Anda di halaman 1dari 22

TUGAS

LAPANGAN TERBANG
(WIND ROSE ANALYSYS)

Oleh :
Zaina Khoerunnisa Nurul Fath
1215011118

TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2015

1. PENDAHULUAN

Wilayah Indonesia yang terbentang dari lintang geografis 07 20 LU sampai 14


LS dan 92 BT sampai 141 BT merupakan negara kepulauan dimana perairannya
lebih luas daripada daratannya. Untuk menghubungkan pulau-pulau di Indonesia
dibutuhkan segala bentuk transportasi baik itu udara, darat, maupun laut. Dengan
tingkat mobilitas penduduk yang tinggi, diperlukan sarana transportasi yang dapat
menghubungkan pulau-pulau tersebut dalam waktu yang singkat. Jadi, jalur udara
dipilih untuk memenuhi tujuan tersebut.
Transportasi penerbangan mempunyai standar keselamatan yang sangat tinggi,
jika terdapat kesalahan kecil maka akan berakibat buruk bagi kesalamatan kru
pesawat

maupun

penumpangnya.

Sehingga

standar

keselamatan

pada

penerbangan diatur secara internasional, dalam hal ini adalah International Civil
Aviation Organization (ICAO) yang menentukan standar keselamatan tersebut.
Standar keselamatan ini dilihat dari berbagai aspek dalam penerbangan, baik dari
faktor pesawat itu sendiri maupun dari faktor yang terkait seperti dari faktor
individu petugas ground control dan air control, maupun dari faktor
meteorologi/cuaca.
Dalam perencanaan dan perancangan bandar udara adalah penentuan arah landas
pacu yang memungkinkan di lokasi rencana pembangunan berdasarkan hasil
analisis arah dan kecepatan angin. Selain itu, besar dan kecilnya kecepatan angin
dominan akan mempengaruhi penetapan jenis pesawat yang dapat dioperasikan di

bandar udara tersebut. Data arah dan kecepatan angin dapat diperoleh dari stasiun
meteorologi terdekat dengan rencana lokasi bandara merupakan pendekatan
terbaik untuk mengetahui karakteristik dan pola arah angin di rencana lokasi
bandar udara, karena ketersediaan data-series yang bisa mencakup rentang waktu
yang lama.Pada umumnya dipergunakan data-series dengan cakupan waktu 5
tahun terakhir telah mampu menunjukkan kondisi wilayah kajian secara reliabel
dan konsisten.
Dalam penerbangan dikenal tiga tahapan yaitu take-off (lepas landas), cruising
(menjelajah), dan landing (mendarat). Ketiga tahapan tersebut dapat berhubungan
langsung dengan faktor meteorologi. Tahapan yang rawan kecelakaan selama ini
adalah saat mendarat (landing). Salah satu faktor penting dari unsur meteorologi
tersebut adalah angin, baik dari segi arah maupun kecepatannya. Angin akan
mempengaruhi pesawat dalam segi kestabilannya. Oleh karena itu diperlukan
kestabilan yang sempurna dalam mengendalikan sebuah pesawat. Sehingga
informasi tentang keadaan angin sangat diperlukan oleh pilot. Angin permukaan
merupakan salah satu unsur meteorologi yang keadaannya baik arah maupun
kecepatannya mudah sekali berubah dan bervariasi. Di samping itu, angin sangat
berpengaruh terhadap operasi penerbangan. Kestabilan pesawat saat lepas landas
dan mendarat dipengaruhi oleh angin dekat permukaan. Analisa variasi angin
dilakukan dengan menggunakan metode Wind rose. Menganalisa variasi arah dan
kecepatan angin dekat permukaan agar dapat diketahui seberapa besar tingkat
keseringan arah dan kecepatan angin permukaan di bandar udara, sehingga dapat
menambah pengetahuan pengamat cuaca di lapangan khususnya di bandara

mengenai variasi angin bandar udara serta mengurangi kemungkinan kecelakaan


pesawat akibat angin dalam operasi penerbangan.

2. TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Angin
Terjadinya angin adalah ketika perbedaan tekanan udara pada arah
mendatar, maka akan terjadi gerakan perpindahan masa udara dari tempat
dengan tekanan udara yang tinggi ke tempat dengan tekanan udara yang
rendah (Soepangkat, 1994). Gerakan arus angin jarang sekali dapat
berlangsung dalam keadaan rata atau halus, tetapi umumnya terganggu
oleh adanya turbulensi dalam berbagai bentuk dan ukuran yang
berkembang dan saling menggangu dengan arah dan gerakannya. Dekat
pada permukaan bumi, turbulensi ini terutama sebagai akibat gesekan
antara udara yang bergerak dengan permukaan bumi yang umumnya
tidak rata yang di dalam udara akan menimbulkan eddy dan dibarengi
ketenangan dan hembusan yang keras.
Arah angin adalah arah darimana angin berhembus atau darimana arus
angin datang dan dinyatakan dalam derajat yang ditentukan dengan arah
perputaran jarum jam dan dimulai dari titik utara bumi dengan kata lain
sesuai dengan titik kompas (Soepangkat, 1994). Umumnya arus angin
diberi nama dengan arah darimana angin tersebut bertiup, misalnya angin
yang berhembus dari utara maka angin utara.
Kecepatan angin adalah kecepatan dari menjalarnya arus angin dan
dinyatakan dalam knots atau kilometer per jam maupun dalam meter per
detik (Soepangkat, 1994). Karena kecepatan angin umumnya berubah-

ubah, maka dalam menentukan kecepatan angin diambil kecepatan rataratanya dalam periode waktu selama sepuluh menit dengan dibulatkan
dalam harga satuan knots yang terdekat. Keadaan ditentukan sebagai
angin teduh (calm) jika kecepatan kurang dari satu knots.

2.2.

Sirkulasi Angin
Sirkulasi angin yang paling berpengaruh di wilayah Indonesia antara lain
angin periodik. Angin periodik adalah angin yang bertiup diatas
permukaan bumi dimana pada waktu-waktu terentu berbalik arah. Kita
menegenal ada beberapa angin periodik (Soepangkat, 1994), yang
diantaranya adalah:
2.2.1.

Angin darat dan angin laut, dengan periodik waktu berbalik

arah setengah hari (siang dan malam). Angin darat dan angin laut
merupakan angin periodik yang terdapat di daerah pantai, dimana
pada siang hari terdapat angin laut yang bertiup dari laut ke
daratan, sedangkan pada malam hari terdapat angin darat yang
bertiup dari daratan menuju ke laut. Proses ini terjadi karena
adanya perbedaan tekanan udara antara darat dan laut.
2.2.2.
Angin muson atau angin musim, dengan periode waktu
berbalik arah setengah tahun atau enam bulan, dimana pada waktu
musim panas mengalir masuk ke dalam benua dan pada waktu
musim dingin mengalir keluar dari benua menuju samudera. Ini
karena adanya pergerakan semu matahari secara membujur di

wilayah tropis, yang menyebabkan adanya perbedaan tekanan


antara benua dengan samudera.
2.3.

Alat-alat Pengukur Angin


Untuk menentukan arah angin dapat dipergunakan alat yang yang disebut
sebagai bendera angin atau wind vane. Gerakan bendera angin ini
diteruskan ke suatu alat penunjuk dengan pertolongan mekanik atau
listrik. Di lapangan-lapangan terbang kebanyakan dipergunakan kantong
angin, yang selain untuk menentukan arah angin, dapat juga untuk
memperkirakan kecepatan angin. Bendera angin dapat berputar pada
poros vertikal. Ekor bendera angin mempunyai data tangkap angin lebih
besar dari ujung bendera angin. Dengan demikian dari pun angin datang
bertiup, kepala bendera angin senantiasa mengambil kedudukan menuju
ke arah dari mana angin datang. Untuk kecepatan angin dipergunakan
alat yang disebut sebagai Anemometer ada dua, anemometer putar dan
tekan. Sebagian besar pengukur kecepatan angin tipe putar adalah
Anemometer mangkok. Alat ini terdiri dari tiga atau lebih buah mangkok
yang dipasang simetris dan dipancangkan tegak lurus pada sumbu yang
vertikal. Kecepatan putaran mangkoknya tergantung dari kecepatan angin
tanpa mengingat dari mana arah datangnya angin.

2.4.

