Anda di halaman 1dari 10

SEJARAH PERADILAN AGAMA DI INDONESIA

A. Masa (Periode ) Prapemerintahan Hindia Belanda


1. Tahkim dan muhakkam
Ketika pemeluk umat islam masih sedikit, wujud Peradilan Agama belum seperti
sekarang ini, pada masa itu bila terjadi perselisihan atau sengketa, diantara anggota
masyarakat, diselesaikan dengan cara tahkim kepada guru atau mubaligh yang
dianggap mampu dan berilmu Agama, orang yang bertindak sebagai hakim disebut
muhakkam.
1. Masa (Periode) Ahlul Hilli Walaqdi
Ketika penganut Agama Islam telah bertambah banyak dan terorganisir dalam
kelompok masyarakat yang teratur, jabatan hakim atau Qodhi dilakukan secara
pemilihan dan baiat oleh ahlul hilli walaqdi, yaitu pengangkatan atas seseorang
yang dipercaya ahli oleh majelis atau kumpulan orang-orang terkemuka.

3. Masa (Periode) Tauliyah


a. di Aceh dengan nama Mahkamah Syariah Jeumpa
b. di Sumatra Utara dengan nama Mahkamah Majelis Syara
c. di Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya yang merupakan bekas wilayah kerajaan
Islam Ukai istilah Hakim Syara atauQadhi Syara
d. di Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan, karena peran Syekh Arsyad
Al-Banjari, kerapatan Qadhi dan Kerapatan Qadhi Besar,

e. di Sumbawa Hakim Syara di Sumatra Barat nama mahkamah tuan kadi atau
Angku Kali;
f. di Bima (NTB) dengan nama Badan Hokum Syara dan;
g. di kerajaan Mataram Pengadilan Surambi , disebut demikian karena tempat
mengadili dan memutus perkara adalah di Serambi Masjid.

B. Masa (Periode ) Peralihan / Transisi


Berlakunya hukum perdata islam diakui oleh VOC dengan resolute der indische
regeling tanggal 25mei 1760, yaitu berupa suatu kumpulan aturan hokum
perkawinan dan hokum kewarisan menurut hokum islam , atau compendium freijer;
untuk dipergunakan di pengadilan VOC .
Juga terdapat kumpulan-kumpulan hokum perkawinan dan hokum kewarisan
menurut hokum islam yang dibuat yang dipakai di daerah-daerah lain , yaitu
Cirebon, Semarang dan Makassar.

C. Masa (Periode ) Pemerintahan Hindia Belanda Ke-I

Di dala m pasal 1 stbl.1882 no 152 di sebutkan bahwa di tempat-tempat dimana


telah di bentuk (pengadilan) landraad maka disana di bentuk pengadilan agama.
Didalam sbl.1882 no. 152 tersebut tidak disebut mengenai kewenangan pengadilan
agama. Didalam pasal 7 hanya disinggung potongan kalimat yang berbunyi
keputusan raad agama yang melampaui batas wewenang yang memberikan

petunjuk ada peraturan sebelumnya yang mengatur mengenai ordonasi yang


menyangkut wewenang Pengadilan Agama. Ordonasi tersebut adalah stbl. 1820 no
22 jo kemudian stbl. 1835 no.58. dalam pasal 13 stbl. 1820 no.22 jo. Stbl 1835
no.58, disebutkan : jika diantara orang Jawa dan orang Madura terdapat perselisihan
(sengketa) mengenai perkawinan maupun pembagian harta pusaka dan sengketasengketa sejenis dengan ituharus diputus menurut Hukum Syara(Agama) Islam,
maka yang menjatuhkan keputusan dalam hal itu hendaknya betul-betul ahli Agama
Islam

