Anda di halaman 1dari 24

I.

1
I.1.1

Dasar Teori
Kuat Acuan

Dalam tata cara perencanaan konstruksi kayu Indonesia (PPKI NI-5), berdasarkan Standar
Nasional Indonesia (SNI-5) ada 2 cara menentukan kuat acuan, yaitu :
1. Kuat acuan berdasarkan atas pemilihan secara mekanis
2. Kuat acuan berdasarkan atas pemilihan secara visual.
I.1.1.1 Kuat Acuan Berdasarkan Atas Pemilihan Secara Mekanis
Pemilihan secara mekanis untuk mendapatkan modulus elastisitas lentur harus
dilakukan dengan mengikuti standar pemilihan meanis yang baku. Berdasarkan
modulus elastisitas lentur yang diperoleh secara mekanis, kuat acuan lainya dapat
diambil mengikuti Tabel 2.1. Nilai kuat acuan (Mpa) berdasarkan atas pemilihan
secara mekanis pada kadar air 15 %. Kuat acuan yang berbeda dengan tabel: 2.1,
dapat digunakan apabila ada pembuktian secara eksperimental yang mengikuti
standar-standar eksperimen yang baku.
Tabel 2.1. Nilai Kuat Acuan (MPa), Berdasarkan Atas Peralihan Secara Visual

Kode
Kayu

Modulus
Elastisitas
Lentur
Ew

Kuat
Lentur
Fb

Kuat
Tarik
Sejajar
Serat
F1

E26
E25
E24
E23
E22
E21
E20
E19
E18
E17
E16
E15
E14
E13
E12

25000
24000
23000
22000
21000
20000
19000
18000
17000
16000
15000
14000
13000
12000
11000

66
62
59
56
54
50
47
44
42
38
35
32
30
27
23

60
58
56
53
50
47
44
42
39
36
33
31
28
25
22

Kuat
Tekan
Sejajar
Serat
F2

Kuat
Geser
Fv

46
45
45
43
41
40
39
37
35
34
33
31
30
28
27

6,6
6,5
6,4
6,2
6,1
5,9
5,8
5,6
5,4
5,4
5,2
5,1
4,9
4,8
4,6

Kuat
Tekan
Tegak
Lurus
Serat
Fc
24
23
22
21
20
19
18
17
16
15
14
13
12
11
11

E11
E10

10000
9000

20
18

19
17

25
24

4,5
4,3

10
9

I.1.1.2 Kuat Acuan Berdasarkan Atas Pemilihan Secara Visual


Pemilihan secara visual untuk mendapatkan modulus clastisitas lentur harus
mengikuti standar pemilihan secara visual yang baku. Apabila pemeriksaan visual
dilakukan berdasarkan atas pengukuran berat jenis, maka kuat acuan untuk kayu
berserat lurus tanpa cacat dapat dihitung dengan menggunakan langkah sebagai
berikut ;
1. Kerapatan, (kg/m3) pada kondisi basah (berat dan volume diukur pada kondisi
basah, tetapi kadar airnya lebih kecil dari 30 %) dihitung dengan rumus ;
=

Wg
Vg

2. Menghitung kadar air m %, (dimana m < 30),


W
( gW d )
100
Wd
=
dimana;
Wd

= Berat kayu kering oven

Wg

= Berat Basah Kayu

Vg

= Volume Kayu Basah

3. Hitung berat jenis pada m % (Gm), dengan rumus


G m=

100(1+

m
)
100

4. Hitung berat jenis dasar (Gb)


G b=

Gm
(1+ 0,265. a . Gm )

Dimana;

a=

30m
30

5. Hitung Berat Jenis Pada Kadar Air 15 % (G15),


G 15=

Gb
(10,133. Gb )

6. Hitung estimasi kuat acuan dengan rumus-rumus pada tabel :2.2, dengan G = G15
Tabel 2.2. Estimasi Kuat Acuan Berdasarkan Atas Berat Jenis Pada Kadar Air 15% Untuk Kayu
Berserat Lurus Tanpa Cacat Kayu

Kuat Acuan
Rumus Estimasi
Modulus Elasitisitas Lentur , Ew (Mpa)
16.000 G0.7
Catatan: G adalah berat jenis kayu pada kadar air 15%
Mutu kayu bangunan, yaiut dengan mengalikan estimasi nilai modulus
elastisitas lentur acuan dari Tabel 2.2. tersebut dengan nilai rasio thanan yang ada
pada Tabel 2.3 yang tergantung pada kelas mutu kayu.
Tabel 2.3. Nilai Rasio Tahanan

Kelas Mutu
A
B
C

I.1.2

Nilai Rasio Tahanan


0,80
0,63
0,50

Pembebanan

I.1.2.1 Beban Nominal


Beban nominal adalah beban yang ditentukan di dalam pedoman perencanaan
pembebanan untuk rumah dan gedung, SKBI-1.3.53.1987. SNI03-1727-1989, Tata
Cara Perencanaan Pembebanan Untuk Rumah Dan Gedung Atau Penggantinya.
Beban nominal yang harus ditinjau antar lain :
1. D = Beban Mati
Beban yang diakibatkan oleh berat konstruksi permanen, termasuk dinding, lantai,
atap, plapon, partisi tetap, tangga dan peralantan layan tetap.
2. L = Beban Hidup

