Anda di halaman 1dari 27

1.

BAHAN TAMBAHAN PANGAN


1.1 Definisi Bahan Tambahan Pangan
Pengertian bahan tambahan pangan secara umum adalah bahan yang biasanya
tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan komponen khas
makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang dengan sengaja
ditambahkan ke dalam makanan untuk maksud teknologi pada pembuatan,
pengolahan penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan dan penyimpanan
(Sembel, 2015 : 224).
Tujuan penggunaan bahan tambahan pangan adalah dapat meningkatkan atau
mempertahankan nilai gizi dan kualitas daya simpan, membuat bahan pangan
lebih mudah dihidangkan, serta mempermudah preparasi bahan pangan.
Secara sederhana dan umum Bahan Tambahan Pangan (BTP) adalah bahan kimia
yang secara sengaja ditambahkan dalam makanan atau minuman, baik secara
alami ataupun buatan (Sembel, 2015 : 224).
Peraturan pemerintah nomor 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu, dan gizi
pangan pada bab 1 pasal 1 menyebutkan, yang di maksud dengan bahan tambahan
pangan adalah bahan yang ditambahkan kedalam makanan untuk mempengaruhi
sifat atau bentuk pangan atau produk pangan (Kemkes, 2004).
Pemakaian bahan tambahan pangan di Indonesia diatur oleh Departemen
Kesehatan. Sementara, pengawasannya dilakukan oleh Direktorat Jenderal
Pengawasan Obat dan Makanan (Dirjen POM) (Agustina A, 2013).
2.2 Jenis Bahan Tambahan Pangan
Bahan tambahan pangan dibagi ke dalam dua golongan utama, yaitu:
1. Bahan tambahan pangan yang ditambahkan tidak sengaja, yaitu bahan
yang tidak mempunyai fungsi dalam makanan tersebut, terdapat secara
tidak sengaja, baik dalam jumlah sedikit atau cukup banyak akibat
perlakuan selama proses produksi, pengolahan, dan pengemasan. Bahan

ini dapat pula merupakan residu atau kontaminan dari bahan yang sengaja
ditambahkan untuk tujuan produksi bahan mentah atau penangannya yang
masih terus terbawa kedalam makanan yang akan dikonsumsi. Contoh
bahan tambahan pangan dalam golongan ini adalah residu peptisida
(termasuk insektisida, herbisida, fungisida dan rodentisida), antibiotik, dan
hidro karbon aromatic polisiklik.
2. Bahan tambahan pangan yang ditambahkan dengan sengaja kedalam
makanan dengan mengetahui komposisi bahan tersebut dan maksud
penambahan itu dapat mempertahankan kesegaran, cita rasa dan
membantu pengolahan, sebagai contoh pengawet, pewarna dan pengeras
(Agustina A, 2013).
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Tahun 2012 Bab 1 Pasal II, BTP yang
digunakan dalam pangan harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
1. BTP tidak dimaksudkan untuk dikonsumsi secara langsung dan / atau tidak
diperlakukan sebagai bahan baku pangan.
2. BTP dapat mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang sengaja
ditambahkan kedalam pangan untuk tujuan teknologis pada pembuatan,
pengolahan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, penyimpanan dan / atau
diharapkan menghasilkan suatu komponen atau mempengaruhi sifat
pangan tersebut, baik secara langsung atau tidak langsung.
3. BTP tidak termasuk cemaran atau bahan yang ditambahkan kedalam panan
untuk mempertahankan atau meningkatkan nilai gizi.
1.3 Fungsi dan Tujuan Bahan Tambahan Pangan
Secara khusus tujuan penggunaan BTP dalam pangan adalah untuk:
1.

Mengawetkan

makanan

dengan

mencegah

pertumbuhan

mikroba

perusak pangan atau mencegah terjadinya reaksi kimia yang dapat


2.
3.
4.
5.

menurunkan mutu pangan.


Membentuk makanan menjadi lebih baik, renyah dan enak dimulut.
Memberikan warna dan aroma yang lebih menarik
Meningkatkan kualitas pangan
Menghemat biaya (Chairenita Sabillah, 2014).

Beberapa Bahan Tambahan Pangan yang diizinkan digunakan dalam makanan


menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/1988 antara lain
sebagai berikut:
1. Antioksidan yaitu BTP yang dapat memghambat atau mencegah proses oksidasi
lemak sehingga mencegah terjadinya ketengikan. Contohnya adalah TBHQ
(tertiary butylhydroquinon), Asam askorbat, Asam eritrobat, Askorbil palmitat,
Askorbil stearat, Butil hidroksianisol (BHA), Butil hidroksitoluen, Dilauril
tiodipropionat, Propilgalat, Timah 2 klorida, Alpatokoferol (Chairenita Sabillah,
2014).

2. Antikempal, yaitu BTP yang dapat mencegah menggumpalnya makanan


serbuk, tepung atau bubuk.contohnya adalah: kalium silikat (Chairenita Sabillah,
2014).

3. Pengatur keasaman (pengasam, penetral dan pendapar), yaitu BTP yang dapat
mengasamkan, menetralkan dan mempertahankan derajat asam makanan.
Contohnya agar, alginate, lesitin dan gum (Chairenita Sabillah, 2014).

4. Pemanis buatan, yaitu BTP yang dapat menyebabkan rasa manis pada makanan
yang tidak atau hampir tidak memiliki nilai gizi. Contohnya adalah Sakarin,
Siklama, Aspartam, Dulsin Siklamat, Sorbitol sintesis, Nitro-propoksi anilin.
Tanaman penghasil pemanis utama adalah tebu (saccharum officanarum L) dan bit
(beta fulgaris L). Beberapa bahan pemanis yang sering digunakan adalah
Sukrosa, laktosa, maltosa, galaktosa, D-Glukosa, D-fruktosa, Sorbitol, Manitol,
Gliserol, Glisina (Chairenita Sabillah, 2014).

5. Pemutih dan pematang tepung, yaitu BTP yang dapat mempercepat proses
pemutihan atau pematangan tepung sehingga memperbaiki mutu pemanggangan.
Contohnya adalah asam askorbat dan kalium bromat (Chairenita Sabillah, 2014).

6. Pengemulsi, pemantap dan pengental, yaitu BTP yang dapat membantu


terbentuknya dan memantapkan system disperse yang homogen pada makanan.
Bahan-bahan pengemulsi, pemantap dan penstabil yang diizinkan digunakan
dalam makanan diantaranya agar, alginate, dekstrin, gelatine, gum, karagenan,
lesitin, CMC, dan pektin (Chairenita Sabillah, 2014).

