Anda di halaman 1dari 6

NAMA

: Hening Dyah Iswari

NPM

: 142140156

KELAS

: EA-C

BAB 10 MODEL INDEKS TUNGGAL


1. Pendahuluan
Wiliam Sharpe (1963) mengambangkan model yang disebut model indeks tunggal
atau (single-indeks model). Model ini dapat digunakan untuk menyederhanakan
perhitungan di model Markowitz dengan menyediakan parameter-perameter input yang
dibutuhkan di dalam perhitungan model Markowitz. Disamping itu, model indeks tunggal
dapat juga digunakan untuk menghitunga return ekspektasian dan resiko fortofolio.
2. Model Indeks Tunggal dan Komponen Returnnya
Model indeks tunggal berdasarkan pada pengamatan bahwa harga dari suatu
sekuritas berfluktuasi searah dengan harga pasar. Secara khusus dapat diamati bahwa
kebanyakan saham cenderung mengalamai kenaikan harga jika indeks harga saham
naik. Kebalikannya juga benar, yaitu jika indeks harga saham turun , kebanyakan saham
mengalami penurunan harga. Hal ini menyarankan bahwa return-return dari sekuritas
mungkin berkorelasi karna adanya reaksi umum terhadap perubahan-perubahan nilai
pasar. Dengan dasar ini, return dari sekuritas dan return dari indek pasar dapat dituliskan
sebagai hubungan :

R i = ai + i . R M
3. ASUMSI-ASUMSI
Model indeks tunggal mengunakan asumsi-asumsi yang merupakan karakteristik
model ini sehingga menjadi berbeda dengan model-model yang lain. Asumsi utama dari
indeks tunggal adalah kesalahan residu dari sekuritas ke i tidak berkovari dengan
kesalahan residu sekuritas ke-j atau ei tidak berkovari (berkorelasi dengan e j untuk dari
semua nilai i dan j.
4. Varian Return Sekuritas Model Indeks Tunggal
Contoh:
Retun saham PT A dan return indeks pasar selama 7 periode dan rata-rata
aritmatikanya adalah sebagai berikut:

Periode Ke-1

Return
Saham
Pt A (Ra)

Return
Indeks
Saham (RM)

0.060

0,040

0,077

0,042

0,095

0,050

0,193

0,055

0,047

0,015

E (RA) = A + A .E(RM)
0,09957 = A + 1.7 .
(0,04586)

0,113

0,065

0,112

0,055

Rata-rata
aritmatika

0,09957

0,04586

5. Kovarian Return Antara Sekuritas Modal Indeks Tunggal


Secara umum, kovarian return antara dua sekuritas i dan j dapat dituliskan :
ij = E[(Ri E(Ri)) . (Rj E(Rj))].
Contoh :
Dua buah sekuritas A dan B masing-masing mempunyai Beta yaitu b = 1.3 varian
return dari indeks pasar diketahui sebesar = 0,00026. dengan menggunakan rumus
(10-9), kovarian antara sekuritas A dan B adalah sebagai berikut :

ij = i . j . M2 = 1,7 . 1,3 . 0,00026 = 0,00057

6. Analisis Portofolio Mengunakan Model Indeks Tunggal


Analisis portofolio menyangkut perhitungan return ekspetasi portofolio dan resiko
pertofolio.

Return ekspetasi portofolio

Model Indeks Tunggal mempunyai karakteristik sebagai berikut :


1. Alpa dari portofolio (p) merupakan rata-rata tertimbang dari alpa tiap-tiap
sekuritas (ai)
n

E Rp wi ai Bi .E Rm
i 1

2. Beta dari portofolio (p) merupakan rata-rata tertimbang dari beta tiap-tiap
sekuritas (Bi)

w .a
i 1

Dengan mensubstitusikan p dan p, maka


Ekspektasi return portofolio adalah sebagai berikut :

p wi .Bi
i 1

Dengan mensubstitusikan p dan p, maka Ekspektasi return


portofolio adalah sebagai berikut :

Resiko Portofolio
Varian suatu Sekuritas berdasarkan model Indeks Tunggal adalah :

i2 Bi2 . m2 ei2 E R p p p .E Rm

2
p

w .B
i 1

2
m

w .
i 1

ei

Varian

Portofolio

adalah :

7. Model Pasar
Model pasar merupakan bentuk dari moel indeks tunggal dengan batasan yang lebih
sedikit. Model pasar bentuknya sama dengan model indeks tunggal. Perbedaannya
terletak di asumsinya. Dimodel indek tunggal, diasumsikan bahwa kesalahan residu
masing-masing sekuritas tidak berkovari satu dengan yang lain, asumsi ini tidak
digunakan atau kesalahan residu masing-masing sekuritas dapat berkorelasi,
kenyataannya bahwa sekuritas berkovari atau berkorelasi satu dengan yang lainnya
membuat model pasar lebihrealistis. Model pasar ini banyak digunakan oleh penilitipeneliti pasar modal untuk menghitung abnormal return.

Ri =i + i . Rm + ei

E(Ri) = i + i . E(Rm)

ERBi
8.

E Ri RBR
Bi
Portofolio Optimal Berdasarkan Model Indeks Tunggal

Perhitungan untuk menentukan portofolio optimal akan sangat dimudahkan jika hanya
didasarkan pada sebuah angka yang dapat menentukan apakah suatu sekuritas dapat
dimasukkan dalam portofolio optima. Angka tersebut adalah rasio antara ekses return
dengan Beta.