Beban yang ditimbulkan oleh penggunaan gedung, termasuk pengaruh kejut,


tetapi tidak termasuk beban lingkungan seperti angin, hujan dan lain-lain.
3. La = Beban hidup di Atap
Beban yang ditimbulkan selama perawatan oleh pekerja, peralatan dan material
atau selama penggunaan biasa oleh orang dan benda bergerak.
4. H = Beban Hujan
Beban yang diakibatkan oleh hujan, tetapi tidak termasuk yang diakibatkan oleh
gengan air.
5. W = Beban Angin
Beban yang diakibatkan oleh angin, termasuk dengan memperhitungkan bentuk
aerodinamika bangunan dan peninjauan terhadap pengaruh angin topan, puyuh
dan tornado, bila diperlukan.
6. E = Beban Gempa
Beban yang diakibatkan oelh gempa, yang ditentukan menurut SNI 03-1726-1989,
atau penggantinya

I.1.2.2 Kombinasi Pembebanan


Kecuali

apabila

ditetapkan

lain,

struktur,

komponen

struktur,

dan

sambungannya harus direncanakan dengan menggunakan pembebanan, seperti tabel


berikut :
Tabel 2.4. Kombinasi Pembebanan

NO
1
2
3
4
5
6

Kombinasi Pembebanan
1,4D
1,2D + 1,6L + 0,5 (La atau H)
1,2D + 1,6(La atau H) + (0,5L atau 0,8W)
1,2D + 1,3W + 0,5L + + 0,5(La atau H)
1,2D 1,0E + 0,5L
0,9D (1,3W atau 1,0E)

Pengecualian :
1. Faktor beban untuk L di dalam persamaan No. 3, 4 dan 5 harus sama dengan 1,0
untuk garasi parkir, daerah yang digunakan untuk pertemuan umum, dan semua
dimana beban hidup lebih besar dari 5 Kpa.

2. Setiap keadaan batas yang relevan harus ditinjau, termasuk kasus-kasus dimana
sebagian beban di dalam kombinasi pembebanan bernilai sama dengan nol.
3. Pengaruh kondisi pembebanan yang tak seimbang harus ditinjau sesuai dengan
ketentuan di dalam tata cara gedung yang berlaku.
I.1.2.3 Beban Lainya
Pengaruh struktral akibat beban yang ditimbulkan oleh fluida (F), tanah (S),
genangan air (P), dan teperatur (T) harus ditinjau dalam perencanaan dengan
menggunakan faktor beban yaitu : 1,3 F, 1,6 S, 1,2 P, dan 1,2 T.
I.1.2.4 Beban yang Berlawanan
Apabila pengaruh suatu beban saling berlawanan di dalam komponen struktur
atau sambunganya maka harus ditinjau gaya aksial, geser dan momen yang mungkin
berbalik arah.
I.1.3

Faktor Koreksi
Untuk kondisi masa layan yang berbeda dan kondisi acuan yang dijelaskan pada

materi kondisi acuan diatas (2,6-5), berlaku Faktor koreksi sebagai berikut:
1. Faktor koreksi layan basah Cm
Faktor koreksi layan basah, Cm adalah untuk memperhitungkan pengaruh kadar air masa
layan yang lebih tinggi dari pada 19% untuk kayu massif dan 16% untuk produk kayu
laminasi.
2. Faktor koreksi pengawetan kayu Cpt.
Faktor koreksi pengawetan kayu, Cpt adalah untuk memperhitungkan pengaruh proses
pengawetan terhadap produk-produk kayu dan sambungan. Nilai Faktor koreksi
ditetapkan berdasarkan spesifikasi pemasok, ketentuan, atau tata carayang berlaku.
3. Faktor koreksi temperature Ct.
Faktor koreksi temperature Ct adalah untuk memperhitungkan temperature layan lebihb
tinggi dari 38o secara berkelanjutan. Nilai Faktor koreksi ditetapkan berdasarkan
spesifikasi pemasok, ketentuan atau tata cara yang berlaku.
4. Faktor koreksi tahan api Crt.

Faktor koreksi tahan api Crt adalah untuk memperhitungkan pengaruh perlakuan tahan api
terhadap produk-produk kayu dan sambungan. Nilai Faktor koreksi ditetapkan
berdasarkan spesifikasi pemasok, ketentuan atau tata cara yang berlaku.
I.1.3.1 Faktor koreksi untuk konfigurasi komponen struktur
Sebagai tambahan dari Faktor-faktor koreksi untuk masa layan, berlaku pada
materi kondisi acuan diatas (2,6-5), berlaku Faktor sebagai berikut:
1. Faktor koreksi aksi komposit CE.
Faktor ini untuk komponen struktur lantai kau, dinding kayu, dan plapon, untuk
memperhitungkan peningkatan tahanan ketika penutup dan komponen struktur
pendukung nya berfungsi sebagai komposit.
2. Faktor koreksi pembagi beban Cr.
Faktor ini untukbalok tersusun atau komponen dtruktur kayu, dinding kayu, dan
papon, untuk memperhitungkan peningkatan tahanan penampang tersusun.
3. Faktor koreksi ukuran CF.
Faktor ini untuk memperhitungkan pengaruh dimensi komponen struktur sesuai
dengan tata cara yang berlaku, untuk kayu yang mutunya ditetapkan secara
maksimal maka CF=1,0.
4. Faktor koreksi stabilitas balok CL.
Faktor ini untuk memperhitungkan pengaruh pengekang lateral parsial, dimana
Faktor koreksi stabilitas balok ini dibahas pada materi balok berpenampang.
5. Faktor koreksi kelengkungan kayu laminasi struktural Cc.
Faktor ini untuk memperhitungkan pengaruh kelengkungan terhadap terhadap
tahanan lentur.
6. Faktor koreksi penggunaan datar Cfu.
Faktor ini untuk ,memperhitungkan peningkatan tahanan lentur dari komponen
struktur kayu yang digunakan secara datar.
I.1.3.2 Faktor koreksi tambahan untuk panel struktural
Sebagai tambahan dari Faktor-faktor koreksi seperti yang berlaku pada materi
kondisi acuan diatas, berlaku pula Faktor koreksi sebagai berikut:
1. Faktor koreksi lebar CW

