Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan dan kekuatan jasmani merupakan salah satu dari sejumlah
syarat mutlak yang wajib di miliki oleh seorang atlet sepak bola, mengingat
beratnya latihan dan kontak badan antar pemain bertumpu pada fisik. Oleh karena
itu di lakukanlah serangkaian kegiatan fisik setiap harinya berupa lari, push up, sit
up, pull up, menendang bola, menggiring bola. Tidak jarang serangkaian latihan
dan pertandingan menimbulkan cidera fisik. Cidera fisik dapat mengakibatkan
terganggunya sistem muskulosletal yang meliputi otot, tulang, sendi, tendon,
ligamentum serta jaringan ikat yang mendukung dan mengikat jaringan dan
organ bersama-sama(Spinder & Rick,2007). Salah satu cidera yang diakibatkan
dari serangkaian kegiatan tersebut adalah ruptur anterior cruciatum ligament(ACL).
Ruptur adalah robeknya atau koyaknya jaringan yang di akibatkan
karena trauma (Dorland,2002). Anterior cruciatum ligamen (ACL) adalah salah satu
dari empat ligamentum utama di dalam lutut yang menghubungkan tulang tibia dan
femur. Fungsi utama ligamentum ini adalah untuk mencegah tulang tibia bergeser
ke arah depan dari tulang femur dan untuk mengontrol gerakan rotasi dari lutut.
Oleh karena itu, ruptur ACL dapat mengakibatkan sendi lutut menjadi tidak stabil
sehingga tulang tibia dapat bergerak secara bebas.
Ruptur anterior crusiatum ligamentum (ACL) sering terjadi pada kegiatan
olahraga yang
menghentikan

pada
gerakan,

dasarnya

terdapat

gerakan

jongkok,

memutar,

dan melompat. Berdasarkan penelitian Kaiser (Hewet

&Timoty , 2007) olahraga seperti football, baseball, basket, dan sepak boladan ski
terdapat 78% cidera ligamen cruciatum anterior menyertai dalam kegiatan
olahraga. Oleh karena itu, bagi pemain bola yang melakukan kegiatan latihan
fisik yang pada dasarnya termasuk high impact memiliki kecenderungan besar
untuk mengalami cedera ruptur anterior cruciate ligament (ACL)
Berdasarkan laar belakang dan data tersebut si atas, penulis berpendapat
bahwa rupture acl masih memerlukan berbagai penanganan secara konprehensif dan
keikutsertaan klien dan keluarga sangat membantu dalam upaya memperoleh derajat
kesehatan yang optimal. Untuk itu, penulis ingin mengetahui dan memahami lebih
lanjut tentang penanganan/asuhan terhadap klien dengan Rupture ACL yang
tersusun sebagai makalah dengan judul Asuhan keperawatan pada klien Tn S
dengan Rupture ACL di Pav. Lukas Kamar 9-1 RS. RK. Charitas.

B. Ruang Lingkup Penulisan


Ruang lingkup penulisan makalah ini terbatas pada pemberian Asuhan
keperawatan pada klien Tn S dengan Rupture ACL di Pav. Lukas Kamar 9-1 RS.
RK. Charitas Palembang meliputi tahap pengkajian, perencanaan, diagnosa,
implementasi, dan evaluasi.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan umum
Memahami dan menerapkan asuhan keperawatan pada klien Tn S dengan
Rupture ACL secara komprehensipf meliputi aspek biopsikososio spiritual
2. Tujuan khusus
Melalui pendekatan proses keperawatan aspek biopsikososio spiritual
diharapkan siswa mampu:
a.

Mampu melaksanakan pengkajian terhadap klien Tn S dengan Rupture ACL

b.

Mampu mendiagnosa keperawatan sesuai dengan prioritas masalah.

c.

Mampu membuat rencana tindakan dan rasional dalam praktek nyata sesuai
dengan masalah yang diprioritaskan.

d.

Mampu melaksanakan tindakan dalam praktek nyata sesuai dengan masalah


yang telah diprioritaskan.

e.

Mampu menilai dan mengevaluasi hasil dari tindakan yang telah dilaksanakan
pada klien hipertensi.

f.

Mampu mendokumentasikan rencana tindakan asuhan keperawatan yang telah


dilaksanakan.

