Anda di halaman 1dari 11

2.

2 Bibir Sumbing (Cleft Lip)


Bibir sumbing adalah salah satu cacat lahir yang paling banyak dijumpai
di dunia ini. Sumbing adalah kondisi terbelah pada bibir yang dapat sampai pada
langit langit, akibat dari embriologi perkembangan struktur wajah yang
mengalami gangguan. Bibir sumbing atau Labioschisis adalah suatu kelainan
bawaan yang terjadi pada bibir bagian yang dapat disertai kelainan pada langitlangit. Bibir sumbing merupakan suatu gangguan pada pertumbuhan wajah sejak
embrio minggu ke IV.
Insiden bibir sumbing atau Labioschisi sebanyak 2,1 dalam 1000 kelahiran
pada etnis Asia, 1:1000 pada etnis Kaukasia, dan 0,41:1000 pada etnis AfrikaAmerika. Insiden tertinggi terdapat pada orang Asia dan terendah pada kulit
hitam. Labioschisis lebih sering terjadi pada laki - laki.
Celah pada bibir (cleft lip) disebabkan oleh kegagalan perkembangan dan
penyatuan processus frontonasal dan processus maxilaris. Bibir sumbing bisa
terdapat pada satu sisi atau kedua sisi dari garis tengah. Biasanya sumbing bibir
sisi kiri lebih sering ditemukan dari pada sisi kanan. Karena vaskularisasi sisi
kanan lebih baik, sehingga sumbing sisi kanan lebih dahulu mencapai bagian
medial. Pria lebih sering terjadi sumbing dari pada wanita. Karena wanita
memiliki vaskularisasi yg lebih baik, sehingga wanita lebih cepat terjadi
penutupan dari pada pria.
Kelainan bibir terdiri atas berbagai macam, diantaranya bibir sumbing
(Labio-schisis),

sumbing

atau

celah

pada

langit-langit

rongga

mulut

(Palatoschisis), atau pun gabungan dari keduanya berupa sumbing bibir dan
langitan (Labiopalato-schisis), dan sumbing bibir sampai gusi dan langit-langit
(Labiogenatopalatoschisis). Kelainan tersebut juga biasa terjadi pada satu sisi
rahang (unilateral) ataupun pada kedua sisi yaitu kanan dan kiri (bilateral).
Pembentukannya dimulai pd minggu ke 4 kehamilan. Peristiwa ini terjadi di
rahim. Pembentukannya dibagi 2 pusat pertumbuhan, yaitu :1) Palatum primer
yang terletak di depan dari foramen incisivum, untuk membentuk alveolus dan
labium. 2) Palatum sekunder dibelakang dari foramen incisivum, untuk
membentuk palatum durum/molle dan uvula. Palatum sekunder akan membentuk
bagian besar palatum durum dan palatum mole.

