Anda di halaman 1dari 8

RESUME HUKUM PIDANA

Disusun untuk memenuhi mata kuliah Asas-Asas Hukum Pidana Perkembangan

Oleh:
Hafiz Faramanda
110110140195

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016

DAFTAR ISI

A. Pengertian Hukum Pidana


B. Pengertian Pidana
C. Ruang lingkup Hukum Pidana

Asas Legalitas

Asas Non Retroaktif

Asas Teritorial

Asas Nasionalitas Pasif

Asas Nasionalitas Aktif

Asas Universal
D. Tindak Pidana
E. Sifat Melawan Hukum
F.Kesalahan
G. Pertanggungjawaban Pidana
H. Tambahan

A. Pengertian Hukum Pidana


Hukum pidana menurut Prof. Moeljatno, S.H. adalah bagian dari keseluruhan hukum
yang berlaku di suatu negara, yang mengadakan dasar-dasar dan aturan untuk:
1. Menentukan perbuatan mana yang tidak boleh dilakukan, yang dilarang, dengan
disertai ancaman atau sanksi berupa pidana tertentu bagi barangsiapa yang melanggar
larangan tersebut.
2. Menentukan kapan dan dalam hal apa mereka yang melanggar larangan tersebut dapat
dikenakan dan dijatuhi pidana sebagaimana yang telah diancamkan.
3. Menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat dilaksanakan apabila
ada orang yang disangka telah melanggar larangan tersebut.1

B. Pengertian Pidana
o Asal kata pidana adalah straf (Belanda), disebut juga dengan istilah hukuman. Istilah
pidana lebih tepat dipakai, karena istilah hukum sudah lazim merupakan terjemahan
dari

recht.

Pidana

didefinisikan

sebagai

suatu

penderitaan

yang

sengaja

dijatuhkan/diberikan oleh negara pada seseorang atau beberapa orang sebagai akibat
hukum (sanksi) atas perbuatannya yang telah melanggar larangan hukum pidana.
o Menurut Prof. Sudarto, pidana adalah penderitaan yang sengaja dibebankan kepada
orang yang telah melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu.
Sedangkan menurut Prof. Roeslan Saleh, pidana merupakan reaksi atas delik dan ini
berwujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditimpakan negara kepada pembuat
delik tersebut.

C. Ruang Lingkup Hukum Pidana


o Asas Legalitas
Berdasarkan adagium nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali,
artinya tidak ada perbuatan yang dapat dipidana kecuali atas kekuatan aturan pidana dalam
perundang-undangan yang telah ada sebelum perbuatan dilakukan. Asas ini tampak dari
bunyi pasal 1 ayat (1) Kitab Undang-undang Hukum Pidana.2
1 Moeljatno, Azas-Azas Hukum Pidana, Edisi Revisi, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 1985, hlm. 1.
2 Yulies Tiena Masriani, Pengantar Hukum Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 2004, hlm. 65.

Kesimpulannya adalah:
a) Jika suatu perbuatan yang dilarang atau mengabaikan sesuatu yang diharuskan
dan diancam dengan pidana, maka perbuatan tersebut harus tercantum dalam
Undang-undang.
b) Ketentuan tersebut tidak boleh berlaku surut dengan satu pengecualian yang
ada dalam pasal 1 ayat (2) Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

o Asas Non Retroaktif


Asas ini mengandung artian bahwa larangan memberlakukan surut suatu aturan
perundang-undangan. Ada pengecualian dari asas non retroaktif ini yaitu:
a) Pasal 28i UUD 1945
b) Pasal 18 ayat (2) dan pasal 18 ayat (3) UU no. 39 tahun 1999, tentang HAM
c) Pasal 43 ayat (2) UU no.26 tahun 2000, tentang Peradilan HAM

o Asas Teritorial
Asas teritorial adalah suatu asas yang memberlakukan KUHP bagi semua orang yang
melakukan perbuatan pidana di dalam wilayah Indonesia, asas ini dapat dilihat dari ketentuan
pasal 2 dan 3 KUHP. Akan tetapi, KUHP tidak berlaku bagi mereka yang memiliki hak
kekebalan diplomatic berdasarkan asas eksteritorialitas.

