Anda di halaman 1dari 42

SKENARIO 2

NEOPLASIA
NYERI PERUT
KANAN ATAS

KELOMPOK A-1
KETUA :
AIMAN IDRUS ALATAS
SEKRETARIS : ABIYYA FARAH PUTRI
ANGGOTA
:ELISA ROSANI
JAJANG PERMANA SUBHAN
AMIRTHA MUSTIKASARI
AYUNINGTYAS TRI HANDINI
BENING IRHAMNA
DHARMANING ESTU WIRASTYO
INTAN MARSELA
LATHIFA NABILA

(1102013015)
(1102013003)
(1102012074)
(1102012136)
(1102013022)
(1102013050)
(1102013057)
(1102013081)
(1102013136)
(1102013154)

NYERI PERUT KANAN ATAS


Seorang karyawan berumur 54 tahun, berobat ke poli penyakit

dalam. Pasien mengeluhkan nyeri pada perut kanan atas yang


dialami sejak 6 bulan yang lalu, hilang timbul namun dua bulan
terakhir nyeri semakin sering. Merasa mual dan selera makan
berkurang sejak 4 bulan yang lalu sehingga berat badan
berkurang 15 kg. Dari anamnesis diketahui pasien pernah terkena
hepatitis 15 tahun yang lalu dan sering mengkonsumsi alkohol.

Pada pemeriksaan fisik ditemukan BB 45 kg dengan TB 165 cm.

Tekanan darah dan tanda vital lainnya normal. Pemeriksaan


abdomen hepatomegali, dengan permukaan hati bernodul, tepi
tumpul dan nyeri tekan (+). Pada pemeriksaan laboratorium
didapatkan peningkatan serum transaminase SGPT dan SGOT
dengan bilirubin normal, Alpha Feto-Protein (AFP) 1000 U/L
(normal: <10 U/L), anti-HCV positif. Setelah diberikan analgetik
dan hepatoprotektor nyeri mereda. Setelah dilakukan
pemeriksaan USG dan biopsi hati pasien didiagnosis karsinoma
hepatoseluler. Pasien dianjurkan untuk menjalani transplantasi
hati. Pasien meminta waktu untuk berkonsultasi dengan seorang
ulama.

Sasaran Belajar
1. Memahami dan menjelaskan Karsinoma Hepatoseluler
Memahami dan menjelaskan Definisi
Memahami dan menjelaskan Epidemiologi
Memahami dan menjelaskan Etiologi
Memahami dan menjelaskan Klasifikasi
Memahami dan menjelaskan Patofisiologi
Memahami dan menjelaskan Manifestasi Klinis
Memahami dan menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding
Memahami dan menjelaskan Tatalaksana
Memahami dan menjelaskan Komplikasi
Memahami dan menjelaskan Prognosis
Memahami dan menjelaskan Pencegahan
2. Memahami dan menjelaskan Hukum Transplantasi Hati
menurut Agama Islam

Definisi Karsinoma hepatoseluler

Kanker hati (hepatocellular carcinoma)


adalah suatu kanker yang timbul dari hati.
Ia juga dikenal sebagai kanker hati primer
atau hepatoma. Hati terbentuk dari tipetipe
sel
yang
berbeda
(contohnya,
pembuluh-pembuluh empedu, pembuluhpembuluh darah, dan sel-sel penyimpan
lemak).
Bagaimanapun,
sel-sel
hati
(hepatocytes) membentuk sampai 80% dari
jaringan hati. Jadi, mayoritas dari kankerkanker hati primer (lebih dari 90 sampai
95%) timbul dari sel-sel hati dan disebut
kanker hepatoselular atau Karsinoma.

