Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Pijat merupakan satu dari beberapa cara penyembuhan tertua di

dunia yang bebas efek samping. Dokumen bangsa Cina telah mencatat
penggunaannya pada 3.000 tahun lalu. Orang-orang Hindu, Persia dan
Mesir kuno telah pula menerapkan berbagai bentuk pijat untuk berbagai
penyakit ringan. Secara fisik, pijat menurunkan ketegangan otot, spasme
(ketegangan) dan nyeri kronik. Pijat juga mengangkat fungsi imunitas dan
pergerakan sendi. Pijat pun dapat mengurangi masa pemulihan usai
melakukan aktivitas berat, karena pijat membantu pemecahan dan
membatasi

terbentuknya

asam

laktat,

sebuah

produk

sampingan

metabolisme akibat aktivitas otot yang berat.


Kata pijat (massage) sejak zaman kuno hingga saat ini telah dipakai
dalam berbagai bahasa di dunia. Pertama kali pijat (massage) ditemukan
oleh manusia di muka bumi ini sebagai salah satu kegiatan sederhana
yaitu mengelus-ngelus dengan lembut bagian yang dirasa sakit, misalnya
dahi dan bagian tubuh lainnya yang terasa panas. Hal ini dilakukan
sebagai permulaan sikap atau gerakan spontan untuk dapat menghasilkan
efek yang lebih baik.
Sampai saat ini belum ada data yang pasti untuk menerangkan
siapa manusia pertama kali yang menemukan massage, namun dari
keterangan di atas telah terbukti bahwa massagetelah berkembang di
seluruh dunia, antara lain: di Cina, India, dan Mesir, hingga hal tersebut
menjadikan suatu kebudayaan yang tinggi bagi setiap negara. Massage
dipergunakan oleh manusia tidak hanya untuk memelihara kesehatan
tubuh saja, melainkan sebagai salah satu cara untuk mengobati suatu
penyakit.
Nyeri disebabkan oleh rangsangan mekanis, kimiawi atau fisis (kalor,
listrik) dan menimbulkan kerusakan pada jaringan. Nyeri merupakan salah
satu reaksi dari radang, dimana gejala reaksi radang dapat berupa
kemerahan (rubor), pembengkakan (tumor), panas meningkat (calor), dan

nyeri (dolor). Rangsangan tersebut memacu pelepasan zat-zat tertentu


yang disebut mediator nyeri. Mediator yang mengaktivasi reseptor nyeri di
ujung-ujung saraf bebas di kulit, mukosa dan jaringan lain. Lalu
rangsangan tersebut disalurkan ke otak. Dari thalamus (opticus) impuls
kemudian diteruskan ke pusat nyeri di otak besar, dimana impuls
dirasakan sebagai nyeri (Tjay dan Rahardja, 2002).

1.2. Rumusan Masalah


1.2.1. Mengapa terjadi nyeri paha pada pemain tersebut?
1.2.2. Bagaimanakah mekanisme pemijatan dalam terapi nyeri?
1.3. Tujuan Penulisan
1.3.1. Untuk mengetahui sebab-sebab terjadinya nyeri pada
pemain sepak bola.
1.3.2. Untuk mengetahui mekanisme pemijatan dalam terapi
nyeri sehingga dapat menghilangkan rasa nyeri pada otot.
1.4. Manfaat Penulisan
1.4.1. Manfaat Umum
Untuk menambah wawasan tentang efek pemijatan yang
biasa dilakukan ketika otot nyeri sehingga nyeri mereda.
1.4.2. Manfaat Khusus
Makalah

yang

pengetahuan

dibuat

untuk

penulis

pembaca,

dapat

khususnya

menambah
mahasiswa

kedokteran tentang efek yang ditimbulkan pemijatan pada


otot yang nyeri setelah digunakan untuk kontraksi berat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Konsep nyeri
2.1.1 Definisi Nyeri
Nyeri adalah perasaan tidak nyaman dan sangat individual yang
tidak dapat dirasakan atau dibagi dengan orang lain. Setiap individu akan
merasakan reaksi dan persepsi yang berbeda. Nyeri menyangkut dua
aspek yaitu psikologis dan fisiologis yang keduanya dipengaruhi faktor
faktor

seperti

budaya,

usia,

lingkungan

dan

sistem

pendukung,

pengalaman masa lalu, kecemasan dan stress serta efek plasebo (Potter,
2005; Smeltzer dan Barre 2002).
Adapun definisi menurut IASP, 1979 (Intenational Association for
Study of Pain) nyeri adalah sensori subyektif dan emosional yang tidak
menyenangkan yang dikaitkan dengan kerusakan jaringan aktual dan
potensial atau menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan (Tamsuri,
2007). Sedangkan menurut Jamie (2006), nyeri merupakan segala sesuatu
yang dikatakan seseorang dan dirasakannya berhubungan dengan rasa
tidak nyaman.
Berdasarkan

dari

ketiga

definisi

yang

terdapat

diatas

dapat

disimpulkan bahwa nyeri adalah perasaan yang tidak nyaman yang


dirasakan oleh seseorang dan bersifat individual yang berkaitan dengan
kerusakan jaringan baik aktual dan potensial yang menyangkut dua aspek
yaitu aspek psikologis dan aspek fisiologis.
2.1.2. Teori Pengontrolan Nyeri (Gate control theory)
Terdapat berbagai teori yang berusaha menggambarkan bagaimana
nosireseptor dapat menghasilkan rangsang nyeri. Sampai saat ini dikenal
berbagai teori yang mencoba menjelaskan bagaimana nyeri dapat timbul,
namun teori Gate control theory dianggap paling relevan (Tamsuri, 2007).

