Anda di halaman 1dari 66

1

PREDIKSI PERFORMA RESERVOIR YANG AKAN


MENGALAMI INJEKSI AIR PADA
LAPANGAN GLG
TUGAS AKHIR
Diajukan Guna Melengkapi syarat Dalam Mencapai Gelar
sarjana Teknik Perminyakan Pada Fakultas Teknik
Universitas Islam Riau
OLEH :

NOFRI
NPM : 093210701

JURUSAN TEKNIK PERMINYAKAN FAKULTAS TEKNIK


UNIVERSITAS ISLAM RIAU
PEKANBARU
2010

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini
dengan judul PREDIKSI PERFORMA RESERVOIR YANG AKAN
MENGALAMI INJEKSI AIR PADA LAPANGAN GLG. Maksud dari
penulisan ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana
Teknik di Jurusan Teknik Perminyakan, Universitas Islam Riau UIR
Pekanbaru.
Dengan terselesaikannya Tugas akhir ini, tak lupa penulis mengucapkan
terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yth :
1. Bapak Muhammad Syafwan, ST, MT selaku Dosen Pembimbing II.
2. Bapak Ir.H.Ali Musnal, MT selaku Dosen Pembimbing I.
3. Bapak Prof.Dr.Ir.Sugeng Wiyono, MMT,I.PU selaku Dekan Fakultas
Teknik Universitas Islam Riau.
4. Bapak Muslim, ST, MT selaku Ketua Jurusan Teknik Perminyakan
Universitas Islam Riau.
5. Seluruh Staf Dosen Jurusan Teknik Perminyakan Universitas Islam Riau.
6. Seluruh Staf dan Karyawan TU Fakultas Teknik Universitas Islam Riau.
7. Seluruh Staf dan Karyawan Perpustakaan Teknik Universitas Islam Riau.
8. Kedua orang tuaku, kakak, abang,dan adikku yang selalu memberikan
dukungan dan doa-nya
9. Rekan-rekan petroleum seperjuangan baik adik-adik junior maupun kakakkakak senior.
10. Dan kawan-kawan lain yang telah sudi mengulurkan tangannya dalam
penyelesaian Tugas akhir ini ; Thank for all.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan Tugas
Akhir ini. Untuk itu sangat penulis harapkan kritik dan saran dari semua pihak
yang sifatnya membangun.

Akhir kata semoga Tugas Akhir ini bermanfaat bagi penulis khususnya
dan para pembaca pada umumnya.

Pekanbaru,

Juli 2010

Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL .................................................................................

LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................

ii

PERNYATAAN KEASLIAN TUGAS AKHIR .....................................

iii

ABSTRAK .................................................................................................

iv

ABSTRACT ...............................................................................................

KATA PENGANTAR...............................................................................

vi

DAFTAR ISI..............................................................................................

viii

DAFTAR GAMBAR.................................................................................

DAFTAR TABEL .....................................................................................

xi

DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................

xii

DAFTAR SIMBOL ...................................................................................

xiii

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang .........................................................................

1.2 Maksud dan Tujuan..................................................................

1.3 Batasan Masalah.......................................................................

1.4 Sistematika Penulisan ..............................................................

1.5 Metodologi Penelitian ..............................................................

BAB II TINJAUAN UMUM LAPANGAN


2.1 Sejarah Lapangan .....................................................................

2.2 Tinjauan Geologi......................................................................

2.3 Karakteristik Fluida Dan Batuan Reservoir .............................

2.4 Heterogenitas Reservoir ...........................................................

11

BAB III TEORI DASAR


3.1 Prediksi Performa Reservoir Pada Saat Breakthrough.............

13

3.1.1 Persamaan fraksi aliran ...................................................

13

3.1.2 Persamaan kemajuan front ..............................................

19

3.2 Prediksi Performa Reservoir Setelah Breakthrough ...............

22

3.2.1 Persamaan tangen Welge ................................................

22

3.3 Prosedur Perhitungan Prediksi Performa Reservoir.................

28

3.3.1 Prosedur perhitungan saat breakthrough.........................

28

3.3.2 Prosedur perhitingan setelah breakthrough.....................

29

BAB IV

ANALISA DATA DAN PERHITUNGAN

4.1 Data-data yang digunakan........................................................

33

4.2 Perhitungan Produksi Minyak Lapisan N#1 pada Lapangan


GLG dengan Analisa Decline Curve(exponential) ..................
4.3 Perhitungan Prediksi Performa Reservoir Dengan Injeksi Air

38
41

4.3.1 Perhitungan Prediksi Performa Reservoir Pada Saat


Breakthrough..................................................................

42

4.3.2 Perhitungan Prediksi Performa Reservoir Setelah


Breakthrough...................................................................

46

BAB V PEMBAHASAN .......................................................................

56

BAB VI KESIMPULAN ........................................................................

60

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Pada proyek enhanced oil recovery (EOR) proses injeksi air bertujuan

untuk meningkatkan energi dorong didalam reservoir, yaitu dengan melakukan


penginjeksian fluida air melalui sumur sumur injeksi dan memproduksikan
minyaknya melalui sumur-sumur produksi pada suatu pola geometri tertentu.
Sehingga diharapkan minyak yang masih tertinggal didalam pori-pori batuan akan
mampu didesak dan diproduksikan.
Besarnya pertambahan recovery minyak (efisiensi recovery) yang
diperoleh disamping tergantung pada jumlah minyak yang masih tertinggal, juga
tergantung pada besarnya efisiensi pendesakan dan efisiensi penyapuan yang
dapat dicapai. Dalam hal ini faktor-faktor seperti sifat

fisik batuan dan fluida

reservoir,geometri reservoir, sifat fluida injeksi dan besarnya tekanan injeksi yang
diberikan akan mempengaruhi tingkat efisiensi recovery yang akan dicapai. Oleh
karena itu untuk mengetahui sejauh mana prospek dari suatu reservoir minyak
yang akan mengalami penginjeksian air.maka perlu dilakukan suatu analisa
prediksi performanya.
Dalam penyelesain

perhitungan prediksi performa reservoir yang

didasarkan pada konsep Buckley Leverett dengan metoda pendesakan front


diperlukan data permeabilitas relatif dari kedua fluida (kro dan krw) karena data
permeabilitas relatif ini menyatakan secara lansung sifat karekteristik dari aliran
kedua fluida yang megalir secara serempak didalam rongga pori-pori batuan
reservoir dan harganya akan selalu berubah sesuai dengan perubahan saturasi
fluidanya.

Data-data permeabilitas relatif ini dapat diperoleh dari hasil analisa core di
laboratorium.pendekatan secara empiris data reservoir terdekat.data produksi dan
analisa PVT.
1.2

Tujuan Penulisan
Memperkirakan seberapa besar peningkatan recovery minyak pada

lapangan GLG jika dilakukan injeksi air dan mengevaluasi sejauh mana prospek
suatu reservoir minyak yang akan mengalami proses penginjeksian air. Dengan
menggunakan persamaan fraksi aliran, persamaan kemajuan front, dan tangent
Welge maka diharapkan dapat menuntun seorang petroleum engineer dalam
menyelesaikan perhitungan prediksi performa reservoir.
1.3

Batasan Masalah
Agar penulisan Tugas Akhir ini tidak menyimpang dari pokok-pokok

permasalahan yang akan dianalisa, maka Tugas Akhir ini di titik beratkan pada
penerapan persamaan fraksi aliran dan persamaan kemajuan front dalam
menyelesaikan perhitungan prediksi performa reservoir minyak.
1.4

Sistematika Penulisan
Tugas akhir ini dirangkum dalam beberapa bab yang masing-masingnya

menjelaskan bagian-bagian dari tugas akhir ini. Adapun urutan sistematika


penulisannya adalah sebagai berikut :
BAB I

Pendahuluan.
Menjelaskan tentang latar belakang, tujuan penulisan, batasan
masalah, sistematika penulisan, dan metoda penulisan/peneltian.

BAB II

Tinjauan Umum Lapangan.


Menjelaskan tentang sejarah singkat dari lapangan GLG, keadaan
geologi dan karakteristik reservoir yang terdapat pada lapangan
GLG.

BAB III :

Teori Dasar.

Menjelaskan tentang persamaan-persamaan yang digunakan dalam


perhitungan prediksi performa reservoir pada saat breakthrough
dan setelah breakthrough.
BAB IV :

Analisa Data dan Perhitungan.


Berisikan tentang perhitungan prediksi performa reservoir dengan
menggunakan persamaan fraksi aliran, persamaan kemajuan front
dan persamaan tangen welge.

BAB V :

Pembahasan.
Menjelaskan tentang perbandingan perolehan recovery minyak
antara primary recovery dan injeksi air.

BAB VI :

Kesimpulan.
Menjelaskan tentang beberapa rangkuman dari semua bab yang
terdapat dalam tugas akhir ini.