Epidemiologi Karsinoma hepatoseluler


Secara geografis, didunia terdapat tiga kelompok
wilayah tingat kekerapan karsinoma hepatoseluler,
yaitu kekerapan rendah (kurang dari tiga kasus);
menengah (tingga hingga sepuluh kasus); dan tinggi
(lebih dari sepuluh kasus per 100.000 penduduk).
Tingkat kekerapan tertinggi tercatat di Asia Timur dan
Tenggra serta di Afrika Tengan, sedangkan yang
terendah di Eropa Utara, Amerika Tengan, Australia,
dan Selandia Baru.
Karsinoma hepatoseluler jarang ditemukan pada
usia muda, kecuali di wilayah yang endemic infeksi
HBV serta banyak terjadi transmisi HBV perinatal.

Etiologi Karsinoma hepatoseluler

Klasifikasi Karsinoma Hepatoseluler


Tipe
morfologis /
makroskopik

1.Ekspansif
2.Infiltratif
3.Multifokal

1. Masif
2. Nodulus
3. Difus

Histologik
berdasarkan
organisasi
struktural tumor

1. gambaran lesi
berdiferensias
i baik hingga
berdiferensias
i buruk,
2. terdiri atas
trabekular
(sinusoidal),
pseudoglandu
lar (asiner),
kompak
(padat), dan
sirous

Ukuran
diameter

1. <1,5 cm :
berdiferensiasi
baik, sedikit
atipiaseluler
atau
struktural.
2. 1-3 cm: 40%
nodulnya
terdiri atas
lebih dari 2
jaringan
kanker dengan
derajat
diferensisi

STADIUM
Stadium I : Satu fokal tumor berdiametes < 3cm yang terbatas
hanya pada salah satu segment tetapi bukan di segment I hati

Stadium II : Satu fokal tumor berdiameter > 3 cm, terbatas pada


segement I atau multi-fokal terbatas pada lobus kanan/kiri

Stadium III : Tumor pada segment I meluas ke lobus kiri (segment IV)
atas ke lobus kanan segment V dan VIII atau tumor dengan invasi
peripheral ke sistem pembuluh darah (vascular) atau pembuluh
empedu (billiary duct) tetapi terbatas pada lobus kanan atau kiri

Stadium IV : Multi-fokal atau diffuse tumor yang mengenai lobus


kanan dan lobus kiri hati atau tumor dengan invasi (intra hepatic
vaskuler)/(biliary duct) /(extra hepatic vessel)

Patofisiologi
Apapun
agen
penyebabnya,
transformasi
maligna hepatosit, dapat terjadi melalui peningkatan
perputaran (turnover) sel hati yang diinduksi oleh
cedera (injury) dan regenerasi kronik dalam bentuk
inflamasi dan kerusakan oksidatif DNA.

Hal ini dapat menimbulkan perubahan genetik


seperti perubahan kromosom, aktivas onkogen selular
atau inaktivasi gen supresor tumor, yang mungkin
bersama
dengan
kurang
baiknya
penanganan
DNAmissmatch, aktivasi telomerase, serta induksi
faktor-faktor pertumbuhan dan angiogenik.

HBV : daerah-daerah tertentu dari genom virus hepatitis B

(kode genetik) masuk ke material genetik dari sel-sel hati.


Material genetik virus hepatitis B ini mungkin kemudian
mengacaukan/mengganggu material genetik yang normal
dalam sel-sel hati, dengan demikian menyebabkan sel-sel
hati menjadi bersifat kanker.

HCV : Tidak seperti virus hepatitis B, material genetik virus

hepatitis C tidak dimasukkan secara langsung kedalam


material genetik sel-sel hati. Diketahui, bagaimanapun,
bahwa sirosis dari segala penyebab adalah suatu faktor
risiko
mengembangkan
kanker
hati.
Telah
diargumentasikan, oleh karenanya, bahwa virus hepatitis C,
yang menyebabkan sirosis hati, adalah suatu penyebab
yang tidak langsung dari kanker hati.

