Anda di halaman 1dari 62

LAPORAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN

LABORATORIUM KESEHATAN DAERAH PROVINSI DKI


JAKARTA

Disusun Oleh:
Windi Riyadi (1113096000037)
Risna Ayu Fadilah (1113096000048)
Nur Azizah (1113096000056)
Tatu Ruhamalia Mawaddah (1113096000058)

PROGRAM STUDI KIMIA


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2016

IDENTITAS MAHASISWA

Nama

: Windi Riyadi

NIM

: 1113096000037

Jenis Kelamin

: Perempuan

Tempat/Tanggal lahir

: Jakarta, 7 Januari 1995

Alamat

: Jalan Damai No 125 RT 008/05 Pesanggrahan,


Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12270

No.Telp/HP

: 089655564650

Program Studi

: Kimia

Fakultas

: Sains dan Teknologi

Universitas

: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

IDENTITAS MAHASISWA

Nama

: Risna Ayu Fadilah

NIM

: 1113096000048

Jenis Kelamin

: Perempuan

Tempat/Tanggal lahir

: Jakarta, 12 Januari 1994

Alamat

: Jalan Haji Ung No.229A RT 008/04, Kemayoran


Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10650

No.Telp/HP

: 085881127992

Program Studi

: Kimia

Fakultas

: Sains dan Teknologi

Universitas

: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

IDENTITAS MAHASISWA

Nama

: Nur Azizah

NIM

: 1113096000056

Jenis Kelamin

: Perempuan

Tempat/Tanggal lahir

: Jakarta, 16 Agustus 1997

Alamat

: Perumahan Vila Mutiara blok G2 No.31 RT 29/9 Desa


Ciantra, Cikarang Selatan, Bekasi

No.Telp/HP

: 081213098505

Program Studi

: Kimia

Fakultas

: Sains dan Teknologi

Universitas

: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

IDENTITAS MAHASISWA

Nama

: Tatu Ruhamalia Mawaddah

NIM

: 1113096000058

Jenis Kelamin

: Perempuan

Tempat/Tanggal lahir

: Jakarta, 12 Juli 1995

Alamat

: Jalan Mahoni Blok A Gang IV No 40 RT 009/09


Koja, Jakarta Utara, DKI Jakarta, 12270

No.Telp/HP

: 089658531671

Program Studi

: Kimia

Fakultas

: Sains dan Teknologi

Universitas

: Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

IDENTITAS UNIVERSITAS
1. Nama Universitas

: Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif


Hidayatullah Jakarta

2. Alamat
3. Telepon/ fax

: Jl. Ir. H. Juanda No. 95 Ciputat, 15412


: (021) 7401925 / (021) 7402982

4. Rektor Universitas

: Prof. Dr. Dede Rosyada, MA

5. Dekan FST

: Dr. Agus Salim, M.Si

6. Ketua Prodi Kimia

: Drs. Dede Sukandar, M.Si.

7. Pembimbing PKL

: Yusraini Dian Inayati Siregar, M.Si; Nurhasni, M.Si;


Isalmi Aziz, MT; Sandra Hermanto, M.Si

IDENTITAS INSTITUSI
1. Nama Institusi
2. Kepemlikkan
3. Kepala Labkesda
4. Alamat
5.
6.
7.
8.
9.

Telepon
Fax
Website
Pembimbing PKL
Jabatan

: Laboratorium Kesehatan Daerah Dinas Kesehatan


Provinsi DKI Jakarta
: Pemerintah Daerah Provinsi DKI Jakarta
: Drs. Endra Muryanto, Apt, MM.
: Jl. Rawasari Selatan No.2, Cempaka Putih,
Jakarta Pusat 10510.
: 021- 4247404, 4247408, 4247432, 42889512
: 021 - 4247364, 42873697
: http://www.labkesda.go.id
: Dra. Ernawati Simanjuntak, M.Si
: Manajer Teknis Laboratorium Kesehatan Daerah
Provinsi DKI Jakarta

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah


memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan laporan praktek kerja lapangan dengan judul Identifikasi Senyawa
Deksametason Dalam Obat Tradisional. Laporan praktek kerja lapangan ini disusun
untuk memenuhi syarat penyelesaian praktek kerja lapangan baik di universitas
maupun di instansi. Dalam pelaksanaan penyusunan laporan praktek kerja lapangan
ini, penulis mendapat banyak bantuan, bimbingan, dan arahan dari berbagai pihak.
Oleh sebab itu dalam kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima
kasih yang tulus kepada:
1. Keluarga tercinta yang selalu mendoakan, melimpahkan kasih sayang dan
memberikan dukungan moril serta materil kepada penulis.
2. Drs. Endra Muryanto, Apt, MM, selaku Kepala Laboratorium Kesehatan Daerah
Provinsi DKI Jakarta
3. Drs. Dede Sukandar, M.Si, selaku Ketua Program Studi Kimia Fakultas Sains dan
Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Dra. Ernawati Simanjuntak, M.Si, selaku pembimbing di Laboratorium Kesehatan
Daerah Provinsi DKI Jakarta.
5. Yusraini Dian Inayati Siregar, M.Si; Nurhasni, M.Si; Isalmi Aziz, MT; dan Sandra
Hermanto, M.Si selaku dosen pmbimbing di Fakultas Sains dan Teknologi UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
6. Dr. Agus Salim, M.Si, selaku Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
7. Para staf Laboratorium Obat dan Makanan dan Laboratorium Pemeriksaan Napza
yang telah membantu perihal teknis dalam praktek kerja lapangan ini.
Semoga arahan, motivasi dan bantuan yang telah diberikan menjadi amal
ibadah bagi keluarga, bapak, dan rekan-rekan, sehingga memperoleh balasan yang
lebih baik dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari
kesempurnaan. Untuk itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun

untuk kesempurnaan laporan praktek kerja lapangan atau tulisan penulis berikutnya.
Semoga laporan praktek kerja lapangan ini bermanfaat bagi pembaca.
Jakarta, Februari 2016

Penulis

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR GAMBAR
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Praktek Kerja Lapangan
1.3 Manfaat
1.4 Waktu dan Lokasi Praktek Kerja Lapangan
1.4.1 Waktu Praktek Kerja Lapangan
1.4.2 Lokasi Praktek Kerja Lapangan
BAB II LABORATORIUM KESEHATAN DAERAH PROVINSI DKI JAKARTA
2.1 Sejarah Perkembangan Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi DKI Jakarta
2.2. Visi dan Misi
2.3. Tugas Pokok dan Fungsi Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi DKI
Jakarta
2.4 Susunan Organisasi Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi DKI Jakarta
2.5 Jenis Pelayanan Pemeriksaan Laboratorium
2.5.1. Laboratorium Pemeriksaan Doping dan Kimia
2.5.1.1. Laboratorium Pemeriksaan Obat dan Makanan
2.5.1.2. Laboratorium Toksikologi
2.5.1.3. Laboratorium Pemeriksaan Doping
2.5.2. Laboratorium Pemeriksaan Kesehatan Masyarakat
2.5.2.1. Laboratorium Mikrobiologi
2.5.2.2. Laboratorium Kimia Air

2.5.2.3. Alur Pengujian


2.5.2.4. Kegiatan Laboratorium
2.5.2.5. Landasan Pengujian
2.6. Penangan Sampel
2.7. Bahan dan Reagensia yang digunakan

BAB III TINJAUAN PUSTAKA


3.1 Obat Tradisional
3.1.1. Pengertian Obat Tradisional
3.1.2. Macam-macam Bentuk Kesediaan
3.1.3. Kekurangan dan Kelebihan
3.2 Deksametason
3.2.1. Pengertian Deksatemason
3.2.2. Struktur Deksametason
3.2.3. Sifat Kimia Dan Fisika
3.2.4. Indikasi
3.2.5. Kontradiksi
3.2.6. Efek Samping
3.3 Instrumentasi
3.3.1. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi

BAB IV METODE ANALISA


4.1

Laboratorium Pemeriksaan Obat dan Makanan

4.1.1 Judul Percobaan


4.1.2 Tanggal Percobaan
4.1.3 Ruang Lingkup
4.1.4 Metode
4.1.5 Pustaka
4.1.6 Peralatan dan Reagensia
4.1.7 Skema Kerja

BAB V HASIL PENGUJIAN DAN PEMBAHASAN


5.1 Laboratorium Pemeriksaan Obat dan Makanan
5.1.1 Judul Percobaan
5.1.2 Data Percobaan
5.1.3 Rumus Perhitungan
5.1.4 Persyaratan
5.1.5 Kesimpulan
5.1.6 Catatan

BAB VI PENUTUP
DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang

Dengan melaksanakan praktek kerja lapangan di Laboratorium Kesehatan


Daerah Provinsi DKI Jakarta, diharapkan mahasiswa ajan memperoleh gambaran
lebih jelas dan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tentang
pelaksanaan pengawasan mutu sediaan farmasi dan makanan sesuai standar kesehatan
yan berlaku, sehingga nantinya dapat ikut berpartisipasi dalam melaksankan sistem
pemastian mutu sediaan farmasi dan makanan.

1.2
1.2.1

Tujuan Praktek Kerja Lapangan


Tujuan Umum
Praktek Kerja Lapangan bertujuan agar setiap mahasiswa Program Studi S1

Kimia Fakultas Sains Dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dapat
memahami prosedur pengolahan pengawasan mutu sediaan farmasi dan makanan di
Laboratorium pengujian obat dan makanan baik di instansi pemerintahan maupun
swasta sesuai standar yang berlaku.
1.2.2

Tujuan Khusus
Setelah melaksanakan Praktek Kerja Lapangan mahasiswa dapat:

1. Memperoleh informasi tentang visi dan misi serta struktur organisasi tempat
PKL dilaksanakan.
2. Memperoleh macam-macam informasi cara pengujian mutu di Laboratorium
obat, makanan dan minuman.
3. Menentukan metode analisa dan melakukan penguian bahan baku atau sediaan
berdasarkan literature/prosedur operasi standar (SOP) yang ada.
4. Menentukan dan menghitung kebutuhan alat dan bahan yang digunakan dari
5.
6.
7.
8.

setiap prosedur analisa yang ada.