Teori gate control dari Melzack dan Wall (1965) menjelaskan bahwa
impuls nyeri diatur oleh mekanisme pertahanan di sepanjang sistem saraf
pusat. Keseimbangan aktivitas dari neuron sensori dan serabut kontrol
desenden dari otak mengatur proses pertahanan. Neuron delta-A dan C
melepaskan substansi C melepaskan substansi P untuk mentranmisi
impuls

melalui

mekanisme

pertahanan.

Selain

itu

terdapat

mekanoreseptor, neuron beta-A yang lebih tebal, yang lebih cepat yang
melepaskan

neurotransmiter

penghambat.

Apabila

masukan

yang

dominan berasal dari serabut beta-A, maka akan menutup mekanisme


pertahanan. Mekanisme penutupan ini dapat terlihat saat seorang perawat
menggosok punggung klien dengan lembut. Pesan yang dihasilkan akan
menstimulasi mechanoreseptor, apabila masukan yang dominan berasal
dari serabut delta A dan serabut C, maka akan membuka pertahanan
tersebut dan klien mempersepsikan sensasi nyeri. Bahkan jika impuls
nyeri dihantarkan ke otak, terdapat pusat kortek yang lebih tinggi di otak
yang memodifikasi nyeri. Alur saraf desenden melepaskan opiat endogen,
seperti endorfin dan dinorfin, pembunuh nyeri alami yang berasal dari
tubuh. Neuromedulator ini menutup mekanisme pertahanan dengan
menghambat pelepasan substansi P. Tehnik distraksi, musik, konseling dan
pemberian plasebo merupakan upaya untuk melepaskan endorfin (Potter
dan Perry, 2005).
2. 1.3. Faktor Respon Nyeri
Menurut Smeltzer & Barre (2004). Faktor yang mempengaruhi
respon terhadap nyeri usia, jenis kelamin, budaya, perhatian.
a. Usia
Batasan usia menurut DepKes RI (2009) yaitu anak-anak mulai
usia 0-12 tahun, remaja usia 13-18 tahun, dewasa usia 19-59 tahun,
lansia usia lebih dari 60 tahun. Usia mempunyai peranan yang
penting dalam mempersepsikan dan mengekspresikan rasa nyeri.
Pasien dewasa memiliki respon yang berbeda terhadap nyeri
dibandingkan pada lansia. Nyeri dianggap sebagai kondisi yang
alami dari proses penuaan. Cara menafsirkan nyeri ada dua.
Pertama, rasa sakit adalah normal dari proses penuaan. Kedua

sebagai

tanda

penuaan.

Usia

sebagai

faktor

penting

dalam

pemberian obat. Perubahan Metabolik pada orang yang lebih tua


mempengaruhi respon terhadap analgesik opioid.
Banyak penelitian telah dilakukan untuk mengetahui pengaruh
usia terhadap persepsi nyeri dan hasilnya sudah tidak konsisten.
Washington, Gibson dan Helme (2000) menemukan bahwa orang tua
membutuhkan

intensitas

lebih

tinggi

dari

rangsangan

nyeri

dibandingkan orang usia muda. Menurut Edwards & Fillingham


(2000) menyatakan bahwa tidak ada perbedaan persepsi nyeri
antara orang muda dengan orang tua, sedangkan menurut Li,
Green-wald dan Gennis (2001) menemukan bahwa nyeri pada lansia
pasien merupakan bagian dari proses penuaan. Pasien usia lanjut
melaporkan nyeri kurang signifikan dibandingkan pasien yang lebih
muda.
b. Jenis kelamin
Respon nyeri di pengaruhi oleh jenis kelamin. Logan dan Rose
(2004) telah melakukan penelitian terhadap sampel 100 pasien
untuk mengetahui perbedaan respon nyeri antara laki-laki dan
perempuan. Hasilnya menunjukan bahwa ada perbedaan antara lakilaki dan perempuan dalam merespon nyeri yaitu perempuan
mempunyai respon nyeri lebih baik dari pada laki-laki.
c. Budaya
Orang belajar dari budayanya, bagaimana seharusnya mereka
berespon terhadap nyeri misalnya seperti suatu daerah menganut
kepercayaan bahwa nyeri adalah akibat yang harus diterima karena
mereka melakukan kesalahan jadi mereka tidak mengeluh jika ada
nyeri. Suza (2003), menemukan bahwa orang Jawa dan Batak
mempunyai respon yang berbeda terhadap nyeri. Dia menemukan
bahwa pasien Jawa mencoba untuk mengabaikan rasa sakit dan
hanya diam, menunjukkan sikap tabah, dan mencoba mengalihkan
rasa sakit melalui kegiatan keagamaan. Ini berarti bahwa pasien
Jawa memiliki kemampuan untuk mengelola nya atau rasa sakitnya.
Di sisi lain, pasien Batak merespon nyeri dengan berteriak,

