Anda di halaman 1dari 18

Lampiran 1 Materi Penyuluhan

1. Definisi stroke
Definisi stroke menurut World Health Organization (WHO) adalah
tanda-tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak
fokal (atau global), dengan gejala-gejala
yang berlangsung selama 24 jam atau lebih, dapat menyebabkan
kematian, tanpa adanya penyebab lain selain vaskuler.
Cedera serebrovaskular atau stroke meliputi awitan tiba-tiba defisit
neurologis karena insufisiensi suplai darah ke suatu bagian dari otak.
Insufisiensi suplai darah disebabkan oleh trombus, biasanya sekunder
terhadap arterisklerosis, terhadap embolisme berasal dari tempat lain
dalam tubuh, atau terhadap perdarahan akibat ruptur arteri (aneurisma)
(Lynda Juall Carpenito, 1995).
CVA atau stroke merupakan salah satu manifestasi neurologi yang
umum yang timbul secara mendadak sebagai akibat adanya gangguan
suplai

darah

ke

otak

(Depkes,

1995).

Stroke merupakan gangguan sirkulasi serebral dan merupakan satu


gangguan neurologik pokal yang dapat timbul sekunder dari suatu proses
patologik pada pembuluh darah serebral misalnya trombosis, embolus,
ruptura dinding pembuluh atau penyakit vaskuler dasar, misalnya
arterosklerosis arteritis trauma aneurisma dan kelainan perkembangan
(Price, 1995).
2. Epidemiologi stroke
Stroke segera bisa menjadi penyebab paling umum kematian di
seluruh dunia. Stroke saat ini penyebab utama kedua kematian di dunia
Barat, peringkat setelah penyakit jantung dan sebelum kanker, perbedaan
geografis dalam insiden stroke telah diamati, termasuk keberadaan "sabuk
stroke" di bagian tenggara Amerika Serikat, tetapi penyebab ini disparitas
belum dijelaskan.
Insiden stroke meningkat secara eksponensial dari 30 tahun, dan
etiologi bervariasi menurut usia. Usia lanjut adalah salah satu faktor paling
signifikan risiko stroke. 95% dari stroke terjadi pada orang usia 45 dan lebih
tua, dan dua-pertiga dari stroke terjadi pada orang-orang di atas usia 65.
Risiko seseorang mati jika dia tidak memiliki stroke juga meningkat dengan

usia. Namun, stroke dapat terjadi pada semua usia, termasuk pada janin. Pria
25% lebih mungkin untuk menderita stroke daripada wanita.
Anggota keluarga mungkin memiliki kecenderungan genetik untuk
stroke atau berbagi gaya hidup yang memberikan kontribusi untuk stroke.
Tingginya tingkat faktor Von Willebrand lebih umum di antara orang yang
memiliki

stroke

iskemik

untuk

pertama

kalinya.

Hasil

penelitian

ini

menemukan bahwa faktor genetik hanya signifikan adalah tipe darah


seseorang. Setelah mengalami stroke di masa lalu sangat meningkatkan
risiko seseorang stroke di masa depan.
Kejadian stroke meningkat dengan bertambahnya usia. Makin tinggi usia,
makin banyak kemungkinannya untuk terserang stroke. Bila dipukul rata dapat
dikatakan bahwa angka kejadian (insiden) stroke adalah 200 per 100.000
penduduk setiap tahun, bila dipilah menurut usia maka angka ini menjadi
sebagai berikut : pada kelompok usia 35-44 tahun, insidennya ialah 0,2 per
seribu. Pada kelompok usia 45-54 tahun, 0.7 per seribu. Kelompok usia 55-64
tahun, 1,8 per seribu. Usia 65-74 tahun 2,7 per seribu. Usia 75-84 tahun 10,4 per
seribu dan usia 85 tahun keatas 13,9 per seribu. Ditaksir bahwa dari 1000 orang
yang berusia 55-64 tahun, dalam setahun 1,8 orang atau kira-kira 2 orang
mendapat stroke (Lumbantobing, 2003).
Hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83% mengalami stroke
hemorragik. Hampir 70 persen kasus stroke hemorrhagik terjadi pada penderita
hipertensi.
Kasus stroke meningkat di negara maju seperti Amerika dimana kegemukan dan
makanan berbahaya (junk food) telah mewabah. Berdasarkan data statistik di
Amerika, setiap tahun terjadi 750.000 kasus stroke baru di Amerika dimana 1015% merupakan stroke hemoragik kuhusnya perdarahan intraserebral. Dari data
tersebut menunjukkan bahwa setiap 45 menit, ada satu orang di Amerika yang
terkena serangan stroke.
Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan
setelah jantung dan kanker. Bahkan, menurut survei tahun 2004, stroke
merupakan pembunuh no.1 di RS Pemerintah di seluruh penjuru Indonesia.
Diperkirakan ada 500.000 penduduk yang terkena stroke. Dari jumlah tersebut,
sepertiganya bisa pulih kembali, sepertiga lainnya mengalami gangguan
fungsional ringan sampai sedang dan sepertiga sisanya mengalami gangguan
fungsional berat yang mengharuskan penderita terus menerus di kasur.

