Anda di halaman 1dari 38

Laporan Kasus

EPILEPSI

Oleh:
Asriandi Sumantri
Pembimbing: Dr. Yunni Diansari, Sp.S

STATUS PASIEN

IDENTIFIKASI

Nama : Tn. IB
Umur : 38 tahun
Jenis Kelamin: Laki-laki
Alamat : Kec. Sembawa, Kab. Banyuasin
Pendidikan : SLTA
Pekerjaan : Karyawan Balai Penelitian
Agama : Islam
No. RM : 928656

ANAMNESIS ( 23/12/2015 PUKUL 12.00 WIB)

Penderita berobat ke poli saraf RSMH


karena mengalami kejang yang berulang.

ANAMNESIS ( 23/12/2015 PUKUL 12.00 WIB)


1 tahun sebelum berobat ke RSMH penderita
mengalami kejang pertama kali saat beristirahat di
rumah, Kejang berlangsung selama 2 menit. Saat
kejang penderita tidak sadar, tangan penderita
mengepal, mata penderita melirik ke atas terusmenerus, lengan dan tungkai ekstensi serta kaku, lalu
diikuti dengan kelonjotan seluruh tubuh, keluar busa dari
mulut (+), keluarnya urin dan tinja saat kejang (+), lidah
tergigit (+). Sesaat sebelum kejang penderita sadar,
merasa pusing, dan mudah marah. Penderita baru sadar
2 jam setelah kejang. Penderita masih dapat mengingat
apa yang terjadi sebelum dan sesudah kejang.
Frekuensi kejang biasanya 4 kali dalam sebulan,
interval terpanjang antar bangkitan adalah 3 bulan.

ANAMNESIS ( 23/12/2015 PUKUL 12.00 WIB)

Penderita berobat ke RS Ernaldi Bahar


Palembang dan diberi 2 macam obat
tablet yang dimakan 2 kali sehari namun
tidak teratur. 14 hari sebelum berobat
ke RSMH penderita mengalami kejang saat
bekerja. Pola kejangnya sama seperti
sebelumnya. Penderita lalu berobat ke poli
saraf RSMH.

ANAMNESIS ( 23/12/2015 PUKUL 12.00 WIB)


Penderita tidak mengonsumsi obat-obat terlarang, obat
antihipertensi, dan antidepresan. Riwayat kejang
sebelumnya sejak 1 tahun yang lalu namun penderita
tidak teratur meminum obat anti epilepsi. Riwayat
kejang saat masih kecil disangkal. Riwayat kejang pada
keluarga disangkal. Riwayat trauma kepala disangkal.
Riwayat penyakit jantung disangkal. Riwayat
hipertensi, DM, dan stroke disangkal. Penderita
mengaku memiliki stres psikologis. Penderita
mempunyai riwayat sakit kepala sejak 1,5 tahun
yang lalu. Penderita dilahirkan secara normal.
Penyakit seperti ini diderita untuk yang kesekian
kalinya.

PEMERIKSAANFISIK
Status Internus
Kesadaran
: E4M6V5
Tekanan Darah : 120/80 mHg
Nadi
: 90 x/menit
Pernapasan
: 22 x/menit
Temperatur
: 36,7 oC
Berat Badan : 65 kg
Tinggi Badan : 170 cm

PEMERIKSAANFISIK
Status Neurologikus
KEPALA

Bentuk
: Normocephali

Ukuran
: Normal

Simetris
: Simetris

Hematom
: (-)

Tumor
: (-)

Deformitas
: (-)

Fraktur
: (-)

Nyeri fraktur
: (-)

Pembuluh darah : Tidak ada pelebaran

Pulsasi
: (-)

PEMERIKSAANFISIK
LEHER
Sikap
: Baik
Torticolis
: (-)
Kaku kuduk : (-)
Deformitas : (-)
Tumor
: (-)
Pembuluh darah: tidak ada pelebaran

PEMERIKSAANFISIK
Status Psikiatrikus
Sikap
: kooperatif
Perhatian
: ada
Ekspresi Muka : wajar
Kontak Psikik
: ada

PEMERIKSAANNERVICRANIALES

N.III
Pupil bulat, isokor, 3 mm/3 mm,
refleks cahaya +/+
N.III,IV,VI
OD
OS

PEMERIKSAANNERVICRANIALES

N.VII
Plica nasolabialis simetris
N.XII
Deviasi lidah (-)

Fungsi
Motorik

Lengan
kanan

Lengan kiri

Tungkai
kanan

Tungkai
kiri

Gerakan

Kekuatan

Tonus

Klonus
R. Fisiologis

R. Patologis

Fungsi sensorik : Tidak ada kelainan


Fungsi luhur
: Tidak ada kelainan
Fungsi vegetatif
: Tidak ada kelainan
GRM
:Gerakan abnormal : Gait dan keseimbangan: Dalam batas normal