Menyiapkan dan memasang alat-alat pengujian.
Membaca data hasil pengujian/percobaan.
Menarik kesimpulan.
Memperoleh pengetahuan tentang bahan/reagensia pengujian mulai dari
membaca spesifikasi, menyimpan, menggunakan hingga memusnahkan
sampel, bahan atau reagensia dari setiap pengujian.

9. Melakukan komunikasi dan konsultasi dengan pembimbing di lingkungan


PKL dalam melaksanakan proses kerja.

1.3
1.3.1

Manfaat
Bagi Mahasiswa
Mahasiswa medapatkan keterampilan untuk melaksanakan program kerja

pada perusahaan maupun instansi pemerintahan. Melalui praktek kerja lapangan


mahasiswa mendapatkan bentuk pengalaman nyata serta permasalahan yang dihadapi
dunia kerja. Selain itu, mahasiswa akan menumbuhkan rasa tanggung jawab profesi
didalam dirinya melalui praktek kerja lapangan.
1.3.2

Bagi Lembaga Perguruan Tinggi


Lembaga dapat menjalin kerjasama dengan dunia usaha, Lembaga BUMN,

BUMD, Perusahaan Swasta dan Instansi Pemerintahan. Praktek kerja lapangan dapat
mempromosikan keberadaan Akademik ditengah-tengah dunia kerja.
1.3.3

Bagi Tempat PKL


Intitusi dapat memenuhi kebutuhan tenaga kerja lepas yang berwawasan

akademik dari praktek kerja lapangan tersebut. Institusi kerja tersebut akan
memperoleh tenaga kerja yang sesuai dengan bidangnya. Kemudian laporan praktek
kerja lapangan dapat dimanfaatlan sebagai salah satu sumber informasi mengenai
situasi umum institusi tempat praktek tersebut.
1.4
1.4.1

Waktu dan Lokasi Praktek Kerja Lapangan


Waktu Praktek Kerja Lapangan
Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan dimulai dari tanggal 25 Januari 2016

hingga 19 Februari 2016.


1.4.2

Lokasi Praktek Kerja Lapangan

Praktek Kerja Lapangan dilaksanakan di Laboratorium Kesehatan Daerah


Provinsi DKI Jakarta, Jalan Rawasari Selatan No.2 Jakarta Pusat.

BAB II
LABORATORIUM KESEHATAN DAERAH
PROVINSI DKI JAKARTA

2.1

Sejarah Perkembangan Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi DKI

Jakarta
Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi DKI Jakarta pada awalnya
merupakan Laboratorium Pengawasan Doping Jakarta (Jakarta Doping Control

Laboratory) yang didirikan untuk menunjang program pengembangan dan


pembinaan prestasi olah raga di indonesia dan membantu Komisi Anti Doping
Indonesia dalam memutuskan keabsahan prestasi seorang atlet, menegakkan Fair
play serta melindungi kesehatan atlet.
Pada tanggal 30 Agustus 1996 Gubernur Provinsi DKI Jakarta yang pada saat
itu dipimpin oleh Bapak Surjadi Sudirja meresmikan Laboratorium Pengawasan
Doping Jakarta dibawah pembinaan DR. Ray Kazlaukas (ASDTL, Sydney,
Australia).Tugas Laboratorium Pengawasan Doping Jakarta yang ditetapkan dalam
Keputusan Gubernur Provinsi DKI Jakarta No. 685 tahun 1997 Tentang Organisasi
dan Tata Kerja Laboratorium Pengawasan Doping DKI Jakarta yang pertama kali
adalah pemeriksaan sampel doping atlet Pekan Olah Raga Nasional ke XIV 9-25
September 1996 di Jakarta sebanyak 1135 sampel.
Pada saat itu Laboratorium Pengawasan Doping Jakarta yang dilengkapi
dengan peralatan canggih serta sumber daya manusia yang handal merupakan satusatunya laboratorium di indonesia yang memiliki kemampuan khusus dalam
memeriksa seorang atlet yang baru selesai mengikuti nomor final suatu kejuaraan
cabang olah raga atau pada saat pelatihan, apakah menggunakan obat atau minuman
yang bersifat doping, sehingga pemeriksaan laboratorium hanya untuk masyarakat
olah raga. Pada saat itu Laboratorium Pengawasan Doping Jakarta yang dilengkapi
dengan peralatan canggih serta sumber daya manusia yang handal merupakan satusatunya laboratorium di indonesia yang memiliki kemampuan khusus dalam
memeriksa seorang atlet yang baru selesai mengikuti nomor final suatu kejuaraan
cabang olah raga atau pada saat pelatihan, apakah menggunakan obat atau minuman
yang bersifat doping, sehingga pemeriksaan laboratorium hanya untuk masyarakat
olah raga.
Dalam rangka mewujudkan praktek profesional yang baik dalam pelaksanaan
pemeriksaan laboratorium sehingga seluruh hasil kerjanya terjamin mutunya dan
dapat

dipertanggung

jawabkan,

serta

mengutamakan

kepuasan

pelanggan,

Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi DKI Jakarta mengimplementasikan SNI


ISO/IEC( ISO /IEC 17025:2005 )Dan telah memperoleh sertifikat Akreditasi No. LP157-IDN pada tanggal 6 November Tahun 2002. Akreditasi laboratorium dari
SARPEDAL-BPLHD pada tanggal 11 Mei 2009. Untuk menjamin mutu pemeriksaan
laborstorium, Laboratorium Kesehatan Daerah Provisi DKI Jakarta ikut serta dalam
Profiency Test dari Komite Akreditasi Nasional (KAN), Program Nasional
Pemantapan Mutu Eksternal dari Departemen Kesehatan RI, AUSTOX, Urine
Toxicology Profiency Programmed an Sample Control dan program pemantapan
mutu internal.

Gambar 1. Laboratorium Kesehatan Daerah Provisi DKI Jakarta


2.2

Visi dan Misi

2.2.1

Visi
Laboratorium terpercaya dengan pelayanan terbaik dan mampu bersaing

secara Nasional dan International menuju Jakarta Sehat Untuk Semua Tahun 2017.
2.2.2

Misi

a. Melaksanakan pemeriksaan doping, mutu obat dan makanan, air, toksikologi,


NAPZA serta menunjang pemeriksaan penyakit epidemiologis dengan hasil

yang akurat, terpercaya dan dapat dipertanggungjawabkan, dan tidak


dipengaruhi pihak lain.
b. Menjadi laboratorium rujukan dengan kemampuan teknologi tinggi dan
karyawan yang andal
c. Meningkatkan mutu pengujian, sumber daya manusia dan sarana penunjang
secara terus menerus sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.
d. Menjalin kemitraan dengan institusi terkait dan masyarakat lain.

2.3

Tugas Pokok dan Fungsi Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi DKI

Jakarta
Berdasarkan Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 139 Tahun
2010 tentang Pembentukan Organisasi dan Tata Kerja Laboratorium Kesehatan
Daerah.
Susunan organisasi Laboratorium Kesehatan Derah, terdiri dari :
a. Kepala Unit
b. Kepala Sub Bagian Tata Usaha
c. Kepala Satuan Pelaksana Laboratorium Kimia dan Pemeriksaaan Doping
d. Kepala Satuan Pelaksana Laboratorium Kesehatan Masyarakat
e. Satuan Pengawas Internal
f. Sub Kelompok Jabatan Fungsional

Tugas pokok dan fungsi dari organisasi tersebut , antara lain :


a. Kepala Laboratorium mempunyai tugas:
1. Memimpin dan mengkordinasikan pelaksanaan tugas dan fungsi Laboratorium
Kesehatan Daerah yang mempunyai tugas melaksanakan pemeriksaan doping,
mutu obat, makanan dan minuman, NAPZA, mikrobiologi, serta pemeriksaan
penunjang penyakit epidemiologi, air, tokikologi serta kesehatan masyarakat
secara laboratoris.
2. Mengkordinasikan pelaksanaan tugas subbagian, seksi satuan pengawas
internal, dan subkelompok jabatan fungsional
3. Melaksanakan kordinasi dan kerja sama dengan stuan kerja perangkat daerah,
unit kerja perangkat daerah atau pihak terikat, dalam rangka pelaksanaan
tugas dan fungsi Laboratorium Kesehatan Daerah .
4. Melaporkan dan mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas dan fungsi
Laboratorium Kesehatan Daerah
b. Kepala Sub Bagian Tata Usaha mempunyai tugas :
1. Menyusun bahan Rencana Kerja dan Anggaran (RKA) dan Dokumen
Pelaksanaan Anggaran (DPA) Laboratorium Kesehatan Daerah sesuai dengan
lingkup tugasnya
2. Melaksanakan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Laboratorium
Kesehatan Derah sesuai dengan lingkup tugasnya
3. Melaksanakan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Dokumen Pelaksanaan
Anggaran ( DPA) Laboratorium Kesehatan Daerah.

4. Mengkordinasikan penyusunan rencana strategis Laboratorium Kesehatan


Daerah
5. Melaksanakan penelolaan kepegawaian, keuangan dan barang.
6. Melaksanakan kegiatan pemasaran pelyanan laboratorium kesehatan
7. Melaksanakan pengelolaan teknologiinformasi laboratorium kesehatan
8. Melaksanakan kegiatan kerumahtanggaan, surat menyurat dan kearsipan.
9. Melaksanakan pemeliharaan dan perawatan prasarana dan sarana kerja.
10. Memeliharan keamanan, keteriban, keindahan dan kebersihan kantor.
11. Melaksanakan kegiatan koordinasi, kemitraan dan kerjasama pelayanan
laboratorium dengan sarana pelayanan kesehatan milik daerah, milik
pemerintah/BUMN/swasta/masyaraat.
12. Melaksanakan punlikasi kegiatan dan pengaturan acara laboratorium
Kesehatan Daerah.
13. Mengkordinasi penyusunan laporan keuangan, kinerha, kegiatan dan
akuntabilitas Laboratorium Kesehatan Daerah
14. Menyiapkan bahan laporan Lboratorium Kesehatan Derah yang terkait dengan
tugas sub bagian tata usaha.
15. Melaporkan da mempertangungjawabkan pelaksanaan tugas subbagian tata
usaha.
c. Kepala Satuan Pelaksanaan Pemeriksaan Doping dan Kimia mempunyai tugas :

1. Menyusun bahan Rencana Kerja dan Anggaran ( RKA) dan Dokumen


Pelaksanaan Anggaran (DPA) Laboratorium Kesehatan Daerah sesuai dengan
lingkup tugasnya.
2. Melaksanakan Dokumen Pelaksanaan Anggaran (DPA) Laboratorium
Kesehatan Daerah sesuai dengan lingkup tugasnya.
3. Menyusun standar dan pelayanan pemeriksaan doping dan kimia
4. Melaksanakan pemeriksaan senyawa doping lainya didalam cuplikan urin,
darah atau lainnya.
5. Melaksanakan pemeriksaan mutu obat, makanan, minuman dan senyawa
lainnya.
6. Melaksanakan pemeriksann skrining dan konfirmasi NAPZA dan alkohol.
7. Melaksanakan pemeriksaan toksikologi.
8. Merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan laboratorium untuk kegiatan
penelitian.
9. Menyusun dan melaksanakan pengembangan metode dan teknik pemeriksaan
laboratorium.
10. Melaksanakan kegiatan pemantapan mutu internal dan eksternal
11. Menyiapkan penyiapan alat media dan reagensia yang diperlukan.
12. Menyusun rencana kebutuhan dan penyediaan, pemeliharaan dan perawatan
peralatan laboratorium.
13. Melaksanakan monitoring dan evaluasi kelayakan peralatan laboratorium.

