Anda di halaman 1dari 54

BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN
1.1 Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan Keluarga
A. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga
dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap
dalam keadaan saling ketergantungan (Depkes RI, 1988). Perawatan kesehatan keluarga
(Family Health Nursing) adalah tingkat perawatan kesehatan masyarakat yang ditujukan
atau dipusatkan kepada keluarga sebagai unit atau satu-kesatuan yang dirawat, dengan
sehat sebagai tujuannya dan melalui perawatan sebagai sarananya.
Menurut Duval, 1997 (dalam Supartini, 2004) mengemukakan bahwa keluarga
adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi, dan
kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan budaya yang umum,
meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial setiap anggota.
Bailon, 1978 (dalam Achjar, 2010) berpendapat bahwa keluarga sebagai dua atau
lebih individu yang berhubungan karena hubungan darah, ikatan perkawinan atau
adopsi, hidup dalam satu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dalam peranannya
dan menciptakan serta mempertahankan budaya.
Menurut Bailon dan Maglaya 1978 (dalam Effendy 1998) mendefinisikan
keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena
adanya hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Mereka saling berinte-raksi satu
dengan yang lainnya, mempunyai peran masingmasing dan mencipta-kan serta
mempertahankan suatu budaya.
Menurut Departemen Kesehatan (1988) mendefinisikan keluarga adalah unit
terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepalakeluarga serta beberapa orang yang
berkumpul dan tinggal di satu atap dalam keadaan saling bergantungan. Menurut
Friedman (1998) mendefinisikan keluarga adalah kumpulan dua orang manusia atau

lebih, yang satu sama yang lain saling terikat secara emosional, serta bertempat tinggal
yang sama dalam satu daerah yang berdekatan.
Menurut BKKBN (1992) mendefinisikan keluarga adalah unit terkcil dalam
masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dengan
anaknya, atau ibu dengan anaknya. Keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dari
dua orang atau lebih yang masing-masing mempunyai hubungan kekerabatan yang
terdiri dari bapak, ibu, adik, kakak, kakek dan nenek. Menurut UU No. 10 tahun 1992
keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami
istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.
B. Tipe Keluarga
1. Menurut Maclin, 1988 (dalam Achjar, 2010) pembagian tipe keluarga, yaitu :
a. Keluarga Tradisional
1) Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari suami, istri dan
anak-anak yang hidup dalam rumah tangga yang sama.
2) Keluarga dengan orang tua tunggal yaitu keluarga yang hanya
dengan satu orang yang mengepalai akibat dari perceraian, pisah,
atau ditinggalkan.
3) Pasangan inti hanya terdiri dari suami dan istri saja, tanpa anak
atau tidak ada anak yang tinggal bersama mereka.
4) Bujang dewasa yang tinggal sendiri.
5) Pasangan usia pertengahan atau lansia, suami sebagai pencari
nafkah, istri tinggal di rumah dengan anak sudah kawin atau
bekerja.
6) Jaringan keluarga besar, terdiri dari dua keluarga inti atau lebih
atau anggota yang tidak menikah hidup berdekatan dalam daerah
geografis.
b. Keluarga Non Tradisional
1) Keluarga dengan orang tua yang mempunyai anak tetapi tidak
menikah (biasanya terdiri dari ibu dan anaknya).
2) Pasangan suami istri yang tidak menikah dan telah mempu-nyai
anak.
3) Keluarga gay/lesbian adalah pasangan yang berjenis kela-min
sama hidup bersama sebagai pasangan yang menikah.

4) Keluarga kemuni adalah rumah tangga yang terdiri dari lebih satu
pasangan

monogami

dengan

anak-anak,

secara

bersama

menggunakan fasilitas, sumber dan mempunyai pengalaman yang


sama.
2. Menurut Allender dan Spradley (2001)
a. Keluarga Tradisional
1) Keluarga Inti (nuclear family), yaitu keluarga yang terdiri dari
suami, istri, dan anak kandung atau anak angkat.
2) Keluarga besar (extended family), yaitu keluarga inti ditam-bah
dengan keluarga lain yang mempunyai hubungan da-rah,
misalnya kakek, nenek, paman, dan bibi.
3) Keluarga dyad, yaitu rumah tangga yang terdiri dari suami istri
tanpa anak.
4) Single parent, yaitu rumah tangga yang terdiri dari satu orang tua
dengan anak kandung atau anak angkat, yang disebabkan karena
perceraian atau kematian.
5) Single adult, yaitu rumah tangga yang hanya terdiri dari seorang
dewasa saja.
6) Keluarga usia lanjut, yaitu rumah tangga yang terdiri dari suami
istri yang berusia lanjut.
b. Keluarga Non Tradisional
1) Commune family, yaitu lebih dari satu keluarga tanpa perta-lian
darah hidup serumah.
2) Orang tua (ayah/ ibu) yang tidak ada ikatan perkawinan dan anak
hidup bersama dalam satu rumah.
3) Homoseksual, yaitu dua individu yang sejenis kelamin hi-dup
bersama dalam satu rumah tangga.

3. Menurut Carter dan Mc Goldrick (1988)


a. Keluarga berantai (sereal family), yaitu keluarga yang terdiri dari wanita
dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan satu keluarga
inti.
b. Keluarga berkomposisi, yaitu keluarga yang perkawinannya berpoligami
dan hidup secara bersama-sama.
c. Keluarga kabitas, yaitu keluarga yang terbentuk tanpa pernikahan.

C. Stuktur Keluarga
Struktur keluarga bermacam-macam, diantaranya :
1. Patrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui garis ayah.
2. Matrilineal adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara se-darah
dalam beberapa generasi, dimana hubungan itu disusun melalui garis ibu.
3. Matrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
istri.
4. Patrilokal adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah
suami.
5. Keluarga kawinan adalah hubungan suami istri sebagai dasar bagi pembi-naan
keluarga dan beberapa sanak saudara yang menjadi bagian keluarga karena
adanya hubungan dengan suami atau istri (Nasrul Effendy, 1998).
Ciri-ciri struktur keluarga, yaitu :
1. Terorganisasi
Saling berhubungan, saling ketergantungan antara aggota keluarga.
2. Ada Keterbatasan
Setiap anggota keluarga memiliki kebebasan tetapi mereka juga mempu-nyai
keterbatasan dalam menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing.
3. Ada Perbedaan dan Kekhususan
Setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya masing-masing
(Anderson Carter).
Menurut Friedman (1998), struktur keluarga terdiri atas :
1. Pola dan Proses Komunikasi
Komunikasi dalam keluarga dikatakan berfungsi apabila dilakukan
secara jujur, terbuka, melibatkan emosi, dan ada hierarki kekuatan. Komu-nikasi
dalam keluarga ada yang berfungsi dan ada yang tidak, hal ini bisa disebabkan
oleh beberapa faktor yang ada dalam komponen komunikasi seperti : sender,
chanel-media, message, environtment, dan reciever. Ko-munikasi dalam
keluarga yang berfungsi adalah:
a

Karakteristik pengirim yang berfungsi, yaitu yakin ketika menyampaikan pendapat, jelas dan berkualitas, meminta feedback, mene-rima

feedback.
Pengirim yang tidak berfungsi.

1) Lebih menonjolkan asumsi (perkiraan tanpa menggunakan


dasar/data yang obyektif).
2) Ekspresi yang tidak jelas (contoh : marah yang tidak diikuti
ekspresi wajahnya).
3) Jugmental exspressions, yaitu ucapan yang memutuskan/
menyatakan sesuatu yang tidak didasari pertimbangan yang
matang. Contoh ucapan salah benar, baik/buruk, normal/ tidak
normal, misal : kamu ini bandel, kamu harus
4) Tidak mampu mengemukakan kebutuhan.
5) Komunikasi yang tidak sesuai.
c. Karakteristik penerima yang berfungsi
1) Mendengar
2) Feedback (klarifikasi, menghubungkan dengan pengala-man)
3) Memvalidasi
d. Penerima yang tidak berfungsi
1) Tidak bisa mendengar dengan jelas/gagal mendengar.
2) Diskualifikasi, contoh : iya dech..tapi.
3) Offensive (menyerang bersifat negatif).
4) Kurang mengeksplorasi (miskomunikasi).
5) Kurang memvalidasi.
e. Pola komunikasi di dalam keluarga yang berfungsi
1) Menggunakan emosional : marah, tersinggung, sedih, gem-bira.
2) Komunikasi terbuka dan jujur.
3) Hirarki kekuatan dan peraturan keluarga.
4) Konflik keluarga dan penyelesaiannya.
f. Pola komunikasi di dalam keluarga yang tidak berfungsi
1) Fokus pembicaraan hanya pada sesorang (tertentu).
2) Semua menyetujui (total agreement) tanpa adanya diskusi.
3) Kurang empati.
4) Selalu mengulang isu dan pendapat sendiri.
5) Tidak mampu memfokuskan pada satu isu.
6) Komunikasi tertutup.
7) Bersifat negatif.
8) Mengembangkan gosip.
2. Struktur Peran
Peran adalah serangkaian perilaku yang diharapkan sesuai dengan posisi
sosial yang diberikan. Yang dimaksud dengan posisi atau status adalah posisi
individu dalam masyarakat, misalnya status sebagai istri/suami atau anak.
3. Struktur Kekuatan dan Struktur Nilai
Kekuatan merupakan kemampuan (potensi dan aktual) dari indi-vidu
untuk mengontrol, mempengaruhi, atau mengubah perilaku orang lain kea rah
positif. Ada beberapa macam tipe stuktur kekuatan, yaitu :

a
b
c
d
e
f

Legitimate power (power)


