Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam setiap pembahasan mengenai permintaan uang menurut klasik , menghitung
permintaan uang, permintaan uang menurut Keynes, perhitung permintaan uang untuk
transaksi, berjaga jaga dan spekulasi, teori kuantitas modern, Teori Keynes Modern Dengan
Pendekatan Inventory dan Keseimbangan Portofolio perlu diperjelas mengenai definisi uang.
Hal ini mengingat adanya banyak definisi mengenai uang. Dalam hal ini, uang didefinisikan
sebagai alat tukar (medium of exchange), yaitu suatu barang atau kekayaan riil yang secara
umum dapat diperima sebagai pembayaran. Uang juga dipergunakan sebagai penyimpan nilai
dan sebagai alat pengukur, atau secara ringkasnya biasa dinyatakan dalam satuan uang.
Teori permintaan uang menurut klasik merupakan teori yang menitikberatkan uang
hanya sebagai alat transaksi. Teori kuantitas David Ricardo adalah teori kuantitas sederhana.
David Ricardo mengatakan bahwa nilai tergantung dari jumlah uang yang beredar di
masyarakat.Artinya makin banyak jumlah uang yang beredar maka akan semakin tingga
harga barang, dan sebaliknya. Teori Irving Fisher adalah nilai uang sangat dipengaruhi oleh
jumlah uang yang beredar, kecepatan peredaran uang dan jumlah barang yang
diperdagangkan. Teori Kuantitas Alfred Marshall melihat hubungan antara jumlah uang dan
pendapatan nasional. Permintaan uang menurut keynes adalah jumlah uang yang diminta
masyarakat untuk keperluan transaksi, berjaga-jaga dan untuk spekulasi dalam sebuah
perekonomian. perhitung permintaan uang untuk transaksi Merupakan motif memegang uang
untuk melakukan transaksi dalam memenuhi kebutuhan hidupnya,hal ini dilakukan setiap
hari oleh setiap individu. perhitung permintaan uang untuk berjaga jaga Merupakan motif
yang akan digunakan untuk menghadapi ketidakpastian masa yang akan datang,motif ini juga
tergantung dengan seberapa banyak uang yang dihasilkan oleh setiap individu jika semakin
besar maka uang yang digunakan untuk berjaga-juga juga relatif lebih besar. perhitung
permintaan uang untuk spekulasi Merupakan motif yang menyatakan bahwa uang merupakan
1

salah satu alternatif bentuk asset selain bentu asset lainnya,misal , kita memegang uang untuk
berjaga-jaga dan mengantisipasi jika kalau nanti nya ada surat berharga yang kita rasakan
sesuai dengan yang diharapkan, sehingga dapat memperoleh keuntungan ataupun pendapatan
dari kepimilikan surat berharga tersebut. teori kuantitas(klasik) sesudah keynes, adalah
propesor militon friedman dari universitas chicago.teori moneter keynes bisa dikatakan
pengembangan

lanjut

dari

aspek

"uncertainty"

dan

"expectations"

dari

teori

cambridge(sehingga timbul teori permintaan sfekulatif akan uang)teori kuantitas.modern dari


friedman bisa diinterpretasikan sebagai pengembangan lanjut dari aspek lain dari teori
cambridge,yaitu konsep bahwa teori permintaan akan uang hanyalah satu penerapan dari
teori umum mengenai permintaan dalam ekonomi mikro,sedang prinsip prinsip dasarnya
adalah sama yaitu "pemilihan antara berbagai alternatif oleh komsumen(atau dalam hal
permintaan akan uang, pemilik kekayaan
Jumlah uang yang diminta dalam suatu perekonomian, termasuk berbagai jenis
kekayaan moneter lain, sangat dipengaruhi oleh kondisi kelembagaan, peraturan pemerintah
dan perkembangan teknologi. Teori permintaan uang sebenarnya dapat dijelaskan dengan
menggunakan teori tentang alokasi sumber-sumber ekonomi yang sifatnya terbatas, manusia
haruslah memilih alokasi yang memberikan kepuasan sebesar-besarnya. Salah satu bentuk
kekayaan seseorang adalah uang. Semakin banyak uang yang dipegang maka semakin kaya.
Selain uang, kekayaan juga dapat diwujudkan dalam bentuk surat berharga, deposito atau
barang. Namun kebanyakan orang lebih banyak memilih kekayaan dalam bentuk uang
daripada dirupakan menjadi surat berharga atau deposito berjangka. Melalui makalah ini,
pemakalah ingin menjawab pertanyaan mengenai penyebab seseorang memilih kekayaannya
dalam bentuk kas

