Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
A. DEFINISI
Tunarungu adalah kekurangan atau kehilangan kemampuan mendengar
yang disebabkan oleh kerusakan atau tidak berfungsinya sebagian atau seluruh
alat pendengaran sehingga dia mengalami hambatan dalam perkembangan
bahasanya. Kehilangan pendengaran pada anak tunarungu mengakibatkan
terhambatnya perkembangan anak, sehingga keadaan tersebut mempengaruhi
pada perkembangan intelegensi, bicara, emosi dan sosial si anak maupun pada
kepribadiannya.
Ada dua macam definisi ketunarunguan sesuai dengan tujuannya yaitu:
1. Secara medis adalah kekurangan dalam kemampuan mendengar yang
disebabkan oleh kerusakan dan non fungsi sebagian atau keseluruhan alat
pendengarannya
2. Secara pedadogis adalah kekurangan atau kehilangan kemampuan
pendengaran yang mengakibatkan hambatan dasar-dasar pendidikan sehingga
memerlukan bimbingan dan pendidikan khusus
Pengertian anak tunarungu adalah anak yang mengalami kekurangan atau
kehilangan kemampuan mendengar yang disebabkan karena disfungsi atau
kerusakan dari sebagian atau seluruh alat pendengaran, baik yang terjadi sejak
lahir maupun setelah kelahiran sehingga dalam perkembangan selanjutnya
memerlukan bimbingan dan pendidikan khusus.

B. ANATOMI FISIOLOGI TELINGA

1. Telinga luar
Telinga luar terdiri dari daun telinga (pinna, aurikula), saluran telinga
luar (meatus akustikus eksternus) dan selaput gendang (membrane tympani),
bagian telinga ini berfungsi untuk menerima dan menyalurkan getaran suara
atau gelombang bunyi sehingga menyebabkan bergetarnya membran tympani.
Meatus akustikus eksternus terbentang dari telinga luar sampai membrane
tympani. Meatus akustikus eksternus tampak sebagai saluran yang sedikit
sempit dengan dinding yang kaku. Satu per tiga luas meatus disokong oleh
tulang rawan elastis dan sisanya dibentuk oleh tulang rawan temporal. Meatus
dibatasi oleh kulit dengan sejumlah rambut, kelenjar Sebasea, dan sejenis
kelenjar keringat yang telah mengalami modifikasi menjadi kelenjar
seruminosa, yaitu kelenjar apokrin tubuler yang berkelok-kelok yang
mennnghasilkan zat lemak setengah padat berwarna kecoklat-coklatan yang
dinamakan serumen (minyak telinga). Serumen berfungsi menangkap debu
dan mencegah infeksi.
Pada ujung dalam meatus akustikus eksternus terbentang membrane
tympani. Dia diliputi oleh lapisan luar epidermis yang tipis dan pada
permukaan dalamnya diliputi oleh epitel selapis kubus. Antara dua epitel yang
melapisi terdapat jaringan ikat kuat yang terdiri atas serabut-serabut kolagen

dan elastin serta fibroblast. Pada kuadran depan atas membran atas tympani
tidak mengandung serabut dan lemas, membentuk membran shrapnell.
2. Telinga tengah
Telinga tengah merupakan suatu rongga kecil dalam tulang pelipis
(tulang temporalis) yang berisi tiga tulang pendengaran (osikula), yaitu
maleus (tulang martil), inkus (tulang landasan), dan stapes (tulang sanggurdi).
Ketiganya saling berhubungan melalui persendian . Tangkai maleus melekat
pada permukaan dalam membran tympani, sedangkan bagian kepalanya
berhubungan dengan inkus. Selanjutnya, inkus bersendian dengan stapes.
Stapes berhubungan dengan membran pemisah antara telinga tengah dan
telinga dalam, yang disebut fenestra ovalis (tingkap jorong/ fenestra
vestibule). Di bawah fenesta ovalis terdapat tingkap bundar atau fenesta
kokhlea, yang tertutup oleh membran yang disebut membran tympani
sekunder.
Telinga tengah dibatasi oleh epitel selapis gepeng yang terletak pada
lamina propria yang tipis yang melekat erat pada periosteum yang berdekatan.
Dalam telinga tengah terdapat dua otot kecil yang melekat pada maleus dan
stapes yang mempunyai fungsi konduksi suara . maleus, inkus, dan stapes
diliputi oleh epitel selapis gepeng.
Telinga tengah berhubungan dengan rongga faring melalui saluran
eustachius(tuba auditiva), yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan
tekanan antara kedua sisi membrane tympani. Tuba auditiva akan membuka
ketika mulut menganga atau ketika menelan makanan. Ketika terjadi suara
yang sangat keras, membuka mulut merupakan usaha yang baik untuk
mencegah pecahnya membran tympani. Karena ketika mulut terbuka, tuba
auditiva membuka dan udara akan masuk melalui tuba auditiva ke telinga
tengah, sehingga menghasilkan tekanan yang sama antara permukaan dalam
dan permukaan luar membran tympani.
3. Telinga dalam (labirin)