Wind rose Diagram


Wind rose adalah diagram yang menyederhanakan angin pada sebuah

lokasi dengan periode tertentu. Wind rose adalah grafik yang digunakan
oleh meteorologist untuk memberikan pandangan secara ringkas
bagaimana kecepatan angin dan arahnya yang didistribusi pada sebuah
lokasi.
Wind rose digunakan sebagai petunjuk untuk mengetahui delapan arah
mata angin. Oleh meteorologist untuk mengetahui persentase hembusan
angin dari setiap arah mata angin selama periode observasi. Wind rose
juga biasanya digunakan untuk menunjukkan besarnya kecepatan angin
dan persentase angin tenang.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan dan
perancangan bandar udara adalah penentuan arah landasan pacu yang
memungkinkan di lokasi rencana pembangunan berdasarkan hasil analisi
dan kecepatan angin. Selain itu, besar dan kecilnya kecepatan angin
dominan akan mempengaruhi penetapan jenis pesawat yang dapat
dioperasikan Data arah dan kecepatan angin dapat diperoleh dari stasiun
meteorologi terdekat dengan rencana lokasi bandara merupakan
pendekatan terbaik untuk mengetahui karakteristik dan pola arah angin di
rencana lokasi bandar udara, karena ketersediaan data-series yang bisa
mencakup rentang waktu yang lama. Pada umumnya dipergunakan dataseries dengan cakupan waktu 5 tahun terakhir telah mampu menunjukkan
kondisi wilayah kajian secara reliabel dan konsisten.
Analisis arah angin (windrose analysis) merupakan hal yang sangat
esensial guna penentuan arah landas pacu. Berdasarkan rekomendasi dari
ICAO, arah landas pacu sebuah bandar udara secara prinsip diupayakan
sedapat mungkin harus searah dengan arah angin yang dominan. Pada
saat pesawat udara mendarat atau lepas landas, pesawat udara dapat
melakukan pergerakan di atas landasan pacu sepanjang komponen angin
yang bertiup tegak lurus dengan bergeraknya pesawat udara (cross wind)
tidak berlebihan. Beberapa referensi ICAO dan FAA menyatakan bahwa
besarnya cross wind maksimum yang diperbolehkan bergantung pada
jenis dan ukuran pesawat yang beroperasi, susunan sayap dan kondisi

permukaan landasan pacu.


Penentuan arah landas pacu yang dipersyaratkan oleh ICAO adalah
bahwa arah landas pacu sebuah bandar udara harus diorientasikan
sehingga pesawat udara dapat mendarat dan lepas landas paling sedikit
95% dari seluruh komponen angin yang bertiup.
Adapun besarnya batas kecepatan komponen angin silang (cross wind)
yang diijinkan adalah 10 knot untuk bandar udara dengan panjang landas
pacu kurang dari 1200 m, sebesar 13 knot untuk bandara dengan panjang
landas pacu 1200 1500 m, dan kecepatan angin silang 20 knot diijinkan
untuk bandara dengan panjang landas pacu lebih dari atau sama dengan
1500 m.
Selain faktor arah dan kecepatan angin, arah landas pacu juga harus
memperhatikan faktor kondisi topografi tapak rencana bandar udara serta
relief rupa bumi yang terlingkupi dalam kawasan keselamatan operasi
penerbangan. Utamanya kawasan ancangan pendaratan dan lepas landas
harus bebas dari obstruction (penghalang) berupa bentang alam, benda
tumbuh atau bangunan fisik buatan (tower, gedung, dsb.). Tolerasi variasi
arah landas pacu yang diijinkan adalah dengan memperhatikan usability
factor tahunan menurut hasil windrore analysis adalah sama atau lebih
besar dari 95%.
Prosedur pengolahan data untuk analisis windrose adalah sebagai berikut
:
2.4.1.

Melakukan

evaluasi

terhadap

kualitas

data

dan

berkonsultasi dengan institusi sumber data (di Indonesia


dilakukan oleh BMKG- Badan Meteorologi Klimatologi dan
Geofisika) dalam hal tata cara pencatatan atau pendataannya,
untuk mengetahui perilaku dan karakteristik data yang akan
diolah.
2.4.2.

Melakukan pemilihan data yang akan dipakai untuk data

terpakai.

2.4.3.

Membagi

masing-masing

data

ke

dalam

beberapa

kecepatan sehingga menjadi enam kelompok sesuai ketentuan


ICAO, yaitu:

Kecepatan kurang dari 4 knot


Kecepatan antara empat hingga 10 knot
Kecepatan antara 10 hingga 13 knot
Kecepatan antara 13 hingga 20 knot
Kecepatan antara 20 hingga 40 knot, dan
Kecepatan lebih dari 40 knot.