1.5

Metodologi Penelitian
FLOW CHART

Start

Data Produksi

Data reservoir

Analisa Decline
curve

Analisa Injeksi
air

HASIL

PEMBAHASAN

KESIMPULAN

Gambar 1-1. Bagan Kerja Metodologi Penelitian

10

BAB II
TINJAUAN UMUM LAPANGAN GLG
2.1

Sejarah Lapangan
Struktur GLG terletak sekitar 2,5 km arah barat laut dari lapangan Minas

yang memiliki sumur-sumur produksi kearah barat laut yang terletak di kawasan
3A grid. Gambar 2.1 menggambarkan lokasi dari struktur GLG relatif kearah
barat laut Minas dan segmen utama. GLG adalah salah satu dari trend set utaraselatan Horst Block, di ujung barat dari Minas Northwest segment (bagian barat
laut Minas). Strukturnya di batasi oleh patahan normal (normal fault), dengan
patahan yang mengarah ke bagian bawah arah timur yang membentuk perangkap
kritis di sisi timur. Pemindahan normal ini memisahkan trend GLG dari segmen
barat laut Minas. Struktur ini telah diakui prospektif pada awal tahun 1970-an,
berdasarkan seismik 2D dan pertama kali diuji adalah Bangsa-1, yang dibor pada
maret 1972. Berdasarkan oil show dari pengambilan side wall core. Hal ini telah
diuji dalam tiga zona. Zona A1 dan A2 dari formasi Bekasap yang diuji hanya
menghasilkan air formasi. Demikian pula untuk formasi Telisa T2 menghasilkan
air formasi dengan hanya 8% minyak. Sumur akhirnya ditutup dan ditinggalkan
sebagai dry hole.
GLG 1 telah dibor pada tahun 1990 updip dan 315 meter timur dari
Bangsa-1. Formasi Telisa yang di uji clean oil pada debit 233 BOPD. Berdasarkan
logging, terlihat oil show pada Bekasap A1 dan A2 sand dan swab test 3 Bekasap
yang telah dilakukan. Untuk pengujian pada A2 sand menghasilkan produksi
paling rendah 15 BOPD dengan 99% water cut. Demikian pula untuk pengujian
pada A1 sand menghasilkan 19 BOPD dengan 96% water cut. Bagian atas A2
sand di uji di tempat yang lebih menjanjikan yakni 490 BOPD dengan 40% water
cut. Sumur-sumur di Telisa telah dikomplesi dan dijadikan subyek pengujian

11

jangka panjang, selama 3 bulan antara periode oktober 1990 dan januari 1991.
GLG-1 diproduksi sekitar 8.400 barrel minyak. Dimana pada waktu itu tanpa
pemasangan sarana permukaan (surface facilities), produksi dialirkan ke dalam
tangki setempat dan diangkut ke stasiun pengumpul (gathering station)
menggunakan vacuum truck.
Kawasan yang telah dipetakan pada tahun 2000 dengan menggunakan data
seismik 3D Minas 1993 (ukuran 75m x 15m), serta prospek updip dari sumur
GLG-1 dan telah diakui. Proposal CPI Minas yang disampaikan ke PertaminaDMPS pada Februari 2001 untuk melakukan pemboran pada struktur ini dengan 3
sumur tambahan dan tie-in ini untuk mengambil poin untuk menyediakan sarana
produksi Minas Northwest Segment. DMPS pada poin tersebut direkomendasikan
agar GLG-2 di bor sebagai sumur eksplorasi. Pada bulan Juni 2001, sebagian dari
New Minas Northwest Segment high-resolution (15m x 15m) 3D data set atas
GLG telah diproses dan diinterpretasikan. Data baru ini dikonfirmasi akan
keberadaan updip prospek, dan pada bulan Oktober 2001 GLG-2 dibor sebagai
sumur eksplorasi dan dinyatakan sebagai sebuah penemuan.
Sumur GLG-2 dibor dengan target updip GLG-1 baru berdasarkan data
seismik 3D 2001 resolusi tinggi yang terbaru. Dicapai TD pada 13 Oktober 2001
dan sebagai prediksi, 30 ft lebih tinggi dari GLG -1. Terdapat satu kolom minyak
49 ft berkembang di A1, A2 dan B1 sand oil-water contact pada 2380 ft bawah
laut. Untuk Telisa, seperti yang telah diprediksi, tetap tidak memiliki kolom
minyak. Meskipun tidak ada program pengujian yang dilakukan, hasil logging
dari GLG-2 digabungkan dengan resolusi tinggi interpretasi seismik 3D jelas
menunjukkan bahwa GLG merupakan lapangan minyak yang komersial. Fasilitas
permukaan menghubungkan sumur ini ke stasiun pengumpul (Gathering Station)
terdekat (GS-6) yang kemudian dibangun dan sumur ini dapat berproduksi. Sumur
sekarang dalam kondisi aktif, memproduksi minyak sampai 300-an BOPD dengan
rata-rata watercut 88%, lebih baik daripada rata-rata produksi sumur Minas. Pada
tahun 2005, GLG 5 di bor dan diproduksi 700 BOPD dengan 85% water cut.

12

Peta Lapangan GLG

Lapangan GLG

Patahan

Gambar 2.1 Peta Lapangan GLG (PT. Chevron Pacific Indonesia-Sumatra Light
South, 2009)
2.2

Tinjauan Geologi
Interpretasi data seismik 3D dengan resolusi tinggi yang mengungkap

potensi tutupan (closure) di wilayah selatan dari kawasan GLG dan juga
merupakan wilayah dengan titik-titik jalur yang menghubungkan wilayah utara
dan selatan. Keberadaan tutupan (closure) dan titik-titik jalur mengindikasikan
zona perangkap hidrokarbon yang lain pada lapangan selatan GLG. Merujuk
kepada peta struktur kedalaman A2 sand yang diilustrasikan dalam Gambar 2,
daerah yang prospektif adalah di bagian selatan dari lapangan GLG. Pemeriksaan
lebih lanjut menunjukkan bahwa sasaran utama dari titik-titik jalur A2 sand
terletak di atas oil-water contact pada kedalaman 2347 ft, lihat gambar 2 dan 3.

13

Gambar 2.2 Peta Struktur Kedalaman A2 Sand GLG Selatan


(PT. Chevron Pacific Indonesia-Sumatra Light South, 2009)
Struktur GLG adalah sebuah trend yang mengikuti arah utara-selatan,
dengan patahan antiklin (faulted anticline). Sasaran pengembangan yang
diusulkan dari GLG #5 dan #6 di selatan GLG dalam posisi relatif updip
sepanjang sisi kiri dari puncak struktur.
Sumur-sumur ini direncanakan untuk dapat menipiskan yang disebut zonazona "attic (loteng)" dan menawarkan posisi yang paling menjanjikan dan efisien
untuk mengambil titik-titik untuk akumulasi minyak, yang menurut interpretasi
seismik yang dikonversikan terhadap kedalaman, yang tidak dapat ditiriskan oleh
sumur-sumur GLG utara (GLG 1,2,3 dan 4).

14

Rencana pengembangan sumur dapat diilustrasikan dalam Gambar 2.3.


Jauh di bagian selatan menunjukkan potensi yang tinggi di kawasan GLG #7 dan
#8. Secara keseluruhan, hal itu menunjukkan daerah yang potensial di bagian
selatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan bagian GLG utara. Hal ini
didukung oleh original oil-water contact dan titik-titik jalur sumur-sumur GLG
utara.

Traverse Seismic Cross Section Line AB (North-South)

Nusa #1

Prop. Nusa #5

Prop.
Nusa #7

Prop. Nusa #6

A1 sd
A2s d
B1s d

Trave rse

Prop.
Nusa #8

- 2298
- 2347
- 2378

B2s d

A
Nusa #1
Proposed
Nusa #5

Green shaded ar ea showing potential oil tr ap at each reservoi r using


owc data from Nusa North w ells
Nusa South Development - Ph ase 2 DRB Meeting

Proposed
Nusa #5

22

Gambar 2.3 North-South Traverse Seismic Cross Section Yang Menunjukkan


OWC Pada A2 Di Bawah Titik-Titik Jalur/Spill Point (PT. Chevron
Pacific Indonesia-Sumatra Light South, 2009)
2.3.

Karakteristik Fluida dan Batuan Reservoir


Lapangan Minyak GLG mempunyai mekanisme pendorong berupa tenaga

air yang aktif dan kuat (strong water drive), oleh sebab itu zona-zona yang
ditinggalkan minyak segera diisi oleh air yang berada di bawahnya, sehingga
tekanan reservoir relatif konstan.Reservoir Lapangan GLG memiliki Gas Oil
Ratio (GOR) bervariasi, yakni 53 SCF/STB pada formasi Telisa dan 134
SCF/STB pada kelompok Sihapas, densitas minyak 48,694 gr/cc dan viskositas
3.3 cp serta faktor volume formasi (Bo) 1,076 bbl/stb yang diukur pada bubble
pressure (Pb) sebesar 235 psi.