Telinga dalam merupakan struktur yang kompleks, terdiri dari


serangkaian rongga-rongga tulang dan saluran membranosa yang berisi cairan.
Saluran-saluran membranosa membentuk labirin membranosa dan berisi
cairan endolimfe,sedangkan rongga-rongga tulang yang di dalamnya berada
labirin membranosa disebut labirin tulang (labirin osseosa). Labirin tulang
berisi cairan perilimfe. Rongga yang terisi perilimfe ini merupakan terusan
dari rongga subarachnoid selaput otak, sehingga susunanz peri limfe mirip
dengan cairan serebrospinal. Labirin membranosa dilekatkan pada periosteum
oleh lembaran-lembaran jaringan ikat tipis yang mengandung pembuluh
darah. Labirin membranosa sendiri tersusun terutama oleh selapis epitel
gepeng dikelilingi oleh jaringan-jaringan ikat. Labirin terdiri atas tiga saluran
yang kompleks, yaitu vestibula, kokhlea (rumah siput) dan 3 buah kanalis
semisirkularis (saluran setengah lingkaran).
Vestibula merupakan rongga di tengah labirin, terletak di belakang
kokhlea dan di depan kanalis semisirkularis. Vestibula berhubungan dengan
telinga tengah melalui fenesta ovalis (fenestra vestibule). Vestibule bagian
membran terdiri dari dua kantung kecil, yaitu sakulus dan utikulus. Pada
sakulus dan utikulus terdapat dua struktur khusus yang disebut makula
akustika, sebagai indra keseimbangan statis (orientasi tubuh terhadap tarikan
gravitasi). Sel-sel reseptor dalam organ tersebut berupa sel-sel rambut, yang
didampingi oleh sel-sel penunjang. Bagian atas sel tersebut tertutup oleh

membran yang mengandung butir-butiran kecil kalsium karbonat (CaCO3)


yang disebut otolit. Perubahan posisi kepala yang menimbulkan tarikan
gravitasi, menyebabkan akan menyampaikan impuls saraf ke cabang
vestibular dari saraf vestibulokokhlear yang terdapat pada bagian dasar sel-sel
tersebut, yang akan meneruskan impuls saraf tersebut ke pusat keseimbangan
di otak.
Kanalis semisiskularis merupakan 3 saluran bertulang yang terletak di
atas belakang vestibula. Salah satu ujung dari masing-masing saluran tersebut
menggembung, disebut ampula. Masing-masing ampula berhubungan dengan
utrikulus. Pada ampula terdapat Krista akustika, sehingga organ indra
keseimbangan dinamis (untuk mempertahankan posisi tubuh dalam
melakukan respon terhadap gerakan). Seperti pada vestibula sel-sel reseptor
dalam krista akustika juga berupa sel-sel rambut yang didampingi oleh sel-sel
penunjang, tetapi di sini tidak terdapat otolit. Sel-sel reseptor disini
distimulasi oleh gerakanendolimfe. Ketika kepala bergerak akibat terjadinya
perputaran tubuh, endolimfe akan mengalir di atas sel-sel rambut. Sel-sel
rambut menerima ransangan tersebut dan mengubahnya menjadi impuls saraf.
Sebagai responnya, otot-otot berkonsraksi untuk mempertahankan
keseimbangan tubuh pada posisi yang baru.
Kokhlea membentuk bagian anterior labirin, terletak di depan
vestibula. Berbentuk seperti rumah siput, berupa saluran berbentuk spiral yang
terdiri dari 2 lilitan, mengelilingi bentukan kerucut yang disebut mediolus.
Penampang melintang kokhlea menunjukkan bahwa kokhlea terdiri dari tiga
saluran yang berisi cairan. Tiga saluran tersebut adalah:
a. Saluran vestibular (skala vestibular): di sebelah atas mengandung
perilimfe, berakhir pada tingkap jorong.
b. Saluran tympani (skala tympani): di sebelah bawah mengandung perilimfe
berakhir pada tingkap bulat.