14. Melaksanakan pemeliharaan perawatan peralatan laboratorium.


15. Mengelola limbah laboratorium kesehatan
16. Melaksanakan K3 ( Kesehatan dan Keselamatan Kerja) di laboratorium
kesehatan.
17. Melaksanakan kegiatan pelayanan fasilitas, pendidikan, pelatihan, penelitian
dan pengembangan dalam lingkup tugas dan fungsi Laboratorium Kesehatan
Daerah.
18. Melaksanakan pelaporan dan evaluasi hasil pelayanan pemeriksaan.
19. Menyiapkan bahan laporan Laboratorium Kesehatan Daerah yang terkait
dengan tugas seksi pemeriksaan doping dan kimia.
20. Melaporkan

dan

mempertanggungjawabkan

pelaksanaan

tugas

seksi

pemeriksaan doping dan kimia.

d. Kepala Satuan Pelaksana Laboratorium Kesehatan Masyarakat / Manajer


t=Teknis Kesehatan Masyarakat Mempunyai tugas :
1. Menyusun bahan Rencana Kerja dan Anggaran ( RKA ) dan Dokumen
Pelaksanaan Anggaran ( DPA) Laboratorium Kesehatan Daerah sesuai dengan
lingkup tugasnya.
2. Melaksanakan Dokumen Pelaksanaan Anggaran ( DPA ) Laboratorium
Kesehatan Daerah sesuai dengan lingkup tugasnya.
3. Menyusun standar dan prosedur pelayanan pemeriksaan laboratorium
kesehatan masyarakat.

4. Melaksanakan pemeriksaan mutu air


5. Melaksanakan pemeriksaan penunjang penyakit dibidang epidemiologi
( serologi, imunologi, virologi, bakteriologi dan lainnya.)
6. Melaksanakan pemeriksaan dibidang patologi klinik ( hematologi, kimia
klinik, mikrobiologi, imunologi, parasitologi dan lainnya)
7. Melaksanakan pemeriksaan pencemaran kesehatan lingkungan.
8. Merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan laboratorium untuk kegiatan
penelitian.
9. Menyusun dan melaksanakan pengembangan metode dan teknik pemeriksaan
laboratorium.
10. Melaksanakan kegiatan pemantauan mutu internal dan eksternal.
11. Melakukan penyiapan alat media dan reagensia yang diperlukan
12. Melaksanakan pemeliharaan dan perawatan laboratorium.
13. Mengelola limbah laboratorium kesehatan.
14. Melaksanakan K3 ( Kesehatan dan Keselamatan Kerja) di laboratorium
kesehatan.
15. Melaksanakan pemeriksaan laboratorium untuk kegiatan KLB ( Kejadian
Luar Biasa (, bencana dan New RE Emergency Discase.
16. Melaksanakan kegiatan pelayanan fasilitas, pendidikan, pelatihan, penelitian
dan pengembangan dalam lingkup tugas dan fungsi Laboratorium Kesehatan
Daerah.

17. Menyusun rencana kebutuhan penyediaan pemeliharaan dan perawatan


peralatan laboratorium.
18. Melaksanakan monitoring dan evaluasi kelayakan peralatan laboratorium.
19. Melaksanakan pelaporan dan evaluasi hasil pelayanan pemeriksaan.
20. Menyiapkan bahan laoran Laboratorium Kesehatan Daerah yang terkait
dengan tugas seksi pemeriksaan kesehatan masyarakat.
21. Melaporkan

dan

mempertanggungjawabkan

pemeriksaan kesehatan masyarakat.

pelaksanaan

tugas

seksi

2.4

Susunan Organisasi Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi DKI

Jakarta

BAGAN SUSUNAN ORGANISASI


LABORATORIUM KESEHATAN DAERAH
PROVINSI DKI JAKARTA BERDASARKAN PERATURAN
GUBERNUR PROVINSI DKI JAKARTA NO.139 TAHUN 2010

KEPALA UNIT
UNIT
KEPALA
SUB BAGIAN
BAGIAN
SUB
TATA USAHA
USAHA
TATA
SATUAN
SATUAN
PELAKSANA
PELAKSANA
LABORATORIUM
LABORATORIUM
PEMERIKSAAN
PEMERIKSAAN
DOPING
DOPING
DAN KIMIA
KIMIA
DAN

SUB
SUB
KELOMPOK
KELOMPOK
JABATAN
JABATAN
FUNGSIONAL
FUNGSIONAL

SATUAN
SATUAN
PELAKSANA
PELAKSANA
LABORATORIUM
LABORATORIUM
PEMERIKSAAN
PEMERIKSAAN
KESEHATAN
KESEHATAN
MASYARAKAT
MASYARAKAT

SATUAN
SATUAN
PENGAWASAN
PENGAWASAN
INTERNAL
INTERNAL

Gambar 2. Struktur Organisasi Laboratorium Kesehatan Daerah


Provinsi DKI Jakarta

BAGAN SUSUNAN ORGANISASI


LABORATORIUM KESEHATAN DAERAH
PROVINSI DKI JAKARTA BERDASARKAN PERATURAN
GUBERNUR PROVINSI DKI JAKARTA NO.139 TAHUN 2010

KEPALA LABKESDA
Drs. Endra Muryanto, Apt,
MM

Ka. SUB BAGIAN TATA


USAHA
Dra. Wahyu Renggani,
Apt

Ka. SATLAK
LABORATORIUM
PEMERIKSAAAN
KESEHATAN
MASYARAKAT
Hasfiah Fattah, Ss.Si

Ka. SATLAK
LABORATORIUM
PEMERIKSAAN
DOPING
DAN KIMIA
Dra. Ernawati
Simanjuntak, M.Si
SUB
KELOMPOK
JABATAN
FUNGSIONAL

SATUAN

PENGAWASAN
INTERNAL

Gambar 3. Struktur Anggota Organisasi Laboratorium Kesehatan


Daerah Provinsi DKI Jakarta
2.5 Jenis Layanan Pemeriksaan Laboratorium
2.5.1 Laboratorium Pemeriksaaan Doping dan Kimia
2.5.1.1 Laboratorium Obat dan Makanan
A. Pemeriksaan Obat
Obat dapat didefinisikan sebagai zat yang dimaksud untuk dipakai diagnosis,
mengurangi rasa sakit, mengobati atau mencegah pada manusia dan hewan.

Agar memberikan efek yang maksimum, obat harus diminum dalam jumlah
yang cukup pda jangka waktu yang ditetapkan. Jumlah berarti berhubungan dengan
kadar zat aktif di dalam kesediaan obat. Penyimpanan merupakan salah satu faktor
yang penting dalam mempertahankan kualitas obat, karena penyimpanan yang salah
akan mempengaruhi kadar zat aktif obat yang akhirnya berpengaruh pada efektifitas
obat.
Selain kadar, kecepatan absorpsi juga berpengaruh pada kualitas obat. Untuk
dapat diabsorbsi suatu obat harus larut dalam cairan tubuh. Proses melarutnya suatu
obat di dalam tubuh dapat diketahui dari pemeriksaan disolusi.
Berdasarkan aktifitas tarapeutik, obat dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Analgetik
2. Antimikroba
3. Sedatif ( Penenang )
4. Tuberkulostatik
5. Hipnotik
6. Antihistamin
7. Antihipertensi
8. Vitamin
9. Antihelmintika
Parameter- parameter yang diuji untuk pemeriksaan obat mencakup penetapan
kadar dan disolusi meliputi :

1. Tablet parasetamol.
2. Sirup parasetamol
3. Tablet amoksilin
4. Kapsun amoksilin
5. Suspensi ampisilin
6. Tablet siprofloksasi
7. Tablet kontromoksazol
8. Tablet klorfenilamin maleat
9. Tablet glibenklamid
10. Tablet metoklopramid
B. Pemeriksaan Makanan
Menurut Peraturan

Menteri Kesehatan RI Nomor 033 Tahun 2012 yang

dimaksud bahan tambahan makanan adalah bahan yang ditambahkan ke dalam


pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan.
Bahan Tambahan Makanan menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No 033
Tahun 2012, terdiri dari beberapa golongan yaitu :
1. Antibuih
2. Antikempal
3. Antioksidan

4. Humektan
5. Pelapis
6. Pemanis
7. Pembawa
8. Pembuih
9. Pengatur Keasaman
10. Pengawet
11. Pengembang
12. Pengemulsi
13. Pengental
14. Bahan pengkarbonasi
15. Garam Pengemulsi
16. Gas untuk Kemasan
17. Pengeras
18. Penguat Rasa
19. Peningkat Volume
20. Penstabil
21. Peretensi Warna

22. Pembentuk Gel


23. Perisa
24. Perlakuan Tepung
25. Pewarna
26. Propelan
27. Sekuesteran
Oleh karena itu, masyarakat perlu dilindungi dari makanan yang menggunakan
bahan

tambahan makan yang tidak memenuhi

persyaratan.Sesuai

dengan

pertimbangan di atas, dibutuhkan standar kualitas bahan tambahan makanan yang


tercantum dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 033 Tahun 2012.
Standars Operating Procedure (SOP) dibuat untuk pengujian bahan tambahan
makanan, meliputi:
a. Penetapan