7. Pengawet yaitu BTP yang dapat mencegah atau menghambat terjadinya


fermentasi, pengasaman atau penguraian lain pada makanan yang disebabkan oleh

pertumbuhan mikroba. Zat kimia yang sering dipakai sebagai bahan pengawet
adalah asam sorbat, asam propionat, asam benzoat, dan asam asetat.
- Asam Sorbat: asam sorbat sering digunakan dalam pengawetan margarin, sari
buah, keju, anggur, dan acar.
- Asam Propianat: Sering digunakan pada bahan pengawetan produk roti dan keju
- Asam Benzoat: digunakan pada berbagai jenis soft drink (minuman ringan), sari
buah, nata de coco, kecap, saus, selai, dan agar-agar.
- Asam asetat: Asam asetat sering dipakai sebagai pelengkap ketika makan acar,
mi ayam, bakso, atau soto. Asam asetat mempunyai sifat antimikroba. Makanan
yang memakai pengawet asam cuka antara lain acar, saos tomat, dan saus cabai
(Chairenita Sabillah, 2014).
Alternatif lain yang dapat digunakan sebagai bahan pengawet adalah
-Gula merah: Selain sebagai pemanis gula merah juga bersifat mengawetkan
seperti halnya gula tebu.
-Garam: Garam merupakan pengawet alami yang banyak dihasilkan dari
penguapan air laut. Ikan asin dapat bertahan hingga berbulan-bulan karena
pengaruh garam.
-Kunyit: selain sebagai pewarna, juga berfungsi sebagai pengawet. Dengan
penggunaan kunyit, tahu atau nasi kuning menjadi tidak cepat basi.
- Kulit kayu manis: dapat digunakan sebagaipengawet banyak mengandung asam
benzoat. Selain itu, kayu manis juga berfungsi sebagai pemanis dan pemberi
aroma.
-Cengkih: Selain sebagai pengawet, cengkih juga berfungsi sebagai penambah
aroma (Chairenita Sabillah, 2014).

8. Pengeras yaitu BTP yang dapat memperkeras atau mencegah lunaknya


makanan. Contohnya adalah kalsium sulfat, kalsium klorida dan kalsium glukonat
(Chairenita Sabillah, 2014).

9. Pewarna, yaitu BTP yang dapat memperbaiki atau memberi warna pada
makanan. Contoh pewarna sintetik adalah amaranth, indigotine, dan nafthol
yellow. Alternatif lain untuk menggantikan penggunaan pewarna sintetis adalah
dengan menggunakan pewarna alami seperti ekstrak daun pandan atau daun suji,
kunyit, dan ekstrak buah-buahan yang lebih aman. Beberapa pewarna alami yang
diizinkan digunakan dalam makanan diantaranya adalah : Karamel, Beta-karoten,
Klorofil, dan Kurkumin (Chairenita Sabillah, 2014).
10. Penyedap rasa dan aroma, penguat rasa, yaitu BTP yang dapat memberikan,
menembah atau mempertegas rasa dan aroma. Contohnya Monosodium Glutamate
(MSG). Penyedap alami yangdapatdigunakan dapat berasal dari bumbu, herba,
dan daun contohnya merica, kayu manis, pala, jahe dan cengkeh,
sereh, daun pandan, daun salam (Chairenita Sabillah, 2014).

11. Sekuestan, yaitu BTP yang dapat mengikat ion logam yang terdapat dalam
makanan, sehingga memantapkan aroma, warna dan tekstur. Contohnya asam
fosfat dan EDTA (kalsium dinatrium edetat) (Chairenita Sabillah, 2014).

Beberapa bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam makanan, menurut


Permenkes RI No. 722/Menkes/Per/IX/1988 diantaranya sebagai berikut:
1. Natrium tetraborat (boraks)
2. Formalin (formaldehyd)
3. Minyak nabati yang dibrominasi (brominated vegetable oils)
4. Kloramfenikol (chlorampenicol)
5. Kalium klorat (pottasium clorate)
6. Dietilpirokarbonat (diethylpyrocarbonate, DEPC)
7. Nitrofuranzon (nitrofuranzone)
8. P-Phenetil Karbamida (p-Phenethycarbamide, dulcin, 4-ethoxyphenyl urea)
9. Asam salisilat dan garamnya (salicylic acid and its salt)
Sedangkan menurut Menteri Kesehatan RI nomor 1168/Menkes/PER/X/1999,
selain bahan tambahan diatas masih ada tambahan kimia yang dilarang seperti
Rhodamin B (Pewarna merah, methanyl yellow (pewarna kuning), Dulsin
(pemanis sintetis) dan kalsium bromat (pengeras).
Boraks umumnya digunakan untuk mematri logam, pembuatan gelas dan enamel,
sebagai pengawet kayu, dan pembasmi kecoa. Boraks ini sering disalah gunakan
untuk dicampurkan dalam pembuatan baso, tahu, ikan asin, mie dll.
Boraks bersifat iritan dan racun bagi sel-sel tubuh, berbahaya bagi susunan saraf
pusat, ginjal dan hati. Jika tertelan dapat menimbulkan kerusakan pada usus, otak
atau ginjal. Kalau digunakan berulang-ulang serta kumulatif akan tertimbun dalam
otak, hati dan jaringan lemak. Asam boraks ini akan menyerang sistem saraf pusat
dan menimbulkan gejala kerusakan seperti rasa mual, muntah, diare, kejang perut,

iritasi kulit dan jaringan lemak, gangguan peredaran darah, kejang-kejang


akibatnya koma, bahkan kematian dapat terjadi karena ada gangguan sistem
sirkulasi darah (Chairenita Sabillah, 2014).
Formalin sebenarnya adalah bahan pengawet yang digunakanalam dunia
kedokteran, misalnya sebagai bahan pengawet mayat. Kandungan formalin yang
tinggi dalam tubuh juga menyebabkan iritasi lambung, alergi, bersifat
karsinogenik dan bersifat mutagenic, serta orang yang mengonsumsi akan
muntah, diare bercampur darah, dan kematian yang disebabkan kegagalan dalam
peredarah darah. Depkes RI berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI No
722/MenKes/Per/IX/88 mendefinisikan bahan tambahan pangan seperti formalin
merupakan bahan tambahan pangan yang dilarang (Chairenita Sabillah, 2014).
Kalium klorat (KClO3) salah satu fungsinya sebagai pemutih, sehingga sering
dimasukkan dalam obat kumur pemutih dan pasata gigi. Sejak tahun 1988,
Pemerintah Indonesia sudah melarang penggunaan kalium klorat sebagai bahan
tambahan makanan karena senyawa ini dapat merusak tubuh bahkan kematian.
Jika terpapar dalam jangka waktu lama dapat menyebabkan methemoglobinemia
(kelainan dalam darah), kerusakan hati dan ginjal, iritasi pada kulit, mata, dan
saluran pernapasan. Bila dimakan bersamaan dengan produk pangan, kalium
klorat dapat menyebabkan iritasi pada saluran pencernaan, gejalanya mual,
muntah dan diare (Chairenita Sabillah, 2014).
Dietilpirokarbonat (DEP) termasuk di dalam bahan kimia karsinogenik
mengandung unsur kimia C6H10O5 adalah bahan kimia sintetis yg tdk ditemukan
dlm produk-produk alami dan digunakan sebagai pencegah peragian pada
minuman yang mengandung alkohol maupun minuman yang tidak beralkohol.
DEP sering digunakan untuk susu dan produk susu, bir, jus jeruk dan minuman
buah-buahan lain sehingga minuman ini dapat bertahan lama. DEP apabila masuk
ke dalam tubuh dan terakumulasi dalam jangka panjang, dapat memicu timbulnya
kanker (Chairenita Sabillah, 2014).

