Anda di halaman 1dari 10

5 NEGARA YANG ADA DI ARAB

Arab tak memiliki danau atau sungai, hanya wadi, paling sering kering; iklim menjadi panas dan
gersang, tak berhutan, dan oleh karena itu sedikit binatang liar; negara perdagangan dengan
tanpa jalan atau jalur kereta api, hanya rute karavan, masih tempat kelahiran ras yang untuk
meluas di globe, dan dari agama yang telah menjadi petunjuk hidup pada ribuan manusia yang
tersebar luas selama sekitar abad ke-13 hingga ke-14.
Terkadang istilah Timur Tengah digunakan pada jazirah saja, namun biasanya merujuk pada
daerah yang lebih besar; istilah Arab, bagaimanapun, sering digunakan merujuk hanya pada Arab
Saudi. Di waktu lain istilah Arab bisa berarti seluruh Dunia Arab, terbentang dari Maroko di
barat sampai Oman di timur. arab sebagai tempat awalnya agama islam berkembang.

1.DUBAI
Sejarah singkat DUBAI sebagai negara maju dlm konstruksi dengan waktu cepat.
Pada tahun 1833 sekelompok suku Bani Yas yang dipimpin oleh keluarga Maktoum bermukim di
sekitar muara sungai kecil (creek) di pantai utara semenanjung Arab yang dinamakan Dubai.
Dubai pada awalnya merupakan tempat perdagangan ikan, mutiara dan hasil laut lainnya.
Puluhan tahun kemudian, Dubai berkembang menjadi pelabuhan alami karena teluk dan creek
memudahkan kapal laut membongkar muat barang ke daratan. Pada awal abad ke-20, Dubai
menjelma menjadi pelabuhan laut yang ramai dikunjungi oleh pedagang-pedagang dari India,
Iran, Arab Saudi dan negara disekitar teluk lainnya dengan jenis komoditi yang mulai beragam.
Souk (bahasa Arab yang artinya pasar) mulai menjamur di sepanjang creek terutama di daerah
Deira. Deira adalah wilayah perdagangan sebelah barat creek sedangkan sebelah timur
dinamakan Bur Dubai. Pada tahun 1950 creek mulai dangkal karena tertimbun lumpur akibat
banyaknya kapal laut yang berlabuh. Emir Dubai saat itu yaitu Sheikh Rashid bin Saeed Al
Maktoum memutuskan untuk memperdalam creek untuk memudahkan lalu lintas kapal laut. Saat
itu pekerjaan tersebut adalah sangat berat dan memerlukan biaya yang besar. Namun hasil jerih
payah itu terlihat dari perkembangan Dubai sebagai pelabuhan dagang yang terus mengalami
peningkatan dari tahun ke tahun.
Sewaktu ditemukannya ladang minyak di Dubai pada tahun 1966, pemerintah Dubai
memanfaatkan pendapatan dari penjualan minyak untuk pembangunan infrastruktur.
Pembangunan besar - besaran segera dimulai pada awal tahun 1967 yaitu bangunan sekolah,
rumah sakit, jalan raya, jaringan telekomunikasi modern dan bandar udara internasional yang
dapat menampung semua jenis pesawat. Disamping itu Sheikh Rashid juga memerintahkan untuk
membangun pelabuhan laut di Jebel Ali disamping pelabuhan laut yang sudah ada di Dubai.
Pelabuhan laut Jebel Ali merupakan pelabuhan buatan manusia terbesar di dunia hingga saat ini.
Sadar akan keterbatasan cadangan minyak yang hanya sebesar 4 milyar barel, Sheikh Rashid
telah melihat potensi Dubai untuk menjadi pusat perdagangan internasional di kawasan Timur
Tengah. Kiat pembangunan Dubai adalah kepemimpinan yang transparan, infrastruktur yang