o Asas Nasionalitas Pasif


Asas Nasionalitas Pasif adalah asas yang memberlakukan KUHP terhadap siapapun
juga, baik WNI maupun WNA yang melakukan perbuatan pidana di luar wilayah Indonesia.
Jadi, yang diutamakan adalah keselamatan kepentingan suatu negara. Asas ini disebut juga
dengan asas perlindungan.

o Asas Nasionalitas Aktif

Asas Nasionalitas Aktif adalah asas yang memberlakukan KUHP terhadap orang
Indonesia yang melakukan perbuatan pidana di luar wilayah Republik Indonesia. Asas ini
bertitik tolak pada orang yang melakukan perbuatan pidana. asas ini disebut juga dengan asas
personalitet.

o Asas Universalitas
Asas Universalitas adalah suatu asas yang memberlakukan KUHP terhadap perbuatan
pidana yang terjadi di luar wilayah Indonesia yang bertujuan untuk merugikan kepentingan
Internasional. Peristiwa pidana yang terjadi dapat berada di daerah yang tidak termasuk
kedaulatan negara manapun. Jadi, yang diutamakan oleh asas tersebut adalah keselamatan
internasional.

D. Tindak Pidana
o Menurut Pompe
Tindak pidana atau strafbaarfeit adalah suatu pelanggaran norma (gangguan terhadap
tertib hukum) yang dengan sengaja telah dilakukan oleh seorang pelaku.
o Menurut Moeljatno
Perbuatan pidana adalah perbutan yang dilarang oleh suatu aturan hukum, larangan
yang disertai ancaman (sanksi) berupa pidana tertentu bagi yang melanggar larangan tersebut.
o Simons
Handelig (tindak pidana) diancam dengan pidana dan perbuatan melawan hukum,
melakukan kesalahan dan dilakukan oleh orang bertanggung jawab.
Unsur tindak pidana adalah unsur yang harus dipenuhi sehingga bisa jadi perbuatan
pidana.
o Unsur formil
a. Perbuatan manusia;
b. Melanggar peraturan pidana;
c. Diancam dengan hukuman;
d. Dilakukan oleh orang yang bersalah;

o Unsur Materil
a. Harus bertentangan dengan hukum
b. Obyektif
Melawan hokum
Unsur yang memberatkan tindak pidana;
Unsur tambahan yang menentukan tindak pidana.
Bertanggungjawab.
c. Subyektif
Kesengajaan (dolus),
Kealpaan (culpa),
Niat (voornemen),
Dengan maksud (oogmerk),
E. Sifat Melawan Hukum
Sifat melawan hukum adalah salah satu unsur utama tindak pidana yang bersifat
objektif. Menurut Simons sifat melawan hukum berarti bertentangan dengan hukum pada
umumnya, bertentangan dengan hak orang lain, dan tanpa kewenangan atau tanpa hak. Secara
umum ajaran sifat melawan hukum dibagi menjadi dua bagian yakni:
a. Sifat melawan hukum formil
Sifat melawan hukum formil terjadi karena memenuhi rumusan delik undang-undang.
Sifat melawan hukum formil merupakan syarat untuk dapat dipidananya perbuatan. Sifat
melawan hukum formil adalah apabila suatu perbuatan telah memenuhi semua unsur yang
termuat dalam rumusan tindak pidana, dan perbuatan tersebut adalah tindak pidana. Jika ada
alasan pembenar maka alasan tersebut harus juga disebutkan secara tegas dalam undangundang. Sifat melawan hukum formil diartikan bertentangan dengan rumusan undang-undang
yang berlaku. Sudah memenuhi rumusan delik, maka bisa dikatakan telah melawan hukum
secara formil.3
b. Sifat melawan hukum materiil
Sifat melawan hukum materil merupakan suatu perbuatan melawan hukum yang tidak
hanya terdapat didalam undang-undang, tetapi juga melihat kepada berlakunya asas hukum
yang tidak tertulis. Sifat melawan hukum itu dapat dihapus berdasarkan ketentuan undangundang maupun aturan-aturan yang tidak tertulis.