menangis, atau marah dalam rangka untuk mendapatkan perhatian


dari orang lain, sehingga menunjukkan ekspresif. Hasil penelitian ini
menunjukkan

bahwa

pasien

dengan

budaya

yang

berbeda

dinyatakan dalam cara yang berbeda yang mempengaruhi persepsi


nyeri.
2.1.4. Fisiologi Nyeri
Fisiologi nyeri terdiri atas 3 fase, yaitu resepsi, persepsi dan reaksi
(Potter & Perry, 2005). Stimulus penghasil nyeri mengirimkan impuls
melalui serabut saraf perifer. Serabut nyeri memasuki medula spinalis dan
menjalani salah satu dari beberapa rute saraf dan akhirnya sampai di
dalam masa berwarna abu-abu di medula spinalis. Pesan nyeri dapat
berinteraksi dengan sel-sel inhibitor, mencegah stimulus nyeri sehingga
tidak mencapai otak atau ditransmisi tanpa hambatan ke korteks serebral,
maka otak menginterpretasi kualitas nyeri dan memproses informasi
tentang

pengalaman

dan

pengetahuan

yang

lalu

serta

asosiasi

kebudayaan dalam upaya mempersepsikan nyeri (McNair, 1990 dalam


Potter & Perry, 2005).
1. Resepsi
Nyeri terjadi karena ada bagian/organ yang menerima stimulus nyeri
tersebut, yaitu reseptor nyeri (nosiseptor). Nosiseptor merupakan ujungujung saraf yang bebas, tidak bermielin atau sedikit bermieln dari neuron
aferen. Nosiseptor tersebar luas pada kulit dan mukosa dan terdapat pada
struktur-struktur yang lebih dalam seperti pada visera, persendian, dinding
arteri, hati dan kandung empedu (Kozier, 2004).
Nosiseptor memberi respon terhadap stimuli yang membahayakan
seperti stimuli kimiawi, thermal, listrik atau mekanis. Spasme otot
menimbulkan nyeri karena menekan pembuluh darah yang menjadi
anoksia. Pembengkakan jaringan menjadi nyeri akibat tekanan (stimulus
mekanis) kepada nosiseptor yang menghubungkan jaringan (Kozier, 2004).
Impuls saraf, yang dihasilkan oleh stimulus nyeri, menyebar
disepanjang saraf perifer dan mengkonduksi stimulus nyeri: serabut ADelta bermielin dan cepat dan serabut C yang tidak bermielinasi dan
berukuran sangat kecil serta lambat. Serabut A mengirim sensasi yang

tajam, terlokalisasi dan jelas yang melokalisasi sumber nyeri dan


mendeteksi intensitas nyeri (Jones & Cory, 1990 dalam Potter & Perry,
2005). Serabut C menyampaikan impuls yang terlokalisasi buruk, viseral
dan terus menerus (Puntillo, 1988 dalam Potter & Perry, 2005).
Transmisi stimulus nyeri berlanjut di sepanjang serabut saraf aferen
dan berakhir di bagian kornu dorsalis medula spinalis. Di dalam kornu
dorsalis,

neurotransmiter

seperti

substansi

dilepaskan,

sehingga

menyebabkan suatu transmisi sinapsis dari saraf perifer (sensori) ke saraf


traktus spinotalamus (Paice, 1991 dalam Potter & Perry, 2005), yang
memungkinkan impuls nyeri ditransmisikan lebih jauh ke dalam sistem
saraf pusat. Di traktus ini juga terdapat serabut-serabut saraf yang
berakhir di otak tengah, yang menstimulasi daerah tersebut untuk
mengirim stimulus kembali ke bawah kornu dorsalis di medula spinalis
(Paice, 1991 dalam Potter & Perry, 2005).
Setelah

impuls

nyeri

naik

ke

medula

spinalis,

informasi

ditransmisikan dengan cepat ke otak, termasuk pembentukan retikular,


sistem limbik, talamus, dan korteks sensori dan korteks asosiasi. Seiring
dengan transmisi stimulus nyeri, tubuh mampu menyesuaikan diri atau
memvariasikan

resepsi

nyeri.

Terdapat

serabut

saraf

di

traktus

spinotalamus yang berakhir di otak tengah, menstimulasi daerah tersebut


untuk mengirim stimulus kembali ke bawah kornu dorsalis di medula
spinalis. Serabut ini disebut sistem nyeri desenden, yang bekerja dengan
melepaskan neuroregulator yang menghambat transmisi stimulus nyeri
(Paice, 1991 dalam Potter & Perry, 2005)
Impuls nyeri kemudian ditransmisikan dengan cepat ke pusat yang
lebih tinggi di otak, talamus dan otak tengah. Dari talamus, serabut
mentransmisikan pesan nyeri ke berbagai area otak, termasuk korteks
sensori dan korteks asosiasi (di kedua lobus parietalis), lobus frontalis dan
sistem limbik (Paice, 1991 dalam Potter & Perry, 2005). Di dalam sistem
limbik diyakini terdapat sel-sel yang mengontrol emosi, khususnya untuk
ansietas.