Referent power (ditiru)
Reward power (hadiah)
Coercive power (paksa)
Affective power
Expert power (keahlian)

4. Struktur Norma dan Nilai


Nilai adalah sistem ide-ide, sikap keyakinan dan mengikat anggota
keluarga dalam budaya tertentu. Norma adalah pola perilaku yang diterima pada
lingkungan sosial tertentu, lingkungan keluarga, dan lingkungan sekitar
masyarakat keluarga.
D. Fungsi Keluarga
Fungsi keluarga merupakan hasil atau konsekuensi dari struktur keluarga atau
sesuatu tentang apa yang dilakukan oleh keluarganya. Fungsi keluarga me-nurut
Friedman (1998) adalah antara lain :
1. Fungsi Afektif
Fungsi afektif merupakan fungsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan
pemeliharaan kepribadian anggota keluarga.
2. Fungsi Sosialisasi
Fungsi sosialisasi bercermin dalam melakukan pembinaan sosialisasi pada anak,
membentuk nilai dan norma yang diyakini anak, memberikan bata-san perilaku
yang boleh dan tidak boleh pada anak, meneruskan nilai-nilai budaya anak.
3. Fungsi Perawatan Kesehatan
Fungsi perawatan kesehatan keluarga merupakan fungsi keluarga dalam
melindungi keamanan dan kesehatan seluruh anggota keluarga serta men-jamin
pemenuhan kebutuhan perkembangan fisik, mental, dan spiritual, dengan cara
memelihara dan merawat anggota keluarga serta mengenali kondisi sakit tiap
anggota keluarga.
4. Fungsi Ekonomi
Fungsi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti sandang, pangan,
dan papan, dan kebutuhan lainnya melalui keefektifan sumber daya keluarga.
5. Fungsi Biologis
Fungsi biologis bukan hanya ditujukan untuk meneruskn keturunan tetapi untuk
memelihara dan membesarkan anak untuk kelanjutan generasi selanjutnya.
6. Fungsi Psikologis

Fungsi psikologis terlihat bagaimana keluarga memberikan kasih sayang dan


rasa aman/memberikan perhatian diantara anggota keluarga, membina
pendewasaan kepribadian anggota keluarga dan memberikan identitas keluarga.
7. Fungsi Pendidikan
Fungsi pendidikan diberikan keluarga dalam rangka memberikan penge-tahuan,
keterampilan membentuk perilaku anak, mempersiapkan anak untuk kehidupan
dewasa mendidik anak sesuai dengan tingkatan perkem-bangannya.
E. Tugas Keluarga
Tugas keluarga merupakan pengumpulan data yang berkaitan dengan ketidakmampuan keluarga dalam menghadapi masalah kesehatan. Asuhan kepera-watan
keluarga mencantumkan lima tugas keluarga sebagai paparan etiologi/ penyebab
masalah dan biasanya dikaji pada saat penjajagan tahap II bila ditemui data malaadapti
pada keluarga. Lima tugas keluarga yang dimaksud, yaitu :
1. Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah, termasuk bagaimana per-sepsi
keluarga terhadap tingkat keparahan penyakit, pengertian, tanda dan gejala,
faktor penyebab dan persepsi keluarga terhadap masalah yang dialami keluarga.
2. Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan, termasuk sejauh mana
keluarga mengerti mengenai sifat dan luasnya masalah, bagaimana masa-lah
dirasakan keluarga, bagaimana keluarga menanggapi masalah yang dihadapi,
adakah rasa takut terhadap akibat atau adakah sifat negatif dari keluarga
terhadap masalah kesehatan, bagaimana sistem pengambilan keputusan yag
dilakukan keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit.
3. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit, seperti
bagaimana keluarga mengetahui keadaan sakitnya, sifat, dan perkem-bangan
perawatan yang diperlukan, sumber-sumber yang ada dalam keluarga serta sikap
keluarga terhadap anggota keluarga yang sakit.
4. Ketidakmampuan keluarga memodifikasi lingkungan seperti pentingnya hygiene
sanitasi bagi keluarga, upaya pencegahan penyakit yang dilakukan keluarga.
Upaya pemeliharaan lingkungan yang dilakukan keluarga, ke-kompakan anggota
keluarga dalam menata lingkungan dalam dan lingkungan luar rumah yang
berdampak terhadap kesehatan keluarga.
5. Ketidakmampuan keluarga memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan, seperti
kepercayaan keluarga terhadap petugas kesehatan dan fasilitas pelayanan

kesehatan, keberadaan fasilitas kesehatan yang ada, keuntungan keluarga


terhadap penggunaan fasilitas kesehatan, apakah pelayanan kese-hatan
terjangkau oleh keluarga, adakah pengalaman yang kurang baik yang
dipersepsikan keluarga.
F. Tahap dan Tugas Perkembangan Keluarga
Tahap dan siklus tumbuh kembang keluarga menurut Friedman 1998 ada 8, yaitu
:
1. Tahap I
: Keluarga pemula
Keluarga pemula merujuk pada pasangan menikah/tahap pernikahan. Tu-gas
perkembangan keluarga saat ini adalah membangun perkawinan yang saling
memuaskan,

menghubungkan

jaringan

persaudaraan

secara

harmo-nis,

merencanakan keluarga berencana.


2. Tahap II : Keluarga sedang mengasuh anak (anak tertua bayi sampai umur 30
bulan)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap II, yaitu membentuk keluarga muda
sebagai sebuah unit, mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan,
memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peran
orang tua kakek dan nenek dan mensosialisasikan dengan lingkungan keluarga
besar masing-masing pasangan.
3. Tahap III : Keluarga dengan anak usia pra sekolah (anak tertua berumur 2-6
tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap III, yaitu memenuhi kebutuhan
anggota keluarga, mensosialisasikan anak, mengintegrasikan anak yang baru
sementara tetap memenuhi kebutuhan anak yang lainnya, memper-tahankan
hubungan yang sehat dalam keluarga dan luar keluarga, menanamkan nilai dan
norma kehidupan, mulai mengenalkan kultur keluarga, menanamkan keyakinan
beragama, memenuhi kebutuhan bermain anak.
4. Tahap IV : Keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua usia 6-13 tahun)
Tugas perkembangan keluarga tahap IV, yaitu mensosialisasikan anak termasuk
meningkatkan prestasi sekolah dan mengembangkan hubungan dengan teman
sebaya, mempertahankan hubungan perkawinan yang me-muaskan, memenuhi
kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga, membia-sakan belajar teratur,
memperhatikan anak saat menyelesaikan tugas sekolah.

5. Tahap V : Keluarga dengan anak remaja (anak tertua umur 13-20 tahun)
Tugas perkembangan keluarga pada tahap V, yaitu menyeimbangkan kebebasan
dengan tanggung jawab ketika remaja menjadi dewasa dan mandiri,
memfokuskan kembali hubungan perkawinan, berkomunikasi secara terbuka
antara orang tua dan anak-anak, memberikan perhatian, memberikan kebebasan
dalam batasan tanggung jawab, mempertahankan komunikasi terbuka dua arah.
6. Tahap VI : Keluarga yang melepas anak usia dewasa muda (mencakup anak
pertama sampai anak terakhir yang meninggalkan rumah)
Tahap ini adalah tahap keluarga melepas anak dewasa muda dengan tugas
perkembangan keluarga antara lain : memperluas siklus keluarga dengan
memasukkan anggota keluarga baru yang didapat dari hasil pernikahan anakanaknya, melanjutkan untuk memperbaharui dan menyelesaikan kembali
hubungan perkawinan, membantu orang tua lanjut usia dan sakit-sakitan dari
suami dan istri.
7. Tahap VII : Orang tua usia pertengahan (tanpa jabatan atau pensiunan)
Tahap keluarga pertengahan dimulai ketika anak terakhir meninggalkan rumah
dan berakhir atau kematian salah satu pasangan. Tahap ini juga dimulai ketika
orang tua memasuki usia 45-55 tahun dan berakhir pada saat pasangan pensiun.
Tugas

perkembangannya

adalah

menyediakan

lingkungan

yang

sehat,

mempertahankan hubungan yang memuaskan dan penuh arah dengan lansia dan
anak-anak, memperoleh hubungna perka-winan yang kokoh.
8. Tahap VIII
: Keluarga dalam tahap pensiunan dan lansia
Dimulai dengan salah satu atau kedua pasangan memasuki masa pensiun
terutama berlangsung hingga salah satu pasangan meninggal dan berakhir
dengan pasangan lain meninggal. Tugas perkembangan keluarga adalah
mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan, menyesuaikan ter-hadap
pendapatan

yang

menurun,

mempertahankan

hubungan

perkawinan,

menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan dan mempertahankan ikatan


keluarga antara generasi.
G. Teori Asuhan Keperawatan Keluarga
1. Pengkajian
Pengkajian adalah sekumpulan tindakan yang digunakan oleh pera-wat
untuk mengukur keadaan klien (keluarga) dengan menangani norma-norma

kesehatan keluarga maupun sosial, yang merupakan system terinte-grasi dan


kesanggupan keluarga untuk mengatasinya (Effendy, 1998).
Pengumpulan data dalam pengkajian dilakukan dengan wawancara,
observasi, dan pemeriksaan fisik dan studi dokumentasi. Pengkajian asu-han
keperawatan keluarga menurut teori/model Family Centre Nursing Friedman
(1988), meliputi 7 komponen pengkajian, yaitu :
a Data Umum
1) Identitas kepala keluarga
2) Komposisi anggota keluarga
3) Genogram
4) Tipe keluarga
5) Suku bangsa
6) Agama
7) Status sosial ekonomi keluarga
b Aktivitas Rekreasi Keluarga
1) Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
2) Tahap perkembangan keluarga saat ini
3) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
4) Riwayat keluarga inti
5) Riwayat keluarga sebelumnya
c Lingkungan
1) Karakteristik rumah
2) Karakteristik tetangga dan komunitas tempat tinggal
3) Mobilitas geografis keluarga
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
5) Sistem pendukung keluarga
d Struktur Keluarga
1) Pola komunikasi keluarga
2) Struktur kekuatan keluarga
3) Struktur peran (formal dan informal)
4) Nilai dan norma keluarga
e Fungsi Keluarga
1) Fungsi afektif
2) Fungsi sosialisasi
3) Fungsi perawatan kesehatan
f Stres dan Koping Keluarga
1) Stressor jangka panjang dan stressor jangka pendek serta

kekuatan keluarga
2) Respon keluarga terhadap stress
3) Strategi koping yang digunakan
4) Strategi adaptasi yang disfungsional
Pemeriksaan Fisik
1) Tanggal pemeriksaan fisik dilakukan.

