Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Makhluk hidup di muka bumi ini selalu memerlukan energi dalam kehidupannya
sehari-hari. Dalam proses penyediaan energi baik pada tumbuhan maupun manusia, selalu
melalui berbagai rentetan reaksi kimia. Seluruh proses kimia atau reaksi kimia yang
terjadi di dalam sel yang berupa reaksi penyusunan energi dan reaksi penggunaan energi
biasa kita disebut dengan Metabolisme. Energi yang ada dalam tubuh manusia haruslah
seimbang sesuai yang dibutuhkan oleh tubuhnya jika seseorang kekurangan energi maka
ia akan mengalami ketidakseimbangan dalam tubuhnya. Oleh karena itu kita harus
mengetahui bagaimana cara mengontrol keseimbangan energi dalam tubuh kita. Agar
aktifitas yang kita lakukan sehari- hari ini dapat berjalan dengan baik. Kita juga harus
mengetahui apa-apa saja faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan metabolisme kita.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan metabolisme dan energi ?
2. Bagaimanakah mengatur keseimbangan energi di dalam tubuh manusia ?
3. Apa yang dimaksud dengan kecepatan metabolisme basal ?
4. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kecepatan metabolisme basal ?
5. Bagaimana mengontrol homeostatis metabolisme ?
6. Bagaimana menjaga keseimbangan antara perolehan dan pengeluaran panas tubuh?
7. Bagaimana cara pengaturan suhu tubuh pada manusia?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui pengertian metabolisme energi.
2. Untuk mengetahui bagaimana mengatur kesembangan energi di dalam tubuh manusia.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi kecepatan metabolisme.
4. Untuk mengetahui pengertian dari kecepatan metabolisme basal.
5. Untuk mengetahui bagaimana mengontrol homeostatis metabolisme.
6. Untuk megetahui bagaimana cara menjaga keseimbangan antara perolehan dan
pengeluaran panas tubuh.
7. Untuk mengetahui cara pengaturan suhu tubuh pada manusia.
1.4 Metode Penulisan
Metode penulisan dalam makalah ini menggunakan metode kepustakaan dan browsing
internet.

BAB II
PEMBAHASAN
1

2.1 Pengertian Metabolisme Energi


Metabolisme merupakan salah satu ciri dari mahkluk hidup. Metabolisme berasal
dari bahasa yunani yaitu dari kata metabole yang berarti perubahan yang dipakai untuk
menunjukan semua transformasi kimia dan tenaga yang timbul didalam tubuh.
Metabolisme adalah suatu proses komplek yang terjadi didalam sel dimana terjadi
perubahan makanan menjadi energi dan panas melalui suatu proses kimia, berupa proses
pembentukan dan penguraian zat didalam tubuh. Metabolisme bertujuan untuk
menghasilkan energi yang berguna bagi kelangsungan hidup, baik tingkat seluler
(pembelahan sel, transpor molekul ke luar dan ke dalam sel) maupun tingkat individu
(membaca, menulis, berjalan, berlari, dsb). Metabolisme sering disebut dengan reaksi
enzimatis, karena metabolisme terjadi selalu menggunakan katalisator enzim.

Metabolisme dapat dibedakan menjadi anabolisme dan katabolisme. Anabolisme


adalah suatu reaksi kimia untuk membentuk kompleks molekul yang dibutuhkan untuk
pertumbuhan dan pertahanan kehidupan, disintesis dari zat yang lebih simpel yang disertai
dengan penggunaan energi. Pada reaksi ini diperlukan energi dari luar. Fungsi energi
tersebut untuk mengikat senyawa senyawa sederhana menjadi senyawa yang kompleks.
Energi yang diperlukan tidak dibuang, melainkan disimpan dalam bentuk ikatan ikatan
kimia pada senyawa kompleks yang baru terbentuk.
Contoh : Pembentukan ikatan peptida dari asam amino dalam penyusunan molekul
protein.
Sedangkan katabolisme adalah suatu proses reaksi kimia untuk memecahkan
kompleks molekul menjadi molekul yang berukuran lebih kecil disertai pelepasan energi.
Pada reaksi ini energi kimia yang terikat akan lepas sehingga dihasilkan energi.
Contoh:
Glukosa CO2 + H2O + Energi
Dalam tubuh mahkluk hidup peristiwa katabolisme dan anabolisme berlangsung
secara bersamaan. Untuk berlangsungnya proses katabolisme dan anabolisme diperlukan
berbagai molekul zat sebagai bahan reaksi kimia. Makanan yang masuk ke dalam tubuh
akan mengalami pencernaan melalui saluran pencernaan. Sehingga akan diperoleh zat
zat makanan yang dapat diserap oleh tubuh dan digunakan oleh tubuh.Namun untuk zat
makanan yang tidak dapat dicerna dan diserap oleh tubuh akan dikeluarkan melalui alat

ekskresi.
2.2 Keseimbangan Energi
Keseimbangan energi di perlukan dalam tubuh manusia. Energi yang ada di dalam
tubuh kita di katakan seimbang apabila energi yang masuk melalui makanan yang di
makan sama besar dengan energi yang dikeluarkan oleh tubuh untuk kelangsungan hidup.
Keadaan energi yang seimbang didalam tubuh ini akan menghasilkan berat badan ideal
atau normal.

Ada cara untuk menentukan berat badan ideal orang dewasa adalah dengan
mengukur Indeks Masa Tubuh (IMT) (Body Mass Index/BMI).