berkulitas tinggi, iklim usaha yang nyaman bagi para ekspatriat, tidak ada pengenaan pajak
pendapatan perorangan dan perusahaan dan tarif bea masuk barang impor yang rendah. Kiat
tersebut ternyata berhasil membawa Dubai menjadi pusat perdagangan dan investasi serta
pariwisata yang paling diminati di kawasan. Letak geografis Dubai menjadi salah satu
keuntungan dalam perkembangannya menjadi hub perdagangan antara Asia dan Afrika serta
Eropa. Sejak tahun 1960, Sheikh Rashid bin Saeed Al Maktoum dan Sheikh Zayed bin Sultan Al
Nahyan (Emir Abu Dhabi) mempunyai cita-cita untuk mendirikan negara federasi emirat-emirat
di sepanjang pantai utara Semenanjung Arab. Impian itu terwujud dengan berdirinya United Arab
Emirates (UAE) pada tahun 1971 yang terdiri dari emirat Abu Dhabi, Dubai, Sharjah, Ajman,
Ras Al Khaimah, Umm Al Quwain dan Fujairah. Sheikh Zayed adalah Presiden pertama
Persatuan Emirat Arab (PEA) dan digantikan oleh anaknya yaitu Sheikh Khalifa bin Zayed Al
Nahyan setelah Sheikh Zayed meninggal dunia pada bulan Nopember 2004. Sheikh Rashid
terpilih sebagai Wakil Presiden dan Perdana Menteri pertama PEA. Dibawah kepempinan Sheikh
Zayed, ekonomi PEA berkembang pesat menjadi salah satu negara kaya di dunia dengan GDP
mencapai US$ 77,5 milyar, GDP percapita US$ 25.000 (2003).
Pemerintahan
Sheikh Rashid wafat pada tahun 1981 dan pimpinan keemiran Dubai digantikan anak sulungnya
yaitu Sheikh Maktoum bin Rashid Al Maktoum. Sheikh Maktoum yang lama bersekolah di
Inggris ini berhasil meneruskan imian bapaknya untuk mewujudkan modernisasi Dubai sebagai
pusat lalu lintas perdagangan terbesar di kawasan Timur Tengah. Selain berkedudukan sebagai
Emir Dubai, Sheikh Maktoum juga menjabat sebagai Perdana Menteri dan Wakil Presiden
Persatuan Emirat Arab (PEA) hingga saat ini.Tidak ada partai politik dan pemilihan umum di
Dubai dan di seluruh keemiran PEA, masing-masing Emir berkuasa atas keemirannya. Kebijakan
yang terkait dengan pemerintah federal hanya di bidang pertahanan, politik luar negeri dan
keuangan. Sistim pemerintahan PEA cukup unik karena merupakan perpaduan dari unsur
tradisional dan modern namun berhasil memacu pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas
politik. Sheikh Maktoum meninggal dunia awal Januari 2006 dan berdasarkan UU
kedudukannya sebagai emir Dubai digantikan oleh Putra Mahkota yaitu Sheikh Mohammad bin
Rashid Al Maktoum yang merupakan adiknya sendiri. Berdasarkan hasil kesapakatan Supreme
Council PEA, Sheikh Mohammad juga diangkat menjadi Wakil Presiden PEA dan Perdana
Menteri PEA. Banyak kalangan terutama bisnis menyambut baik naik tahtanya Sheikh
Mohammad yang selama ini terkenal sebagai arsitek ekonomi Dubai dalam membantu kakaknya
almarhum Sheikh Maktoum sewaktu menjadi emir Dubai.
Semetara itu Presiden PEA Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan yang wafat pada tahun 2004,
berdasarkan kesepakatan Supreme Council mengangkat anak sulung Sheikh Zayed yaitu Sheikh
Khalifa bin Zayed Al Nahyan menjadi Presiden PEA menggantikan ayahnya. Perdana Menteri
mengepalai kabinet dimana porsi kedudukan di kabinet ditentukan oleh banyaknya jumlah
penduduk di masing-masing Emirat. Susunan kabinet dibentuk oleh Perdana Menteri / Wakil
Presiden.

