -0,328 dengan signifikansi sebesar 0,744 (p > 0,05). Hal ini berarti
bahwa variabel cash holdings memiliki pengaruh yang tidak signifikan terhadap
Tobins Q dengan arah negatif. Dengan demikian Hipotesis 3 ditolak.
Koefisien determinasi (R2)
Dalam penelitian ini analisis koefisien determinasi dilakukan dengan
tujuan untuk mengukur seberapa jauh kemampuan model dalam menerangkan
variasi variabel independen. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu
Tobins Q.
Tabel 4.4
Koefisien Determinasi
Model Summaryb

Model

.597a

Adjusted R

Std. Error of

Durbin-

Square

the Estimate

Watson

R Square
.357

.282

1.04376

2.121

a. Predictors: (Constant), LnLiqLog, LnOwnMan, LnBdInd, OwnFamily,


LnOwnFrg, AuditQuality, LnBdSize
b. Dependent Variable: LnTobinsQ
Sumber: Output SPSS 17

Berdasarkan tabel di atas, nilai koefisien determinasi (Adjusted R Square)


adalah 0,282. Hal ini berarti kemampuan variabel independen yaitu mekanisme
corporate governance dalam menerangkan kinerja saham perusahaan adalah
sebesar 28,2 %. Sedangkan sisanya yaitu 71,8 % dijelaskan oleh faktor-faktor lain
selain variabel independen tersebut.

Pembahasan
Pengaruh Corporate Governance terhadap Nilai Perusahaan
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa mekanisme corporate
governance, struktur kepemilkan, dan cash holdings memiliki pengaruh terhadap
nilai perusahaan. Hasil ini menjelaskan bahwa penerapan mekanisme corporate
governance, struktur kepemilikan, dan cash holdings pada perusahaan manufaktur
yang melakukan perdagangan sahamnya di BEI dapat mempengaruhi nilai saham
perusahaan di pasar modal.

Pengaruh Ukuran Dewan Direksi terhadap Nilai Perusahaan


Hasil pengujian pengaruh ukuran dewan direksi diperoleh tidak adanya
pengaruh yang signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa
semakin banyak jumlah dewan direksi yang ada di dalam perusahaan tidak secara
langsung memberikan perubahan kondisi yang lebih baik dalam kinerja
perusahaan dan dengan begitu tidak secara langsung pula akan ikut meningkatkan
nilai perusahaan.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian Suranta dan Machfoedz (2003)
yang menyatakan adanya hubungan positif antara ukuran dewan direksi dengan
nilai perusahaan dimana ukuran dewan direksi dikatakan dapat menjadi subtitut
dari kepemilikan manajerial dan terlibat secara langsung di dalam mengatur dan
melakukan fungsi kontrol di dalam perusahaan.

Pengaruh Proporsi Dewan Komisaris Independen terhadap Nilai Perusahaan


Hasil pengujian pengaruh proporsi komisaris independen diperoleh tidak
berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa
keberadaan komisaris independen yang lebih banyak dalam jajaran komisaris
independen tidak secara langsung memberikan kondisi yang lebih baik dari saham
perusahaan.
Menurut teori keagenan, semakin besar jumlah komisaris independen pada
dewan komisaris, maka semakin baik mereka bisa memenuhi peran mereka di
dalam mengawasi dan mengontrol tindakan-tindakan para direktur eksekutif

(Jensen dan Meckling, 1976). Secara praktis karena di luar manajemen, komisaris
independen akan memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengontrol dan
menghadapi eksekutif.
Dengan demikian, dengan tidak diperolehnya hasil pengaruh positif
signifikan dari pengujian pengaruh proporsi dewan komisaris independen
terhadap nilai perusahaan mengimplikasikan bahwa keberadaan komisaris
independen dalam jajaran keanggotaan dewan komisaris kurang dapat mengontrol
perilaku manajemen dalam pengambilan keputusan yang tidak akan merugikan
pemegang saham. Dengan demikian keberadaan komisaris independen kurang
dapat memperkecil masalah asimetri infornasi yang terjadi dalam perusahaan.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian Rachmawati dan Triatmoko
(2007) yang menemukan bahwa variabel proporsi komisaris independen tidak
berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Rachmawati dan Triatmoko (2007)
menyatakan bahwa keberadaan komposisi komisaris independen yang tinggi
bukan merupakan jaminan bahwa kinerja perusahaan akan semakin baik, sehingga
pasar menganggap keberadaan komposisi komisaris independen bukan merupakan
faktor yang dipertimbangkan investor dalam mengapresiasi nilai perusahaan. Ada
kemungkinan dibentuknya dewan komisaris hanya untuk pemenuhan regulasi saja
sehingga dalam pelaksanaan tugas pengawasan kurang efektif dan bukan
merupakan jaminan bahwa kinerja perusahaan akan semakin baik.