II. BAHAN TAMBAHAN KOSMETIK


2.1 Pengertian Kosmetik

Menurut badan BPOM ( Badan Pangan, Obat dan Makanan ), Departemen


Kesehatan , Kosmetika adalah panduan bahan yang siap untuk digunakan
pada bagian luar badan (Epidermis, rambut, kuku, bibir dan organ kelamin
luar ) gigi dan ronggga mulut untuk membersihkan , menambah daya tarik ,
mengubah penampilan supaya tetap dalam keadaan baik (BPOM, 2011).
2.2 Penggolongan Kosmetik
A. Sediaan Kosmetik Untuk Kulit
Face Cream atau Krim Muka
Untuk memelihara kulit muka, digunakam berbagai macam krim, antara lain:
a. Cold cream, untuk mendinginkan kulit.
Selain sebagai krim pendingin, Cold cream juga digunakan sebagai cleansing,
emolient, lubricating, dan massage cream. Bahan-bahan yang digunkan untuk
pembuatan cold cream, antara lain cera, cetaceum, spermaceti, minyak, parafin
liq, boraks, parfum, air, dan bahan pengawet. Semua cold cream mengandung
boraks.

Kemungkinan keracunan: Hipersensitif terhadap salah satu

komponennya (Sartono, 2001 : 122-123).


b. Cleansing cream, untuk membersihkan kulit.
Cleansing cream mengandung sabun dan parafin liq. Digunakan untuk
membersihkan kulit muka. Termasuk dalam golongan ini night cream yang
digunakan pada malam hari. Jika cleansing cream juga mengandung minyak
nabati dan edepslanae maka digunakan untuk melemaskan kulit dan bisa
disebut sebagai lubricating cream atau emolient cream. Bahan-bahan lain yang
digunakan dalam pembuatan cleansing cream, sama seperti pada cold cream.
Kemungkinan keracunan: Hipersensitif terhadap salah satu komponennya
(Sartono, 2001 : 123).
9

c. Vanishing cream, untuk digunakan pada siang hari yang tidak akan terlihat jika
digosokkan pada kulit, dan krim lain-lain.
Vanishing Cream jika digosokkan pada kulit sebetulnya tidak hilang atau
lenyap, tapi membentuk lapisan tipis yang tidak terlihat. Vanishing Cream
termasuk golongan krim yang tidak mengandung minyak, hanya terdiri dari
sabun. Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan Vanishing Cream,
antara lain asam strearat, alkali (kalium hidroksida, natrium hidroksida,
trietanolamin), gliserin, air, dan parfum. Jika ditambah minyak sedikit,
misalnya minyak cacao, lanolin atau butil stearat, krim ini akan menjadi
foundation cream yang digunakan sebagai dasar bedak. Vanishing Cream dapat
digunakan sebagai dasar bedak pada kulit yang berminyak. Kemungkinan
keracunan: Hipersensitif terhadap salah satu komponennya (Sartono, 2001 :
123).
Face Powder atau Bedak Muka
Bahan-bahan yang digunkan dalam pembuatan bedak muka mempunyai daya dan
sifat sebagai berikut:
1. Covering Power atau daya menutupi kulit.
Warna (Pigmen) dan kejelekan kulit harus dapat ditutupi.Untuk maksud ini
digunkan seng oksida, titanium oksida, magnesium karnonat, atau pati.
2. Adhesiveness atau daya lekat pada kulit.
Untuk maksud ini yang biasa digunkan untuk bedak muka ialah megnesium
stearat, seng stearat, dan aluminium stearat.
3. Slip atau sifat dapat menyebar rata di atas kulit
Untuk mendapatkan sifat ini, digunkan talek (Sartono, 2001 : 123-124).
Hal yang perlu juga diperhatikan ialah warna dan parfum untuk bedak muka,
karena ikut menentukan macam dan penggunaannya. Selain itu, zat warna dan
parfum juga dapt menjadi penyebab timbulnya reaksi yang tidak diharapkan.
Untuk menahan parfum dalam bedak, digunakan kalsium karbonat, magnesium
karbonat, magnesium oksida, atau kaolin. Zat warna yang diizinkan unutk

10

digunakan dalam pembuatan sediaan kkosmetik, dapat dilihat dalam peraturan


menteri Kesehatan Nomor 376/Men.Kes/Per/VIII/1990.

Pada bedak muka

terdapat istilah light, medium, dan heavy weight, yang erat hubungannya dengan
daya menutup kulit. Untuk kulit kering, sebaiknya menggunakan yang light
weight, sedangkan untuk kulit berminyak digunakan yang heavy weight.
Kemungkinan keracunan: Hipersensitif terhadap salah satu kommponennya,
termasuk terhadap zat warna dan parfumnya (Sartono, 2001 : 124).
Face Mask atau Masker Muka
Masker muka bekerja sebagai stimulan pada kulit muka, karena mengandung zat
adstringen yang mengerutkan kulit. Dengan dimikian, kulit muka akan terasa
segar, gelatin, dekstrin, gom, kaolin, bentonit, metilselulose dan pati.
Kemungkinan keracunan : Hipersensitif terhadap bahan yang digunakan (Sartono,
2001 : 124).
Face Lotion atau lotion muka
Maksud penggunaan lotion muka ialah membasahi kulit muka dengan air. Karena
pemberian air menyebabkan rasa segar pada kulit muka, maka lotion muka juga
disebut skin refreshner atau skin tonic. Selain itu, karena lotion muka juga
digunakan untuk menghapus sisa-sisa krim, maka disebut juga cream remover.
Kemungkinan keracunan: hipersensitif terhadap parfum dan zat warnanya
(Sartono, 2001 : 124).
Hand otion atau Lotion Tangan
Karena kulit tangan sering terkena sabun dan air, maka kulit tangan menjadi kasar.
Kulit tangan yang kasar dapat dibuat menjadi halus ddengan lotion untuk tangan.
Bahan-bahan yang biasa digunakan dalam pembuatan lotion tangan ialah gliserin,
gelatin, gom, bahan-bahan yang berlendir, dan adeps lanae, ditambah aqua
rosarium, aqua flores aurantium, atau aqua hamamelidis.
Kemungkinan keracunan: Hipersensitif terhadap salah satu komponennya
(Sartono, 2001 : 125).