Etiologi bibir sumbing atau Labio-schisis dan sumbing palatum Palatoschisis


telah diketahui, tetapi sepertinya merupakan kombinasi multifaktor antara faktor
genetik dan faktor lingkungan: 1) Genetik 22%: Faktor ini biasanya diturunkan
secara genetik dari riwayat keluarga yang mengalami mutasi genetik. Oleh karena
itu penting sekali saat proses anamnesa dengan pasien untuk menanyakan soal
apakah ada riwayat keturunan dari keluarga soal kelainan ini. 2) Lingkungan 78%:
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi proses kehamilan, lebih karena faktor
obat-obatan yang bersifat teratogen semasa kehamilan, misalnya; asetosal atau
aspirin. Beberapa faktor yang mempengaruhi bibir sumbing dan langit-langit
seperti geografi, ras, jenis kelamin, budaya, dan juga sosial ekonomi.
Pertumbuhan latar belakang ekonomi dan industri, dan budaya adalah faktor
dominan pada proses penyakit atau anomali selama fase embriologik. Anomali
dalam fase embrionik dan fase janin latar belakang dan masalah bibir sumbing
langit-langit.
Kesumbingan pada bibir & langit-langit termasuk bagian dari kesumbingan
pada wajah, ini adalah suatu bentuk kelainan bawaan sejak lahir, dimana terjadi
gangguan proses pertumbuhan embrional, sehingga tidak terjadinya fusi antara
prosesus frontonasal pada bagian medial dan prosesus maxilaris dari kedua sisi
lateral kepala. Manifestasi klinis: berupa celah pada bibir yang dapat sampai
langit-langit dengan segala kemungkinannya, yang bisa komplit/inkomplit, bisa
unilateral/bilateral yang disertai dengan distorsi jaringan sekitar (hidung dll).
Pemeriksaan tambahan pada saat hamil: USG 3D, untuk memvisualisasikan bibir
sumbing dan normal.
2.2.1 Klasifikasi Cleft Lip
Klasifikasi Veau untuk bibir sumbing dan celah palatum, dikembangkan pada
tahun 1931, merupakan klasifi kasi sederhana namun kurang terperinci.
Kelompok 1 hanya terdiri dari celah palatum mole saja, kelompok 2 terdiri dari
celah palatum mole dan palatum durum yang mencapai ke foramen insisivus,
kelompok 3 terdiri dari celah alveolar yang lengkap pada satu sisi saja yang juga
secara umum mengikutsertakan bibir, dan kelompok 4 terdiri dari celah alveolar
pada dua sisi, yang sering dikaitkan dengan bibir sumbing kedua sisi.

Gambar 1 Klasifikasi Veau


Klasifikasi kedua merupakan klasifikasi yang lebih detail namun masih
berdasar pada perkembangan embriologi. Celah bibir/bibir sumbing diklasifi
kasikan menjadi unilateral dan bilateral, dan lebih lanjut sebagai lengkap atau
tidak lengkap. Bibir sumbing lengkap merupakan celah yang mencapai seluruh
ketebalan vertikal dari bibir atas dan terkadang berkaitan dengan celah alveolar.
Bibir sumbing tidak lengkap terdiri dari hanya sebagian saja ketebalan vertikal
dari bibir, dengan bermacam-macam jenis ketebalan jaringan yang masih tersisa,
dapat berupa peregangan otot sederhana dengan bagian kulit yang meliputinya
atau sebagai pita tipis kulit yang menyeberangi bagian celah tersebut. Simonarts
Band merupakan istilah untuk menyebut suatu jaringan dari bibir dalam berbagai
ukuran yang menghubungkan celah tersebut. Walaupun Simonarts Band biasanya
hanya terdiri dari kulit, gambaran histologis menunjukkan terkadang juga terdiri
dari serat-serat otot.
Celah palatum diklasifikasikan sebagai unilateral atau bilateral, dan
perluasannya lebih lanjut sebagai lengkap atau tidak lengkap. Celah palatum ini
diklasifikasikan tergantung dari lokasinya terhadap foramen insisivus. Celah
palatum primer terjadi pada bagian anterior foramen insisivus, dan celah palatum
sekunder terjadi pada bagian posterior dari foramen insisivus. Celah unilateral
palatum sekunder didefinisikan sebagai celah yang prosesus palatum maksila pada
satu sisi bergabung dengan septum nasi. Celah bilateral lengkap palatum sekunder
tidak memiliki titik penyatuan maksila dan septum nasi. Celah lengkap seluruh

palatum melibatkan baik palatum primer dan juga sekunder, dan melibatkan salah
satu sisi atau kedua sisi arkus alveolar, biasanya melibatkan juga bibir sumbing.
Celah tidak lengkap palatum biasanya hanya melibatkan palatum sekunder saja
dan memiliki tingkat keparahan yang beragam.
Tidak terdapat sistem terminologi dan klasifikasi yang secara universal dapat
diterima bersama, tetapi ada skema klasifikasi yang diterapkan oleh departemen
bedah otolaringologi-kepala dan leher Universitas Iowa. Bibir sumbing dibagi
menjadi unilateral kiri atau kanan, atau bilateral (kelompok I), dapat juga lengkap
(dengan ekstensi mencapai dasar hidung) atau tidak lengkap. Bibir sumbing saja
dapat terjadi, namun celah yang terjadi pada daerah alveolus selalu dikaitkan
dengan bibir sumbing. Celah pada palatum dapat dibagi menjadi primer
(terlibatnya anterior foramen insisivum, kelompok IV) atau sekunder (terlibatnya
posterior dari foramen insisivum, kelompok II), dan kelompok III yaitu pasien
dengan bibir sumbing dan celah palatum.