Dengan

demikian,

sistem

limbik

berperan

aktif

memproses reaksi emosi terhadap nyeri (Potter & Perry, 2005).


2. Persepsi

dalam

Persepsi merupakan titik kesadaran seseorang terhadap nyeri.


Stimulus nyeri ditransmisikan ke talamus dan otak tengah. Dari talamus,
serabut mentransmisikan pesan nyeri ke berbagai area otak (Paice, 1991
dalam Potter & Pery 2005). Setelah transmisi saraf berakhir di dalam pusat
otak yang lebih tinggi, maka individu akan mempersepsikan sensasi nyeri
dan terjadilah reaksi yang kompleks. Faktor-faktor psikologis dan kognitif
berinteraksi dengan faktor-faktor neurofisiologis dalam mempersepsikan
nyeri. Meinhart dan McCaffery (1983) menjelaskan 3 sistem interaksi
persepsi nyeri sebagai sensori-diskriminatif, motivasi-afektif dan kognitifevaluatif (Potter & Perry, 2005). Persepsi menyadarkan individu dan
mengartikan nyeri itu sehingga kemudian individu dapat bereaksi.
Penjelasannya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
N
o
1.

Sistem Interaksi Persepsi Nyeri


Sensori-Diskriminatif
a. Transmisi nyeri terjadi antara talamus dan korteks sensori.
b. Seorang individu mempersepsikan
lokasi, keparahan dan karakter nyeri.
c. Faktor-faktor yang menurunkan tingkat kesadaran (mis. Analgesik,
anestetik, penyakit serebral) menurunkan persepsi nyeri.
d. Faktor-faktor yang meningkatkan kesadaran terhadap stimulus

2.

(mis. Ansietas, gangguan tidur) meningkatkan persepsi nyeri.


Motifasi-Afektif
a. Interaksi antara pembentukan sistem retikular dan sistem limbik
menghasilkan persepsi nyeri.
b. Pembentukan retikular menghasilkan respons pertahanan,
menyebabkan individu menginterupsi atau menghindari stimulus
nyeri.
c. Sistem limbik mengontrol respon emosi dan kemampuan yaitu
koping nyeri.

2.1.5. Management Nyeri

Management nyeri bisa dilakukan dengan pharmakologic dan non


pharmakologic, terapi pharmakologic untuk mengatasi nyeri diberikan
olehdokter melalui intra vena atau rute epidural (Smeltzer dan Bare,
2004).
a. Management nyeri dengan pharmakologic.
Management pharmakologic untuk mengatasi nyeri di ruang
ICU adalah Opioid, Non opioid, dan adjuvant (anti convulsan, anti
depresan, dan obat bius lokal). Analgesik golongan opiod yaitu
morfin, fentanil,kodein, efek samping analgesik opoid adalah depresi
pernafasan, hipotensi, retensi urin, penurunan cardiac output,
pusing mual dan bahkan mengancam nyawa pasien. Golongan
analgesik non opiod yang dipakai untuk mengatasi nyeri di ruang
ICU adalah

Acetaminophen,Ketorolac dan Adjuvant

(Pasero &

McCaffery dalam Urden, 2008). Penjelasan obat-obat yang biasa di


pakai untuk mengatasi nyeri di ruang ICU adalah sebagai berikut;
1) Morfin
Morfin merupakan analgesik opiod yang sering digunakan
untuk menyatasi nyeri di ruang ICU, efek samping dari morfin adalah
vas dilatasi pembuluh darah sehingga bermanfaat untuk mengurangi
beban kerja miokard dan mempumyai efek untuk mengatasi cemas
akibat dari vasodilatasi pembuluh darah akan mengakibatkan
hipotensi efek samping lain dari morfin adalah depresi pernafasan
karena

morfin

mengurangi

kerja

kemosensitif

central

di

medulaoblongata maka saat pemberin morfin harus diawasi secara


terus menerus. Efek samping morfin sangat bahaya bahkan dapat
menyebabkan kematian (Pasero & McCaffery dalam Urden, 2008).
2) Fentanil
Fentanil merupakan obat pilihan jika terjadi alergi terhadap
morfin fentanil larut dalam lemak dan memiliki kerja lebih cepat dari
pada morfin dalam pemberianya harus diawasi kondisi tanda-tanda
vital efek samping dari fentanil dapat menyebabkan bradikardi (Liu
& Gropper, 2003). Satu ampul fentanil 2 ml berisi 0,05 mg/ml ,
fentanil mempunyai efek analgesik 80 kali lebih kuat daripada

10

morfin daya kerja sampai dengan 3 jam, nilai puncaknya 3 sampai


30 menit setelah 30 menit dari pemberian efek analgesik nya
berkurang dan hilang 3 jam setelah pemberian fentanil (Tjay &
Raharja, 2007).
3) Kodein
Menurut