Langkah selanjutnya setelah pembagian data dalam kelompok kecepatan


angin tersebut adalah sebagai berikut:
2.4.4.

Membagi masing-masing data dalam setiap kelompok ke

dalam arah angin per 10 derajat untuk mengelompokkan data

terhadap arah angin.


2.4.5.
Membuat matrik arah angin terhadap kecepatan angin,
sehingga didapatkan sejumlah data untuk masing-masing arah dan
kelompok kecepatan tertentu.
2.4.6.
Membuat windrose type-1, terkait dengan prosentase
jumlah data terhadap arah angin yang dominan.
2.4.7.
Membuat windrose type-2, terkait dengan prosentase
jumlah data terhadap arah dan kecepatan angin sesuai matrik.
Berdasarkan data dan metode pengolahan tersebut di atas didapatkan
besarnya prosentase arah angin yang dominan pada kecepatan angin yang
telah ditentukan serta jumlah frekuensi untuk masing-masing kecepatan
tersebut. Untuk operasi bandara selama 24 jam, maka analisis windrose
dilakukan selama pencatatan data 24 jam dan jika operasi bandara
nantinya direncanakan hanya siang hari jam 06.00 s.d 18.00 waktu
setempat maka analisis windrose juga dilakukan pada rentang waktu
tersebut.
Dalam hal ini dilakukan analisis untuk kondisi 24 jam tersebut sehingga
akan didapatkan gambaran kondisi arah dan kecepatan angin maupun
usability factor yang terjadi. Persentase arah dan kecepatan angin untuk
operasi bandara selama 24 jam dari hasil analisis windrose pada
umumnya disajikan dalam tabel perhitungan usability factor dan gambar
Windrose.

3. PEMBAHASAN

ANALISA ANGIN
Analisa angin merupakan hal yang mendasar dari perencanaan landasan
pacu utama. Bandar udara sedapat mungkin searah dengan angin dominan.
Tabel 3.1 Frekuensi Angin
Arah
Angin
N
NE
E
SE
S
SW
W
NW
Jumlah

4 s/d 6
0.8
0.6
3.5
4.1
1.9
3.3
4.6
6.5
25.3

Kecepatan Angin (mil/Jam)


7 s/d 10
11 s/d 16
17 s/d 21
4.5
7.8
3.5
7.6
8.1
5.5
8.2
3.4
5.7
3.7
4.5
3.4
9.1
5.6
4.5
2.4
6.7
2.3
4.5
7.9
4.5
6.6
3.6
5.2
46.6
47.6
34.6

> 22
2.9
0.9
1.8
4.2
3.9
0.9
0.8
3.4
18.
8

Jumlah
19.5
22.7
22.6
19.9
25
15.6
22.3
25.3
172.9

Dari data frekuensi angin diatas diperoleh persentase angin melebihi 100%, maka perlu
dihitung kembali. Untuk hasil perhitungan persentase tiap arah mata angin dapat dilihat
pada tabel 3.2.
Tabel 3.2 Persentase Kecepatan Angin
Arah

Kecepatan Angin (mil/Jam)


4 s/d 6

7 s/d 10

11 s/d 16

17 s/d 21

> 22

0.46
3

2.603

4.511

2.024

1.67
7

N-E

0.34
7

4.396

4.685

3.181

0.52
1

2.02
4

4.743

1.966

3.297

1.04
1

S-E

2.37

2.140

2.603

1.966

2.42

1.09
9

5.263

3.239

2.603

2.25
6

S-W

1.90
9

1.388

3.875

1.330

0.52
1

2.66
0

2.603

4.569

2.603

0.46
3

N-W

3.75
9

3.817

2.082

3.008

1.96
6

Jumlah

14.6
33

26.95
2

20.012

10.8
73

27.530

Menentukan Arah Runway Dengan Menggunakan Metode Wind Rose


Persyaratan ICAO, pesawat dapat mendarat atau lepas landas pada
sebuah lapangan terbang pada 95% dari waktu dengan komponen
Cross Wind tidak melebihi :

a. 37 km/jam (20 knot) dengan Aeroplane Reference Field Length (ARFL) lebih
dari 1500 m
b. 24 km/jam (13 knot) dengan Aeroplane Reference Field Length (ARFL) antara
12001499 m
c. 19 km/jam (10 knot) dengan Aeroplane Reference Field Length (ARFL) kurang
dari 1200 m