Faktor ini untuk memperhitungkan peningkatan tahanan panel pada komponen


struktur dengan lebar yang kecil.
2. Faktor koreksi mutu CG
Faktor ini untuk panel dengan sifat fisik yang berbeda dari mutu acuan yang
digunakan untuk menetapkan nilai tahananya. Faktor mutu ini juga berlaku untuk
panel dengan susunan lapisan yang nilai tahananya tidak tercatat.
I.1.3.3 Faktor Koreksi Tambahan Untuk Tiang Dan Pancang Kayu.
Sebagai tambahan dari Faktor-Faktor koreksi seperti yang berlaku pada materi
kondisi acuan diatas, berlaku pula Faktor koreksi sebagai berikut:
1. Faktor koreksi penampang kritis Ccs.
Faktor ini untuk pancang kayu bundar.
2. Faktor koreksi pancang tunggal Csp
Faktor ini untuk pancang kayu bundar.
I.1.4

Dasar Perencanaan

I.1.4.1 Perencanaan Keadaaan Batas


Komponen Struktur beserta sambungannya harus direncanakan sedemikian
sehingga tidak ada keadaan batas yang terlampaui pada saat struktur tersebut memikul
beban rencana yang bekerja.
Keadaan batas tahanan meliputi setiap tahanan yang diperlukan (gaya aytau
teganagan) yang ditinjau pada setiap sistem struktur, komponen struktur, atau
sambungannya.
I.1.4.2 Modulus Elastisitas Lentur
Untuk menentukan distribusi beban di dalam struktur statis tak tentu dan untuk
perhitungan lendutan dan keadaan layan lainnya, harus digunakan nilai modulus
elastisitas lentur rerata terkoreksi, EW. Dalam kasus perencanaan di mana tahanan
struktural atau stabilitas ditentukan berdasarkan perhitungan, maka harus digunakan
nilai persentil ke lima dari terkoreksi, E05 yang ditetapkan sbb:
E,05=1,03 E,w {11,645 ( KV E ) }
Dimana :

1,03 = Faktor koreksi dari nilai EW yang ditabelkan kepada nilai EW bebas
geser.
KVE = Koefisien variasi nilai EWyaitu penyimpangan deviasi standar EW
dibagi dengan nilai rerata EW.
Berdasarkan hasil pengujian untuk beberapa jenis kayu, dimana nilai KVE
diperoleh sebesar 0,2. Apabila nilai E05 dapat dihitung dengan persamaan sbb:
,

E05=0.69 E w
Pengecualian: Untuk glulam (kayu laminasi struktural) faktor penyesuaian
tersebut adalah 1,05, dan bukan 1,03. Modulus elastisitas lentur tidak perlu dikoreksi
terhadap faktor waktu

I.1.4.3 Kekangan Ujung


Perencanaan sambungan harus konsisten dengan asusmsi yang diambil dalam
analisa sturktur dan dengan jensi konstruksi yang dipilih dalam gambar rencana.
Dalam rangka sederhana sambungan harus diasumsikan bersifat sendi kecuali bila
dapat ditujukan melalui eksperimen atau analosos bahwa sambungan harus
mempunyai kapasistas rotsi yang memadai untuk menghindari elemen penyambung
terbebani secara berlebihan.
I.1.4.4 Kondisi Batas Tahanan
Perencanaan sistem struktur, komponen struktur dan sambungannya harus
menjamin bahwa tahanan rencana di semua bagian pada setiap sistem , komponen,
dan sambungan struktur sama dengan atau melebihi gaya terfaktor Ru.
I.1.4.5 Gaya Terfaktor
Gaya gaya pada komponen struktur dan sambungannya, gaya terfaktor Ru
harus ditentukan dari kombinasi pembebanan sebagaimana diatur pada butir 2.4
Beban dan Kombinasi Pembebanan.
I.1.4.6 Tahanan Rencana
Tahanan rencana dihitung untuk setiap keadaan batas yang berlaku, dan
tahanan rencana harus memenuhi persamaan berikut:
Ru R '

Dimana :
Ru

= Tahanan Rencana

'

R = Tahanan Terkoreksi
= Faktor Waktu
=FAktor Tahanan

Dengan R adalah tahanan terkoreksi untuk komponen struktur, elemen, atau


sambungan, seperti tahanan lentur terkoreksi, M tahanan geser terkoreksi, V dan lain
lain. Begitu pula Ru diganti dengan Mu, Vu dan sebagainya untuk gaya gaya pada
komponen struktur atau sambungan.
Tahanan terkoreksi, R harus meliputi pengaruh semua faktor koreksi yang
berasal dari keadaan masa layan dan faktor faktor koreksi yang berlaku Faktor
, yang digunakan adalah sperti tabel II-5 Faktor Tahanan

keamanan tahanan

sebagai berikut :