1.2 Rumusan Masalah


1) Bagaimana pengertian tentang teori permintaan uang menurut
pendapat Klasik?
2

2) Bagaimana cara menghitung permintaan uang menurut David Ricard , Irving


Fisher, Alfred Marshall?
3) Bagaimana pengertian tentang teori permintaan uang menurut
pendapat Keyne?
4) Apa pengertian perhitung permintaan uang untuk transaksi, berjaga jaga dan
spekulasi?
5) Bagaimana pengertian tentang teori kuantitas modern?
6) Bagaimana pengertian tentang teori Keynes Modern dengan Pendekatan
Inventory dan Keseimbangan Portofolio?
1.3 Tujuan
1. Memahami pengertian dari teori permintaan uang menurut pendapat
Klasik.
2. Memahami pengertian dari teori permintaan uang menurut David Ricard
, Irving Fisher, Alfred Marshall.
3. Memahami pengertian dari teori permintaan uang menurut pendapat
Keynes.
4. Memahami pengertian dari perhitung permintaan uang untuk transaksi, berjaga
jaga dan spekulasi.
5. Memahami pengertian dari teori kuantitas modern.
6. Memahami pengertian dari teori Keynes Modern dengan Pendekatan Inventory
dan Keseimbangan Portofolio.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. TEORI PERMINTAAN UANG KLASIK


Bertambahnya uang beredar akan mengakibatkan kenaikan harga saja. Jumlah
output yang dihasilkan tidak berubah. Inilah yang sering disebut dengan classical
dichotpmy, merupakan pemisahan sektor moneter dengan sektor riil. Sektor moneter tdak
ada hubungannya dengan sektor riil. Uang hanya merupakan suatu tudung veil saja dalam
perekonomian. (Nopirin:2013:72)
Pada awalnya teori ini tidak dimaksudkan untuk menjelaskan mengapa seseorang/
masyarakat menyimpan uang kas, tetapi lebih pada peranan daripada uang. Dengan
sederhana Irving Fisher merumuskan teori kuantitas uang sebagai berikut:
MV = PT
di mana:
M = jumlah uang yang beredar.
V = perputaran uang dari satu tangan ke tangan dalam satu periode.
P = harga barang.
T = volume barang yang di perdagangkan.
Beberapa versi teori ini adalah:
Pertama, dengan mengganti volume barang yang diperdagangkan (T) dengan output riil
(O), sehingga formula teori kuantitas menjadi:
MV = PO = Y
di mana:
Y = PO = GNP nominal.
V = tingkat perputaran pendapatan (income velocity of money).
Dengan menggunakan anggapan bahwa ekonomi selalu dalam kesempatan kerja
penuh/full employment (atas dasar hukum Say) maka besarnya T (dan dengan sendirinya O)
tetap tidak berubah. Demikian juga V relatif tetap (V hanya berubah jika terjadi perubahan
4

kelembagaan, seperti misalnya kebiasaan melakukan pembayaran serta perubahan teknologi


komunikasi). Konsekuesi dari dua anggapan ini, maka M hanyalah mempengaruhi T, dan
pengaruhnya proporsional. Artinya, jika M naik dua kali maka T juga akan naik sebesar dua
kali. (Nopirin:2013:115)
Kedua, versi yang dikemukakan oleh A. Marshall dengan formulasi sebagai berikut:
M = kPO
= kY dimana k =