Aflatoxin B1 : menyebabkan kanker dengan


menghasilkan perubahan-perubahan
mutasi) pada gen p53

(mutasi-

Alkohol : sirosis yang disebabkan oleh konsumsi


alkohol yang kronis adalah hubungan yang paling
umum dari kanker hati di dunia

Obat/Bahan

Kimia

menyebabkan hepatic
angiosarcomas yang tampak beberapa tahun setelah
paparan

Manifestasi klinis
1. Hepatoma fase subklinis
Pasien yang tanpa gejala dan tanda fisik hepatoma yang jelas, biasanya
ditemukan melalui pemeriksaan AFP dan teknik pencitraan.
2. Hepatoma fase klinis

Nyeri abdomen kanan atas:tumor tumbuh cepat regangan kapsul hati.


Perut kembung: massa tumor sangat besar, asites dan gangguan fungsi
hati.

Anoreksia: fungsi hati terganggu, tumor mendesak GIT


Letih, berat badan: metabolit dari tumor ganas dan asupan makan
berkurang

Demam: nekrosis tumor, disertai infeksi atau adanya metabolit tumor


Ikterus:

gangguan fungsi hati, tumor mendesak saluran empedu hingga


timbul ikterus obstruktif.

Asites: perut membuncit dan pekak bergeser, disertai udem kedua tungkai.
Sindroma paraneoplastik : hipoglikemia, eritrositosis, hiperkalsemia, diare atau
hipertensi arteri

Diagnosis Karsinoma hepatoseluler


Kriteria diagnosa karsinoma hepatoseluler menurut PPHI, yaitu:
1. Hati membesar berbenjol-benjol dengan/tanpa bising arteri.
2. AFP (Alphafetoprotein) yang meningkat lebih dari 500 ng/L.
3. USG, CT Scann, MRI, Angiography, ataupun Positron Emission
Tomography (PET) yang menunjukkan karsinoma hepatoseluler.
4. Peritoneoscopy dan biopsi menunjukkan adanya karsinoma
hepatoseluler.
5. Hasil biopsi atau aspirasi biopsi jarum halus menunjukkan
karsinoma hepatoseluler.
Diagnosa karsinoma hepatoseluler didapatkan bila ada dua atau
lebih dari lima kriteria atau hanya satu yaitu kriteria empat atau
lima.

Diagnosis Karsinoma hepatoseluler


Pemeriksaan Fisik
Didapatkan pembesaran hati yang berbenjol,
keras, kadang disertai nyeri tekan.
Palpasi :gesekan permukaan peritoneum viserale
yang kasar akibat rangsangan dari infiltrat tumor
ke permukaan hepar dengan dinding perut.
Auskultasi di atas benjolan kadang ditemukan
suatu suara bising aliran darah karena
hipervaskularisasi tumor.

Diagnosis Karsinoma hepatoseluler


Pemeriksaan Laboratorium
1. Alfa-fetoprotein (AFP)
AFP adalah sejenis glikoprotein, disintesis oleh hepatosit dan
sakus vitelinus, terdapat dalam serum darah janin.Ketika
hepatosit berubah ganas, AFP kembali muncul.AFP memiliki
spesifisitas tinggi dalam diagnosis karsinoma hepatoselular..
2. Petanda tumor lainnya
Tidak spesifik untuk diagnosis sifat hepatoma primer: des-gama
karboksi protrombin(DCP), alfa-L-fukosidase (AFU), gamaglutamil transpeptidase (GGT-II),CA19-9, antitripsin, feritin, CEA.
3. Fungsi hati dan sistem antigen antibodi hepatitis B
Petanda hepatitis B atau C positif, artinya terdapat dasar
penyakit hati untuk hepatoma, itu dapat membantu dalam
diagnosis.

Pemeriksaan Penunjang HCC

Ultrasonografi (USG)
USG merupakan metode paling sering digunakan
dalam diagnosis hepatoma.

a. memastikan ada tidaknya lesi penempat ruang dalam hati


b. mengindikasikan sifat lesi penempat ruang
c. membedakan lesi berisi cairan dari yang padat
d. membantu

memahami
hubungan
pembuluh darah penting dalam hati

kanker

dengan

e. membantu memahami penyebaran dan infiltrasi hepatoma


dalam hati dan jaringan organ sekitarnya

f. memperlihatkan

adatidaknya trombus
percabangan vena porta intrahepatik

tumor

dalam

CT SCAN
Parameter pemeriksaan rutin terpenting untuk
diagnosis lokasi dan sifat karsinoma hepatoseluler.