Kadar

Benzozat,

Sorbat

dan

Sakarin

dalam

Saos

(IK.227/LDJ/2004)
b. Penetapan

Kadar

Benzoat,

Sorbat

dan

Sakarin

dalam

Kecap

(IK.234/LDJ/2004)
c. Penetapan Kadar Benzoat, Sorbat dan Sakarin dalam Jeli (IK.244/LDJ/2004)
d. Penetapan Kadar Benzoat, Sorbat dan Sakarin dalamMinuman Ringan
(IK.254/LDJ/2004)
e. Penetapan

Kadar

(IK.246/LDJ/2004)

Benzoat,

Sorbat

dan

Sakarin

dalam

Sirup

f. Identifisi Formalin dalam Makanan (IK.308/LDJ/2006 dan IK.309/LDJ/2006)


g. Penetapan Kadar Melamin dalam Susu dan Biskuit (IK.345/LDJ/2009)
C. Ruang Lingkup
Laboratorium pemeriksaan Obat dan Makanan mengacu pada Farmakope
Indonesia (FI), United States Pharmacope (USP), Clarkes Isolation and
Identification of Drugs dan Metode Analisa PPO 43/MA/1993.
Jenis sampel yang diperiksa pada Laboratorium Obat dan Makanan adalah
semua jenis obat dan makanan yang beredar di masyarakat.
Jenis Pemeriksaan meliputi:
a) Organoleptik meliputi bentuk, bau, warna dan rasa
b) Uji disintegrasi obat/ disolusi obat
c) Penetapan kadar obat dan makanan secara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
(KCKT), Spektrofotometri Ultrahaya Tampak dan titrasi
d) Uji cemaran logam berat dalam makanan
e) Bahan Tambahan Makanan (BTM), zat warna , pengawet, dan pemanis.
D. Instrumentasi
Instrumentasi yang terdapat pada Laboratorium Pemeriksaan Obat dan
Makanan sebagai berikut:
1. HPLC
2. Syringe 100 dan 500

3. Kolom C-18
4. Penyaring Buchner
5. Membran filter milipore 0,2 dan 0,45
6. Alat gelas
7. Alat destilasi
8. Rapid Test Quantofix
9. LC-MSMS,waters
10. Kolom, Atlantis, diameter 4.6X150mm, Thickness 50
11. Gas Nitrogen: 90-120 psi, Argon : 7 psi
12. Disolusi (pemeriksaan obat)
13. Spektrofotometer UV-Cahaya Tampak( Pemeriksaanobat dan makanan)
14. Sinar UV 254 nm dan 336 nm ( pemeriksaan makanan)
2.5.1.2 Laboratorium Toksikologi
A. Pemeriksaan Toksikologi
Buangan yang memasuki lingkungan akan bertambah banyak berupa zat beracun
dan berbahaya (B3) dan jumlahnya akan semakin bertambah dan beragam. Perhatian
pengaruh B3 terhadap kesehatan masyarakat menginspirasi rencana registrasi bahan
baru sebelum dipakai secara komersil.Di Indonesia aturan ini telah dituangkan dalam
bentuk Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 472 Tahun 1996 tentang Aturan untuk
Registrasi B3. Dalam kata lain ilmu toksikologi sangat dibutuhkan untuk melakukan

uji toksisitas suatu bahan baku sebelum beredar di masyarakat.Toksikologi


merupakan ilmu yang mempelajari tentang kerusakan pada organisme yang
diakibatkan oleh paparan suatu materi, substansi atau energi, selain itu juga
mempelajari efek racun serta metabolisme yang terjadi pada organisme kesehatan
masyarakat baik secara kuantitatif maupun kualitatif.Bahan toksik dapat berasal dari
organisme hifup, mengandung karbon dan umumnya merupakan molekul besar.
Selain dapat diperoleh dari alam juha dapat disintesis. Beberapa contoh paaparan zat
organik adalah paparan senyawa benzene, toluene, xilena dan senyawa- senyawa
organik yang memiliki rantai hidrokarbon siklik lainnya. Senyawa senyawa ini ketika
masuk kedalam tubuh dalam jumlah yang berlebih dapat menyebabkan penyakit
kanker paru- paru, leukimia, gangguan sistem saraf pusat dan lain-lain. Menurut
IARC (International Agency for Research on Cancer) menyimpulkan bahwa senyawa
benzena termasuk karsinogenik grup 1 ( karsinogenik untuk manusia).
Toksikologi anorganik merupakan zat kimia spesifik yang tidak diperoleh dari
mahluk hidup (mineral). Umumnya molekul kecil yang terdiri dari beberapa atom
atau berasal dari unsur-unsur logam yang memiliki massa jenis yang besar dan
memiliki kelimpahan yang banyak di alam ( Logam berat). Logam dapat memasuki
tubuh manusia melalu inhalasi maupun oral. Absorpsi perinhalasi dapat terjadi
apabila logam bebentuk debu halus antara 2-5 . Logam yang diabsorbsi lewat
gastrointestinal akan berdifusi dan bereaksi dengan organ target sehingga memiliki
efek yang beragam. Logam yang tidak terakumulasi akan diekkresi lewat berbagai
organ seperti ginjal, usus, rabut, kuku, keringat dan kulit tergantung pH dan jumlah
asam amino yang mengikatnya.
Beberapa contoh logam yang dapat mengganggu fungsi organ.
a. Air Raksa (Hg)
Berat atom : 200,59 g/mol

Hg yang diabsorbsi akan masuk kedalam darah, ginjal, hati, limpa dan tulang,
ekskresi lewat urin, feses, keringat, air susu dan saliva. Hg organik dapat merusak
susunan saraf pusat, lapngan penglihatan menciut perubahan kepribadian. Hg
anorganik dapat merusak ginjal dan dapat menyebabkan cacat bawaan.
b. Arsen (As)
Berat atom : 74,92 g/mol
Keracunan akut dapat memyebabkan gejala muntaber disertai darah, koma,
meninggal menimbulkan anorexia, kolik, mual, diare dan icterus pendarahan
c. Cadmium (Cd)
Berat atom : 112,4 g/mol
Keracunan akut dapat menyebabkan gejala gastrointestinal dan ginjal.Secara
kronis menyebabkan penyakit dengan gejala sakit pinggang tulang rapuh, tekanan
darah tinggi, kerusakan ginjal, gejala seperti influenza dan kemandulan pada lakilaki.
d. Timbal (Pb)
Berat atom : 207, 19 g/mol
Logam Pb tidak dapat larut dalam air namun dalpat larut dalam asam nitrat dan
asam sulfat pekat. Di dalam jaringan tubuh memiliki kelarutan yang cukup besar
dan bersifat toksik khusus nya ketika terinhalasi senagai asap atau partikel halus.
Logam Pb umumnya cenderung berakumulasi di dalam tubuh dan merusak
jaringan saraf.
e. Nikel (Ni)

Berat atom : 58,71 g/mol


Keracunan akut akan menyebabkan sakit kepala, vertogo, mual , susah tidur,
iritasi, batuk kering, gangguan lambung dan badan lemah. Secara kronis akan
menyebabkan gangguan pernapasan dan infeksi pernapasan.
Standard Operating Procedure dibuat untuk pengujian sampel toksikologi.
Parameter yang diuji meliputi :
1) Pengujian logam dalam darah dengan ICPs
a. Timbal (Pb)
b. Kadmium (Cd)
c. Kromium (Cr)
d. Nikel (Ni)
e. Tembaga (Cu)
f. Arsen (As)
2) Pengujian Logam dalam urin dengan ICPs
a. Timbal (Pb)
b. Kadmium (Cd)
c. Kromium (Cr)
d. Nikel (Ni)
e. Tembaga (Cu)

f. Arsen (As)
B. Ruang Lingkup
Jenis sample yang diperiksa pada laboratorium toksikologi adalah urin, cairan
lambung, cairan mulut, darah dan tanah.
Jenis pemeriksaanya meliputi :
a) Cholinestrase
b) Uji cemaran logam berat
c) Kasus luar biasa meliputi keracunan
d) BTX
C. Prinsip Kerja
Sample uji yang diukur dengan menggunakan alat ICP yang sebelumnya telah
dipreparasi dengan menggunakan asam.Prinsip kerja ICP terdiri dari aliran gas argon
yang terionisasi oleh gelombang radio khususnya pada kisarant\ 27,1 MHz.Pada
daerah ini terjadi penggabungan secara inklusif dengan gas yang terionisasi oleh
kabut air yang mengeilingi kuarsa torch yang mendukung terjadinya plasma. Sampel
dalam bentuk aerosol terdorong kedalam nebulizer dan spray chamber dan terbawa
menuju plasma melalui sebuah tabung yang terletak dalam torch yang mendukung
terjadinya torch. Sampel berupa aeosol terinjeksi secara langsung ke dalam plasma
dan teratomkan pada kisaran 6000 K hingga 8000 K. Karena itu hampir terjadi
penguraian sempurna di setiap molekul sehingga pengganggu kimia dapat
dihilangkan. Pada temperatur yang tinggi plasma akan mengeksitasi atom secara
emisi. Proses ionisasi akan menghasilkan spektrum emisi. Spektrum ini akan masuk
ke sebuah polikromator yang dapat terukur dalam komputer. Secara berurutan akan
muncul pada masing-masing panjang gelombang unsur dan diubah dalam bentuk

sinyal listrik yang besarnya sebanding dengan sinar yang dipancarkan oleh besarnya
konsentrasi unsur. Sinyal listrik ini kemudian diproses oleh sistem pengolah data.
D. Intrumen dan Peralatan
a) Memastikan instrumen dan peralatan yang akan digunakan sudah terpasang dalam
keadaan baik, catat setiap pemakaian alat pada log book.
b) Hot plate
c) Labu volumetri
d) Transferpette
e) Erlenmeyer
2.5.1.3 Laboratorium Pemeriksaan Doping
A. Pemeriksaan Doping
Doping adalah penggunaan bahan-bahan kimia maupun alami yang
memperbaiki kondisi fisik dan psikologi atlet sebelum atau selama pertandingan yang
memberikan efek merugikan bagi para atlet. Penggunaan zat ini dilarang oleh World
Anti Doping Agency (WADA). Pemakaian doping dapat dilakukan secara terencana
yang bersangkutan atas inisiatif

sendiri, terencana sesuai dengan program

pelatihan/dokter/orang lain dengan atau tanpa sepengetahuan atlet yang bersangkutan


atau tidak disengaja karena ketidaktahuan.
Pemeriksaan doping merupakan pemeriksaan suatu zat (kimia, sintetis, atau
alami) yang alami yang secara artificial mempengaruhi kondisi fisik dan psikis atlet
(meningkat kemampuan tubuh secara tidak alami) sebelum atau sesudah pertandingan
yang membahayakan kesehatan atlet. Penetapan zat terlarang ini mengacu kepada