11

Antiperspiran dan deodoran


Banyak berkeringat menyebabkan bau yang tidak enak, terutama pada ketiak.
Keadaan ini dapat dicegah atau dikurangi dengan antiperspiran dan deodoran atau
obat pemberantas bau keringat. Antiperspiran mencegah pengeluaran keringat
dengan cara mengerutkan kelenjar keringat. Bahan-bahan yang bisa digunakan
antara lain senyawa garam aluminium, yaitu aluminium klorida, aluminium sulfat,
dan lain-lain. Sedangkan deodoran, mempunyai daya kerja antiseptik, antara lain,
formaldehid, asam benzoat, asam salisilat, dan senf peroksida. Kemungkinan
keracunan : dapat menimbulkan iritasi pada kulit (Sartono, 2001 : 125).
Depilatori
Depilatori digunakan untuk menghilangkan rambut, terutama rambut ketiak, dan
rambut yang tumbuh dikaki. Depilatori berbentuk bubuk, cairan atau krim. Bahan
yang biasa digunakan garam sulfida dari barium, kalsium, strontium dan natrium,
atau senyawa tioglikolat dari natrium atau kalsium, selain bahan-bahan alkali.
Karena bahan yang aktif ini mengiritasi kulit, maka harus diikuti dengan seksama
cara penggunaan yang telah ditentukan. Kemungkinan keracunan: Menyebabkan
iritasi pada kulit. Jika tertelan melalui mulut akan menyebabkan iritasi pada
saluran cerna (Sartono, 2001 : 125).
B. Sediaan Kosmetik Untuk Rambut
Shampo
Shampo digunakan untuk mencuci rambut yang kotor atau berminyak. Terdapat 2
macam shampo, yaitu
a. shampo yang mengandung alkali atau sabun
b. shampo yang tidak mengandung alkali atau sabun (Sartono, 2001 : 126).
a. Shampo yang mengandung alkali atau sabun
shampo yang mengandung alkali atau sabun, berupa bubuk atau cairan. Bahan
alkali yang biasa digunakan adalah natrium karbonat atau natrium bikarbonat.
Sedangkan sabun sabun yang digunakan adalah sabun yang dibuat dari minyak
kelapa karena memberikan banyak busa (Sartono, 2001 : 126).

12

b. Shampo yang tidak mengandung alkali atau sabun


karena mencuci rambut dengan sabun menyebabkan rambut menjadi kaku dan
hilang mengkilapnya, maka dibuatlah shampo yang yang tidak mengandung
alkali atau sabun. Sebagai pengganti sabun digunakan senyawa amonium
kuarterner sebagai wetting agent. Bahan yang biasa digunakan adalah
natrium lauril sulfat atau natrium alkali sulfonat. Selain mengandung amonium
kuarterner, shampo jenis ini juga mengandung zat pengawet , zat warna dan
lain-lain.
Kemungkinan keracunan: dapat terjadi reaksi alergi yang menimbulkan
dermatitis kontak, terutama pada penggunaan shampo yang tidak mengandung
alkali atau sabun (Sartono, 2001 : 126-127).
Lotion untuk Rambut dan Kulit Kepala
Tersedia bermacam-macam lotion untuk rambut dan kulit kepala yang berupa
larutan alkohol dan mengandung:
a. zat antiseptik, antara lain asam salisilat, resorcin dan lain- lain.
b. bahan atau zat pembersih, antara lain sabun, boraks dan lain-lain.
c. bahan atau zat yang bekerja sebagai stimulan, antara lain tingtur kantarides,
tingtur kapsisi, asam formiat, garam kina, pilokarpin, dan lain-lain.
Kemungkinan keracunan:
1. hipersensitif terhadap salah satu komponennya
2. jika terjadi keracunan yang disebabkan oleh tingtur kapsisi melalui mulut lebih
dari 30 gram dapat menyebabkan muntah, diare, sakit pada waktu kencing, dan
kepala pening sampai koma (Sartono, 2001 : 127).
Hair Dressing atau perias rambut
Termasuk kedalam perias rambut antara lain minyak rambut, pomade dan krim
rambut serta pelekat dan pengatur rambut (Sartono, 2001 : 127).

13

Minyak Rambut
minyak rambut merupakan sediaan cair untuk membuat rambut mengkilap. Bahan
yang digunakan antara lain: minyak kelapa, minyak kemiri, minyak kacang,
minyak jarak, parafin liq, dengan ditambah parfum (Sartono, 2001 : 128).
Pomade dan Krim Rambut
Pomadedan krim rambut merupakan sediaan seperti salep atau krim. Digunakan
untuk mengkilapkan dan melekatkan rambut. Bahan-bahan yang digunakan,
antara lain minyak nabati, parafin liq, vaselin, cera, cetaceum, dengan ditambah
parfum (Sartono, 2001 : 128).
Pelekat rambut dan pengatur rambut
Pelekat rambut dan pengatur rambut merupakan sediaan untuk mengatur atau
memfiksasi gelombang rambut dan melekatkan rambut. Bahan- bahan
yangdigunakan antara lain gom atau tragakanta yang dilarutkan dalam air, atau
damar yang dilarutkan dalam alkohol. Juga banyak digunkan gom sintetis, PVP,
karboksimetilselulosa, dan povinil alkohol. Kemungkinan keracunan: pada
pengguna pelekat rambut dan pengatur rambut yang menggunakan gom, gom
sintetik, PVP, karboksimetilselulosa, povinil alkohol, dan alkohol dapat
menyebabkan dermatitis yang disebabkan oleh sensitifitas. Jika terhisap, dapat
menyebabkan granulomatosis paru dengan pembesaran simpul getah bening dan
infiltrasi ke dalam paru yang terkadang mirip sarcoidosis (Sartono, 2001 : 128).
Permanen wave lotion
Permanen wave lotion atau obat untuk keriting rambut, bermacam- macam
tergantung pada cara pengkerjaannya, sifat dan keadaan rambut. Bahan-bahan
yang digunakan antara lain boraks, amoglikolat, tiogliserol, dan minyak yang
disulfoner. Kemungkinan keracunan:
1. kalium bromat dan perborat, dalam obat keriting rambut digunakan sebagai
bahan penetral dalam cold wave. Jika terjadi keracunan kalium bromat melalui
mulut dengan asam klorida dalam lambung akan terjadi asam bromat yang
dapat menimbulkan iritasi lambung.