Dari keseluruhan data di dunia, ternyata stroke sebagai penyebab


kematian mencapai 9% (sekitar 4 juta) dari total kematian per tahunnya.
Mortalitas dan morbiditas pada stroke hemoragik lebih berat daripada stroke
iskemik. Dilaporkan hanya sekitar 20% saja pasien yang mendapatkan kembali
kemandirian fungsionalnya. Selain itu, ada sekitar 40-80% yang akhirnya
meninggal pada 30 hari pertama setelah serangan dan sekitar 50% meninggal
pada 48 jam pertama. Penelitian menunjukkan dari 251 penderita stroke, ada
47% wanita dan 53% laki-laki dengan rata-rata umur 69 tahun (78% berumur
lebih dari 60 tahun). Pasien dengan umur lebih dari 75 tahun dan berjenis
kelamin laki-laki menunjukkan hasil yang lebih buruk.
3. Klasifikasi stroke
Stroke diklasifikasikan sebagai berikut :
1. Berdasarkan kelainan patologis
a. Stroke hemoragik
1) Perdarahan intra serebral
2) Perdarahan ekstra serebral (subarakhnoid)
b. Stroke non-hemoragik (stroke iskemik, infark otak, penyumbatan)
1) Stroke akibat trombosis serebri
2) Emboli serebri
3) Hipoperfusi sistemik
2. Berdasarkan waktu terjadinya
1) Transient Ischemic Attack (TIA)
2) Reversible Ischemic Neurologic Deficit (RIND)
3) Stroke In Evolution (SIE) / Progressing Stroke
4) Completed stroke
Stroke Hemoragik
Pecahnya pembuluh darah otak menyebabkan keluarnya darah ke jaringan
parenkim otak,ruang cairan serebrospinalis disekitar otak atau kombinasi
keduanya. Perdarahan tersebut menyebabkan gangguan serabut saraf otak
melalui penekanan struktur otak dan juga oleh hematom yang menyebabkan
iskemia pada jaringan sekitarnya. Peningkatan tekanan intrakranial pada
gilirannya akan menimbulkan herniasi jaringan otak dan menekan batang otak.
Stroke hemoragik paling sering disebabkan oleh tekanan darah tinggi, yang
menekankan dinding arteri sampai pecah. Penyebab lain terjadinya stroke
hemoragik adalah

Aneurisma, yang membuat titik lemah dalam dinding arteri, yang akhirnya
dapat pecah.

Hubungan abnormal antara arteri dan vena, seperti kelainanarteriovenosa.

Kanker, terutama kanker yang menyebar ke otak dari organ jauh seperti
payudara, kulit, dan tiroid.

Cerebral amyloid angiopathy, yang membentuk protein amiloid dalam


dinding arteri di otak, yang membuat kemungkinan terjadi stroke lebih
besar.

Kondisi atau obat (seperti aspirin atau warfarin).

Overdosis narkoba, seperti kokain.


Gejala stroke hemoragik bisa meliputi:

Perubahan tingkat kesadaran (mengantuk, letih, apatis, koma).

Kesulitan berbicara atau memahami orang lain.

Kesulitan menelan.

Kesulitan menulis atau membaca.

Sakit

kepala

yang

terjadi

ketika

berbaring,

bangun

dari

tidur,

membungkuk, batuk, atau kadang terjadi secara tiba-tiba.

Kehilangan koordinasi.

Kehilangan keseimbangan.

Perubahan gerakan, biasanya pada satu sisi tubuh, seperti kesulitan


menggerakkan salah satu bagian tubuh, atau penurunan keterampilan
motorik.

Mual atau muntah.

Kejang.

Sensasi perubahan, biasanya pada satu sisi tubuh, seperti penurunan


sensasi, baal atau kesemutan.

Kelemahan pada salah satu bagian tubuh.

Perubahan visi (penurunan visi, atau kehilangan semua atau salah satu
bagian dari visi).

Stroke hemoragik dikelompokkan menurut lokasi pembuluh darah :

Intracerebral hemoragik, pendarahan terjadi di dalam otak.