International Olympic Committe (IOC) dan sejak tahun 2004 diambil alih oleh World
Anti Doping Agency (WADA).
Pemakaian doping dapat dilakukan secara terencana atas inisiatif sendiri,
terencana sesuai program pelatih/dokter/orang lain dengan atau tanpa sepengetahuan
atlet yang bersangkutan atau tidak disengaja karena ketidaktahuan.
Tugas utama laboratorium pemeriksaan doping adalah memeriksa atlet, dalam
hal ini memeriksa urin atlet apakah menggunakan obat-obatan ataupun metode yang
dilarang oleh WADA untuk tujuan meningkatkan kerja atlet atau segera setelah
bertandingan dalam final suatu cabang olahraga baik dalam berskala nasional maupun
internasional, antara lain :
1. Pekan Olahraga Nasional (PON)
2. Sea Games
3. Kejuaraan nasional dari cabang-cabang di bawah KONI
4. Kejuaraan dunia dari cabang-cabang olahraga
5. Kejuaraan-kejuaraan

internasional

dari

berbagi

cabang

olahraga

yang

dilaksanaakan di Indonesia.
Selain pemeriksaan sampel doping kejuaraan suatu cabang olahraga baik yang
berskala nasional maupun internasional di Indonesia yang tidak sepanjang waktu.
Laboratorium

pemeriksaan

doping

melakukan

kegiatan

penelitian

serrta

pengembangan tentang doping yang meliputi metode pemeriksaan, hal-hal yang


berhubungan dengan obat-obatan dan food supplement olahraga lain.
Unuk mengoptimalkan sarana yang ada, di waktu yang akan datang, segera
setelah mendapat WADA, laboratorium pemeriksaan doping akan memasarkan jasa

pemeriksaan doping ke mancanegara, khususnya negara-negara Asia Pasifik yang


tidak mempunyai laboratorium doping.
Jenis sampel yang diperiksa adalah urin dan darah. Zat yang dilarang sebagai
doping adalah (Amfepramone, Amiphenazole, Amphetamine, Bromatan, Caffeine,
Carphedon, Cathine, Clobenzorex, Cocaine, Cropropamide, Ephedrine, Etamiven,
Etilamphetamine, Etilferin, Fencamfamin, Fenetyllin, Fenfluramin, Fenroporex,
Heptaminol,

Metamphetamine,

Methylephedrine

dan

Mefenorex,

lain-lain);

Methylenedioxy

Narkotik-Analgetik

Amphetamine,
(Buprenorphine,

Dextromoramide, Heroin, Hydrocodone, Methadone, Morphine, Pentazocine,


Pethidine); Senyawa anabolik (Androstenediol, Bambuterol, Bolasterone, Boldenone,
Danazol, Fenoterol,

Fluoxymesterone, Gastrinone,

Methandriol,

Metanolone

Oxymetholone, Salbutamol, Stanozolol dan lain-lain); Diuretika (Acetazolamide,


Amiloride, Bumetanide, Canrenone, Furosemide, Hydrochlorthiazide, Manitol,
Mersalyl, Sprinolactone, Triamterene); Masking agent (Diuretika, Epitestosteron,
Hydroxyl ethyl starch, probenecid); Hormon peptida mimetik dan analog (ACTH,
Insulin, Erythropoietin); Senyawa dengan aktifitas anti estrogen (Clomiphene,
Cyclofenil, Tamoxifen); Penghalang beta (Acebutolol, Atenolol, Bunolol, Carteolol,
Levobunolol dan lain-lain).
a. Prosedur Pengambilan Sampel
Pengambian sampel urin untuk pemeriksaan doping dapat dilakukan saat
pertandingan (in-competition) atau di luar pertandingan (out of competition) dengan
cara:
1. Pemberitahuan terlebih dahulu kepada atlet dan atlet menandatangani
pemberitahuan tersebut
2. Melapor pada pemeriksa doping atlet dengan meperlihatkan tanda pengenal dan
menandatangani formulir

3. Menunggu saat pengambilan sampel urin


4. Memilih botol tempat penampung urin yang terdapat dalam kantong plastik,
disaksikan oleh pendamping atlet
5. Atlet pergi ke toilet menampung air seninya sebanyak minimal 100 cc,
didampingi oleh petugas untuk melihat langsung proses pengeluaran urin
6. Memilih botol urin sampel yang terdiri dari dua botol yaitu botol A dan botol B
yang telah bernomor dan berlabel, disaksikan oleh pendamping atlet
7. Pembagian volume urin, setengah isi botol penampung dituang ke dalam botol A
dan setengah dituang ke dalam botol B
8. Petugas memberi nomor pada botol dan formulir, disaksikan oleh pendamping
atlet
9. Petugas memasukkan botol yang telah ditutup rapat ke dalam tas
10. Atlet menulis daftar obat-obatan yang dikonsumsi dalam jangka waktu 72 jam (3
hari) terakhir, disaksikan oleh pendamping atlet
11. Atlet, pendamping atlet dan petugas pengambil sampek menandatangani formulir
pengambilan sampel tersebut
b. Penerimaan Sampel
Penerimaan Sampel urin untuk pemeriksaan doping melalui beberapa alur sebagai
berikut, yaitu :
4

Loket menerima sampel A dan B dalam wadah yang bersegel dari komisi medis
cabang olahraga yang dibawa oleh petugas pengantar sampel beserta formulir
pengawas doping dari komisi medis

Petugas penerima sampel (loket) memeriksa nomor kode sampel, segel wadah,
kelengkapan formulir dan jumlah total sampel

Petugas penerima sampel (loket) memberitahukan kepada bagian laboratorium


doping dan mengantarkan sampel ke laboratorium doping

c. Pra-Preparasi
Pra-preparasi urin untuk pemeriksaan doping dilakukan dengan cara:
1. Petugas pra-preparsi menerima sampel doping dan oetugas penerima sampel
(loket) dan menandatangani formulir penyerahan sampel
2. Konfirmasikan terlebih dahulu kepada manager mutu untuk ditanyakan ada
tidaknya penambahan sampel kontrol (Blind Sampel) dalam tiap batch sampel
yag akan diuji
3. Siapkan tabung-tabung sampel yang telah diberi nomor laboratorium dalam rak
sesuai dengan bagian pengujian doping dan tabung ntuk mengukur pH
4. Ukur volume sampel dengan cara: Bandingkan tinggi urin sampel didalam botol
sampel dengan botol standar yang tertera ukuran volumenya yang menunjukkan
perkiraan volume urin sampel
5. Ukur bobot jenis (BJ) sampel dengan cara:
a) Hidupkan alat dengan menekan tombol START/OFF
b) Bersihkan tempat sampel dengan tissue
c) Teteskan aquabides (BJ 1,000) ke tempat sampel
d) Tekan tombol zero, display akan menujukkan 000

e) Bersihkan tempat sampel dengan tissue


f) Teteskan sampel ke tempat sampel
g) Tekan START/OFF
h) Catat hasil botot jenis sampel yang tertera pada LCD (4 angka di belakang
koma)
i) Jika ingin mengukur sampel selanjutnya, lakukan kembali prosedur nomor 58. Jika ingin mematikan alat tunggu 3 menit alat akan otomatis mati,
kemudian bilas tempat sampel dengan aquabides dan keringkan dengan tissue.
6. Pipet sampel ke dalam tabung bernomor laboratorium yang telah disiapkan dengan
ketentuan sebagai berikut:
Pemeriksaan

Volume Urin

Diuretik

Narkotik

Glukokortikosteroid

HcG

Stimulan

Free Steroid

Conj. Steroid

Tergantung BJ

Conj. Steroid di pipet tergantung Bobot Jenis (BJ) sebagai berikut:


Bobot Jenis

Volume Urin

> 1,015

1,010 1,015

1,005 1,010

1,000 1,005

16

Prosedur pemipetan sampel atau ketentuan di atas dapat digunakan


jika alat LC-MS rusak atau tidak dapat digunakan. Jika alat LC-MS dapat
digunakan, maka prosedur pemipetan sampel yang digunakan sebagai berikut:
Pemeriksaan

Volume Urin

Diuretik

Narkotik

Glukokortikosteroid

Stimulan

Free Steroid

Conj. Steroid

pH

7. Petugas pra-preparasi doping mendistribusikan sampel kepada analisis sesuai


dengan yang akan dianalisa
8. Sisa sampel A yang telah dipipet dan sampel B yang masih disegel disimpan
didalam freezer suhu 0oC
9. Petugas pra-preparasi dapat memusnahkan sampel doping A dan B, untuk sampel
positif setelah 90 hari terhitung saat laporan hasil penguji dikeluarkan dan untuk
sampel negatif 30 hari terhitung saat laporan hasil pengujian dikeluarkan.
d. Preparasi
Preparasi sampel urin dilakukan berdasarkan golongannya sebagai berikut:
1. Stimulan
Prinsip: metode ini meliputi ekstraksi sederhana terhadap senyawa-senyawa yang
bersifat basa ke dalam pelarut organik dan urin yang dibasakan pada pH 13 dan