D. Metode Penulisan
Metode yang digunakan adalah melalui pendekatan studi kasus, yaitu metode
yang memberikan gambaran terhadap suatu kejadian atau keadaan yang sedang
berlangsung melalui proses keperawatan. Adapun teknik-teknik yang digunakan
untuk memperoleh data dan informasi dengan cara:
1. Wawancara
Penulis mengadakan wawancara dengan klien, keluarga, dan petugas
kesehatan lain untuk mendapatkan data subjektif dari klien.
2. Studi Dokumentasi
Data-data yang dudapatkan dari rekam medis klien di ruangan, seperti
catatan keperawatan, catatan dokter, dan tim kesehatan lain.
3. Studi Kepustakaan
Untuk mendapatkan literatur dan tinjauan teoritis, baik mengenai konsep
dasar penyakit maupun konsep asuhan keperawatan.

4. Observasi
Melaksanakan asuhan keperawatan secara langsung pada klien dan
mengamati langsung perubahan-perubahan yang terjadi untuk memperoleh data
serat mencatat hal-hal penting termasuk pemeriksaan fisik
5. Pemeriksaan fisik meliputi:
a. Inspeksi adalah pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara melihat apakah
terdapat luka, ada tidaknya hematom, dan lain-lain.
b.

Palpasi adalah pemeriksaan fisik dilakukan dengan cara meraba, yaitu apakah
ada masa atau tidak.

c.

Perkusi adalah pemeiksaan fisik dilakukan dengan cara mengetuk dengan


menggunakan reflek hammer.

d.

Auskultasi adalah pemeriksaan fisik dilakukan dengan mendengarkan dengan


menggunakan stetoskop.

E. Sistematika Penulisan
Penulis membangi penulisan makalah ini dalam 4 BAB, yang terdiri dari:
Bab I : Pendahuluan, terdiri dari latar belakang masalah, ruang lingkup penulisan,
tujuan penulisan, metode penulisan, serta sistematika penulisan.
Bab II : Tinjauan teoritis, yang terdiri dari konsep dasar medis yang terdiri dari
definisi, anatomi dan fisiologi, etiologi, manifestasi klinik, patofisiologi,
penatalaksanaan medis, dan konsep dasar asuhan keperawatan.
Bab III : Tinjauan kasus, yang terdiri dari 5 tahapan proses keperawatan mulai dari
pengakajian, dignosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.
Bab IV: Penutup, berisi kesimpulan dan saran penulis terhadap hasil asuhan
keperawatan pada klien Tn S dengan Rupture ACL.

BAB II
TINJAUAN TEORI

I.

Konsep Dasar Medis


A. Pengertian
Isltilah awam cedera ligamen yang paling umum ialah terkilir, dan terjadi
ketika jaringan ikat ini diduga membentang melewati kapasitas normal. Hal ini
sering bercampur dengan regangan, yang ketika otot telah membentang terlalu
jauh. Terkilir sering disebabkan oleh gerakan tiba-tiba dan kekerasan atau dengan
teknik peregangan yang tidak tepat. Ketika ligamen rusak lebih parah, dapat robek
atau pecah, mengalami cedera yang lebih serius. Karena ligamen memainkan
peran penting dalam menstabilkan sendi, sehingga sangat rentan terhadap cedera
jika penggunaannya berlebihan atau pegerakan yang tiba-tiba. Banyak atlet
profesional melukai lutut, siku, dan bahu terutama karena tindakan yang diambil
sambil berlari, melompat, melempar , dan lain sebagainya.
Cedera ACL (anterior cruciate ligament) atau ACL rupture adalah robekan di
salah satu ligamen lutut yang menghubungkan tulang kaki atas dengan tulang kaki
bagian bawah. ACL menjaga kestabilan lutut.Ruptur ACL seringkali terjadi pada
atlet olahraga dengan high-impact.
B. Klasifikasi
Cedera ligament yang berkenaan dengan "Sprain" dapat diklasifikasikan sebagai
berikut :
1. Grade 1 Sprain : ligamen sedikit tertarik namun masih mampu menjaga
kesetabilan sendi lutut.
2. Grade 2 Sprain : Ligamen tertarik dengan hebat dan membuat sendi lutut
menjadi longgar/tidak setabil
3. Grade 3 Sprain : ligamen mengalami sobekan total bahkan hingga terputus
sehingga sendi lutut kehilangan kesetabilan.
(rthoinfo.aaos.org/26 June 2014/13:29).
Sedangkan menurut Giam (1993:137) tingkatan dalam cedera olahraga
dikelompokkan sebagai berikut :
1. Cedera ringan merupakan cedera dengan robekan yang hanya dapat dilihat
dengan mikroskop, sedikit keluhan, dan tidak mengganggu performance atlet,
misalnya : lecet, memar, atau robek ligamen kecil.
2. Cedera sedang adalah cedera dengan kerusakan jaringan, menimbulkan rasa
nyeri, bengkak, merah, atau panas dengan menimbulkan gangguan fungsi dan
mempengaruhi performance atlet, misalnya : robek otot, dan robek ligament.
3. Cedera berat yaitu cedera dengan robekan otot atau ligamen secara lengkap
atau hampir lengkap atau faktur tulang yang memerlukan istirahat total,
pengobatan intesif, bahkan operasi.