10

2) Pemeriksaan kesehatan dilakukan pada seluruh anggota keluarga.


3) Aspek pemeriksaan fisik mulai dari vital sign, rambut, ke-pala,
mata, mulut, THT, leher, thoraks, abdomen, ekstre-mitas atas dan
bawah, system genetalia.
4) Kesimpulan dari hasil pemeriksaan fisik.
h. Harapan keluarga
1) Terhadap masalah kesehatan keluarga
2) Terhadap petugas kesehatan yang ada
Ada beberapa tahap yang perlu dilakukan saat pengkajian menurut Suprajitno
(2004), yaitu :
a

Membina Hubungan Baik


Dalam membina hubungan yang baik, hal yang perlu dilakukan antara
lain, perawat memperkenalkan diri dengan sopan dan ramah tamah,
menjelaskan tujuan kunjungan, meyakinkan keluarga bah-wa kehadiran
perawat adalah menyelesaikan masalah kesehatan yang ada di keluarga,
menjelaskan luas kesanggupan bantuan perawat yang dapat dilakukan,
menjelaskan kepada keluarga siapa tim kesehatan lain yang ada di

keluarga.
Pengkajian Awal
Pengkajian ini terfokus sesuai data yang diperoleh dari unit pelayanan

kesehatan yang dilakukan.


Pengkajian Lanjutan (Tahap Kedua)
Pengkajian lanjutan adalah tahap pengkajian untuk memperoleh data
yang lebih lengkap sesuai masalah kesehatan keluarga yang berorientasi
pada pengkajian awal. Disini perawat perlu mengung-kapkan keadaan
keluarga hingga penyebab dari masalah kesehatan yang penting dan
paling dasar.

2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menggunakan dan
menggambarkan respons manuasia. Dimana keadaan sehat atau perubahan

11

pola interaksi potensial/aktual dari individu atau kelompok dimana perawat


dapat menyusun intervensi-intervensi definitif untuk memperta-hankan status
kesehatan atau untuk mencegah perubahan (Carpenito, 2008). Untuk
menegakkan diagnosa dilakukan 2 hal, yaitu :
a. Analisa Data
Mengelompokkan data subjektif dan objektif, kemudian dibanding-kan
dengan standar normal sehingga didapatkan masalah kepera-watan.
b. Perumusan Diagnosa Keperawatan
Komponen rumusan diagnosa keperawatan meliputi :
1) Masalah (problem) adalah suatu pernyataan tidak terpenu-hinya
kebutuhan dasar manusia yang dialami oleh keluarga atau
anggota keluarga.
2) Penyebab (etiologi) adalah kumpulan data subjektif dan objektif.
3) Tanda (sign) adalah sekumpulan data subjektif dan objektif yang
diperoleh perawat dari keluarga secara langsung atau tidak
langsung atau tidak yang mendukung masalah dan penyebab.
Dalam penyusunan masalah kesehatan dalam perawatan keluarga
mengacu pada tipologi diagnosis keperawatan keluarga yang dibedakan
menjadi 3 kelompok, yaitu :
1) Diagnosa Sehat/Wellness/Potensial
Yaitu keadaan sejahtera dari keluarga ketika telah mampu
memenuhi kebutuhan kesehatannya dan mempunyai sum-ber
penunjang kesehatan yang memungkinkan dapat digu-nakan.
Perumusan diagnosa potensial ini hanya terdiri dari komponen
problem (P) saja dan sign/symptom (S) tanpa etiologi (E).
2) Diagnosa Ancaman/Risiko
Yaitu masalah keperawatan yang belum terjadi. Diagnosa ini
dapat menjadi masalah aktual bila tidak segera ditanggu-langi.
Perumusan diagnosa risiko ini terdiri dari komponen problem (P),
etiologi (E), sign/symptom (S).
3) Diagnosa Nyata/Aktual/Gangguan
Yaitu masalah keperawatan yang sedang dijalani oleh ke-luarga
dan memerlukan bantuan dengan cepat. Perumusan diagnosa

12

aktual terdiri dari problem (P), etiologi (E), dan sign/symptom


(S).
Perumusan problem (P) merupakan respon terhadap gang-guan
pemenuhan kebutuhan dasar. Sedangkan etiologi me-ngacu pada
5 tugas keluarga.
3. Perencanaan
Perencanaan adalah sekumpulan tindakan yang ditentukan perawat untuk
dilaporkan dalam memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang telah
diidentifikasi (Efendy,1998). Penyusunan rencana perawatan dilakukan dalam 2
tahap yaitu pemenuhan skala prioritas dan rencana perawatan (Suprajitno, 2004).
a. Skala Prioritas
Prioritas didasarkan pada diagnosis keperawatan yang mempunyai skor
tinggi dan disusun berurutan sampai yang mempunyai skor terendah.
Dalam menyusun prioritas masalah kesehatan dan kepe-rawatan keluarga
harus didasarkan beberapa kriteria sebagai beri-kut :
1) Sifat masalah (aktual, risiko, potensial)
2) Kemungkinan masalah dapat diubah
3) Potensi masalah untuk dicegah
4) Menonjolnya masalah
Skoring

dilakukan

bila

perawat

merumuskan

diagnosa

keperawatan telah dari satu proses skoring menggunakan skala yang


telah dirumuskan oleh Bailon dan Maglay (1978) dalam Effendy (1998).
Tabel Proses Skoring
Kriteria
Sifat masalah

Bobot
1

Kemungkinan masalah
untuk dipecahkan

Potensi masalah untuk


dicegah

Menonjolnya masalah

Skor
Aktual
=3
Risiko
=2
Potensial
=1
Mudah
=2
Sebagian
=1
Tidak dapat = 0
Tinggi
=3
Cukup
=2
Rendah
=1
Segera diatasi = 2
Tidak segera diatasi = 1

13

Tidak dirasakan adanya masalah = 0


Proses scoring dilakukan untuk setiap diagnosa keperawatan :
1)
2)
3)
4)

Tentukan skornya sesuai dengan kriteria yang dibuat pe-rawat.


Skor dibagi dengan angka tertinggi dan dikaitkan dengan bobot.
Jumlahkan skor untuk semua kriteria.
Skor tertinggi berarti prioritas (skor tertinggi 5).

b. Rencana
Langkah pertama yang dilakukan adalah merumuskan tu-juan
keperawatan. Tujuan dirumuskan untuk mengetahui atau me-ngatasi
serta meminimalkan stressor dan intervensi dirancang ber-dasarkan tiga
tingkat pencegahan. Pencegahan primer untuk mem-perkuat garis
pertahanan fleksibel, pencegahan sekunder untuk memperkuat garis
pertahanan sekunder, dan pencegahan tersier untuk memperkuat garis
pertahanan tersier (Anderson & Fallune, 2000).
Tujuan terdiri dari tujuan jangka panjang dan tujuan jangka
pendek. Tujuan jangka panjang mengacu pada bagaimana me-ngatasi
problem/masalah (P) di keluarga. Sedangkan penetapan tujuan jangka
pendek mengacu pada bagaimana mengatasi etiologi yang berorientasi
pada lima tugas keluarga. Adapun bentuk tin-dakan yang akan dilakukan
dalam intervensi nantinya adalah sebagai berikut :
1) Menggali tingkat pengetahuan atau pemahaman keluarga
mengenai masalah.
2) Mendiskusikan dengan keluarga mengenai hal-hal yang belum
diketahui dan meluruskan mengenai intervensi/ in-terpretasi yang
salah.
3) Memberikan penyuluhan atau menjelaskan dengan keluarga
tentang faktor-faktor penyebab, tanda dan gejala, cara menangani, cara perawatan, cara mendapatkan pelayanan kesehatan
dan pentingnya pengobatan secara teratur.
4) Memotivasi keluarga untuk melakukan hal-hal positif untuk
kesehatan.
5) Memberikan pujian dan penguatan kepada keluarga atas apa yang
telah diketahui dan apa yang telah dilaksanakan.