2. mesir
Bidang Pendidikan dan Kebudayaan
Jasa terpenting yang disumbangkan Mesir bagi kemajuan umat Islam adalah hasil kegiatannya
dalam bidang pengetahuan, pendidikan dan kebudayaan. Sejak masa pemerintahan Dinasti
Fatimiyah, Mesir khususnya Cairo, telah menjadi pusat intelektual muslim dan kegiatan ilmiah
dunia Islam. Pendirian Universitas al-Azhar (universitas tertua di dunia) oleh Jauhar al-Katib asSiqilli pada tanggal 7 Ramadhan 361 (22 Juni 972) memainkan peranan yang penting dalam
sejarah peradaban Islam. Pada masa selanjutnya, selama berabad-abad universitas itu menjadi
pusat pendidikan Islam dan tempat pertemuan puluhan ribu mahasiswa muslim yang datang dari
seluruh dunia.
Tumbuhnya Mesir sebagai pusat ilmu keislaman didukung oleh para penguasanya yang
sepanjang sejarah menaruh minat besar terhadap ilmu pengetahuan. Seorang khalifah dari
Dinasti Fatimiyah, al-Hakim (996-1021) mendirikan Darul Hikmah, yakni pusat pengajaran ilmu
kedokteran dan ilmu astronomi. Pada masa inilah muncul Ibnu Yunus (348-399 H./958-1009 M.)
seorang astronom besar dan Ibnu Haitam (354-430 H./965-1039 M.) seorang tokoh fisika dan
optik. Selain itu ia mendirikan Daar al-'Ilm, suatu perpustakaan yang menyediakan jutaan buku
dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan. Pada tahun 1013 al-Hakim membentuk Majelis Ilmu
(Lembaga Seminar) di istananya, tempat berkumpulnya sejumlah ilmuwan untuk mendiskusikan
berbagai cabang ilmu. Kegiatan ilmiah ini ternyata memunculkan sejumlah ilmuwan besar Mesir
yang pikiran dan karya-karyanya berpengaruh ke seluruh dunia Islam.
Pada zaman modern terutama dengan ekspansi Napoleon ke Mesir (1798), umat Islam bangun
dari tidurnya dan menyadari keterbelakangannya. Muhammad Ali (penguasa Mesir tahun 18051849) bertekad untuk mengadakan alih ilmu pengetahuan dan teknologi dari Barat ke dunia
Islam melalui Mesir. Untuk itu ia mengirim mahasiswa untuk belajar ke Perancis. Setelah
kembali ke Mesir, mereka menjadi guru di berbagai universitas, terutama di Universitas alAzhar, tempat ribuan mahasiswa dari berbagai negara Islam menimba ilmu pengetahuan. Dengan
demikian menyebarlah ilmu-ilmu itu ke berbagai daerah Islam.
Selama pemerintahan Kerajaan Ottoman, kebudayaan Islam di Mesir mengalami kemunduran
karena yang berkuasa percaya bahwa menuntut ilmu filsafat, ilmu bumi, ilmu pasti dan ilmuilmu yang bertalian dengan itu dianggap sebagai penyebab kemurtadan. Akan tetapi perubahan
arah kebudayaan dan pendidikan Mesir sebagai pusat ilmu pengetahuan dunia Islam terjadi
ketika Muhammad Abduh (w. 1905) dan kawan-kawannya mendendangkan kebangkitan. Gema
dari gagasan-gagasan tokoh ini dan para muridnya menggetarkan dunia Islam secara
keseluruhan. Muhammad Abduh mengembangkan Universitas al-Azhar baik dari segi fisik
maupun pemikirannya.
Pengaruh lain yang penting bagi kebudayaan dunia Islam adalah pendirian universitasuniversitas di Mesir (1908) sesaat sebelum Perang Dunia I. Universitas-universitas ini tumbuh
dan mempunyai fakultas-fakultas: kedokteran, farmasi, teknik, pertanian, perdagangan, hukum
dan sastra. Bertambahnya keinginan akan pendidikan menyebabkan tumbuhnya universitasuniversitas lain, seperti Universitas Iskandariyah di Iskandariyah dan Universitas 'Ain Syams