3 Andi Hamzah, Asas-Asas Hukum Pidana,Rineka Cipta, Jakarta, 2010, hlm. 140

Mengenai pengertian sifat melawan hukum materiil dibedakan menjadi:


I.

II.

Positif
Tidak diatur dalam undang-undang;
Dianggap masyarakat tercela;
Bisa dipidana.
Negatif
Diatur dalam undang-undang;
Tidak dianggap masyarakat tercela;
Tidak bisa dipidana.

F. Kesalahan
Kesalahan dalam hukum pidana sangatlah penting, sehingga muncul adagium Tiada
pidana tanpa kesalahan. Kesalahan dalam arti luas memiliki pengertian yang sama dengan
pertanggung-jawaban dalam hukum pidana, sedangkan kesalahan dalam arti sempit memiliki
pengertian bahwa kesalahan yang berarti ke-alpaan. Unsur kesalahan dalam arti luas antara
lain:
a. Adanya kemampuan bertanggung-jawab dari si pelaku.
b. Hubungan batin antara si pelaku dengan perbuatannya, yang berupa kesengajaan
(dolus) atau kealpaan (culpa), inilah yang disebut dengan bentuk kesalahan.
c. Tidak adanya alasan yang menghapus kesalahan atau tidak ada alasan pemaaf dan
alasan pembenar.
G. Pertanggung-jawaban Pidana
Pertanggung-jawaban pidana dalam istilah asing disebut dengan teorekenbaardheid
atau criminal responsibility yang mengarah kepada pemidanaan dengan maksud untuk
menentukan apakah seseorang terdakwa atau tersangka mampu bertanggung-jawab atas suatu
tindakan pidana yang terjadi atau tidak. Untuk adanya pertanggung-jawaban pidana
diperlukan syarat bahwa pelaku mampu bertanggung-jawab. Tidak mungkin seseorang dapat
dipertanggung-jawabkan apabila ia tidak mampu untuk bertanggung-jawab.
Menurut Simons kemampuan bertanggung-jawab dapat diartikan sebagai suatu
keadaan psikis, yang membenarkan adanya penerapan sesuatu upaya pemidanaan, baik dilihat
dari sudut umum maupun dari orangnya, seseorang mampu bertanggung-jawab jika jiwanya
sehat dan apabila:

a) mampu untuk mengetahui atau menyadari bahwa perbuatannya bertentangan dengan


hukum;
b) Dapat menentukan kehendaknya sesuai dengan kesadaran.
Selain itu, Van Hammel berpendapat bahwa kemampuan bertanggung-jawab adalah
suatu keadaan normalitas psikis dan kemahiran yang membawa 3 kemampuan yaitu:
a) Mampu untuk mengerti nilai dari akibat perbuatannya sendiri;
b) Mampu untuk menyadari perbuatannya itu sesuai dengan pandangan masyarakat;
c) Mampu untuk menentukan kehendak atas perbuatannya tersebut.
H. Tambahan
Nebish in Idem adalah seseorang tidak boleh dituntut dua kali karena perbuatan yang
telah mendapat putusan yang telah berkekuatan hukum tetap.
Putusan bebas jika unsur delik tidak terpenuhi.
Putusan lepas jika unsur delik terpenuhi tetapi bukan merupakan tindak pidana.
Willen artinya menghendaki. Sedangkan weten artinya mengetahui.