Anda di halaman 1dari 2

KULTUM

Kepemimpinan Islam serta Pengaruhnya dalam Perkembangan


Peradaban Dunia
Memimpin bukan hanya mempengaruhi agar orang lain mengikuti apa yang
diinginkannya. Bagi seorang muslim, memimpin berarti memberikan arah atau
visi berdasarkan nilai-nilai ruhaniah. Mereka menampilkan diri sebagai teladan
dan memberikan inspirasi bagi bawahannya untuk melaksanakan tugas sebagai
keterpanggilan ilahi sehingga mereka memimpin berdasarkan visi atau mampu
melihat ke masa depan (visionary leadership).
Kepemimpinan juga berarti sebagai kemampuan untuk mempengaruhi dirinya
sendiri dan orang lain melalui keteladanan, nilai-nilai, serta prinsip yang akan
membawa kebahagiaan dunia dan akhirat (Principle centered leadership).
Pemimpin ideal menurut Islam erat kaitannya dengan figur Rasulullah SAW.
Beliau adalah pemimpin agama dan juga pemimpin negara. Rasulullah
merupakan suri tauladan bagi setiap orang, termasuk para pemimpin karena
dalam diri beliau hanya ada kebaikan, kebaikan dan kebaikan. Hal ini sejalan
dengan firman Allah dalam Al-Quran:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik
bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan)
hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah. (QS Al-Ahzab:21)
Sebagai pemimpin teladan yang menjadi model ideal pemimpin, Rasulullah
dikaruniai empat sifat utama, yaitu: Sidiq, Amanah, Tablig dan Fathonah. Sidiq
berarti jujur dalam perkataan dan perbuatan, amanah berarti dapat dipercaya
dalam menjaga tanggung jawab, Tablig berarti menyampaikan segala macam
kebaikan kepada rakyatnya dan fathonah berarti cerdas dalam mengelola
masyarakat.
Khalifah (Arab: Khalfah) adalah gelar yang diberikan untuk pemimpin
umat Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW (570632). Khalifah juga
sering disebut sebagai Amr al-Mu'minn ( ) atau "pemimpin orang
yang beriman", atau "pemimpin orang-orang mukmin", yang kadang-kadang
disingkat menjadi "amir".
Setelah kepemimpinan Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar bin Khattab,
Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib), kekhalifahan yang dipegang
berturut-turut oleh Bani Umayyah, Bani Abbasiyah, dan Kesultanan

Utsmaniyah, dan beberapa negara kecil dibawah kekhilafahan, berhasil


meluaskan kekuasaannya sampai ke Spanyol, Afrika Utara, dan Mesir.
Khalifah berperan sebagai pemimpin ummat baik urusan negara maupun urusan
agama. Mekanisme pemilihan khalifah dilakukan baik dengan wasiat ataupun
dengan majelis Syura' yang merupakan majelis Ahlul Halli wal Aqdi yakni para
ahli ilmu (khususnya keagamaan) dan mengerti permasalahan ummat.
Sedangkan mekanisme pengangkatannya dilakukan dengan cara bai'at yang
merupakan perjanjian setia antara Khalifah dengan ummat.
Khalifah memimpin sebuah Khilafah, yaitu sebuah sistem kepemimpinan umat,
dengan menggunakan Islam sebagai Ideologi serta undang-undangnya mengacu
kepada Al-Quran, Hadist, Ijma dan Qiyas.
Sebagaimana diketahui bahwa kekuasaan dinasti Bani Abbas atau khilafah
Abbasiyah melanjutkan kekuasaan Bani Umayyah. Di masa kedua khalifah
memang dimaklumi masa keemasan itu terjadi. Setidaknya hal ini disebabkan
oleh dua faktor: 1). Adanya hubungan yang sangat baik antara orang arab
dengan orang-orang dari bangsa yang telah maju dalam bidang ilmu
pengatahuannya, semisal persia. 2). Adanya gerakan pertejemahan yang lalu
mempermudah orang Islam untuk mendapatkan ilmu. Maka tak heran ketika hal
ini menjadikan Baghdadyang tak lali sebagai pusat pemerintahan Islam
menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan.
Di samping itu, perlu disadari bahwa sang Khalifah Harun al-Rasyid
memang memiliki sifat dan perangai yang layak ditiru. Dia cangat mencintai
ilmu pengetahuan dan termasuk ahli ibadah. Dalam sehari, beliau shalat kurang
lebih sebanyak 100 rakaat. Beliau kalau berhaji pasti berjalan kaki, hal ini tidak
pernah dilakukan oleh khalifah yang lain. Ini menunjukkan bahwa beliau
menjalani hidup sederhana. Selain itu, kedermawanan beliau sudah diakui.
Masih banyak lagi sifat dan perangai dari Harun al-Rasyid yang lalu menjadi
maklum ketika beliau sukses dalam mengantarkan Islam ke puncak
kejayaanya. Khalifah yang lain juga demikian, mereka memiliki sikap yang lalu
secara perlahan mengantarkan negara Islam pada masa keemasan.