c. Saluran kokhlear (skala media): terletak di antara skala vestibular dan


skala tympani, mengandung endolimfe.
Skala media dipisahkan dengan skala vestibular oleh membran
vestibularis (membran reissner), dan dipisahkan dangan skala tympani oleh
membran basilaris. Pada membran basilaris inilah terdapat indra pendengar,
yaitu organ corti. Sel reseptor bunyi pada organ ini berupa sel rambut yang
didimpingi oleh sel penunjang. Akson-akson dari sel-sel rambut menyusun
diri membentuk cabang kokhlear dari saraf vestibulokokhlear (saraf kranial ke
VIII) yang menghantarkan impuls saraf ke pusat pendengaran/ keseimbangan
di otak.
Getaran suara dapat sampai pada organ corti melalui lintasan sebagai
berikut: Getaran suara memasuki liang telinga menekan membran tympani
melintas melalui tulang-tulang pendengaran menekan tingkap jorong
Menimbulkan gelombang pada jaringan perilimfe menekan membran
vestibularis dan skala basilaris merangsang sel-sel rambut pada organ corti. Di
sinilah mulai terjadi pembentukan impuls saraf.
C. MEKANISME PENDENGARAN
Gelombang bunyi yang masuk ke dalam telinga luar menggetarkan
gendang telinga. Getaran ini akan diteruskan oleh ketiga tulang dengar ke jendela
oval. Getaran Struktur koklea pada jendela oval diteruskan ke cairan limfa yang
ada di dalam saluran vestibulum. Getaran cairan tadi akan menggerakkan
membran Reissmer dan menggetarkan cairan limfa dalam saluran tengah.
Perpindahan getaran cairan limfa di dalam saluran tengah menggerakkan
membran basher yang dengan sendirinya akan menggetarkan cairan dalam saluran
timpani. Perpindahan ini menyebabkan melebarnya membran pada jendela
bundar. Getaran dengan frekuensi tertentu akan menggetarkan selaput-selaput
Basiler, yang akan menggerakkan sel-sel rambut ke atas dan ke bawah. Ketika
rambut-rambut sel menyentuh membran tektorial, terjadilah rangsangan (impuls).

Getaran membran tektorial dan membran basiler akan menekan sel sensori pada
organ Korti dan kemudian menghasilkan impuls yang akan dikirim ke pusat
pendengar di dalam otak melalui saraf pendengaran.
Susunan dan Cara Kerja Alat Keseimbangan
Bagian dari alat vestibulum atau alat keseimbangan berupa tiga saluran
setengah lingkaran yang dilengkapi dengan organ ampula (kristal) dan organ
keseimbangan yang ada di dalam utrikulus clan sakulus.
Ujung dari setup saluran setengah lingkaran membesar dan disebutampula
yang berisi reseptor, sedangkan pangkalnya berhubungan dengan utrikulus yang
menuju ke sakulus. Utrikulus maupun sakulus berisi reseptor keseimbangan. Alat
keseimbangan yang ada di dalam ampula terdiri dari kelompok sel saraf sensori
yang mempunyai rambut dalam tudung gelatin yang berbentuk kubah. Alat ini
disebut kupula.Saluran semisirkular (saluran setengah lingkaran) peka terhadap
gerakan kepala.
Alat keseimbangan di dalam utrikulus dan sakulus terdiri dari sekelompok
sel saraf yang ujungnya berupa rambut bebas yang melekat padaotolith, yaitu
butiran natrium karbonat. Posisi kepala mengakibatkan desakan otolith pada
rambut yang menimbulkan impuls yang akan dikirim ke otak
D. KLASIFIKASI
Klasifikasi anak tunarung menurut Samuel A. Kirk :
a. 0 db