14

4. Pelaksanaan
Pelaksanaan dilaksanakan berdasarkan pada rencana yang telah disusun.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan
terhadap keluarga, yaitu :
a. Sumber daya keluarga.
b. Tingkat pendidikan keluarga.
c. Adat istiadat yang berlaku.
d. Respon dan penerimaan keluarga.
e. Sarana dan prasarana yang ada pada keluarga.
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan kegiatan membandingkan antara hasil implementasi dengan criteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat
keberhasilannya. Kerangka kerja valuasi sudah terkandung dalam rencana
perawatan jika secara jelas telah digambarkan tujuan perilaku yang spesifik
maka hal ini dapat berfungsi sebagai kriteria evaluasi bagi tingkat aktivitas yang
telah dicapai (Friedman,1998).
Evaluasi disusun menggunakan SOAP dimana :
- S : ungkapan perasaan atau keluhan yang dikeluhkan secara sub-jektif
oleh keluarga setelah diberikan implementasi keperawatan.
- O : keadaan obyektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat menggunakan pengamatan yang objektif.
- A : merupakan analisis perawat setelah mengetahui respon sub-jektif dan
objektif.
- P : perencanaan selanjutnya setelah perawat melakukan analisis
(Suprajitno, 2004).

15

DAFTAR PUSTAKA
Achjar, K.A. 2010. Aplikasi Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta : Sagung
Seto.
Allender, JA & Spradley, B. W. 2001. Community as Partner, Theory and Practice
Nursing. Philadelpia : Lippincott.
Anderson.E.T & Mc.Farlane.J.M. 2000. Community Health and Nursing, Concept and
Practice. California : Lippincott.
BKKBN. 1992. Keluarga Bertanggung Jawab. Jakarta.
Carpenitto, L. J. 2008. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta : EGC.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1988. Standar Praktek Kesehatan bagi
Perawat Kesehatan. Jakarta.
Effendy, N. 1998. Dasar-dasar keperawatan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : EGC.

16

Friedman, M.M. 1998. Family Nursing Research.Aplenton


Iqbal, Wahit dkk. 2005. Ilmu Keerawatan Komunitas 2 Teori dan Aplikasi dalam
Praktek Pendekatan Asuhan Keperawatan Komunitas, Gerontik, Keluarga.
Jakarta : EGC.
Supartini, Yupi. 2004. Buku Ajar Konsep Dasar Keperawatan Anak. Jakarta : EGC.
Suprajitno. 2004. Asuhan Keprawatan Keluarga Aplikasi dalam Praktek. Jakarta : EGC.

1.2 Laporan Pendahuluan Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Hipertensi


Konsep Dasar tentang Hipertensi
A. Pengertian Hipertensi
Ilmu pengobatan mendefinisikan hipertensi sebagai suatu peningkatan
kronis (yaitu meningkat secara perlahan-lahan, bersifat menetap) dalam tekanan
darah arteri sistolik yang bisa disebabkan oleh berbagai faktor, tetapi tidak
peduli apa penyebabnya, mengikuti suatu pola yang khas (Wolff, 2006).
Hipertensi didefinisikan sebagai peningkatan tekanan darah sistolik
sedikitnya 140 mmHg atau tekanan diastoliknya sedikitnya 90 mmHg. Istilah
tradisional tentang hipertensi ringan dan sedang gagal menjelaskan
pengaruh utama tekanan darah tinggi pada penyakit kardiovaskular (Price,
2006).
B. Klasifikasi dari Hipertensi
Menurut NANDA NIC-NOC klasifikasi dari hipertensi, yaitu :
Klasifikasi Tekanan Darah untuk Dewasa Usia 18 Tahun atau Lebih
Sistolik
Diastolik
Kategori
(mmHg)
(mmHg)
Normal
< 130
<85
Normal tinggi
130-139
85-89

17

Hipertensi
Tingkat 1 (ringan)
Tingkat 2 (sedang)
Tingkat 3 (berat)
Tingkat 4 (sangat berat)

140-159
160-179
180
210

90-99
100-109
110
120

Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua, yaitu :


1. Hipertensi Primer (Esensial)
Disebut juga hipertensi idiopatik karena tidak diketahui penyebabnya. Faktor
yang mempengaruhinya, yaitu : genetik, lingkungan, hiperaktivitas saraf
simpatis sistem renin, angiotensin, dan peningkatan Na + Ca intraseluler. Faktorfaktor yang meningkatkan risiko adalah obesitas, merokok, alkohol, dan
polisitemia.
2. Hipertensi Sekunder
Penyebab, yaitu : penggunaan estrogen, penyakit ginjal, sindrom cushing, dan
hipertensi yang berhubungan dengan kehamilan.
Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas :
1. Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg
dan/atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg.
2. Hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg
dan tekanan diastolik lebih rendah dari 90 mmHg.
C. Etiologi dari Hipertensi
1.
Faktor Risiko yang Tidak Dapat Dikendalikan
a. Umur
Tekanan darah akan meningkat seiring dengan bertambah-nya
umur seseorang. Ini disebabkan karena dengan bertambahnya umur,
dinding pembuluh darah mengalami perubahan struktur. Setelah umur 45
tahun, dinding arteri akan mengalami penebalan oleh karena adanya
penumpukan zat kolagen pada lapisan otot, sehingga pembuluh darah
akan berangsur-angsur menyempit dan menjadi kaku.
Tekanan darah sistolik meningkat karena kelenturan pem-buluh
darah besar yang berkurang pada penambahan umur sampai dekade

18

ketujuh sedangkan tekanan darah diastolik meningkat sam-pai dekade


kelima dan keenam kemudian menetap atau cenderung menurun.
Peningkatan umur akan menyebabkan beberapa peruba-han fisiologis.
Pada usia lanjut terjadi peningkatan resistensi perifer dan aktivitas
simpatik. Pengaturan tekanan darah yaitu refleks baroreseptor pada usia
lanjut sensitivitasnya sudah berkurang. Sedangkan peran ginjal juga
sudah berkurang dimana aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus
menurun.
b. Jenis Kelamin
Pria lebih banyak mengalami kemungkinan hipertensi daripada
wanita. Hipertensi berdasarkan kelompok ini dapat pula dipengaruhi oleh
faktor psikologis. Pada wanita seringkali dipicu oleh perilaku tidak sehat
(merokok, kelebihan berat badan), depresi dan rendahnya status
pekerjaan. Sedangkan pria lebih berhubungan dengan kurang nyaman
dengan pekerjaan dan pengangguran.
c. Genetik (Keturunan)
Adanya faktor genetik pada keluarga tertentu akan menye-babkan
keluarga itu mempunyai risiko menderita hipertensi. Hal ini berhubungan
dengan peningkatan kadar sodium intraseluler dan rendahnya rasio antara
potasium terhadap sodium. Individu yang memiliki orang tua dengan
hipertensi berisiko dua kali lebih besar untuk menderita hipertensi dari
2.

pada orang yang tidak mempunyai keluarga dengan riwayat hipertensi.


Faktor Risiko yang Dapat Dikendalikan
a. Merokok
Merokok merupakan salah satu faktor yang dapat diubah. Adapun
hubungan merokok dengan hipertensi adalah nikotin akan menyebabkan
peningkatan tekanan darah karena nikotin akan diserap pembuluh darah
kecil dalam paru-paru dan diedarkan oleh pembuluh darah hingga ke
otak. Otak akan bereaksi terhadap niko-tin dengan memberi sinyal pada
kelenjar adrenal untuk melepas epinefrin (adrenalin). Hormon yang kuat
ini akan menyempitkan pembuluh darah dan memaksa jantung untuk
bekerja lebih berat karena tekanan yang lebih tinggi. Selain itu, karbon
monoksida dalam asap rokok menggantikan oksigen dalam darah. Hal ini

19

akan mengakibatkan tekanan darah karena jantung dipaksa memompa


untuk memasukkan oksigen yang cukup ke dalam organ dan jaringan
tubuh (Astawan, 2002).
b. Garam Dapur
Garam dapur merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam
patogenesis hipertensi. Pengaruh asupan garam terhadap timbulnya
hipertensi terjadi melalui peningkatan volume plasma, curah jantung, dan
tekanan darah (Basha, 2004).
Konsumsi natrium yang berlebih menyebabkan konsentrasi
natrium di dalam cairan ekstraseluler meningkat. Untuk menormalkannya cairan intraseluler ditarik ke luar, sehingga volume cairan
ekstraseluler meningkat. Meningkatnya volume cairan ekstraseluler
tersebut menyebabkan meningkatnya volume darah, sehingga berdampak
kepada timbulnya hipertensi.
Garam mempunyai sifat menahan air. Mengonsumsi garam lebih
atau makan makanan yang diasinkan dengan sendirinya akan menaikan
tekanan darah. Hindari pemakaian garam yang berlebih atau makanan
yang diasinkan. Hal ini tidak berarti menghentikan pemakaian garam
sama sekali dalan makanan, sebaliknya dengan membatasi jumlah garam
yang dikonsumsi (Wijayakusuma, 2000).
c. Obesitas
Kelebihan berat badan dan obesitas merupakan faktor risiko dari
beberapa penyakit degenerasi dan metabolit. Lemak tubuh, khususnya
lemak pada perut berhubungan erat dengan hipertensi. Obesitas
meningkatkan risiko terjadinya hipertensi karena beberapa sebab.
Semakin besar massa tubuh maka semakin banyak darah yang
dibutuhkan untuk memasok oksigen dan makanan ke jaringan tubuh. Ini
berarti volume darah yang beredar melalui pembuluh darah menjadi
meningkat sehingga memberi tekanan lebih besar pada dinding arteri.
Obesitas juga merupakan faktor risiko penyakit jantung koroner
dan merupakan faktor risiko independen yang artinya tidak dapat
dipengaruhi oleh faktor risiko lain.