Mc

Caffery

&

Passero

(1999,

dalam

Chanif,

2012)kodein saat in jarang diunakan untuk mengatasi nyeri di ruang


ICU, kodein mempunyai efek analgesik untuk nyeri ringan sampai
sedang

dalampemberiannya

harus

di

kombinasikan

dengan

analgesik non opiod (Acetaminophen), Kodein dimetabolisme dalam


hati Acetaminophen. Acetaminophen merupakan analgesik yang
digunakan untukmengatasi nyeri ringan sampai sedang, kerja dari
Acetaminophen

menghambat

sintesis

dari

prostaglandin

neurotransmiter di susunansaraf pusat (Lehne, 2007).


b. Management nyeri non pharmakologic
Dalam

rangka

mengembangkan

management

nyeri

non

pharmakologic yang efektif dibidang keperawatan pada pasien yang


terpasang ventilator mekanik maka perawat perlu mengetahui jenisjenis management nyeri non pharmakologic yang bisa dilakukan
oleh seorang perawat.
Management nyeri nonpharmakologic yang dapat digunakan
untuk mengatasi nyeri adalah musik therapy , relaksasi, hypnosis
therapy, distraksi therapy, terapibermain, terapi aktivitas, akupuntur
therapy, kompres dan pijat.
Menurut

Pellino,

pharmakologic

dapat

dkk

(2005)

digunakan

Management
untuk

nyeri

kombinasi

non

dengan

pharmakologic dalam mengatasi nyeri hasil penelitian menunjukan


bahwa kombinas pharmakologic dan non pharmakologic mempunyai
efek lebih baik daripada hanya mengunakan analgesik opiod saja.
Management nyeri non pharmakologic yang dapat digunakan untuk
mengatasi nyeri padapasien yang terpasang ventilator mekanik di
ruang ICU adalah relaksasi, terapi musik, terapi sentuhan, terapi
pijat (Pellino dkk, 2005).

11

1). Relaksasi
Menurut Houston & Jesurum (dalam Chanif, 2011). Relaksasi
merupakan management nyeri non pharmakologic yang mempunyai
efek

sangat

menyebabkan

baik

untuk

penuruan

mengatasi

hormon

nyeri.

adrenalin

Relaksasi

dengan

akan

penurunan

hormon adrenalin akan menyebabkan rasa tenang, rasa tenang akan


menyebabkan aktifitas saraf simpatik menurun sehingga akan
menyebabkan penurunan nyeri. Relaksasi juga akan menyebabkan
kondisi rilek pada otot sehingga menyebabkan konsumsi oksigen
dalam otot menjadi sedikit dengan demikian akan menurunkan
frekwensi nadi dan tekanan darah, penurunan frekwensi nadi dan
tekanan darah akan menyebabkan penurunan nyeri (Biley, 2000).
Menurut penelitian Houston dan Jesurum (dalam Chanif, 2011)
penggunaan tehnik relaksasi (The quick relaxation technique /QRT)
dan kombinasi farmakologis yang dilakukan pada 24 pasien yang
berumur 70 tahun dimana obyek penelitian sedang menjalani bedah
jantung bypass di ruang ICU, hasil penelitian ini menunjukan
setengah dari sampel yang diteliti merasakan nyeri hilang dengan
cepat dari pada kelompok yang tidak diberi relaksasi.
2). Terapi Musik (perangsangan auditori murrotal)
Terapi musik merupakan bagian dari tehnik relaksasi yang
dapat digunakan di ruang ICU yang mempunai efek menenangkan
(Biley, 2000). Menurut Oken (2004) musik dapat memiliki efek
terapeutik pada pikiran dan tubuh manusia. Efek suara dapat
mempengaruhi keseluruhan fisiologi tubuh pada basis aktivasi
korteks

sensori

dengan

aktivasi

sekunder

lebih

dalam

pada

neokorteks dan beruntun ke dalam sistem limbik, hipotalamus dan


sistem saraf otonom. Saraf kranial kedelapan dan kesepuluh
membawa impuls suara melalui telinga.
Dari sini, saraf vagus, yang membantu regulasi kecepatan
denyut jantung, respirasi, dan bicara, membawa impuls sensorik
motorik ke tenggorokan, laring, jantung, dan diafragma. Para ahli
terapi suara menyatakan saraf vagus dan sistem limbik (bagian otak