: Menunjukan pendengaran yang optimal

b. 0 26 db

: Menunjukan seseorang masih mempunyai pendengaran yang

optimal

c. 27 40 db : Mempunyai kesulitan mendengar bunyi bunyi yang jauh,


membutuhkan tempat duduk yang strategis letaknya dan memerlukan terapi
bicara . ( tergolong tunarungu ringan )

d. 41 55 db : Mengerti bahasa percakapan, tidak dapat mengikuti diskusi kelas,


membutuhkan alat bantu dengar dan terapi bicara. ( tergolong tunarungu
sedang )
e. 56 70 db : Hanya bisa mendengar suara dari jarak yang dekat, masih punya
sisa pendengaran untuk belajar bahasa dan bicara dengan menggunakan alat
Bantu dengar serta dengan cara yang khusus. (tergolong tunarungu berat )
f. 71 90 db : Hanya bisa mendengar bunyi yang sangat dekat, kadang kadang
dianggap tuli, membutuhkan pendidikan khusus yang intensif, membutuhkan
alat Bantu dengar dan latihan bicara secara khusus. ( tergolong tunarungu
berat )
g. 91 db : Mungkin sadar akan adanya bunyi atau suara dan getaran, banyak
bergantung pada penglihatan dari pada pendengaran untuki proses menerima
informasi dan yang bersangkutan diangap tuli ( tergolong tunarungu berat
sekali )

E. ETIOLOGI
Menurut saat terjadinya ketunarunguan dapat digolongkan menjaditiga, yaitu:
1. Masa Pre Natal

a. Masa pre natal tuna rungu dapat disebabkan oleh : Faktor Hereditas
(keturunan), Yaitu anak yang menderita tuna rungu karena diantara
keluarganya, terutama ayah dan ibunya atau kakek neneknya penderita
tuna rungu, jadi kecacatan atau tuna rungu itu berasal dari keluarganya.
b. Pada waktu ibu mengandung. Menderita suatu penyakit, misalnya
penyakit campak, cacar air, malaria, sehingga penyakit itu berpengaruh
pada anak yang dikandungnya dan dapat menganggu pendengaran anak.
c. Terjadinya kerancuan pada janin karena pengaruh obat. Ketika ibu
mengandung, kemudian ibu meminum obat terlalu keras misalnya dalam
jumlah besar.
2. Masa Natal
Ketunarunguan pada masa natal atau saat kelahiran bayi, ini
disebabkan oleh beberapa faktor antara lain : karena proses kalahiran ini
mengalami kesuburan sehingga memerlukan alat pertolongan dengan
menggunakan tangan, yang memungkinkan mengenai otak besar dan dalam
otak itu terdapat banyak saraf, salah satunya adalah otak saraf pendengaran,
yang mengakibatkan anak menjadi kurang pendengarannya.
3. Masa Past Natal
Adalah masa past natal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor
antara lain :
a. Karena penyakit : anak menderita panas yang sangat dan terlalu tinggi
akibatnya dapat melemahkan saraf pendengarannya.
b. Otitis media yang kronis.
c. Cairan otetis medis yang kurang menyebabkan kehilangan pendengaran
secara kondusif (tuli kondusif).
F. PATOFISIOLOGI