20

d. Kurang Olahraga
Olahraga lebih

banyak

dihubungkan

dengan

pengelolaan

hipertensi karena olahraga isotonik dan teratur dapat menurunkan


tahanan perifer yang akan menurunkan tekanan darah. Olahraga juga
dikaitkan dengan peran obesitas pada hipertensi. Kurang melakukan
olahraga akan meningkatkan kemungkinan timbulnya obesitas dan jika
asupan garam juga bertambah maka akan memu-dahkan terjadinya
hipertensi.
e. Stres Emosional
Stres akan meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan
curah jantung sehingga akan menstimulasi aktivitas saraf simpatis.
Meskipun

dapat

dikatakan

bahwa

stres

emosional

benar-benar

meninggikan tekanan darah untuk jangka waktu yang sing-kat, reaksi


tersebut lenyap kembali seiring dengan menghilangnya penyebab stres.
Yang menjadi masalah adalah jika stres bersifat permanen, maka
seseorang akan mengalami hipertensi terus-menerus sehingga stres
menjadi suatu resiko. Kemarahan yang ditekan dapat meningkatkan
tekanan darah karena ada pelepasan adrenalin tambahan oleh kelenjar
adrenal yang terus-menerus dirangsang.
Penyebab hipertensi pada orang lanjut usia adalah terjadinya perubahanperubahan pada :
1.
Elastisitas dinding aorta menurun.
2.
Katup jantung menebal dan menjadi kaku.
3.
Kemampuan jantung memompa darah menurun
1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun kemampuan jantung memompa
darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
4.
Kehilangan elastisitas pembuluh darah
Hal ini terjadi karena kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk
oksigenasi.
5.

Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.

D. Patofisiologi dari Hipertensi


Mekanisme

terjadinya

hipertensi

adalah

melalui

terbentuknya

angiotensin II dari angiotensin I oleh angiotensin I converting enzyme (ACE).


ACE meme-gang peran fisiologis penting dalam mengatur tekanan darah.

21

Produksi/pelepasan renin oleh ginjal dipengaruhi oleh penurunan aliran darah ke


ginjal akibat dari vasokonstriksi. Pada saat sistem saraf simpatis merangsang
pembuluh darah, kelenjar adrenal juga terangsang, mengakibatkan tambahan
aktivitas

vasokons-triksi.

Medulla

adrenal

mensekresi

epinefrin,

yang

menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid


lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah.
Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran darah ke ginjal,
menyebabkan pelepasan renin.
Darah mengandung angiotensinogen yang diproduksi di hati. Selanjutnya
oleh renin (diproduksi oleh ginjal) angiotensinogen akan diubah menjadi
angiotensin I. Oleh ACE yang terdapat di paru-paru, angiotensin I diubah
menjadi angiotensin II. Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam
menaikkan tekanan darah melalui dua aksi utama.
Aksi pertama adalah meningkatkan sekresi hormon antidiuretik (ADH)
dan rasa haus. ADH diproduksi di hipotalamus (kelenjar pituitari) dan bekerja
pada ginjal untuk mengatur osmolalitas dan volume urin. Dengan meningkatnya
ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke luar tubuh (antidiuresis),
sehingga menjadi pekat dan tinggi osmolalitasnya. Untuk mengencerkannya,
volume cairan ekstraseluler akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari
bagian intraselu-ler. Akibatnya, volume darah meningkat yang pada akhirnya
akan meningkatkan tekanan darah.
Aksi kedua adalah menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal.
Aldosteron merupakan hormon steroid yang memiliki peranan penting pada
ginjal. Untuk mengatur volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi
ekskresi NaCl (garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal.
Naiknya konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan
volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan volume
dan tekanan darah.

22

E. Gejala Klinis dari Hipertensi


Menurut NANDA (2013), manifestasi klinis pada hipertensi dibedakan
menjadi :
1. Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter terdiagnosa jika tekanan arteri tidak terukur.
2. Gejala yang lazim

23

Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi


nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala
terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan
medis.
Beberapa pasien yang menderita hipertensi mengeluh sebagai berikut:
1. Mengeluh sakit kepala, pusing
2. Lemas, kelelahan
3. Sesak nafas
4. Gelisah
5. Mual
6. Muntah
7. Epistaksis
8. Kesadaran menurun
F. Komplikasi dari Hipertensi
1. Miokard infark
2. Stroke
3. Cerebral vaskular accident
4. Penyakit vascular perifer: aterosklerosis, aneurisma.
5. Gagal ginjal
6. Left ventricular failure

G. Penatalaksanaan dari Hipertensi


Tujuan penanganan : Mencegah terjadinya morbiditas dan mortalitas penyerta dengan mempertahankan tekanan darah di bawah 140/90 mmHg.
1.

Penatalaksanaan Non Farmakologis


a. Penurunan berat badan, pembatasan alcohol, natrium dan temba-kau,
latihan dan relaksasi merupakan intervensi wajib yang harus dilakukan.
b. Perubahan cara hidup

24

c. Mengurangi intake garam dan lemak


d. Mengurangi intake alkohol
e. Mengurangi BB untuk yang obesitas
f. Latihan/peningkatan aktivitas fisik
g. Olah raga teratur
h. Menghindari ketegangan
i. Istirahat cukup
2.

Penatalaksanaan Farmakologis
Digunakan untuk penderita hipertensi ringan dengan berada dalam

risiko tinggi dan apabila tekanan darah diastoliknya menetap diatas 85 atau 95
mmHg dan sistoliknya diatas 130 sampai 139 mmHg.
Golongan/jenis obat anti hipertensinya, yaitu :
a. Golongan Diuretic

Diuretik Thiazid. Misalnya : klortalidon, hydroklorotiazid.

Diuretik Loop, Misalnya furosemid.

b. Golongan Penghambat Simpatis


Penghambatan aktivitas simpatis dapat terjadi pada pusat vaso-motor
otak seperti metildopa dan klonidin atau pada akhir saraf perifer, seperti
golongan reserpin dan goanetidin.
c. Golongan Betabloker
Mekanisme kerja anti-hipertensi obat ini adalah melalui penurunan curah
jantung dan efek penekanan sekresi renin. Misalnya, pindo-lol,
propanolol, timolol.
d. Golongan Vasodilator
Yang termasuk obat ini yaitu, prasosin, hidralasin, minoksidil, diazoksid
dan sodium nitrofusid.
e. Penghambat Enzim Konversi Angiotensin
Misalnya : captropil.
f. Antagonis Kalsium
Golongan obat ini menurunkan curah jantung dengan cara meng-hambat
kontraktilitas. Misalnya : nifedifin, diltiasem atau verama-miu.

25

H. Discharge Planning
1. Berhenti merokok.
2. Pertahankan gaya hidup sehat.
3. Belajar untuk rileks dan mengendalikan stres.
4. Batasi konsumsi alkohol.
5. Penjelasan mengenai hipertensi.
6. Jika sudah menggunakan obat hipertensi teruskan penggunaannya secara
rutin.
7. Batasan diet dan pengendalian berat badan.
8. Diet garam.
9. Periksa tekanan darah secara teratur.
Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Hipertensi
A. Pengkajian Keperawatan
Data Subyektif
3.

Identitas Pasien
Hal-hal yang perlu dikaji pada bagian ini antara lain : nama, umur, jenis kelamin,
pendidikan, pekerjaan, agama, suku, keluarga/orang terdekat, alamat, nomor
registrasi.

4.
a.
b.
3.
a.
b.
c.
d.
4.
a.

Riwayat atau Adanya Faktor Risiko


Riwayat garis keluarga tentang hipertensi
Penggunaan obat yang memicu hipertensi
Aktivitas/Istirahat
Kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton
Frekuensi jantung meningkat
Perubahan irama jantung
Takipnea
Integritas ego
Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria atau marah

kronik.
b. Faktor faktor stress multiple (hubungan, keuangan yang berkaitan dengan
5.

pekerjaan).
Makanan dan cairan

26

a. Makanan yang disukai, dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi


lemak, tinggi kolesterol (seperti makanan yang digoreng, keju, telur)

6.

gula-gula yang berwarna hitam, kandungan tinggi kalori.


b. Mual, muntah.
c. Perubahan berat badan akhir-akhir ini (meningkat atau menurun).
Nyeri atau ketidaknyamanan
a. Angina (penyakit arteri koroner /keterlibatan jantung)
b. Nyeri hilang timbul pada tungkai.
c. Sakit kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
d. Nyeri abdomen.

Data Obyektif
1.

Pemeriksaan Fisik
a. Sirkulasi
Riwayat hipertensi, ateroskleorosis, penyakit jantung koroner atau katup
dan penyakit cerebro vaskuler.
b. Eliminasi
Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu seperti infeksi atau obs-truksi.
c. Neurosensori
1) Keluhan pusing.
2) Berdenyut, sakit kepala suboksipital (terjadi saat bangun dan

2.

menghilang secara spontan setelah beberapa jam).


d. Pernapasan
1) Dispnea yang berkaitan dengan aktivitas/kerja.
2) Takipnea, ortopnea, dispnea noroktunal paroksimal.
3) Batuk dengan/tanpa pembentukan sputum.
4) Riwayat merokok.
Pemeriksaan Diagnostik
a. Hemoglobin/hematokrit : Bukan diagnostik tetapi mengkaji hubu-ngan
dari

sel-sel

terhadap

volume

cairan

(viskositas)

dan

dapat

mengindikasikan faktor-faktor risiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia.


b. BUN/kreatinin : Memberikan informasi tentang perfusi atau fungsi
jaringan.
c. Glukosa : Hiperglikemia (diabetes militus adalah pencetus hiper-tensi)
dapat diakibatkan oleh peningkatan kadar katekolamin (me-ningkatkan
hipertensi).
d. Kalium serum : Hipokalemia dapat mengindikasikan adanya aldo-steron
utama (penyebab) atau menjadi efek samping terapi diuretic.
e. Kalsium serum : Peningkatan kadar kalsium serum dapat mening-katkan
hipertensi.