Tabel 2.5 Faktor Tahanan

No
1

Tekan

Jenis

Simbol

Nilai
0,90

Lentur

0,85

Stabilitas

0,85

Tarik

0,80

Geser/Puntir

0,75

Sambungan

0,65

Kecuali bila ditetapkan lain, faktor waktu,

, yang digunakan dalam

kombinasi pembebanan pada tabel 2.5. Kombinasi bebanan harus sesuai dengan yang
tercantum di dalam abel 2.6. Faktor waktu
Tabel 2.6 Faktor Waktu

NO

seperti berikut:

Kombinasi Pembebanan

Faktor Waktu

1
2

3
4
5
6

1,4D
1,2D + 1,6L + 0,5 (La atau H)

0,60
0,70 Jika L dari gudang
0,80 Jika L dari ruangan
umum
1,25 Jika L dari kejut
1,2D + 1,6(La atau H) + (0,5L atau
0,80
0,8W)
1,2D + 1,3W + 0,5L + + 0,5(La atau H)
1,00
1,2D 1,0E + 0,5L
1,00
0,9D (1,3W atau 1,0E)
1,00
Catatan : untuk sambungan = 1,00 jika L dari kejut

I.1.4.7 Keadaan Batas Kemampua Layan


Sistem Sturktur dan komponen struktur harus direncanakan dengan
memperhatikan batas batas deformasi, simpangan lateral, getaran, rangkak, atau
deformasi lainnya yang dapat mempengaruhi kemampuan layan gedung atau struktur
kayu yang bersangkutan. Adapun keadaan batas layan yang dimaksud adalah
meliputi :
1. Bahan dan kekuatan komponen struktur
Modulus elastisitas lentur yang digunakan dalam menghitung lendutan komponen
struktur, rangka, dan komponen lainnya, diambil sebagai nilai rerata terkoreksi,
EW
2. Batasan lendutan
Disamping akibat deformasi komponen struktur, lendutan dapta terjadi karena
pergeseran pada sambungan sambungan. Untuk membatsi perubahan
perubahan bentuk struktur bangunan secara berlebihan, sehingga pergeseran
masing masing komponen struktur terjadi sekecil mungkin. Lendutan struktur
bangunan akibat berat sendiri dan muatan tetap dibatasi sebagai berikut:
a. Untuk balok balok pada struktur bangunan yang terlindung, lendutan
maksimum adalah

f max 1/ 300 l

b. Untuk balok balok pada struktur bangunan yang tak terlindung, lendutan
maksimum adalah

f max 1/ 400 l

c. Untuk balok balok pada kontruksi kuda kuda, goring dan kasau, lendutan
maksimum adalah

f max 1/ 200 l

d. Untuk struktur rangka batang yang tidak terlindungi, lendutan maksimum


adalah

f max 1/700 l

Dimana l adalah panjang bentang bersih.


Apabila gedung atau struktur kayu yang sudah ada, diubah fungsi atau
bentuknya, maka harus dilakukan tinjauan terhadap kemungkinan pengaruh
pengaruh akibat kerusakan atau perlemahan yang disebabkan perubahan itu.
I.1.4.8 Syarat- syarat Perencanaan.
Dalam tata cara perencanaan konstruksi kayu berdasarkan standar Nasional
Indonesia (SNI-5) ada beberapa persyaratan yang perlu di ketahui, yaitu:
1. Luas bruto A.
Luas bruto A, komponen struktur kayu pada setiap potongan adalah jumlah luas
seluruh elemen penyusun komponen struktur kayu tersebut, yang diukur tegak
lurus terhadap sumbu komponen struktur.
2. Luas Neto, An,
Luas Neto, An komponen struktur kayu diperoleh dari luas bruto dikurangi dengan
jumlah material kayu yang hilang karena adanya lubang bor, baut, paku, coakan,
dan lain-lain.
3. Stabiitas.
Stabilitas harus dipenuhi oleh system struktur secara keseluruhan maupun oleh
komponen struktur pada system struktur tersebut. Perencanaan terhadap stabilitas
dilakukan dengan memperhitungkan pengaruh beban-beban yang ditimbulkan
oleh perubahan bentuk struktur atau komponen struktur pemikul system pemikul
beban lateral.
4. Pengekangan Lateral.
Pada titik-titik tumpu balok, rangka, dan komponen struktur kayu lainnya, harus
disediakan kekangan pada rotasi terhadap sumbu longitudinalnya, kecuali bila hal
tersebut ternyata tidak diperlukan berdasarkan analisis ataupun percobaan.
5. Kondisi acuan.
Tahanan acuan, R dan tahanan acuan sambungan, Z ditetapkan berdasarkan
kondisi acuan berikut:

a. Kondisi kering dengan kadar air seimbang maksimum tidak melebihi 19%
untuk kayu massif dan 16% untuk produk kayu yang di lem; serta batas bawah
kadar air setimbang tahunan rerata adalah 16%.
b. Nilai tahanan acuan berlaku untuk kondisi terekspos secara berkelanjutan pada
temperature hingga 38oc; atau temperature yang dapat mencapai 65oc pada
komponen struktur dan sambungan, tetapi tidak diperkenankan secara terus
menerus berada diatas 65oc. untuk kondisi temperature diatas 38 oc secara
berkelanjutan, maka harus diberlakukan Faktor koreksi temperature.
c. Produk-produk kayu yang tidak diberi perlakuan khusus, kecuali untuk tiang
dan pancang menunjuk kepada:
6. Tahanan koreksi.
Tahanan terkoreksi dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
R' =R . C1, C 2, C n
Dimana :
R
R
C1 s/d Cn
I.1.5