PEMERIKSAANPENUNJANG

CT Scan Kepala : SOL di lobus frontalis


EEG
: tidak ada kelainan

DIAGNOSIS

Diagnosis Klinis
Epilepsi umum tonikklonik

Diagnosis Topik
Korteks serebri

Diagnosis menurut ILAE


1981
Bangkitan umum
tonik-klonik

Diagnosis Etiologi
Idiopatik

Diagnosis menurut ILAE


1989
Epilepsi dengan
bangkitan umum
tonik-klonik pada
saat terjaga

PENATALAKSANAAN

Nonfarmakologis
Edukasi
Diet ketogenik
Rencana MRI

Farmakologis
Dexamethasone
tablet 3 x 4 mg
Omeprazole 1 x 20
mg

PROGNOSIS

Quo
Quo

ad
ad

vitam
: Dubia et Bonam
functionam : Dubia et Bonam

TINJAUANPUSTAKA

DEFINISI
Epilepsi adalah kelainan otak yang ditandai dengan
kecenderungan untuk menimbulkan bangkitan epileptik yang
menerus, dengan konsekuensi neurobiologis, kognitif,
Definisi terus
psikologis, dan sosial, dengan syarat terjadinya minimal 1
konseptua kali bangkitan epileptik.

Epilepsi adalah suatu penyakit otak yang ditandai dengan


kondisi/gejala berikut:
Minimal terdapat 2 bangkitan tanpa provokasi atau 2
Definisi
bangkitan refleks
operasion Satu bangkitan tanpa provokasi atau 1 bangkitan refleks
Sudah ditegakkan diagnosis sindrom epilepsi

al

(PERDOSSI, 2014)

EPIDEMIOLOGI

20-50 pasien baru yang terdiagnosis


per 100.000 per tahunnya.
Perkiraan angka kematian pertahun
akibat epilepsi adalah 2 per 100.000.
Berdasarkan jenis kelamin di negara
Asia, dilaporkan prevalensi epilepsi
pada laki-laki sedikit lebih tinggi
daripada wanita.

ETIOLOGI

Idiopatik

Kriptogen
ik

Simtomat
ik

PATOFISIOLOGI
Fungsi neuron penghambat (inhibitorik)
kurang optimal sehingga terjadi pelepasan
impuls epileptik secara berlebihan, disebabkan
konsentrasi GABA yang kurang
Fungsi
neuron
eksitatorik
berlebihan
sehingga terjadi pelepasan impuls epileptik
yang berlebihan.
Pada dasarnya otak normal juga mempunyai
potensi
untuk
mengadakan
pelepasan
abnormal impuls epileptik.

KLASIFIKASI
Klasifikasi epilepsi berdasarkan jenis bangkitan (tipe serangan epilepsi) menurut
International League Against Epilepsy (ILAE) pada tahun 1981 :
Bangkitan parsial/fokal
a. Bangkitan parsial sederhana (kesadaran baik)
b. Bangkitan parsial kompleks (kesadaran terganggu)
c. Bangkitan parsial yang menjadi umum sekunder
Bangkitan umum
d. Absence (Lena)

Tipikal

Atipikal
a. Mioklonik
b. Klonik
c. Tonik
d. Atonik (Astatik)
e. Tonik-klonik
Bangkitan tak tergolongkan

KLASIFIKASI
Klasifikasi untuk epilepsi dan sindrom epilepsi menurut International
League Against Epilepsy (ILAE) pada tahun 1989 :
Epilepsi fokal/parsial
a. Idiopatik
b. Simtomatis
c. Kriptogenik
Epilepsi umum
d. Idiopatik
e. Kriptogenik
f. Simtomatik