D. Masa (Periode ) Pemerintahan Hindia Belanda Ke-II


Pada tahun 1925 regering reglement di ubah namanya menjadi : IS (wet de op
staats inrichting van nederlands indie) dengan stbld. 1925 No. 415 jo. 447 pasal 78
RR lama dijadikan/diberi pasal baru, yaitu 134 IS (indiche staats regeling)
Pada tahun 1929 baru diadakan perubahan mengenai isi stbld . 1925 tersebut dan
dalam kaitannya dengan lembaga Peradilan Agama . Pada tahun 1929 baru di adakan
perubahan mengenai isi dari IS, yaitu dengan Stbld . 1929 No. 221 Pemerintah
Hindia Belanda mengubah pasal 134 ayat (2) IS , sehingga di nyatkan bahwa ,
Dalam hal terjadi perkara perdata antara sessama orang islam akan di
selesaikan oleh hakim agama islam islam apabila hokum adat mereka
menghendakinya dan sejauh tidak ditentukan lain dengan suatu ordonasi.
Pernyataan pasal itu dapat diartikan bahwa hokum islam tidak berlaku lagi di
Indonesia kecuali untuk hal-hal yng menghendaki oleh hokum adat . Pasal 134 ayat
(2) IS 1925 itulah yang menjadi formal dan pangkal tolak dari teori receptie

Sejak saat itu, bermulalah suatu masa dimana seakan-akan masyarakat Indonesia
telah merasakan suatu hal yang benar dan biasa saja hukum islam itu bukan hokum
di Indonesia dan telah tertanam didalam pikiran orang khususnya kalangan sarjan
hukkum bahwa yang berlaku adalah hokum adat , dan hanyalah, kalau hokum islam
itu menjadi hokum adat barulah menjadi hokum.
Sebagai tindak lanjut dari kebijakan tersebut, pemerintah penjajah mengeluarkan
stbld. 1937 No. 116 yang mengurangi wewenang Pengdilan Agama memeriksa
perkara waris sehingga wewenangnya hanya mengenai Nikah, Talak, dan Rujuk saja.
Dalam pasal 3 ayat 1 disebutkan bahwa, bila sebuah keputusan hakim agama tidak di
terima untuk dijalankan (enggan dilaksanakan), maka dimintakan executor
verklaring ke Pengadilan Negeri (Peradilan Umum).
Dengan stbl. 1937 no. 638 dan 639 di atur pembentukan pengadilan agama
(disebut Kerapatan Kadi) dan Pengadilan Tinggi Agama (disebut Kerapatan Kadi
Besar) di Kalimantan seLatan dan Timur, dengan mengecualikan daerah pulau laut
dan dan hulu sungai. Sedang mengenai wilayah kekuasaan mengadili, dan ketentuan
lain tidak berbeda dengan ketentuan untuk lingkungan Peradilan Agama untuk Jawa
dan Madura.
Kemudian dengan stbld. 1937 No. 610 di bentuk lembaga Peradilan Banding
(Appel) yaitu Mahkamah Islam Tinggi dalam Peradilan Agama di Jawa dan Madura.
Dalam pasal 7 disebutkan susunan pengadilan yang terdiri dari seorang ketua, dua
orang anggota , dan seorang panitera.
E. Masa (Periode ) Penjajahan Jepang
Lembaga Pengadilan Agama yang sudah ada sejak penjajahan Belanda, tetap
berdiri dan di biarkan bentuknya semula. Perubahan yang yang dilakukan terhadap

lembaga ini hanyalah dengan memberikan atau mengubah nama saja yaitu sooryoo
hooin untuk pengadilan agama dan kaikyoo kootoo hooin untuk Mahkamah Islam
Tinggi (Pengadilan Tinggi Agama).
Dalam sidang dewan pertimbangan (sanyo kaigi) di persoalkan apakah
urusan agama islam dilaksanakan oleh pemerintah, dan apakah pengadilan agama
berdiri terpisah dengan pengadilan negeri atau menjadi bagian dari pengadilan
negeri, dengan mengangkat penasihat urusan agama . H. Zaini A. Noeh dan H. A
Basiit Adnan dalam buku sejarah singkat pengadilan agama islam di Indonesia
menuliskan. Bahwa jepang berpendirian untuk mengadakan keseragaman (unifikasi)
dalam peradilan, yaitu satu peradilan untuk semua golongan penduduk kecuali untuk
bangsa jepang.meninjau secara ringkas tentang keadaan peradilan diseluruh
Indonesia zaman jepang adalah sukar sekali , oleh karena daerah-daerah Indonesia
pada zaman pendudukan jepang dibagi-bagi dalam kekuasaan yang berbeda, yakni
Sumatra adalah termasuk daerah angkatan darat yang berpusat di shonanto
(Singapura), Jawa Madura dan Kalimantan adalah daerah angkatan darat yang
berpusat di Jakarta . sedang Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara adalah daerah
angkatan laut yang berpusat di Makasar.