(1950) di Cairo. Sampai saat ini masih tercatat berbagai universitas lain, seperti Universitas
Mansyuriyah yang didirikan pada tahun 1972 (sebelumnya cabang Universitas Cairo),
Universitas Tanta yang didirikan pada tahun 1972 (sebelumnnya cabang Universitas
Iskandariyah), Universitas Hilwan, Universitas Assiut yang didirikan pada tahun 1957 serta
Universitas Mania, Universitas Munafia dan Universitas Suez yang didirikan pada tahun 1976.
Disamping itu ada pula Universitas Amerika yang disingkat AUC (The American University in
Cairo) yang didirikan bagi pendidikan orang Mesir dengan tenaga pengajar dari Amerika sejak
tahun 1928.
Demikianlah arti penting Mesir bagi perkembangan Islam dalam bidang pendidikan dan ilmu
pengetahuan, yang pada dasarnya disulut sejak masa pemerintahan Dinasti Fatimiyah, kemudian
dikembangkan pada masa Muhammad Ali dan mencapai puncaknya di masa Muhammad Abduh.
Bias dari revolusi ilmu pengetahuan ini ternyata bukan hanya terasa di Mesir, melainkan juga di
seluruh dunia Islam. Dalam hal ini juga sangat penting peranan para mahasiswa dari seluruh
pelosok dunia Islam yang meneruskan studinya di Universitas al-Azhar dan universitasuniversitas lainnya. Setelah menyelesaikan studi, mereka kembali ke tempat asal untuk
membawa ilmu pengetahuan ke tanah air masing-masing.
Bidang Media Massa dan Buku-Buku Keagamaan
Peranan Mesir dalam pengembangan Islam dalam bidang media massa dan buku-buku
keagamaan sangat penting mengingat percetakan di negeri itu telah mencetak buku-buku agama
yang ditulis para ulama dan pemikir-pemikir terkemuka. Selain itu Mesir juga mempunyai
peranan dalam penerbitan surat kabar atau majalah yang disebarkan ke seluruh dunia Islam yang
berisikan informasi tentang perkembangan Islam dan ilmu pengetahuan. Antara lain, Napoleon
menerbitkan majalah Le Courrier d'Egypte dan La Degade Egyptienne sebagai media publikasi
perkembangan ilmu pengetahuan. Muhammad Ali menerbitkan surat kabar al-Waqaa'ii alMisriyah (peristiwa-peristiwa Mesir).
Bidang Arsitektur
Peranan Mesir juga dapat dilihat dari monumen-monumen peninggalannya yang mengandung
nilai seni yang tinggi, antara lain al-Qashr al-Garb (Istana Barat), al-Qashr asy-Syarq (Istana
Timur), Universitas al-Azhar, tembok yang mengelilingi istana dan pintu-pintu gerbang yang
terkenal dengan nama Bab an-Nasr (Pintu Kemenangan) serta Bab al-Fath (Pintu Pembukaan).
Disamping itu terdapat pula Masjid al-Azhar, Masjid Maqis, Masjid Rasyidah, Masjid Aqmar
dan Masjid Shaleh.
Bidang Ekonomi Perdagangan
Mesir mempunyai peranan yang penting dalam dunia Islam. Peranan ini disebabkan oleh dua
faktor yakni letak geografis yang sangat strategis dan kesuburan lembah Sungai Nil sebagai area
pertanian. Letak Mesir yang strategis berada di pertemuan tiga benua, Afrika, Asia dan Eropa,
menjadikannya pusat perdagangan yang penting sekali serta menjadikannya negeri kaya sejak
masa pemerintahan Dinasti Fatimiyah, Ayubiyah dan zaman sultan-sultan Mamluk. Selama
Mesir di bawah pemerintahan Islam, hasil negeri itu dibawa melalui Terusan Suez dan dari sana
dibawa dengan unta ke tanah Arab. Pada sisi lain, negeri itu dihubungkan oleh kafilah dengan
Afrika utara di sebelah barat dan dengan Suriah dan Irak di sebelah timur. Kapal-kapal yang

melalui Terusan Suez membawa sutera, pala, cengkeh, kulit manis, merica, kemenyan, nila dan
lain-lain dari India, Indonesia dan Yaman. Sampai masa pemerintahan khalifah Fatimiyah ke-8,
al-Mustansir (1036-1094), Terusan Suez menjadi pintu perniagaan tanah Arab dengan negerinegeri Timur. Pada masa selanjutnya jalur perniagaan pindah ke Izhab di pantai Laut Merah yang
letaknya sejajar dengan Jiddah.
Barang-barang dagangan dari India, Indonesia dan negeri-negeri Timur Jauh dibawa melalui
Teluk Persia ke Teluk Aden dan seterusnya melalui Laut Merah sampai ke Izhab. Dari sana
barang dagangan dibawa dengan unta sampai ke Qaus, kemudian melalui Sungai Nil sampai ke
Fustat. Kota Izhab menjadi jalan jemaah haji dan jalan perniagaan sampai perannya digantikan
oleh Aden pada tahun 1359. Kapal-kapal dagang dari negeri-negeri Timur Jauh berlabuh di Aden
dan muatannya dipindahkan dan diteruskan ke Suez dan ke Cairo; dari Cairo diteruskan lagi ke
Iskandariyah melalui terusan yang digali di zaman Sultan Nasir Muhammad bin Qalawun.
Pada masa pemerintahan Bani Ayubiyah, perniagaan Mesir dengan luar negeri semakin maju
karena dengan adanya Perang Salib negeri-negeri Islam timur mempunyai hubungan dagang
dengan Eropa. Sultan-sultan Ayubiyah dan Mamluk berkuasa di Suriah dan menguasai kota-kota
pelabuhan dan jalan-jalan kafilah antara Eropa dan India, Indonesia serta negara-negara lain di
Timur. Saudagar-saudagar dari Genoa dan Venesia mengambil barang-barang perniagaan dari
Iskandariyah, Beirut dan Iskandaronah untuk dibawa ke Italia, dan dari sana ke seluruh benua
Eropa. Demikian juga pada masa pemerintahan raja-raja Mamluk, monopoli perniagaan TimurBarat dikuasai Mesir karena kembalinya Mesir berkuasa atas Bandar Jiddah yang menggantikan
kedudukan Aden sebagai bandar perniagaan Timur. Sebagai jalur perdagangan antara Timur dan
Barat serta antara negeri-negeri Timur dan bangsa-bangsa Arab, disamping karena pertanian
yang demikian baik, Mesir merupakan negara yang sangat kuat. Kekuatan Mesir itu sendiri
merupakan sumbangan yang amat besar bagi perjuangan Islam secara keseluruhan.
Demikianlah Mesir sebagai suatu daerah Islam yang mempunyai peranan yang amat besar bagi
pengembangan Islam baik dalam pengembangan daerah kekuasaan Islam, pengembangan ilmu
pengetahuan bahkan alih ilmu dan teknologi dari Eropa, maupun peran ekonomi dan
perdagangan.