Pengaruh Kualitas Audit terhadap Nilai Perusahaan


Hasil pengujian pengaruh kualitas audit mendukung hipotesis penelitian
yang berarti bahwa KAP big 4 yang mengaudit perusahaan maka memberikan
nilai saham perusahaan yang semakin besar. Hasil ini menjelaskan bahwa auditor
yang berkualitas nampaknya mampu mengubah penilaian investor terhadap
laporan keuangan yang disajikan oleh manajemen.
Hasil ini juga menjelaskan bahwa perusahaan yang diaudit oleh KAP big 4
dapat memberikan kepercayaan yang lebih besar kepada investor. Hal ini
dikarenakan bahwa anggapan bahwa KAP big 4 cenderung lebih profesional dan
memiliki SDM yang lebih akuntabel sehingga informasi yang diberikan dinilai

lebih dapat dipercaya, sehingga kepercayaan terhadap saham perusahaan akan


lebih tinggi.
Investor nampaknya berasumsi bahwa perusahaan yang diaudit oleh KAP
big 4 akan melaporkan laporan keuangan yang lebih berkualitas sehingga
kepercayaan investor terhadap laporan keuangan semakin besar. Hasil penelitian
ini mendukung penelitian Herawaty (2006) serta Rachmawati dan Triatmoko
(2007) yang manyebutkan adanya hubungan positif signifikan antara kualitas
audit dan

nilai perusahaan. Herawaty menyatakan bahwa mekanisme fungsi

pengawasan dan kontrak yang bertujuan untuk mengatasi terjadinya konflik


kepentingan antara agen dan prinsipal melalui audit atas laporan keuangan agar
tingkat kepercayaan pihak eksternal perusahaan terhadap pertanggungjawaban
semakin tinggi dapat dilakukan melalui penggunaan jasa pihak ketiga (auditor)
yang berasal dari KAP yang berkualitas.

Pengaruh Struktur Kepemilikan terhadap Nilai Perusahaan


Pengaruh Kepemilikan Manajerial terhadap Nilai Perusahaan
Hasil pengujian pengaruh kepemilikan manajerial mendukung hipotesis
penelitian yang berarti bahwa semakin besar kepemilikan saham oleh manajerial
maka memberikan perubahan kinerja saham perusahaan. Hasil pengujian terhadap
kepemilikan saham oleh manajer dalam penelitian ini jusru menunjukkan
berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja. Hasil ini menjelaskan bahwa
kebeadaan manajerial sebagai pemegang saham justru memberikan reaksi negatif
investor.
Namun demikian hasil penelitian ini justru memberikan hasil yang
berlawanan. Hal ini nampaknya juga masih terkait dengan perspektif teori
keagenan, dimana agen (manajer) yang risk adverse dan yang cenderung
mementingkan dirinya sendiri akan mengalokasikan resources (berinvestasi) yang
tidak meningkatkan kinerja saham perusahaan (Siallagan dan Machfoedz, 2006).
Peran ganda manajerial pemilik perusahaan dan pengelola perusahaan
nampaknya justru memberikan keleluasaan yang lebih besar pada manajer untuk
melakukan beberapa hal yang kurang menguntungkan investor eksternal. Hal ini