Subarachnoid hemoragik, pendarahan di daerah antara otak dan jaringan


tipis yang menutupi otak.
1) Perdarahan intraserebral

Perdarahan intraserebral ditemukan pada 10% dari seluruh kasus stroke, terdiri
dari 80% di hemisfer otak dan sisanya di batang otak dan serebelum.
Gejala klinis :

Onset perdarahan bersifat mendadak, terutama sewaktu melakukan


aktivitas

dan

dapat

didahului

oleh

gejala

prodromal

berupa

peningkatan tekanan darah yaitu nyeri kepala, mual, muntah,

gangguan memori, bingung, perdarhan retina, dan epistaksis.


Penurunan kesadaran yang berat sampai koma disertai

hemiplegia/hemiparese dan dapat disertai kejang fokal / umum.


Tanda-tanda penekanan batang otak, gejala pupil unilateral, refleks

pergerakan bola mata menghilang dan deserebrasi


Dapat dijumpai tanda-tanda tekanan tinggi intrakranial (TTIK),
misalnya papiledema dan perdarahan subhialoid.

2) Perdarahan subarakhnoid
Perdarahan subarakhnoid adalah suatu keadaan dimana terjadi perdarahan di
ruang subarakhnoid yang timbul secara primer beberapa jam.

Dijumpai gejala-gejala rangsang meningen


Perdarahan retina berupa perdarahan subhialid merupakan gejala

karakteristik perdarahan subarakhnoid.


Gangguan fungsi otonom berupa bradikardi atau takikardi, hipotensi
atau hipertensi, banyak keringat, suhu badan meningkat, atau
gangguan pernafasan.

Stroke Non-Hemoragik (Stroke Iskemik, Infark Otak, Penyumbatan)


Stroke non-haemorrhagic (SNH) (iskemik) :gejala utamanya adalah timbulnya
defisit neurologis

secara mendadak/subakut, didahului gejala prodromal, terjadi pada waktu


istirahat atau bangun
pagi dan kesadaran biasanya tidak menurun, kecuali bila embolus cukup besar.
Biasanya terjadi
pada usia > 50 tahun.
Iskemia jaringan otak timbul akibat sumbatan pada pembuluh darah
serviko-kranial atau hipoperfusi jaringan otak oleh berbagai faktor seperti
aterotrombosis, emboli, atau ketidakstabilan hemodinamik. Aterotrombosis
terjadi pada arteri-arteri besar dari daerah kepala dan leher dan dapat juga
mengenai

pembuluh

arteri

kecil

atau

percabangannya.

Trombus

yang

terlokalisasi terjadi akibat penyempitan pembuluh darah oleh plak aterosklerotik


sehingga menghalangi aliran darah pada bagian distal dari lokasi penyumbatan.
Gejala neurologis yang muncul tergantung pada lokasi pembuluh darah otak
yang terkena.
Etiologi
Stroke terjadi karena beberapa sebab, diantaranya adalah:
1.

Penyumbatan arteri
Penyumbatan arteri di otak oleh gumapalan (trombosis) merupakan
penyebab paling umum dari stroke. Bagian dari otak yang disuplai oleh
pembuluh darah yang tersumbat itu kemudian kekurangan darah dan
oksigen. Akibatnya, sebagian sel-sel otak kekurangan darah dan oksigen.
AKibatnya sebagian sel-sel otak mati dan sel otak yang mengendalikan tubuh
itu berhenti bekerja. Biasaya plak kolesterol di pembuluh darah kecil di dalam
otak yang pecah secara bertahap menyebabkan penyempitan pembuluh
darah dan memulai proses pembentukan bekuan darah kecil.

2.

Stroke emboli
Penyebab lain adalah bekuan darah atau sepotong plaj aterosklerosis berjalan
melalui aliran darah di otak. Ketika aliran darah terhenti, sel-sel otak tidak
menerima oksigen dan glukosa yang dibutuhkannya untuk berfungsi sehingga
stroke terjadi. Bekuan darah mungkin awalnya tersebntuk di ruang jantung
sebagai akibat dari irama jantung yang tidak teratur. Biasanya pembekuan ini
tetap melekat pada lapisan dalam jantung, tetapi kadang-kadang bisa pecah,
perjalanan melalui aliran darah di otak inilah yang menyebabkan stroke.
Emboli bisa juga berasal dari arteri besar di leher yang memasok darah ke
otakm dan kemudian menyumbat arteri kecil di dalam otak.

3.