3. jazirah
Negara Arab Saudi meliputi hampir seluruh Jazirah Arab. Kebanyakan penduduk jazirah ini
tinggal di Arab Saudi dan Yaman. Jazirah ini mengandung sejumlah besar minyak bumi dan
merupakan tempat kota suci Islam, Mekkah dan Madinah, keduanya di Arab Saudi. Uni Emirat
Arab dan Qatar merupakan tempat stasiun televisi berbahasa Arab utama seperti Al-Jazeera.

Awal Mula Agama Islam di Jazirah Arab


Sebelum agama Islam berkembang di Arab.
Sebelum agama Islam berkembang di Jazirah Arab, agama Yahudi dan Kristen / telah
berkembang ke Jazirah Arab. Namun, bangsa arab kebanyakan masih menganut agama asli
mereka. Daerah Jazirah Arab dibagi dalam 3 bagian besar, yaitu:
1. Selatan Jazirah Arab
Terdapat kaum Qathaniyun (keturunan Qathan) yang mendirikan kerajaan Saba (kota pusat
perdagangan) dan kerajaan Himyar.
2. Utara Jazirah Arab
a. Hidup kaum Qathaniyun dan Adnaniyun (keturunan Ismail bin Ibrahim).
b. Terdapat Kerajaan Hirah yang berada di bawah perlindungan Persia. Berkembang pada abad ke-3
hingga munculnya islam.
c. Terdapat Kerajaan Ghassan yang berada di bawah perlindungan Romawi. Berkembang pada abad
ke-3 hingga munculnya islam.
3.
a.
b.
c.
d.

Daerah Hijaz
Tidak pernah dijajah oleh Bangsa lain.
Daerah yang sulit dijangkau, tandus dan miskin.
Kota terpenting adalah Mekkah, di Mekkah terdapat Kakbah.
Penguasa yang terkenal adalah Qushai dan Quraisy.
Ciri-ciri Negara Arab sebelum munculnya agama Islam:

1.
2.
3.
4.
5.

Arab merupakan kawasan yang tidak maju.


Keadaan masyarakat sangat kacau.
Kebanyakan orang Arab merupakan penyembah berhala.
Sebagian orang Arab merupakan pengikut agama Kristen dan Yahudi.
Setiap orang berkelakuan semaunya sendiri.
Keributan terjadi dimana-mana.
Zaman zahiliyah.
Masa Awal Perkembangan Islam
Agama Islam lahir dan tumbuh di Jazirah Arab, tepatnya dikota Mekkah. Agama ini
pertama kali diperkenakan oleh Nabi Muhammad SAW, sekitar abad ke-7 M.
Pada awal perkembangannya, agama Islam sangat ditentang oleh masyarakat Mekkah,
terutama oleh pemimpin-pemimpin suku Quraisy. Menurut Ahmad Syalabi, 5 faktor yang
mendukung suku Quraisy menentang seruan islam yaitu:
Mereka tidak dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan.
Nabi Muhammad SAW menyerukan persamaan hak antara bangsawan dan hamba sahaya. Atau
disebut dengan tidak adanya perbudakan.
Para penmimpin Quraisy tidak dapat menerima ajaran tentang kebangkitan kembali dan
pembalasan di akhirat.
Patuh kepada nenek moyang adalah kebiasaan yang berakar pada bangsa Arab.
Pemahat dan penjual patung memandang Islam sebagai penghalang rezeki.