terjadi karena manajer pengelola perusahaan dan pemilik perusahaan dinilai


kurang mewakili keinginan pemegang saham non manajerial, sehingga kinerja
perusahaan yang diukur dengan kinerja saham masih kurang.
Hasil penelitian ini juga mendukung penelitian yang dilakukan oleh
Herawaty (2006) serta Suranta dan Machfoedz (2003) , yang menyebutkan terjadi
pengaruh negatif

dan signifikan antara kepemilikan manajerial dan nilai

perusahaan. Dalam penelitian Herawaty (2006) disebutkan alasan terjadinya


pengaruh negatif signifikan dari kepemilikan manajerial terhadap nilai perusahaan
adalah dikarenakan belum banyak manajemen perusahaan di Indonesia
(khususnya dalam sampel penelitian) memiliki saham perusahaan yang
dikelolannya dengan jumlah yang signifikan. Begitu juga dengan Isshaq, dkk
(2009) yang menyatakan bahwa secara tidak langsung investor akan mengabaikan
saham di perusahaan dengan kepemilikan insiders.

Pengaruh Kepemilikan Asing terhadap Nilai Perusahaan


Hasil pengujian terhadap kepemilikan saham asing dalam penelitian ini
justru menunjukkan berpengaruh negatif signifikan terhadap kinerja. Hasil ini
menjelaskan bahwa keberadaan asing sebagai pemegang saham justru
memberikan reaksi negatif investor.
Namun demikian hasil penelitian ini memberikan prediksi yang
berlawanan, dimana perusahaan yang memiliki kepemilikan saham oleh asing
justru memiliki kinerja saham yang lebih rendah. Hal ini memberikan kesan
bahwa kualitas kepemilikan saham asing dalam suatu perusahaan justru dapat
memberikan dilema bagi beberapa perusahaan. Dalam hal ini investor asing
nampaknya justru tidak mampu membawa perusahaan-perusahaan pada kondisi
yang lebih baik. Tidak adanya pengaruh yang besar dari kepemilikan asing
terhadap nilai saham perusahaan nampaknya dapat ditarik dari banyaknya investor
asing yang justru berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang kurang besar.
Selain itu nampak bahwa keberadaan investor asing di pasar modal kadang dinilai
mengkhawatirkan ada kekhawatiran jika investor asing akan menarik dana mereka
dengan mudah.

Pengaruh Kepemilikan Keluarga terhadap Nilai Perusahaan


Hasil pengujian pengaruh kepemilikan keluarga justru menunjukkan
pengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai perusahaan. Hal ini menunjukkan
bahwa adanya kepemilikan saham yang dikuasai oleh pihak keluarga akan
memberikan reaksi negatif dari para investor. Hal ini dikarenakan keterlibatan
keluarga dalam perusahaan cenderung akan menggantikan fungsi kontrol dari
dewan dan pemegang saham lainnya.
Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian dari Giovannini (2009)
yang menyebutkan bahwa kinerja saham pada perusahaan yang mempunyai
kepemilikan keluarga mutunya akan menjadi lebih rendah. Hal tersebut
dikarenakan hanya dengan adanya keterlibatan keluarga di dalam perusahaan,
maka mereka akan mempunyai power (kekuatan) lebih di dalam perusahaan
tersebut. Dalam penelitian tersebut disebutkan bahwa semakin sedikit keterlibatan
keluarga di dalam perusahaan, baik pemegang saham maupun keterlibatan
lainnya, maka dewan akan semakin banyak terdiri dari kalangan outsiders. Begitu
juga dengan Shleifer dan Vishny (1997) yang menyatakan bahwa perusahaan
keluarga cenderung menempatkan anggota keluarga dalam posisi manajerial
sehingga menghalangi orang-orang yang lebih berpotensi dan mempunyai
kemampuan untuk masuk ke dalam posisi tersebut. Penelitian ini juga mendukung
penelitian Amit dan Villalonga (2004) yang menemukan hubungan negatif antara
kepemilikan keluarga dengan nilai perusahaan.