Etiologi nonspesifik

Sindrom spesifik

Bangkitan epilepsi sebagai komplikasi penyakit lain


Epilepsi dan sindrom yang tak dapat ditentukan fokal atau umum
Sindrom Khusus

DIAGNOSIS BANDING

Bangkitan epileptik
Syncope
Nonepileptic disorder
Aritmia jantung
Serangan panik

PENEGAKANDIAGNOSIS

Anamnesis

Pemeriksaa
n Fisik

Pemeriksaa
n
Penunjang

PENATALAKSANAAN

Terapi
farmakologis

Terapi nonfarmakologis
Stimulasi N. Vagus

Obat Antiepilepsi

Deep Brain
Stimulation
Diet Ketogenik
Intervensi Psikologi

Jenis Bangkitan

OAE Lini Pertama

OAE Lini Kedua

OAE Lain yang dapat

OAE yang sebaiknya dihindari

dipertimbangkan
Bangkitan umum tonik Sodium Valproate

Clobazam

Clonazepam

klonik

Lamotrigine

Levetiracetam

Phenobarbital

Topiramate

Oxcarbazepine

Phenytoin

Carbamazepine
Bangkitan lena

Acetazolamide

Sodium Valproate

Clobazam

Carbamazepine

Lamotrigine

Topiramate

Gabapentin
Oxcarbazepine

Bangkitan mioklonik

Sodium Valproate

Clobazam

Carbamazepine

Topiramate

Topiramate

Gabapentin

Levetiracetam

Oxcarbazepine

Lamotrigine
Piracetam
Bangkitan tonik

Sodium Valproate

Clobazam

Phenobarbital

Carbamazepine

Lamotrigine

Levetiracetam

Phenytoin

Oxcarbazepine

Topiramate
Bangkitan atonik

Sodium Valproate

Clobazam

Phenobarbital

Carbamazepine

Lamotrigine

Levetiracetam

Acetazolamide

Oxcarbazepine

Topiramate
Bangkitan
dengan/tanpa
sekunder

fokal Carbamazepine

Phenytoin

Clobazam

Clonazepam

Gabapentin

Phenobarbital

Sodium Valproate

Levetiracetam

Acetazolamide

Topiramate

Phenytoin

Lamotrigine

Tiagabine

umum Oxcarbazepine

PROGNOSIS

Enam
tahun
setelah
ditegakkan
diagnosis, 40% pasien akan telah
mengalami keadaan bebas kejang
selama 5 tahun.
Prognosis yang relatif buruk dikaitkan
dengan kombinasi antara grand mal
dengan jenis kejang yang lain, epilepsi
traumatika, kumpulan episode, tandatanda fisik, dan retardasi mental.

ANALISIS KASUS
Kondisi Pasien

Kejang

Syncope

Nonepileptic

Aritmia

Serangan

disorder

jantung

panik

epileptik
Riwayat

Trauma

penyakit

Menggunakan

Wanita (3:1)

Penyakit

alkohol,

obat antihipertensi

Ada

jantung

dahulu:

ketergantungan

atau antidepresan

ketergantungan

kongenital

Riwayat kejang

obat,

1 tahun yang

demam

lalu, laki-laki.

berkepanjangan,

Riwayat

meningitis,

kepala.

sakit

kepala,

kejang
yang

encephalitis,
stroke,

riwayat

keluarga (+)

seksual dan fisik

Ansietas

ANALISIS KASUS
Kondisi Pasien

Kejang

Syncope

epileptik

Nonepileptic

Aritmia

Serangan

disorder

jantung

panik

Karakteristik

Streotipi,

Lightheadednes Gejala

klinis

paroksismal

menjelang

(detik),

serangan:

disertai aura

Penderita
pusing
mudah
marah

bisa Gejala visual


Gelap, kabur

tidak khas

awal Palpitasi

Ketakutan
Perasaan
tidak
realistis
Sulit

dan

bernafas,
kesemutan

ANALISIS KASUS
Kondisi Pasien

Kejang

Syncope

Nonepileptic

Aritmia

Serangan

disorder

jantung

panik

epileptik
Karakteristik

klinis

pada saat serangan:


Tidak sadar, tangan
mengepal,

mata

Gerakan: tonik Pucat


diikuti

dengan Bisa
gerakan jerking

melirik ke atas terus-

yang

menerus, lengan dan

(klonik)

tungkai

ekstensi

ritmis

kaku

Mirip

dan tetapi

menghentakhentak sebentar

otomatism

pelvis,

Cyanosis

tidak

menggigit lidahnya,
keluar

busa

pada

Bisa

terjadi

mulut, dan keluar

dimanapun dan

urin serta tinja

kapanpun

tidak

beraturan,

dengan

kelonjotan,

gerakan

lengan

serta kaku, diikuti


tubuh

Agitasi

disertai kejang epileptik, Bisa

Gerakan

kondisi

dengan Pucat

pengangkatan

Nafas

disertai
kaku

cepat
dan Kaku pada

menghenta tangan

kadang k-hentak

(carpoped

bergerak sebentar

al spasm)

sama sekali.

ANALISIS KASUS
Klasifikasi ILAE 1981 Bangkitan umum tonikklonik
Adanya gerakan tonik diikuti klonik

Klasifikasi ILAE 1989 Simtomatik, sindrom


spesifik
Simtomatik, karena pasien mengeluh sakit kepala
kronik & CT scan menunjukkan SOL di Lobus frontalis
Sindrom spesifik, karena bangkitan yang terjadi
diduga merupakan gejala dominan dari SOL

ANALISIS KASUS

Dexamethasone meringankan
nyeri kepala (kemungkinan karena
inflamasi di sekitar area SOL)
Omeprazole profilaksis terhadap
gastritis, yang mungkin terjadi pada
konsumsi dexamethasone
MRI untuk mengetahui jenis SOL

TERIMA KASIH