15

Tabel 2.1. Karakteristik Fluida dan Batuan Reservoir Lapangan GLG (Chevron
Pacifik Indonesia, 2008)
Parameters

Unit

Telisa

A-1

A-2

B-1

Porosity, Mean

N/A

26

27

27

Init. Water Sat., Mean

N/A

20

20

20

Oil FVF

RB/STB

N/A 1.076 1.076 1.076

Permeability, Mean

md

N/A

1000

1000

2400

Orig. Pressure, Res.

Psig

875

616

664

685

Current Pres., Avg.

Psig

N/A

510

520

540

Datum Pres., Depth

Ft. SS

N/A

2672

2691

2747

Psig

N/A

235

235

235

Oil Sat. Pressure


Dissolved Gas GOR

SCF/STB

Oil Viscosity, Res.

cp

N/A

Water Viscosity, Res.

cp

N/A 0.305 0.305 0.305

Gas Viscosity, Res.

cp

N/A

N/A

N/A

N/A

Original Temp., Res.

Deg. F

N/A

180

180

180

Pour Point, Oil

Deg. F

N/A

90

90

90

Deg. API

N/A

36

36

36

Gravity, Oil

N/A 134.0 134.0 134.0


3.3

3.3

3.3

Formation Volume Factor, GLG Field


1,12
1,1
Bo 1,08
1,06
1,04
1,02
1
0,98
0

200

400

600

800

1000 1200 1400 1600

Pressure (psi)

16

Gas Solution ,Rs, GLG Field


60
50
Rs

40
30
20
10
0
0

200

400

600

800

1000 1200 1400 1600

Pressure (psi)

Formation volume Factor ,Bg, GLG Field


0,06
Bg

0,05
0,04
0,03
0,02
0,01
0
0

200

400

600

800

1000 1200

1400 1600

Pressure (psi)

Gambar 2.4. Kurva PVT Lapangan GLG (PT. Chevron Pacifik Indonesia, 2009)
2.4.

Heterogenitas Reservoir
Prosedur yang umum, seperti yang dijelaskan diatas, menunjukkan bahwa

perforasi dilakukan pada interval teratas untuk reservoir dengan tenaga dorong air
yang kuat seperti Lapangan GLG.

17

Sebagian besar formasi batu pasir pada mula terhampar sebagai lapisan
yang berlapis dengan porositas dan permeabilitas yang bervariasi. Proses
sedimentasi yang normal menyebabkan perlapisan secara alamiah. Aliran fluida
pada lapisan-lapisan tersebut memiliki derajat kemudahan alir yang berbeda-beda
dan pada zona-zona non permeabel akan memisahkan lapisan permeabel,
sehingga tidak terdapat fluida yang mengalir dari satu lapisan ke lapisan lainnya.
Pada lapisan yang tipis atau lapisan yang terstratifikasi, kemungkinan
pergerakan fluida berbentuk parallel terhadap perlapisan (fingering), seperti gas
bebas bergerak ke bawah dari tudung gas atau naiknya air dari aquifer, dapat
terjadi ketika penyelesaian dilakukan dengan interval yang pendek disertai laju
alir produksi sumur yang tinggi. Pada bagian reservoir terstratifikasi baik oleh
shale break atau oleh variasi permeabilitas, maka merupakan hal yang penting
untuk mengatur interval penyelesaian dimana seluruh variasi lapisan reservoir
harus dipastikan mengalir. Beberapa pengaturan interval penyelesaian secara
vertical dapat berpengaruh pada laju pengembalian dari variasi lapisan tersebut..

18

BAB III
TEORI DASAR
Prediksi performa reservoir dengan menggunakan metoda pendesakan
front didasarkan atas dua tahap prediksi, yaitu tahap saat terjadi breakthrough dan
setelah terjadi breakthrough.
3.1

Prediksi Performa Reservoir Pada Saat Breakthrough


Pada prinsipnya penyelesaian perhitungan prediksi performa reservoir

pada saat breakthrough memerlukan dua persamaan utama, yaitu persamaan fraksi
aliran dan persamaa kemajuan front.
3.1.1 Persamaan fraksi aliran
Anggapan yang digunakan dalam penentuan persamaan fraksi aliran adalah :
1. Aliran mantap (steady state)
2. Kondisi aliran terdifusi sehingga saturasi tersebar merata diseluruh
ketebalan.
3. Dapat dipakai satu harga permeabilitas rata-rata terhadap seluruh
ketebalan karena harga Kro dan Krw juga tersebar merata sebagai fungsi
So dan Sw.
4. Aliran terjadi pada media berpori yang homogen.
Kondisi aliran terdifusi dapat terjadi pada dua kondisi, yaitu :
Debit injeksi besar, efek kapiler dan gravitasi diabaikan.
Debit injeksi kecil, zona transisi kapiler lebih besar daripada tebal
reservoir (H>>h)
Anggapan yang digunakan dalam mengukur Permeabilitas relatif di Lab :
Kondisi aliran terdifusi, karena dipakai debit pendesakan pada core yang
tipis

19

Hasil perhitungan permeabilitas relatif yang mewakili ketebalan ini


seharusnya hanya dapat dipakai dalam perhitunganperhitungan untuk
kondisi aliran terdifusi.
Persamaan fractional flow menghubungkan perbandingan dari fluida
pendorong (air) dalam total aliran fluida pada zona dua fasa, atau perbandingan
dari mobile connate water pada berbagai titik pada reservoir termasuk termasuk
zona minyak untuk properties dari reservoir. Penggambaran persamaan Darcy
untuk aliran linier dengan laju alir pada berbagai titik pada reservoir adalah :
Rumus Darcy untuk aliran linier :
qo

kk ro A o o
kk A P
o g sin
ro o
..........................(3.1)
x
o
o x 1.0133 10 6
(literatur 6 halaman 353)

dan
qw

kk rw A w w
kk A P
w g sin
rw w
........................(3.2)
x
w
w x 1.0133 10 6
(literatur 6 halaman 353)

Kemudian disubstitusikan dengan qo qt q w dari persamaan (3.1) dan


(3.2) didapat hasil :


q
g sin
P
................................(3.3)
q w w o t o A c
6
x 1.0133 10
kk rw kk ro kk ro
(literatur 6 halaman 353)

dimana:
Pc Pc Pw

x
x
x

W O

20

Definisi fraksi aliran air pada setiap titik adalah :

fw

qw
q
w ...............................................................................(3.4)
q o q w qt
(literatur 6 halaman 354)

kemudian disubstitusikan ke persamaan (3.3) dan didapat persamaan


sebagai berikut :
1
fw

kk ro A Pc
g sin

qt o x 1.0133 10 6
.....................................................(3.5)
w k ro
1
k rw 0
(literatur 6 halaman 354)

Dalam satuan lapangan :


1 1.127 10 3
fw

kk ro A Pc

0.4335 sin

qt o x

..............................(3.6)
w k ro
1
k rw o
(literatur 6 halaman 354)

Pengaruh gaya gravitasi :


0 up dip direction

g sin
0
1.0133 10 6

2 down dip direction

g sin
0
1.0133 10 6

Pengaruh suku/term gradien tekanan kapiler :

Pc Pc sw

x sw x

Pc
selalu > 0
x

Pc
sukar ditentukan
x

21

Secara kuantitatif karena profil Sw = f(x) tidak diketahui dan malah


merupakan satu hal yang dibutuhkan dalam perhitungan hasil pendesakan. Di
belakang front, kenaikan Sw berangsur-angsur dari Swf menuju (1 Sor),
didaerah ini gradien tekanan kapiler dianggap kecil dan dapat diabaikan dalam
persamaan fraktional flow.
fw

1
...................................................................................(3.7)
w k ro
1
k rw o
(literatur 6 halaman 355)

Persamaan (3.7) digunakan untuk pendesakan pada reservoir horizontal


(sin = 0).
dan
1
fw

kk ro A sin
qt o 1.0133 10 6
.................................................................(3.8)
w k ro
1
k rw o
(literatur 3 Bab II-10/32)

Persamaan (3.8) digunakan untuk pendesakan pada reservoir miring.


Keterangan :
f w =fraksi aliran air

qt = laju alir total fluida, cm/sec

k =permeabilitas, md

Pc = tekanan kapiler, atm

k ro =permeabilitas relatif minyak

x = jarak pergerakan,cm

k rw =permeabilitas relatif air

g = percepatan gravitasi, ft/sq sec

o =viskositas minyak,cp
w = viskositas air, cp

=beda densitas air-minyak, gr/cc

=sudut kemiringan formasi, derajat

Persamaan fractional flow disebut juga persamaan water cut, persamaa


fractional flow sangat penting karena persamaan ini memungkinkan hubungan
dari kecepatan relatif minyak dan air pada sistem aliran media berpori.

22

Selanjutnya persamaan ini digunakan dalam hubungan affisiensi pendekatan dari


proyek water flood. Faktor-faktor yang mempengaruhi seperti fluida properties,
properties batuan, total aliran, gradient tekanan, dan struktur reservoir. Jika total
aliran konstan dan properties fluida dapat diasumsikan konstan. Ini penting dicatat
bahwa fractional flow hanya fungsi dari saturasi. Jika data reservoir ada maka
persamaan fractional flow dapat digunakan untuk menghitung fraksi aliran air
dalam reservoir sebagai fungsi dari saturasi, data ini diplot fw dan Sw pada kertas
kartesien. Bentuk ini digambarkan berdasarkan kurva fractional, jenis dari kurva
ini dapat dilihat pada gambar 3.1.