Cerebral hemorrahage
Sebuah pendarahan otak terjadi bila pembuluh darah di otak pecah dan
berdarah ke dalam jaringan otak sekitarnya. Sebuah pendarahan otak
menyebabkan stroke dengan mengehentikan pasokan darah dan oksigen ke
otak. Selain itu, darah itu tidak dapat menyebabkan pembengkakan jaringan
otak (edema serebral). Edema dan akumulasi darah meningkatkan
pendarahan otak dan menyebabkan kerusakan lebih lanjut.

4.

Pendarahan subarachnoid
Dalam pendarahan subarachnoid, darah mengumpul di ruang bawah
membran arachnoid yang melapisi otak. Darah berasal dari suatu pembuluh
darah abnormal yang bocor atau pecah, seringkali ini adalah suatu
aneurisma. Pendarahan subarachnoid biasanya menyebabkan sakit kepala
parah tiba-tiba, mual, muntah, intoleransi cahaya, dan leher kaku. Jika tidak
segera mendapat perawatan, bisa mengakibatkan koma dan kematian otak.

5.

Vaskulitis
Penyebab lain yang jarang dari stroke adalah vaskulitis, yaitu suatu kondisi
saat pembuluh darah meradang dan menyebabkan penurunan aliran darah
ke jaringan otak.

6.

Migrain
Migrain

atau

sakit

kepala

vaskiular

bisa

menyebabkan

penyempitan

pembuluh darah otak. Beberapa kasus migrain bahkan menyerupai stroke


dengan menghilangkan fungsi dari satu sisi tubuh atau penglihatan dan
kemampuan berbicara.
4. Faktor Risiko Stroke
Secara garis besar faktor risiko stroke dibagi atas faktor risiko yang dapat
dimodifikas (modifiable) dan yang tidak dapat dimodifikasi (nonmodifiable).
Faktor risiko stroke yang dapat dimodifikasi diantaranya adalah

1.

hipertensi,

2.

sel - sel endotel pembuluh darah


penyakit jantung (fibrilasi atrium), Penyakit jantung koroner, jantung

penyakit ini menyebabkan terjadinya kerusakan pada

rematik, dan orang yang melakukan pemasangan katup jantung


buatan akan memiliki rsiko terserang stroke yang tinggi
3. diabetes melitus, Penyakit ini dapat menyebabkan kerusakan
pembuluh darah dan mempercepat terjadinya arteriosklerosis pada
arteri kecil termasuk pembuluh darah otak

4.
5.
6.
7.
8.

merokok,
konsumsi alkohol,
hiperlipidemia,
kurang aktifitas,
dan stenosis arteri karotis.

Sedangkan faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi antara lain


9. usia, Walaupun mayoritas stroke menyerang orang yang ebrusia
datas 50 th namun faktor pola makan dan gaya hidup juga ikut
mempengaruhi
10.jenis kelamin,
11.ras/suku, Orang kulit hitam lebih beresiko terkena stroke
12.faktor genetik.
Faktor-faktor resiko stroke dapat dikelompokan sebagai berikut :
1.

Akibat adanya kerusakan pada arteri, yaitu usia, hipertensi dan DM.

2.

Penyebab timbulnya thrombosis, polisitemia.

3.

Penyebab emboli MCI. Kelainan katup, heart tidak teratur atau jenis
penyakit jantung lainnya.

4.

Penyebab haemorhagic, tekanan darah terlalu tinggi, aneurisma pada


arteri dan penurunan faktor pembekuan darah (leukemia, pengobatan
dengan anti koagulan )

5.

Bukti-bukti yang menyatakan telah terjadi kerusakan pembuluh


darah arteri sebelumnya : penyakit jantung angina, TIA., suplai darah
menurun pada ektremitas.

Menurut Brunner& Sudarth :


1. hipertensi : faktor risiko utama. Pengendalian hipertensi adlah kunci
untuk mencegah stroke
2. penyakit kardiovaskuler: embolisme serebral berasal dari jantung.
Penyakit arteri koronia, gagal jantung kongestif, hipertrofi ventrikel
kiri, abnormalitas irama (khususnya fibrilasi atrium), penyakit
jantung kongestif
3. kolesterol tinggi
4. obesitas, kaitan antara kegemukan terhadap serangan stroke belum
diketahui secara pasti
5. peningkatan hematokrit meningkatkan risiko infark serebral
6. diabetes: dikaitkan dengan aterogenesis terakselerasi
7. kontrasepsi oral (kususnya dengan disertai hipertensi, merokok, dan
kadar estrogen tinggi)
8. merokok
9. penyalahgunaan obat (khususnya kokain)
10.konsumsi alkohol
5. Manifestasi Klinis