BAB 11 BETA
Beta () merupakan pengukur risiko sistematis dari suatu saham atau portofolio relatif
terhadap risiko pasar. Beta juga berfungsi sebagai pengukur volatilitas return saham,
atau portofolio terhadap return pasar. Volatilitas merupakan fluktuasi return suatu saham
atau portofolio dalam suatu periode tertentu, jika secara statistik fluktuasi tersebut
mengikuti fluktuasi dari return-return pasar, maka dikatakan beta dari sekuritas tersebut
bernilai satu (Jogiyanto, 2007).
Fluktuasi tersebut menunjukkan risiko sistematis dari saham tersebut, semakin besar
return suatu saham berfluktuasi terhadap return pasar, maka risiko sistematisnya akan
lebih besar, demikian pula sebaliknya, semakin kecil fluktuasi return suatu saham
terhadap return pasar, semakin kecil pula beta saham tersebut. Karena fluktuasi juga
sebagai pengukur risiko, maka beta bernilai 1 menunjukkan bahwa risiko sistematik suatu
sekuritas atau portofolio sama dengan risiko pasar.
Beta saham individual cenderung memiliki koefisien determinasi (yaitu kuadrat dari
koefisien korelasi yang lebih rendah dari beta portoofolio), koefisien determinasi
menunjukkan proporsi perubahan nilai Rit yang bisa dijelaskan Rmt. Beta portofolio
umumnya lebih akurat dari beta sekuritas individual karena ada kemungkinan nilai beta
selalu berubah dari waktu ke waktu kemudian penaksiran beta selalu mengandung unsur
kesalahan acak (random error). Risiko yang relevan untuk dipertimbangkan dalam
investasi yang berbentuk portofolio adalah risiko sistematis, dimana besar kecilnya risiko
tersebut ditunjukkan oleh besar kecilnya satuan beta. Besar kecilnya beta menunjukkan
besar kecilnya kepekaan perubahan tingkat keuntungan saham R it terhadap perubahan
tingkat keuntungan pasar Rmt.
Menurut Husnan (2001) penilaian terhadap Beta () sendiri dapat dikategorikan ke dalam
tiga kondisi yaitu:
1. Apabila = 1, berarti tingkat keuntungan saham i berubah secara proporsional
dengan tingkat keuntungan pasar. Ini menandakan bahwa risiko sistematis
saham i sama dengan risiko sistematis pasar.
2. Apabila > 1, berarti tingkat keuntungan saham i meningkat lebih besar
dibandingkan dengan tingkat keuntungan keseluruhan saham di pasar. Ini
menandakan bahwa risiko sistematis saham i lebih besar dibandingkan dengan
risiko sistematis pasar, saham jenis ini sering juga disebut sebagai saham
agresif.
3. Apabila < 1, berarti tingkat keuntungan saham i meningkat lebih kecil
dibandingkan dengan tingkat keuntungan keseluruhan saham di pasar. Ini
menandakan bahwa risiko sistematis saham i lebih kecil dibandingkan dengan

risiko sistematis pasar, saham jenis ini sering juga disebut sebagai saham
defensif.
Mengetahui beta suatu sekuritas merupakan hal penting untuk menganalisa sekuritas
tersebut. Beta suatu sekuritas menunjukkan risiko sistematisnya yang tidak dapat
dihilangkan dengan diversifikasi. Mengetahui beta masing-masing sekuritas juga berguna
untuk pertimbangan memasukkan sekuritas tersebut ke dalam portofolio yang akan
dibentuk.
Pengukuran beta suatu saham dapat dilakukan dengan menggunakan Single Index
Model (Husnan, 2001). Model ini berasumsi bahwa return saham berkorelasi dengan
perubahan return pasar, dan untuk mengukur korelasi tersebut bisa dilakukan dengan
menghubungkan return saham individual (R it) dengan return indeks pasar (Rmt). Tingkat
return saham ini dihitung dengan rumus berikut:
Rit = (Pt -Pti-1) / Pt-1
Di mana:
Rit = Return saham pada akhir bulan ke t
Pt = Clossing price pada akhir bulan ke t
Pt-1 = Clossing price pada akhir bulan sebelumnya (t-1)
Risiko sistematis sebagai bagian dari risiko pasar sangat tergantung pada investor dalam
mendefinisikan kondisi pasar dan ini berpengaruh dalam perubahan harga saham yang
umumnya dikaitkan dengan perubahan dalam pengharapan investor terhadap prospek
perusahaan. Untuk mengetahui kondisi pasar dipergunakan indeks pasar sebagai
indikator keadaana pasar modal di Indonesia yang dalam penelitian ini diwakili oleh
IHSG.
Mengestimasi Beta
Market Model bisa diestimasi dengan merengres sekuritas yang akan dinilai dengan
return pasar. Regresi tersebut akan menghasilkan nilai:
1. ( ukuran sekuritas i yang tidak terkait dengan return pasar)
2. ( peningkatan return yang diharapkan pada sekuritas i,untuk setiap kenaikkan
return pasar sebesar 1%)
Faktor-faktor yang mempengaruhi keakuratan Beta
1. Estimasi beta tersebut menggunakan data historis. Halini secara implicit berarti
bahwa kita menganggap apa yang terjadi pada beta masa lalu akan sama pada
beta di masa depan.
2. Garis karakteristik dapat dibentuk oleh berbagai observasi dan periode waktu
yang berbeda, dan tidak ada satupun periode dan waktunya yang dianggap
tepat. Dengan demikian estimasi beta pada satu sekuritas dapat berbeda karena
observasi dan waktunya yang digunakan berbeda.

3. Estimasi dan yang diperoleh dari regresi tidak terlepas dari adanya error,
sehinnga bias jadi estimasi beta tidak akurat karena dan tidak menunjukan
yang sebenarnya.