Gambar 3-1. Gambaran Kurva Fractional Flow(L.P. Dake,


Fundamentals of Reservoir Engineering 1978)
Grafik ini sangat dibutuhkan untuk memprediksi dan menganalisakan kelakuan
reservoir selama water flood.
Pada saturasi air, permeabilitas air akan kecil pada batuan water wet dari
pada batuan oil wet. Penjelasan ini didominasi dari persamaan fractional flow
yang akan memberikan fw yang kecil. Hubungan ini diperlihatkan pada gambar

23

3.2 yang menunjukkan kurva fractional flow untuk suatu reservoir dengan kondisi
water wet dan oil wet. Perbedaan antara kurva fw untuk water wet dan oil wet
disebabkan karena efek wettability dalam kurva permeabilitas relative shape dan
end point mengakibatkan pengecilan fw pada kondisi saturasi tertentu. Pada
gambar 3.2 dilihat bahwa reservoir water wet akan memberikan effisiensi
pendesakan dan recovery minyak tinggi dari pada reservoir oil wet.

Gambar 3-2. Perbedaan Fractional Flow untuk ReservoirOil wet dan Water
wet (Buckley, S.E and Leverett, M.C., Mechanism Of Fluid
Displacement In Sands Trans AIME, 1942).
Fractional flow juga dipengaruhi oleh Mobilitas air dan minyak, Hasil dari
perolehan minyak dikembangkan dari penurunan mobilitas air atau penambahan
mobilitas minyak.
Permeabilitas efektif minyak dan air didapatkan pertama dengan keadaan
saturasi fluida pada reservoir, ini dapat dikontrol persamaan dengan waktu bila
dilakukan water flood pada reservoir.

24

Jika reservoir dengan solution gas drive dilakukan water flood maka
saturasi gas bebas akan besar pada zona minyak pada saat injeksi. Efek dari gas
ini akan mengurangi permeabilitas efektif minyak, efek ini akan menaikkan fw,
masalah ini dapat dikurangi dengan injeksi pada reservoir sebelum saturasi gas
mengembang.
Proses pendorongan dapat dikembangkan dengan menaikkan viskositas air
atau dengan mengurangi viskositas minyak dengan penambahan polymer,
viskositas minyak dapat juga dikurangi dengan thermal pada proses steam flood.
3.1.2 Persamaan kemajuan front
Anggapan yang digunakan dalam persamaan kemajuan front adalah :

Pendesakan immiscible 1dimensi (linear)

Kondisi aliran terdifusi.

Pendesakan incompressible

Dengan anggapan kondisi aliran terdifusi, maka konservasi massa air melalui
elemen volume A dx dapat ditulis sebagai berikut :
(debit massa masuk keluar) = debit bertambahnya massa dalam elemen volume
tersebut.
Sehingga :
qw w x qw w

x dx

Adx

w S w ...................................................(3.9)
t
(literatur 6 halaman 356)

Atau :
qw w

q w w

q w w dx Adx w S w ........................(3.10)
x
x

(literatur 6 halaman 357)

25

Dimana bisa dikurangi dengan

q w w A w S w ................................................................(3.11)
x
x
(literatur 6 halaman 357)

Dengan anggapan pendesakan incompressible dimana w konstan,didapat


q w
x

A
t

S w
..............................................................................(3.12)
t x
(literatur 6 halaman 357)

Diferensial total saturasi air adalah


dS w

S w
S
dx w dt ....................................................................(3.13)
x t
t x
(literatur 6 halaman 357)

Maksudnya untuk mempelajari pergerakan sebuah bidang dengan Sw


konstan, yaitu dSw = 0, kemudian.
S w
t

S w dx
x t dt

...........................................................................(3.14)
Sw

(literatur 6 halaman 357)

Selanjutnya :
q w
x

q S w
............................................................................(3.15)
w
S

w x t
(literatur 6 halaman 357)

Substitusi persamaan (3.14) dan (3.15) kedalam persamaan (3.3) maka diperoleh :
q w
S w

A
t

dx
dt

.................................................................................(3.16)
Sw

(literatur 6 halaman 358)

26

Karena q w qT f w , maka persamaan (3.16) dapat ditulis :


q w
S w

qT f w
................................................................................(3.17)
S w t
(literatur 6 halaman 358)

Atau :
q w
S w

qT
t

dfw
dS w

................................................................................(3.18)
SW

(literatur 6 halaman 358)

Sehingga diperoleh :
q t f w
x
t A S .......................................................................(3.19)
swf
w swf
(literatur 6 halaman 358)

Maka

berdasarkan

persamaan

diatas,

waktu

hingga

terjadinya

breakthrough dari front pendesak disumur produksi adalah :

t BT

AL 1

qt f w
S
w

...............................................................................(3.20)

(litertur 8 halaman 965)

Berdasarkan metoda tangen Welge, menganggap bahwa fluida air sudah


mengalir pada saat saturasi air masih sangat rendah (Swi 0), sehingga
persamaan (3.14) akan menjadi :
t BT

AL
S wf S wc ..........................................................................(3.21)
qt
(literatur 1 halaman 23)

27

Pada laju injeksi yang konstan, maka besarnya laju produksi minyak Juga
akan konstan yaitu sama dengan laju aliran totalnya (qt), sehingga untuk kondisi
permukaan didapat :
q o sc

qt
...........................................................................................(3.22)
Bo
(literatur 1 halaman 25)

Keterangan :
q w = laju produksi air, scf/hari

S w = saturasi air

w = densitas air, pcf

f w = fraksi aliran air

qo = laju produksi minyak, stb/hari

qt = laju aliran, BPD

A = luas penampang, ft 2

t BT = waktu breakthroigh

= porositas

L = panjang sistem, ft

S wf =saturasi air front rata-rata

Bo =F Vol formasi minyak, bbl/stb

3.2

Prediksi Performa Reservoir Setelah Breakthrough


Tahap prediksi performa reservoir setelah terjadi breakthrough pada

prinsipnya tidak banyak berbeda dengan tahap sebelum breakthrough. Dalam hal
ini perbedaan yang pokok dari kedua tahapan tersebut adalah adanya perubahan
saturasi rata-rata fluida pendesak dibelakang front yang harganya akan terus
meningkat sesuai dengan bertambahnya waktu sampai dengan tercapainya saturasi
minyak residual (Sor).
3.2.1 Persamaan tangen Welge
Besarnya perubahan harga fraksi aliran air (fw) terhadap perubahan
saturasi airnya dapat diselesaikan dengan metoda tangen Welge :

S w S wc

1
Wi
df

w
x 2 A dS w

.................................................................(3.23)
Swf

28

(literatur 6 halaman 360)

Untuk Sw rata-rata di belakang front dapat dicari dengan integrasi profil


saturasi :
X2

Sw

1 S or x1 S w dx
X1

....................................................................(3.24)

x2

(literatur 6 halaman 360)

Dan lagi selama :

x Sw

df
dSw Sw

Untuk sejumlah volume injeksi air tertentu, dimana Sw Swf, persamaan


tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
Swf

1 S or df w
Sw

dS w

1 Sor

df w
dS w

df
S w d w
dS w
1 Sor

............................................(3.25)

Swf

(literatur 6 halaman 361)

Integral didalam numerator pada persamaan ini bisa di evaluasikan dengan


menggunakan metode integrasi

udv uv vdu
diberikan
Swf

df
S w d w

dS w
1 Sor

Swf

df w
Swf
S w
f w 1 Sor ..........................................(3.26)

dS w 1 Sor
(literatur 6 halaman 361)

29

Masukkan persamaan (3.26) ke persamaan (3.25) kembali, sehingga


diperoleh :

1 S or df w

dS w

Sw

S wf
1 Sor

df w
dS w

1 S or
Swf

df w
dS w

df w
dS w

fw

Swf

f w 1 Sor

1 Sor

..(3.27)

Swf

(literatur 6 halaman 361)

S w S wf

1 fw
df w
dS w

Swf

...........................................................................(3.28)

Swf

(literatur 6 halaman 361)

Samakan persamaan (3.28) dengan persamaan (3.23) , sehingga diperoleh :


f w
1 fw

; S w S wf ....................................................................(3.29)
S w S w S w
(literatur 6 halaman 361)

Harga saturasi fluida air rata-rata Sw untuk setiap saat dapat diperoleh
dengan cara meneruskan garis singgung pada setiap titik kedudukan saturasi air
disepanjang kurva fw vs Sw sampai dengan memotong harga fw = 1.
Dari hasil perhitungan (dfw / dSw), maka waktu yang diperlukan untuk
setiap kedudukan saturasi air yang lebih besar dari saturasi air di front (Sw > Swf)
yang telah dicapai oleh fluida air pendesak di titik luar dari sistem, adalah :
t

AL S w S w
...............................................................................(3.30)
qt 1 f w
(litertur 6 halaman 965)

30

Besarnya laju produksi minyak dan laju produksi air yang dihasilkan pada
kondisi permukaan dapat ditentukan dengan persamaan :
qO

qt
1 f we .................................................................................(3.31)
Bo
(literatur 1 halaman 26)

qw

f we qt
...........................................................................................(3.32)
Bw
(literature 1 halaman 27)

Water oil ratio produksi pada setiap saat untuk setiap harga saturasi air
tertentu adalah :
WOR

fwe Bo
..............................................................................(3.33)
1 fwe Bw
(literatur 1 halaman 28)

Keterangan :
S w = saturasi air

A = luas penampang, ft 2

S o = saturasi minyak

L = panjang sistem, ft

S w = saturasi air rata-rata

S wf = saturasi air front

S wc = saturasi air connate

Bw = faktor volume formasi air, bbl/stb

S or = saturasi minyak sisa

= porositas

f w = fraksi aliran air

q o = laju produksi minyak, stb/hari

qt = laju aliran, BPD

Bo =faktor volume formasi minyak, bbl/stb

q w = laju produksi air, stb/hari

31

Menurut prosedur Welge, saturasi air pada front memerlukan saturasi air
awal yang sama, ini diperlihatkan pada gambar 3.3.