12

yang bertanggung jawab untuk emosi) merupakan penghubung


antara telinga, otak, dan sistem saraf otonom yang menjelaskan
bagaimana suara bekerja dalam menyembuhkan gangguan fisik dan
emosional (Oken, 2004). Perangsangan auditori murrotal mempunyai
efek distraksi yang meningkatkan pembentukan endorphin dalam
sistem kontrol desenden dan membuat relaksasi otot. Dapat juga
digunakan dasar teori Opiate endogenous, dimana reseptor opiate
yang berada pada otak dan spinal cord menentukan dimana sistem
saraf pusat mengistirahatkan substansi morfin yang dinamakan
endorphin dan enkephalin bila nyeri diterima. Opiate endogen ini
dapat dirangsang pengeluaranya oleh stimulasi rangsangan. Opiate
reseptor ini berada pada ujung saraf sensori perifer (Monsdragon,
2004).
3). Terapi sentuhan
Terapi

sentuhan

merupakan

salah

satu

metode

non

pharmacologic ang dilakukan untuk mengurangi nyeri dasar teori ini


adalah teori gate control yang oleh Melzack dan Wall (1965) teori
inimenjelaskan bahwa ada dua macam serabut saraf yaitu serabut
sarafberdiameter

kecil

dan

serabut

saraf

berdiameter

besar

yangmempunyai fungsi yang berbeda-beda. Impuls rasa sakit yang


dibawaoleh saraf berdiameter kecil menyebabkan gate control di
spinal cordmembuka dan impuls diteruskan ke korteks serebral
sehingga akanmenimbulkan rasa sakit. Tetapi impuls rasa sakit ini
dapat diblokyaitu dengan memberikan rangsangan pada saraf
berdiameter besar yang menyebabkan gate control akan tertutup
dan rangsangan sakit tidak dapat diteruskan ke korteks serebral.
Pada prinsipnya rangsangan berupa usapan pada saraf berdiameter
besar yang banyak pada kulit harus dilakukan awal rasa sakit atau
sebelum impuls rasa sakit yang dibawa oleh saraf berdiameter kecil
mencapai korteks serebral (Potter dan Perry, 2005).
4). Terapi Pijat

13

Pijat merupakan tehnik managemen non pharmakologic untuk


mengurangi nyeri dan dapat menyebabkan pasien rilek dan pasien
dapat memenuhi kebutuhan istirahat tidur. Ruang ICU dianggap
penyebab ketidaknyamanan pasien baik fisik dan psikis.
2.2 Konsep Pemijatan (Massage)
2.2.1. Definisi Masase
Kata masase berasal dari bahasa Arab yaitu mash yang
artinya pijatan atau tekanan yang lunak. Adapula yang berpendapat
bahwa kata massage berasal dari bahasa Yunani kuno masshesch
yang artinya rabaan atau sentuhan. Tetapi sebagian besar ahli
berpendapat bahwa asal mula perkataan massage berasal dari
bahasa Yunani massein yang berarti pijat. Sedangkan Mashoed
(1979:3) menjelaskan bahwa kata masase berasal dari bahasa Arab
mass yang berarti menekan, dengan imbuhan age dari bahasa
prancis.

Mungkin

pula

Yahudi maschesch yang

kata massage diambil

berarti

meraba. Jadi

dapat

dari

kata

disimpulkan

bahwa kata masase berasal dari kata mash yang berarti menekan,
atau dapat pula berarti diambil dari kata Yahudi maschesch yang
berarti meraba.
Menurut Ruhito (2009) Pijat adalah cara pengobatan penyakit
melalui titik pusat saraf yang bersangkutan dengan organ tubuh
tertentu, bertujuan untuk memperlancar peredaran darah. Bila ada
bagian tubuh yang sakit pada titik refleksinya akan terasa kristalkristal yang dapat menggangu sirkulasi darah dan menyebabkan
penyumbatan. Dengan pemijatan akan timbul aliran listrik didaerah
refleksi dan juga timbul energi untuk mengembalikan tenaga atau
kekuatan penderita. Daerah refleksi adalah titik pusat urat saraf.
Setiap titik itu bersangkutan dengan organ tubuh tertentu.
2.2.2. Manfaat Pijat
1) Meningkatkan fungsi kulit
Peredaran dalam tubuh yang meningkat akan membantu
proses untuk menghasilkan kelenjar minyak yang akan lebih

14

efektif sehingga membuang zat yang tidak berguna. Lapisan


epidermis yang paling luar akan larut sehingga kondisi kulit
akan lebih baik.
2) Meningkatkan peredaran darah
Meningkatnya pereedaran darah yang ditimbulkan gerak
pengurutan

akan

menimbulkan

nutrisi

sehingga

dapat

memberi makanan pada sel-sel. Darah membawa zat yang


dibutuhkan contohnya oksigen, hormon, antibiotik dan zat
makanan lainnya. Disamping itu, darah juga mengangkut
kotoran yang ada untuk dibuang. Oleh karenanya organ yang
sakit membutuhkan peredaran darah yang lancer untuk
membantu menyembuhkan penyakitnya. Apabila peredaran
darah

tidak

lancar

maka

organ

tubuh

akan

terhambat

mendapatkan makanan dan bahan kotoran terlambat dibuang.


Kotoran itu akan mengendap di saluran darah sehingga fungsi
organ terrganggu dan terjadilah penyakit.
3) Melarutkan lemak
Gerakan pengurutan yang sifatnya menekan seperti : memijat,
meremas dapat membantu melarutkan lemak sehingga terjadi
pembakaran tubuh.
4) Meningkatkan fungsi jaringan otot
Meningkatnya sirkulasi peredaran darah dapat meningkatkan
nutrisi ke dalam jaringan otot sehingga kekenyalan dan
elastisitas akan lebih bertahan
5) Meningkatkan fungsi jaringan saraf
Gerakan vibrace dan friction dapat merangsang fungsi saraf
diseluruh tubuh.
6) Sistem getah bening
Luka akibat pukulan akan menyebabkan pembengkakan yang
masuk

ke

dalam

sirkulasi

getah

bening.