Suku Quraisy
Quraisy berasal dari Bahasa Arab yang artinya adalah suku bangsa Arab
keturunan Ibrahim as. Mereka tinggal dan hidup di Mekkah dan daerah sekitarnya. Quraisy yang
hidup di Mekkah disebut Quraisy Lembah, sementara yang lain tinggal lebih
jauh mengelilingi Mekkah dikenal dengan Quraisy Pinggiran.
Penamaan Quraisy berasal dari Fihr yang merupakan
leluhur Nabi Muhammad SAW, nabi dan rasul utama agama Islam. Dimana Fihr kemudian
menurunkan sampai Qushay bin Kilab.
Garis Keturunan Suku Quraisy:
1. Baidah artinya punah.
Merupakan suku yang pernah tinggal di Jazirah Arab dan telah punah. Sejarah mereka
sedikit sekali yang dapat diketahui, kebanyakan berasal dari Perjanjian Lama dan Al-Quran.
Selain itu dari penggalian-penggalian arkeologis yang ditemukan. Mereka
termasuk Ad, Tsamud, Tasam, Jadis, Imlaq dan lainnya.
2. Qahtani
Menurut dugaan mereka berasal dari keturunan Yarub bin Yasyjub bin Qahtan bin Hud,
sering pula dikenal dengan Arab Qahtan. Mereka kebanyakan tinggal di Yaman dan kemudian
menyebar ke daerah lainnya. Peradaban mereka diketahui cukup tinggi. Dibuktikan dengan
penemuan-penemuan arkeologis yang mengungkapkan cara kehidupan mereka. Keturunan dari
Qahtani ini ada yang menyebar sampai ke Yatsrib, nama kuno untuk Madinah, yaitu Bani
Aus dan Bani Khazraj yang dikenal sebagai Kaum Anshar.
3. Adnani
Mereka diduga berasal dari keturunan Ismail as melalui anaknya Adnan. Ada juga yang
menyebut Arab Adnan. Quraisy termasuk cabang dari ini.
Quraisy menjadi suku terkemuka di Mekkah sejak sebelum kelahiran Muhammad SAW
dan pada dasarnya menguasai kota. Sebelum kelahiran Muhammad SAW, suku ini terbagi
menjadi beberapa klan, masing-masing memiliki tanggung jawab yang berbeda atas
kota Mekkah dan Kabah. Terjadi rivalitas antar klan, dan makin meruncing selama nabi
Muhammad SAW hidup. Beberapa pemimpin klan tidak menyukai klaim nabi Muhammad saw
akan kenabian dan mencoba menghentikannya dengan menekan pemimpin Bani Hasyim saat
itu, Abu Thalib. Banyak pula dari klan tersebut yang menghukum pengikut nabi Muhammad
SAW, seperti melakukan boikot. Hal inilah yang menyebabkan keluarnya perintah hijrah
ke Ethiopia, dan kemudian ke Madinah.
Setelah Penaklukan Kota Makkah pada tahun 630 M, nabi Muhammad SAW memaafkan
orang Quraisy yang sebelumnya menekan dan memusuhinya, kedamaian terjadi. Setelah
meninggalnya nabi Muhammad SAW, rivalitas klan meningkat, terutama siapa yang berhak
menjadi Khalifah, hal yang menyebabkan terjadinya pemisahan Sunni dan Syiah.
Banyak cara yang dilakukan para pemimpin suku Quraisy untuk mencegah dakwah Nabi
Muhammad SAW, yaitu:
Bujuk rayu.
Ancaman pembunuhan.
Fitnah.
Penyiksaan terhadap penduduk yang beragama Islam.