C. Anatomi Fisiologi
1. Anatomi

Ligamentum

Cruciatum

Anterius

berada

di

dalam

septum

intercondylicum (celah dalam rongga sendi lutut), berjalan dari coraniolateral


ke caudomedial yaitu dari facies medialis condylus leteralis femoris ke
tuberculum intercondyloideum tibiale dan fossa intecodyloidea anterioc (Tim
Anatomi,2012).

ACL istilah cruciate berasal dari kata crux yang artinya (menyilang)
dan crucial (sangat penting).Cruciate ligament saling bersilangan satu sama
yang lain. Menyerupai huruf X. ACL adalah stabelizer untuk knee joint pada
aktivitas pivot. ACL mula berkembang pada minggu ke 14 usia gestasi,
berukuran sebesar jari kita dan panjangnya rata-rata 38mm dan lebar rata-rata
10 mm, dan dapat menahan tekanan seberat 500 pon sekitar 226kg.
Ligamentum ini melekat pada area intercondylaris anterior tibiae dan
berjalan kearah atas, kebelakang dan lateral untuk melekat pada bagian
posterior permukaan medial condylus lateralis femoris. Ligamentum ini akan

mengendur bila lutut ditekuk dan akan menegang bila lutut diluruskan
sempurna. Ini tidak hanya mencegah anterior translasi dari tibia pada femur
tetapi juga memungkinkan untuk helicoid biasa tindakan lutut, sehingga
mencegah kemungkinan untuk patologi meniscal. Ini terdiri dari dua bundel,
sebuah bundel anteromedial, yang ketat di fleksi, dan bundel posterolateral,
yang lebih cembung dan ketat dalam ekstensi.
Suplai vaskuler ACL berasal dari arteri geniculate middle, serta dari difusi
melalui

sheath

sinovial

nya

persarafan

dari

ACL

terdiri

dari

mechanoreceptors berasal dari saraf tibialis dan memberikan kontribusi untuk


proprioseptifnya, serabut rasa nyeri dalam ACL yang hampir tidak ada,ini
menjelaskan mengapa ada rasa sakit yang minimal setelah ruptur ACL akut
sebelum pengembangan hemarthrosis yang menyakitkan.
2. Fisiologi
Dari ligamen lutut, cruciates adalah yang paling penting dalam
menyediakan pengekangan pasif untuk anterior / posterior gerakan lutut.
Jika salah satu atau kedua cruciates

terganggu,

kegiatan jalan mungkin terganggu. Fungsi

biomekanik selama

utama dari ACL adalah

untuk mencegah translasi anterior dari tibia, dalam ekstensi penuh, ACL
menyerap 75% muatan anterior dan 85% antara 30 dan 90 fleksi.
Selain itu, fungsi lain ACL termasuk melawan rotasi internal tibia dan
varus / valgus angulasi dari tibia dengan adanya cedera ligamen kolateral,
hilangnya

ACL

menyebabkan

penurunan

magnitude

pada

coupled

rotasi selama fleksi, dan lutut yang tidak stabil. Kekuatan tarik ACL sekitar
2200N tetapi berubah dengan usia dan beban berulang.