= tahanan terkoreksi
= tahanan acuan
= faktor koreksi (sesuai koreksi yang berhubungan)

Perencanaan Struktur Lentur


Dalam perencanaan kompenen struktur lentur pada kondisi kayu, maka kompenen

struktur lentur harus direncanakan untuk memenuhi ketentuan sbb:


1. Untuk momen lentur, harus memenuhi ketentuan berikut:
M u b M '
Dimana :

Mu

= Momen Faktor

= Faktor waktu yang diperlukan sesuai table: 2.7


= Faktor tahan lentur = 0.85.

M = Tahan lentur terkoreksi.


2. Untuk geser lentur, harus memenuhi ketentuan berikut:
V u v V '
Dimana :

Vu

= Gaya geser terfaktor.

= Faktor waktu yang diperlukan sesuai table: 2.7

v
V

= Faktor tahan geser = 0.75.

'

= Tahan geser terkoreksi.


Tahanan terkoreksi adalah diperoleh dari hasil perkalian antara tahanan acuan

dengan Faktor Faktor atau dapat ditulis seperti rumus berikut:


R = R.

C1 .

C2 .

C3

Cn .

Dimana : R
= Tahanan terkoreksi.
R
= Tahanan acuan.
C1
s/d n
= Faktor Faktor koreksi.
Kompenen struktur lentur yang memikul gaya gaya setempat harus diberi
pendetailan tahanan dan kesetabilan yang cukup pada daereh bekerjanya gaya- gaya
tersebut.
I.1.6

Faktor Faktor Koreksi


Nilai faktor koreksi yang berbeda dari yang ditetapkan di dalam tatacara perencanaan

kontruksi kayu ini, boleh digunakan bila dapat dibuktikan kebenarannya secara rasional
brdasarkan prisip prinsip mekanika. Keber lakuan Faktor Faktor koreksi untuk setiap jenis
struktur harus sesuai dengan faktor koreksi yang disyaratkan dalam tata cara ini.
I.1.6.1 Faktor koreksi untuk masa layan
Untuk kondisi masa layan pada perencanaan kompenen struktur lentur pada
konstruksi kayu, maka berlaku faktor koreksi sebagai berikut:
1. Faktor koreksi layanan basah,

Cm

Faktor koreksi layanan basah,

Cm

adalah untuk memperhitung pengaruh kadar air

masa layan yang lebih tinggi daripada 19% untuk kayu massif dan 16% untuk produk
kayu yang dilem. Nilai faktor koreksi layan basah untuk berbagai kuat acuan, dapat
dilihat pada table berikut:
Tabel 2.7 Faktor koreksi layan basah,

Cm

Modul
us
Elastis
itas
Lentur
( Ew
)

Kua
t
Len
tur
(

Kuata
Tarik
Sejaj
ar
Serat
( Ft

Kuat
Kuat
Tekan Geser
Sejaj ( F v
ar
Serat
( Fc

Kuat
Tekan
Tegak
Lurus
Serat
( Fe

0,90

0,8
5*

1,00

0,80*
*

0,97

0,67

1,00

1,0
0

1,00

0,91

1,00

0,67

Lantai
0,90
papan kayu

0,8
5

0,67

Glulam
(kayu
laminasi
struktural)

0,8
0

0,80

0,87

0,53

Balok kayu

Balok kayu
besar
(125mm x
125mm
atau lebih
besar)

Catatan: * untuk,

0,83

Fb /C F 8 MPa ,

** untuk, ,

Cm

Fc /C F 5 MPa ,

2. Faktor koreksi temperatur, ,


Faktor koreksi temperatur, ,
lebih tinggi dari

Fb

380

0,73

= 1,0
Cm

= 1,0

Ct
Ct

adalah untuk memperhitungkan temperatur layan

C secara berkelanjutan. Nilai faktor koreksi ditetapkan

berdasarkan spesifikasi pemasok, ketentuan, atau tata cara yang berlaku, atau seperti
table barikut:

Tabel 2.8 Faktor koreksi temperatur,

Kondisi Acuan

Ct

Kadar air pada


masa layan

Ct
0
T 38

C
Ft.Ew

Basah atau

1,00

380 C<T

520 C<T

520 C

650 C

0,90

0,90

kering
Kering
1,00
0,80
0,70
Fb,Fv, Fe ,
Basah
1,00
0,70
0,50
Kondisi layan basah dan kering untuk kayu gergajian dan glulam (kayu laminasi
Fc

struktural) ditetapkan ketentuan lain.