Keterangan:
BB = Berat badan (kg)
TB = Tinggi badan (m)
Nilai IMT didapat dihubungkan dengan risiko terhadap penyakit. Berikut hubungan antara
keduanya:
IMT
20-25
25-30
30-35

Risiko terhadap penyakit


Sangat rendah
Rendah
Sedang
3

35-40
>40

Tinggi
Sangat tinggi

Adapun klasifikasi Indeks Masa Tubuh di Indonesia dapat dilihat di bawah ini:
Kategori
Kurus
Normal
Gemuk

Kekurangan berat badan tingkat berat


Kekurangan berat badan tingkat ringan
Kelebihan berat badan tingkat ringan
Kelebihan berat badan tingkat ringan

IMT
< 17,0
17,0 18,5
18,5 25,0
>25,0 27,0
>27,0

2.3 Pengertian Kecepatan Metabolisme Basal


Basal metabolisme atau sering disebut dengan Energi Pengeluaran Basal (Basal
Energy Expenditure [BEE]) merupakan jumlah keseluruhan aktivitas metabolisme
dalam keadaan istirahat fisik dan mental. Dalam hal ini oksigen di perlukan sedikit
karena jaringan bekerja paling sedikit. Kecepatan metabolisme basal diukur pada orang
yang istirahat di tempat tidur, sebelum makan, sebelum minum dan malam hari.
Disamping itu belum terganggu pemasukan oksigen maupun pengeluaran karbon
dioksida.
Kecepatan metabolisme bergantung pada kegiatan seseorang, ketegangan saraf
juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi pernapasan dan kerja jantung. Ada
beberapa penyakit kelainan tiroid, kegiatan kelenjar tiroid yang berlebihan menaikkan
kecepatan metabolisme, misalnya penyakit hipertiroidisme. Pada penyakit kreatinisme
dan miksedema, kecepatan metabolisme akan menurun.
Kalori dalam tubuh digunakan untuk menghindari kehilangan berat badan,
mempertahankan suhu tubuh dan membiarkan persendian untuk aktivitas fingsional
semua jaringan, kelenjar dan organ.
Tujuan dari BEE ini adalah untuk memenuhi kebutuhan energi untuk
mempertahankan kehidupan atau energi yang mendukung proses dasar kehidupan,
contohnya : mempertahankan temperature tubuh, kerja paru-paru, pembuatan sel darah
merah, detak jantung, filtrasi ginjal, dan lain sebagainya. Untuk menentukan nilai dari
BEE ini harus dalam kondisi basal. Kondisi basal tersebut meliputi : 12-16 jam setelah
makan, posisi berbaring, tidak ada aktivitas fisik satu jam sebelum pemeriksaan, kondisi
rileks, temperature tubuh normal, temperature ruangan harus 21-25 0C, dan dalam kondisi
yang kelembapannya normal.
BMR rata-rata yang harus dimilki oleh setiap orang adalah 2.000 kalori / hari.
Kebutuhan energi manusia lebih dari 2.000 kalori / hari yang dipergunakan untuk BMR,

Kegiatan fisik dan aksi dinamik spesifik ( SDA). SDA ( specifik Dinamic Action) yaitu
energi yang dibutuhkan untuk metabolisme makanan.
Untuk menghitung kebutuhan energi seseorang, maka harus diketahui BMR nya
dan kegiatan fisiknya, dan untuk memperkirakan jumlah energi yang diperlukan dapat
dihitung dengan menggunakan rumus berikut.

Dalam menentukan nilai Basal Energy Expenditure (BEE) ini, Harris dan Benedict
menemukan sebuah metoda dengan cara perhitungan :
Laki-laki

66

+ (13,7 x BB kg) + (5 x TB cm)

(6,8 x umur)

Perempuan

665

+ (9,6 x BB kg)

+ (1,7 x TB cm) -

(4,7 x umur)

Dengan BB adalah nilai dari berat badan normal. Dapat dihitung dengan cara :
Jika umurnya kurang dari 30 tahun (<30)
BB =

(TB-100)-(10%(TB-100))

Jika umurnya lebih dari 30 tahun (>30)


BB =

(TB-100) 100%
Over weight 110-120 %
Obesitas

> 120 %

Dan apabila ingin mengkoreksi berat badan (digunakan untuk pasien obesitas), dapat
dihitung dengan jalan :
5

Adjusted Body Weight = BB saat ini (25% (BB saat ini BB normal)
Cara mudah mempercepat metabolisme adalah dengan memperbanyak olahraga.
Semakin banyak membakar kalori berarti semakin sedikit yang disimpan dalam tubuh.
Menurut Profesor Don Chisholm, olahraga dapat meningkatkan mrtabolisme tubuh
antara 20 hingga 30 persen bahkan bisa lebih dari 50%. Sebenarnya perbedaan kecepatan
metabolisme pada setiap orang bukan sesuatu yang alami. Perbedaan itu umumnya lebih
terjadi karena perbedaan jumlah konsumsi makanan dan olahraga. Setiap bentuk
olahraga akan membantu membakar kalori terutama aerobic.
2.4 Faktor-faktor yang mempengaruhi Kecepatan Metabolisme
Kecepatan metabolisme dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu:
1. Ukuran tubuh dan Berat Tubuh
Tubuh tentu saja besar berarti lebih banyak sel untuk mempertahankan. Ini berarti
bahwa tubuh membutuhkan lebih banyak kalori untuk berfungsi dan memiliki lebih
cepat metabolik tingkat tubuh orang kecil. Inilah sebabnya mengapa orang-orang
yang lebih besar memerlukan lebih banyak makanan. Hal ini penting untuk
memahami bahwa komposisi tubuh Anda menentukan kecepatan metabolisme Anda.
Persentase yang lebih tinggi dari berat badan ramping mengakibatkan kadar metabolik
yang tinggi jika dibandingkan dengan individu-individu dari badan yang sama dengan
persentase lemak yang lebih tinggi. Otot-otot lebih berarti metabolisme yang lebih
cepat. Ini berarti bahwa pelatihan kebugaran biasa dapat membantu seseorang untuk
mempercepat nya atau miliknya metabolik menilai dan menurunkan berat badan lebih
mudah daripada tanpa latihan rutin.
Namun, penting untuk mengetahui bahwa laki-laki secara alami memiliki tingkat
yang lebih tinggi dari otot daripada wanita dan dapat tumbuh otot-otot lebih cepat.
2. Umur
Usia mempengaruhi metabolisme untuk pria dan wanita. Pada umur di atas 20 tahun,
maka BEE akan menurun 2% setiap 10 tahunnya. Setelah berusia lebih dari tiga
puluh, kecepatan metabolisme akan lambat karena perubahan hormon. Akibatnya,
setiap orang yang tidak aktif secara fisik mulai kehilangan jaringan otot dan
mendapatkan lemak. Kenaikan dalam beberapa hormon penting tubuh melalui latihan
teratur dapat meningkatkan berat badan berat badan dan kontrol yang ramping.
3. Suhu lingkungan yang tinggi atau rendah
Jika suhu lingkungan lebih rendah dari suhu tubuh, diaktifkan mekanisme penghasil
panas seperti menggigil dan kecepatan metabolisme pun meningkat. Ketika
peningkatan suhu tersebut sudah cukup untuk dapat meningkatkan suhu tubuh, proses
metabolismenya umumnya bertambah cepat. Setiap peningkatan temperature sebesar
10C (di atas temperature normal, 370C) BEE akan meningkat 13%.
4. Jenis kelamin
6

BEE pada laki-laki lebih besar dari wanita pada umur lebih dari 10 tahun.
5. Iklim
Iklim di sekitar kita mempengaruhi kecepatan metabolisme. Jika Iklim disekitar kita
terlalu dingin sel-sel kita akan membakar lebih banyak energi daripada biasanya.
Pembakaran ini tujuannya untuk menghasilkan panas untuk menjaga suhu tubuh agar
tetap konstan.
6. Tidur
Tidur juga akan mempengarui kecepatan metabolisme basal kita. Pada saat Tidur
kecepatan metabolisme kita akan berkurang sebanyak 10%. Kehamilan juga
mempengaruhi Kecepatan metabolisme basal kita yaitu akan meningkat 15-25%.
7. pengerahan otot selama atau sebelum pengukuran
faktor ini yang paling peting yaitu pengerahan otot(muscle exertion). Konsumsi O2
meningkat bukan saja selama masa pengerahan otot . masa BEE akan lebih tinggi
pada masa otot yang lebih banyak.
8. Tinggi badan, Berat Badan, dan Luas Permukaan Tubuh
BEE paling tinggi pada saat masa pertumbuhan ( masa bayi adan remaja). Orang yang
lebih tinggi maka akan memiliki BEE yang lebih tinggi pula.
9. Kehamilan
Kehamilan juga mempengaruhi Kecepatan metabolisme basal kita yaitu akan
meningkat 15-25%.
10. Hormon
Hormon juga mempengaruhi kecepatan metabolisme bassal. Jika kandungan hormon
tiroid tinggi ( Hipertiroid ) kecepatan metabolisme basal akan meningkat 75-100%.
Sedangkan jika Hormon tiroid rendah makan kecepatan metabolisme basal akan
menurun 30-40%.
2.5 Kontrol Homeostatis metabolisme
Homeostasis dalam bidang biologi diartikan sebagai suatu mekanisme di dalam
tubuh suatu organisme yang senantiasa mengupayakan keadaan setimbang atau stabil.
Istilah ini dikemukakan pertama kali oleh Walter Bradford Cannon pada tahun 1932 dari
istilah Yunani homoios yang berarti sama, serupa atau menyerupai dan stasis yang berarti
kedudukan atau keadaan.
Sebagai contoh:
Dalam keadaan homeostase yang terjaga, suhu normal tubuh manusia adalah 36,5.
Dalam cuaca yang panas, agar supaya suhu tubuh tetap terjaga pada kondisi homeostase,
terjadi reaksi homeostasis berupa pembuangan panas tubuh melalui berkeringat dan
pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi) pada kulit sehingga wajah dan kulit memerah,
rasa haus agar banyak minum sehingga terjadi pendinginan badan di samping mengganti
7

kembali cairan yang banyak keluar, nafsu makan berkurang agar tidak terjadi
peningkatan metabolisme yang menghasilkan panas, rasa lesu dan kantuk agar badan
beristirahat sehingga mengurangi metabolisme, dsb.
Homeostasis adalah suatu kondisi keseimbangan internal yang ideal, di mana
semua sistem tubuh bekerja dan berinteraksi dalam cara yang tepat untuk memenuhi
semua kebutuhan dari tubuh. Semua organisme hidup berusaha untuk homeostasis.
Ketika homeostasis terganggu (misalnya sebagai respon terhadap stressor), tubuh
mencoba untuk mengembalikannya dengan menyesuaikan satu atau lebih proses
fisiologis dari mulai pelepasan hormon-hormon sampai reaksi fisik seperti berkeringat
atau terengah-engah. Sebagai contoh sederhana dari homeostasis, tubuh manusia
menggunakan beberapa proses untuk mengatur suhu agar tetap dalam rentang yang
optimal untuk kesehatan. Kenaikan atau penurunan suhu tubuh mencerminkan
ketidakmampuan untuk mempertahankan homeostasis, dan masalah terkait.
Stres berat dan lama dapat menyebabkan ketidakseimbangan parah kondisi
keseimbangan ini. Hal ini dapat menyebabkan tidak hanya tekanan psikologis tetapi juga
gangguan psikosomatis.
Prinsip mekanisme kontrol homeostasis dalam bidang fisiologi ditentukan oleh 3
faktor penting, yakni:
1. Reseptor
Reseptor adalah faktor yang menerima dan mengolah setiap rangsang yang timbul
dari setiap perubahan lingkungan sekitar, untuk dijadikan stimulus dan dikirim
(dilaporkan) ke pusat kontrol.

2.

Reseptor mendeteksi perubahan lingkungan, baik lingkungan eksternal dimana


hewan itu hidup (misalnya perubahan suhu lingkungan) atau lingkungan
internalnya (misalnya pH intraseluler).

Reseptor banyak jumlahnya dan masing-masing hanya dapat memantau aspek


lingkungan tertentu.

Fungsi reseptor adalah mengkonversi perubahan lingkungan yang terdeteksi


menjadi potensial aksi yang dikirim melalui sistem saraf ke pusat integrasi.

Pusat kontrol
Pusat kontrol adalah faktor yang menerima stimulus dari reseptor untuk diolah dan
diinterpretasi dan dijadikan stimulus balik sebagai reaksi-reaksi untuk menjawab
(mengendalikan) perubahan lingkungan yang dilaporkan reseptor.

3.

Efektor
8

Efektor adalah faktor penerima stimulus balik dari pusat kontrol, yang
mengolah stimulus tersebut menjadi suatu aktifitas gerak untuk menjawab
(mengendalikan) perubahan lingkungan sesuai yang dikehendaki pusat kontrolnya.
Manusia termasuk dalam kelompok homeotermis yang senantiasa mempertahankan
suhu internal tubuh dalam batas relatif konstan meskipun suhu lingkungan berubahubah. Di dalam tubuh, panas diproduksi secara terus menerus akibat adanya aktivitas
metabolisme. Ketika penggunaan energi meningkat karena aktivitas fisik maka terjadi
penambahan panas. Demikian juga dengan perubahan yang sangat besar dari suhu
lingkungan sangat mempengaruhi suhu tubuh yang pada akhirnya, akan mempengaruhi
sistem kerja enzim yang bekerja pada suhu dengan kisaran yang relatif sempit.Agar suhu
tubuh tetap relatif konstan maka harus ada mekanisme untuk menjaga suhu tubuh dalam
batas-batas yang masih dapat diterima tanpa memperhatikan kondisi lingkungan. Proses
yang dikenal dengan termoregulasi.
2.6 Keseimbangan antara Perolehan dan Pengeluaran Panas Tubuh
Produksi panas merupakan suatu fungsi metabolisme energi. Dalam keadaan
istirahat kira-kira 56% dari panas basal dihasilkan oleh organ-organ dalam dan hanya
kira-kira18% yang dihasilkan oleh otot dan kulit. Pada waktu pengerahan tenaga, terjadi
peningkatan produksi panas akibat peningkatan aktivitas otot sebanyak 90%. Agar suhu
tubuh tetap konstan, panas harus dihilangkan ke lingkungan dengan laju yang sama
dengan yang dihasilkan. Kegagalan mengontrol suhu tubuh dapat menyebabkan
serangkaian perubahan fisiologis. Sebagai contoh, suhu tubuh di bawah 360C atau di atas
400C dapat menyebabkan disorientasi, sedangkan suhu di atas 420C menyebabkan sawan
dan kerusakan sel yang permanen. Oleh karena itu, ketika kondisi lingkungan meningkat
di atas atau turun di bawah ideal tubuh harus mengontrol perolehan atau pembuangan
panas untuk mempertahankan homeostasis.
Mekanisme menghilangkan panas pada umumnya adalah pengaturan fisika oleh
karena melibatkan kerja fisik sedangkan mekanisme perolehan panas banyak melibatkan
mekanisme kimiawi. Pertukaran energi panas antara hewan dan lingkungan tergantung
pada nutrisi, metabolisme dan mekanisme fisika.

Adapun Mekanisme pengaturan Suhu yaitu :


Kulit Reseptor perifer hipotalamus (posterior dan anterior) Preoptika
hypotalamus Nervus eferent kehilangan/pembentukan panas
Mekanisme Pertukaran panas dengan lingkungan meliputi 4 proses yaitu:

Radiasi
Apabila kita merasakan panas matahari maka itu adalah karena radiasi sinar
matahari. Radiasi (elektromagnetik) dipancarkan dari permukaan yang suhunya
lebih tinggi dan diabsorbsi oleh bagian lain yang suhunya lebih rendah. Perbedaan
suhu yang cukup besar menyebabkan banyak panas yang hilang melalui radiasi.
Panas tubuh kita juga hilang dengan cara yang sama meskipun dalam jumlah yang
kecil. Lebih dari 50% panas yang hilang dalam ruangan diakibatkan oleh radiasi dan
jumlah sesungguhnya bervariasi sesuai dengan suhu tubuh dan suhu kulit

Konduksi
Merupakan perpindahan langsung energi melalui kontak fisik. Sebagai contoh ketika
kita duduk di kursi plastik yang dingin maka panas yang berasal dari tubuh kita
dipindahkan ke kursi sampai akhirnya terjadi keseimbangan.

Konveksi
Merupakan hasil kehilangan panas secara konduksi ke udara yang melapisi
permukaan tubuh. Udara panas timbul oleh karena lebih ringan dari udara dingin.
Seiring tubuh kita memindahkan panas ke udara berikutnya maka udara panas
bergerak menjauh dari permukaan kulit. Udara dingin yang menggantikannya, pada
akhirnya menjadi panas dan pola ini terjadi berulang-ulang. Jumlah konveksi kirakira 15% dari panas tubuh yang hilang dalam ruangan.

Evaporasi
Evaporasi merupakan perubahan dari fase cair ke uap air. Evaporasi memerlukan
energi dalam jumlah yang besar, kira-kira 0.58 kal per gram air yang dievaporasikan.
Oleh karena itu, maka mekanisme ini digunakan oleh hewan homeotermis/manusia
10

untuk mendinginkan tubuhnya. Evaporasi juga berlangsung di permukaan respitatoris


dan organ-organ lain termasuk kulit. Laju evaporasi yang berlangsung di kulit sangat
bervariasi.
Setiap jam kira-kira 20-25 ml air melintasi epithelium dan dievaporasikan melalui
permukaan alveolar dan permukaan kulit. Kehilangan air insensibel ini relatif
konstan. Pada saat istirahat, jumlahnya kira-kira 20% dari rata-rata kehilangan panas
tubuh dalam ruangan. Kelenjar keringat bertanggung jawab terhadap perspirasi
sensibel yang mencapai kira-kira 2 4 L per jam dalam keadaan aktivitas yang hebat.
Evaporasi berlangsung hanya apabila udara tidak jenuh dengan uap air.

2.6.1. Mekanisme penghilangan panas


Perolehan dan penghilangan panas melibatkan aktivitas berbagai sistem
yang dikoordinasi oleh pusat kehilangan panas (heat-loss centre) dan pusat
perolehan panas (heat-gain centre) pada area preoptik hipotalamus anterior.
Apabila suhu di nukleus preoptik melebihi set point maka pusat kehilangan
panas dirangsang sehingga menghasilkan 3 pengaruh utama yaitu:
1. Penghambatan pusat vasomotorik yang menyebabkan vasodilatasi peripheral
dan darah yang panas mengalir ke permukan tubuh. Kulit menjadi berwarna

11

kemerah-merahan, suhu kulit meningkat dan peningkatan kehilangan panas


melalui konduksi dan konveksi.
2. Perangsangan saraf simpatis untuk meningkatkan sekresi kelenjar keringat
seiring dengan meningkatnya aliran darah ke kulit. Perspirasi mengalir
melintasi permukaan tubuh dan meningkatkan kehilangan panas melalui
evaporasi. Apabila evaporasi lengkap maka sekresi maksimal dapat
memindahkan 2320 kal/jam.
3. Rangsangan terhadap pusat respirasi sehingga meningkatkan kedalaman
respirasi. Sering seseorang melakukan respirasi dengan mulut terbuka
daripada melalui hidung untuk meningkatkan evaporasi melalui paru paru.

2.6.2. Mekanisme perolehan panas


Pembentukan panas (heat production) dalam tubuh manusia bergantung
pada tingkat metabolisme yang terjadi dalam jaringan tubuh tersebut. Hal ini
dipengaruhi oleh:
1. Laju metabolisme basal (basal metabolisme rate, BMR), terutama terkait
dengan sekresi hormon tiroid.
2. Aktivitas otot, terjadi penggunaan energi menjadi kerja dan menghasilkan
panas.
3. Termogenesis menggigil (shivering thermogenesis); aktivitas otot yang
merupakan upaya tubuh untuk mempertahankan suhu tubuh selama
terpapar dingin.
4. Termogenesis tak-menggigil (non-shivering thermogenesis) Hal ini terjadi
pada bayi baru lahir.
Sumber energi pembentukan panas ini ialah brown fat. Pada bayi baru
lahir, brown fat ditemukan pada skapula, aksila, dan area ginjal. Brown fat
berbeda dengan lemak biasa, ukurannya lebih kecil, mengandung lebih banyak
mitokondria, banyak dipersarafi saraf simpatis, dan kaya dengan suplai darah.
Stimulasi saraf simpatis oleh suhu dingin akan meningkatkan konsentrasi
cAMP di sel brown fat, yang kemudian akan mengativasi fosforilasi oksidatif
di mitokondria melalui lipolisis. Hasil dari fosforilasi oksidatif ialah
terbentuknya panas yang kemudian akan dibawa dengan cepat oleh vena yang
juga banyak terdapat di sel brown fat. Brown fat ini merupakan sumber utama
diet-induced thermogenesis.
Fungsi pusat perolehan panas di otak adalah untuk mencegah hipotermia
atau suhu tubuh turun di bawah normal. Apabila suhu pada nukleus preoptik
turun di bawah tingkat yang dapat diterima maka pusat kehilangan panas di
12

hambat dan pusat perolehan panas diaktifkan.Mekanisme untuk memperoleh


panas dapat dibagi dalam 2 kategori besar yaitu:
a. Shivering thermogenesis (Menggigil)
Pada shivering thermogenesis terjadi peningkatan secara perlahan-lahan
tonus otot sehingga meningkatkan konsumsi energi otot skelet di seluruh
bagian tubuh. Dengan demikian, lebih banyak energi yang dikonsumsi dan
pada akhirnya lebih banyak panas yang dihasilkan. Derajat stimulasi bervariasi
sesuai kebutuhan. Apabila pusat pengaturan perolehan panas sangat aktif,
tonus otot meningkat sampai pada titik dimana rangsangan reseptor renggang
menghasilkan kontraksi yang singkat. Dengan kata lain kita mulai
menggigil. Menggigil meningkatkan kerja otot dan selanjutnya meningkatkan
konsumsi oksigen dan energi. Panas yang dihasilkan menghangatkan
pembuluh darah bagian dalam yang kemudian darah dialirkan ke pusat
vasomotorik simpatis. Menggigil sangat efektif dalam meingkatkan suhu
tubuh dimana laju perolehan panas dapat mencapai 400%
b. Nonshivering thermogenesis ( Tidak Menggigil)
Proses ini melibatkan pelepasan hormon untuk meningkatkan aktivitas
metabolisme di semua jaringan.
1. Epineprin: Pusat perolehan panas merangsang kelenjar suprarenalis melalui
cabang simpatis sistem saraf otonomi sehingga melepaskan epineprin.
Epineprin meningkatkan laju glikogenolisis di hati dan otot skelet dan laju
metabolisme di banyak jaringan
2. Tiroksin: Nukleus preoptik mengatur produksi thyrotropin releasing hormone
(TRH) oleh hipotalamus. Pada anak-anak ketika suhu tubuh di bawah normal,
TRH dilepaskan merangsang pelepasan thyroid stimulating hormone oleh
adenohipofisis. Kelenjar tiroid menanggapi pelepasan TRH dengan
meningkatkan sekresi tiroksin. Tiroksin tidak saja meningkatkan laju
katabolisme karbohidtrat tetapi juga semua laju katabolisme nutrient lainnya.
Pengaruh ini berkembang secara perlahan-lahan setelah periode beberapa hari
sampai dalam minggu
2.7. Cara Pengaturan Suhu Tubuh
Suhu tubuh diatur oleh hipotalamus yang terletak diantara dua hemisfer otak.
Fungsi hipotalamus adalah seperti termostart yang berada dibawah otak. Suhu yang
nyaman merupakan set point untuk operasi system pemanas. Penurunan suhu lingkungan
akan mengaktifkan pemanas, sedangkan peningkatan suhu akan mematikan system
pemanas tersebut. Pada umumnya penjalaran sinyal suhu hampir selalu sejajar, namun
tidak persis sama seperti sinyal nyeri. Sewaktu memasuki medulla spinalis, sinyal akan
13

menjalar dalam traktus lissaueri sebanyak beberapa segmen diatas atau dibawah dan
selanjutnya akan berakhir terutama pada lamina I, II, III radiks dorsalis sama seperti
untuk rasa nyeri. Sesudah ada percabangan satu atau lebih neuron dalam medulla spinalis
maka sinyal akan menjalarkan keserabut termal asenden yang menyilang ke traktus
sensorik anterolateral sesi berlawanan dan akan berakhir di (1) area reticular batang otak
dan (2) kompleks vetro basal thalamus. Setelah dari thalamus sinyal di hantarkan ke
hipotalamus.

Suhu diatur oleh sistem syaraf dan sistem endokrin. Pada Sistem syaraf pemanasan
dan pendinginan kulit menstimulasi ujung syaraf yang sensitif terhadap suhu dengan
menghasilkan respon yang tepat menggigil untuk kedinginan, berkeringat untuk
kepanasan.

Hipotalamus pada otak berespon terhadap suhu dari darah yang mengalir melewati
kapiler-kapiler nya. Hipotalamus mengadung 2 pusat pengaturan suhu. Hipotalamus
bagian anterior berespon terhadap peningkatan suhu dengan menyebabkan vasoladitasi
dan karena nya panas menguap. Hipotalamus bagian posterior berespon terhadap
14

penurunan suhu dengan menyebabkan vasokontriksi dan mengaktivasi pembentukan


panas lebih lanjut. Melalui hubungan dengan otak tersebut, hipotalamus menerima
stimulus dari talamus dan dapat melewati sistem syaraf otonom memodifikasi aktivitas
humoner, sekresi keringat aktivitas kelenjar dan otot-otot.

Sedangkan pada Sistem Endokrin, Medula adrenal dingin meningkatkan sekresi


adrenalin yang menstimulasi metabolisme dan karena nya dapat meningkatkan
pembentukan panas. Kelenjar tyroid dingin meningkatkan sekresi tiroksin, dengan
meningkatkan metabolisme dan pembentukan panas.
Tubuh manusia akan selalu berusaha mempertahankan keadaan normal dengan
suatu system tubuh yang sempurna sehingga dapat menyesuaikan diri dengan perubahanperubahan yang terjadi di luar tubuh tersebut. Tetapi kemampuan untuk menyesuaikan
dirinya dengan temperature luar adalah jika perubahan temperature luar tubuh tersebut
tidak melebihi 20 % untuk kondisi panas dan 35 % untuk kondisi dingin dari keadaan
normal tubuh (Tjitro, 2004). Suhu udara dianggap nikmat bagi orang Indonesia ialah
sekitar 240 C sampai 260 C dan selisih suhu didalam dan diluar tidak boleh lebih dari
50 C. Batas kecepatan angina secara kasar yaitu 0,2 sampai 0,5 m/dt. Keseimbangan
panas suhu tubuh manusia selalu dipertahankan hamper konstan/menetap oleh suatu
pengaturan suhu pada tubuh manusia. Suhu menetap ini adalah akibat keseimbangan
antara panas yang dihasilkan didalam tubuh sebagai akibat metabolisme dan pertukaran
panas diantara tubuh dan lingkungan sekitar. Dalam hal ini darah sangat berperan dalam
membawa panas dari tubuh dalam ke kulit sehingga panas dihamburkan kesekitarnya.

Adapun suhu tubuh dihasilkan dari :


1. Laju metabolisme basal (basal metabolisme rate, BMR) di semua sel tubuh.

15

2. Laju cadangan metabolisme yang disebabkan aktivitas otot (termasuk kontraksi otot
akibat menggigil).
3. Metabolisme tambahan akibat pengaruh hormon tiroksin dan sebagian kecil hormon
lain, misalnya hormon pertumbuhan (growth hormone dan testosteron).
4. Metabolisme tambahan akibat pengaruh epineprine, norepineprine, dan rangsangan
simpatis pada sel.
Metabolisme tambahan akibat peningkatan aktivitas kimiawi di dalam sel itu
sendiri terutama bila temperatur menurun. Suhu tubuh manusia diatur oleh system
thermostat di dalam otak yang membantu suhu tubuh yang konstan antara 36.5 0C dan
37.50C. Suhu tubuh normal manusia akan bervariasi dalam sehari. Seperti ketika tidur,
maka suhu tubuh kita akan lebih rendah dibanding saat kita sedang bangun atau dalam
aktivitas. Dan pengukuran yang diambil dengan berlainan posisi tubuh juga akan
memberikan hasil yang berbeda. Pengambilan suhu di bawah lidah (dalam mulut) normal
sekitar 37 C, sedang diantara lengan (ketiak) sekitar 36.5 C sedang di rectum (anus)
sekitar 37.5 C. Adapun yang mempengaruhi suhu tubuh adalah :
1. Kecepatan metabolisme basal
Kecepatan metabolisme basal tiap individu berbeda-beda. Hal ini memberi
dampak jumlah panas yang diproduksi tubuh menjadi berbeda pula. Sebagaimana
disebutkan pada uraian sebelumnya, sangat terkait dengan laju metabolisme.
2. Rangsangan saraf simpatis
Rangsangan saraf simpatis dapat menyebabkan kecepatan metabolisme
menjadi 100% lebih cepat. Disamping itu, rangsangan saraf simpatis dapat mencegah
lemak coklat yang tertimbun dalam jaringan untuk dimetabolisme. Hamper seluruh
metabolisme lemak coklat adalah produksi panas. Umumnya, rangsangan saraf
simpatis ini dipengaruhi stress individu yang menyebabkan peningkatan produksi
epineprin dan norepineprin yang meningkatkan metabolisme.
3. Hormon pertumbuhan
Hormon pertumbuhan ( growth hormone ) dapat menyebabkan peningkatan
kecepatan metabolisme sebesar 15-20%. Akibatnya, produksi panas tubuh juga
meningkat.

4. Hormone tiroid
16

Fungsi tiroksin adalah meningkatkan aktivitas hamper semua reaksi kimia


dalam tubuh sehingga peningkatan kadar tiroksin dapat mempengaruhi laju
metabolisme menjadi 50-100% diatas normal.
5. Hormon kelamin
Hormon kelamin pria dapat meningkatkan kecepatan metabolisme basal kirakira 10-15% kecepatan normal, menyebabkan peningkatan produksi panas. Pada
perempuan, fluktuasi suhu lebih bervariasi dari pada laki-laki karena pengeluaran
hormone progesterone pada masa ovulasi meningkatkan suhu tubuh sekitar 0,3
0,6C di atas suhu basal.
6. Demam (peradangan)
Proses peradangan dan demam dapat menyebabkan peningkatan metabolisme
sebesar 120% untuk tiap peningkatan suhu 10C.
7. Status gizi
Malnutrisi yang cukup lama dapat menurunkan kecepatan metabolisme 20
30%. Hal ini terjadi karena di dalam sel tidak ada zat makanan yang dibutuhkan untuk
mengadakan metabolisme. Dengan demikian, orang yang mengalami mal nutrisi
mudah mengalami penurunan suhu tubuh (hipotermia). Selain itu, individu dengan
lapisan lemak tebal cenderung tidak mudah mengalami hipotermia karena lemak
merupakan isolator yang cukup baik, dalam arti lemak menyalurkan panas dengan
kecepatan sepertiga kecepatan jaringan yang lain.
8. Aktivitas
Aktivitas selain merangsang peningkatan laju metabolisme, mengakibatkan
gesekan antar komponen otot / organ yang menghasilkan energi termal. Latihan
(aktivitas) dapat meningkatkan suhu tubuh hingga 38,3 40,0 C.
9. Gangguan organ
Kerusakan organ seperti trauma atau keganasan pada hipotalamus, dapat
menyebabkan mekanisme regulasi suhu tubuh mengalami gangguan. Berbagai zat
pirogen yang dikeluarkan pada saai terjadi infeksi dapat merangsang peningkatan
suhu tubuh. Kelainan kulit berupa jumlah kelenjar keringat yang sedikit juga dapat
menyebabkan mekanisme pengaturan suhu tubuh terganggu.

10. Lingkungan

17

Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya panas


tubuh dapat hilang atau berkurang akibat lingkungan yang lebih dingin. Begitu juga
sebaliknya, lingkungan dapat mempengaruhi suhu tubuh manusia. Perpindahan suhu
antara manusia dan lingkungan terjadi sebagian besar melalui kulit.
Cara mengukur tubuh secara kualitatif, kita dapat mengetahui bahwa suhu
adalah sensasi dingin atau hangatnya sebuah benda yang dirasakan ketika
menyentuhnya. Secara kuantitatif, kita dapat mengetahuinya dengan menggunakan
termometer.
Setelah makan, suhu tubuh meningkat. Karena makanan yang masuk ke dalam
tubuh memengaruhi proses metabolisme sel tubuh. Proses tersebut bisa berlangsung
cepat jika makanan yang masuk tergolong merangsang. Misalnya, makanan pedas
atau makanan bersuhu tinggi. Jika proses metabolisme sel tubuh berlangsung cepat,
suhu tubuh meningkat. Sitokin (salah satu protein) pun terpicu muncul. Salah satu
bahan yang tergolong sitokin adalah kalikrein. Bahan itu berpengaruh terhadap
pelebaran pembuluh darah yang menuju kelenjar keringat di kulit. Dampaknya,
keringat pun mengucur keluar.
11. Usia
Pada bayi dan balita belum terjadi kematangan mekanisme pengaturan suhu
sehingga dapat terjadi perubahan suhu tubuh yang drastis terhadap lingkungan.
Pastikan mereka mengenakan yang cukup dan hindari pajanan terhadap suhu
lingkungan. Seorang bayi baru lahir dapat kehilangan 30 % panas tubuh melalui
kepala sehingga dia harus menggunakan tutup kepala untuk mencegah kehilangan
panas. Suhu tubuh bayi lahir berkisar antara 35,5C sampai 37,5C.Regulasi tubuh
baru mencapai kestabilan saat pubertas. Suhu normal akan terus menerus menurun
saat seseorang semakin tua. Para dewasa tua memiliki kisaran suhu tubuh yang lebih
kecil dibandingkan dewasa muda.
11. Olahraga
Aktivitas otot membutuhkan lebih banyak darah serta peningkatan pemecahan
karbonhidrat dan lemak. Berbagai bentuk olahraga meningkatkan metabolisme dan
dapat meningkatkan produksi panas sehingga terjadi peningkatan suhu tubuh.
Olahraga berat yang lama seperti jalan jauh dapat meningkatkan suhu tubuh sampai
41 C.
12. Kadar Hormon
Umumnya wanita mengalami fluktuasi suhu tubuh yang lebih besar. Hal ini
dikarenakan adanya variasi hormonal saat siklus menstruasi. Kadar progesteron naik
dan turun sesuai siklus menstruasi. Saat progesterion rendah suhu tubuh dibawah suhu
dasar, yaitu sekitar 1/10nya. Suhu ini bertahan sampai terjadi ovulasi. Saat ovulasi,
18

kadar progesteron yang memasuki sirkulasi akan meningkat dan menaikan suhu tubuh
ke suhu dasar atau suhu yang lebih tinggi. Variasi suhu ini dapat membantu
mendeteksi masa subur seorang wanita. Perubahan suhu tubuh juga terjadi pada
wanita saat menopause. Mereka biasanya mengalami periode panas tubuh yang intens
dan perspirasi selama 30 detik sampai 5 menit. Pada periode ini terjadi peningkatan
suhu tubuh sementara sebanyak 4 C, yang sering disebut hotflases. Hal ini diakibatkan
ketidakstabilan pengaturan fasomor.
13. Stres
Stres fisik maupun emosianal meningkatkan suhu tubuh melali stimulasi
hormonal dan syaraf. Perubahan fisiologis ini meningkatkan metabolisme, yang akan
meningkatkan produksi panas. Klien yang gelisah akan memiliki suhu normal yang
lebih tinggi.
14. Perubahan suhu
Perubahan suhu tubuh di luar kisaran normal akan mempengaruhi titik
pengaturan hypotalamus. Perubahan ini berhubungan dengan produksi panas
berlebihan, kehilangan panas berlebihan, produksi panas minimal, kehilangan panas
minimal, atau kombinasi hal di atas. Sifat perubahan akan mempengaruhi jenis
masalah klinis yang dialami klien.

BAB III
19

PENUTUP

3.1 Simpulan
Metabolisme adalah suatu proses komplek yang terjadi didalam sel dimana terjadi
perubahan makanan menjadi energi dan panas melalui suatu proses kimia, berupa proses
pembentukan dan penguraian zat didalam tubuh. Metabolisme bertujuan untuk
menghasilkan energi yang berguna bagi kelangsungan hidup, baik tingkat seluler
(pembelahan sel, transpor molekul ke luar dan ke dalam sel) maupun tingkat individu
(membaca, menulis, berjalan, berlari, dsb). Sedangkan energi adalah kemampuan untuk
melakukan usaha.
Keseimbangan energi di perlukan dalam tubuh manusia. Energi yang ada di dalam
tubuh kita di katakan seimbang apabila energi yang masuk melalui makanan yang di
makan sama besar dengan energi yang dikeluarkan oleh tubuh untuk kelangsungan
hidup. Keadaan energi yang seimbang didalam tubuh ini akan menghasilkan berat badan
ideal/ normal.
Basal metabolisme atau sering disebut dengan Energi Pengeluaran Basal (Basal
Energy Expenditure [BEE]) merupakan jumlah keseluruhan aktivitas metabolisme
dalam keadaan istirahat fisik dan mental. Kecepatan metabolisme bergantung pada
kegiatan seseorang, ketegangan saraf juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi
pernapasan dan kerja jantung. Ada beberapa penyakit kelainan tiroid, kegiatan kelenjar
tiroid
yang berlebihan menaikkan kecepatan metabolisme, misalnya penyakit
hipertiroidisme. Pada penyakit kreatinisme dan miksedema, kecepatan metabolisme akan
menurun.
Kecepatan metabolisme dipengaruhi oleh banyak faktor yaitu Ukuran tubuh dan
Berat Tubuh, umur suhu lingkungan yang tinggi atau rendah, jenis kelamin, iklim, tidur ,
pengerahan otot selama atau sebelum pengukuran, hormon dll.
Homeostasis adalah suatu kondisi keseimbangan internal yang ideal, di mana
semua sistem tubuh bekerja dan berinteraksi dalam cara yang tepat untuk memenuhi
semua kebutuhan dari tubuh. Semua organisme hidup berusaha untuk homeostasis.
Ketika homeostasis terganggu (misalnya sebagai respon terhadap stressor), tubuh
mencoba untuk mengembalikannya dengan menyesuaikan satu atau lebih proses
fisiologis dari mulai pelepasan hormon-hormon sampai reaksi fisik seperti berkeringat
atau terengah-engah. Prinsip mekanisme kontrol homeostasis dalam bidang fisiologi
ditentukan oleh 3 faktor penting, yaitu reseptor, pusat kontrol dan efektor.
Produksi panas merupakan suatu fungsi metabolisme energi. Dalam keadaan
istirahat kira-kira 56% dari panas basal dihasilkan oleh organ-organ dalam dan hanya
kira-kira18% yang dihasilkan oleh otot dan kulit. Pada waktu pengerahan tenaga, terjadi
peningkatan produksi panas akibat peningkatan aktivitas otot sebanyak 90%. Agar suhu
tubuh tetap konstan, panas harus dihilangkan ke lingkungan dengan laju yang sama
dengan yang dihasilkan. Kegagalan mengontrol suhu tubuh dapat menyebabkan
serangkaian perubahan fisiologis. Sebagai contoh, suhu tubuh di bawah 360C atau di atas
400C dapat menyebabkan disorientasi, sedangkan suhu di atas 420C menyebabkan sawan
20

dan kerusakan sel yang permanen. Oleh karena itu, ketika kondisi lingkungan meningkat
di atas atau turun di bawah ideal tubuh harus mengontrol perolehan atau pembuangan
panas untuk mempertahankan homeostasis.
Suhu tubuh diatur oleh hipotalamus yang terletak diantara dua hemisfer otak.
Fungsi hipotalamus adalah seperti termostart. Suhu yang nyaman merupakan set point
untuk operasi system pemanas. Penurunan suhu lingkungan akan mengaktifkan pemanas,
sedangkan peningkatan suhu akan mematikan system pemanas tersebut. Pada umumnya
penjalaran sinyal suhu hampir selalu sejajar, namun tidak persis sama seperti sinyal
nyeri. Sewaktu memasuki medulla spinalis, sinyal akan menjalar dalam traktus lissaueri
sebanyak beberapa segmen diatas atau dibawah dan selanjutnya akan berakhir terutama
pada lamina I, II, III radiks dorsalis sama seperti untuk rasa nyeri. Sesudah ada
percabangan satu atau lebih neuron dalam medulla spinalis maka sinyal akan
menjalarkan keserabut termal asenden yang menyilang ke traktus sensorik anterolateral
sesi berlawanan dan akan berakhir di (1) area reticular batang otak dan (2) kompleks
vetro basal thalamus. Setelah dari thalamus sinyal di hantarkan ke hipotalamus.
Dihipotalamus mengandung dua pusat pengaturan suhu. Hipotalamus bagian anterior
berespon terhadap peningkatan suhu dengan menyebabkan vasodilatasi dan karenanya
panas menguap. Sedangkan hipotalamus bagian posterior berespon terhadap penurunan
suhu dengan menyebabkan vasokontriksi dan mengaktivasi pembentukan panas lebih
lanjut.
Suhu diatur oleh sistem syaraf dan sistem endokrin. Pada Sistem syaraf pemanasan
dan pendinginan kulit menstimulasi ujung syaraf yang sensitif terhadap suhu dengan
menghasilkan respon yang tepat menggigil untuk kedinginan, berkeringat untuk
kepanasan.
Hipotalamus pada otak berespon terhadap suhu dari darah yang mengalir melewati
kapiler-kapiler nya. Hipotalamus mengadung 2 pusat pengaturan suhu. Hipotalamus
bagian anterior berespon terhadap peningkatan suhu dengan menyebabkan vasoladitasi
dan karena nya panas menguap. Hipotalamus bagian posterior berespon terhadap
penurunan suhu dengan menyebabkan vasokontriksi dan mengaktivasi pembentukan
panas lebih lanjut. Melalui hubungan dengan otak tersebut, hipotalamus menerima
stimulus dari talamus dan dapat melewati sistem syaraf otonom memodifikasi aktivitas
humoner, sekresi keringat aktivitas kelenjar dan otot-otot.
Sedangkan pada Sistem Endokrin, Medula adrenal dingin meningkatkan sekresi
adrenalin yang menstimulasi metabolisme dan karena nya dapat meningkatkan
pembentukan panas. Kelenjar tyroid dingin meningkatkan sekresi tiroksin, dengan
meningkatkan metabolisme dan pembentukan panas.
3.2. Saran
Dengan adanya makalah ini mahasiswa dapat mengetahui dan menambah
wawasannya tentang fisiologi metabolisme energi dan pengaturan suhu tubuh. Makalah
ini tidaklah sempurna oleh karena itu dengan banyaknya kekurangan dari makalah ini,
maka penulis mengharapkan masukan serta memberikan perbaikan terhadap makalah
penulis.
21

22