Anda di halaman 1dari 6

4.

2 Pembahasan
Pada percobaan ini praktikan melakukan percobaan mengenai pembuatan
garam rangkap dan garam kompleks serta membandingkan sifat keduanya, dan juga
pembuatan tawas.
1) Pembuatan Tawas
Pada percobaan ini praktikan melakukan pembuatan garam kalium aluminium
sulfat KAl(SO4)2.12H2O atau yang biasa disebut dengan tawas. Garam rangkap ini
disintesis dari larutan Al2(SO4)3.18H2O dan larutan K2SO4. Sintesis menggunakan
perbandingan mol yang sama akan menghasilkan kristal yang bersifat sangat stabil.
Perlakuan pertama yaitu melarutkan masing-masing kedua bahan pembuatan
tawas yaitu 8,25 g Al2(SO4)3.18H2O dan 2,17 g K2SO4 ke dalam 12,5 mL aquades.
Pada larutan I yaitu Al2(SO4)3.18H2O digunakan air yang bersuhu sekitar 80oC
sehingga air terlebih dahulu dipanaskan. Suhu air tidak boleh lebih dari 80 oC karena
akan mengakibatkan terjadinya hidrolisis, dan akan membentuk endapan putih
gelatin, Al(OH)3, yang berwarna putih dan bersifat sukar larut dalam air, menurut
persamaan reaksi di bawah ini:
Al3+ (aq) + 3OH- (aq)

Al(OH)3 (s)
Endapan putih

Namun, adapun reaksi yang terjadi antara Al2(SO)3.18H2O dengan air, yaitu:

Al2(SO4)3.18H2O (s) + H2O (l)

2[Al(H2O)6]3+ + 3H2SO4 (aq) +


4H3O+ (aq) + O2 (g)

Pada larutan ini terbentuk larutan yang agak kental dan juga tidak homogen.
Adanya endapan yang agak kental ini mungkin disebabkan karena pada saat proses
pengadukan suhu air melebihi suhu yang telah ditentukan yaitu 80oC, sedangkan jika

suhu air kurang dari 80oC maka akan terbentuk suatu ion kompleks [Al(H2O)6]3+. Hal
ini disebabkan karena kerapatan muatan ion aluminium (Al3+) menyebabkan di dalam
larutannya mampu menarik molekul air dan membentuk ion kompleks tersebut.
Dalam larutan, ion [Al(H2O)6]3+ berada dalam kesetimbangan karena mengalami
hidrolisis dan bersifat asam.
Pada larutan II yaitu K2SO4 masih terdapat endapan berupa butiran K2SO4 yang
tidak melarut dalam air. Air yang digunakan pada proses pelarutan berada pada suhu
kamar sehingga tidak perlu dipanaskan terlebih dahulu.
Adapun persamaan reaksi yang terjadi yaitu:
K2SO4 (s) + H2O (l)

2KOH (aq) + H2SO4 (aq)

Proses pelarutan K2SO4 ini menghasilkan suatu basa kuat, KOH, yang apabila
ditambahkan ke dalam ion aluminium maka akan menghasilkan suatu endapan putih
pada larutan.
Kemudian kedua larutan tersebut dicampurkan lalu diaduk beberapa saat
sampai kedua larutan dipastikan telah bercampur. Campuran yang dihasilkan
berwarna putih keruh dan masih terdapat endapan putih. Adapun persamaan reaksi
yang terjadi adalah:
2[Al(H2O)6]3+ + 3OH- (aq)

[Al(H2O)3(OH)3] (s) + 3H2O (l)


Endapan putih

Reaksi di atas dapat terjadi karena adanya penambahan basa kuat yaitu KOH
yang berasal dari K2SO4 dan menghasilkan endapan putih. Namun ternyata, gugus
OH- yang terikat pada endapan aluminium hidroksida tersebut bukan berasal (dari
penambahan) basa atau KOH melainkan dari molekul H2O dalam [Al(H2O)6]3+ yang
terionisasi menghasilkan sifat asam (H3O+), seperti pada persamaan reaksi di bawah
ini:

[Al(H2O)6]3+ (aq) + H2O (l)

[Al(H2O)5(OH)]2+ (aq) + H3O

(aq)
Ionisasi ini semakin kuat yang berarti kesetimbangan bergeser ke kanan dan
jika di dalamnya ditambahkan basa yang mampu menetralkan atau bereaksi dengan
ion asam H3O+ hasil sehingga jumlah H2O dalam ion kompleks yang terionisasi
semakin bertambah dan akhirnya terbentuk endapan putih, Al(OH)3 (aq).
Larutan kemudian dipanaskan tujuannya yakni untuk membuat konsentrasinya
menjadi lebih pekat dan menguapkan uap air sehingga nantinya akan terbentuk
kristal. Larutan kemudian didinginkan tujuannya untuk mempercepat proses
pembentukan kristal, karena pada temperature panas maka kristal tawas akan larut
dan tidak membentuk endapan. Setelah kristal terbentuk, lalu dilakukan proses
pencucian kristal menggunakan air dingin, tujuannya untuk menghilangkan pengotor
dan air pada suhu normal tidak melarutkan tawas, sehingga endapan tidak akan
berkurang massanya.
Campuran ini seharusnya didinginkan pada suhu kamar sehingga terbentuk
kristal putih yang berupa tawas. Campuran didinginkan di dalam cawan penguapan
selama beberapa jam sampai kristal terbentuk dan mengering. Reaksi antara K 2SO4
dengan

Al2(SO4)3.18H2O

akan

menghasilkan

garam

rangkap

tawas

K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O atau KAl(SO4)2.12H2O jika direaksikan dalam jumlah mol


yang sama.
Kristal-kristal yang berupa serbuk putih itu diperoleh setelah beberapa jam
didinginkan lalu menyaring dengan kertas saring pada corong biasa. Proses
pengeringan juga dilakukan selama beberapa jam agar serbuk tawas benar-benar
dalam keadaan kering saat ditimbang.
Hasil yang didapat yakni masa Kristal tawas yang didapat sebesar 8,0307 gram,
sehingga rendemennya sebesar 67,76 %. Rendemen ini tidak mencapai angka 100%
karena

mungkin

terjadi

kekurang

telitian

praktikan

selama

praktikum.

Kekurangtelitian itu seperti suhu air untuk melarutkan Al 2(SO4)3.18H2O yang

melebihi 80oC, pengadukan yang tidak searah saat pelarutan masing-masing bahan
sehingga memengaruhi pertumbuhan kristal, serta saat kesalahan prosedur kerja saat
memanaskan dalam cawan penguapan sehingga diduga kristal melarut kembali.
Namun, rendemen yang diperoleh cukup besar sehingga tawas yang dihasilkan sudah
cukup bagus.
Tawas sudah lama digunakan sebagai koagulan pada penjernihan air, dan bahan
baku pembuatan zeolit sintesis. Tawas dapat juga digunakan untuk penawar bau
badan tradisional. Hal ini disebabkan aluminium bersifat amfoter. Sifat amfoter
menjadi kelebihan dari tawas, KAl(SO4)2.12H2O sebagai penawar bau badan.
Keseluruhan reaksi yang terjadi yakni :
Al2(SO4)3.18H2O(aq) + K2SO4(aq)
2)

Pembuatan

Garam

2KAl(SO4)2.12H2O(s) + 6H2O(g)