C pt

3. Faktor koreksi pengawetan kayu,


Faktor koreksi pengawetan kayu,

C pt

adalah untuk memperhitungkan pengaruh

proses pengawetan terhadap produk produk kayu dan sambungan. Nilai faktor
koreksi ditetapkan berdasarkan spesifikasi pemasok, ketentuan, atau cara yang
berlaku.
4. Faktor koreksi tahan api,
Faktor koreksi tahan api,

Crt
Crt

adalah untuk memperhitungkan pengaruh perlakuan

tahan api terhadap produk produk kayu dan sambungan. Nilai faktor koreksi
ditetapkan berdasarkan spesifikasi pemasok, ketentuan, atau tata cara yang berlaku.
I.1.6.2 Faktor koreksi untuk konfigurasi kompenen struktur
Sebagai tambahan dari faktor faktor koreksi untuk masa layan, berlaku pada
materi kondisi acuan di atas, berlaku faktor koreksi sebagai berikut:

1.

Faktor koreksi ukuran, CF.

Faktor koreksi ukuran, CF untuk memperhitungkan pengaruh dimensi kompenen


struktur sesuai dangan tata cara yang berlaku, untuk kayu yang mutunya
ditetapkan secara masinal, maka CF = 1,0.
2. Faktor koreksi stabilitas balok, CL.
Faktor koreksi stabilitas balok, CL untuk memperhitungkan pengaruh pengekang
lateral parsial, dimana faktor koreksi stabilitas balok, CL dibahas pada materi
balok berpenampang primatis (tahan lentur terkoreksi dari balok primatis tanpa
pengekang).
3. Faktor koreksi bentuk, Cf.
Tahan lentur dari kompenen struktur primatis berpenampang persegi panjang dan
bundar, adalah tahan lentur balok yang terkekang dalam arah lateral tahanan lentur
terkoreksi dari balok berpenampang primatis yang terlentur terhadap sumbu
kuatnya (x-x dan terhadap sumbu lemahnya y-y), harus dikalikan faktor koreksi
bentuk, Cf , yaitu:
a. Untuk kompenen struktur berpenampang bundar selain daripada untuk tiang
dan pancang, maka, Cf = 1,15.
b. Untuk kompenen struktur berpenampang persegi panjang yang terlentur
tehadap sumbu diagonal, maka, Cf = 1,40.
I.1.7

Ketentuan Umum untuk Pengaku Lateral (Bracing)


Balok yang memiliki perbandingan tinggi (d) terhadap lebar (b) lebih besar dari pada

2 (dua)dan di bebani terhadap sumbu kuatnya harus memiliki pengaku lateral pada tumpuantumpuanya untuk mencegah terjadinya rotasi atau peralihan lateral. Pengaku lateral tidak di
perlukan pada balok berpenampang bundar , bujur sangkar , atau persegi panjang yang
mengalami lenturan terhadap pat mencegah gerakan lateral sisi tekan balok dan harus dapat
mencegah rotasi pada balok lokasi-lokasi yang di kekang.
Sebagai alternatif untuk balok kayu masif, kekangan yang digunakan untuk mencegah
rotasi atau peralihan interal di tentukan berdasarkan nilai perbandingan tinggi nominall
terhadap tebal nominal, d/b sebagai berikut :
a.

d
2
: Tidak di perlukan Pangkal lateral
b

b.

d
2
: Posisi tumpuan tumpuannya harus di kekang menggunakan kayu
b

masif pada seluruh ketinggian balok


c.

d
5 6
: sisi teken harus di kekang secara menerus sepanjang balok
b

d.

d
6 7
b

: pengekang penuh setinggi balok harus di pasang untuk setiap selang

2.400 mm kecuali bila kedua sisi tekan balok di kekang pada seluruh panjang oleh
lantai dan pada tumpuan-tumpuannya diberikan pengekang lateral untuk mencegah
rotasi
e.

d
7
b

: Kedua sisi tekan dan tarik di kekang secara bersamaan pada seluruh

panjangnya.
I.1.7.1 Panjang Efektif Tak Terkekang
Pengaku lateral harus diadakan pada semua balok kayu masif berpenampang
persegi panjang sedemikian sehingga reasio kelangsingannya,

Rb

, tidak melebihi

50, seperti persaman berikut :


RB =

le d
b 2 le

50

Dimana :
le

= panjang evektif ekivalen (menggunakan tabel : 3.3.)

d = Tinggi balok.
B = Lebar balok.
Tabel 2.8 Faktor faktor untuk menetapkan panjang efektif ekivalen, le, untuk penampang persegi
panjang masif

Panjang efektif ekivalen, le


1/d<7 71/d14
1/d14,3
,3
Untuk semua keadaan yang tidak tercantum di bawah
2,06lu
1,84lu
1,63lu+3d
Tumpuan
Beban terpusat
Bresing di kedua 1,80lu
1,37lu+3d
Jenis tumpuan

Jenis beban

Jenis bresing

sederhan

ditengah bentang
Beban terdistribusi
merata
Beban terpusat
ditengah bentang
Beban terdistribusi
merata
Beban-beban
terpusat dg jarak
seragam
Beban tunggal
Beban ganda
Tiga beban
Empat beban
Lima beban
Enam beban
Tujuh beban atau
lebih
-

Kantilever

Panjang
bentang, L

ujung
Bresing di kedua 2,06lu
ujung
1,87lu
-

1,63lu+3d
1,44lu+3d

1,33lu

Bresing
pada
setiap titik kerja
beban terpusat
lu=L/2
lu=L/3
lu=L/4
lu=L/5
lu=L/6
lu=L/7
-

0,90lu+3d
lu

1,11lu
1,68lu
1,64lu
1,68lu
1,73lu
1,84lu
1,84lu

Bentang dengan
1,84lu
momen-momen
ujung yang
sama
Catatan : lu adalah panjang segmen di antara dua pengaku lateral yang berurutan