14

2. Amonium tioglikolat biasa digunakan dalam obat keriting rambut sebagai


pengeriting dalam larutan 6% dengan PH antara 9,0-0,5. Pada 9,0 atau lebih,
rambut akan mudah rontok , patah dan terbelah. Jika tertelan dapat
menyebabkan hipoglikemia, depresi sistem saraf pusat, konvulsi, dan dispnea.
Selain itu, jika terkena kulit dapat menyebabkan dermatitis, yang akan hilang
jika penggunaan obat dihentikan (Sartono, 2001 : 128).
Pewarna Rmbut
Pewarna rambut yang ideal ialah yang memenuhi harapan sebagai berikut:
1. Cat rambut yang tidak merusak rambut, termasuk sifat-sifatnya.
2. tidak mempunyai efek yang merugikan rambut dan kulit.
3. tidak menimbulkan iritasi dan sensitisasi
4. warnanya stabil terhadap udara, sinar matahari, dan larutan garam. Selain itu,
warnanya tidak berubah jika terkena sediaan perias rambut, obat keriting
rambut, bahan yang bersifat alkali, dan zat-zat reduktor maupun oksidator
(Sartono, 2001 : 129).
Bahan-bahan yang digunakan antara lain;mamonium nitrat, amonium hidroksida,
natrium hipoklorit, p-fenilendiamin, naftilamin, toluendiamin, dan senyawa amino
aromatik lainnya. Kemungkinan keracunan: p-fenilendiamin, naftilamin,
toluendiamin dan senyawa amino aromatik lainnya, dapat menimbulkan
sensitisasi kulit. Di amerika serikat p-fenilendiamin hanya diizinkan untuk
digunakan dalam pembuatan sediaan cat rambut (Sartono, 2001 : 129).
C. Sediaan Make-Up
Lipstik
Lipstik yang baik harus memenuhi beberapa syarat, yaitu:
1. tidak mengelauarkan air
2. tidak mudah pecah atau patah
3. warnanya stabil dan terbagi merata.
4. titik leleh anatara 50-60 C

15

Bahan dasar yang digunakan terdiri dari minyak dan lemak, antara lain minyak
kakao, minyak ricini, butil stearat, cera, setil alkohol, dan adeps lanae. Sedangkan
zat warna yang biasa digunakan ialah eosin, dan turunan fluorescin yang
mengandung halogen seperti tetrabromofluorescin dan lain-lain.
Kemungkinan keracunan: zat warna eosin dan zat warna lainnya dapat
menyebabkan dermatitis, stomatitis, dan cheilitis (Sartono, 2001 : 130).
Cat Bulu Mata
Cat bulu mata atau maskara adalah krim untuk bulu mata dengan warna umumnya
hitam atau coklat. Maskara terbuat dari bahan dasar yang sama seperti pada lipstik
atau eye shadow dengan ditambah zat warna.
Kemungkinan keracunan: seperti pada cat rambut, dapat menyebabkan dermatitits
dan iritasi pada mata. Di amerika serikat, p-enilendiamin tidak diizinkan untuk
digunakan dalam pembuatan eyelash dan eyebrow (Sartono, 2001 : 130).
2.3 Bahan-bahan yang sering digunakan para produsen dalam membuat
kosmetik.
1. Merkuri
Zat Merkuri (raksa) banyak ditemukan di produk kecantikan yang
fungsinya memutihkan kulit. Pemakaian Merkuri dapat menimbulkan
berbagai hal, antara lain perubahan pada warna kulit, yang kemudian bisa
mengakibatkan bintik-bintik hitam pada kulit, alergi, iritasi kulit,
kerusakan permanent pada susunan syaraf, seperti tremor, insomnia,
kepikunan, gangguan penglihatan, gerakan tangan abnormal (ataxia),
gangguan emosi, otak, ginjal dan gangguan perkembangan janin. Bahkan
paparan dalam jangka pendek dengan dosis tinggi dapat mengakibatkan
muntah-muntah, diare dan kerusakan ginjal serta merupakan zat
karsinogenik (menyebabkan kanker) pada manusia (Gusti A, 2013).
Berikut ini beberapa kosmetik berbahaya (mengandung merkuri) temuan
BPOM:

16

1. DR. Whitening treatment night cream


2. LIE CHE Day Cream
3. LIE CHE Whitening Soap
4. LIEN HUA Night Cream (Bunga Teratai)
5. LIEN HUA Day Cream (Bunga Teratai)
6. Walet Krim (Day Cream Small)
7. Walet Krim (Night Cream Small)
8. Pemutih Dokter
9. SP Special UV Whitening
10. Spesial Pearl Cream Super
11. Pemutih Sejuta Bintang
12. Racikan Walet Putih
13. Night Cream SJ SIN JUNG
14. Day Cream SJ UV White SJ SIN JUNG
15. Vitamin Pemutih Kecantikan
16. Klip 80"S Night Cream
17. Klip 80"S Day Cream
18. VAYALA Nightly Cream
19. VAYALA Daily Cream

17

20. VAYALA Sabun Transparan


Kosmetik-kosmetik tersebut mengandung diidentifikasi mengandung
merkuri yang merupakan zat yang berbahaya. Dengan menggunakan
kosmetika yang mengandung merkuri, efeknya mungkin tidak bisa
langsung terlihatnamun tetap memberikan efek jangka panjang yang
membahayakan kesehatan. Salah satunya adalah cream Valaya (Nightly
dan daily) yang sudah ditetapkan BPOM sebagai kosmetik yang berbahaya
dan tidak layak digunakan dan ditarik dari peredaran dan dimusnahkan
(Gusti A, 2013).
2. Petroleum Distillates
Bahasa lainnya parafin cair adalah produk yang berasal dari destilasi
minyak bumi. Banyak digunakan dalam banyak kosmetik seperti mascaras,
bubuk bau kaki, dll. Sifatnya carcinogen bagi tubuh manusia (Gusti A,
2013).
3. Propylene Glycol
Ditemukan pada beberapa produk kecantikan, kosmetik kulit dan
pembersih wajah. Zat ini dapat menyebabkan kemerahan pada kulit dan
dermatitis kontak. Studi terakhir juga menunjukan bahwa zat ini dapat
merusak ginjal dan hati (Gusti A, 2013).
4. Isopropyl Alcohol
Alkohol digunakan sebagai pelarut pada beberapa produk perawatan kulit.
Zat ini dapat menyebabkan iritasi kulit dan merusak lapisan asam kulit
sehingga bakteri dapat tumbuh dengan subur. Disamping itu, alkohol juga
dapat menyebabkan penuaan dini (Gusti A, 2013).
5. Kationik Surfaktan
Kationik Surfaktan adalah bahan kimia yang digunakan dalam Conditioner
rambut atau pelunak yang memiliki muatan listrik positif. Ketika
digunakan secara teratur, Kationik Surfaktan dapat merusak rambut dan
membuat mereka kering dan rapuh. Berharap mendapatkan rambut indah,
18