CT

dapat membantu memperjelas diagnosis,


menunjukkan lokasi tepat, jumlah dan ukuran
tumor dalam hati hubungannya dengan pembuluh
darah,
dalam
penentuan
modalitas
terapi
sangatlah penting.

CT scan sudah dapat membuat gambar karsinoma

dalam 3 dimensi dan 4 dimensi dengan sangat


jelas serta memperlihatkan hubungan karsinoma
ini dengan jaringan tubuh sekitarnya.

MRI
(Magnetic Resonance Imaging)

MRI merupakan teknik pemeriksaan non-radiasi,

tidak memakai zat kontras berisi iodium, dapat


secara jelas menunjukkan struktur pembuluh
darah dan saluran empedu dalam hati, juga
memperlihatkan struktur internal jaringan hati
dan hepatoma, sangat membantu dalam menilai
efektivitas terapi.
Dengan zat kontras spesifik
hepatosit dapat menemukan hepatoma kecil
kurang dari 1cm dengan angka keberhasilan
55%.

Angiografi arteri hepatica


Pada setiap pasien yang akan menjalani
operasi
reseksi
hati
pemeriksaan angiografi.

harus

dilakukan

Dengan angiografi ini dapat dilihat berapa luas


kanker yang sebenarnya

PET (Positron Emission Tomography)


Alat diagnosis karsinoma menggunakan glukosa
radioaktif yang dikenal sebagai flourine18 atau
Fluorodeoxyglucose
(FGD)
yang
mampu
mendiagnosa karsinoma dengan cepat dan
dalam stadium dini.

PET dapat menetapkan tingkat atau stadium HCC


sehingga tindakan lanjut penanganan karsinoma
ini serta pengobatannya menjadi lebih mudah. Di
samping itu juga dapat melihat metastase dari
karsinoma itu sendiri.

Diagnosis Banding HCC


1. Hemangioma
Tumor terlazim dalam hati, tumor ini biasanya subkapsular pada konveksitas
lobus hepatis dexter dan kadang-kadang berpedunkulasi. USG :bercakbercak ekogenik soliter dengan batas licin berbatas tegas. Pada foto polos:
kapsul berkalsifikasi.
2. Abses hepar
Bentuk infeksi hati yang disebabkan infeksi bakteri, parasit, maupun jamur
yang bersumber dari sistem gastrointestinal, ditandai dengan proses
supurasi parenkim hati. Biasanya sangat besar, kadang-kadang multilokular.
3. Tumor metastasis
Hepar adalah organ yang paling sering menjadi tempat tumor metastasi
setelah kelenjar limfe.

TATALAKSANA

Reseksi

Terapi yang paling ideal


untuk kanker hati stadium
dini adalah tindakan bedah
yaitu reseksi (pemotongan)
bahagian hati yang terkena
kanker dan juga reseksi
daerah

sekitarnya.

prinsipnya
bedah

dokter

akan

Pada
ahli

membuang

seluruh kanker dan tidak


akan

menyisakan

jaringan
penderita.

kanker

lagi
pada

Transplantasi
Hati
Bila kanker hati ini
ditemukan pada pasien
yang sudah ada sirrhosis
hati
dan
ditemukan
kerusakan
hati
yang
berkelanjutan
atau
sudah hampir seluruh
hati terkena kanker atau
sudah ada sel-sel kanker
yang masuk ke vena
porta (thrombus vena
porta).Transplantasi hati
adalah
tindakan
pemasangan organ hati