Melihat kekejaman yang dilakukan oleh suku Quraisy, Nabi Muhammad SAW
mengungsikan para sahabatnya keluar dari Mekkah. Mula-mula mereka pergi ke Habsyah
(Etiopia). Habsyah (Etiopia) memiliki seorang raja yang toleransi beragamanya tinggi,
walaupun Raja Majasi ini memeluk agama Kristen, Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya
mendapat perlakuan baik dari Raja Majasi.
Setelah mereka mengungsi ke Habsyah (Etiopia), mereka pindah ke Yatsrib (Madinah).
Atas permintaan sahabatnya, Nabi Muhammad SAW kemudian menyusul hijrah dari Mekkah ke
Yatsrib (Madinah). Di Madinah, Nabi Muhammad SAW dan sahabatnya diterima dengan baik,
karena kedatangan mereka telah dinanti-nantikan.
Madinah merupakan titik tolak perkembangan Islam, agama Islam kemudian menyebar
hingga ke seluruh dunia. Di kota itulah pertama kalinya terbentuk masyarakat Islam sebagai
kekuatan politik, Nabi Muhammad SAW tidak hanya berkedudukan sebagai pemimpin agama
tetapi juga sebagai pemimpin masyarakat. Nama kota Yatsrib kemudian diubah menjadi
Madinatul Munnawwarah (Kota yang bercahaya).Masa Kekhalifahan
Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW pada tahun 632 M, muncullah para khalifah
(wakil pengganti) Rasul Allah. Para khalifah ini hanya menggantikan dalam hal mengatur hidup
kaum Muslimin menurut agama Islam. Masa kekhalifahan Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq
sampai Khalifah Ali bin Abi Thalib biasa disebut dengan Khulafaur Rasyidin (Pengganti
Rasulullah yang bijaksana).
Khalifah yang pernah berkuasa diantaranya, adalah:
1. Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq
Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq merupakan khalifah pertama setelah wafatnya Nabi
Muhammad SAW.
Masa kepempininannya hanya 2 tahun (632-634).
Terjadi perang Riddah (perang yang dilakukan kaum muslimin melawan kemurtadan).
Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq berhasil mengembalikan suku-suku Arab ke jalan Islam dan
membasmi nabi-nabi palsu, seperti Tulaiha.
Khalifah Abu Bakar as-Shiddiq mulai mengumpulkan lembaran surat-surat Al-Quran.
2.
-

Khalifah Umar bin Khattab


Masa kepemimpinannya adalah 10 tahun (634-644).
Melakukan gelombang ekspansi ke luar daerah Arab.
Kekuasaan Islam telah mencakup Jazirah Arab, Palestina, Syria, sebagian besar wilayah
Persia, dan Mesir.
Khalifah Umar bin Khattab mendirikan Baitul Maal, menempa uang, dan menciptakan Tahun
Hijriah.
Khalifah Umar bin Khattab dibunuh oleh seorang budak Persia yang bernama Abu Luluah.
3. Khalifah Usman bin Affan
Khalifah Usman memerintah selama 12 tahun (644-655).
Kitab Al-Quran secara resmi dibukukan.
Beliau membangun bendungan yang menjaga arus banjir dan mengatur pembagian air ke
kota-kota.
Beliau juga membangun jalan-jalan, jembatan, masjid, dan memperluas masjid Nabi
Muhammad di Madinah.
Kekuasaan Islam meluas hingga ke daerah Armenia, Tunisia, Cyprus, Rhodes, sebagian
Persia, Transoxania, dan Tabaristan.

4.
5.

6.

a.
b.
c.
d.

Dalam masa pemerintahannya terjadi ketidakpuasan di kalangan umat Islam.


Beliau dibunuh oleh kaum pemberontak pada tahun 35 H (655)
Khalifah Ali bin Abi Thalib
Masa pemerintahannya hanya 6 tahun.
Pada masa pemerintahannya, Khalifah Ali bin Abi Thalib menghadapi berbagai pergolakan.
Khalifahan Ummayah
Setelah kedudukan khalifah dikuasai oleh keluarga Ummayah (661-750 M).
Pusat kekuasaan negara Islam dipindahkan keluar Jazirah Arab, yaitu ke
Syria(Damaskus).
Pada masa ini, dasar-dasar demokrasi Arab lenyap, karena jabatan khalifah
dipegang secara turun temurun. Hidup khalifah sama dengan hidup raja dengan
kekuasaannya yang mutlak.
Wilayah kekuasaaan negara islam pada masa ini meliputi wilayah yang sangat luas. Ke
sebelah barat sampai ke daerah spanyol dan ke sebelah timur kedaerah Pakistan dan
Asia Tenggara. Perluasan wilayah ini dilakukan oleh :
Musa memimpin tentara islam menyerbu kearah barat menyusuri
daerah Afrika utara s ampai Maroko. Perjalanan ini dilanj utkan oleh
T ar i k d a n berhasil menduduki semenanjung Iberia serta menguasai Spanyol (712 M)
Muhammad Kasim berhasil menduduki daerah lembah sungai Shindu (721 M)
Maslama memimpin tentara Islam menyerang konstatinopel tetapi
t r a p serangan dapat dipukul mundur. Baru ada tahun 1453 M konstatinopel dapat
dikuasai.
Pada tahun 750 M, terjadi perebutan kekuasaan terhadap keluarga Ummayah yang dilakukan
oleh golongan Abbasiyah dalam perebutan kekuasaan itu, hampir s e l u r u h k e l u a r g a
U m m a y a h d i m u s n a h k a n . H a n y a s e o r a n g y a n g b e r h a s i l meloloskan diri,
yaitu Abdur Rachman.
Kekhalifahan Abbasiyah
Pada masa ini pusat kekhalifahan dipinahkan dari Damaskus ke
B a g d a d . Kekhalifahan Abbasiyah (750-1258 M) mengalami perkembangan yang
cukup p e s a t d a n p a d a m a s a p e m e r i n t a h a n H a r u n A l R a s y i d ( 7 8 6 - 8 0 9 M )
m e n c a p a i puncak yang gemilang. Hal ini tak lepas dari :
Bagdad merupakan pelabuhan transito dan perdagangannya maju pesat
Buku-buku filsafat dan ilmu pengetahuan baik dari Yunani maupun dari Persiaditerjemahan
kedalam bahasa dan huruf Arab
Harun Al Rasyid mengadakan persahabatan dengan Karel Agung
(Perancis).Peristiwa ini terjadi berdasarkan situasi politik sebagai berikut :
Bagdad bermusuhan dengan Byzantium dalam memperebutkan Asia kecil
Bagdad bermusuhan dengan keamiran Cordoba dalam memperebutkan daerah
pantai utara Afrika dan juga karena Cordoba tidak mau mengakui kekhalifahan
Bagdad.
Perancis bermusuhan dengan Cordoba dalam memperebutkan daerah
Spanyol Utara, juga bermusuhan dengan Byzantium karena daerah Italia.
Dalam perebutan berikutnya kekhalifahan mengalami kemunduran. Hal
inidisebabkan oleh :