Suara sebagai gelombang getaran akan diterima oleh membrana tympani


dan getaran ini akan diteruskan oleh tulang-tulang pendengaran (maleus, incus,
dan stapes) di rongga telinga tengah. Selanjutnya akan diterima oleh oval
window dan diteruskan ke rongga cochlea serta dikeluarkan lagi melalui round
window. Rongga cochlea terbagi menjadi tiga ruangan, yaitu scala vestibuli,
scala tympani dan scala perilimfe dan endolimfe. Antara scala tympani dan scala
medial terdapat membran basilaris, sel-sel rambut dan serabut afferen dan efferen
nervuscochlearis. Getaran suara tadi akan menggerakkan membrana basilaris,
dimana nada tinggi diterima di bagian basal dan nada rendah diterima di bagian
apeks. Akibat gerakan membrana basilaris maka akan menggerakkan sel-sel
rambut dan terjadi perubahan dari energi mekanik ke chemoelectrical potensial
dan akan dibawa oleh serabut afferen nervus cochlearis ke inti dorsal dan ventral.
Kemudian menginhibisi input, bagian kontralateral bersifat mengeksitasi input.
Tetapi ada juga yang langsung ke nukleus lemniskus lateral. Dari kompleks
olivari superior serabutnya berjalan ke nukleus lemniskus lateralis dan sebagian
langsung ke colliculus inferior. Serabut-serabut ini membentuk lemniskus
lateralis. Dari colliculus inferior serabutnya berlanjut lagi ke corpus genikulatum
mediale (CGM) sebagai brachium colliculusinferior. Dari CGM ini serabutnya
berjalan ke korteks serebri di area acustikus (area Broadmann, 41, 42) dan
disadari sebagai rangsang pendengaran.
Degenerasi tulang-tulang pendengaran mengakibatkan hilangnya sel-sel
rambut pada basal kokhlea sehingga terjadi gangguan neuron-neuron kokhlea.
Gangguan ini akan mengakibatkan fungsi pendengaran menurun.
Bila salah satu dari orangtua menderita jenis ketulian yang bersifat
dominan, kemungkinan 50% dari anak-anak akan tuli. Hal ini terdapat pada 10%
dari semua jenis ketulian yang bersifat herediter, sedangkan 90% lainnya bersifat
resesif. Sedangkan Non Genetik dapat disebabkan karena gangguan/kelainan pada
masa kehamilan, kelainan struktur anatomi dan kekurangan zat gizi.

Kehamilan trimester I merupakan periode penting karena infeksi bakteri


maupun virus akan berakibat terjadinya ketulian. Infeksi yang sering
mempengaruhi pendengaran antara lain adalah infeksi TORCHS
(Toksoplasmosis, Rubella, Cytomegalovirus, Herpes, dan Sifilis), campak dan
gondok. Beberapa jenis obat ototoksik dan teratogenik seperti salisilat, kina,
gentamycin, streptomycin, dan lain-lain, juga mempunyai potensi menyebabkan
terjadinya gangguan proses pembentukan organ dan sel rambut pada rumah siput
(koklea). Malformasi struktur anatomi yang dikenal sebagai penyebab ketulian
antara lain adalah atresia liang telinga dan aplasia koklea.

G. MANIFESTASI KLINIK
A. Ciri-Ciri Khas Dalam Segi Fisik
a. Cara berjalan biasanya cepat dan agak membungkuk. Hal ini disebabkan
adanya kemungkinan kerusakan pada alat pendengaran bagian alat
keseimbangan
b. Gerakan matanya cepat, agak beringas. Hal ini menunjukkan bahwa ia
ingin menangkap keadaan sekitar sehingga anak tunarungu dapat disebut
manusia permata.
c. Gerakan anggota badannya cepat dan lincah. Hal tersebut kelihatan dalam
mengadakan komunikasi yang mereka cenderung menggunakan gerak
isyarat dengan orang sekitarnya, ole karena itu anak tunarungu dapat
dikatakan manusia motorik
B. Ciri-ciri Khas dalam Intelegensi
Pada anak tunarungu intelegensi tidak banyak berbeda dengan anak
normal pada umumnya. Ada yang memiliki intelegensi tinggi, rata-rata, dan
ada pula yang memang intelegensinya rendah. Sesuai dengan sifat