Defisit neurologik
1. defisit lapang penglihatan
a. homonimus
hemianopsia
penglihatan):
kehilangan

tidak

(kehilangan

menyadari

penglihatan,

orang

mengabaikan

setengah

lapang

atau

objek

di

tempat

salah

satu

sisi

tubuh,

kesulitan menilai jarak


b. kehilangan penglihatan perifer: kesulitan melihat pada malam hari,
tidak menyadari objek, atau batas objek
c. diplopia: penglihatan ganda
2. defisit motorik
b. hemiparesis: kelemahan wajah, lengan dan kaki pada sis yang sama
(karena lesi pada hemisfer yang berlawanan)
c. hemiplegia: paralisis wajah, lengan dan kaki pada sisi yang sama
(karena lesi pada hemisfer yang berlawanan)
d. ataksia : berjalan tidak mantap, tegak, tidak mampu menyatukan
kaki, perlu dasar berdiri yang luas.
e. Disatria : kesulitan dalam membentuk kata
f. Disfagia : kesulitan dalam menelan.
3. Defisit sensori
Parestesia (terjadi pada lesi yang berlawanan) : kebas dan kesemutan
pada bagian tubuh, kesulitan dalam propriosepsi
4. Defisit Verbal
a. Afasia ekspresif : tidak mampu membentuk kata yang dapat
dipahami, mungkin mampu bicara dalam respon kata tunggal
b. Afasia reseptif: tidak mampu memahami kata-kata ysng
dibicarakan; mampu bicara tetapi tidak masuk akal
c. Afasia global : kombinasi baik afasia reseptif dan ekspresif
5. Defisi kognitif
Kehilangan memori jangka pendek dan panjang, penurunan lapang
perhatian, kerusakan kemampuan untuk berkonsentrasi, alasan abstrak
buruk, perubahan penilaian.
6. Defisit emosional
Kehilangan kontrol diri, labilitas emosional, penurunan toleransi pada
situasi yang menimbulkan stres, depresi, menarik diri, rasa takut,
bermusuhan dan marah, perasaan isolasi
6. Pemeriksaan Diagnostik

. Anamnesis
Proses

anamnesis

akan

ditemukan

kelumpuhan

anggota

dapat

berkomunikasi dengan baik. Keadaan ini timbul sangat mendadak, dapat


sewaktu bangun tidur, sedang bekerja, ataupun sewaktu istirahat.

Pemeriksaan fisik

Penentuan keadaan kardiovaskular penderita serta fungsi vital seperti


tekanan darah kiri dan kanan, nadi, pernafasan, tentukan juga tingkat
kesadaran penderita. Jika kesadaran menurun, tentukan skor dengan skala
koma

glasglow

agar

pemantauan

selanjutnya

lebih

mudah,

tetapi

seandainya penderita sadar tentukan berat kerusakan neurologis yang


terjadi, disertai pemeriksaan saraf saraf otak dan motorik apakah fungsi
komunikasi masih baik atau adakah disfasia. Jika kesadaran menurun dan
nilai

skala

koma

glasglow

telah

ditentukan,

setelah

itu

lakukan

pemeriksaan refleks refleks batang otak yaitu :


1. Reaksi pupil terhadap cahaya.
2. Refleks kornea.
3. Refleks okulosefalik.
4. Keadaan (refleks) respirasi, apakah terdapat pernafasan Cheyne
Stoke, hiperventilasi neurogen, kluster, apneustik dan ataksik. Setelah itu
tentukan kelumpuhan yang terjadi pada saraf saraf otak dan anggota
gerak. Kegawatan kehidupan sangat erat hubungannya dengan kesadaran
menurun, karena makin dalam penurunan kesadaran, makin kurang baik
prognosis neurologis maupun kehidupan. Kemungkinan perdarahan intra
serebral dapat luas sekali jika terjadi perdarahan perdarahan retina atau
preretina pada pemeriksaan funduskopi.

Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan

penunjang

dilakukan

dengan

cek

laboratorium,

pemeriksaan neurokardiologi, pemeriksaan radiologi, penjelasanya adalah


sebagai berikut :
1. Laboratorium.
a. Pemeriksaan darah rutin.
b. Pungsi lumbal : pemeriksaan likuor yang merah biasanya dijumpai
pada perdarahan yang masif, sedangkan perdarahan yang kecil
biasanya warna likuor masih normal (xantokhrom) sewaktu hari-hari
pertama. (Satyanegara, 1998)
c. Pemeriksaan kimia darah lengkap.
1. Gula darah sewaktu.
Stroke

akut terjadi

hiperglikemia reaktif.

Gula darah

dapat

mencapai 250 mg dalam serum dan kemudianberangsur angsur


kembali turun.