1
V

Secara matematis formulasi Marshall ini sama dengan formulasi Irving Fisher,
namun implikasinya berbeda. Marshall memandang bahwa individu/masyarakat selalu
menginginkan sebagian (proporsi) tertentu dari pendapatannya (Y) diwujudkan dalam
bentuk uang kas (yang dinyatakan dengan k). Sehingga, kY merupakan keinginan
individu/masyarakat akan uang kas (Md). Dengan formulasi sebagai berikut:
Md = kPO = kY
di mana:
Md = adalah permintaan uang kas.
Dengan formulasi tersebut teori Marshall merupakan awal dari teori permintaan akan
uang. Teori ini masih sangat sederhana, terkandung di dalamnya beberapa kelemahan (yang
kemudiaan atas dasar kelemahan-kelemahan ini lalu disempurnakan oleh teori berikutnya).
(Nopirin:2013:116)
Kelemahan pertama adalah bahwa dalam kenyataannya V tidaklah tetap. Baik di
negara maju maupun vegara berkembang, V cenderung tidak konstan. (Nopirin:2013:116)
Kelemahan kedua, bahwa teori klasik mengabaikan pengaruh tingkat bunga terhadap
permintaan uang. Teori kuantitas uang menganggap bahwa permintaan akan uang kas tidak
dipengaruhi oleh tingkat bunga (sebab, motif utama memegang uang adalah untuk transaksi,
yang besarnya tergantung dari pendapatan). (Nopirin:2013:117)
5

2.2 Menghitung Permintaan Uang Menurut Ricardo , Irving Fisher dan Marshall
1.

Teori Kuantitas dari David Ricardo


Teori kuantitas David Ricardo adalah teori kuantitas sederhana. David Ricardo
mengatakan

bahwa

nilai

tergantung

dari

jumlah

uang

yang

beredar

di

masyarakat.Artinya makin banyak jumlah uang yang beredar maka akan semakin
tingga harga barang, dan sebaliknya. Jumlah uang beredar dirumuskan:
M=kXP
Ket : M= Money
P = Tingkat harga barang
k = Konstanta.
2.

Teori Kuantitas Irving Fisher


Teori Irving Fisher adalah nilai uang sangat dipengaruhi oleh jumlah uang yang
beredar, kecepatan peredaran uang dan jumlah barang yang diperdagangkan. Rumus
yang digunakan adalah:
M.V = P.T
Ket : M = Money
V = Velocity , kecepatan peredaran uang.
P = Price, tingkat harga
T = Jumlah barang yang diperdagangkan.

3.

Teori Kuantitas Alfred Marshall


Alfred Marshall melihat hubungan antara jumlah uang dan pendapatan nasional.
Tinggi rendah nilai uang bergantung pada jumlah uang yang disimpan untuk persediaan
kas. Rumus:
M = kY
Ket : M = Jumlah uang yang beredar.
Y = Pendapatan
k = koefisien yang mengatur keseimbangan antara sisi persamaan

2.3. Pengertian Permintaan Uang Menurut Keynes


Teori permintaan uang dari Keynes adalah bagian dari teori ekonomi makronya
yang dituangkan dalam bukunya General Theory yang sangat berpengaruh itu. Sebelum
6

penerbitan buku ini, Keynes telah menulis mengenai teori moneter, yaitu dalam A Trad on
Monetary Reform (1923) dan A Treatise on Money (1930). Namun teori moneter Keynes
yang ditulis dalam kedua buku yang disebut terakhir ini pada asasnya masih di dalam tradisi
Marshall-Pigou. Baru dalam bukunya General Theory lah ia mencetuskan teori moneter
yang baru dan menyimpang dari tradisi Klasik. Meskipun bisa dikatakan bahwa teori uang
Keynes adalah teori yang bersumber pada teori Cambridge, tetapi Keynes memang
mengemukakan sesuatu yang betul-betul berbeda dengan teori moneter tradisi Klasik. Pada
hakekatnya perbedaan ini terletak pada penekanan oleh Keynes pada fungsi uang yang lain,
yaitu sebagai store of value dan bukan hanya sebagai means of exchange. Teori ini
kemudian terkenal dengan nama teori Liquidity Preference.
2.4. Perhitungan Permintaan Uang untuk Transaksi, Berjaga- Jaga dan Spekulasi
1. Motif Transaksi
Merupakan motif memegang uang untuk melakukan transaksi dalam memenuhi
kebutuhan hidupnya,hal ini dilakukan setiap hari oleh setiap individu. Bila seseorang
digaji dalam harian, maka ia akan memegang uang lebih sedikit dibandingkan dengan
orang yang menerima gaji bulanan. Menurut Keynes, Orang rata-rata akan memegang
uangnya sebesar

Y/2. apabila ia menerima gaji Rp.300.000 perbulan, maka ia akan

rata-rata memegang uangnya sebesar Rp.150.000.