Gambar 3-3. Perhitungan Saturasi Air pada Front dari Kurva Fractional
Flow

(Buckley - leverett analysis, Reservoir Recovery

Techniques 2006).
Untuk menghitung slope dari garis tangential pada kurva fractional flow
dapat diperlihatkan pada gambar 3.4.

Gambar 3-4. Perhitungan Kemiringan untuk Kurva Fractional Flow


(Buckley - leverett analysis, Reservoir Recovery Techniques
2006).

32

Setelah breaktjrough saturasi akan naik dari Swf hingga 1-Sor, saturasi
rata-rata setelah breakthrough didapatkan dengan persamaan :
Sw Swe

1 fwe
.........................................................................(3.34)
dfw
dSw
Swe
(literatur 6 halaman 364)

Secara grafik Sw rata-rata juga dapat dihitung dengan menggambarkan


garis tangential kurva fractional flow Pada saat saturasi Sw2. Extrapolasi dari
garis tangential hingga fw = 1 memberikan Sw rata-rata, pengetahuan saturasi ini
akan memberikan recovery minyak pada waktu tertentu. Dengan perhitungan ini
pada saturasi antara Swf dan 1 Sor recovery dan saturasi didapatkan. Ini
digambarkan pada gambar 3.5.

Gambar 3-5. Perhitungan Sw rata-rata setelah Breakthrough (L.P. Dake,


Fundamentals Of Reservoir Engineering 1978).

33

3.3

Prosedur Perhitungan Prediksi Perform Reservoir Dengan Injeksi Air

3.3.1 Prosedur perhitungan saat breakthrough


Langkah 1. Gambarkan garis singgung kurva fractional flow dari Swi kemudian
tentukan :

Titik garis singgung dengan koordinat (Swf,fwf).

Saturasi

air

rata-rata

pada

saat

breakthrough

Swbt

denganmemperpanjang garis singgung sampai fw = 1.0

dfw
Slope garis singgung
dSw Swf

Langkah.2. Hitung volume pori dari injeksi air saat breakthrough dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut :
QiBT

1
S wBT S wi ..................................................(3.35)
dfw
dSw

Swf
(literatur 8 halaman 924)

Langkah 3. Hitung injeksi air kumulatif saat breakthrough dengan menggunakan


persamaan sebagai berikut :

WiBT ( PV )( S wBT S wi ) ............................................................(3.36)


(literatur 8 halaman 925)

Atau :
WiBT ( PV )QiBT .........................................................................(3.37)
(literatur 8 halaman 925)

Langkah 4. Hitung efisiensi pendesakan saat breakthrough dengan menggunakan


persamaan sebagai berikut :
E DBT

S wBT S wi
......................................................................(3.38)
1 S wi
(literatur 8 halaman 925)

Langkah 5. Hitung produksi minyak kumulatif saat breakthrough dengan


menggunakan persamaan sebagai berikut :

34

N pBT N s E dBT ............................................................................(3.39)


(literatur 8 halaman 925)

Langkah 6. Asumsikan laju injeksi air konstan, hitung waktu breakthrough


dengan menggunakan persamaan sebagai berikut :

t BT

WiBT
...................................................................................(3.40)
iw
(literatur 8 halaman 925)

Langkah 7. Pilih beberapa nilai waktu injeksi lebih kecil dari waktu
breakthrough t < tbt , dan atur :
Winj i w .t ....................................................................................(3.41)
(literatur 8 halaman 925)

Qo i w / Bo ................................................................................(3.42)
(literatur 8 halaman 925)

WOR 0

Wp 0

Np

i w .t Winj

..........................................................................(3.43)
Bo
Bo
(literatur 8 halaman 925)

Langkah 8. Hitung

WOR

secara

tepat

pada

saat

brekthrough

dengan

menggunakan persamaan sebagai berikut:

WOR

Bo
1

1
Bw
f wBT

.................................................................(3.44)

(literatur 8 halaman 925)

Dimana fwbt adalah water cut saat breakthrough (catatan bahwa fwbt
= fwf).
3.3.2 Prosedur perhitungan setelah breakthrough
Dianjurkan metodologi dari perhitungan perolehan setelah breakthrough
adalah didasarkan pada pemilihan beberapa nilai saturasi air disekitar sumur

35

produksi S we dan tentukan saturasi air rata-rata S we untuk masing-masing


S we .Untuk lebih spesifik langkah-langkahnya adalah sebagai berikut :
Langkah 1. Pilih S we sebagai variabel bebas; ambil harga-harga S we dengan
pertambahan 5 % diatas breakthrough, setiap titik pada kurva fw,
untuk Swe > Swbt mempunyai koordinat Sw = Swe, fw = fwe.
Langkah 2. Untuk tiap-tiap nilai yang dipilih dari Swe, hitung water cut reservoir
dan saturasi air rata-rata dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut :
S we S we

1 f we
................................................................(3.45)
dfw
dSw

Swe
(literatur 8 halaman 926)

Langkah 3. Hitung efisiensi pendesakan Ed untuk tiap-tiap nilai yang dipilih dari
Swe dengan persamaan sebagai berikut:
ED

S we S wi
...........................................................................(3.46)
1 S wi
(literatur 8 halaman 926)

Langkah 4. Hitung produksi minyak kumulatif Np untuk tiap-tiap nilai Swe


dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:
Np = Ns Ed .................................................................................(3.47)
(literatur 8 halaman 926)

Langkah 5. Tentukan volume pori dari injeksi air untuk tiap-tiap Swe dengan
persamaan sebagai berikut:
Qi

1
...........................................................................(3.48)
dfw
dSw
Swe
(literatur 8 halaman 927)

Langkah 6. Hitung injeksi air kumulatif untuk tiap-tiap nilai Swe dengan
persamaan sebagai berikut:
Winj ( PV )Qi .............................................................................(3.49)
(literatur 8 halaman 927)

36

Langkah 7. Asumsi laju injeksi air tetap, hitung waktu injeksi dengan persamaan
sebagai berikut:
t

Winj
Iw

.......................................................................................(3.50)
(literatur 8 halaman 927)

Langkah 8. Hitung produksi air kumulatif Wp pada beberapa waktu dari


persamaan material balance.
Winj = NpBo + WpBw
Pemecahan untuk Wp diberikan :
WP

Winj N p BO
BW

......................................................................(3.51)
(literatur 8 halaman 927)

Atau :

WP

Winj S we S wi ( PV )
BW

.......................................................(3.52)
(literatur 8 halaman 927)

Kita harus menekankan pada semua permulaan dengan asumsi


bahwa tidak ada gas bebas dari awal injeksi.
Langkah 9. Hitung WOR permukaan dengan menggunakan persamaan sebagai
berikut:

WOR s

BO
1

BW
1
fwe

................................................................(3.53)

(literatur 8 halaman 928)

Langkah 10. Hitung laju alir minyak dan air dari beberapa hubungan berikut:
I w QO BO QW Bw .....................................................................(3.54)
(literatur 8 halaman 928)

Memasukkan WOR permukaan kedalam hubungan dibawah ini:


I w QO BO QOWOR s Bw ...........................................................(3.55)
(literatur 8 halaman 928)

37

Pemecahan Qo diberikan:

QO

iW
..................................................................(3.56)
BO BW WOR s
(literatur 8 halaman 928)

Dan
QW QOWOR s ............................................................................(3.57)
(literatur 8 halaman 928)

Langkah 11. Tuliskan prosedur perhitungan langkah 1 10 dalam bentuk tabel


yang teratur.
Langkah 12. Tampilkan hasil perhitungan dalam bentuk grafik, masing-masing
terhadap waktu.

