Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

BAB I
KONSEP DASAR MEDIS
A. Definisi
Hemodialisa sebagai terapi yang dapat meningkatkan kualitas hidup dan
memperpanjang usia. Hemodialisa merupakan metode pengobatan yang sudah
dipakai secara luas dan rutin dalam program penanggulangan gagal ginjal akut
maupun gagal ginjal kronik (Smeltzer, 2001).
Terapi hemodialisis adalah pengobatan dengan menggunakan hemodialisis
yang berasal dari kata hemo yang berarti darah dan dialisis yang berarti memisahkan
darah dari bagian yang lain. Jadi hemodialisis yaitu memisahkan sampah nitrogen
dan sampah yang lain dari dalam darah melalui membran semipermeabel.
Hemodialisis tidak mampu menggantikan seluruh fungsi ginjal, namun dengan
hemodialisis pada penderita gagal ginjal kronis dapat bertahan hidup bertahun-tahun.
(Nuryandari, 2009).
Hemodialisis adalah pengeluaran zat sisa metabolisme seperti ureum dan zat
beracun lainnya, dengan mengalirkan darah lewat alat dializer yang berisi membran
yang selektif-permeabel dimana melalui membran tersebut fusi zat-zat yang tidak
dikehendaki terjadi. Hemodialisa dilakukan pada keadaan gagal ginjal dan beberapa
bentuk keracunan (Brooker, 2001).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa hemodialisa adalah
suatu teknologi tinggi sebagai terapi pengganti fungsi ginjal untuk mengeluarkan
sisa-sisa metabolisme atau racun tertentu dari peredaran darah manusia seperti air,
natrium, kalium,

hydrogen, urea, kreatinin, asam urat, dan zat-zat lain melalui

membran semi permeable sebagai pemisah darah dan cairan dialisat pada ginjal
buatan dimana terjadi proses difusi, osmosis dan ultra filtrasi.
B. Tujuan
Menurut Havens dan Terra (2005) tujuan dari pengobatan hemodialisa antara
lain :
1. Menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi ekskresi, yaitu membuang sisa-sisa
metabolisme dalam tubuh, seperti ureum, kreatinin, dan sisa metabolisme yang
lain.
2. Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan cairan tubuh yang seharusnya
dikeluarkan sebagai urin saat ginjal sehat.
3. Meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penurunan fungsi ginjal.
4. Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program pengobatan yang lain.
C. Indikasi dan Kontraindikasi
Indikasi :

VII Tahun 2015

1
1

UIN Alauddin Makassar | Profesi Ners Angkt.

LAPORAN PENDAHULUAN

1. Gagal ginjal akut


2. Gagal ginjal kronik, bila laju filtrasi gromelurus kurang dari 5 ml/menit
3. Hiperkalemia (kalium serum lebih dari 6 mEq/l)
4. Uremia (ureum lebih dari 200 mg/dl)
5. PH darah kurang dari 7,1
6. Anuria berkepanjangan, lebih dari 5 hari
7. Intoksikasi obat dan zat kimia
8. Sindrom Hepatorenal (Brunner & Suddhart, 2000)
Kontraindikasi :
1. Hipertensi Berat (TD > 200 mmhg)
2. Hipotensi (TD < 100 mmhg)
3. Adanya pendarahan hebat
4. Demam tinggi.
D. Prinsip Hemodialisa
Hemodialisis merupakan suatu proses yang digunakan pada pasien dalam
keadaan sakit akut dan memerlukan terapi dialysis jangka pendek (beberapa hari
sampai beberapa minggu) atau pasien dengan penyakit gagal ginjal stadium terminal
yang membutuhkan terapi jangka panjang atau terapi permanent. Sehelai membrane
sintetik yang semipermeabel menggantikan glomerulus serta tubulus renal dan
bekerja sebagai filter bagi ginjal yang terganggu fungsinya itu.
Akses vaskuler hemodialisis merupakan aspek yang paling peka pada
hemodialisis oleh karena adanya banyak komplikasi dan kegagalannya. Untuk
melakukan dialisis intermiten jangka panjang, maka perlu ada jalan masuk ke system
vaskular penderita yang dapat diandalkan. Pada akses vascular dapat diklasifikasikan
sebagai berikut :
1. Akses vaskular eksternal (sementara)
a. Keteter subklavikula dan femoralis
Akses segera ke dalam sirkulasi darah pasien pada hemodialisis
darurat dicapai melalui kateterisasi subklavia untuk pemakaian sementara.
Kateter dwi-lumen atau multi lumen dimasukan kedalam vena subklavia.
Meskipun metoda akses veskular ini bukannya tanpa resiko, namun metoda
tersebut biasanya dapat digunakan selama beberapa minggu. Kateter
femoralis dapat dimasukan ke dalam pembuluh darah femoralis, dan
digunakan selama beberapa minggu, jika pasien sudah tidak memerlukan

VII Tahun 2015

2
2

UIN Alauddin Makassar | Profesi Ners Angkt.