Rumus sebagai berikut :
Mdt = f(Y)
Dimana :
Mdt = motif transaksi
Y = Pendapatan
Jadi seberapa besar atau kecilnya orang memegang uang tergantung dari pendapatannya.
2. Motif berjaga-jaga
Merupakan motif yang akan digunakan untuk menghadapi ketidakpastian masa
yang akan datang, motif ini juga tergantung dengan seberapa banyak uang yang
dihasilkan oleh setiap individu jika semakin besar maka uang yang digunakan untuk
berjaga-juga juga relatif lebih besar.jadi motif ini juga dipengaruhi oleh pendapatan.
Rumus sebagai berikut :
M1 = Mdt+Mdp
7

M1 = f(Y)
Dimana :
Mdt = Motif transaksi
Mdp= Motif jaga-jaga
Y

= Pendapatan

3. Motif spekulasi
Merupakan motif yang menyatakan bahwa uang merupakan salah satu alternatif
bentuk asset selain bentuk asset lainnya, misalnya kita memegang uang untuk berjagajaga dan mengantisipasi jika nanti nya ada surat berharga yang kita rasakan sesuai
dengan yang diharapkan, sehingga dapat memperoleh keuntungan ataupun pendapatan
dari kepemilikan surat berharga tersebut.
Rumus sebagai berikut :
m2 = g (i)
Dimana :
m2 = permintaan uang untuk spekulasi
i = suku bunga
g = keuntungan modal
2.5. Pengertian Teori Kuantitas Modern
Teori Kuantitas Modern dari Friedman merupakan penyempurnaan dari Teori
Kuantitas Klasik. Sekaligus teori Kuantitas Modern, dalam bentuk yang telah diutarakan di
atas, merupakan perkembangan teori Klasik yang makin mendekati perumusan teori
Keynes. Teori moneter, baik dari aliran Keynes maupun aliran teori Kuantitas, ternyata
mempunyai kesamaan dasar yaitu berupa teori pemilihan pemegang aktiva atas dasar
pertimbangan untung rugi. Tetapi perbedaan-perbedaan penting antara kedua aliran tersebut
tetap ada. sampai saat ini. Hal-hal yang membedakan teoritisi aliran Kuantitas (dan Teori
Kuantitas) dari yang lain:
Teori Kuantitas pada asasnya adalah teori permintaan akan uang, bukan teori
mengenai tingkat output, bukan teori mengenai tingkat penghasilan (money income), dan
bukan pula teori mengenai penentuan tingkat harga. Kesimpulan-kesimpulan mengenai,
variabel-variabel