ketunarunguannya pada umumnya anak tunarungu sukar menangkap


pengertian-pengertian yang abstrak sebab dalam hal ini diperlukan
pemahaman yang baik akan bahasa, lisan mupun tulisan, sehingga pada
umumnya anak tunarungu dalam segi intelegensi dapat dikatakan: pada
umumnya anak tunarungu dalam segi intelegensi tidak berbeda dengan anak
normal pada umumnya, tetapi dalam hal intelegensi fungsional rata-rata lebih
rendah.
C. Ciri-ciri Khas dalam Emosi
Kekurangan pemahaman akan bahasa atau tulisan seringkali dalam
berkomunikasi menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan, sebab
menimbulkan kesalahpahaman yang dapat mengakibatkan hal yang negatif
dan menimbulkan tekanan emosinya
D. Ciri-ciri Khas dalam Segi Sosial
Dalam kehidupan sosial anak tunarungu memiliki kebutuhan yang
sama dengan anak biasa pada umumnya. Mendapat perlakuan yang kurang
wajar dari kehidupan sosialnya yaitu dari anggota keluarga dan masyarakat
sekitarnya dapat menimbulkan beberapa aspek sosial, yaitu: perasaan rendah
diri, diasingkan, perasaan cemburu, kurang dapat bergaul, mudah marah, dan
merasa diasingkan dari keluarga dan masyarakat sekitarnya
E. Ciri-ciri Khas dalam Segi Bahasa
Sesuai dengan kekurangan dan kelebihan anak tunarungu dalam
penguasaan bahasa memiliki ciri-ciri yaitu:
a. Miskin dalam Kosa Kata
b. Sulit dimengerti ungkapan-ungkapan bahasa yang mengandung irama
dalam bahasa
c. Sulit dimengerti ungkaan-ungkapan bahasa yang mengandung arti kiasan
H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK/PENUNJANG

Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk mengetahui kelainan


pendengaran seseorang. Adapun tes-tes yang dapat dilakukan untuk mengetahui
kelainan tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tes bisik (whisper test)
2. Tes detik jam
3. Apabila cara 1 dan 2 tidak bisa dilakukan pemeriksaan sebagai berikut:
apakah ada reaksi apabila anak itu dipanggil dari belakang atau dibunyikan
suara. Misalnya, suara bel, pecahan piring dan lain-lain
4. Tes mendengar suara

I. PENATALAKSANAAN/PENGOBATAN
1. Kehilangan pendengaran konduktif atau tuli hantaran sering dapat dikoreksi
dengan operasi
2. Setelah diketahui seorang anak menderita tunarungu upaya rehabilitasi harus
dilakukan sedini mungkin
3. Metode manual
a. Bahasa Isyarat
b. Abjad Jari (Finger Spelling/Finger Alphabet)

c. Metode Oral
d. Metode Komunikasi Total
e. Metode Modern

BAB II
ASUHAN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
1. Riwayat
a. Identitas klien
b. Riwayat adanya kelainan nyeri
c. Riwayat infeksi saluran nafas atas yang berulang

d. Riwayat alergi
e. OMA berkurang
2. Pengkajian Fisik
a. Nyeri telinga
b. Perasaan penuh dan penurunan pendengaran
c. Suhu meningkat
d. Malaise
e. Nausea Vomiting
f. Vertigo
g. Ortore
h. Pemeriksaan dengan otoskop tentang stadium
3. Pengkajian Psikososial
a. Nyeri otore berpengaruh pada interaksi
b. Aktifitas terbatas
c. Takut menghadapi tindakan pembedahan
4. Pemeriksaan Laboratorium
5. Pemeriksaan Diagnostik
a. Tes Audiometri: pendengaran menurun
b. X ray: terhadap kondisi patologi, misal: Cholesteatoma, kekaburan
mastoid
6. Pemeriksaan pendengaran
a. Tes suara bisikan
b. Tes garputala
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Perubahan persepsi sensori: pendengaran berhubungan dengan penurunan atau
kehilangan fungsi pendengaran
2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan efek penurunan atau
kehilangan pendengaran