Rangkap

Kupri

Ammonium

Sulfat

CuSO4

(NH4)2SO4.6H2O
Pada percobaan ini praktikan melakukan pembuatan garam rangkap CuSO 4
(NH4)2SO4.6H2O. Garam rangkap adalah garam yang terdiri dari dua kation yang
berbeda dengan sebuah anion yang sama dalam satu sisi kristalnya. Pembuatan garam
rangkap kupri ammonium sulfat, dilakukan dengan melarutkan kristal CuSO 4.5H2O
dan Kristal (NH4)2SO4 dalam aquadest menghasilkan larutan yang berwarna biru
muda.
Larutan kemudian dipanaskan agar kristal dapat melarut dan proses reaksi dapat
dipercepat akibat pemanasan,karena dengan adanya pemanasan dapat menaikkan
energi kinetik partikel-partikel kedalam larutan, elektron-elektron yang ada dalam
larutan dapat saling bertumbukan. Tumbukan antara partikel electron tersebut akan
memepercepat pelarutan dari CuSO4.5H2O dan (NH4)2SO4.
Warna biru pada larutan disebabkan ion-ion logam dalam air membentuk
kompleks

dengan

molekul-molekul

pelarut

yang

bertindak

sebagai

ligan.

Pembentukan kompleks dalam air tersebut menyebabkan larutan menjadi warna biru.
Kompleks yang terbentuk adalah Cu(OH)42+ dengan orbital hibrid yang dihasilkan
yaitu dsp3. Satu electron dari orbital 3d berpindah ke 4p, artinya ligan H2O mampu

mendesak elektron yang tidak berpasangan tergantung pada kuat lemah medan dari
ligand an kation logam. Hal ini dapat diketahui dari sifa magnet dan bentuk
molekulnya.

Dalam CuSO4 murni dan kering, ion Cu2+ tidak berwarna, tetapi

larutan CuSO4 dalam air akan berwarna biru, sebab ion Cu 2+ akan terikat dalam air
(terhidrasi) sebagai Cu(H2O)42+. Senyawa CuSO4.5H2O berwarna biru karena
memantulkan cahaya tampak pada panjang gelombang biru. Zat ini menyerap warna
komplemennya yaitu pada panjang gelombang jingga.
Larutan kemudian didiamkan semalam, tujuannya agar terbentuk kristal. Kristal
yang terbentuk berwarna biru. Menurut literature seharusnya larutan didinginkan
dengan air es, dengan tujuan agar kristal yang didapat lebih banyak dan menjadi lebih
padat. Sedangkan pada percobaan ini tidak dilakukan pendinginan, bahkan
dipanaskan kembali untuk memekatkan kembali larutan, sehingga larutan menjadi
sangat sedikit, berakibat endapan yang didapat juga sangat sedikit. Larutan dibiarkan
menjadi dingin pada suhu kamar sampai terbentuk kristal. Kemudian kristal disaring
untuk memisahkan kristal dari larutannya. Kristal yang diperoleh dikeringkan agar air
yang masih ada pada kristal menguap sehingga diperoleh kristal yang betul-betul
kering. Setelah ditimbang, diperoleh berat kristal 0,1099 gram. Sehingga
rendemennya didapat 241,43%. Dari hasil rendemen dapat diketahui bahwa masih
ada pengotor dalam Kristal yang terbentuk sehingga rendemennya melebihi 100%.
Adapun reaksinya:
CuSO4.5H2O(s) + (NH4)2 SO4(s) + H2O(l)

CuSO4 (NH4)2 SO4.6H2O(s)


Kristal biru muda

Dari hasil reaksi di atas terlihat bahwa terbentuk garam kupri ammonium sulfat,
CuSO4(NH4)2SO4.6H2O yang merupakan garam rangkap, karena garam rangkap
dibentuk apabila dua garam mengkristal bersama-sama dengan perbandingan molekul
tertentu. Garam-garam itu memiliki struktur sendiri dan tidak harus sama dengan
struktur garam komponennya.
Senyawa CuSO4 (NH4)2 SO4.6H2O disebut garam rangkap karena ada 2 garam
yang terdapat dalam senyawa ini atau 2 kation dan 2 anion yang ada dalam senyawa
ini, yaitu Cu2+ dan NH4+, serta 2 anion SO42-, sedangkan H2O bertindak sebagai

pelarut. Bilangan oksidasi Cu dalam CuSO4 (NH4)2 SO4.6H2O adalah +2, inilah yang
menyebabkan berwarna biru, karena ion Cu2+ berwarna biru.