D. Etiologi
Penyebab cedera ACL dapat ditimbulkan oleh berbagai aktivitas (tidak
hanya aktivitas olahraga). Penyebab cedera berdasarkan betapa sering aktivitas
tersebut menyebabkan cedera ACL dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Gerakan Berputar yang terlalu cepat dan tidak normal (Non-Contact)
2. Lutut berpilin saat mendarat
3. Kontak atau benturan langsung(Diktat Anatomy, 2012).
Sedangkan Menurut Robert G. Mark MD dalam bukunya yang berjudul
"The ACL Solution", di jelaskan urutan penyebab terjadinya cedera ACL sebagai
berikut:
1. Cutting and Pivoting Sport

Kebanyakan pemicu cedera ACL pada atlet berasal dari situasi noncontac (sekitar 70%). biasanya terjadi saat atlet mendarat setelah melakukan
lompatan, merubah arah dengan cepat untuk menghindari pemain lawan, atau
saat atlet melakukan gerakan berhenti secara mendadak (Mark &
Mykleburst,2012).
2. Usia
Usia muda merupakan kelompok penyumbang angka cedera ACl
tertinggi. Faktornya adalah karena mereka melakukan banyak aktivitas fisik
dalam kegiatan sehari - hari maupun dalam latihan olahraga kesehatan atau
prestasinya. American Academy of Orthopaedic memberikan data bahwa dari
2000 operasi yang dilakukan untuk cedera ACL kebayakan pasien dalam
range usia 15 - 25 tahun (Mark & Mykleburst,2012).
3. Jenis Kelamin
Studi menjelaskan bahwa wanita yang aktiv dalam "Cutting Sport"
-sepak bola, bola basket, dll- memiliki 6 kali resiko lebih tinggi untuk
menderita cedera ACl dibanding pria dengan jenis olahraga yang sama.
Sebagian besar dari wanita yang menderita ACL yakni pada usia 12 - 18 tahun
(Mark & Mykleburst,2012). Penyebabnya adalah, secara anatomi kondisi
"Valgus" wanita lebih lunak dari pada pria. Itu yang menyebabkan wanita
memiliki resiko terkena cedera ACl lebih tinggi dibanding dengan pria. Selain
itu, faktor tingginya hormon esterogen pada siklus menstruasi membuat
kekompakkan sendi menurun, sendi menjadi lebih tidak setabil.

E. Patofisiologi
Dari ligamen lutut, cruciates adalah yang paling penting dalam menyediakan
pengekangan pasif untuk anterior / posterior gerakan lutut. Jika salah satu atau
kedua cruciates terganggu, biomekanik selama kegiatan jalan mungkin terganggu.
ACL, seperti semua ligamen lain, terdiri dari tipe kolagen. Ultrastruktur ligament
sangat mirip dengan tendon, tetapi serat didalam ligamen lebih bervariasi dan
memiliki isi elastin yang lebih tinggi. Ligamen menerima suplai darah dari lokasi
insersinya. Vaskularisasi dalam ligamen adalah seragam, dan ligamen

masing-

masing berisi mechanoreceptors dan ujung saraf bebas yang diduga membantu
dalam menstabilkan sendi. Ruptur ACL yang paling umum, adalah ruptur
midsubstan. Jenis ruptur ini terjadi terutama sewaktu ligamentum ditranseksi oleh
condillus femoral lateral yang berputar. ACL menerima suplai darah kaya, teruta
manya

dari arteri geniculate

medial, sewaktu

biasanya berkembang dengan cepat.

ACL pecah, haemarthrosis

F. Manifestasi Klinis
Pasien selalunya merasa atau mendengar bunyi "pop" di lutut pada saat
cedera yang sering terjadi saat mengganti arah, pemotongan, atau pendaratan dari
melompat (biasanya kombinasi hiperekstensi /poros). Ketidakstabilan mendadak
di lutut (lutut terasa goyah). Hal ini bisa terjadi setelah lompatan atau perubahan
arah atau setelah pukulan langsung ke sisi lutut. Nyeri di bagian luar dan belakang
lutut.
Lutut bengkak dalam beberapa jam pertama

dari cedera. Ini mungkin

merupakan tanda perdarahan dalam sendi. Pembengkakan yang terjadi tiba-tiba


biasanya merupakan tanda cedera lutut serius.