2. Kolesterol, ureum, kreatinin, asam urat, fungsi hati, enzim


SGOT/SGPT/CPK, dan profil lipid (trigliserid, LDH-HDL kolesterol
serta total lipid).
d. Pemeriksaan hemostasis (darah lengkap).
1. Waktu protrombin.
2. Kadar fibrinogen.
3. Viskositas plasma.
e. Pemeriksaan tambahan yang dilakukan atas indikasi Homosistein.
2. Pemeriksaan neurokardiologi
Sebagian

kecil

penderita

stroke

terdapat

perubahan

elektrokardiografi. Perubahan ini dapat berarti kemungkinan mendapat


serangan infark jantung, atau pada stroke dapat terjadi perubahan
perubahan elektrokardiografi sebagai akibat perdarahan otak yang
menyerupai suatu infark miokard Pemeriksaan khusus atas indikasi
misalnya CK-MB follow up nya akan memastikan diagnosis. Pada
pemeriksaan

EKG

dan

pemeriksaan

fisik

mengarah

kepada

kemungkinan adanya potensial source of cardiac emboli (PSCE) maka


pemeriksaan echocardiografi terutama transesofagial echocardiografi
(TEE) dapat diminta untuk visualisasi emboli cardial.
3. Pemeriksaan radiologi
a. CT-scan otak:

perdarahan intraserebral dapat terlihat segera

dan pemeriksaan ini sangat penting karena perbedaan manajemen


perdarahan otak dan infark otak. Pada infark otak, pemeriksaan CTscan

otak

mungkin

tidak

memperlihatkan

gambaran

jelas

jika

dikerjakan pada hari hari pertama, biasanya tampak setelah 72 jam


serangan.

Jika

ukuran

infark

cukup

besar

dan

hemisferik.

Perdarahan/infark di batang otak sangat sulit diidentifikasi, oleh karena


itu perlu dilakukan pemeriksaan MRI untuk memastikan proses
patologik di batang otak.
b. Pemeriksaan foto thoraks.
1. Dapat memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat
pembesaran ventrikel kiri yang merupakan salah satu tanda hipertensi
kronis pada penderita stroke dan adakah kelainan lain pada jantung.
2.

Dapat

mengidentifikasi

kelainan

paru

yang

potensial

mempengaruhi proses manajemen dan memperburuk prognosis.


Tambahan :

1. Angiografi cerebral membantu menentukan penyebab stroke secara


spesifik seperti perdarahan atau obstruksi arteri adanya titik oklusi
atau ruptur.
2. CT Scan : memperlihatkan adanya oedem
3. MRI : mewujudkan daerah yang mengalami infark
4. Penilaian kekuatan otot
5. EEG : mengidentifikasi masalah didasarkan pada gelombang otak.
7. Penatalaksanaan stroke
Menurut Brunner&Suddart fase akut:
dengan memperthankan jalan nafas dan ventilasi yang adekuat, biasanya
berakhir 48-72 jam.
1. Pasien ditempatkan pada posisi lateral atau semi telungkup dengan
kepala tempat tidur agak ditinggikan sampai tekanan vena serebral
berkurang.
2. Intubasi endrotrakea dan ventilasi mekanik perlu untuk pasien dengan
stroke masif , karen ahenti pernafasan biasanya yang mengancam
kehidupan pada situasi ini.
3. Pasien dipantau untuk adanya komplikasi pulmonal (aspirasi, atelektsis,
pneumonia,) yang mungkin berkaitan dengan kehilangan refleks jalan
nafas, imobilitas atau hipoventilasi
4. Jantung diperiksa untuk abnormalitas dalam ukuran dan irama serta
tanda gagal jantung kongestif
Stoke akut di Unit Gawat Darurat
Waktu adalah otak yang merupakan ungkapan yang menunjukkan betapa
pentingnya pengobatan stroke sedini mungkin, karena jendela terapi dari
stroke hanya 3-6 jam. Penatalaksanaan yang cepat, tepat dan cermat
memegang peranan besar dalam menentukan hasil akhir pengobatan. Hal
yang harus dilakukan adalah :
1. Stabilitas klien dengan tindakan Air way, Breathing dan Circulating
2. Pertimbangkan intubasi bila kesadaran stupor atau coma atau gagal
nafas
3. Infus intavena dengan cairan normasalin 0,9% 20 ml/jam, jangan pakai
cairan hipotonis edema otak
4. Berikan oksigen 2-4 liter/mnt

5. Pertimbangkan pemberian nutrisi melalui NGT


6. EKG
7. Pemeriksaan darah dan urine
Menurut Corwin :
1. Pada pasien yang CVSnya dapat diidentisikasi bersifat iskemik, agen
trombolitik, seperti aktivator plasminogen jaringan ( tissue plasminogen
activator, TPA) dapat diberikan. Diberikan sedini mungkin minimal
dalam 3 jam pertama serangan agar lebih efektif dalam mencegah
kerusakan jangka panjang. Akan tetapi akan berbahaya jika mengatasi
stroke hemoragik dengan trombolitik karena agens ini meningkatkan
perdarahan dan memperburuk hasil.
2. Stroke hemoragik diatasi dengan
perdarahan

dan

pencegahan

penekanan

kekambuhan.

pada

penghentian

Mungkin

diperlukan

pembedahan.
3. Terapi obat yang menghambat saluran ion, yang mendeteksi asam
dikembangkan untuk mengatasi kerusakan akibat stroke.
4. Semua pasien stroke diterapi dengan tirah baring dan penurunan
stimulus eksternal untuk mengurangi kebutuhan oksigen serebral.
Tindakan untuk menurunkan tekanan dan edema intrakranial dapat
dilakukan.
5. Terapi fisik, bicara, dan okupasional sering kali diperlukan.
Sasaran terapi:
Terapi yang diberikan tergantung jenis strokenya iskemik atau hemoragik
Sasaran : aliran pembuluh darah otak
Berdasarkan waktu terapinya :
- Terapi pada fase akut
- Terapi pencegahan sekunder atau rehabilitasi
Strategi terapi

Pendekatan terapi pada fase akut stroke iskemik: restorasi aliran


darah

otak

menghentikan

dengan
kerusakan

menghilangkan
seluler

yang

sumbatan/clots,
berkaitan

dan

dengan

iskemik/hipoksia
Therapeutic window : 12 24 jam, golden period : 3 6 jam
->kemungkinan daerah di sekitar otak yang mengalami iskemik

masih dapat diselamatkan


Pada stroke hemoragik->terapi tergantung pada latar belakang
setiap kasus hemoragiknya

Obat-obat yang digunakan pada terapi serangan akut

Terapi trombolitik : tissue plasminogen activator (t-PA), Alteplase


Mekanisme: mengaktifkan plasmin :melisiskan tromboemboli
Penggunaan t-PA sudah terbukti efektif jika digunakan dalam 3 jam
setelah
serangan akut
Catatan: tetapi harus digunakan hati-hati karena dapat menimbulkan
resiko
Perdarahan

Terapi antiplatelet : aspirin, clopidogrel, dipiridamol-aspirin , tiklopidin:


masih merupakan mainstay dalam terapi stroke
Urutan pilihan : Aspirin atau dipiridamol-aspirin, jika alergi atau gagal
Clopidogrel->jika gagal : tiklopidin

Terapi antikoagulan->masih kontroversial karena resiko perdarahan


intrakranial
Agen: heparin, unfractionated heparin, low-molecular-weight heparins
(LMWH), heparinoids warfarin

1. Penanganan suportif imun


1. Pemeliharaan jalan nafas dan ventilasi yang adekuat.
2. Pemeliharaan volume dan tekanan darah yang kuat.
3. Koreksi kelainan gangguan antara lain payah jantung atau
aritmia.
2. Meningkatkan darah cerebral
1. Elevasi tekanan darah
2. Intervensi bedah
3. Ekspansi volume intra vaskuler
4. Anti koagulan
5. Pengontrolan tekanan intrakranial

6. Obat anti edema serebri steroid


7. Proteksi cerebral (barbitura)
Sedangkan menurut Lumban Tobing (2002 : 2) macam-macam obat yang
digunakan :
1. Obat anti agregrasi trombosit (aspirasi)
2. Obat anti koagulasi : heparin
3. Obat trombolik (obat yang dapat menghancurkan trombus)
4. Obat untuk edema otak (larutan manitol 20%, obat dexametason)
Tindakan keperawatan
1. Bantu agar jalan nafas tetap terbuka (membersihkan mulut dari ludah
dan lendir agar jalan nafas tetap lancar).
2. Pantau balance cairan.
3. Bila penderita tidak mampu menggunakan anggota gerak, gerakkan
tiap anggota gerak secara pasif seluas geraknya.
4. Berikan pengaman pada tempat tidur untuk mencegah pasien jatuh.
Perawatan umum
Kebanyakan

morbiditas

dan

mortalitas

stroke

berkaitan

dengan

komplikasi non-neurologis,
yang dapat diminimalkan seperti berikut ini :
1. Demam
2. Nutrisi
3. Hidrasi intravena: hipovolemia
4. Glukosa :hiperglikemia dan hipoglikemia
5. Perawatan paru
6. Aktifitas : immobilisasi
7. Neurorestorasi dini : stimulus sensorik, kongnitif, memory, bahasa,
emosi serta visuospasial