3. Resiko cedera berhubungan dengan hilangnya fungsi pendengaran


4. Harga diri rendah berhubungan dengan gangguan pada pendengaran
5. Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Perubahan persepsi sensori: pendengaran berhubungan dengan penurunan atau
kehilangan fungsi pendengaran
Tujuan: memperbaiki komunikasi
Kriteria hasil: Klien dapat berkomunikasi secara perlahan dan mamapu
mendengar kata yang disebut
Intervensi keperawatan:
a. Mengurangi kegaduhan lingkungan
Rasional: mempermudah dalam mendengarkan suara-suara yang ada di
lingkungan sekitar
b. Memandang pasien ketika berbicara
Rasional: memungkinkan komunikasi dua arah antara perawat dengan
klien dapat berjalan dengan baik
c. Berbicara jelas dan tegas tanpa berteriak
Rasional: memungkinkan komunikasi dua arah antara perawat dengan
klien dapat berjalan dengan baik dan klien dapat menerima pesan perawat
secara tepat
d. Memberikan pencahayaan yang baik dan menggunakan tanda nonverbal
Rasional: pesan yang ingin disampaikan oleh perawat kepada klien dapat
diterima dengan baik oleh klien
e. Instruksikan anggota keluarga mengenai praktik yang efektif
Rasional: mempermudah anggota keluarga untuk berkomunikasi dengan
klien
f. Gunakan alat bantu dengar pada teinga

Rasional: mempemudah dalam mendengarkan suara-suara yang ada di


lingkungan sekitar serta dalam berkomunikasi
2. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan efek penurunan atau
kehilangan pendengaran
Tujuan: gangguan komunikasi berkurang/dapat diatasi
kriteria hasil: klien akan memakai alat bantu dengar (jika sesuai). Menerima
pesan melalui metoda pilihan (misal: komunikasi tulisan, bahasa lambang,
berbicara dengan jelas pada telinga yang bak).
Intervensi Keperawatan:
a. Kaji kemampuan untuk menerima pesan secara verbal
1) Jika ia dapat mendengar pada suatu telinga, berbicara dengan perlahan
dan dengan jelas langsung ke telinga yang baik (hal ini lebih baik
daripada berbicara dengan keras)
a) Tempatkan klien dengan telinga yang baik berhadapan dengan pintu
b) Dekati klien dari sisi telinga yang baik
2) Dapatkan apa metode komunikasi yang diinginkan dan catat pada
rencana perawatan metode yang digunakan oleh staf dan klien, seperti:
tulisan, berbicara, bahasa isyarat.
Rasional: dengan mengetahui metode komunikasi yang diinginkan
oleh klien maka metode yang akan digunakan dapat disesuaikan
dengan kemampuan dan keterbatasan
3) Jika klien dapat membaca ucapan:
a) Lihat langsung pada klien dan bicaralah lambat dan jelas
b) Hindari berdiri di depan cahaya karena dapat menyebabkan klin
tidak dapat membaca bibir anda
4) Perkecil distraksi yang dapat menghambat konsentrasi klien
a) Minimalkan percakapan jika klien kelelahan atau gunakan
komunikasi tertulis
b) Tegaskan komunikasi penting dengan menuliskannya

5) Jika ia hanya mampu bahasa isyarat, sediakan penerjemah. Alamatkan


semua komunikasi pada klien, tidak kepada penerjemah. Jadi seolaholah perawat sendiri yang langsung berbicara kepada klien dengan
mengabaikan keberadaan penerjemah
Rasional: pesan yang disampaikan oleh perawat kepada klien dapat
diterima dengan baik oleh klien
b. Gunakan faktor-faktor yang meningkatkan pendengaran dan pemahaman
1) Bicara yang jelas, menghadap individu
2) Ulangi jika klien tidak memahami seluruh isi pembicaraan
3) Gunakan rabaan dan isyarat untuk meningkatkan komunikasi
4) Validasi pemahaman individu dengan mengajukan pertanyaan yang
memerlukan jawaban lebih dari yan dan tidak
Rasional: memungkinkan komunikasi dua arah antara perawat dengan klien
dapat berjalan dengan baik dan klien dapat menerima pesan perawat secara
tepat