38

BAB IV
ANALISA DATA DAN PERHITUNGAN
4.1

Data yang digunakan


Tabel 4.1 adalah data produksi lapisan N#1 lapangan GLG yaitu data

yang digunakan untuk menghitung peramalan produksi minyak lapisan N#1


lapangan GLG dengan decline curve. Tabel 4.2 adalah data permeabilitas relatif
yaitu data yang digunakan untuk perhitungan prediksi performa reservoir dengan
injeksi air, sedangkan tabel 4.3 merupakan data reservoir yang juga dibutuhkan
untuk perhitungan peramalan ulah reservoir dalam Tugas Akhir ini seperti
perhitungan pada saat breakthrough dan perhitungan setelah breakthrough.
Tabel 4-1. Data produksi lapisan N#1 lapangan GLG
Date

oilvol(bopm)

oilvol(bopd)

ocum
(stb)

5/31/2006

8788.5

284

8788.5

6/30/2006

11240.4

375

20028.9

7/31/2006

8152.6

263

28181.5

8/31/2006

6544

211

34725.5

9/30/2006

5243.8

175

39969.3

10/31/2006

4598.17

148

44567.47

11/30/2006

3374.93

112

47942.4

12/31/2006

4907.32

158

52849.72

1/31/2007

5667.27

183

58516.99

10

2/28/2007

4674.71

167

63191.7

11

3/31/2007

4557.62

147

67749.32

12

4/30/2007

3900.04

130

71649.36

13

5/31/2007

4176.12321

135

75825.483

39

Penurunan Data Produksi Lapisan N#1


400
350

qo (BOPD)

300
250
200
150
100
50
3/24/2006

7/2/2006

10/10/2006 1/18/2007

4/28/2007

8/6/2007

t (waktu)

Gambar 4-1. Plot penurunan data produksi lapisan N#1 lapangan GLG

Tabel 4-2. Data Permeabilitas Relatif Sebagai Fungsi Sw


Sw
0.2
0.25
0.3

Kro
1
0.785765
0.594449

Krw
0
0.002494
0.011383

0.35

0.435389

0.024242

0.4

0.312192

0.034876

0.45

0.220556

0.051125

0.5

0.154216

0.070969

0.55

0.109381

0.09115

0.6

0.076621

0.124791

0.65

0.049042

0.166812

0.7

0.02795

0.215

0.75

0.01179

0.28475

0.8

0.36085

40

Pemeabilitas Relatif
1
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0

0.1

0.2

0.3

0.4

0.5

0.6

0.7

0.8

0.9

Sw

Gambar 4-2. Kurva Permeabilitas Relatif Terhadap Sw


Tabel 4-3. Data Fluida Reservoir Lapisan N#1 Lapangan GLG
Parameters

Unit

N#1

Porosity, Mean

26

Init. Water Sat., Mean

20

Oil FVF

RB/STB

1.076

Water FVF
Permeability, Mean
Orig. Pressure, Res.
Current Pres., Avg.
Datum Pres., Depth
Oil Sat. Pressure
Dissolved Gas GOR
Oil Viscosity, Res.
Water Viscosity, Res.
Gas Viscosity, Res.
Original Temp., Res.
Pour Point, Oil
Gravity, Oil

RB/STB
md
Psig
Psig
Ft. SS
Psig
SCF/STB
cp
cp
cp
Deg. F
Deg. F
Deg. API

1
1000
664
520
2691
235
134
3.3
0.305
N/A
180
90
36

41

Pada lapangan ini sumur akan di injeksikan dengan laju alir 1000 BOPD,
dan pola injeksi peripheral flood.
Data geometri injeksi : - sudut kemiringan = 0
- tebal reservoir = 16 ft
- jarak antara sumur injeksi dan produksi = 300 m
Perhitungan prediksi performa reservoir ini akan menganalisa prediksi
performa reservoir minyak pada pola ijeksi peripheral flood dengan penyelesaian
perhitungan menggunakan metoda kemajuan front.
Anggapan yang digunakan dalam penyelesaian perhitungan ini adalah
kondisi aliran steady state dan incompresible, sistem aliran linear, saturasi air
mula-mula immobile, proses pendesakan berlangsung secara tak tercampur
(immiscible displacement).

IOIP = 418,893.41 STB

300 m

Gambar 4.-3. Pola injeksi peripheral flood

42

Data

Data Produksi

Data Reservoir

Prediksi Decline curve

Prediksi Injeksi Air

Exponential Dengan Asumsi


Ekonomic Limit = 10 BOPD

Waktu Ekonomis

Ultimate Recovery

Recovery Faktor

Permeabilitas Relatif

Fractional Flow

Saat Breakthrough

Edbt,Npbt,Wibt,WOR,tbt
,qobt,qwbt,Wpbt

Setelah Breakthrough

Wid

Swe rata-rata

Ed,Np,Wi,WOR,t,qo,qw,Wp

Gambar 4-4. Flow Chart Perhitungan

43

4.2

Perhitungan produksi minyak Lapisan N#1 Pada lapangan GLG


dengan analisa decline curve(exponential)
Sebelum melakukan prediksi performa reservoir dengan injeksi air terlebih

dahulu kita lakukan prediksi produksi minyak dengan menggunakan decline curve
yaitu dengan menggunakan data produksi lapisan N#1 lapangan GLG.
Tabel 4-4. Hasil perhitungan penurunan laju produksi minyak
LapisanN#1 dengan decline curve (Exponential)
Date

oilvol(bopm)

oilvol(bopd)

ocum
(stb)

5/31/2006

8788.5

284

8788.5

6/30/2006

11240.4

375

20028.9

7/31/2006

8152.6

263

28181.5

8/31/2006

6544

211

34725.5

9/30/2006

5243.8

175

39969.3

10/31/2006

4598.17

148

44567.47

11/30/2006

3374.93

112

47942.4

12/31/2006

4907.32

158

52849.72

1/31/2007

5667.27

183

58516.99

10

2/28/2007

4674.71

167

63191.7

11

3/31/2007

4557.62

147

67749.32

12

4/30/2007

3900.04

130

71649.36

13

5/31/2007

4176.12321

135

75825.483

14

6/30/2007

3587.356031

120

79412.839

15

7/31/2007

3277.413641

106

82690.253

16

8/31/2007

2897.661123

93

85587.914

17

9/30/2007

2489.136834

83

88077.051

18

10/31/2007

2274.079

73

90351.13

19

11/30/2007

1953.469906

65

92304.6

20

12/31/2007

1784.692922

58

94089.293

21

1/31/2008

1577.901316

51

95667.194

22

2/29/2008

1315.476331

45

96982.67

44

23

3/31/2008

1243.263179

40

98225.933

24

4/30/2008

1067.982777

36

99293.916

25

5/31/2008

975.7106045

31

100269.63

26

6/30/2008

838.1508747

28

101107.78

27

7/31/2008

765.7358474

25

101873.51

28

8/31/2008

677.0103621

22

102550.52

29

9/30/2008

581.5626319

19

103132.09

30

10/31/2008

531.3164589

17

103663.4

31

11/30/2008

456.4092598

15

104119.81

32

12/31/2008

416.9761577

13

104536.79

33

1/31/2009

368.6613085

12

104905.45

34

2/28/2009

297.9312599

11

105203.38

35

3/15/2009

149.9994408

10

105353.38

Kurva Exponential Lapisan N#1


400
350

qo (BOPD)

300

q q0 exp D (t t0 )

250
200
150
100
50
3/24/2006 10/10/2006 4/28/2007 11/14/2007

6/1/2008

12/18/2008

7/6/2009

t (waktu)

Gambar 4-5. Penurunan laju produksi minyak lapisan N#1 lapangan GLG

45

Oil Cumulatif Lapisan N#1


120000

Ocum (STB)

100000
80000
60000
40000
20000
0
3/24/2006 10/10/2006 4/28/2007 11/14/2007 6/1/2008 12/18/2008 7/6/2009

t (waktu)

Gambar 4-6. Kurva Ocum terhadap t (primary recovery)


1. Initial Oil In Place (IOIP) = 418,893.41 STB
2. Laju Batas Ekonomis (q limit) = 10 BOPD
3. Waktu Ekonomis (t limit) = tanggal 15 Maret 2009 atau 2.8 tahun
4. Ultimate Recovery = 105,353 STB
5. Recovery Faktor =
=

EUR
100
IOIP

105.353
100
418,893.41

= 25 %

46

4.3

Perhitungan Prediksi Performa Reservoir Dengan Injeksi Air


- Hitung Kro/Krw
- Hitung w/o w/o = 0.305/3.3 = 0.092424
- Hitung fw dengan rumus fw

1
Kro

1 W

Krw
O

Tabel 4-5. Hasil Perhitungan Harga fw


Sw

Kro

Krw

Kro/Krw

fw

0.2

0.25

0.785765

0.002494

315.0621492

0.033201298

0.3

0.594449

0.011383

52.22252482

0.171626247

0.35

0.435389

0.024242

17.96011055

0.375947587

0.4

0.312192

0.034876

8.951485262

0.547245908

0.45

0.220556

0.051125

4.31405379

0.714938296

0.5

0.154216

0.070969

2.173005115

0.832751917

0.55

0.109381

0.09115

1.200010971

0.90016308

0.6

0.076621

0.124791

0.613994599

0.946299548

0.65

0.049042

0.166812

0.293995636

0.973546547

0.7

0.02795

0.215

0.13

0.988127529

0.75

0.01179

0.28475

0.041404741

0.996187797

0.8

0.36085

47

Fractional Flow

1
0.9
0.8
0.7

fw

0.6
0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0

0.1

0.2

0.3

0.4

0.5

0.6

0.7

0.8

0.9

Sw

Gambar 4-7. fw terhadap Sw


Swbt

fwbt

Swbt

Npdbt

0.45

0.714938

0.55

0.35

4.3.1 Perhitungan Prediksi Performa Reservoir Pada Saat Breakthrough.


1. Hitung Efisiensi displacement, Edbt
E DBT

Swbt Swc
1 Swc
0.55 0.2
1 0 .2

0.4375

48

2. Hitung produksi minyak kumulatif, Npbt

Np BT Ns.E DBT
Ns

AH (1 Swi )
5.615.Bo

760470 16 0.26(1 0.2)


(5.615 1.076)

418893STB

Np BT 418893 0.4375
183266 STB

3. Hitung kumulatif air injeksi, Wibt

Wi BT PV .Qi BT
PV .( Swbt Swi )
PV AH
760470 16 0.26

3163555.2 ft 3
563411.4 BBL

Wi BT 563411.4 (0.55 0.2)


197194 BBL

4. Hitung Waktu breakthrough, tbt


t BT

Wi BT
qt
197194
1000

197.194 Hari

49

5. Hitung Water Oil Ratio, WOR


WOR

fwbt Bo
1 fwbt Bw
0.714938 1.076
1 0.714938 1

2 .7

6. Hitung Laju Produksi Minyak, qo


qO

qt
1 fwbt
Bo

1000
(1 0.714938)
1.076

265STB / D

7. Hitung Laju Produksi Air, qw


fwbt qt
Bw

qw

Atau
qw qo WOR

qw

(0.714938 1000)
1

715STB / D

8. Hitung Produksi Air Kumulatif, WP


WP

Wibt NpbtBo
Bw
197194 (183266 1.076)
1

50

Tabel 4-6. Hasil Perhitungan Prediksi Performa Reservoir Sebelum


Breakthrough Sampai Terjadi Breakthrough
t

Wi= qt * t

Np = Wi/Bo

(hari)

(bbl)

(STB)

50

50000

46,468.40

100

100000

92,936.80

150

150000

139,405.20

197.194

197194

183,265.80

WOR

2.7

qo

qw

Wp

(STB/D) (STB/D)

265

(STB)

715

1. NPbt = 183,265.80 STB


2. Waktu Breakthrough (tbt) = 197 hari (12/14/2006)
3. Recovery Faktor Saat Breakthrough =

183,265.7993
100
418,893.41

= 44 %

Injeksi Air Kumulatif Sampai Breakthrough


250000

Wi (bbl)

200000

150000

100000

50000

0
0

50

100

150

200

t (hari)

Gambar 4-8. Kurva Wi terhadap t sampai terjadi Breakthrough

51

Produksi Minyak Kumulatif Sampai Breakthrough


200000
180000
160000
Np (stb)

140000
120000
100000
80000
60000
40000
20000
0
0

50

100

150

200

t (hari)

Gambar 4-9. Kurva Np terhadap t sampai terjadi Breakthrough


4.3.2 Perhitungan Prediksi Performa Reservoir Setelah Breakthrough
(Tangen Weldge)
1. Hitung harga Wid untuk setiap harga Swe
Wid

1
fwe

swe

Tabel 4-7. Hasil Perhitungan Harga Wid


Swe

fwe

0.45 (bt)

0.714938

0.5

0.55

dfwe

dSwe

dfwe/dSwe

Swe*

Wid

0.117814

0.05

2.35628

0.475

0.42439778

0.067411

0.05

1.34822

0.525

0.741718711

0.832752

0.900163

52

0.6

0.65

0.7

0.75

0.046137

0.05

0.92274

0.575

1.083728894

0.027247

0.05

0.54494

0.625

1.835064411

0.014581

0.05

0.29162

0.675

3.429120088

0.00806

0.05

0.1612

0.725

6.203473945

0.003812

0.05

0.07624

0.775

13.11647429

0.9463

0.973547

0.988128

0.996188

0.8

2. Hitung Swe
Swe Swe

1 fwe
fwe
Swe

Tabel 4-8. Hasil Perhitungan Swe rata-rata


Swe*

fwe

1 - fwe

dfwe/dSwe

Swe rata-rata

0.475

0.78

0.22

2.35628

0.568367512

0.525

0.87

0.13

1.34822

0.621423432

0.575

0.925

0.075

0.92274

0.656279667

0.625

0.962

0.038

0.54494

0.694732448

0.675

0.982

0.018

0.29162

0.736724162

0.725

0.992

0.008

0.1612

0.774627792

0.775

0.999

0.001

0.07624

0.788116474

53

3. Hitung Ed
ED

Swe Swc
1 Swc

Swe = 0.475
ED

0.568367512 0.2
1 0 .2

0.460459388

Swe = 0.525
ED

0.621423432 0.2
1 0 .2

0.526779288

4. Hitung W injeksi
Winj PV .

1
dfw

dSw Swe

Swe = 0.475
Winj 563411.4 0.424398
239110.7 BBL

Swe = 0.525
Winj 563411.4 0.741719
417893 BBL

5. Hitung waktu (t)

1
AH
t

q t dfwe
dSwe

54

Swe = 0.475
t

760470 16 0.26
0.424398
1000 5.615

239hari

Swe = 0.525
t

760470 16 0.26
0.741719
1000 5.615

417.8hari

6. Hitung water oil ratio (WOR)


WOR

fwe Bo
1 fwe Bw

Swe = 0 475
WOR

0.78 1.076
1 0.78 1

3 .8

Swe = 0.525
WOR

0.87 1.076
1 0.87 1

7 .2

7. Hitung Laju produksi minyak, qo


qO

qt
1 f we
Bo

Swe = 0.475
qO

1000
(1 0.78)
1.076

204.5STB / D

55

Swe = 0.525
qO

2000
(1 0.87)
1.076

120.8STB / D

8. Hitung Laju produksi air, qw


qw

f we qt
Bw

Swe = 0.475
qw

0.78 1000
1

780 STB / D

Swe = 0.525
qw

0.87 1000
1

870 STB / D

9. Hitung produksi minyak kumulatif (Np)

Np

AH Swe Swc
(5.615) Bo

Swe = 0.475
Np

760470 16 0.260.56836751 0.2


5.6151.076

192883.4 STB

Swe = 0 525
Np

760470 16 0.260.62142343 0.2


5.6151.076

56

220664.3STB

10. Hitung produksi air kumulatif ( Wp )


W inj = Np Bo + Wp Bw
Wp

Winj NpBo
Bw

Swe = 0.475
Wp

239110.7 (192883.4 1.076)


1

31568 STB

Swe = 0.525
Wp

417893 (220664.3 1.076)


1

180458 STB

Tabel 4-9. Hasil Perhitungan Prediksi performa Reservoir Setelah


Breakthrough
Wi (bbl)

t
(hari)

WOR

Np
(stb)

Wp (stb)

0.475 0.460459388

239,111

239

3.8

204

780

192,883

31,568

0.525 0.526779288

417,893

418

7.2

121

870

220,664

180,458

0.575 0.570349588

610,585

610

13.3

70

925

238,916

353,512

0.625 0.618415563 1,033,896

1034

27.2

35

962

259,050

755,158

0.675

1,932,006

1932

58.7

17

982

281,038 1,629,609

0.725 0.718284738 3,495,109

3495

133.4

992

300,885 3,171,357

0.775 0.735145588 7,389,971

7390

1074.9

999

307,948 7,058,620

Swe

Ed

0.6709052

qo
qw
(stb/d) (stb/d)

57

Efisiensi Displacement Setelah Breakthrough


0.8
0.7
0.6
Ed

0.5
0.4
0.3
0.2
0.1
0
0

500

1000

1500

2000

2500

3000

3500

t (Hari)
Gambar 4-10. Kurva Ed Terhadap t

Injeksi Air Kumulatif Setelah Breakthrough


4000000
3500000
Wi (bbl)

3000000
2500000
2000000
1500000
1000000
500000
0
0

500

1000 1500 2000 2500 3000 3500 4000


t (hari)

Gambar 4-11. Kurva Wi Terhadap t

58

Water Oil Ratio Setelah Breakthrough


140
120

WOR

100
80
60
40
20
0
0

500

1000

1500

2000

2500

3000

3500

t (hari)
Gambar 4-12. Kurva WOR Terhadap t

qo (STB/D)

Laju Produksi Minyak Setelah Breakthrough


220
200
180
160
140
120
100
80
60
40
20
0
0

500

1000

1500

2000

2500

t (hari)
Gambar 4-13. Kurva qo Terhadap t

3000

3500

59

Laju Produksi Air Setelah Breakthrough


1200

qw (STB/D)

1000
800
600
400
200
0
0

500

1000

1500

2000

2500

3000

3500

t (hari)
Gambar 4-14. Kurva qw Terhadap t

Produksi Minyak Kumulatif Setelah Breakthrough


350000
300000

Np (STB)

250000
200000
150000
100000
50000
0
0

500

1000

1500

2000

2500

t (hari)

Gambar 4-15. Kurva Np Terhadap t

3000

3500

60

Produksi Air Kumulatif Setelah Breakthrough


3500000
3000000
Wp (STB)

2500000
2000000
1500000
1000000
500000
0
0

500

1000

1500

2000

2500

t (hari)
Gambar 4-16. Kurva Wp Terhadap t
1. IOIP = 418,893.41 STB
2. Laju Batas ekonomis (q limit) = 10 BOPD
3. Waktu Ekonomis (t limit) = 2900 hari (5/9/2014)
4. Ultimate Recovery = 295,000 STB
5. RF =

295000
100
418893.41

= 70 %

3000

3500

61

BAB V
PEMBAHASAN

Pemilihan data trend untuk menghitung prediksi produksi minyak


lapangan GLG dengan analisa decline curve (exponential) adalah dengan
mengambil acuan pada data terakhir.
Dengan diasumsikan laju batas ekonomis sebesar 10 BOPD maka dari
perhitungan produksi minyak lapisan N#1 pada lapangan GLG dengan
menggunakan decline curve (exponential) di peroleh Waktu Ekonomis pada
tanggal 15 Maret 2009 dan di dapat Ultimate Recovery sebesar 105,353 STB
dengan Recovery Faktor 25 % .
Selanjutnya masalah prediksi performa reservoir pada suatu reservoir yang
akan mengalami proses injeksi air pada umumnya sangat tergantung pada
beberapa factor yaitu cara atau metoda pendekatan yang diambil, anggapan yang
digunakan dan tingkat ketelitian data-data yang digunakan.
Penyelesaian prediksi performa reserevoir dengan metoda kemajuan front
untuk sistem pendesakan linier dapat ditentukan dari kurva fractional flow
(Gambar 4-5 ) dan persamaan dasar yang digunakan adalah persamaan fraksi
aliran air serta persamaan kemajuan front. Dari pesamaan fraksi aliran air maka
ada beberapa parameter yang mempengaruhi besarnya efisiensi pendesakan, yaitu
saturasi fluida mula-mula, perbandingan viskositas fluida, besar kecilnya efek
gravitasi,sifat fisik fluida dan besarnya tekanan injeksi.
Dari hasil perhitungan terlihat bahwa mekanisme pendesakan front akan
berhasil jika kondisi saturasi air awal didalam reservoir lebih kecil dari saturasi
kritiknya (Swi < Swc). Karena jika saturasi air awalnya lebih besar dari saturasi
air kritik maka kemungkinan terbentuknya bidang front pendesak semakin kecil
dan akan terjadi efek chaneneling atau efek penerobosan yang akan mempercepat
terproduksinya fluida air sehingga efisiensi pendesakan menjadi berkurang.

62

Peningkatan recovery minyak dengan injeksi air akan berhasil jika program
injeksi dilakukan ketika reservoir tersebut masih mempunyai tekanan reservoir
yang cukup tinggi.
Penggunaan metoda kemajuan front pada perhitungan prediksi performa
reservoir untuk reservoir yang akan mengalami injeksi air akan berhasil dengan
baik jika kondisi reservoir yang dimodelkan tidak banyak menyimpang dari
kondisi yang sebenarnya.
Keberhasilan perhitungan prediksi performa reservoir untuk reservoir yang
akan mengalami injeksi air sangat tergantung pada beberapa factor, yaitu cara atau
metoda pendekatan yang diambil,anggapan yang digunakan dan tingkat ketelitian
data-data permeabilitas relatif yang digunakan.
Penyelesaian prediksi performa reservoir dengan metoda kemajuan front
untuk system pendesakan linier dapat ditentukan dari grafik fw vs Sw dan
persamaan dasar yang digunakan adalah persamaan fraksi aliran serta persamaan
kemajuan front.
Pada grafik fractional flow di dapat harga saturasi air saat breakthrough
0.45, saturasi air rata-rata saat breakthrough 0.55 dan fraksi aliran air saat
breakthrough 0.714938.
Pada perhitungan prediksi performa reservoir pada saat breakthrough di
dapat harga efisiensi displacement sebesar 0.4375, produksi minyak kumulatif
sebesar 183,266 STB, injeksi air kumulatif sebesar 197,194 BBL, waktu
breakthrough 197 hari, perbandingan debit produksi air terhadap debit
produksi minyak 2.7, Laju produksi minyak sebesar 265 STB/D, Laju
produksi air sebesar 715 STB/D, dan produksi air kumulatif 0 STB. Hasil
perhitungan sampai breakthrough bisa kita lihat pada tabel 4-6.
Dari hasil perhitungan prediksi performa reservoir pada kasus ini terlihat
bahwa sejak awal proses injeksi dilakukan hingga tercapainya kondisi
breakthrough diperoleh produksi minyak kumulatif sebesar 183,266 STB atau
recovery factor sebesar 44 %.

63

Pada periode selanjutnya yaitu setelah breakthrough, dengan makin


banyaknya air yang diinjeksikan semakin cepat pula kenaikan WOR produksi.
Umumnya besarnya WOR produksi ini merupakan salah satu batasan dari ukuran
ekonomi limit suatu reservoir minyak dan biasanya proses injeksi akan selesai
jika WOR produksi sudah melibihi batas yang telah ditentukan.
Begitu juga dengan qo, semakin banyak air yang di injeksikan maka
semakin cepat pula penurunan qo produksi, dan hasil perhitungannya bisa kita
lihat pada tabel 4-9.
Pada periode setelah breakthrough dengan asumsi economic limit 10
BOPD maka di dapat waktu ekonomis 2900 hari (5/9/2014) dan ultimate
recovery 295,000 STB dengan recovery factor sebesar 70 %.
Tabel 5-1. Perolehan minyak saat breakthrough dan setelah breakthrough

Produksi minyak kumulatif


Recovery faktor

Saat breakthrough

Setelah breakthrough

183,266 STB

295,000 STB

44 %

70 %

Berikutnya bisa kita hitung berapa peningkatan perolehan minyak pada


lapisan N#1 lapangan GLG jika dilakukan injeksi air yaitu dengan cara
membandingkan produksi minyak decline curve(exponential) dengan produksi
minyak injeksi air(Welge). Perbandingannya bisa dilihat pada tabel berkut.
Tabel 5-2. Perbedaan perolehan minyak antara decline curve dan injeksi air
Asumsi economic limit 10
BOPD
Waktu batas ekonomis
Produksi minyak kumulatif
Recovery Faktor

Decline curve
(exponential)

Injeksi air

3/15/2009 atau 2.9 tahun

2900 hari (5/9/2014)

105,353 STB

295,000 STB

25 %

70 %

64

400

Laju Produksi Minyak Lapisan N#1

350

qo (stb/d)

300
250
200
150

Decline Curve - Exponential

100

Water Injeksi - Weldge


50
0
5/28/2005 10/10/2006 2/22/2008

7/6/2009 11/18/2010

4/1/2012

8/14/2013 12/27/2014

t (waktu)

Gambar 5-1. Perbandingan qo pada decline curve(exponential)dan injeksi


air

65

BAB VI
KESIMPULAN
Dari uraian serta penjelasan yang meliputi semua bab, maka penulis dapat
mengambil kesimpulan diantaranya :
1. Pada perhitungan prediksi performa reservoir sampai kondisi breakthrough
diperoleh peningkatan recovery minyak sebesar 19 % dari IOIP.
2. Dengan asumsi laju batas ekonomis qo sebesar 10 stb/d

setelah

breakthrough diperoleh ultimate recovery minyak sebesar 295,000 STB


atau dengan peningkatan recovery minyak sebesar 47 %.

66

DAFTAR PUSTAKA

1. Buckley, S.E and Leverett, M.C., Mechanism Of Fluid Displacement In


Sands Trans AIME, 1942.
2. Buckley - leverett analysis, Reservoir Recovery Techniques 2006.
3. Diktat Kuliah, EOR (Enhanced Oil Recovery), Dedy Kristanto dan
Septoratno Siregar Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi
Mineral Institut Teknologi Bandung (ITB), 1995.
4. Diktat Kuliah, Mekanika Reservoir, Ir. Sonny Irawan, MT Jurusan Teknik
Perminyakan Fakultas Teknik Universitas Islam Riau (UIR), 2000.
5. Jurnal Teknologi Minyak dan Gas Bumi, No. 6 1996, Majalah IATMI.
6. L.P. Dake, Fundamentals Of Reservoir Engineering 1978.
7. Tarek Ahmed, Reservoir Engineering Hand Book Second Edition.
8. Tarek Ahmed, Reservoir Engineering Hand Book Third Edition.