dijenuhkan dengan natrium sulfat anhidrat. Hasil ekstraksi kemudian dianalisis


dengan kromatografi gas menggunakan detektor nitrogen fosfor (GC NPD).
Senyawa-senyawa stimulan yang cukup mudah menguap dapat diidentifikasikan
dengan melihat Retention time (RT) dan Relative Retention Time (RRT) dengan
membandingkan secara langsung terhadap standar atau excretion study.
2. Steroid dan Beta - Bloker
Free Steroid Analysis dalam urin berdasarkan metode ekstraksi cair-cair dengan
menggunakan interval standar stanozolol pada keadaan pH 7. Lapisan eter dipisahkan
dan diuapkan kemudian dilakukan derivatisasi dengan MS-Imidazol atau MSTFA (nmethyl-n-trimethylsilyl fluoroacetamide). Hasilnya dianalisis dengan menggunakan
Gas Chromatography (GC) Mass Selective Detector (MSD) yang diinterpretasikan
dengan metode SLM (Selective Ion Monitoring).
Conjugated Steroid dan beta-bloker: dilakukan dengan menggunakan fase pada
PAD2 Resin (SERVA) ata Sep-Pak C-18 Nexus di mana anabolik steroid tersebut
tertahan pada resin kemudian dielusi dengan metanol. Proses selanjutnya adalah
hidrolisis pada pH 7 dengan enzim glukoronidase pada pH 9 dengan penambahan
solid buffer, kemudian dilakukan ekstraksi cair-cair dengan menggunakan dietil eter.
Lapisan eter diuapkan dan dilakukan derivatisasi dengan MSTFA/NH4/Ethanetiol.
Hasilnya dianalisis dengan menggunakan GC-MS.
3. Diuretik dan Narkotik
Prinsip: metode ini adalah ekstraksi alkilasi golongan diuretik atau narkotik
dengan mempermudah penguapan senyawa bersifat asam melalui proses derivatisasi
metil iodida dalam suasana basa, urin diperlukan secara langsung dengan
menambahkan metil iodida dan akan membentuk suatu fase yang akan mengikat
TFIA+. Senyawa terbentuk diekstraksi dengan toluen untuk golongan diuretik dan
Tertier Buthyl Methyl Eter (TBME) untuk golongan narkotika, sebagai fase organik.

Kelebihan TFIA+ dipindahkan melalui resin XAD-7 dan akan diabsorpsi oleh resin
ini, sedangkan turunan metil yang bersifat kurang polar tidak diabsorpsi, ditampung
untuk pemeriksaan GC-MS setelah diuapkan dan akan dilarutkan dengan metil asetat.
Idetifikasi awal senyawa ini dilakukan dengan menggunakan alat GC-MSD dengan
analisis SIM yang secara langsung membandingkan dengan standar atau studi
ekskresi.
4. Glukokortikosteroid
Prinsip kerja analisis glukokortikosteroid yang terkonjugasi dengan asam
glukoronan berdasarkan pemisahan menggunakan fase padat (Sep-Pak C-18) yang
kemudian dilakukan hidrolisis pada pH 7 dengan enzim 3-glucoronidase pada pH 9
dengan penambahan solid buffer, kemudian dilakukan ekstraksi cair-cair dengan
menggunakan Tertier Buthyl Methyl Eter (TBME).
Lapisan eter diuapkan dan dilarutkan dengan campuran asam asetat 1% dan
asetonitril dengan perbandingan 75:25. Hasilnya dianalisis dengan menggunakan
Liquid Chromatography dengan Detector Mass Selective (LC-MS-MSD), yang
diinterpretasikan dengan metode MRM dan membandingkannya terhadap standar
atau studi ekskresi.
e. Instrumentasi
Pemeriksaan untuk senyawa doping steroid, beta-bloker, diuretik, narkotik
menggunakan Gas Chromatography Mass Selectve Detector (GC-MSD). Senyawa
doping stimulan pemeriksaannya menggunakan Gas Chromatography Nitrogen
Phospirus Detector (GC-NPD) dan menggunakan Gas Chromatography Mass
Selectve Detector (GC-MSD), sedangkan untuk pemeriksaan HcG menggunakan
Immulite 1000. Untuk sebagian senyawa-senyawa diuretik, narkotik, 13-bloker,
glukokortikosteroid dan steroid dapat dianalisis menggunakan LC-MS-MS.
f. Analisis Data

Interpretasi hasil pemeriksaan senyawa doping menggunakan GC-MSD dan LCMS-MS dengan menggunakan membandingkan Retention Time (RT) dan setidaknya
tiga ion utama antara sampel dan standar, jika memberikan hasil yang sama, maka
sampel dinyatakan positif.
g. Laporan Hasil
Laporan hasil pengujian oleh analisis atau penyelia diserahkan kepada petugas
pembuat laporan untuk dibuat laporannya beserta surat pengantar dan ditandatangani
oleh manager teknis atau kepala seksi laboratorium pemeriksaan doping, kemudian
diserahkan ke sub bagian tata usaha untuk disampaikan kepada komisi medis
penyelenggaraan olahraga.
B. Pemeriksaan NAPZA (Narkotika, Psikotropika dan Zat Aditif lainnya)
Pemeriksaan NAPZA merupakan salah satu pelayanan laboratorium
pemeriksaan doping dalam memenuhi kebutuhan masyarakat yang memerlukan
pemeriksaan zat narkotika, atau psikotripik maupun zat adiktif lainnya yang
terkandung dalam tubuh dengan mengutamakan kecepatan dan keakuratan yang
didukung pelayanan yang ramah serta efisien.
Tujuan dari Pemeriksan Napza adalah untuk mendeteksi adanya zat narkotika
atau psikotropika maupun zat aditif lainnya dalam cairan tubuh, seperti obat-obatan
dalam golongan:
1. Amphetamine

(Amphetamine,

Metamphetamine,

Metamphetamine, Methylenedioxy amphetamine dan Inex)


2. Opiates (Codein, Morfin, Heroin)

Methylenedioxy

3. Benzodiazepines (Diazepam, Temazepam, Oxazepam, Nalorphine, Lorazepam,


Chlordiazepoxide,

Clobazepam,

Flurazepam,

Temazepam,

Prazepam,

Alprozolam, Estazolam, Nordiazepam)


4. Cannabis (THC)
5. Cocaine (Cocaine, Benzoylecgonine)
6. Methadone
7. Phencylidine
8. Propoxyphene (PXP, Nor PXP)
9. Alcohol
Adapun metode pengujian dari pemeriksaan NAPZA sebagai berikut:
a. Uji Skrinning (uji saring)
Dalam rangka penerimaan siswa/mahasiswa/karyawan baru maupun tindakan
pengawasan

terhadap

siswa/karyawan

lama,

rujukan

dari

dokter/rumah

sakit/laboratorium klinik, perorangan dan lain-lain. Sampel yang diperiksa adalah


urin. Alat yang digunakan adalah immunochromatography (Rapid Screening Test),
merupakan tes in vitro satu langkah untuk mendeteksi secara kualitatif senyawa
golongan NAPZA dan metabolitnya pada urin manusia di atas cut-off tertentu dengan
waktu 5 menit.
b. Uji konfirmasi (pemastian analisis)
Dalam rangka pemeriksaan yang berikatan dengan aspek hukum (law
enforcement), seperti pemeriksaan NAPZA pada karyawan yang terdeteksi positif
pada uji skrinning dan akan diberikan sanksi berupa skorsing, pemecatan atau yang
berkaitan dengan pengadilan untuk menghindari diberikannya sanksi pada orang yang
tidak bersalah. Sampel dapat berupa urin atau darah. Alat yang digunakan adalah Gas
Chromatography/ Mass Selective Detector (GC/MSD) yang mempunyai sensitivitas
dan spesitifitas yang sangat tinggi dan merupakan gold standard bagi pendeteksian

senyawa NAPZA. Proses analisis memerlukan waktu kurang lebih 4 (empat) hari dan
akan memberikan hasil pemeriksaan berupa identifikasi secara definitif jenis obat
yang digunaan dan kadar yang terkandung di dalamnya.
Sampel yang dibutuhkan adalah urin atau darah. Urin adalah sampel pilihan
(sample of choice) untuk pemeriksaan NAPZA. Selain praktis dan mudah diperoleh
kadar obat dan metabolit di dalam urin lebih tinggi daripada di dalam darah sehingga
pendeteksiannya lebih baik (kecuali alkohol).
Pengambilan sampel NAPZA berpedoman pada prosedur pengambilan sampel
doping. Yaitu yang bersangkutan akan diambil sampel urin atau darahnya yang
didampingi oleh petugas laboratorium sebagai saksi yang melihat. Hal ini penting
untuk menjamin bahwa sampel tersebut memang benar berasal dari orang itu sendiri
bukan sampel orang lain yang diganti atau dimanipulasi dengan cara lain.
Pengambilan

sampel

sekolah/instansi

yang

dapat
akan

dilakukan

di

melakukan

laboratorium

kami

maupun

pemeriksaan

NAPZA

di

terhadap

siswa/karyawannya.
2.5.2 Laboratorium Pemeriksaan Kesehatan Masyarakat
2.5.2.1 Laboratorium Mikrobiologi
A. Pemeriksaan Mikrobiologi
Laboratorium mikrobiologi mempunyai peranan yang sangat penting dalam
pengawasan mutu dan keamanan suatu produk/sampel secara mikrobiologi. Pengujian
mikrobiologi merupakan salah satu kelompok pengujian yang harus dilakukan oleh
suatu instansi atau Badan Pemeriksaan Obat dan Makanan.
Jenis pengujian mikrobiologi untuk masing-masing produk/sampel tidak
sama. Untuk produk/sampel makanan di uji cemaran mikrobanya (bakteri patogen).
Uji Angka Lempeng Total (ALT) merupakan tolak ukur mikrobiologi untuk
mengetahui kebersihan pengolahan dan penanganan sampel makanan ataupun sediaan
rias.
Untuk melakukan pengujian mikrobiologi terhadap produk-produk makanan,
sediaan rias, obat dan alat kesehatan diperlukan suatu metode analisa.
a. Pada dasarnya pengujian mikrobiologi untuk semua sampel harus melalui
beberapa tahap, yaitu:
1) Persiapan dan homogenitas sampel
2) Pengenceran

3)
4)
5)
6)