I.1.7.2 Tahanan Lentur Balok yang Terkekang dalam Arah Lateral


Tahanan lentur balok yang terkekang dalam arah lateral, dimana ketentuanketentuan ini berlaku pada balok-balok seperti berikut:
1. Balok berpenampang bundar atau bujur sangkar.
2. Balok berpenampang persegi panjang tiang terlentur terhadap sumbu lemah.
3. Balok dengan pengekang lateral yang menerus pada sisi tekan.
4. Balok dengan ikatan bresing sesuai dengan ketentuan alternatif pada materi
ketentuan umum untuk bresing lateral, diatas.
Tahanan lentur terkoreksi dari balok berpenampang primatis yang terlentur
terhadap sumbu kuatnya (x-x) adalah:
M =

M 'x

S x F ' bx

Tahanan lentur terkoreksi dari balok berpenampang primatis yang terlentur


terhadap sumbu lemahnya (y-y) adalah:
M =

M'y

Sy F 'y

Dalam perencanaan komponen struktur lentur pada konstruksi kayu, untuk


balok primatis yang lentur terhadap sumbu kuatnya (x-x) dan sumbu lemahnya (y-y),
harus direncanakan untuk memenuhi ketentuan sbb:
M ux
b M ' x

c
b M ' y

1,0

Dimana:
M ux

= momen ultimate arah sumbu x.

M ux

= momen ultimate arah sumbu y.

M =

M 'x

= tahanan lentur terkoreksi terhadap sumbu kuat (x-x)

M =

M'y

= tahanan lentur terkoreksi terhadap sumbu lemah (y-y)

Sx

= modulus penampang untuk lentur terhadap sumbu kuat (x-x)

Sy

= Modulus penampang untuk lentur terhadap sumbu lemah (y-y)

F ' bx

= Kuat lentur terkoreksi untuk lentur terhadap sumbu kuat (x-x)

F ' by

= Kuat lentur terkoreksi untuk lentur terhadap sumbu lemah (y-

y)

= Faktor waktu yang diperlukan sesuai tabel: 2.7

= Faktor tahanan lentur = 0,85

I.1.7.3 Tahanan Lentur Balok Berpenampang Prismatis tanpa Pengekang


Lateral Penuh
Tahanan lentur terkoreksi terhadap sumbu kuatnya (x-x) dari balok
berpenampang prismatis persegi panjang atau bagian yang tak terkekang dari balok
tersebut adalah :
M'

F bx
= C L . S x .

Dimana :
M

= Mx = Tahanan lentur terkoreksi terhadap sumbu kuat (x-x)

Sx

= Modulur penampang untuk lentur terhadap sumbu kuat (x-x)

F*bx

= Kuat lentur terkoreksi untuk lentur terhadao sumbu kuat (x-x)

CL

= Faktor stabilitas balok, dapat dihitung dengan rumus :

CL

1+ b

2 cb

sehingga ,

Me

1+ b 2 b

2 cb
cb

= 2,40 .

=>

E ' y 05 .

s M e

b M x

Iy
Ie

Dimana :
Mx*

= Tahanan lentur untuk lentur terhadap sumbu kuat (x-x) dikalikan dengan
semua faktor, kecuali faktor koreksi penggunaan datar, C fu, dan faktor koreksi
stabilitas, C

Cb = 0,95
s

Faktor tahanan stabilitas = 0,85

= Faktor waktu yang diperlukan sesuai tabel 2.7


b

Faktor tahanan lentur = 0,85

Me = Momen tekuk lateral elastis


Ey05 = Modulus elastis terkoreksi untuk lentur terhadap sumbu lemah (y-y) pada nilai
presentil ke lima.
Iy

= Momen inersia terhadap sumbu lemah (y-y)

Ie

= Panjang efektif ekivalen

I.1.7.4 Tahanan Lentur dari Komponen Struktur Prismatis Berpenampang


Persegi Panjang dan Bundar
Tahanan lentur terkoreksi dari balok berpenampang prismatis yang terlentur
terhadap sumbu kuatnya (x-x) dan terhadap sumbu lemahnya (y-y), harus dikalikan
fakotr koreksi bentuk, Cf, yaitu :
a. Untuk komponen struktur berpenampang bundar selain daripada untuk tiang dan
pancang, maka Cf = 1,15
b. Untuk komponen struktur berpenampang persegi panjang yang terlentur terhadap
sumbu diagonal, maka Cf = 1,40
I.1.8

Perencanaan Truktur Geser

I.1.8.1 Tahanan Geser Lentur


Dalam perencanaan komponen struktur lentur pada konstruksi kayu, maka
tahanan geser lentur harus direncanakan untuk tahanan geser terkoreksi dari suatu
balok, V dapat dihitung dengan persamaan sebagai berkut :
V

F ' v . I .b
Q

Dimana,
V

= Tahanan geser terkoreksi

Fv

= Kuat geser sejajar serat terkoreksi

= Momen inersia balok untuk arah gaya geser yang ditinjau

= lebar penampang balok

= momen statis penampang terhadap sumbu netral


Untuk penampang persegi panjang dengan lebar b, dan tinggi d, persamaan

diatas menjadi persamaan sebagai berikut


V

2
. F 'v . b . d
3

Sebagai alternatif, untuk balok kayu menerus atau kantilver, tahanan geser
terkoreksi pada lokasi-lokasi berjarak paling sedikit tiga kali tinggi balok dari ujung
balok, ditentukan menggunakan persamaan berikut :
V