Gambar 2 Klasifikasi Universitas Iowa

2.2.2 Operasi
Operasi rekonstruksi wajah dapat dilakukan untuk memperbaiki fungsi organ
hidung, gigi, dan mulut, perkembangan berbicara, serta memperbaiki estetika
wajah. Operasi meliputi perlekatan bibir, rekonstruksi bibir sumbing, dan
rekonstruksi celah palatum.
Perlekatan Bibir
Pada bayi dengan bibir sumbing lebar, perlekatan ini berguna membantu
mempersempit celah, sebelum dilakukan rekonstruksi bibir. Pada umumnya
dilakukan dengan taping menggunakan plester hipoalergik yang dilekatkan antar
pipi melewati celah bibir. Plester ini digunakan 24 jam dan diganti setiap hari atau
jika basah akibat pemberian makan atau minum. Apabila plester tidak efektif,
dapat dilakukan operasi perlekatan bibir untuk mengubah sumbing sempurna
menjadi sumbing sebagian agar mengurangi tegangan saat dilakukan operasi
rekonstruksi bibir. Operasi perlekatan bibir dapat dilakukan pada bayi usia 2
sampai 4 minggu. Semakin tua usia bayi maka operasi perlekatan bibir akan
menimbulkan jaringan parut sampai dewasa, walaupun telah dilakukan
rekonstruksi bibir.
Perlekatan bibir unilateral
Menggunakan Millard rotation, metode ini dimulai dengan langkah
pertama yaitu menentukan area operasi. Kemudian membuat flap segiempat di
mukosa vermilion di celah medial dan lateral, lalu menyatukan kedua mukosa.
Penyatuan mukosa itu dilakukan dengan benang jahit yang dapat diserap di bibir
dalam, setelah itu menjahit dengan benang yang tidak dapat diserap melewati
kartilago septum di sisi tidak bercelah melewati muskulus orbicularis oris, lalu
kembali ke kartilago septum. Kemudian dengan benang yang dapat diserap,
menjahit di bagian otot bibir medial dan lateral dengan teknik interrupted.

Gambar 3 Perlekatan bibir unilateral

Perlekatan bibir bilateral


Metode ini sama dengan operasi unilateral, hanya berbeda penggunaan
teknik menjahit dengan teknik horizontal mattress.

Gambar 4 Perlekatan bibir bilateral


Rekonstruksi Bibir Sumbing
Jika tidak dilakukan perlekatan bibir sebelumnya, rekonstruksi ini
dilakukan pada bayi usia 8-12 minggu. Di Amerika, para dokter bedah
menggunakan rule of ten untuk rekonstruksi bibir dengan kiriteria bayi setidaknya
usia 10 minggu, berat 10 pon, dan hemoglobin 10 gram/dL.
Rekonstruksi bibir sumbing unilateral
Sebelum operasi, operator menentukan dasar ala nasal, ujung vermilion,
bagian tengah vermilion, dan panjang filtrum di bagian yang sumbing. Melakukan
insisi di bagian yang sumbing dan daerah yang akan direkonstruksi, kemudian
menjahit lapis demi lapis mulai dari muskulus orbikularis oris, lapisan mukosa,
lapisan kulit, dan kartilago di ala nasi.