Pengaruh Cash Holdings terhadap Nilai Perusahaan


Berdasarkan hasil perhitungan statistik dapat disimpulkan bahwa
pengujian hipotesis mengenai pengaruh variabel cash holdings terhadap nilai
perusahaan menunjukkan pengaruh negatif namun tidak signifikan. Hal ini berarti
semakin sedikit kepemilikan kas di dalam perusahaan secara tidak langsung akan
meningkatkan nilai perusahaan.
Hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Isshaq, dkk
(2009) yang menyatakan bahwa semakin banyak tambahan kas yang dimiliki

perusahaan akan semakin meningkatkan potensi penyalahgunaan kas yang


dilakukan oleh manajemen. Wai-Lee dan Faw-Lee (2006) dalam penelitiannya
menemukan nilai perusahaan akan dikurangi oleh para investor dikarenakan
mereka mempertimbangkan bahwa perusahaan dengan jumlah kas yang banyak
atau berlebih, manajemennya akan cenderung lebih leluasa untuk menghamburkan
sumber daya perusahaan pada proyek-proyek yang bersifat merusak nilai. Hal
tersebut akan lebih didukung dengan proporsi direksi eksternal yang rendah dan
ukuran dewan yang lebih besar. Hal tersebut juga didukung oleh penelitian
Harford (2006) investasi dari kas yang dilakukan oleh manajemen yang lemah
akan mengurangi profitabilitas perusahaan sehingga akan berpengaruh pada harga
saham perusahaan.

V. PENUTUP

Kesimpulan
1. Hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa ukuran dewan direksi
berpengaruh positif terhadap Tobins Q ditolak.. Hasil penelitian ini
mendapatkan bahwa ukuran dewan direksi diperoleh tidak berpengaruh
signifikan terhadap kinerja perusahaan. Jumlah dewan direksi perusahaan
diperoleh tidak dapat mempengaruhi nilai saham perusahaan.
2. Hipotesis penelitiaan yang menyatakan bahwa proporsi komisaris independen
berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan ditolak. Hasil penelitian ini
mendapatkan bahwa proporsi komisaris independen diperoleh tidak
berpengaruh signifikan terhadap kinerja perusahaan. Proporsi komisaris
independen dalam jajaran dewan komisaris perusahaan diperoleh tidak dapat
mempengaruhi nilai saham perusahaan.
3. Hipotesis penelitiaan yang menyatakan bahwa kualitas audit berpengaruh
positif terhadap kinerja perushaan diterima. Kualitas audit diperoleh
berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan. Perusahaan yang diaudit
oleh KAP big 4 memiliki nilai saham perusahaan yang lebih tinggi.

4. Hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa struktur


manajerial

berpengaruh

positif

terhadap

nilai

kepemilikan

perusahaan

ditolak.

Kepemilikan saham manajerial dalam penelitian ini diperoleh berpengaruh


negatif dan signifikan terhadap kinerja perusahaan. Perusahaan dengan
kepemilikan saham manajerial yang lebih besar cenderung memiliki nilai
perusahaan yang lebih rendah.
5. Hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa struktur kepemilikan asing
berpengaruh positif terhadap nilai perushaan ditolak. Kepemilikan asing
dalam penelitian ini diperoleh tidak berpengaruh signifikan terhadap nilai
perusahaan. Perusahaan dengan kepemilikan saham asing yang lebih besar
tidak memiliki nilai saham perusahaan yang lebih baik.
6. Hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa struktur kepemilikan keluarga
berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan ditolak. Jumlah kepemilikan
saham keluarga dalam penelitian ini diperoleh berpengaruh negatif dan
signifikan terhadap kinerja perusahaan. Perusahaan dengan kepemilikan
saham keluarga yang lebih besar cenderung memiliki kinerja saham
perusahaan yang lebih kecil.
7. Hipotesis penelitian yang menyatakan bahwa cash holdings berpengaruh
negatif terhadap nilai perusahaan ditolak. Cash holdings dalam penelitian ini
ditemukan tidak

berpengaruh signifikan terhadap nilai perusahaan.

Perusahaan yang memiliki kas yang lebih kecil tidak memiliki nilai
perusahaan yang lebih baik.
8. Hasil pengujian hipotesis secara simultan (Uji F), memperlihatkan nilai F
sebesar 3,559 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,001 maka model regresi
dapat digunakan untuk memprediksi nilai perusahaan atau dapat dikatakan
bahwa variabel ukuran dewan direksi (board size), proporsi dewan komisaris
independen

(board

independence),

kualitas

auditor

(audit

quality),

kepemilikan manajerial (managerial ownership), kepemilikan asing (foreign


ownership), kepemilikan keluarga (family ownership), dan cash holdings
mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan.