Pijat

dapat

mengosongkan saluran getah bening dan menyembuhkan


bengkak tersebut. Jika cairan yang membuat bengkak tidak
disingkirkan, maka akan mengeras sehingga tidak dapat
melewati saluran getah bening. Akibatnya gumpalan cairan
yang

mengeras

tersebut

akan

menyumpal

di

sekeliling

jaringan: otot, tulang, urat, ikatan sendi tulang (ligament) dan


kemudian terbentuk pelekatan (adhesion).

15

7) Sistem Kandung Kemih: Pijat di bagian punggung dan perut


akan

meningkatkan

pembuangan

produk

aktivitas
sisa

ginjal

metabolisme

yang

mendorong

dan

mengurangi

penumpukkan cairan.
8) Sistem Reproduksi: Sistem reproduksi juga dapat ditingkatkan.
Pijat pada bagian perut dan punggung dapat membantu
meredakan masalah haid, seperti rasa sakit, pra menstruasi,
haid tidak teratur, dan lain-lain.
Dengan pemijatan ini stres, nyeri, dan ketegangan bisa diusir.
Kekuatan

dan

kelenturan

pikiran,

tubuh,

dan

emosi

bisa

ditingkatkan. Tidur bisa lebih berkualitas. Restrukturisasi tulang,


otot, dan organ dapat dibantu. Cedera baru dan lama bisa
disembuhkan. Konsentrasi dan ingatan dapat ditingkatkan. Bahkan,
rasa percaya diri dan harmoni bisa disegarkan. Banyak sekali
manfaat pijat atau massage untuk tubuh, jadi pada intinya jika
dalam jangka pendek badan sehat, secara otomatis untuk jangka
panjang kesehatan juga baik.
Menurut

Monsdragon

(2004)

mekanisme

pijat

dapat

menurunkan nyeri adalah serabut nyeri membawa stimulasi nyeri ke


otak perjalanan sensasi nyeri yang dibawa oleh otak lebih kecil dari
pada serabut sentuhan yang luas. Ketika sentuhan dan nyeri
dirangsang bersama, sensasi sentuhan berjalan ke otak menutup
pintu gerbang dalam otak. Dengan adanya pijatan yang mempunyai
efek distraksi juga dapat meningkatkan pembentukan endorphin
dalam sistem kontrol desenden dan membuat relaksasi otot. Dapat
juga digunakan dasar teori Opiate endogenous, dimana reseptor
opiate yang berada pada otak dan spinal cord menentukan dimana
sistem

saraf

pusat

mengistirahatkan

substansi

morfin

yang

dinamakan endorphin dan enkephalin bila nyeri diterima. Opiate


endogen ini dapat dirangsang pengeluaranya oleh stimulasi kulit
melalui pijatan. Opiate reseptor ini berada pada ujung saraf sensori
perifer. Efek terapi pijat telah dilakukan penelitian oleh Chanif (2012)
pasien yang mengalami nyeri post laparotomi di RS. Dr. Karyadi
Semarang dalam penelitian tersebut diketahui bahwa setelah 5 jam

16

pemberian obat analgesik ketorolac pasien mengalami nyeri dengan


intervensi pemberian pijat kaki pada pasien post laparotomi hasilnya
menunjukan bahwa pijat kaki dapat mengurangi nyeri.

BAB III
PEMBAHASAN
3.1 Efek Pemijatan Terhadap Nyeri
Serabut nyeri membran stimulasi nyeri
Otak
Sentuhan dan nyeri dirangsang
bersama menutup pintu (sistem)

Ujung saraf sensory perifer


(teori opiate endogenous)

gerbang di otak, dapat ditemukan pada


sel gelatinosa substnsi di dalam
kornudorsalis pada medulla spinais,
thalamus, sistem limbik. *

Reseptor opiate pada otak dan spinal


cord

17

dirangsang
Stimulasi kulit melalui pijatan
Peningkatan
pembentukan
endorphin dalam
sistem kontrol
descenden

Sistem saraf pusat mengistirahatkan


substansi morfin yang dinamakan
endorphin dan enkephalin
Nyeri diterima

Efek distraksi

Relaksasi
otot

*Transmisi impuls nyeri melalui pintu gerbang sumsum belakang


dipengaruhi oleh :
Aktivitas serabut sensori : gerbang akan terbuka dengan adanya
perangsangan serabut A delta dan C yang melepaskan substansi P untuk
mentransmisi impuls melalui mekanisme gerbang-> sinyal nyeri bisa
diblok dengan stimulasi serabut A beta-> mengantarkan impuls ke sistem
saraf pudat jauh lebih cepat dari serabut A delta atau serabut C->
serabut A beta berespon terhadap massage ringan pada kulit pergerakan
dan stinulasi listrik->ketiga serabut ini membuat otak tetap sibuk
sehingga mencegah untuk terlalu terganggu dengan impuls yang datang
dari sumber nyeri. Serabut ini banyak terdapat di kulit sehingga stimulasi
kulit dapat menurunkan persepsi nyeri. Apabila masukan yang dominan

18

dari serabut A beta, maka gerbang akan menutup ->terlihat saat pasien
di pijat dengan lembut.