yang

disebutkan

terakhir

ini

hanya

bisa

didapatkan

dengan
8

menggabungkan Teori Kuantitas dengan spesifikasi/asumsi mengenai supply akan uang dan
mungkin pula mengenai variabel-variabel lain". Sekali lagi perlu dicatat bahwa dalam
memperbandingkan return dari masing-masing bentuk aktiva, orang tersebut (seperti halnya
dalam teori permintaan biasa) dianggap selalu berusaha memperoleh manfaat (return) total
yang maksimum dari kekayaan (W) yang ia punyai. Secara teoritis bisa dikatakan bahwa
orang tersebut akan mencapai return total yang maksimum bila Marginal Return dari
masing-masing aktiva yang dipegang adalah sama atau MRM = MRB = MRE = MRG = MRH.
Dalil "equimarginalprinciple" (seperti halnya dalam teori permintaan biasa) juga berlaku
untuk permintaan akan uang.
Teoritisi aliran Kuantitas menerima hipotesa empiris bahwa permintaan akan uang
adalah suatu hubungan yang stabil dan bahkan lebih stabil daripada fungsi-fungsi/hubungan
ekonomi lainnya seperti fungsi konsumsi yang merupakan hubungan yang sangat penting
dalam teori lain (Keynes). Hipotesa ini perlu dijelaskan lebih lanjut. Yang pertama adalah
suatu hubungan yang stabil tersebut tidaklah dimaksudkan oleh para teoritis Klasik Modern
untuk diartikan bahwa jumlah uang yang diminta per unit output, ataupun laju perputaran
uang (velocity of circulation of money) adalah suatu konstanta yang tidak berubah dari
waktu. Pendukung Teori Kuantitas, misalnya, tidak menganggap bahwa dalilnya tidak
berlaku bila seandainya ia menjumpai fakta bahwa laju perputaran uang naik dengan cepat
dalam masa hiperinflasi. "Stabilitas" yang ia maksudkan adalah stabilitas fungsional antara
jumlah uang yang diminta masyarakat dengan variabel-variabel penentunya; dan kenaikan
laju perputaran uang yang cepat dalam masa hiperinflasi tidak bertentangan dengan konsepsi
stabilitas fungsional ini.
Pengganti Teori Kuantitas bukan hanya menganggap bahwa fungsi permintaan akan
uang adalah stabil, tetapi juga beranggapan bahwa fungsi ini memegang peranan yang vital
dalam menentukan variabel-variabel yang ia anggap sangat penting dalam analisa gerak
perekonomian secara umum, misalnya tingkat penghasilan nasional atau tingkat harga-harga
umum. Karena inilah ia memberikan arti yang lebih penting pada permintaan akan uang
daripada permintaan akan, misalnya, kancing baju, meskipun mungkin permintaan akan
kancing baju ini sama stabilnya dengan permintaan akan uang.

Mungkin tidak ada suatu hubungan empiris lain dalam ilmu ekonomi yang begitu
mantap daripada hubungan antara perubahan yang besar dari jumlah uang yang beredar
dengan perubahan tingkat harga, yang satu selalu dihubungkan dengan yang lain dan selalu
dalam arah perubahan yang sama. Kemantapan (dari hubungan ini) tidaklah ter-batas dalam
arah perubahan saja. Kita bisa mencatat stabilitas dan regularitas yang mantap dari besarbesaran ekonomi seperti income velocity of money. Sayangnya justru adanya kestabilan dan
regularitas empiris yang sangat mantap inilah yang menyebabkan jatuhnya Teori Kuantitas
(yang lama), sebab hal itu memberi kecenderungan bagi para teoritisi Kuantitas (yang lama)
untuk merumuskan teori kuantitas dalam bentuk yang terlalu sederhana; seringkali laju
perputaran uang (velocity) yang merupakan konsep dasar dalam Teori Kuantitas
dianggap sebagai suatu konstante alamiah yang tidak akan be-rubah dari waktu ke waktu.
Jelas ini konsepsi yang salah. Yang benar adalah bahwa "velocity" tersebut mempunyai
stabilitas fungsional. Demikian pernyataan Friedman.
Apakah kontribusi Friedman dalam pengembangan teori moneter? Untuk ini
mungkin evaluasi dari ahli ekonomi moneter Profesor Harry Johnson dalam artikel
surveynya perlu kita sitir.
"Penerapan prinsip dasar dari teori kapital, yaitu bahwa pendapatan adalah
penghasilan yang bersumber dari pemilikan kekayaan, dan sebaliknya kekayaan tidak lain
adalah nilai sekarang (present value) dari aliran pendapatan di masa depan pada teori
moneter oleh Friedman, bisa dikatakan sebagai satu perkembangan yang terpenting dalam
teori moneter sejak keluarnya General Theory dari Keynes. Arti penting teoritis dari teori
Friedman. terletak pada untuk melakukan integrasi konsepsional antara "kekayaan" (wealth)
dan "pendapatan" (income) sebagai variabel yang mempengaruhi perilaku pemilik kekayaan
Keynes mengabaikan pengaruh dari kekayaan karena analisanya adalah untuk jangka
pendek (sehingga faktor kekayaan bisa dianggap konstan); para penganut aliran Keynes
kemudian juga memasukkan faktor kekayaan ini ke dalam perumusan teori mereka, tetapi
pada umumnya mereka ini masih mengikuti tradisi Cambridge yang menganggap bahwa
yang termasuk dalam "kekayaan" adalah hanya aktiva-aktiva non-manusiawi, sehingga
variabel "kekayaan" dan "pendapatan" diperlakukan seakan-akan dua variabel yang
independen satu sama lain. Akibatnya banyak dari literatur mengenai teori moneter
10