Inokulasi penanaman bakteri


Inkubasi
Isolasi/identifikasi atau perhitungan koloni
Pengambilan kesimpulan

Laboratorium ini bertujuan untuk menguji mikrobiologu makanan, minuman, air,


produk kosmetika, suplemen, obat tradisional dan PKRT serta mutu obat yang
dilakukan dengan cara pengujian potensi atau aktivitas dari antibiotik. Selain itu juga
dilakukan pemeriksaan penunjang penyakit epidemik (diare,dll) serta pemeriksaan
Kejadian Luar Biasa (KLB) seperti keracunan makanan.
b. Beberapa metode pengujian mikrobiologi yang dapat dilakukan, antara lain
sebagai berikut:
1) Angka Paling Mungkin (APM) atau Most Probable Number (MPN)
Metode MPN bertujuan untuk menguji jumlah total bakteri golongan koli
(Coliform) dan koli tinja (Fecal coli).
Pengujian MPN ini antara lain dilakukan untuk:
a) Air bersih
b) Air minum atau air minum dalam kemasan
c) Air kolam renang
d) Makanan
2) Koefisien Fenol
Pengujian koefisien fenol ini menunjukkan adanya daya hambat terhadap
pertumbuhan mikroba.
3) Pengujian Angka Lempeng Total (ALT)
Digunakan untuk menguji jumlah total mikroba aerob mesofil yang terhadap
dalam sediaan makanan, minuman, produk kosmetik atau lainnya.
4) Pengujian Salmonella
Digunakan untuk mengidentifikasi bakteri Salmonella thypi dalam sediaan
makanan, minuman, obat tradisional atau lainnya. Identifikasi dilakukan
melalui uji serologi.
5) Pengujian Escherichia coli
Metode ini digunakan untuk menentukan adanya bakteri E.coli yang
enterovirulen (penyebab penyakit dalam pencernaan), terbagi dalam beberapa
kelompok, yaitu:
a. Enterositogenetic E.coli (ETEC)

Penyebab gastroenteritis dan diare pada wisatawan.


b. Enterophatogenic E.coli (EPEC)
Penyebab diare pada bayi.
c. Enterohaemoragic E.coli (EHEC)
Penyebab pendarahan pada usus besar.
d. Enteroinvasif E.coli (EIEC)
Penyebab disentri basiler.
6) Pengujian Staphylococcus aureus
Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi bakteri Staphylococcus aureus
dalam makanan, minuman, kosmetik atau lainnya.
7) Pengujian Vibrio cholera
Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi bakteri Vibrio cholera dalam
makanan, minuman, obat tradisional atau lainnya.
8) Dan lain-lain.
C. Ruang Lingkup
Jenis sampel yang diperiksa dalam laboratorium ini adalah :
a) Makanan dan minuman dengan jenis pemeriksaan bakteri patogen dan kasus
b)
c)
d)
e)
f)
g)

keracunan makanan
Air meliputi air bersih, air minum dan air minum dalam kemasan
Usap alat
Usap rektal
Kosmetik dengan jenis pemeriksaan bakteri patogen dan jamur
Obat tradisional
Obat

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Bakteri yang diperiksa antara lain:


Escerichia coli
Salmonella typhi
Salmonella shigella
Vibrio cholera
Staphylococcus aureus
Staphylococcus epidermidis
Bacillus cereus
Legionella

2.5.2.2 Laboratorium Kimia Air

Air merupakan salah satu kebutuhan pokok bagi mahluk hidup, termasuk
manusia. Tetapi selain memberikan manfaat yang menguntungkan, air juga dapat
memberikan pengaruh buruk terhadap kesehatan manusia. Salah satu penyebabnya,
air yang tidak memenuhi persyaratan sangat baik sebagai media penularan penyakit.
Hal lain yang tak kalah penting, sebagian besar zat kimia mudah larut dalam air.
Sesuai dengan pertimbangan di atas dibutuhkan standar kualitas air sebagai
pedoman untuk melakukan penilaian terhadap air yang dikonsumsi konsumen.
Adapun parameter penilaian kualitas air tercantum pada berbagai peraturan yakni:
a. Peraturan Menteri Kesehatan No : 416/Menkes/Per/IX/1990 tentang Syarat-syarat
dan Pengawasan Kualitas Air (air bersih, air kolam renang dan air pemandian
umum).
b. Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/Menkes/Per/IV/2010 tentang Persyaratan
Air Minum.
c. Peraturan Gubernur Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta No.122 tahun 2005
tentang Penetapan Peruntukan dan Baku Mutu Air Sungai/Badan Air serta Baku
Mutu Limbah Cair.
d. Farmakope Indonesia, edisi IV tahun 1995 tentang Air Murni.
Beberapa parameter dapat menimbulkan masalah bagi kesehatan antara lain:
A. Parameter fisik
1. Suhu
Suhu sebaiknya sejuk atau tidak panas, terutama agar tidak terjadi pelarutan zat
kimia yang ada pada permukaan dalam saluran atau pipa, yang dapat
membahayakan kesehatan.
2. Warna
Air minum sebaiknya tidak berwarna untuk alasan estetis dan untuk mencegah
keracunan dari berbagai zat kimia maupun mikroorganisme yang berwarna.
Alamiah air rawa berwarna kuninng muda karena adanya tannin, asam humat, dan
lainnya. Karena warnanya menyerupai urine, air rawa tidak dikonsumsi
3. Bau

Air minum yang berbau selain tidak estetis juga tidak diterima oleh masyarakat.
Bau air dapat memberi petunjuk kualitas air. Sebagai contoh, bau anyir pada air
disebabkan oleh tumbuhnya alga dan sebagainya.
4. Rasa
Air minum tidak memberikan rasa atau dikatakan berasa tawar. Air yang tidak
tawar (berasa pahit dan atau asin) dapat menunjukkan adanya berbagai zat yang
membahayakan kesehatan.
5. Kekeruhan
Kekeruhan air disebabkan masih banyak terdapat zat padat yang tersuspensi, baik
zat yang anorganik maupun organik. Zat anorganik biasanya berupa serpihan
batuan dan logam, sedangkan yang organik banyak yang berasal dari buangan
industri.

Zat-zat

yang

dapat

mejadi

makanan

bakteri

dan

media

perkembangbiakkan bakteri ini akan menambah kekeruhan air. Alga yang


berkembang biak karena adanya zat hara juga menambah kekeruhan air.
6. Jumlah Zat Padat Terlarut (TDS)
Jumlah zat padat terlarut yang melampaui ambang batas memberikan rasa yang
tidak enak dan mual yang disebabkan adanya natrium sulfat, magnesium sulfat.
Hal ini dapt menimbulkan cardiac disease toxemia pada wanita hamil.
B. Parameter Kimia
1. Air Raksa (Hg)
Hg yang diabsorpsi akan masuk ke dalam darah, ginjal, hati, limpa dan tulang
yang kemudian diekskresi lewat urin, feses, keringat, air susu dan saliva. Hg
organik dapat merusak susunan saraf pusat, lapangan penglihatan menciut dan
perubahan kepribadian, sedangkan Hg anorganik dapat merusak ginjal dan
menyebabkan cacat bawaan.
2. Arsen (As)
Keracunan akut Arsen dapat menyebabkan gejala muntaber disertai darah, koma,
sakit, meninggal secara kronis, anorexia, kolik, mual, diare dan ikterus
pendarahan.
3. Barium (Ba)
Kadar Barium

yang

berlebih

dapat

mengganggu

saluran

menimbulkan rasa mual, diare dan gangguan pada sistem saraf pusat.
4. Besi (Fe)

pencernaan,

Kadar Besi yang berlebih dapat menimbulkan warna kuning, memberikan rasa
yang tidak enak pada minuman dan pengendapan pada dinding pipa.
5. Flourida (F)
Kadar Flourida dalam jumlah kecil dibutuhkan sebagai pencegahan terhadap
penyakit caries gigi, yang paling efektif tanpa merusak kesehatan. Kadar yang
lebih dari 1,5 mg/L dapat menyebabkan flouresis pada gigi, yaitu terbentuknya
noda-noda coklat yang tidak mungkin hilang pada gigi.
6. Cadmium (Cd)
Keracunan akut Cadmium akan menyebabkan gejala gastrointestinal dan ginjal.
Gejala kronis menimbulkan sakit pinggang, tulang rapuh, tekanan darah tinggi,
kerusakan ginjal, dan influenza.
7. Kesadahan CaCO3
Penyebab langsung terhadap kesehatan tidak ada, tetapi kesadahan dapat
menyebabkan sabun pembersih tidak efektif.
8. Klorida (Cl)
Dalam jumlah yang kecil klorida dibutuhkan untuk desinfektan. Apabila berikatan
dengan ion Natrium dapat menyebabkan rasa asin dan dapat merusak pipa-pipa
air.
9. Cromium valensi 6 (Cr6+)
Kemungkinan dapat menyebabkan kanker kulit pada kulit dan alat-alat
pernafasan.
10. Mangan (Mn)
Kadar Mangan lebih besar dari 0,1 mg/L menyebabkan rasa pahit pada minuman
dan meninggalkan noda kecoklatan pada pakaian.
11. Nitrat, Nitrit
Keracunan akut yang diakibatkan kadar nitrat dan nitrit yang tinggi dapat
menimbulkan diare dengan darah, shock, koma sampai meninggal. Keracunan
kronis menyebabkan depresi yang umum, sakit kepala, gangguan mental,
methemoglobinaemia, terutama pada bayi.
12. Perak (Ag)
Jika termakan akan terakumulasi pada kulit.
m. Derajat Keasaman (pH)

Air Minum sebaiknya netral, Tidak asam atau basa. pH yang lebih kecil dari 6.5
menimbulkan rasa tidak enak dan dapat menyebabkan korosif pada pipa-pipa air.
pH tinggi dapat mengganggu pencernaan.
n. Selenium (Se)
Memberikan pengaruh terhadap kenaikan jumlah penyakit caries gigi pada anakanak.
o. Seng (Zn)
Dalam sejumlah kecil seng merupakan unsur penting untuk metabolism.
Kekurangan seng dapat menghambat pertumbuhan pada anak, sedangkan dalam
jumlah besar menimbulkan rasa pahit dan sepat pada air minum.
P. Sianida (CN)
Sianida dapat mengganggu metabolism oksigen dalam jaringan tubuh, pernapasan
dan diikuti kematian. Keracunan kronis menimbulkan malaise dan iritasi.
q. Sulfat ( SO 4 )
Dalam jumlah besar dapat bereaksi dengan ion natrium atau magnesium dalam air
sehingga membentuk garam yang dapat menimbulkan iritasi dan endapan pada
Boiler.
r. Sulfida ( H 2 S )
H 2 S bersifat racun dan berbau busuk. Dalam jumlah besar dapat meningkatkan
keasaman air sehingga dapat menyebabkan korosifitas pada pipa-pipa logam,
menimbulkan bau korosif dan iritasi.
s. Tembaga (Cu)

Dalam jumlah kecil Cu sangat dibutuhkan tubuh untuk membentuk sel-sel darah
merah. Dalam jumlah besar dapat menimbulkan rasa yang tidak enak di lidah, di
samping dapat menyebabkan kerusakan pada hati.
t. Timbal (Pb)
Sangat berbahaya terhadap kesehatan manusia karena cenderung untuk
berakumulasi dalam jaringan tubuh manusia dan meracuni jaringan syaraf.
u. Zat Organik ( KmnO4 )
Menimbulkan rasa dan bau tidak sedap , sakit perut dan korosifitas pada pipa-pipa
logam.
Laboratorium kimia air mengacu kepada Standar Nasional Indonesia (SNI).
Jenis sampel yang diperiksa pada laboratorium ini meliputi air limbah, air bersih, air
minum, air kolam renang, air sungai, dan air pemandian umum.

