Anda di halaman 1dari 5

Nama Kelompok:

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
1. Peran Farmasi Klinis dalam PN?
- Mengatur regimen dosis
- Meracik sediaan PN, memonitoring kondisi pasien
- Memberikan saran kefarmasian dan edukasi pada pasien
- Monitoring terdiri dari : kadar gula darah, kondisi darah dan Sindrom Refeding
(James_chatgilaou, 1998)
2. Pertimbangan pemerian rute PN?
- Digunakan pada pasien kondisi-kondisi yaitu:
- Pada pasien operasi yang kekurangan nutrisi
- Kemoterapi/radiasi, kelainan saluran cerna akut/kronik
- Trauma, luka bakar dlam keadaan koma
(The Joint Formulary Committee, 2009)
3. Pemilihan rute PN?
-PN diberikan melalui pembuluh vena. Dibagi 2 jalur, vena sentral dan vena perifer. Pada
jalur vena perifer memilki resiko komplikasi lebih jarang dan murah. Sedangkan pada
jalur sentral nutrisi parenteral dimasukkan melalui vena subklavian menuju vena kava
superior melalui operasi (Darford&Gravestra.NHS Trust, 2006).
4. cara penentuan regimen dosis untuk PN
Menganalisis regimen dosis?
Menurut metode Scholfield :
Usia 11 bulan memiliki jumlah kalori total = 0,167 (7,7 kg) + 15,17 (74) 617,6 =
506,2659 kkal/hari x 1,6 (factor stress) = 810,02544kkal/hari
4. Bagaimana teknik pencampuran sediaan?
Di rumah sakit penyiapan parenteral mitrisi dilakukan oleh para farmasis atas permintaan
dari dokter. Dalam hal ini farmasis melakukan pencampuran nutrisi parenteral, karena

kondisi setiap pasien yang berbeda membutuhkan komposisi nutrisi parenteral yang
spesifik. Dan komposisi yang spesifik dari nutrisi parenteral ini tidak terdapat dipasaran,
sehingga harus disiapkan oleh farmasi. Nutrisi parenteral diberikan kepada pasien melalui
dua rute. Rute manakah yang menjadi pilihan harus disesuaikan dengan konsentrasi
larutan (tonisitas larutan), serta sarana dan prasarana yang terdapat di rumah sakit
tersebut .
Kedua rute pemberian obat nutrisi parenteral adalah :
1. Vena sentral
2. Vena perifer
Dalam hal pencampuran, nutrisi parenteral terbagi atas komponen dasar dan komponen
additive (tambahan). Dalam pembuatananya komponen dasar biasanya dicampur terlebih
dahulu dan dibuat dalam sejumlah volume tertentu. Komponen dasar yang terdiri dari :
Karbohidrat
Jenis karbohidrat yang digunakan dalam nutrisi parenteral adalah dekstose dengan
pertimbangan harganya yang relatif murah dan mudah didapatkan. Dipasaran tersedia
larutan infus deksrrosa dalam berbagai konsentrasi antara 5 % - 70 %.
Protein
Protein biasanya diberikan dalam benruk asam amino.
Lemak (lipid )
Lemak biasanya diberikan dalam bentuk emulsi lemak. Dipasaran lemak tersedia dalam
konsentrasi 10 % atau 20 %. Lemak dapat dicampurkan dengan komponen larutan nutrisi
parenteral dan campuran ini disebut larutan 3-in 1 atau total nutrient admixture.
Tehnik 3-in 1 mempunyai beberapa keuntungan tetapi dalam pembuatannya harus
dilakukan secara cermat dengan mempertimbangkan beberapa aspek seperti stabilitas
nutrisi parenteral serta homogenitas campuran tersebut .
Air
Biasanya digunakan aqua pi (water for injection). Water for injection ditambahkan untuk
mendapatkan konsentrasi dan voleme akhir nutrisi parenteral.
Sedangkan komponen additive (tambahan) merupakan nutrisi dalam jumlah kecil:
Vitamin
Vitamin yang biasa ditambahkan ke dalam nutrisi parenteral adalah vitamin AJD, C, E,
Bl, B2, B6, B12 , asam folat, asam pantotenat, biotin dan niasin. Sedangkan vitamin K
(phitomenadiori) biasanya diberikan terpisah melalui rute intra muscular
Trace elemen
Diperlukan dalam reaksi enzymatic dalam rubuh. Beberapa jenis trace elaman yang
sering dicampurkan kedalam nutrisi parenteral adalah : besi (Fe), Selenium, mangan,
chromium, zinc (Zn).