belakangan ini berisi perumusan-perumusan fungsi permintaan akan uang yang


menghubungkannya dengan variabel-variabel pendapatan, kekayaan, tingkat bunga, yang
sebetulnya saja adalah variabel-variabel yang saling tergantung satu sama lain (interdependent), sehingga menyebabkan kekeliruan-kekeliruan baik dalam analisa teoritis maupun
penerapan empirisnya.
Pengertian kekayaan dari Friedman mempunyai ciri khas, yaitu bahwa yang
dimasukkan dalam definisi kekayaan tidak hanya aktiva-aktiva yang berbentuk uang atau
bisa diubah (dijual) menjadi uang, tetapi juga nilai (tepatnya,nilai sekarang atau present
value) dari aliran aliran penghasilan di tahun-tahun mendatang dari tenega kerjanya.
Friedman berpendapat bahwa kekayaan tidak lain adalah nilai sekarang dari aliran-aliran
penghasilan yang diharapkan dari aktiva - aktiva yang dipegang. Konsep kekayaan dari
Friedman ini merupakan suatu inovasi dalam teori ekonomi mengenai capital, dan sekaligus
merupakan jembatan antara teori permintaan biasa (untuk barang dan jasa) dengan teori
capital.
Pengertian yang kedua adalah konsep manfaat. Manfaat dari setiap bentuk aktiva
merupakan faktor pertimbangan dari pemilik kekayaan untuk memutuskan berapa jumlah
dari masing-masing bentuk aktiva yang akan ia pegang. Marginal Rate of Substitution dari
suatu aktiva terhadap aktiva-aktiva lain menurun dengan makin besarnya jumlah aktiva
tersebut yang dipegang. Ini berarti bahwa bila seseorang memegang terlalu banyak satu
bentuk aktiva, misalnya uang maka manfaat marginal dari uang akan menjadi lebih kecil
dari pada marginal returns dari aktiva-aktiva yang lain. Ini berarti bahwa ia bila ia
mengurangi jumlah uang yang ia pegang dan menggantinya dengan aktiva-aktiva lain
berupa obligasi, surat-surat berharga lainnya ataupun aktiva fisik seperti mobil, rumah,
mesin dan sebagainya, maka orang tersebut akan memperoleh manfaat total yang lebih
besar.
Jadi, menurut pandangan Friedman permintaan uang ditentukan oleh faktor seperti
berikut : tingkat harga, suku bunga obligasi, suku bunga equities, modal fisik dan
kekayaan mengenai peranan harga dalam menentukan permintaan uang, Friedman
berpendapat dikarenakan memegang uang adalah salah satu cara untuk menyimpan
kekayaan. Cara-cara yang lain adalah menyimpan uang dalam bentuk harta keuangan
(financial asset) seperti obligasi, deposito dan saham, menyimpan dalam bentuk harta tetap
11