27

f. Kolesterol dan trigeliserida serum : Peningkatan kadar dapat mengindikasikan pencetus untuk/adanya pembentukan plak ateromatosa (efek
kardiovaskuler).
g. Pemeriksaan tiroid : Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokon-striksi
dan hipertensi.
h. Kadar aldosteron urin/serum : Untuk mengkaji aldosteronisme pri-mer
(penyebab).
i. Urinalisasi : Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi gin-jal
dan/atau adanya diabetes.
j. VMA urin (metabolit katekolamin) : Kenaikan dapat mengindi-kasikan
adanya feokromositoma (penyebab); VMA urin 24 jam dapat dilakukan
untuk pengkajian feokromositoma bila hipertensi hilang timbul.
k. Asam urat : Hiperurisemia telah menjadi implikasi sebagai risiko
terjadinya hipertensi.
l. Streroid urin : Kenaikan dapat mengindikasikan hiperadrenalisme,
feokromositoma (penyebab); VMA urin 24 jam dapat dilakukan untuk
pengkajian feokromositoma bila hipertensi hilang timbul.
m. IVP : Dapat mengidentifikasi penyebab hipertensi seperti penyebab
parenkim ginjal, batu ginjal dan ureter.
n. Foto dada : Dapat mengidentifikasi obstruksi klasifikasi pada area katup ;
deposit pada dan atau takik aorta perbesaran jantung.
o. CT-Scan : Mengkaji tumor serebral, CSV, ensefalopati,

dan

feokromisitoma.
p. EKG : Dapat menunjukkan perbesaran jantung, pola regangan, gangguan
konduksi. Catatan : Luas, peningggian gelombang P ada-lah salah satu
tanda dini penyakit jantung hipertensi (Doenges, 2000).
B. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan curah

jantung

berhubungan

dengan

peningkatan

afterload,

vasokonstriksi, hipertrofi/rigiditas ventrikuler, iskemia miokard.


2. Intoleransi aktivitasi berhubungan dengan kelemahan, ketidakseimbangan suplai
dan kebutuhan oksigen.
3. Nyeri (sakit kepala) berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral.
4. Kelebihan volume cairan berhubungan dengan peningkatan cairan intravaskuler, edema.
5. Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan otak berhubungan dengan suplai O 2 ke
otak menurun.

28

29

30

31

32

33

34

35

36

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Asuhan Keperawatan Keluarga Pada Keluarga Bp.WJ dengan Hipertensi

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA Bp.WJ DENGAN


PENYAKIT HIPERTENSI
TANGGAL 31 AGUSTUS s/d 19 SEPTEMBER 2015

A.

PENGKAJIAN
1.

Data Umum
a.

Nama Kepala Keluarga

: Bp. WJ

b.

Umur

: 67 tahun

c.

Alamat

: Br.Sente, Dawan,Bali

d.

Telepon

:-

e.

Pekerjaan

: Peternak

f.

Pendidikan

g.

Komposisi keluarga

: SD
:

37

Tabel.1 Komposisi Keluarga Bp.WJ.

No.

Nama

Ny.NS

J
K
P

Status Imunisasi

Hub
dng

Umur

Pendidikan

KK
istri

57 th

SD

38

BCG

Polio

DPT

Hepatitis

1 2 3 4 1 2 3 1 2 3

Campak

Ket

Keterangan :

Laki-laki

Perempuan

Cerai

Identifikasi klien

Menikah

Anak kandung

Meninggal

39

Pisah

Anak

Anak kembar

Anak aborsi

Ibu hamil

Tingal dalam satu rumah

Penjelasan genogram keluarga Bp.WJ :


Orang tua dari orang tua Bp.WJ dan Ny.NS
sudah meninggal dan tidak diketahui penyebab meninggalnya dan tidak mengetahui ada
masalah kesehatan yang menular atau penyakit yang bisa diturunkan ke orang tua Bp.WJ
dan Ny.NS dan orang tua dari Bp.WJ dan Ny.NS juga tidak diketahui memiliki masalah
kesehatan yang menular atau yang bisa diturunkan ke Bp.WJ dan Ny.NS. Bp.WJ
bersaudara bertujuh dan empat diantaranya sudah meninggal dan sekarang hanya tinggal
Bp.WJ dan dua saudaranya. Sedangkan Ny.NS bersaudara berlima dan satu diantaranya
sudah meninggal yaitu saudaranya yang terakhir. Bp.WJ dan Ny.NS menikah dan
dikaruniai lima orang anak yang terdiri dari empat orang anak laki laki dan satu orang
anak perempuan. Anak kelima dari Bp.WJ dan Ny.NS belum berkeluarga. Kelima anak
Bp.WJ dan Ny.NS menetap di Denpasar, sehingga Bp.WJ dan Ny.NS hanya tinggal
berdua di rumah.

3.

Tipe keluarga
Tipe Keluarga Bp.WJ adalah keluarga inti.

4.
5.

Suku bangsa
Keluarga Bp.WJ adalah Bali,Indonesia.
Agama
Keyakinan yang dianut keluarga Bp.WJ adalah Agama Hindu. Tidak ada perbedaan
diantara anggota keluarga. Keluarga Bp.WJ setiap hari selalu menjalankan ibadah
walaupun sehari sekali.

6.

Status Sosial Ekonomi Keluarga


Bp.WJ bekerja sebagai peternak babi. Tiap hari Bp.WJ mencari makanan untuk
ternaknya. Dan pemberian uang tiap bulan dari anak Bp.WJ. pendapatan Bp.WJ
perbulannya yaitu Rp 300000 Rp 900000,-. Pemberian uang perbulan dari anaknya
digunakan untuk memenuhi kebutuhan Bp.WJ dan Ny.NS sehari hari yaitu untuk
membeli bahan makanan untuk di dapur, untuk membeli bensin saat mencari makanan

40

babi untuk ternaknya ke kota, perlengkapan untuk persembahyangan di rumah sehari


harinya dan untuk membayar air setiap bulannya.
7.

Aktivitas Rekreasi Keluarga


Jika ada waktu luang Bp.WJ dan Ny.NS berkumpul dengan keluarga dan dengan
tetangga.

B.

RIWAYAT DAN TAHAP PERKEMBANGAN KELUARGA


1.

Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini


Tahap perkembangan keluarga Bp.WJ berada pada tahap VI yaitu dimana pada tahap ini
keluarga melepas anak dewasa muda dengan tugas perkembangan keluarga antara lain
memperluas siklus keluarga dengan memasukkan anggota keluarga baru yang didapat
dari hasil pernikahan anak anaknya, membantu orang tua lanjut usia.

Tahap Perkembangan Keluarga yang Belum Terpenuhi


Keluarga belum semuanya berhasil dalam proses perkembangan dewasa dimana sada
salah satu anaknya yang belum mempunyai pasangan hidup. Namun, anak sudah mampu
mempertahankan hubungan yang memuaskan dan penuh arti pada orang tua.

3.

Riwayat Keluarga Inti


Di dalam pengkajian Bp.WJ dan Ny.NS tidak mempunyai riwayat penyakit keturunan dan
menular seperti kencing manis, darah tinggi, stroke, asma, jantung, dan lain lain.

4.

Riwayat Keluarga Sebelumnya


Bp.WJ dan Ny.NS mengatakan orang tuanya tidak ada riwayat penyakit seperti kencing
manis, darah tinggi, stroke, asma, dan jantung, dan lain lain.

C.

PENGKAJIAN LINGKUNGAN
1.

Karakteristik Rumah
Rumah yang ditempati oleh Keluarga Bp.WJ adalah miliknya sendiri, yang terdiri dari 1
lantai dengan kontruksi bangunan permanen. Luas bangunan rumah 5x12 m 2 yang terdiri
dari 2 kamar tidur, 1 kamar suci, 1 dapur, 1 kamar mandi ( lengkap dengan bak, jamban,
dan lantai hanya di semen). Penataan rumah baik dan bersih , serta pencahayaan dan
ventilasi rumah baik. Terdapat halaman rumah yang berisi sanggah ( tempat beribadah

41

umat hindu ), parkir rumah, dan jemuran. Sumber air dari PDAM dan air tidak berbau,
tidak berasa, tidak berwarna. Lantai rumah permanen. Halaman rumah besih dan rapi.
Kamar mandi keluarga Bp.WJ cukup bersih, sumber airnya berasal dari PDAM, terdapat
jamban.air yang dipakai dapat mencukupi kebutuhan keluarga.

42

2.

Karakteristik Tetangga dan Komunitas RW


Keluarga Bp.WJ tinggal di lingkungan yang berada di desa dengan jumlah penduduknya
yang tidak terlalu padat. Di lingkungan rumah Bp.WJ penduduknya sebagian besar
bermata pencaharian buruh dan petani. Jarak rumah yang satu dengan yang lain lumayan
jauh. Terdapat jalan utama tetapi tidak begitu besar dan hanya bisa dilewati satu mobil.
Jarak menuju jalan raya 200 meter.

3.

Mobilitas Geografi Keluarga


Bp.WJ mengatakan keluarganya merupakan penduduk asli Dawan, Bali. Bp. WJ pernah
menetap di Denpasar dari tahun 1965 - 2002, dan memutuskan pindah ke Dawan pada
tahun 2002 sampai sekarang karena sudah tidak bisa aktif bekerja lagi seperti dulu.

4.

Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat


Keluarga Bp.WJ memandang lingkungan tempat tinggalnya sebagai lingkungan yang
baik. Jika ada kegiatan gotong royong yang ada di sekitar lingkungan Bp.WJ dan Ny.NS
kadang ikut aktif dalam kegiatan tersebut dikarenakan Bp.WJ dan Ny.NS sudah tidak
begitu mengambil kerja yang memerlukan tenaga yang banyak.

5.

Sistem Pendukung Keluarga


Informal : Bp.WJ mengatakan jika ada masalah, maka Bp.WJ akan berbicara pada
Ny.NS. Tidak pernah melibatkan keluarga lain/tetangga untuk ikut
menyelesaikan masalah yang ada dalam keluarga tersebut.

43

Formal

: Bp.WJ mengatakan mempunyai akses jaminan kesehatan pada


keluarganya. Bentuk jaminan kesehatan tersebut adalah JKBM. Jika ada
anggota keluarga yang sakit maka akan langsung dibawa ke puskesmas.

D.

STRUKTUR KELUARGA
1.

Komunikasi Keluarga
Bp.WJ mengatakan pola komunikasi dalam keluarga dilakukan secara terbuka. Bahasa
yang digunakan sehari-hari adalah bahasa Bali dan Indonesia. Frekuensi komuni-kasi
dalam keluarga setiap hari dilakukan dan selama ini tidak ada masalah dalam keluarga

2.

yang tertutup untuk didiskusikan.


Struktur Kekuatan Keluarga
Bp.WJ mengatakan bahwa yang membuat dan mengambil keputusan dalam keluarga
adalah Bp.WJ, dimana keputusan tersebut sudah dibicarakan sebelumnya dengan anggota
keluarga. Bp.WJ mengatakan dalam keluarga saling menghargai antara satu dengan yang
lain, saling membantu serta saling mendukung. Hal ini sangat penting jika Bp.WJ/Ny.NS
yang memiliki masalah maka dapat saling membantu untuk menyelesaikan masalah

3.

tersebut.
Struktur peran
Formal

: Bp.WJ mengatakan Bp.WJ dan Ny.NS merupakan anggota masyarakat


dari Dusun Sente,Dawan. Oleh karena itu, jika ada kegiatan di
lingkungannya Bp.WJ dan Ny.NS juga ikut ambil bagian dalam
kegiatan tersebut, seperti kegiatan kerja bakti.

Informal : Bp.WJ berperan sebagai kepala keluarga dan kepala rumah tangga.
Bp.WJ merupakan lulusan SD dan bekerja sebagai peternak. Bp.WJ
bekerja setiap hari untuk mencari makan ternaknya. Ny.NS berperan
sebagai ibu rumah tangga yang membantu suami mencari nafkah
dengan ikut bekerja membantu mengurus ternak.
4.

Norma Keluarga
Bp.WJ mengatakan norma yang berlaku dalam keluarga disesuaikan dengan agama yang
dianut oleh keluarga. Bila ada keluarga yang sakit akan dibawa ke sarana kesehatan. Dari
segi budaya Bali, ada larangan atau pantangan tertentu yang berpengaruh terhadap
kesehatan maupun dalam kegiatan sehari-hari yaitu Bp.WJ tidak boleh makan daging

44

Babi karena jika Bp.WJ mengonsumsi daging Babi maka Bp.WJ akan gatal gatal pada
kakinya.

E.

FUNGSI KELUARGA
1.

2.

Fungsi Afektif
Semua keluarga Bp.WJ saling menyayangi satu sama lain. Apabila ada saudaranya yang
sakit atau yang ditimpa musibah maka anggota keluarga yang lain saling membantu.
Fungsi Sosialisasi
Jika ada kegiatan di lingkungan tersebut Bp.WJ dan Ny.NS ikut berpartisipasi di dalam
kegiatan tersebut. Diwaktu luang, Bp.WJ dan Ny.NS jarang mengobrol dengan tetangga
sekitar karena jarak rumah dengan rumah tetangga lumayan jauh. Bp.WJ menekankan
perlunya meningkatkan komunikasi hubungan dengan orang lain. Mereka membiasakan

3.

anggota keluarga untuk bisa bermasyarakat dan bergaul di tengah-tengah masyarakat


Fungsi Perawatan Kesehatan
a.
Mengenal masalah kesehatan
Bp.WJ mengeluh tengkuknya sakit sekitar 2 hari yang lalu, karena Bp.WJ tidak
tahu cara menghilangkan sakit pada tengkuknya maka Bp.WJ pergi ke puskesmas
dan langsung mengecek tekanan darahnya. Ny.NS mengatakan dirinya dalam
b.

keadaan sehat.
Mengambil keputusan mengenai tindakan kesehatan
Pada keluarga Bp.WJ, apabila ada keluarga yang sedang sakit maka Bp.WJ
berperan dalam mengambil keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan untuk

c.

d.
e.

merawat anggota keluarganya yang sakit.


Kemampuan merawat anggota keluarga yang sakit
Keluarga Bp.WJ belum mengetahui bagaimana cara merawat anggota keluarga
yang mengalami hipertensi
Kemampuan keluarga memelihara/memodifikasi lingkungan rumah yang sehat
Keluarga Bp.WJ sudah mampu memelihara dan memodifikasi lingkungan rumah.
Kemampuan menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan
Keluarga Bp.WJ sudah menggunakan fasilitas kesehatan yang tersedia, apabila ada

4.

keluarga yang sakit diajak berobat ke puskesmas.


Fungsi Reproduksi
Bp.WJ memiliki istri dan lima orang anak tetapi kelima anaknya merantau dan menetap

5.

di denpasar, empat dari lima anaknya sudah berkeluarga. Ny.NS sudah menopause.
Fungsi Ekonomi
Bp.WJ mengatakan penghasilannya sebagai peternak babi tergantung saat babinya sudah
melahirkan anak, tapi Bp.WJ mengandalkan uang pemberian dari kelima anaknya.
Perbulan Bp.WJ mendapat uang Rp. 300.000 Rp. 900.000,-. Dari uang pemberian dari
anak anak Bp.WJ biasanya uang tersebut akan digunakan Bp.WJ untuk memenuhi

45

kebutuhan sehari hari untuk bahan makanan di dapur, membeli bensin untuk ke kota
saat mencari makan untuk ternaknya, perlengkapan persembahyangan untuk sehari
harinya dan pembayaran air tiap bulannya. Untuk pembayaran iuran di banjar sudah anak
anaknya yang membayarkannya.
F.

STRES DAN KOPING KELUARGA


1.

Stres jangka panjang dan jangka pendek


Stres jangka panjang :
Bp. WJ mengatakan ingin menggunakan kartu BPJS tapi Bp.WJ takut tidak bisa
membayar tiap bulannya.
Ny.NS mengatakan Ny.NS ingin berbuat baik, menolong sesama, berdana punia, sebagai
bekal nanti saat di akhirat.
Stres jangka pendek :
Bp.WJ dan Ny.NS mengatakan hanya memikirkan untuk hari ini dan besok untuk makan
sehari hari.

2.

Kemampuan keluarga berespon terhadap stressor


Jika ada masalah keluarga Bp.WJ dan Ny. NS sangat tanggap terhadap masalah yang ada
dan

pemecahan

masalahnya

selalu

diselesaikan dengan musyawarah

didalam

keluarga..Jika ada masalah keluarga Bp.WJ dan Ny. NS sangat tanggap terhadap masalah
yang ada dan pemecahan masalahnya selalu diselesaikan dengan musyawarah didalam
keluarga.
3.

Strategi koping yang digunakan


Keluarga mengatakan jika ada masalah selalu mendiskusikan dalam keluarga sehingga
masukan dari keluarga (terutama orangtua) dapat membantu dalam menyelesaikan
masalah.

4.

Strategi adaptasi disfungsional


Dari hasil pengkajian tidak didapatkan adanya cara-cara keluarga menghadapi masalah
secara maladaptif.

46

G.

Pemeriksaan Fisik

Table II. Pemeriksaan Fisik Keluarga Bp.WJ


Hasil
pemeriksaan

Nama anggota keluarga


Bp.WJ

Ny.NS

KU

Baik

Baik

Kunjungan I : 130/90 mmHg

110/80 mmHg

TD

Kunjungan II : 130/80 mmHg


Kunjungan III : 140/80 mmHg

Nadi

Kunjungan IV : 130/90 mmHg


Kunjungan V : 130/80 mmHg
82x/menit

80x/menit

36oC

36oC

BB

59 kg

47 kg

RR

20x/menit

20x/menit

TB

161 cm

157 cm

LL

28 cm

26 cm

Kepala

Mesocepal, rambut bersih, warna


putih ( beruban ) dan lurus.

Mesocepal, rambut bersih, warna


hitam agak beruban dan keriting.

Mata

Simetris, konjungtiva tidak anemis,


sclera tidak ikterik

Simetris, konjungtiva tidak anemis,


sclera tidak ikterik

Hidung

Bersih, penciuman baik, tidak ada


pernapasan cuping hidung.

Bersih, penciuman baik, tidak ada


pernapasan cuping hidung.

Telinga

Bersih, simetris, tidak ada serumen,


fungsi pendengaran baik.

Bersih, simetris, tidak ada serumen,


fungsi pendengaran baik.

Mulut

Bersih, mukosa bibir lembab.

Bersih, mukosa bibir lembab.

Suhu

47

Leher

Tidak ada pembesaran kelenjar


tiroid

Tidak ada pembesaran kelenjar tiroid

Dada

Pergerakan dada simetris, tidak ada


penggunaan otot

Pergerakan dada simetris, tidak ada


penggunaan otot

Paru paru

Aukultasi paru vaskuler

Aukultasi paru vaskuler

Jantung

Ictus cordis tidak tampak, bunyi


jantung I,II murni

Ictus cordis tidak tampak, bunyi


jantung I,II murni

Abdomen

Datar, simetris, tidak ada nyeri


tekan

Datar, simetris, tidak ada nyeri tekan

Ekstrimitas

Tidak ada varises, tidak ada edema

Tidak ada varises, tidak ada edema

Genetalia

Bersih, jenis kelamin laki-laki

Bersih, jenis kelamin perempuan

Pemeriksaan
kolesterol

112

100

Pemeriksaan AU

6,0

5,2

Pemeriksaan
Glukosa

142

122

Kesimpulan

Sakit

Sehat

Kesimpulan :
Dari table diatas dapat disimpulkan bahwa Bp.WJ dalam keadaan sakit. Tapi setelah
periksa di Puskesmas dan mendapatkan obat, tekanan darah Bp.WJ sudah terkontrol.
Obat yang didapatkan dari puskesmas yaitu :
Amlodipine : 2x1 sehari 1 tablet sesudah makan.
HCT : 0-0-1 sehari 1 tablet pada malam hari sesudah makan.

Harapan keluarga
Keluarga Bp.WJ berharap tindak lanjut pemeriksaan ini, terutama untuk membantu kesehatan
Bp.WJ dan Ny.NS agar tetap sehat.

48

J. ANALISA DATA
No. Data

Masalah Keperawatan

1.

Kurang Pengetahuan

Data Subjektif :
1. Bp.WJ mengatakan
pusing,

kaku/pegal,

kadang-kadang
susah

tidur

ditengkuk apabila tekananan darahya


tinggi
2. Keluarga Bp.WJ mengatakan kurang
mengerti tentang masalah hipertensi
Data Objektif :
1. Keluarga Bp.WJ tampak antusias
bertanya mengenai hipertensi
2. Keluarga Bp.WJ tidak bisa menjawab
pertanyaan yang diberikan mengenai
hipertensi
KU : baik
TD : 130/90 mmHg
Nadi : 82 x/menit
RR : 20 x/menit
7. S : 360 C
Data Subjektif :
1. Bp.WJ mengatakan sudah terbiasa
3.
4.
5.
6.

2.

dengan keadaannya (hipertensi)


2. Kelurga Bp.WJ mengatakan kurang
mengerti

cara

merawat

anggota

keluarga dengan penyakit hipertensi,


selama ini keluarga hanya
kesehatan Bp.WJ ke Puskesmas
Data Objektif :
1. KU : baik
2. TD : 130/90 mmHg
3. Nadi : 82 x/menit
4. RR : 20 x/menit
5. S : 360 C
Perumusan Diagnosis Keperawatan

49

kontrol

Resiko
hipertensi

terjadi

komplikasi

No.

Diagnosis Keperawatan

1.

Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga


mengenal masalah kesehatan anggota keluarga dengan penyakit hipertensi

2.

Resiko terjadinya komplikasi hipertensi pada Bp.WJ berhubungan dengan


ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan penyakit
hipertensi

Skoring :
Kurang pengetahuan berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga mengenal masalah
kesehatan anggota keluarga dengan penyakit hipertensi
NO KRITERIA
1.

2.

SKOR BOBOT PERHITUNGAN

Sifat masalah

Sifat masalah aktual karena


dilihat dari

antusias keluarga

Skala : Aktual

Resiko

dan

Potensial

pertanyaan yang diberikan

bertanya mengenai hipertensi


tidak

dapat

menjawab

Kemungkinan masalah

Kemungkinan masalah dapat

dapat diubah

diubah dengan mudah karena


keluarga

Skala : Mudah

Sebagian

Potensial

Cukup

kooperatif

mengenai hipertensi

0
masalah

Potensial

untuk dicegah
Skala : Tinggi

sangat

dalam mendengar penjelasan

Tidak dapat
3.

PEMBENARAN

masalah

untuk

dicegah tinggi karena adanya


keinginan
3

mengetahui

keluarga

untuk

pengertian,

penyebab, tanda, dan gejala

50

Rendah

4.

hipertensi

Menonjolnya masalah

Keluarga mengetahui penyakit

Skala : Masalah berat, 2

yang

masalah

tetapi

tidak perlu ditangani


Masalah

hipertensi
jelas

sehingga

perlu

dan

lengkap

tentang

hipertensi supaya keluarga lebih


0

paham tentang hipertensi

JUMLAH

Skoring :
Resiko terjadinya

Bp.WJ,

diberikan informasi yang lebih

tidak

dirasakan

oleh

namun belum paham tentang

harus segera ditangani


Ada

diderita

komplikasi

hipertensi

pada

Bp.WJ

berhubungan

dengan

ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan penyakit hipertensi


NO KRITERIA
1.

SKOR BOBOT PERHITUNGAN

Sifat masalah

PEMBENARAN
Sifat masalah resiko karena

Skala : Aktual

Resiko

Potensial

keluarga belum mengerti cara

merawat

anggota

keluarga

dengan penyakit hipertensi

51

2.

Kemungkinan masalah

Kemungkinan masalah dapat

dapat diubah

diubah dengan mudah, karena


keluarga

Skala : Mudah

Sebagian

Potensial

cara merawat anggota keluarga


dengan penyakit hipertensi

0
masalah

Potensial

untuk dicegah

keinginan
3

Cukup

merawat

Masalah
dirasakan

anggota

yang

diderita

oleh

Bp.WJ,

namun kurang mengerti tentang


cara merawat anggota keluarga
dengan

sehingga

penyakit

hipertensi

perlu

diberikan

informasi yang lebih jelas dan

tidak
0

lengkap supaya keluarga bisa


merawat Bp.WJ

JUMLAH

Prioritas Diagnosa Keperawatan


Prioritas Diagnosa Keperawatan
1. Kurang

keluarga

dengan penyakit hipertensi

harus segera ditangani

tidak perlu ditangani

untuk

Keluarga mengetahui penyakit

Skala : Masalah berat, 2

tetapi

keluarga

mencegah hipertensi, dan cara

Menonjolnya masalah

masalah

untuk

mengetahui komplikasi, cara

Rendah

Ada

masalah

dicegah cukup karena adanya

Skala : Tinggi

4.

untuk

menerima penjelasan tentang

Tidak dapat
3.

kooperatif

pengetahuan

keluarga

Skor
Bp.WJ

berhubungan

dengan 5

ketidakmampuan keluarga mengenal masalah kesehatan Bp.WJ

52

dengan penyakit hipertensi


2. Resiko terjadinya komplikasi hipertensi pada Bp.WJ berhubungan
dengan ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan
penyakit hipertensi

K. INTERVENSI KEPERAWATAN
No
Dx
1

Tujuan Umum Tujuan Khusus


Setelah
dilakukan

Setelah
keluarga

diharapkan

mampu :

keluarga
bertambah
tentang
hipertensi

dilakukanVerbal

Hasil Standar
1. Keluarga

3xtindakan 1 x 60 menit,

kunjungan,
pengetahuan

Kriteria

Intervensi
mampu1. Kaji

menyebutkan

diharapkan

pengetahuan keluarga

pengertian hipertensi mengenai hipertensi


2. Keluarga
mampu2. Berikan
Penkes
menyebutkan

1. Mengenal

masalah

kepada

penyebab hipertensi
mampu
kesehatan keluarga Psikomotor 3. Keluarga
2. Membuat keputusan
menyebutkan tanda
tindakan kesehatan
dan gejala hipertensi

keluarga

tentang :
a. Pengertian
hipertensi
b. Penyebab
hipertensi
c. Tanda dan gejala

yang tepat
3. Memberi perawatan
pada

tingkat

hipertensi
3. Berikan kesempatan

anggota

keluarga yang sakit


4. Mempertahankan

keluarga bertanya

suasana rumah yang


sehat
5. Menggunakan
fasilitas
yang
2

Setelah

kesehatan
ada

di

masyaraka
Setelah
dilakukanVerbal

1. Keluarga

53

dapat1. Kaji

tingkat

dilakukan

4xtindakan 1 x 60 menit

kunjungan,

keluarga

diharapkan

mampu :

keluarga
mengetahui

diharapkan

1. Mengenal

dan

tindakan

pengetahuan keluarga

komplikasi dan cara

mengenai

mencegah hipertensi
2. Keluarga
dapat
masalah

menyebutkan

kesehatan keluarga
komplikasi dari2. Membuat keputusan
hipertensi

menyebutkan

komplikasi

anggota

keluarga yang sakit.


cara 2. Berikan
Penkes

mencegah

kesehatan

merawat

cara

kepada
dari

keluarga

tentang :
a. Komplikasi

hipertensi
Psikomotor
merawat yang tepat
3. Kelurga
dapat
hipertensi
3. Memberi perawatan
anggota
b. Cara
mencegah
menyebutkan cara
anggota
keluarga dengan pada
komplikasi
dari
merawat orang yang
keluarga yang sakit
penyakit
hipertensi
menderita hipertensi
4. Mempertahankan
3. Ajarkan keluarga cara
hipertensi
suasana rumah yang
merawat
anggota
sehat
Respon
keluarga
dengan
5. Menggunakan
penyakit hipertensi
fasilitas
kesehatan
4. Berikan kesempatan
yang
ada
di
keluarga bertanya
cara

5. Motivasi

masyarakat

untuk

keluarga
tetap

mengontrol kesehatan
Bp.WJ ke Puskesmas
6. Berikan pujian atas
keputusan

yang

diambil oleh keluarga

54