rambut akan menjadi rusak apabila terlalu sering digunakan (Gusti A,


2013).
6. Coal Tar
Coal Tar (tar batubara) merupakan bahan kimia berbahaya lainnya yang
umum digunakan di banyak-ketombe dan krim anti anti-gatal. Ditemukan
bahwa bahan kimia ini bersifat carcinogenic ketika masuk di bawah kulit
(Gusti A, 2013).
7. Formaldehida
Formaldehida adalah salah satu bahan kimia berbahaya lain yang umum
digunakan dalam sabun mandi bayi, poles kuku, perekat dan pewarna
rambut bulu mata.Jika terus digunakan dapat mengakibatkan berbagai
masalah kesehatan seperti keracunan sistem kekebalan tubuh, iritasi
pernafasan dan bahkan kanker (Gusti A, 2013).
8. Aluminium
Aluminium sering digunakan pada produk penghilang bau badan.
Aluminium diduga berhubungan dengan penyakit pikun atau Alzheimers
(Gusti A, 2013).
9. Hidroquinon
Hidroquinon, pada kosmetik penggunaannya hanya dapat dilakukan atas
pengawasan dokter. Senyawa yang merupakan obat keras ini mampu
mengelupas kulit bagian luar dan menghambat pembentukan melanin yang
membuat kulit tampak hitam. Namun, penggunaan lebih 2% dapat
menyebabkan oochronosis (kulit berbintil seperti pasir dan berwarna
coklat kebiruan yang menimbulkan sensasi gatal dan terbakar) terhadap
orang berkulit gelap (Gusti A, 2013).
10. Minyak Mineral
Minyak mineral dibuat dari turunan minyak bumi dan sering digunakan
sebagai bahan dasar membuat krim tubuh dan kosmetik. Baby oil dibuat

19

dengan 100% minyak mineral. Minyak ini akan melapisi kulit seperti
mantel sehingga pengeluaran toksin dari kulit menjadi terganggu. Hal ini
akan menyebabkan terjadinya jerawat dan keluhan kulit lainnya (Gusti A,
2013).
11. Pewarna K.10 (Rhodamin) dan Merah K.3
Pewarna K.10 (Rhodamin) dan Merah K.3 merupakan zat warna sintetis
yang sering digunakan sebagai zat warna pada kertas, tekstil dan tinta. Zat
warna ini merupakan zat Karsinogenik (dapat menyebabkan kanker).
Rhodamin dalam konsentrasi tinggi dapat mengakibatkan kerusakan hati.
Merah K.10 (Rhodamin B)danMerah K.3 (CI PigmentRed 53 : D&C
Red No. 8 : 15585). Penggunaan zat warna ini dalam kosmetik dapat
menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan merupakan zat
karsinogenik penyebab kerusakan pada hati. Asam retinoat bekerja
mengelupas kulit dan dapat membuat kulit terasa seperti terbakar. Contoh
zat berbahaya lain yang tak seharusnya terkandung dalam kosmetik adalah
tretinoin dan diethylen Glycol (DEG). Tretinoin / Retinoic Acid / Asam
Retinoat dapat menyebabkan kulit kering, rasa terbakar, dan Teratogenik
(cacat pada janin). Zat warna ini merupakan zat karsinogenik yang bisa
menyebabkan kanker dan salah satu zat warna Rhodamin B (Merah K.10)
bisa menyebakan kerusakan pada hati (Gusti A, 2013).
2.4 Faktor Yang Berpengaruh Pada Kulit Akibat Pemakaian Kosmetik
Ada 4 faktor yang mempengaruhi hasil pemakaian kosmetik terhadap kulit, baik
yang akan memberikan hasil positif yang menguntungkan kulit, atau hasil negatif
yang merugikan kulit. Keempat faktor itu adalah :
1.
2.
3.
4.

Faktor manusia
Faktor kosmetik
Faktor lingkungan
Interaksi ketiga faktor tersebut (Tranggono dan Fatma Latifah, 2007 : 43).

1. Faktor manusia

20

Perbedaan ras warna kulit, misalnya antaraAsia yang coklat dan dan eropa yang
putih serta pandangan mengenai kecantikan (aesthetic behavior) yang bebeda
menyebabkan efek kosmetik yang berbeda.
a. Kurangnya pengetahuan akan seluk beluk kulit dan seluk beluk
kosmetikdapat menimbulkan kesalahan dalam pemakain kosmetik.
b. Orang-orang tertentu berkulit sensitif sehingga kosmetik yang bagi orang
lain tidak berpengaruh apa-apa, baginya dapat menimbulkan iritasi dll
(Tranggono dan Fatma Latifah, 2007 : 43)
2. Faktor Kosmetik
a. Bahan baku tidak berkualitas tinggi, iritaan, alergenik, aknegenik, toksik,
dan photosensitizer
b. Formulasi tidak sesuai dengan jenis kulit dan keadaan lingkingan.
Sejumlah bahan, misalnya dalam kosmetik tabir surya (sunscreen), zat
perwarna dan zat pewangi bersifat photosensitizer jiks terkena sinar
matahari di iklim tropis.
c. Prosedur pembuatan tidak canggih dan higienis (Tranggono dan Fatma
Latifah, 2007 : 43).
3. Faktor lingkungan
Di Negara-negara tropis seprti Indonesia, matahari yang bersinar terik prktis
sepanjang hari sepanjang tahun menyebabkan kulit lebih berkeringat dan
berminyak. Karena itu jika kosmetik pelembab (muisturizer) yang lengket
berminyak untuk kulit orang Eropa yang kering di iklim dingin digunakan oleh
orang Asia, kosmetik ini dapat merangsng terjadinya jerawat (acnegenic).
Begitu pula tabir surya yang mengandung PABA (Para Amino Benzonic
Acid)yang populer untuk mencoklatkan kulit di Eropa, di Indonesia tidak
disukai dan bahaya PABA bersifat Photosensitizer jika terkena sinar matahari
terik.
4. Interaksi Ketiga Faktor tersebut di atas (Tranggono dan Fatma Latifah, 2007 :
43-44).
Reaksi Negatif Kosmetik Pada Kulit
Terjadinya reaksi negatif kosmetik pada kulit sesungguhnya sudah sejak lama
ditemukan, terutama ketika pengetahuan mengenai kosmetik belum ilmiah dan
modern serta pembuatan kosmetik hanya sekedar mencampur bahan-bahan