(tanah dan rumah) dan kekayaan manusiawi (Boediono, 2005 : 63). Berdasarkan faktorfaktor yang mempengaruhi permintaan uang seperti diatas, teori permintaan yang didasarkan
pada teori kuantitas modern yang dikembangkan oleh Friedman dapat dinyatakan dalam
persamaan berikut :
Md = f (P, r, rFC, Y)
Dimana Md adalah permintaan uang nominal, P adalah tingkat harga, r adalah
tingkat suku bunga, rFC adalah tingkat pengembalian modal fisik dan Y adalah pendapatan
dan kekayaan. Apabila dipertimbangkan pula pandangan Friedman mengenai permintaan
uang riil, maka persamaan permintaan uang dinyatakan :
Md/P = f (P, r, Y*)
Dimana Md/P adalah permintaan uang riil, P adalah tingkat kenaikan harga, r
adalah tingkat bunga dan Y* adalah nilai pendapatan dan kekayaan riil.
2.6. Pengertian Teori Keynes Modern Dengan Pendekatan Inventory dan Keseimbangan
Portofolio
Perkembangan selanjutnya dari teori keynes didasarkan pada motif transaksi (W.J
Boumol 1952) dan motif spekulasi (James Tobin).
a. Pendekatan Inventori/penyediaaan Boumol : Permintaan uang seperti permintaan terhadap
persediaan (Stock) yang setiap saat dipakai untuk memenuhi berbagai keperluan yang
muncul setiap saat, tetapi untuk mengelola diperlukan biaya, maka diperlukan jumlah
persediaan yang optimum (Biaya minimun).
b. Permintaan uang untuk transaksi, akan diperoleh manfaat tetapi juga ada biaya untuk
memegang uang terdiri dari :
i Biaya transaksi untuk menukar antara obligasi dengan uang.
ii Opportunity cost memegang uang berupa tingkat bunga dari obligasi (r).
c. Penentuan uang kas (persediaan) yang optimum, yang menghaslkan biaya minimum
dijelaskan sbb. Biaya total untuk memegang uang kas (TC) terdiri dari biaya perantara (b.
T/C) dan biaya bunga (r. C/2) dengan rumus : TC - b. (T/C) + r. (C/2)
1. Jumlah Uang Kas yang Optimal (C) :
(dTC/dC) = -b. T/C^2 + r/2 = 0
maka :
C = (2b T/r)^1/2
2. Uang kas yang ditahan setiap saat sebesar C/2, maka :
12

Persamaan permintaan uang kas riil Md/P = C/2 = 1/2 ( 2 bT/r) ^2 atau Md = 1/2 (2bT/r)
^1/2. P
Implikasi dari teori Boumol :
a) Tingkat bunga mempengaruhi permintaan uang untuk transaksi karena adanya
opportunity cost dalam memegang uang.
b) Adanya economies of scale dalam penggunaan uang, artinya jika ada peningkatan
pendapatan ( nilai transaksi, T) maka persentase kenaikan uang kas yang diinginkan (Md)
lebih kecil daripada kenaikan nilai transaksinya.
c) Permintaan uang kas untuk tujuan transaksi tergantung pada tingkat bunga serta biaya
perantara ( teori keynes : permintaan uang untuk tujuan transaksi hanya tergantung dari
pendapatan).
d) Perkembangan / kemajuan teknologi yang menyebabkan turunya ongkos/ biaya transaksi
akan mengakibatkan turunya rata-rata kas yang dipegang oleh individu.
e) Motif berjaga-jaga dalam permintaan uang muncul karena adanya ketidakpastian dalam
arus uang masuk dan keluar.

13

BAB III
PENUTUP

3.1. Simpulan
Perkembangan teori permintaan uang ternyata semakin pesat.
Berbagai studi empiris telah dilakukan untuk mendukung perkembangan
teori di atas. Perkembangan teori Keynes menunjukkan bahwa motif
permintaan uang untuk transaksi juga dipengaruhi oleh tingkat bunga.
Beberapa catatan mengenai model permintaan uang menyangkut
masalah ketidakpastian, model antar generasi, kendala cash in advance
dan jangka waktu. Selain permasalahan di atas, perkembangan teknologi
transaksi dan institusi yang menjadi latar belakang studi masih
memberikan

alternatif

tantangan

studi

model

permintaan

uang.

Kesimpulan-kesimpulan dari hasil studi empiris model permintaan uang


masih selalu bersifat tentatif. Berbagai permasalahan ini menunjukkan
bahwa studi tentang model permintaan uang belum berakhir dan masih
tetap menarik.

14

Daftar Pustaka

Boediono. 1985. Pengantar Ilmu Ekonomi: Ekonomi Moneter. Yogyakarta: BPFE.


http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/ekonomi_uang_dan_bank/bab_3_permint
aan_uang.pdf (diakses pada tanggal 20 September 2015).
Nopirin, Ph.D.,2013. Ekonomi Moneter.Edisi Pertama,Yogyakarta:BPFE.

15