Gambar 5 Rekonstruksi bibir sumbing unilateral


Rekonstruksi bibir sumbing bilateral
Prinsip operasi ini sama dengan operasi unilateral. Setelah itu membuat
insisi untuk filtrum dan ala nasi dari prolabium, melonggarkan tegangan muskulus
orbikularis oris, dan menjahit lapis demi lapis mulai dari otot, mukosa, kulit,
filtrum, dan ala nasi.3,4,13

Gambar 6 Rekonstruksi bibir sumbing bilateral


Rekonstruksi Celah Palatum
Rekonstruksi ini bertujuan membantu perkembangan berbicara, mencegah
kemungkinan gangguan pertumbungan maksilofasial, dan gangguan oklusi.
Secara umum, rekonstruksi ini dilakukan pada bayi usia 8-12 bulan.

Rekonstruksi celah palatum unilateral


Operasi ini dimulai dengan menentukan daerah operasi di tepi celah
palatum pada teknik Bardach two-flap. Melakukan insisi celah di palatum durum
1-2 mm di lateral tepi celah, insisi 1 cm di posterior tuberositas maksila dan
mengarah ke anterior, kemudian bersatu dengan insisi di medial. Setelah insisi
dilakukan, lapisan submukoperiosteum bilateral dibuka untuk mengidentifikasi
foramen palatina tempat keluar arteri palatina mayor. Kemudian tepi posterior
palatum durum diidentifi kasi dan memotong serat otot dan mukosa, dan
mukoperiosteum nasal dipisahkan dan tepinya dijahit satu sama lain. Selanjutnya
otot velar dijahit dengan horizontal mattress dan akhirnya melekatkan
mukoperiosteal oral.

Gambar 7 Rekonstruksi celah palatum unilateral


Rekonstruksi celah palatum bilateral
Prosedur ini dapat dilakukan dengan beberapa teknik, seperti teknik
Bardach two-flap dengan prosedur sama dengan unilateral. Kemudian pada teknik
Wardill Kilner/ V-Y advancement (Gambar 11), membuat flap mukoperiosteal
berbentuk Y oral di ujung palatum sekunder, dan melakukan prosedur seperti
teknik Bardach two-flap. Teknik Furlow (Gambar 12) menggunakan prosedur
berbeda, yaitu Z-plasti, dengan membuat flap mukosa oral dan flap otot,
kemudian dijahit tumpang tindih dengan membentuk huruf Z.

Gambar 8 Rekonstruksi palatum bilateral Bardach two flap

Gambar 9 Rekonstruksi palatum bilateral Wardill-Kilner

Gambar 10 Rekonstruksi palatum bilateral Furlow

Daftar Pustaka
Bibir Sumbing dan Celah pada Langit Mulut [homepage on the Internet].
Available from http://detikhealth.com/health/read penyakit99/bibirsumbing-dan-celah-pada-langit-mulut/
Terjadinya Celah Bibir dan Celah Langit Bibir. 2012 Available from
http://kedokterangigi.net/63/terjadinya celah-bibir-dan-celah-langit-langitbibir.html
Natsir, F.M. Cleft palate. 2011 available from
http://fathirphoto.wordpress.com/2011/11/03/palatoschisis-cleft-palate/
Fawzy, A. Bibir Sumbing. 2007. Available from
http://.bedahplastik.com/cleft/html
Washito, A. Embriologi cleft lip and palate. 2010:(27) page 789. Available from
http://embriologi-cleft-lip-and-palate.com
Townsend, C.M., Beauchamp, R.D., Evers, B.M., Mattox, L.K. Palatoschisis dan
labioschisis. Buku saku ilmu bedah sabiston.penerbit buku kedokteran EGC:
(17) page 1022.
Cummings CW, Flint PW, Haughey BH, Robbins KT, Thomas JR, Harker LA, et
al. Cummings Otolaryngology Head and Neck Surgery, 4th ed. Philadelphia:
Mosby Inc; 2005.
Bailey BJ, Johnson JT, Newlands SD. Head & Surgery-Otolaygology 4th ed.
Philadelphia: Lippincot Williams & Wilkins; 2006.
Wyszynski DF. Cleft Lip & Palate: From Origin to Treatment, 1st ed. USA:
Oxford University Press; 2002.
Kliegman RM, Behrman RE, Jenson HB, Stanton BF. Nelson Textbook of
Pediatrics. 18th ed. Philadelphia: Elsevier Inc; 2007.