21

berwarna yang belum tentu aman bagu kulit. Bahkan sekarang pun, setelah dunia
kosmetik demikian maju, terjadinya reaksi negatif pada kulit masih ditemukan
(Tranggono dan Fatma Latifah, 2007 : 44).
a. Jenis-jenis Reaksi Negatif oleh Kosmetik
Ada berbagai reaksi negatif yang disebabkan oleh kosmetik yang tidak
aman, baik pada kulit maupun pada sistem tubuh, antara lain :
1. Iritasi : reaksi langung timbul pada pemakaian pertama kosmetik
karena salah satu atau lebih bahan yang dikandungnya bersifat iritan.
Sejumlah deodoran, kosmetik pemutih (misalnya kosmetik impor Pearl
Cream yang mengandung merkuri) dapat langsung menimbulkan
reaksi iritasi.
2. Alergi : reaksi negatif pada kulit muncul setelah kosmetik dipakai
beberapa kali, kadang-kadang setelah bertahun-tahun, karena kosmetik
itu mengandung bahan yang bersifat alergenik bagi seseorang
meskipun mungkin tidak bagi yang lain. Cat rambut, lipstik, parfum
dan lain-lain dapat menimbulkan alergi pada orang-orang tertentu.
3. Fotosensitisasi : reaksi negatif muncul setelah kulit yang ditempeli
kosmetikterkena sinar matahari karena salah satu atau lbih dari bahan,
zat pewarna atau zat pewagi dalam kosmetik riasan (make-up), parfum,
dan tabir surya yang megandung PABA (Para Amino Benzoic Acid)
dapat menimbulkan terjadinya reaksi fotosensitisasi pada kulit.
4. Jerawat (Acne) : beberapa kosmetik pelembab kulit (moisturuzer)
yang sangat berminyak dan lengket pada kulit, seperti yang
diperuntukkan bagi kulit yang kering diklim dingin, dapat
menimbulkan jerawat bila digunkan pada kulit berminyk, terutama di
negara-negara tropis seperti Indonesia karena kosmetik yang demikian
cenderung menyumbat pori-pori kulit bersama kotoran dan bakteri.
Jenis kosmetik demikian disebut kosmetik aknegenik.
5. Intoksikasi : keracunan dapat terjadi secara lokal atau sisteik melalui
penghirupan lewat mulut dan hidung, atau lewat penyerapan via kulit,
terutama jika salah satu atau lebih bahan yang dikandung oleh
kosmetik itu bersifat tosik, misalnya merkuri didalam kosmtik impor
pemutih kulit Pearl cream yang dilarang peredarannya di Indonesia

22

oleh pemerintah. Sejumlah parfum dan hair spray juga dapat


menimbulkan intoksikasi.
6. Penyumbatan fisik : penyumbatan oleh bahan-bahan berminyak dan
lengket yang ada di dalam kosmetik tertentu, seperti pelembab
(moisturizer)atau alas dasar bedak (foundation) terhadap pori-pori
kulit atau pori-pori kecil pada sbagian-bagian tubuh yang lain
(Tranggono dan Fatma Latifah, 2007 : 44-45).
b. Hebatnya Reaksi Negatif pada Kulit
Hebatnya reaksi negatif pada kulit akibat kosmetik tergantung pada
berbagai faktor, antara lain :
1. Lamanya Kontak Kosmetik dengan Kulit
Kosmetik yang aakan dikenakan pada kulit untuk waktu yang lama,
misalnya pelembab dan dasar bedak lebih mudah menimbulkan reaksi
negatif daripada yang hanya sebentar saja dikarenakan pada kulit untuk
kemudian segera duhilngkan atau diangkat kembali, misalnya sabun
atau sampo yang cepat dibilas dengan air sampai bersih.
2. Lokasi Pamakaian
Kilit daerah sekitar mata, misalnya lebih sensitif terhadao kosmetik
karena lebih tipis daripada kulit bagian tubuh lainnya. Karena itu kita
perlu lebih waspada dan hati-hati dalam memakai kosmetik pada kulit
sekatar mata.
3. pH Kosmetik
semakin jauh beda antara pH kosmetik dan ph fidiologis kulit (dapat
jauh lebih tinggi atau jauh lebuh rendah), semakin hebt kosmetik itu
memimbulkan reaksi negatif pada kulit. Karena itu yang terbaik adalah
jika pH kosmetik disamakan dengan pH fisiologis kulit, yaitu antara
4,5-6,5 (disebut kosmetik dengan pH Balanced ).
4. Kosmetik yang Mengandung Gas
Menyebabkan konsentrasi bahan aktif di dalam kosmetik itu lebih
tinggi setelah gas menguap (Tranggono dan Fatma Latifah, 2007 : 4546).
2.4 Ciri-Ciri Kosmetik Tidak Aman (Mengandung Merkuri Atau Zat
Berbahaya Lain)
1) Produk kosmetik yang tidak aman biasanya mengembel-embeli hasil yang
cepat dalam penawarannya

23

2) Krim pada umumnya lengket.