F ' v . I .b
Q

atau V=

d
2
2 ( F ' . b .d )
( 23 . F ' . b . d) .(1+ x3
)
3d
3
v

Dimana, x

= jarak dari ujung balok

I.1.8.2 Tahanan Geser di Daerah Tarikan


Pada penampang disepanjang takikan dari sebuah balok persegi panjang
setinggi d, tahanan geser terkoreksi pada penampang bertekik dihitung dengan
persamaan sebagai berikut
V

;
dn

( 23 . F ' . b . d ) .( d )
v

Sebagai alternatif, apabila pada ujung takikan terdapat irisan miring dengan
sudut terhadap arah kayu untuk mengurangi konsentrasi tegangan, maka tahanan
geser terkoreksi pada penampang bertakik dihitung menggunakan persamaan berikut ;
V

( dd n ) . sin
2
. F ' v . b . d n . 1+
3
d

)(

Dimana,
V

= Tahanan geser terkoreksi

Fv

= Kuat geser sejajar serat terkoreksi

= lebar penampang balok

= tinggi penampang balok tanpa takikan

dn

= tinggi penampang balok di dalam daerah takikan

I.1.8.3 Tahanan Geser di Daerah Sambungan


Apabila suatu sambungan pada balok persegi panjang menyalurkan gaya yang
cukup beser sehingga menghasilkan lebih dari setengah gaya geser di setiap sisi
smabungan, maka tahanan geser terkoreksi dapat dihitung dengan persemaan sebagai
berikut :
V

d
2
. F 'v. b . d . e
3
d

)( )

Dimana,
V

= Tahanan geser terkoreksi

Fv

= Kuat geser sejajar serat terkoreksi

= lebar penampang balok

= tinggi penampang balok tanpa takikan

de

= tinggi efektif penampang balok di daerah sambungan

I.1.8.4 Keadaan Batas Kemampuan Layan


Disamping akibat deformasi komponen struktur, lendutan dapat terjadi karena
pergeseran pada sambungan-sambungan. Untuk membatasi perubahan-perubahan
bentuk struktur bangunan secara berlebihan, sehingga pergeseran masing-masing
komponen struktru terjadi sekecil mungkin. Lendutan struktur bangunan akibat berat
sendiri dan muatan tetap dibatasi sebagai berikut
a. Untuk balok-balok pada struktur banguanan yang terlindung, lendutan maksimum,
adalah : fmax 1/300 . l
b. Untuk balok-balok pada struktur bangunan yang tak terlindung, lendutan
maksimum, adalah : fmax 1/400 . l
c. Untuk balok-balok pada konstruksi kuda-kuda, gording, dan kasau, lendutan
maksimum, adalah : fmax 1/200 . l
d. Untuk struktur rangka batang yang tak terlundung, lendutan maksimum, adalah :
fmax 1/700 . l
Dimana l, adalah panjang bentang bersih.
Apabila gedung atau struktur kayu yang sudah ada, diubah fungsi atau
bentuknya, maka harus dilakukan tinjauan terhadap kemungkinan pengaruh-pengaruh
akibat kerusakan atau perlemahan yang disebabkan perubahan itu.
Lendutan struktur banguanan akibat berat sendiri dan muatan tetao dapat
dihitung dengan persamaan sebagai berikut ;
1. Lendutan untuk balok dengan beban merata sepanjan batang, maka lendutan
maksimum dapat dihitung berdasarkan persamaan beriku;
f max

5
q .l 4
'
384 E . I

2. Lendutan untuk balok dengan beban terpusat di tengah batang, maka lendutan
maksimum dapat dihitung berdasarkan persmanaan berikut;
f max

5 q .l 4

48 E' . I

Dimana,
q = beban merata

P = Beban terpusat
E = Modulus elastisitas lentur terkoreksi
I = Momen Inersia, adalah perbandingan antara momen unjung yang terkecil,

M1 terhadap momen ujung lebih besar, M2 .

M1
M2

bernilai negatif bila momen-

momen ujung menghasilkan kelengkungan tunggal


Cb = 1,0 untuk kantilever tak terkekang dan untuk balok atau segmen balok yang
tak terkekang dengan momen terbesar tidak terletak di ujung segmen tak
terkekang.
Apabila faktor pengaruh volume, Cv = 1,0 maka tahanan lentur terkoreksi dari
suatu balok tak terkekang diambil dari nilai terkecil diantara nilai-nilai persamaan
berikut;
M= Mx = CL . Sx . Fbx dan,
M= CL . Sx . Fbx
Dimana,
M= Mx = tahanan lentur terkoreksi terhadap sumbu kuat (x-x)
Sx = Modulus penampang untuk lentur terhadap sumbu kuat (x-x)
Fbx= kuat lentur terkoreksi untuk lentur terhadap sumbu kuat (x-x)
CL = Faktor stabilitas balok, dapat dihitung dengan rumus;
1+ b
1+ b 2 b
CL

= 2c
2 cb
cb
b

s . M e
=

b . M 8x

Mx* = tahanan lentur untuk lentur terhadap sumbu kuat (x-x) dikalikan
dengan semua faktor, kecuali Ctu, Cv dan CL
Cb = 0,95
s = faktor tahanan stabilitas = 0,85
Me = Momen tekuk lateral elastis