B. Ruang Lingkup
SOP 05/LDJ/2004 ini dibuat untuk pengajuan sampel air baik secara fisika
maupun secara kimia. Parameter-parameter yang diuji untuk pemeriksaan fisik dan
kimia mencakup :
I.

II.

Parameter-parameter fisik
1. Bau dan Rasa
2. Kekeruhan*
3. Suhu*
4. Daya hantar listrik
5. Salinitas
6. Kadar padatan terlarut*
7. Warna*
8. Zat warna tersuspensi
Parameter-parameter kimiawi
1. Amonium*
2. Klorida*
3. Flourida*

4. Kesadahan*
5. Kalsium dan Magnesium
6. Nitrat*
7. Nitrit*
8. pH*
9. sulfat*
10. sianida*
11. zat organic*
12. besi (Fe)*
13. kromium heksavalen*
14. mangan (Mn)*
15. Alumunium (Al)*
16. Barium (Ba)*
17. Selenium (Se)*
18. Tembaga (Cu)*
19. Timbal (Pb)*
20. Seng (Zn)*
21. Nikel (Ni)*
22. Kadmium (Cd)*
23. Antimon (Sb)
24. Boron (B)
25. Kromium (Cr)
26. Natrium (Na)
27. Chemical Oxygen Demand (COD)*
28. Fenol
29. Oksigen Terabsorpsi
30. Minyak dan lemak
31. Merkuri
32. Catatan : *) telah masuk ruang lingkup untuk akreditasi ISO 17025-2005
Untuk bahan uji air minum , air bersih, dan air limbah. Khusus untuk
amonium hanya untuk bahan uji air minum sedangkan pada alumunium
untuk bahan uji kolam renang.
C. Definisi
a) Contoh Uji adalah sampel yang akan dilakukan pengujian.
b) Air adalah air minum/ air minum dalam kemasan, air bersih, air kolam renang,
air badan sungai, air limbah, air pemandian umum dan air murni.
c) Air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses
pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum

(Peraturan Menteri Kesehatan No. 492/Menkes/Per/IV/2010 Tentang


persyaratan air minum).
d) Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari yang
kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah
dimasak.
e) Air kolam renang adalah air di dalam kolam renang yang digunakan untuk
olahraga renang dan kualitasnya memenuhi syarat kesehatan.
f) Air murni adalah air yang diperoleh dari proses pemurnian seperti destilasi,
diionisasi, revers osmosis dan atau proses setara.
g) Air pemandian umum adalah air yang digunakan pada tempat-tempat
pemandian bagi umum tidak termasuk pemandian untuk pengobatan
tradisional dan kolam renang, yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan.
h) Standar adalah bahan acuan bersertifikasi yang telah diverifikasi.
i) Blangko air adalah yang tidak mengandung zat yang akan diuji dan atau telah
ditambahkan reagen atau air yang digunakan untuk menolkan instrument.
j) QC atau Quality control adalah contoh uji yang diperkaya dengan larutan
standar dengan kadar tertentu yang dipergunakan untuk jaminan mutu hasil
pengujian (Control Chart) atau air yang tidak mengandung zat yang akan diuji
yang ditambahkan standar tersertifikasi dengan kadar tertentu.
k) Larutan kerja adalah larutan baku yang diencerkan dengan air bebas dari
analit yang akan diuji.
l) Kimia terbatas adalah pemeriksaan kimia air untuk air jenis pemeriksaan air
bersih, air minum dan air limbah. Untuk air bersih dan air minum meliputi
pemeriksaan fisik (TSS) dan pemeriksaan kimia (pH, BOD, COD, deterjen
dan zat organic).
m) Kimia lengkap adalah pemeriksaan kimia air yang meliputi seluruh parameter
pemeriksaan fisik maupun kimia disesuaikan dengan peraturan/keputusan
yang berlaku.
n) Kurva kalibrasi adalah grafik yang menyatakan hubungan kadar lanjutan kerja
dengan hasil pembacaan alat (absorban, intensitas ratio, dll) yang merupakan
garis lurus.
o) Kimia lengkap adalah pemeriksaan kimia air yang meliputi seluruh parameter
pemeriksaan fisik maupun kimia disesuaikan dengan peraturan atau keputusan
yang berlaku.

II.5.2.3

Alur Pengujian
Sampel yang akan diuji di Laboratorium Kesehatan Masyarakat adalah sampel

makanan dan minuman, kosmetik, air, obat, obat tradisional dan alat kesehatan yang
berasal dari :
1. Sampling terhadap suatu sampel yang dilakukan oleh institusi yang melaksanakan
kegiatan di bidang pemeriksaan dan penyelidikan yang beredar dipasaran
berdasarkan perencanaan yang telah diprogramkan.
2. Sampel yang masuk dari masyarakat
Sampel yang diserahkan ke bidang pengujian mikrobiologi oleh bidang
pemeriksaan sudah harus dilengkapi dengan identitas yang umumnya berisi :
a) Nama sampel
b) Nomor kode sampel
c) Tanggal pemeriksaan sampel
d) Jenis pemeriksaan sampel
2.5.2.4 Kegiatan Laboratorium
A. Pemeriksaan Laboratorium Kesehatan :
a) Penunjang dan bahan penunjang untuk pengambilan sampel di laboratorium
atau dilapangan.
b) Menerima specimen/sampel
c) Mengambil specimen/sampel secara sederhana dan khusus.
d) Membuat dan mewarnai sediaan.
e) Melakukan penanganan dan pengolahan sampel secara sederhana dan khusus.
f) Melakukan pemeriksaan sediaan sederhana secara mikroskopik.
g) Melakukan pemeriksaan sediaan dengan metode cepat.
h) Melakukan pemeriksaan sediaan secara aglutinasi kualitatif dan kuantitatif.
i) Pemeriksaan specimen secara biakan untuk identifikasi.
j) Pemeriksaan specimen secara biakan tabung ganda (MPN)
k) Pemeriksaan specimen secara biakan hitung koloni.
l) Pemeriksaan specimen secara biakan penentuan sub tipe.
B. Penanganan peralatan dan bahan penunjang laboratorium:
a) Memusnahkan sisa sampel dan bahan penunjang.
b) Membuat reagen atau bahan biologis secara sederhana dan khusus.
c) Membuat media biakan kuman secara sederhana dan khusus.

2.5.2.5 Landasan Pengujian

Dalam melaksanakan suatu Pengujian terhadap suatu produk atau sampel


telah ditetapkan parameter-parameter pengujian yang harus dilakukan. Laboratorium
Kesehatan Daerah bagian laboratorium kesehatan masyarakat bersama-sama dengan
badan atau departemen pemerintah yang terkait menetapkan ketentuan yang harus
dipenuhi oleh suatu produk atau sampel yang boleh beredar oleh masyarakat ataupun
oleh suatu sampel atau produk yang boleh beredar di masyarakat ataupun yang
dianggap dapat membahayakan bagi masyarakat. Untuk lingkungan kerja
laboratorium kesehatan masyarakat telahh mempunyai ketentuan-ketentuan yang
tercantum pada standar pengujian, yaitu :
1) Standar Nasional Indonesia (SNI)
2) Metode analisa dari pusat pengujian obat dan makanan.
3) Prosedur tetap instruksi kerja
4) Buku standar resmi lainnya.
2.6

Penanganan sampel
Alur penangan sampel di Laboratorium Kesehatan Daerah Provinsi DKI

Jakarta adalah sebagai berikut :


1) Petugas penerima sampel, menerima sampel dari pelanggan atau petugas
pengantar sampel (jika diperlukan petugas langsung dapat melakukan
pengambilan sampel)
2) Petugas mengisi formulir pendaftaran.
3) Petugas menerima sampel memeriksa kondisi fisik dan persyaratan administrasi/
teknislaboratorium serta mencatat ke dalam buku penerimaan sampel.
4) Beri label dan nomor laboratorium pada kemasan sampel.
5) Pindahkan data ke fomulir distribusi dan hasil pengujian.
6) Penyerahan sampel oleh petugas penerima sampel ke bagian laboratorium dengan
menyerahkan formulir analisis.
7) Pengujian di laboratorium dan analisa data hasil.

2.7

Bahan dan Reagensia yang digunakan


Sifat
KOROSIF

Contoh Bahan
Asam sulfat, Alumunium

Keterangan
Bahan kimia bersifat korosif,

FLAMMABLE

TOXIC

Hidroksida, Asam asetat,

dapat merusak jaringan hidup,

Asam Klorida, Asam Nitrat,

menyebabkan iritasi pada kulit,

Natrium Hidroksida, Kalium

gatal-gatal bahkan dapat

Hidroksida, Asam Formiat.

menyebabkan kulit

Aseton, Benzene, Etanol,

mengelupas.
Bahan kimia memiliki titik

Alkohol 70%, Etil Klorida,

nyala rendah dan mudah

Etil Asetat, Metanol,

menyala/terbakar dengan api

Asetonitril.

Bunsen, permukaan metal

Asam Oksalat

panas atau bunga api.


Bahan kimia bersifat korosif,
dapat merusak jaringan hidup,
menyebabkan iritasi pada kulit,
gatal-gatal bahkan dapat
menyebabkan kulit

EXPLOSIVE

Asam Nitrat, KmnO 4 ,


Etanol.

KARSINOGENIK

Formalin, Benzene.

mengelupas.
Bahan Kimia bersifat dapat
meledak dengan adanya panas,
percikan bunga api, guncangan
atau gesekan.
Dapat menyebabkan kanker.