9. Hasil uji koefisien determinasi, besarnya nilai adjusted R2 diperoleh sebesar


0,282. Hal ini berarti bahwa hanya 28,2% variasi variabel dependen yaitu
Tobins Q (nilai perusahaan) dapat dijelaskan oleh variasi kesembilan variabel
independen yaitu ukuran dewan direksi (board size), proporsi dewan
komisaris independen (board independence), kualitas auditor (audit quality),
kepemilikan manajerial (managerial ownership), kepemilikan asing (foreign
ownership), kepemilikan keluarga (family ownership), dan cash holdings
sedangkan sisanya sebesar 71,8% dipengaruhi oleh faktor lainnya yang tidak
dimasukkan dalam model regresi.

Keterbatasan
Berikut ini beberapa keterbatasan penelitian yang nantinya dapat dijadikan
pertimbangan dalam melakukan penelitian selanjutntya:
1.

Variabel independen dalam penelitian ini hanya mampu menjelaskan sebesar


28,2% atas variabel dependen yaitu nilai perusahaan.

2.

Penelitian ini menggunakan tahun pengamatan dari tahun 2006-2009, dan


hanya terbatas pada perusahaan manufaktur saja. Hal itu dikarenakan jumlah
perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia yang
memenuhi nilai variabel kepemilikan manajerial, asing, dan keluarga untuk
dijadikan sampel jumlahnya sedikit yaitu hanya sebanyak 68 perusahaan.

3.

Dalam rentang waktu penelitian yaitu pada tahun 2006-2009 terjadi krisis
keuangan yaitu pada tahun 2008.

Saran
Dengan mempertimbangkan hasil analisis, kesimpulan dan keterbatasan
yang telah dikemukakan di atas, maka penelitian ini memberikan saran untuk
penelitian berikutnya :
1. Dengan diperolehnya pengaruh negatif kepemilikan manajerial terhadap
kinerja perusahaan, maka hal ini menunjukkan masih adanya kondisi yang
memperbesar masalah keagenan akibat adanya kepemilikan saham manajerial.

Untuk itu nampaknya evaluasi terhadap manajer yang memiliki saham harus
dilakukan secara rutin olen investor outsiders.
2. Dengan diperolehnya pengaruh negatif kepemilikan saham asing terhadap
kinerja perusahaan, maka hal ini memberikan peringatan kepada BAPPEPAM
maupun BEI untuk memperhatikan dana asing yang masuk yang hanya berupa
investasi jangka pendek yang terkadang justru membahayakan perusahaan
khususnya jika terjadi krisis di negara asal investor asing tersebut.
3. Koefisien determinasi dalam penelitian ini diketahui menunjukkan nilai hanya
sebesar 28,2% oleh karena itu penelitian yang akan datang diharapkan dapat
menambah variabel-variabel pengukur lainnya.

DAFTAR PUSTAKA
Villalonga, Belen dan Raphael Amit. 2004. How Do Family Ownership, Control,
and Management Affect Firm Value?. www.ssrn.com
Barontini, Roberto dan Lorenzo Caprio. 2005. The Effect of Family Control on
Firm Value and Performance Evidence from Continental Europe.
Finance Working Paper, No.88/2005. www.ssrn.com
Bokpin, Godfred A. dan Zangina Isshaq. 2009. Corporate Governance,
Disclosure and Foreign Share Ownership on the Ghana Stock Exchange.
Managerial Auditing Journal, Vol. 24, No. 7, pp. 688-703.
www.emeraldinsight.com/0286-6902.htm
Brigham, Eugene F. dan Joel F, Houston. 2001. Fundamentals of Financial
Management. 9 ed. Orlando, Florida: Harcourt Inc.
Djalil,

Sofyan.
2000.
Good
Corporate
Governance.
http://www.linkpdf.com/download/2-dl/bab-i-buku-good-corporategovernance-.pdf, diakses 6 Januari 2011

Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI). 2002. Peranan Dewan


Komisaris dan Komite Audit dalam Pelaksanaan Corporate Governance
(Tata Kelola Perusahaan). Seri Tata Kelola Perusahaan (Corporate
Governance) Jilid II. www.google.com

Ghozali, Imam. 2005. Analisis Multivariate dengan Program SPSS. ed. 1.


Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro
Giovannini, Renato. 2009. Corporate Governance, Family Ownership and
Performance. Springer Science and Business Media, LCC
Harford, Jarrad., Sattar A. Mansi, dan William F. Maxwell. 2006. Corporate
Governance and Firm Cash Holdings. www.ssrn.com
Hastuti, Theresia Dwi. 2005. Hubungan antara Good Corporate Governance dan
Struktur Kepemilikan dengan Kinerja Keuangan. Simposium Nasional
Akuntansi VIII, Solo
Herawaty, Vinola. 2008. Peran Praktek Corporate Governance sebagai
Moderating Variable dari Pengaruh Earnings Management terhadap Nilai
Perusahaan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, Vol. 10, No. 2, pp. 97-108
Isshaq, Zangina., Godfred A. Bopkin, dan Joseph Mensah Omunah. 2009.
Corporate Governance, Ownership Structure, Cash Holdings, and Firm
Value on the Ghana Stock Exchange. The Journal of Risk Finance, Vol.
10 No. 5,pp. 488-499. www.emeraldinsight.com/1526-5943.htm
Jensen, Michael C. dan William H. Meckling. 1976. Theory of the Firm:
Managerial Behavior, Agency Costs and Ownership Structure. Journal
of Financial Economics, Vol. 3, No. 4, pp. 305-360. www.ssrn.com
Nugraha, Wawan Setya. 2009. Analisis Pengaruh Mekanisme Corporate
Governance dan Penggunaan Variabel Pengurang Masalah Agensi
terhadap Nilai Perusahaan (Studi pada Perusahaan Manufaktur yang
Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2005-2007). Skripsi Tidak
Dipublikasikan, Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro
Nuraeni, Dini. 2010. Pengaruh Struktur Kepemilikan Saham terhadap Kinerja
Perusahaan (Studi Kasus pada Perusahaan Manufaktur yang Listing di
Bursa Efek Indonesia).
Skripsi Tidak Dipublikasikan, Fakultas
Ekonomi, Universitas Diponegoro
Rosdini, Dini. 2009. Pengaruh Free Cash Flow terhadap Dividend Payout Ratio".
Working Paper In Accounting and Finance. www.wp-acc.com

Shleifer, Andrei dan Robert W. Vishny. 1997. A survey of corporate


governance. Journal of Finance, 52(2), 737777. www.ssrn.com
Siallagan, Hamonangan dan Masud Machfoedz. 2006. Mekanisme Corporate
Governance, Kualitas Laba dan Nilai Perusahaan. Simposium Nasional
Akuntansi IX, Padang
Siregar, Sylvia Veronica N. P. dan Siddharta Utama. 2005. Pengaruh Struktur
Kepemilikan, Ukuran Perusahaan, dan Praktek Corporate Governance
terhadap Pengelolaan Laba (Earnings Management). Simposium
Nasional Akuntansi VIII, Solo
Suranta, Eddy dan Masud Machfoedz. 2003. Analisis Struktur Kepemilikan,
Nilai Perusahaan, Investasi dan Ukuran Dewan Direksi. Simposium
Nasional Akuntansi VI, Surabaya
Susanti, Rika. 2010. Analisis Faktor-faktor yang Berpengaruh terhadap Nilai
Perusahaan (Studi Kasus pada Perusahaan Go Public yang Listed Tahun
2005-2008). Skripsi Tidak Dipublikasikan, Fakultas Ekonomi,
Universitas Diponegoro
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman
Modal. 2007
Weygandt, Jerry J., Donald E. Kieso, Paul D. Kimmel. 2007. Accounting
Principles (Pengantar Akuntansi). ed. 7. Jakarta: Salemba Empat