8. Perawatan vesica
Pencegahan
1. Pencegahan primer
a. Kampanye nasional terintegrasi
b. Memasyarakatkan gaya hidup sehat bebas stroke
Menghindari : rokok, stress mental, alkohol, kegemukan, konsumsi
garam
berlebihan, obat-obatan golongan amfetamin, kokain dan sejenisnya
Mengurangi : kolesterol dan lemak dalam makanan
Mengendalikan : hipertensi, DM, penyakit jantung dan penyakit
vascular
lainnya
Menganjurkan : konsumsi gizi seimbang dan olahraga teratur
Tindakan dan Pencegahan

Rutin memeriksa tekanan darah

Tingkat tekanan darah adalah faktor paling dominan pada semua jenis stroke.
Makin tinggi tekanan darah makin besar risiko terkena stroke. Jika tekanan darah
meningkat, segera konsultasikan dengan seorang dokter. Tekanan darah yang
harus diwaspadai adalah jika angka tertinggi di atas 135 dan angka terbawah
adalah 85.

Waspadai gangguan irama jantung (attrial fibrillation)

Detak jantung tidak wajar menunjukkan perubahan fungsi yang mengakibatkan


darah terkumpul dan menggumpal di dalam jantung. Detak jantung yang mampu
menggerakkan

gumpalan

darah

sehingga

masuk

pada

aliran

darah

itu

mengakibatkanstroke. Gangguan irama jantung dapat dideteksi dengan menilai


detak nadi.

Berhenti merokok dan anti alkohol

Rokok dapat meningkatkan risiko stroke dua kali lipat. Sebagaimana rokok,
alkohol dapat meningkatkan risiko stroke dan penyakit lain seperti liver.

Periksa kadar kolesterol dalam tubuh

Mengetahui

tingkat

kolesterol

dapat

meningkatkan

kewaspadaan

stroke.

Kolesterol tinggi mengarah pada risiko stroke. Jika kolesterol tinggi, maka
segeralah untuk menurunkannya dengan memilih makanan rendah kolesterol.
Agar kolesterol dalamtubuh tidak berlebihan, maka gantilah asupan lemak jenuh
dengan asupan asam lemak tak jenuh, seperti: omega 3, 6 dan 9.

Kontrol kadar gula darah

Diabetes mampu meningkatkan risiko stroke. Jika Anda penderita diabetes,


konsultasilah dengan seorang dokter mengenai makanan dan minuman yang
bisa dikonsumsi untuk menurunkan gula darah.

Olah raga teratur

jalan cepat minimal 30 menit sehari bisa menurunkan risiko stroke. Anda juga
bisa melakukan olahraga renang, sepeda, dansa, golf, atau tenis. Pilih olahraga
yang Anda sukai dan lakukan secara teratur tiga kali seminggu.

Konsumsi garam rendah sodium dan diet lemak

Kurangi konsumsi garam bersodium tinggi. Sebaliknya konsumsilah buah,


sayuran, dan gandum untuk mengurangi risiko stroke.

Waspadai gangguan sirkulasi darah

Stroke berkaitan dengan jantung, pembuluh arteri dan vena. Tiga bagian ini
penting bagi sirkulasi darah ke seluruh tubuh, termasuk dan jantung ke otak.
Ketika terdapat tumpukan lemak yang menghambat aliran, maka risiko stroke
meningkat. Masalah ini dapat diobati. Operasi pula mampu mengatasi tumpukan
lemak yang menghambat pembuluh arteri.

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes,

M.E.,

2000, Rencana

Asuhan

Keperawatan

Pedoman

untuk

Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, EGC, Jakarta.


Corwin. 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.
Brunner& Sudarth. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta: EGC.
Hudak, C.M., Gallo, B.M., 1986, Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik, EGC,
Jakarta.
Long, B.C., 1996, Perawatan Medikal Bedah, Yayasan Ikatan Alumni, Pendidikan
Keperawatan, Padjajaran, Bandung.
Murtaqin, Arif. 2008. Pengantar Asuhan Keperawatan Klien dengan Sistem
Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Lumban Tobing, S.M., 1998, Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik dan Mental,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Price, S.A., dan Wilson, L.M, 1995, Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses
Penyakit, EGC, Jakarta.

Jaya, Hasrat. Stroke atau cerebro vascular accident (gangguan peredaran darah
otak).
http://dc367.4shared.com/download/0jksB2AE/asuhan_keperawatan_stroke.
pdf?tsid=2012111