F. Masa Setelah Kemerdekaan Republik Indonesia

Dalam UU No. 14 tahun 1970 tentang pokok kekuasaan kehakiman ditegaskan :


a. Prinsip Peradilan dilakukandemi keadilan beradasarkan Ketuhanan Yang
Maha Esa (Pasal 4 ayat 1) Proses Peradilan Sederhana , cepat dan biaya
ringan ( Pasal 4 ayat 2)

b. Kekuasan Kehakiman dilakukan oleh pengadilan dalam lingkungan :

Peradilan Umum

Peradilan Agama

Peradilan Militer

Peradilan Tata Usaha Negara (Pasal 10 Ayat 1)

c. Kasasi berada di tangan Mahkamah Agung untuk semua lingkungan


Peradilan Negara , (pasal 10ayat 2,3, dan 4)
d. Badan-badan Peradilan (di luar lingkungan departemen kehakiman secara
organisatoris , administrative dan financial tetap berada di bawah kekuasaan
masing-masing departemen (Pasal 11 Ayat 1) ; dan
e. Susunan kekuasaan dan acara dari badan-badan peradilan tersebut diatur
dalam Undang-Undang tersendiri (Pasal 12).

Dalam pasal 63 ayat 1 di tegaskan bahwa, Yang dimaksud dengan pengadilan dalam
Undang-Undang ini adalah
a.

Pengadilan Agama bagi mereka yang beragama Islam

b. Pengadilan Umum bagi lainnya.


Setelah berlakunya UU No. 1 tahun 1974 dan setelah berlakunya UU no. 7
tahun 1989 terdapat 16 hal yang merupakan wewenang Pengadilan Agama.
selanjutnya dikeluarkan Pengaturan Menteri Agama ( PMA) No. 3 tahun 1975
tentang kewajiban pegawai pencatat nikah.

Pada tahun 1985 di keluarkan UU No. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah


Agung . dalam Pasal 1 ditetapkan bahwa , Mahkamah Agung adalah Lembaga Tinggi
Negara Sebagaimana dimaksud dalam ketetapan Majelis Permusyawaran Rakyat
Republic Indonesia NO. III MPR / 1978. Dalam pasal 2 ditetapkan bahwa
Mahkamah Agung adalah Pengadilan Agama Tertinggi dari semua lingkungan
pengadilan , yang dalam melaksanakan tugasnya terlepas dari pengaruh pemerintah
dan pengaruh-pengaruh lainnya.
Tahun 1989 -1999
Setalah berlakunya UU No. 7 tahun 1989,di keluarkan tiga peraturan yaitu :
a.

Surat edaran Mahkamah Agung No. 1tahun 1990, tanggal 12 maret 1990 tentang

petunjuk pembuatan penetapan sesuai pasal 84 ayat 4 UU No. 7 tahun 1989;


b.

Surat edaaran menteri agama No. 2 tahun 1990 tentang petunjuk pelaksanaan

UU No. 7 tahun 1990; dan


c.

Instruksi Presiden No. 1 tahun 1991tentang penyebar luasan Kompilasi Hokum

Islam.
Empat lingkungan kekuasaan kehakiman yaitu:
1. Peradilan Umum
2. Peradilan Agama
3. Peradilan Militer
4. Peradilan Tata Usaha Negara
Berdasarkan pasal 11 UU No.14 tahun 1970 empat lingkungan kekuasaan kehakiman
tersebut diatas secara administrative, organisatoris, dan financial berada di bawah
lingkungan departemen masing-masing. Dengan demikian departemen kehakiman
membawahi peradilan umum dan peradilan tata usaha Negara , departemen agama

membawahi peradilan agama dan departemen pertahanan dan keamanan (dahulu)


membawahi peradilan militer.