3) Krim pada umumnya tidak HOMOGEN (tidak menyatu & kasar), bila
didiamkan minyak akan terpisah dengan bagian padat.
4) Warna kosmetik yang tidak aman umumnya sangat mencolok, karena tidak
menggunakan bahan pewarna untuk kosmetik, umumnya menggunakan
bahan pewarna tekstil.
5) Krim berwarna putih-kuning. Putih untuk krim malam, kuning untuk krim
pagi. Tidak semua tapi patut dicurigai.
6) Ciri spesifik Krim agak mengkilat warnanya. Kalau kita buka tutupnya
permukaan. Krimnya agak berkilauan/hologram.Coba oleskan didepan
cermin perhatikan ada yang kilat-kilat nempel di wajah atau tidak, itu
biasanya mengandung mercury. Yang mengkilat itu: adalah merkuri.
Merkuri adalah logam makanya mengkilat. Krim yang bagus warnanya
putih dop tidak mengkilat.
7) Bila diusapkan pada kulit lengan terasa panas dan gatal.
8) Umumnya pemutih wajah yang baunya agak keras (biasanya agak sedikit
bau logam/diberi parfum biar wangi tapi menyengat) itu patut dicurigai.
9) Dapat membuat kulit wajah putih dalam waktu singkat.
Memang cukup bervariasi antara 1- 4 minggu tergantung dari banyaknya
kandungan mercury didalam krim. (makin tinggi kandungan mercury
makin cepat memberikan hasil putih pada wajah). Bahkan hasilnya ada
yang seperti wajahnya putih sekali seperti (maaf) mayat, alias putih pucat.
10) Umumnya menimbulkan rasa gatal yang amat sangat di awal pemakaian,
tergantung jenis kulit. Makanya ada yg menyertakan dg krim anti iritasi
11) Kulit lebih sensitif terhadap sinar matahari, terasa panas bila terkena sinar
matahari langsung.
12) Pada pemakaian awal meyebabkan iritasi pada kulit dan kemerahan bila
terkena sinar matahari.
13) Kulit terasa perih kemerahan, umumnya 1-2 hari diawal pemakaian
(berbeda rasa perihnya ketika memakai Peeling dari dokter).
14) Kulit hasil pemakaian kosmetik yang tidak aman dapat berubah putih
dalam waktu singkat (kurang 1 minggu, tergantung kadar kandungan
merkuri, makin tinggi makin lebih cepat memberikan warna putih)
15) Warna putih pada kulit setelah penggunaan kosmetik yang tidak
aman umumnya pucat dan tidak lazim.
16) Akibat pemakaian kosmetik mengandung merkuri, pori-pori tampak
mengecil dan halus karena lapisan kulit terluar wajah kita telah tipis dan

24

tergerus oleh logam merkuri. Untuk mengujinya bisa dicoba pada sinar
matahari. Kulit akan terasa terbakar, gatal disertai kemerahan, hal ini
dikarenakan kulit wajah sudah tidak mendapat perlindungan dari melanin
yang berfungsi melindungi wajah kita dari radiasi matahari.
17) Terkadang pemakaian kosmetik yang tidak aman hasilnya tidak timbul
jerawat sama sekali. Ini karena lapisan kulit epidermis telah rusak dan
tidak lagi mengandung protein serta melanin yang berfungsi untuk
melindungi dari radiasi paparan matahari juga sudah tidak berfungsi
sehingga jasad renik ataupun kuman tidak akan menyukai kulit yang telah
tercemar merkuri dari kosmetik tersebut, termasuk nyamuk sekalipun.
Jerawat dalam keadaan normal adalah berfungsi sebagai indikator tingkat
kandungan protein di dalam kulit, hal ini juga untuk mengontrol perawatan
kulit wajah. Bila anda lupa untuk melakukan kebersihan wajah, umumnya
jerawat akan timbul tetapi pada paparan merkuri dan lainnya
pada kosmetik yang tidak aman, hal ini tidak terjadi lagi, karena struktur
protein kulitnya telah berubah & menjadi rusak.
18) Menimbulkan ketergantungan
19) Saat pemakaian kosmetik yang tidak aman dihentikan, akan timbul
jerawat kecil-kecil disertai rasa gatal, timbul bintik-bintik hitam di bawah
kulit sebagian ataupun merata diwajah.
20) Warna Putih pada kulit wajah lama-kelamaan akan berubah menjadi abuabu lalu selanjutnya kehitaman
21) Jerawat akan tumbuh lebih parah dan susah disembuhkan karena jerawat
yang timbul bukan lagi jerawat biasa (Tyas, 2013).
2.5 Pencegahan dari Kosmetik yang Tidak Aman
1) Lebih baik menggunakan perawatan kecantikan yang alami.
2) Apabila harus menggunakan produk kosmetik yang menggunakan bahan
kimia, kenali ciri kosmetik aman dan yang tidak aman.
3) Baca semua di produk kulit yang Anda gunakan. HENTIKAN penggunaan
produk yang pada labelnya terdapat kata-kata: "klorida mercurous,"
"kalomel," "mercuric," "mercurio" atau "merkuri,"
4) Jangan menggunakan produk tanpa label karena peraturannya wajib.
5) Selalu mencuci tangan Anda dengan bersih setelah menggunakan produk
kecantikan apa pun.

25

6) Sebelum membuang produk yang mencurigakan, bungkus di dalam tas


plastik atau wadah tertentu. Produk-produk tersebut bisa merembes ke
tanah di tempat pembuangan sampah dan akhirnya akan masuk ke dalam
sistem air kita.
7) Lakukan tes merkuri. Tingkat normal merkuri adalah kurang dari 10
mikrogram/liter di dalam darah dan kurang dari 20 mikrogram/liter di urin.
Sebelum melakukan tes, pastikan Anda tidak mengonsumi ikan 5 hari
sebelum tes untuk menghindari hasil tes positif yang salah. Seafood
mengandung merkuri tingkat tinggi.
8) Jika Anda curiga tubuh Anda sudah keracunan merkuri, segera temui ahli
toksikologi atau ahli saraf (Tyas, 2013).

DAFTAR PUSTAKA

Agustina A. 2013. Bahan Tambahan Makanan (BTM). Diakses di Respiratory.


Usu.ac.id/bitstream/2011/123456789/chapter II. Pada Tanggal 12 Maret
2016

26

BPOM. 2011. Forum Koordinasi Pengawasan dalam Rangka Notifikasi


Kosmetika di BPOM di Banda Aceh. Diakses di
www.pom.go.id/new/index.php/ Pada Tanggal 12 Maret 2016
Gusti A.2013. Toksikologi Kosmetik. Diakses di
www.scribd.com/mobile/doc/21787654/Toksikologi-Kosmetik-docx.
Pada Tanggal 12 Maret 2016
Kemkes. 2004. keamanan Mutu dan Gizi Pangan
http://hukor.kemkes.go.id/uploads/produk_hukum/pp no 20 th 2004
tentang Keamanan Mutu dan Gizi Pangan.pdf
PERMENKES RI. 2012. Bahan Tambahan Pangan.
Sabillah, Chairenita 2014. Bahan Tambahan Pangan Pengawetan Makana.
Diakses di www.academia.edu/9851177/Bahan-Tambahan-PanganPengawetan-Makanan.pdf pada tanggal 12 Maret 2016
Sartono. 2001. Racun dan Keracunan. Widya Medika. Yogyakarta
Sembel, Dantje T. 2015. Toksikologi Lingkungan. Yogyakarta.ANDI
Tranggono, Retno Iswari dan Fatma Latifah.2007. Ilmu pengetahuan Kosmetik.
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama . Jakarta.
Tyas. 2013. Awas Kosmetik Tidak Aman. Diakses di
http://wanitahebattt.blogspot.co.id/2013/01/awas-kosmetik-tidakaman.html

27