Elektrolit
Elektrolit yang sering digunakan : kalium, natrium, klor, acetat, fosfat, magnesium dan
kalsium. Elektrolit ini biasanya diberikan dalam bentuk garamnya seperti NaCl, KC1,
Kalium Fosfat, Kalium Asetat. Jumlah elektrolit yang diberikan kepada penderita
disesuaikan edengan hasil tes laboratorium pasien yang bersangkutan Obat-obatan
Penyiapan nutrisi parenteral (parenteral nutrition preparation) dilakukan dengan
menggunakan metode gravity fill atau dengan menggunakan peralatan yang sudah
otomatis melalui program komputer (automated compounding). Keterangan dari tiap
metode dapat dilihat pada buku Manual for Pharmacy Technicians chapter 9.
Pembuatan larutan nutrisi parenteral 3-in 1 baik menggunakan metode gravity fill
maupun automated compounding harus dilakukan secara hati-hati karena larutan emulsi
lemak dapat menjadi rusak, sebagai contoh penambahan larutan deksrrose secara
langsung ke dalam emulsi lemak. Untuk mengatasi hal ini maka digunakan cara "FAD"
yaitu lemah dimasukkan lebih dahulu ke dalam wadah akhir, kemudian ditambah asam
amino dan terakhir baru ditambahkan larutan dekstrose. Dalam hal ini asam amino
berfungsi sebagai buffer bagi emulsi lemak sehingga stabilitas larutan nutrisi parenteral
lebih terjamin.
Hasil akhir pencampuran nutrisi parenteral harus diperiksa terhadap adanya kontaminasi
partikel, kemungkinan kerusakan dan kebocoran pada kemasan, serta tanda-tanda
inkompatibilitas. Terdapatnya berbagai bahan kimia berpotensi menyebabkan interaksi
dan inkompatibilitas yang dapat mempengaruhi nilai terapeutik dari nutrisi parenteral
atau bahkan dapat meningkatkan toksisitas. Beberapa hal berikut perlu ii^raatikan karena
memberikan kontribusi dalam interaksi obat :
Perubahan temperatur selama penyimpanan di bangsal-bangsal
PH
Cahaya misalnya pada saat pemberian kepada pasien
Farmasis yang masuk ke dalam team nutrisi parenteral harus memperhatikan masalah
stabilitas ini sehingga dapat memberikan informasi yang benar kepada dokter dan
perawat di bangsal-bangsal dalam masalah stabilitas nutrisi parenteral ini.
Setelah dilakukan pemeriksaan, label atau etiket diberikan pada tiap botol. Label botol
nutrisi parenteral berisi :
Nama pasien / nomor register
Ruangan tempat pasien dirawat
Komposisi
Nomor pencampuran

Waktu kadaluwarsa serta Kondisi penyimpanan


Petunjuk lain seperti tehnik pemberian maupun kecepatan pemberian
6. Bagaimana cara Monitoring Keberhasilan terapi?
Pemantauan nutrisi parenteral
Pemberian nutrisi parenteral membutuhkan pemantauan terutama untuk menghindari terjadinya
komplikasi metabolik. Pemantauan terhadap pemberian nutrisi parenteral terbagi menjadi
pemantauan jangka pendek dan jangka panjang. Beberapa pemeriksaan yang dapat dipantau
dalam pemantauan jangka pendek dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

7. Manajemen komplikasi:
- Komplikasi
Komplikasi Insersi
Kanulasi vena sentral dapat menimbulkan komplikasi 3-12%. Pada jalur infraklavikula sering terjadi
trauma pleura menyebabkan pneumothorax serta trauma arteri subklavia. Komplikasi lain adalah
hemorhorak, emfisema subkutan, hematoma subklavia, efusi pleura, hydromediastinum, trauma
pleksus brakhialis, kerusakan duktus torasikus (apabila jalr dari lengan kiri), trauma jantung dengan
tamponade, perforasi vena kava inferior atau pembuluh darah paru.

Suplemen Majalah Kedokteran Nusantara 290 Volume 39 No. 3 September 2006