a. Te r j a d i n y a p e r e b u t a n j a b a t a n k h a l i f a h d i a n t a r a k e l u a r g a s e d i r i ,
s e h i n g g a dalam istana terdapat kelompok-kelompok yang saling bertentangan.
b. Pertentangan itu mengakibatkan pemerintahan pusat menjadi lemah, sehinggadaerah-daerah
bagian banyak yang memerdekakan diri
7. Kekhalifahan Cordoba
Abdur Rachman, satu-satunya keturunan kekhalifahan Ummayah
ya ng berhasil men yela matkan diri dari s erangan golongan Abbas i yah
m e n d i r i k a n kekhalifahan Cordoba di Spanyol. Beliau tetap menyebut dirinya Amir dan tidak
mau mengakui kekhalifahan Bagdad. Baru pada masa kekuasaan Abdur Rachman III, C o r d o b a
m e n y a t a k a n d i r i n y a s e b a g a i k h a l i f a h d a n k e d u d u k a n n y a s e i m b a n g dengan
kekhalifahan Bagdad (929 M).
Pada jaman kekhalifahan Cordoba ilmu Pengetahuan dan
k e b u d a y a a n berkembang pesat. Masjid-masjid banyak dibangun istana
d a n p e r p u s t a k a a n didirikan ahli-ahli bangunan, tabib, pengarang, ahli-ahli fikir,
ahli pakaian danahli-ahli kemasyarakatan banyak terdapat di Cordoba.
Kemajuan dalam bidang kebudayaan itu mendorong orang-orang Eropa untuk belajar
di spanyol. Kebudayaan dari timur yang telah tinggi dan juga warisan
k e b u d a y a a n R o m a w i d a n Yun a n i K u n o y a n g t e l a h h i d a n g d a r i E r o p a
B a r a t , diketemukan kembali melalui Islam di spanyol.
Daerah kekuasaan Islam pada perkembangan selanjutnya makin sempit. Akan tetapi,
pikiran-pikiran Islam makin meluas. Apabila mula-mula mempertahankan d a n m e l u a s k a n
pengaruh Islam dengan pedang, tetapi pada waktu-waktu
berikutnya perluasan Islam dilakukan dengan jalan damai yaitu
m e l a l u i perdagangan. Melalui perdagangan inilah Islam masuk ke wilayah Indonesia.
Faktor-faktor yang mendorong cepatnya penyebaran agama Islam di luar Jazirah Arab adalah
sebagai berikut:
1. Islam merupakan agama yang mengajarkan hubungan manusia dengan Tuhan, serta hubungan
manusia dengan manusia lain dalam masyarakat.
2. Islam mengajarkan pentingnya dakwah untuk menyebarluaskan agama Islam.
3. Islam dating dengan sikap simpatik dan toleran, tidak memaksa rakyat untuk mengubah
agamanya untuk memeluk agama Islam.