2,140Runway Dengan Menggunakan Metode Wind Rose


1. Menentukan Arah

ARAH N S = S N
2,603

1,966

1,966

3,759 0,463
0,347
2,660
2,024
1,909
2,371
1,099

Persentase Wind Rose Arah N S = S N

2,429

0,463 + 0,347 + 2,024 + 2,371 + 1,099 + 1,909 + 2,660 + 3,759


= 14,633
2,603 + 4,396 + 4,743 + 2,140 + 5,263 + 1,388 + 2,603 + 3,817
= 26,952
4,511 + 4,685 + 1,966 + 2,603 + 3,239 + 3,875 + 4,569 + 2,082
= 27,530
2,024 + 3,181 + 3,297 + 1,966 + 2,603 + 1,330 + 2,603 + 3,008
= 20,012

1,677 + 0,521 + (
+ 1,966

6
7

x 1,041) + 2,429 + 2,256 + 0,521 + (

x 0,463)

= 10,659 +

Jumlah
99,785 %

6
7

ARAH NE 2,140
SW = SW NE
2,603
1,966
2,429

1,677

0,463
3,759
0,347
1,909

2,024

1,099 2,371

2,660

Persentase Wind Rose Arah NE SW = SW NE

0,463 + 0,347 + 2,024 + 2,371 + 1,099 + 1,909 + 2,660 + 3,759


= 14,633
2,603 + 4,396 + 4,743 + 2,140 + 5,263 + 1,388 + 2,603 + 3,817
= 26,952
4,511 + 4,685 + 1,966 + 2,603 + 3,239 + 3,875 + 4,569 + 2,082
= 27,530
2,024 + 3,181 + 3,297 + 1,966 + 2,603 + 1,330 + 2,603 + 3,008
= 20,012

1,677 + 0,521 + 1,041 + (

6
7

6
7

x 2,429) + 2,256 + 0,521 + 0,463 + (

1,966) = 10,245 +

Jumlah
99,372 %

ARAH E W2,140
=WE

2,603
1,966
2,429

0,521

0,463
3,759
0,347
2,660
2,024
1,909
1,0992,371

0,521

Persentase Wind Rose Arah E W = W E

0,463 + 0,347 + 2,024 + 2,371 + 1,099 + 1,909 + 2,660 + 3,759


= 14,633
2,603 + 4,396 + 4,743 + 2,140 + 5,263 + 1,388 + 2,603 + 3,817
= 26,952
4,511 + 4,685 + 1,966 + 2,603 + 3,239 + 3,875 + 4,569 + 2,082
= 27,530
2,024 + 3,181 + 3,297 + 1,966 + 2,603 + 1,330 + 2,603 + 3,008
= 20,012

6
7

x 1,677) + 0,521 + 1,041 + 2,429 + (

+ 1,966

6
7

x 2,256) + 0,521 + 0,463

= 10,311 +

Jumlah
99,438 %

2,140= NW SE
ARAH SE NW
2,603
1,966
2,429

0,463

3,759 0,463
0,347
2,660
2,024
1,909
1,099 2,371

Persentase Wind Rose Arah SE NW = NW SE

1,041

0,463 + 0,347 + 2,024 + 2,371 + 1,099 + 1,909 + 2,660 + 3,759


= 14,633
2,603 + 4,396 + 4,743 + 2,140 + 5,263 + 1,388 + 2,603 + 3,817
= 26,952
4,511 + 4,685 + 1,966 + 2,603 + 3,239 + 3,875 + 4,569 + 2,082
= 27,530
2,024 + 3,181 + 3,297 + 1,966 + 2,603 + 1,330 + 2,603 + 3,008
= 20,012

1,677 + (
+ 1,966

6
7

x 0,521) + 1,041 + 2,429 + 2,256 + (

6
7

x 0,521) + 0,463

= 10,725 +

Jumlah

99,851 %

Tabel 3.3. Hasil Peninjauan Arah Mata Angin


Arah Mata Angin

Persentase Angin (%)

Ranking

Keterangan

NS=SN
NE SW = SW

99,785

99,372

99,438

99,851

Pilihan Arah

NE
EW=WE
SE NW = NW
SE

Runway

Syarat arah angin dominan dan menjadi arah perencanaan runway adalah 95 %.
Dari hasil peninjauan diperoleh persentase angin > 95 % (memenuhi syarat),
sehingga diambil nilai persentase arah yang terbesar yaitu = 99,851 %.