Gerakan lutut terbatas karena

pembengkakan dan / atau rasa sakit.


Kebanyakan cedera pada ACL dapat didiagnosis melalui anamnesa yang
cermat menekankan mekanisme kejadian cedera ditambah dengan pemeriksaan
fisik yang sesuai. Pastikan anamnesa mencakup mekanisme kejadian cedera
sekarang dan kejadian sebelumnya jika ada.
G. Komplikasi
Orang yang mengalami cedera ACL berada pada risiko lebih tinggi terkena
osteoartritis lutut, dimana tulang rawan sendi memburuk dan permukaan halusnya
menjadi kasar. Arthritis dapat tetap terjadi meskipun Anda telah menjalani operasi
untuk merekonstruksi ligamen.
H. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Gerakan Sendi Lutut
Pemeriksaan gerakan sendi lutut sangat penting karena setiap kelainan
pada lutut akan memberikan gangguan pergerakan lutut. Pada pemeriksaan
perlu diketahui apakah gerakan disertai nyeri atau krepitasi. Secara normal
gerakan fleksi pada sendi lutut sebesar 120-145 derajat dan gerakan ekstensi 0
derajat dan mungkin ditemukan hiperekstensi sebesar 10 derajat.
Uji stabilitas sendi lutut yang dapat dilakukan :
a. Pemeriksaan ligamentum kolateral medial dan lateral
Robekan pada ligamentum kolateral medial dapat diperiksa melalui
uji abduction stress dan pada ligamentum kolateral lateral melalui uji
adduction stress. Pada pemeriksaan ini sendi lutut dalam keadaan ekstensi
penuh, satu tangan pemeriksa memegang pergelangan kaki dan satunya
pada lutut. Dengan kedua tangan dilakukan abduksi untuk menguji
ligamentum medial, dan adduksi untuk menguji lgamentum lateral.
Apabila terdapat robekan pada ligamentum kolateral maka dapat
dirasakan sendi bergerak melebihi batas normal.

b. Pemeriksaan ligamentum krusiatum anterior dan posterior


Kedua ligamentum ini berfungsi untuk stabilisasi sendi lutut karah
depan dan belakang. Ligamentum krusiatum anterior berfungsi untuk
mencegah tibia tergelincir ke depan femur, sedangkan ligamentum
krusiatum posterior pada arah sebaliknya.
Cara pemeriksaan :
1) Uji Drawer
Lutut difleksikan 90 derajat dan pemeriksa duduk pada kaki
pasien untuk mencegah gerakan kaki. Dengan meletakkan kedua
tangan di belakang tibia bagian proksimal dan kedua ibu jari pada
kondilus femur, kemudian dilakukan tarikan pada tibia ke depan dan
ke belakang. Kecurigaan adanya robekan pada ligamentum
krusiatum apabila ada gerakan yang abnormal, baik ke depan
ataupun ke belakang.
2) Uji Lachman
Pada pemeriksaan ini lutut difleksikan 15-20 derajat. Satu
tangan memegang tungkai atas pada kondilus femur, sedangkan
tangan lainnya memegang tibia proksimal. Kedua tangan kemudian
digerakkan ke depan dan belakang antara tibia proksimal dan femur.
3) Pemeriksaan pivot shift lateral
Pemeriksaan ini merupakan pemeriksaan tambahan untuk
mengetahui defisiensi pada ligamentum krusiatum anterior. Caranya
kaki yang mengalami kelainan diangkat, Dimana kaki kanan
diangkat tangan kanan dan kaki kiri diangkat dengan tangan kiri dan
lutut dalam keadaan ekstensi maksimal. Dengan satu tangan
pemeriksa memutar dari arah luar tungkai bawah persis di sebelah
bawah lutut sehingga terjadi tekanan valgus. Pada saat yang
bersamaan tibia dirotasi ke medial. Selanjutnya lutut difleksi secara
perlahan-lahan dari posisi ekstensi. Pemeriksaan positif apabila
kondilus lateralis tibialis terelokasi secara spontan pada kondilus
femur ketika fleksi mencapai 30-35 derajat.
2. Pemeriksaan Radiologi
Foto polos dapat memperlihatkan bahwa ligamen telah mengavulsikan
sepotong tulang kecil ligamen medial biasanya dari femur, ligamen lateral
dari fibula, ligamen krusiatum anterior dari spina tibia dan krusiatum posterior
dari bagian belakang tibia atas. Film tekanan (kalau perlu dibawah anestesi)
dapat menunjukkan apakah engsel sendi terbuka ke satu sisi.