Efek massage terhadap jaringan bersifat :


A. Efek mekanis :
- Peregangan
massage dapat meregangkan jaringan

yang

tidak

dapat

meregang dalam metode biasa. Kumpulan serat dapat teregang


secara memanjang serta menyamping. Massage juga dapat
meregang selubung atau fisia yang mengelilingi otot, sehingga
melepaskan ketegangan.
-Peningkatan permeabilitas jaringan
Massage juga menyebabkan pori-pori di membran jaringan
terbuka, memungkinkan cairan dan nutrisi untuk melewatinya. Ini
membantu menghilangkan produk-produk limbah seperti asam
laktat dan mendorong otot untuk mengambil oksigen dan nutrisi
yang membantu jaringan cepat pulih.
B. Efek reflektoris: massage menimbulkan pacuan saraf, peredaran
darah yang menimbulkan proses yang vasokontriksi yang diikuti
vasodilatasi lokal sehingga memperlancar peredarah darah. Selain
itu, saraf motorik yang terangsang akan menimbulkan tonus otot.
C. Efek kimia : massage menyebabkan terbebasnya histamin yang
memberi efek vasodilatasi epmbuluh darah
D. Efek fisiologis: membantu mengurangi rasa sakit. Relaksasi otot,
E. Efek psikologis: mengurangi stress karena otot dan syaraf menjadi
relaksasi, serta merangsang rasa senang dan nyaman.
F. Efek fisik dari massage:
- Menguraikan jaringan parut
Jaringan parut merupakanhasil dari cedera atau

trauma

sebelumnya dan dapat mempengarugi otot, tendon, dan ligamen.


Hal ini mengakibatkan jaringan menjadi rentan terhadap cedera
-

dan rasa sakit.


Meningkatkan elastisitas jaringan
Saat dilakukan pelatihan fisik

yang

berlebihan

dapat

menyebabkan jaringan menjadi keras dan tidak elastis. Oleh


karena
-

itu

pemijatan

peregangan jaringan.
Membuka mikro-sirkulasi

dapat

membantu

mengembalikan

19

Meningkatkan aliran darah ke jaringan karena dapat membuka


dan
-

melebarkan

pembuluh

darah

dan

peregangan

yang

memungkinkan nutrisi lewa dengan mudah.


Pengurangan nyeri
Menumpukknya sisa-sisa metabolisme menyebabkab rasa nyeri .
hal ini dapat dikurangi dengan pijatan karena pijatan dapat

merangsang pengeluaran endorfin.


Relaksasi
Mekanoreseptor memberikan sensasi

sentuhan,

tekanandan

penghangatan jaringan yang dirangsang sehingga menyebabkan


refleks relaksasi.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Massage merupakan teknik memijat/melulut dengan tangan
(manipulasi) pada bagian tubuh yang lunak dengan prosedur manual

20

ataupun mekanik yang dilaksanakan secara metodik dan ritmis


dengan tujuan untuk menghasilkan efek-efek fisiologis , profilaktik
dan terapeutik/pengobatan pada tubuh.
4.2 Saran
Saran dari para pembaca sebagai masukan sangat diperlukan
untuk perbaikan bagi penulis, diharapkan penulis mampu membuat
karya tulisanya lagi lebih baik dimasa yang akan datang.

Daftar Pustaka
Bennett, M.I., Smith,B.H.,Torranch,N. And Potter,J.2005:The S-LANSS skor
for identifying pain of predominantly new ropathic origin:Validation for use
in clinical and postal research.Jurnal of pain 6,58-149.

21

Tamsuri, A. 2007. Konsep dan Pelaksanaan Nyeri EGC. Jakarta


Bizek, K. S., Fontaine, D. K. (2009). The Patients Experience with Critical
Illness. In Morton, P. G., Fontaine, D. K.(ed), Critical Care Nursing: A Holistic
Approach (pp. 18-32). Wolters Kluwer/Lippincott Williams & Wilkins:
Philadephia.
McCaffery, Margo. 2002. ConsultanIn The Nursing Care Of Patient with
Pain. California
Pasero, Chris. 2002. Pain Management Edukator and Consultan. California
Hupcey, J. E. 2000. Feeling Safe: The Psyco Social Need of ICU Patients.
Journal of Nursing Scholarship. 32, 361-367.
Lehne, Richard. 2007.

Pharmacology for Nursing Care. Elsevier Health

Science.
Tjay, Tanhoan dan Kirana Raharja. 2007. Obat-obat Penting. Jakarta:
Gramedia
Ruhito F. 2009. Pijat Kaki untuk Kesehatan. Jakarta: Penebar Swadaya.
Monsdragon. 2004. Pregnancy Information (Effleurage and Massage)
Oken et.al. 2004. Neurology. 62 (11: 2058-2064)