Embolisasi Arteri
Injeksi Etanol Perkutan
(Percutaneus Etanol InjeksiHepatika (Trans Arterial
Embolisasi = TAE)
= PEI)
Pada kasus-kasus yang menolak
untuk dibedah dan juga menolak
semua

tindakan

tidak

atau

mampu

pasien

membiayai

pembedahan dan tak mampu


membiayai
maka

tindakan

menjadi
PEI

tindakan

pilihan

PEI-lah

yang

satu-satunya.

sel-sel

baru

timbul
sehingga

diperlukan banyak makanan dan


oksigen, dengan demikian terjadi
banyak pembuluh darah baru
(neovascularisasi)

yang

merupakan cabang-cabang dari


pembuluh darah yang sudah ada

pasien stadium dini saja dan

disebut pembuluh darah pemberi

pada

Pengobatan

dikerjakan

banyak

kanker

pada

tidak

hanya

lainnya

Pada

stadium
paling

lanjut.
optimal

dikerjakan pada garis tengah


kurang dari 3 cm.

makanan
Tindakan

(feeding
TAE

feeding artery

ini

artery)

menyumbat

Terapi sistemik
1. Kemoterapi

sitotoksik (etoposide, doxorubicin, epirubicin,


cisplatin, 5-fluorouracil, mitoxantrone, fludarabine, irinotecan,
nolatrexed).

2. Terapi hormonal: antiestrogen, tamoxifen dipakai karena bisa


menurunkan jumlah reseptor estrogen di hepar.

3. Terapi somatostatin (ocreotide, lanreotide): Aktivitas antimitosis


terhadap tumor nonendokrin, sel HCCreseptor somatostatin.

4. Thalidomide:

Terapi
tunggal/kombinasi
dengan
epirubicin/interferon menunjukkan aktivitas yang terbatas pada
pengobatan HCC.

5. Terapi interferon: Efek langsung anti virus,efek imunomodulasi,


serta efek antiproliferasi langsung maupun tak langsung.

6. Molecularly targeted therapy, adalah inhibitor tirosin-kinase multi


target dengan kemampuan antiangio genesis pula.

Komplikasi karsinoma hepatoseluler


Asites, perdarahan saluran cerna atas, enselofati
hepatica, sindrom hepatorenal (keadaan pasien dengan
hepatitis kronik, kegagalan fungsi hati, hipertensi portal yang
ditandai dengan gangguan ginjal dan sirkulasi darah).

Prognosis Karsinoma
hepatoseluler

Angka mortalitas pasien HCC masih tinggi. Kausa


kematian pada karsinoma hepatoseluler adalah akibat
kegagalan sistemik, perdarahan saluran cerna atas,
koma hepatik dan ruptur hati.

Faktor yang mempengaruhi prognosis terutama


adalah ukuran dan jumlah tumor, ada tidaknya
trombus kanker dan kapsul, derajat sirosis yang
menyertai, metode terapi.

Pencegahan Karsinoma
Hepatoseluler
Pencegahan Primer
Pencegahan Primordial
1.Konsumsi makanan
berserat
2.Hindari makanan tinggi
lemak dan makanan yang
mengandung bahan
pengawet/ pewarna.
3.Konsumsi vitamin A, C, E,
B kompleks dan suplemen

a. Memberikan imunisasi hepatitis B


bagi bayi segera setelah lahir.
b. Memberikan penyuluhan kepada
masyarakat tentang virus hepatitis
(faktor-faktor risiko kanker hati)
sehingga kejadian kanker hati
dapat dicegah melalui perilaku
hidup sehat.
c. Menghindari makanan dan
minuman yang mengandung
alkohol.
d. Menghindari makanan yang
tersimpan lama atau berjamur
karena berisiko mengandung jamur
e. Membatasi konsumsi sumber
radikal bebas

Pencegahan Sekunder

1.Melakukan pemeriksaan
kepada tenaga kesehatan
untuk menghindari
penyakit.

2.Rutin mengkonsumsi
obat yang telah di berikan
dokter apabila di
diagnosis suatu penyakit.