3. Pemeriksaan Artroskopi
Bila terjadi robekan hebat pada ligamen kolateral dan kapsul, artroskopi tidak
boleh dilakukan karena ekstravasasi cairan akan menghambat diagnosis dan
menyulitkan prosedur selanjutnya. Indikasi utama untuk melakukan artroskopi
adalah pada robekan ligamentum krusiatum terisolasi yang dicurigai, dan pada
sprain yang lebih ringan untuk menyingkirkan cedera internal lain misalnya
robekan meniskus, yang (kalau ada) dapat ditangani seketika itu juga.

I. Penatalaksanaan
1. Terapi Operasi
Pembentukan ligament. Kebanyakan ACL yang robek tidak boleh di
jahit dan disambung semula. Untuk membolehkan reparasi dari ACL untuk
restorasi stabilitas lutut adalah rekonstruksi dari ligament tersebut. Ligament
tersebut akan di ganti dengan graft jaringan ligament. Graft tersebut akan
menjadi dasar untuk ligament yang baru untuk tumbuh.
Graft tersebut diambil dari beberapa sumber. Selalunya dari tendon
patella, yang merupakan sambungan patella dan tibia. Tendon hamstring pada
posterior pada juga sering digunakan. Kadang tendon kuadrisep yang
insersinya dari patella ke paha dapat digunakan. Graft dari kadaver (allograft)
juga dapat digunakan. Penyembuhan semula mengambil masa sekurangkurangnya 6bulan sebelum atlit dapat berolahraga setelah operasi.
Tindakan operasi untuk rekonstruktif ACL dapat digunakan dengan
arthroscopi dengan insisi yang kecil. Opperasi artroskopi kurang invasive.
Kelebihan dari artroskopi adalah kerana kurang invasive,kurang nyeri, masa
rawat inap lebih pendek dan penyembuhan lebih cepat.
Tehnik ini telah dilakukan lebih dari 200 kali sejak tahun 2007. Tehnik
operasi ini sangat populer di USA, Eropa dan Jepang karena dengan tehnik
ini, hasilnya sangat memuaskan pasien. Saat ini tehnik operasi ini dipakai
sebagai standard untuk operasi cedera ACL atlet-atlet papan atas kelas dunia,
misalnya Tiger Wood.
Setelah luka bedah disembuhkan oleh pasien maka akan menjadwalkan
pertemuan pertama mereka dengan seorang fisioterapis. Terapis fisik untuk
mengembangkan rencana untuk mengobati pasien. Tujuan utama awal untuk
mengurangi pembengkakan dan bekerja untuk mencegah pembentukan
jaringan parut. Tujuan berikutnya adalah untuk menyediakan berbagai gerak
kembali, sekaligus memperkuat otot-otot yang mendukung sendi lutut.
Dengan berbagai peningkatan gerak dan kekuatan, terapis fisik rehabilitasi

mereka akhirnya kegiatan dengan panggung dan kontrol neuromuskular


gerakan fungsional yang sesuai dengan kebutuhan sehari-hari pasien. Ini harus
mengikuti jalannya akronim pada tahap awal pemulihan dari robek ACL.
2. Terapi Non-Operasi
ACL yang robek tidak akan sembuh sendiri dan harus dioperasi. Namun
terapi tanpa operasi efektif kepada pasien yang sudah tua dengan aktivitas
kehidupan yang sederhana. Jika stabilitas pada lutut intak, indikasinya adalah
tanpa operasi.
a. Bracing
Alat ini dapat memproteksi lutut dari ketidakstabilan. Selanjutnya bias
diteruskan dengan pemakaian tongkat yang dapat mengurangi beban pada
kaki.

b. Terapi Fisikal
Apabila oedem berkurang, rehabilitasi akan bermula. Olahraga yang
spesifik dapat restorasi fungsi pada lutut dan menguatkan otot kaki yang
memberi sokongan padanya.14,15

Gambar. Bracing Knee