3. Resiko cedera berhubungan dengan hilangnya fungsi pendengaran


Tujuan: tetap bebas dari cedera yang berkaitan dengan terjatuh
Kriteria hasil:
a. menunjukkan perubahan perilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor
resiko dan untuk melindungi diri dari cedera
b. mengubah lingkungan sesuai dengan indikasi untuk meningkatkan
keamanan
intervensi keperawatan:
a. kaji seberapa besar penurunan fungsi pendengaran klien
rasional: riwayat memberikan dasar untuk intervensi selanjutnya

b. kaji seluasnya ketidakmampuan dalam hubungannya dengan aktivitas


hidup sehari-hari. Rasional: menurunkan resiko jatuh
c. gunakan alat bantu dengar pada telinga
rasional: mempermudah dalam mendengarkan suara-suara yang ada di
lingkungan sekitar
d. orientasikan lingkungan yang tenang dan aman
rasional: meningkatkan keamanan mobilitas dalam lingkungan
4. harga diri rendah berhubungan dengan gangguan pada pendengaran dan bicara
tujuan: gangguan harga diri rendah klien akan berkurang/hilang
kriteria hasil: klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
intervensi keperawatan:
a. bina hubungan saling percaya dengan komunikasi terpeutik
rasional: untuk menjalin rasa percaya
b. dorong klien untuk menyajikan pertanyaan mengenai masalah kesehatan,
pengobatan, dan kemajuan pengobatan dan kemungkinan hasilnya
rasional: agar klien merasa ada harapan yang kuat untuk sembuh
c. dorong klien untuk menyatakan perasaannya, terutama tentang cara ia
merasakan, brfikir dan memandang dirinya. Hindari mengkritik
rasional: supaya klien tidak terbebani sendiri dengan keadaan yang
dialaminya
d. jaga privasi dan lingkungan individu
rasional: agar klien tidak minder sewaktu bersosialisasi
e. tingkatkan interaksi sosial klien
rasional: agar klien merasa nyaman
f. berikan informasi yang dapat dipercaya dan kejelasan informasi
rasional: agar klien merasa nyaman ketika berhubungan sosial dengan
orang lain
g. dorong klien dan keluarga untuk menerima keadaan

rasional: agar klien mengerti tindakan untuk menanggulangi masalah


kesehatannya dan klien merasa nyaman dan tidak terbebani karena
masalah kesehatannya
5. kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
tujuan: klien mengetahui tentang tunarunguan
kriteria hasil: klien menyatakan pemahaman akan tunarungu yang dideritanya
dan klien mampu melakukan perubahan pola hidup
intervensi keperawatan:
a. kaji tingkat pengetahuan klien tentang tunarungu
rasional: memudahkan dalam pemberian pemahaman tentang tunarungu
dengan tingkat pengetahuannya
b. berikan penjelasan pada klien dan keluarga tentang tunarungu yang
dideritanya
rasional: dengan memberi penjelasan tentang tunarungu klien dapat
mengerti dan menghindari segala pantangannya
c. libatkan klien dan keluarga dalam perawatan dan pengobatan
rasional: keterliabatan klien menambah pengetahuan klien dan keluarga
dan mempercepat penyembuhan

DAFTAR PUSTAKA

IGAK Wadani, dkk (2002), Pengantar Pendidikan Luar Biasa, Jakarta : Pusat Penerbitan
Universitas Terbuka.
Johnson, BH & Skjorten, D miriam (2004), Pendidikan Kebutuhan Khusus, Sebuah
Pengantar, terjemahan, Bandung :Pascasarjana UPI
Depdiknas. (2006). Program Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa . Jakarta : Direktorat
PSLB
Moh Amin (1985), Ortopedagogik Anak Tunarungu, Jakarta : Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi.