Anda di halaman 1dari 24

BAB I

KASUS
I.

IDENTIFIKASI
Nama

: Tn. S

Usia

: 50 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Status

: Belum Menikah

Agama

: Islam

Suku

: Palembang

Pekerjaan

: Pedagang Martabak

Pendidikan

: SD

Alamat

: Ulu 7, Rt. 59, Palembang

Tanggal Kunjungan

: 23 Februari 2016

Kunjungan

: Pertama

Dokter muda Pembina : Firman Oktavianus, S.Ked


II.

ANAMNESIS (Autoanamnesis tanggal 23 Februari 2016, pukul 11.30 WIB)


Keluhan Utama
Batuk-batuk berdarah selama 2 bulan sebelum berobat ke puskesmas.
Keluhan Tambahan
Demam, berat badan turun
Riwayat Perjalanan Penyakit
Sejak 2 bulan sebelum berobat ke puskesmas, pasien mengeluh batuk-batuk, batuk
berdahak, kental, batuk berdarah (+). Penderita juga mengeluh demam yang tidak terlalu
tinggi. Sejak 1 bulan sebelum berobat ke puskesmas terjadi penderita mengalami
penurunan berat badan, keringat pada malam hari (-), BAB dan BAK normal.
Riwayat Penyakit Dahulu
-

Riwayat darah tinggi (-).


Riwayat kencing manis (-).
Riwayat penyakit asam urat dan koresterol tinggi (-).
1

Riwayat alergi makanan (-).

Riwayat Penyakit dalam Keluarga


-

Riwayat penyakit paru (+) dalam keluarga, ibu pasien, 2 saudara pasien.

Riwayat Kebiasaan

III.

Riwayat merokok (-).

Riwayat makan makanan berlemak disangkal.

PEMERIKSAAN FISIK (Dilakukan pada 23 Februari 2016, pukul 11.45 WIB)


Status Generalis
Keadaan umum : Tampak sakit ringan
Kesadaran
: Compos mentis
Tekanandarah : 130/80 mmHg
Nadi
: 77 x/ menit, irama reguler, isi dan tegangan cukup
Pernapasan
: 22 x/ menit
Temperatur
: 37,2 C
Keadaan Spesifik
Kepala
Normosefali, simetris, ekspresi tampak sakit, warna rambut hitam, alopecia (-).
Mata
Eksophtalmus (-), endophtalmus (-), edema palpebra (-), konjungtiva palpebra pucat
(-), sklera ikterik (-).
Hidung
Bagian luar hidung tak ada kelainan, septum deviasi (-), sekret (-), epistaksis (-),
cavum nasi lapang, pernafasan cuping hidung (-).

Mulut
Sariawan (-), pembesaran tonsil (-), gusi berdarah (-), lidah pucat (-), lidah kotor (-),
atrofi papil (-), sianosis (-).
Telinga
Kedua meatus acusticus eksternus lapang, sekret (-), nyeri tarik aurikula (-), nyeri
tekan tragus (-).
Leher

Pembesaran kelenjar getah bening (-), pembesaran kelenjar thyroid (-), JVP (5-2)
cmH2O.
Dada
Paru:
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: Statis dinamis simetris kanan = kiri, spider nevi (-), retraksi (-)
: Stemfremitus normal, kanan = kiri,
: Sonor, nyeri ketok (-).
: Vesikuler (+) normal, Rhonki (-), Wheezing (-).

Jantung
Inspeksi
Palpasi
Perkusi

: Ictus cordis tidak terlihat


: Ictus cordis tidak teraba
: Batas atas ICS II, batas kiri ICS V LMC sinistra, batas kanan linea

sternalis dextra.
Auskultasi : HR 87 x/ menit, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
Inspeksi
Palpasi
Perkusi
Auskultasi

: datar, lemas, massa (-).


: lemas, hepar dan lien tidak teraba, NT (-)
: Timfani (+), shifting dullness (-)
: Bising usus (+) normal

Genital

: Tidak diperiksa

Ekstremitas : Edem pretibial (-), akral pucat (-).


IV.

DIAGNOSIS KERJA
TB Paru Kasus Baru (Pengobatan fase lanjutan Bulan ke 6)

V.

VI.

PEMERIKSAAN ANJURAN
-

Pemeriksaan BTA

Pemeriksaan Rontgen Thoraks

PENATALAKSANAAN
1. Non-medikamentosa
-

Menghentikan konsumsi rokok

Edukasi agar minum obat teratur dan kontinu

Makan makanan bergizi (tinggi kalori tinggi protein)

Memperbaiki ventilasi rumah

Memakai masker
3

Menghindari paparan droplet

2. Medikamentosa

VII.

Rifampisin 150 mg + Isoniazid 150 mg (1 x 3 tablet)

Ambroxol syr 3x1 c

Vitamin C 3x1 tablet

KOMPLIKASI
Respiratory arrest, respiratory failure, Bronkiektasis, atelektasis

VIII.

PROGNOSIS
Quo ad Vitam
: Dubia
Quo ad Functionam : Dubia
Quo ad Sanationam : Dubia

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pengertian
Tuberculosis merupakan penyakit infeksi bakteri menahun yang disebabkan oleh
Mycobakterium tuberculosis yang ditandai dengan pembentukan granuloma pada jaringan
yang terinfeksi. Mycobacterium tuberculosis merupakan kuman aerob yang dapat hidup
terutama di paru / berbagai organ tubuh lainnya yang bertekanan parsial tinggi. Penyakit
tuberculosis ini biasanya menyerang paru tetapi dapat menyebar ke hampir seluruh bagian
tubuh termasuk meninges, ginjal, tulang, nodus limfe. Infeksi awal biasanya terjadi 2-10
minggu setelah pemajanan. Individu kemudian dapat mengalami penyakit aktif karena
gangguan atau ketidakefektifan respon imun (Roebiono 2009).
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB
(Mycobacterium Tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga
mengenai organ tubuh lainnya. Penyakit infeksi paru tersebut disebabkan oleh
MikobakteriumTuberkulosis Ada3 varian M. Tuberkulosis:
1. Var. Humanus
2. Var. Bovinum
4

3. Var. Avium
Yang paling banyak ditemukan pada manusia adalah M. Tuberkulosis Humanus.

2.2 Gejala Penyakit Tbc


Gejala penyakit TBC dapat dibagi menjadi gejala umum dan gejala khusus yang
timbul sesuai dengan organ yang terlibat. Gambaran secara klinis tidak terlalu khas terutama
pada kasus baru, sehingga cukup sulit untuk menegakkan diagnosa secara klinik (Roebiono
2009).

Gejala sistemik/umum:

Batuk-batuk selama lebih dari 3 minggu (dapat disertai dengan darah)

Demam tidak terlalu tinggi yang berlangsung lama, biasanya dirasakan malam hari
disertai keringat malam. Kadang-kadang serangan demam seperti influenza dan
bersifat hilang timbul.

Penurunan nafsu makan dan berat badan

Perasaan tidak enak (malaise), lemah

Gejala khusus:
Tergantung dari organ tubuh mana yang terkena, bila terjadi sumbatan sebagian bronkus
(saluran yang menuju ke paru-paru) akibat penekanan kelenjar getah bening yang membesar,
akan menimbulkan suara mengi, suara nafas melemah yang disertai sesak.

Kalau ada cairan dirongga pleura (pembungkus paru-paru), dapat disertai dengan
keluhan sakit dada.

Bila mengenai tulang, maka akan terjadi gejala seperti infeksi tulang yang pada suatu
saat dapat membentuk saluran dan bermuara pada kulit di atasnya, pada muara ini
akan keluar cairan nanah.
5

Pada anak-anak dapat mengenai otak (lapisan pembungkus otak) dan disebut sebagai
meningitis (radang selaput otak), gejalanya adalah demam tinggi, adanya penurunan
kesadaran dan kejang-kejang.
Pada pasien anak yang tidak menimbulkan gejala, TBC dapat terdeteksi kalau

diketahui adanya kontak dengan pasien TBC dewasa. Kira-kira 30-50% anak yang kontak
dengan penderita TBC paru dewasa memberikan hasil uji tuberkulin positif. Pada anak usia 3
bulan 5 tahun yang tinggal serumah dengan penderita TBC paru dewasa dengan BTA
positif, dilaporkan 30% terinfeksi berdasarkan pemeriksaan serologi/darah (Roebiono 2009).

2.3 Penularan TB
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB
(Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat
juga mengenai organ tubuh lainnya (Price 2004).
Cara penularan

Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif.


Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk

percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan
dahak. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam
waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari
langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam
keadaan yang gelap dan lembab. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya
kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan
dahak, makin menular pasien tersebut. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman

TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut
(Djohan 2009).

Risiko penularan
Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Pasien TB paru

dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB
paru dengan BTA negatif. Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk
of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama
satu tahun. ARTI sebesar 1%, berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi
setiap tahun. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1 3%. Infeksi TB dibuktikan dengan
perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi positif.

Risiko menjadi sakit TB


Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB. Dengan ARTI 1%,

diperkirakan diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10%
diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. Sekitar 50 diantaranya adalah
pasien TB BTA positif. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien
TB adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi
buruk). HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB menjadi sakit
TB. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (Cellular
immunity), sehingga jika terjadi infeksi oportunistik, seperti tuberkulosis, maka yang
bersangkutan akan menjadi sakit parah bahkan bisa mengakibatkan kematian. Bila jumlah
orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah pasien TB akan meningkat, dengan demikian
penularan TB di masyarakat akan meningkat pula (Price 2004).

2.4 Patofisiologi
Pada tuberculosis, basil tuberculosis menyebabkan suatu reaksi jaringan yang aneh di
dalam paru-paru meliputi : penyerbuan daerah terinfeksi oleh makrofag, pembentukan dinding
di sekitar lesi oleh jaringan fibrosa untuk membentuk apa yang disebut dengan tuberkel.
Banyaknya area fibrosis menyebabkan meningkatnya usaha otot pernafasan untuk ventilasi
paru dan oleh karena itu menurunkan kapasitas vital, berkurangnya luas total permukaan
membrane respirasi yang menyebabkan penurunan kapasitas difusi paru secara progresif, dan

rasio ventilasi-perfusi yang abnormal di dalam paru-paru dapat mengurangi oksigenasi darah
(Price 2004).

2.5 Diagnosa
Apabila dicurigai seseorang tertular penyakit TBC, maka beberapa hal yang perlu
dilakukan untuk menegakkan diagnosis adalah:
* Anamnesa baik terhadap pasien maupun keluarganya.
* Pemeriksaan fisik.
* Pemeriksaan laboratorium (darah, dahak, cairan otak).
* Pemeriksaan patologi anatomi (PA).
* Rontgen dada (thorax photo).
* Uji tuberkulin.

Diagnosis TB Paru
Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih.
Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak
nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam
hari tanpa kegiatan fisik,demam meriang lebih dari satu bulan. Gejala gejala tersebut diatas
dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis,
asma, kanker paru, dan lain-lain. Mengingat prevalensi TB paru di Indonesia saat ini masih
tinggi, maka setiap orang yang datang ke UPK dengan gejala tersebut diatas, dianggap
sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara
mikroskopis langsung pada pasien remaja dan dewasa, serta skoring pada pasien anak (Amin
2006).
Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan
pengobatan dan menentukan potensi penularan. Pemeriksaan dahak untuk diagnosis pada
semua suspek TB dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang dikumpulkan
dalam dua hari kunjungan yang berurutan berupa dahak Sewaktu-Pagi-Sewaktu (SPS):
S(sewaktu):
Dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang,
suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua.

P(Pagi):
Dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun tidur. Pot dibawa
dan diserahkan sendiri kepada petugas di UPK.
S(sewaktu):
Dahak dikumpulkan di UPK pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi.
Diagnosis TB Paru pada orang remaja dan dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman
TB (BTA) (Amin 2006)..
Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis
merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan
9

dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. Tidak
dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks
tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering terjadi
overdiagnosis. Gambaran kelainan radiologik Paru tidak selalu menunjukkan aktifitas
penyakit. Untuk lebih jelasnya lihat alur prosedur diagnostik untuk suspek TB paru pada
lampiran (Amin 2006).

Indikasi Pemeriksaan Foto Toraks


Pada sebagian besar TB paru, diagnosis terutama ditegakkan dengan pemeriksaan
dahak secara mikroskopis dan tidak memerlukan foto toraks. Namun pada kondisi tertentu
pemeriksaan foto toraks perlu dilakukan sesuai dengan indikasi sebagai berikut:

Hanya 1 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. Pada kasus ini pemeriksaan
foto toraks dada diperlukan untuk mendukung diagnosis TB paru BTA positif. (lihat
bagan alur di lampiran 2)

Ketiga spesimen dahak hasilnya tetap negatif setelah 3 spesimen dahak SPS pada
pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negatif dan tidak ada perbaikan setelah
pemberian antibiotika non OAT(non fluoroquinolon).

Pasien tersebut diduga mengalami komplikasi sesak nafas berat yang memerlukan
penanganan khusus (seperti: pneumotorak, pleuritis eksudativa, efusi perikarditis atau
efusi pleural) dan pasien yang mengalami hemoptisis berat (untuk menyingkirkan
bronkiektasis atau aspergiloma).

Diagnosis TB Ekstra Paru

Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku kuduk pada
Meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis), pembesaran kelenjar limfe
superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada
spondilitis TB dan lain-lainnya.

10

Diagnosis pasti sering sulit ditegakkan sedangkan diagnosis kerja dapat ditegakkan
berdasarkan gejala klinis TB yang kuat (presumtif) dengan menyingkirkan
kemungkinan penyakit lain.
Ketepatan diagnosis bergantung pada metode pengambilan bahan pemeriksaan dan

ketersediaan alat-alat diagnostik, misalnya uji mikrobiologi, patologi anatomi, serologi, foto
toraks, dan lain-lain.

Uji Tuberkulin
Pada anak, uji tuberkulin merupakan pemeriksaan yang paling bermanfaat untuk
menunjukkan sedang/pernah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis dan sering digunakan
dalam Screening TBC. Efektifitas dalam menemukan infeksi TBC dengan uji tuberkulin
adalah lebih dari 90%. Penderita anak umur kurang dari 1 tahun yang menderita TBC aktif uji
tuberkulin positif 100%, umur 12 tahun 92%, 2 4 tahun 78%, 46 tahun 75%, dan umur 6
12 tahun 51%. Dari persentase tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar usia anak maka
hasil uji tuberkulin semakin kurang spesifik. Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin,
namun sampai sekarang cara mantoux lebih sering digunakan. Lokasi penyuntikan uji
mantoux umumnya pada bagian atas lengan bawah kiri bagian depan, disuntikkan
intrakutan (ke dalam kulit). Penilaian uji tuberkulin dilakukan 4872 jam setelah penyuntikan
dan diukur diameter dari pembengkakan (indurasi) yang terjadi:
1. Pembengkakan (Indurasi) : 04mm, uji mantoux negatif. Arti klinis : tidak ada infeksi
Mycobacterium tuberculosis.
2. Pembengkakan (Indurasi) : 59mm, uji mantoux meragukan. Hal ini bisa karena
kesalahan teknik, reaksi silang dengan Mycobacterium atypikal atau pasca vaksinasi
BCG.
3. Pembengkakan (Indurasi) : >= 10mm, uji mantoux positif. Arti klinis : sedang atau
pernah terinfeksi Mycobacterium tuberculosis.

11

Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis Tahun 2014

12

2.6 Pengobatan Tuberkulosis


Tujuan Pengobatan nenurut (Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis 2014)
Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien, mencegah kematian,
mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan dan mencegah terjadinya resistensi
kuman terhadap OAT.

Prinsip pengobatan
Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut:

OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam jumlah
cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT
tunggal (monoterapi) . Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT KDT) lebih
menguntungkan dan sangat dianjurkan.

Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan langsung


(DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO).

Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.

Tahap awal (intensif)


-

Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi secara
langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.

Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien
menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.

Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2 bulan.
13

Tahap Lanjutan
-

Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka
waktu yang lebih lama.

Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah


terjadinya kekambuhan.

Paduan OAT yang digunakan di Indonesia


Paduan OAT yang digunakan oleh Program Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di
Indonesia:
-

Kategori 1 : 2(HRZE)/4(HR)3.

Kategori 2 : 2(HRZE)S/(HRZE)/5(HR)3E3.

Disamping kedua kategori ini, disediakan paduan obat sisipan (HRZE)

Kategori Anak: 2HRZ/4HR

Paduan OAT kategori-1 dan kategori-2 disediakan dalam bentuk paket berupa obat
kombinasi dosis tetap (OAT-KDT), sedangkan kategori anak sementara ini disediakan
dalam bentuk OAT kombipak.

Tablet OAT KDT ini terdiri dari kombinasi 2 atau 4 jenis obat dalam satu tablet. Dosisnya
disesuaikan dengan berat badan pasien. Paduan ini dikemas dalam satu paket untuk satu
pasien.

Paket Kombipak.
Terdiri dari obat lepas yang dikemas dalam satu paket, yaitu Isoniasid, Rifampisin,

Pirazinamid dan Etambutol. Paduan OAT ini disediakan program untuk mengatasi pasien
yang mengalami efek samping OAT KDT. Paduan OAT ini disediakan dalam bentuk paket,
dengan tujuan untuk memudahkan pemberian obat dan menjamin kelangsungan (kontinuitas)
pengobatan sampai selesai. Satu (1) paket untuk satu (1) pasien dalam satu (1) masa
pengobatan. KDT mempunyai beberapa keuntungan dalam pengobatan TB:
1. Dosis obat dapat disesuaikan dengan berat badan sehingga menjamin efektifitas obat
dan mengurangi efek samping.
2.

Mencegah penggunaan obat tunggal sehinga menurunkan resiko terjadinya resistensi


obat ganda dan mengurangi kesalahan penulisan resep.

14

3.

Jumlah tablet yang ditelan jauh lebih sedikit sehingga pemberian obat menjadi
sederhana dan meningkatkan kepatuhan pasien.

Paduan OAT dan peruntukannya.


1. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:

Pasien baru TB paru BTA positif.

Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif.

Pasien TB ekstra paru.

2. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)


Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya:

Pasien kambuh.

Pasien gagal.

Pasien dengan pengobatan setelah default (terputus).

15

Catatan:
Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin adalah 500mg tanpa
memperhatikan berat badan. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus.Cara
melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest sebanyak 3,7ml sehingga
menjadi 4ml. (1ml = 250mg).

3. OAT Sisipan (HRZE)


Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1
yang diberikan selama sebulan (28 hari).

Penggunaan OAT lapis kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan
kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasien baru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat
tersebut jauh lebih rendah daripada OAT lapis pertama. Di samping itu dapat juga meningkatkan
terjadinya risiko resistensi pada OAT lapis kedua.

pencegahan terhadap TB terdiri atas :


a. Promotif
1. Penyuluhan kepada masyarakat apa itu TBC
2. Pemberitahuan baik melalui spanduk/iklan tentang bahaya TBC, cara penularan,
cara pencegahan, faktor resiko
16

3. Mensosialisasiklan BCG di masyarakat.


b. Preventif
1. Vaksinasi BCG
2. Menggunakan isoniazid (INH)
3. Membersihkan lingkungan dari tempat yang kotor dan lembab.
4. Bila ada gejala-gejala TBC segera ke Puskesmas/RS, agar dapat diketahui secara
dini.

BAB III
PENCEGAHAN/PEMBINAAN
A. Genogram Keluarga Tn. S
Tn. M / 60 tahun

Ny. A / 58 th

17

Tn.AG / 52 th

Tn.S / 50 th

Tn.M / 46 th

Tn.SS / 44 th

= Penderita meninggal
= Penderita TB

B. Home Visite (9 Fungsi Keluarga)


1. Fungsi Holistik : merupakan fungsi keluarga yang meliputi fungsi biologis, fungsi
psikologis, dan fungsi sosial ekonomis.
Fungsi Biologis : didalam kelurga ini tidak terdapat penyakit yang menurun yaitu
seperti thalasemia, hemofilia, dll. Didalam keluarga ini juga tidak terdapat penyakit
kronis, tetapi terdapat penyakit menular yaitu TB paru (Ibu penderita dan satu saudara
penderita)
Fungsi Psikologis : keluarga ini memiliki fungsi psikologis yang kurang baik, terdapat
kesulitan dalam menghadapi setiap masalah yang ada pada keluarga, serta hubungan
antara anggota keluarga yang kurang harmonis.
Fungsi Sosial ekonomi: kondisi ekonomi keluarga ini terbilang kurang, kedua orang
tua penderita telah meninggal, penderita dan satu saudara penderita tidak bekerja.
Terdapat riwayat musibah kebaran yang menghanguskan rumah penderita 15 tahun
yang lalu. Keluarga ini juga kurang aktif dalam setiap kegiatan dan kehidupan social di
masyarakat.
2. Fungsi Fisiologis keluarga diukur dengan APGAR score. APGAR score adalah skor
yang digunakan untuk menilai fungsi keluarga ditinjau dari sudut pandang setiap
anggota keluarga terhadap hubungannya dengan anggota keluarga yang lain. APGAR
score meliputi:

18

Adaptation : keluarga ini kurang mampu beradaptasi antar sesama anggota keluarga,
kurang mendukung, kurang menerima dan memberikan saran satu dengan yang
lainnya.
Partnership : Komunikasi dalam keluarga ini kurang baik, mereka kurang saling
membagi, tidak saling mengisi antar anggota keluarga dalam setiap masalah yang
dialami oleh keluarga tersebut.
Growth: Keluarga ini juga kurang memberikan dukungan antar anggota keluarga akan
hal-hal yang baru yang dilakukan anggota keluarga tersebut.
Affection: interaksi dan hubungan kasih sayang antar anggota keluarga ini kurang
terjalin dengan cukup baik.
Resolve: keluarga ini kurang memiliki rasa kebersamaan dan jarang menghabiskan
waktu bersama dengan anggota keluarga lainnya.
Adapun skor APGAR keluarga ini adalah 5,5, dengan interpretasi kurang. (data
terlampir).
3. Fungsi Patologis dinilai dengan SCREEM score.
Social, interaksi keluarga ini dengan tetangga sekitar kurang baik.
Culture, keluarga ini memberikan apresiasi dan kepuasan yang cukup terhadap
budaya, tata karma, dan perhatian terhadap sopan santun.
Religious, keluarga ini cukup taat menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama
yang dianutnya.
Economic, status ekonomi keluarga ini kurang.
Educational, tingkat pendidikan keluarga ini kurang. Penderita hanya tamatan SD
serta terdapat keluarga penderita yang tidak tamat SD.
Medical, keluarga ini kurang mampu mendapat pelayanan kesehatan yang memadai.
4. Fungsi Hubungan antarmanusia
Hubungan interaksi antar anggota keluarga kurang terjalin dengan baik.
5. Fungsi Keturunan (genogram)
Fungsi genogram dalam keadaaan kurang baik (sudah dijelaskan diatas)
6. Fungsi Perilaku (pengetahuan, sikap, dan tindakan)
19

Pengetahuan tentang kesehatan keluarga ini kurang baik, sikap sadar akan kesehatan
dan beberapa tindakan yang mencerminan pola hidup sehat tidak dilakukan dengan
baik.
7. Fungsi Non-perilaku (Lingkungan, pelayanan kesehatan, keturunan)
Lingkungan kurang sehat dan para tetangga kurang menjalin kerjasama dengan baik,
keluarga ini juga kurang aktif memeriksakan diri ke tempat pelayanan kesehatan, jarak
rumah dengan puskesmas/rumah sakit tidak jauh.
8. Fungsi Indoor
Gambaran lingkungan dalam rumah belum memenuhi syarat-syarat kesehatan, lantai
dan dinding dalam keadaan kurang bersih, ventilasi, sirkulasi udara dan pencahayaan
sangat kurang, sumber air bersih kurang terjamin, jamban ada di dalam rumah,
pengelolaan sampah dan limbah kurang baik.
9. Fungsi outdoor
Gambaran lingkungan luar rumah kurang baik, jarak rumah dengan jalan raya cukup
dekat, tidak ada kebisingan disekitar rumah, jarak rumah dengan sungai cukup dekat,
dan tempat pembuangan umum jauh dari lokasi rumah.

DAFTAR PUSTAKA
Price. A,Wilson. L. M. Tuberkulosis Paru. Dalam: Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses
Penyakit, bab 4, Edisi VI. Jakarta: EGC, 2004 : 852-64.
Amin Z, Bahar S. Tuberkulosis paru. Dalam: Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I , Simadibrata
KM, Setiati S. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II, Edisi IV. Jakarta: Pusat
Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI , 2006: 998-1005, 1045-9.
20

NN.

Pedoman

Nasional

Penanggulangan

Tuberkulosis.

2014.

Available

from

http://www.tbindonesia.or.id/pdf/BPN_2014.pdf
Roebiono PS. Tuberkulosis Merupakan Penyakit Infeksi Yang Masih Merupakan Masalah
Dalam

Masyarakat..

Available

from

http://library.usu.ac.id/download/fkm/fkm-

hiswani6.pdf
Djohan PA. Epidemiologi TBC di Indonesia. Available from http://

www.tbci

ndonesia_Or_Id.htm l
.

Lampiran 1
Kondisi Rumah Keluarga Tn. S

21

Lampiran 2
APGAR SCORE
22

0 : Jarang/tidak sama sekali


1 : Kadang-kadang
2 : Sering/selalu
Variabel
Penilaian
Adaptation
Partnership
Growth
Affection
Resolve

APGAR

APGAR Ibu

Ayah

Total

APGAR

APGAR

APGAR

APGAR

Tn.AG

Tn.S

Tn.M

Tn.SS

1
1
1
2
1

1
1
1
1
1

2
1
1
1
1

1
1
1
1
1

Interpretasi : 5 (Kurang), 6-7 (Cukup), dan 8-10 (Baik).


Rata-rata apgar score: 5,5 (kurang)

Lampiran 3
SCREEM SCORE
Variabel Penilaian
Social

Penilaian
Interaksi keluarga ini dengan tetangga sekitar kurang
baik.

Culture

Keluarga ini memberikan apresiasi dan kepuasan yang


23

cukup terhadap budaya, tata karma, dan perhatian


Religious

terhadap sopan santun.


Keluarga ini cukup taat menjalankan ibadah sesuai

Economic
Educational

dengan ajaran agama yang dianutnya.


Status ekonomi keluarga ini kurang.
Tingkat pendidikan keluarga ini kurang. Penderita
hanya tamatan SD serta terdapat keluarga penderita
yang tidak tamat SD.

Medical

Keluarga ini kurang mampu mendapat pelayanan


kesehatan yang memadai

24