Pencegahan Tersier
1.perawatan terhadap
penderita kanker hati
melalui pengaturan pola
makan, pemberian
suplemen pendukung
penyembuhan kanker,
2.cara hidup sehat agar
dapat mencegah
kekambuhan setelah
operasi.

Memahami dan menjelaskan


Hukum
Transplantasi
Hati
menurut
Agama
Islam

Transplantasi Organ Dari Donor Yang


Masih Hidup
Seseorang diperbolehkan pada saat hidupnya

mendonorkan sebuah organ tubuhnya kepada


orang lain yang membutuhkan organ yang
disumbangkan itu

Mendonorkan

organ
tunggal
yang
dapat
mengakibatkan kematian si pendonor, Maka
hukumnya
tidak
diperbolehkan
(haram),
berdasarkan firman Allah SWT dalam Al-Quran
surat

(Al-Baqorah ayat 195) dan janganlah kamu

menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan

(Al-Maidah ayat 2)dan jangan tolong-menolong


dalam berbuat dosa dan pelanggaran

Hukum Transplantasi Dari Donor Yang


Telah Meninggal
Adapun beberapa hukum yang harus kita tahu, yaitu :

Dilakukan setelah memastikan : si pendonor ingin


menyumbangkan organnya setelah dia meninggal.

Jika pendonor organ belum memberikan persetujuan

terlebih dahulu maka dilimpahkan kepada pihak


keluarga pendonor terdekat : pengambilan keputusan.

Organ yang akan disumbangkan haruslah organ yang

dapat menyelamatkan atau mempertahankan kualitas


hidup manusia lainnya.

Organ yang akan disumbangkan harus dipindahkan


setelah dipastikan secara prosedur medis bahwa si
pendonor organ telah meninggal dunia.

Keadaan Darurat
Donor anggota tubuh yang bisa pulih kembali
Disimpulkan bahwa darah, kulit hukumnya boleh selama hal itu sangat darurat
dan dibutuhkan. (Fatwa Kibar Ulama Ummah, hal. 939) Adapun dalil-dalilnya
adalah sebagai berikut :

Firman Allah swt :


Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-

olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. " ( Qs Al Maidah : 32 )

Dalam ayat ini, Allah swt memuji setiap orang yang memelihara kehidupan

manusia, maka dalam hal ini, para pendonor darah dan dokter yang menangani
pasien adalah orang-orang yang mendapatkan pujian dari Allah swt, karena
memelihara kehidupan seorang pasien, atau menjadi sebab hidupnya pasien
dengan izin Allah swt.

Donor anggota tubuh yang bisa menyebabkan kematian.


Dalam transplantasi organ ada beberapa organ yang akan menyebabkan

kematian seseorang, seperti: limpa, jantung, ginjal, otak. Maka mendonorkan


organ-organ tubuh tersebut kepada orang lain hukumnya haram karena
termasuk dalam kategori bunuh diri. Dan ini bertentangan dengan firman Allah
swt : "dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan. "
(Qs Al Baqarah : 195)

Juga dengan firman Allah swt : "Dan janganlah kamu membunuh dirimu sendiri ,
sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. ( Qs An Nisa : 29 )

DAFTAR PUSTAKA
Abu Dawud. Sunan Abi Dawud, vol. II. tt. Dar al-Fikr,
tt.

Abdul Rasyad. 2006. Pentingnya Peranan Radiologi


Dalam Deteksi Dini dan Pengobatan Kanker Hati
Primer. USU Press. Sumatra.

Bagian Farmakologi FKUI, 2007. Farmakologi dan


Terapi Edisi 5. Jakarta:FKUI

Corwin, Elizabeth J.2009.Buku Saku


Patofisiologi.Jakarta:EGC.

Rasad S., 2005. Radiologi Diagnostik. Jakarta: FKUI


Rifai A., 1996. Karsinoma Hati. dalam Soeparman
(ed). Ilmu Penyakit Dalam Jilid 1 edisi ketiga.
Jakarta : Balai Penerbit FKUI.