SEJARAH SINGKAT PERADILAN AGAMA


Jauh sebelum pemerintah colonial belanda menginjak kaki di Indonesia ,
yang dewasa ini penduduknya mayoritas islam, ini telah terbentuk masyarakat islam
ysng kuat. Di beberapa daerah di Indonesia islam sebagai Agama resmi dan Hokum
Negaranya, seperti sultan-sultan di aceh, pagaruyung dan bonjol (minang kabau),
Demak, Pajang, Mataram, Banjar, Pasai, bahkan juga di Malaka dan Brunai
Semenanjung Malaya.
Prof.Mr.Lodewijk Willem Christian Van Den Berg ini pulalah yang
menappealkan kepada pemerintah belanda agar kepada orang-orang Indonesia yang
beragama islam yang beragama islam tetap diperlakukan hokum islam walaupun
dengan beberapa penyimpangan seperti tercantum semula dalam pasal (75 RR Pasal
78) dan pasal 109 RR stbld statbladaad 1854 No. 129 di Negeri Belanda dan S. 1855
No.2 di Hindia Belanda.
Pemerintah colonial belanda untuk pertama kali dibentuk peradilan agama
yang berbeda-beda dalam wilayah hindia belanda (indonesia) seperti:
1. di jawa dan madura terdapat peradilan agama tetapi hakim tersendiri tidak
ada, Peradilan Agama di lakukan oleh pemimpin-pemimpin masjid yang
dinamakan penghulu.
2. di Aceh , Jambi Sambas Pontianak, di daerah-daerah pantai Kalimantan
Tenggara , Sulawesi, Ternate, Ambon terdapat Hakim Agama tersendiri , di

samping pegawai-pegawai mesjid, hakim agama yang disebut Kali, Qadhi


atau Hakim.
3. di Minang kabau atau Sumatra barat sekarang tidak terdapat hakim Agama
tersendiri akan tetapi urusan agama diadili oleh rapat agama nagari yang
anggota-anggotanya terdiri dari kepala-kepala Nagari.
4. di Tanah Gayo, Alas dan Batak di Sumatra, disebagian besar Sumatra
selatan , Bangka, beliton, dan minahasahanya dikenal segolongan pegawai
agama yang diserahi memelihara mesjid-mesjidpegawai melaksanakan
perkawinan dan perkerjaan lain-lain menurut syariat islam, tetrapi disamping
itu tidak melakukan kekuasaan kehakiman. Oleh karena tidak adanya hakim
agama maka sengketa tentang perkawinan dan perceraian diantara hakim
pribumi.

D. PENGERTIAN PERADILAN AGAMA


Pengadilan Agama adalah tempat dimana lakukan usaha mencari keadilan
dan kebenaran yang diridhoi Tuhan Yang Maha Esa yakni melalui suatu majelis
hakim atau Mahkamah . Peradian agama di sebut juga Mahkamah Syariah yang
berarti Pengadilan atau mahkamah yang tugasnya menyelesaikan perselisihan hokum
agama atau hokum syaraq. Peradilan agama hanya khusus berlaku bagi orang yang
beragama islam saja.
Memisahkan atau mendamaikan antara dua pihak atau lebih yang berselisih
dengan menggunakan hokum Allah. Terdapat pada Al-quran surat al-maidah ayat
49 (Q. V : 49) hendaklah kamu menghukum di antara mereka menurut peraturan
yang diturunkan Allah .?

Dan apabila kamu menghukum di antara manusia hendaklah kamu hokum


dengan seadil-adilnya (Q. IV : 58).
Bahwa pengadilan agama hanya menyelesaikan sebagian kecil hokum
Perdata Islam. Hukum Perdata dalam hal ini terbatas hanya mengenai hokum
Perkawinan , Harta Benda, Warisan dan hokum hokum Perikatan seperti Wakaf,
Hibah, Baitul mal dan sebagainya. Justru karena itu peradilan agama atau mahkamah
syariah tidak berkuasa memutuskan perselisihan perbedaan paham tentang masalah
agama pada umumnya.
Pengertian

PA

menurut

dalam

perundang-undangan

di

Indonesia

sebagaimana tersebut dalam 134 ayat 21.S (indsiche staatsregeling) atau stbld. 1929
no. 221 (wet op de staats inrichting van nederlands indie) yang di keluarkan dan
ditetapkan pada tahun 1929 dan mulai berlaku tanggal 1 januari 1929 dimana
dinyatakan : Bahwa perkara perdata antara orang-orang islam jikalau hokum
adat mereka menghendaki, diadili oleh hakim agama sekedar tidak ditentukan
lain dengan ordonansi.
Peradilan agama merupakan terjemahan dari goddienstige rechts praak yang
berarti peradilan agama.
Yang di maksud PA adalah daya upaya untuk mencari keadilan atau
penyelesaian perselisihan hokum yang dilkukan menurut peraturan-peraturan
dalam agama.