LAPORAN PENDAHULUAN

karena akibat kondisi pasien yang sudah membaik atau terdapat cara akses
yang lain.
Karena pasien mayoritas hemodialisis jangka panjang yang harus
dirawat dirumah sakit merupakan pasien dengan kegagalan akses sirkulasi
yang permanent, maka salah satu prioritas dalam perawatan pasien
hemodialisis adalah perlindungan terhadap akses sirkulasi tersebut.
b. Akses vaskular internal (permanen)
1) Fistula
Fistula yang lebih permanent dibuat melalui pembedahan dengan
cara menyambung atau menghubungkan pembuluh arteri dengan vena
secara side to side atau end to side. Fistula tersbut memerlukan waktu 4
sampai 6 minggu untuk menjadi matang sebelum siap digunakan. Waktu
ini diperlukan untuk memberi kesempatan agar fistula pulih dan segmen
vena fistula berdilatasi dengan baik sehingga dapat menerima jarum
berlumen besar dengan ukuran 14 sampai 16. Jarum tersebut ditusukan
kedalam pembuluh darah.
Segmen arteri fistula digunakan untuk memasukan kembali
darah yang sudah didialisis, untuk menampung aliran darah ini segmen
arteri dan vena fistula tersebut harus lebih besar daripada pembuluh
darah normal. Kepada pasien dianjurkan untuk melakukan latihan guna
meningkatkan ukuran pembuluh darah, yaitu dengan cara meremasremas bola karet untuk melatih fistula yang dibuat dilengan bawah, dan
dengan demikian pembuluh darah yang sudah lebar dapat menerima
jarum berukuran besar yang digunakan dalam proses hemodialisis.
2) Tandur
Dalam penyediaan lumen sebagai tempat penusukan jarum
dialisis, sebuah tandur dapat dibuat dengan cara menjahit sepotong
pembuluh arteri atau vena dari sapi, material Gore-Tex atau tandur vena
safena dari pasien sendiri. Biasanya tandur tersebut dibuat bila
pembuluh darah pasien sendiri tidak cocok untuk dijadikan fistula.
Tandur biasanya dipasang pada lengan bawah, lengan atas paha bagian
atas.
E. Sarana dan Prasarana Hemodialisa
1. Fasilitas ruang yang memadai.
2. Mesin hemodialisa
3. Bahan Habis Pakai (Consumable Goods) yang terdiri dari antara lain :
a. Dialyzer (ginjal buatan) dan blood-lines (selang darah).

VII Tahun 2015

3
3

UIN Alauddin Makassar | Profesi Ners Angkt.

LAPORAN PENDAHULUAN

Pada pasien GGT, hemodialisis dilakukan dengan mengalirkan darah


melalui selang darah kedalam dialyzer atau ginjal buatan yang terdiri dari
dua kompartemen. Kompartemen pertama adalah kompartemen darah yang
di dalamnya mengalir darah dibatasi oleh selaput semipermeable buatan
dengan kompartemen kedua berisi cairan untuk hemodialisis atau dialisat.
Melalui membrane inilah proses pembersihan darah pasien berlangsung.
b. Cairan dialisat merupakan cairan dengan komposisi khusus yang dipakai
dalam proses hemodialisis, yang terdiri dari cairan acetate dan bicarbonate.
Saat ini yang lebih banyak dipakai adalah bicarbonate dialysis, hemodialisis
dengan menggunakan cairan bicarbonate karena efek samping pasca
hemodialisis yang lebih minimal.
c. Bahan medis lain yang dibutuhkan seperti set infus, cairan infus, spuit, kapas
alkohol, kassa steril, cairan antiseptik (seperti bethadine solution), powder
antibiotic, plester micropore, band-aid (pelekat), verban gulung, sarung
tangan dan lain sebagainya.
4. Peralatan medis yang dapat dipakai ulang antara lain : klem, gunting, piala ginjal
(nierbeken), thermometer, alas perlak, senter, tourniquet, steteskop, mangkok,
gelas ukur, tensimeter, ECG monitor, tabung oksigen, kertas observasi, status
pasien, apron, masker, bantalan pasir berbagai ukuran dan lain sebagainya.
5. Untuk bahan linen dibutuhkan antara lain : selimut, sprei, sarung bantal, waslap,
handuk kecil, serbet tangan.
6. Untuk perawatan mesin diperlukan cairan desinfectant seperti Sodium
hypochloride 2.5%, Havox/Bayclin 5,25%, Citrosteril 3%, Puristeril 3%, Actril
0,7%, Citic Acid 50% (Fresenius Medical Care, 2001).
F. Proses Hemodialisa
Suatu mesin hemodialisa yang digunakan untuk tindakan hemodialisa
berfungsi mempersiapkan cairan dialisa (dialisat), mengalirkan dialisat dan aliran
darah melewati suatu membran semipermeabel, dan memantau fungsinya termasuk
dialisat dan sirkuit darah korporeal. Pemberian heparin melengkapi antikoagulasi
sistemik. Darah dan dialisat dialirkan pada sisi yang berlawanan untuk memperoleh
efisiensi maksimal dari pemindahan larutan. Komposisi dialisat, karakteristik dan
ukuran membran dalam alat dialisa, dan kecepatan aliran darah dan larutan
mempengaruhi pemindahan larutan.
Dalam proses hemodialisa diperlukan suatu mesin hemodialisa dan suatu
saringan sebagai ginjal tiruan yang disebut dializer, yang digunakan untuk menyaring
dan membersihkan darah dari ureum, kreatinin dan zat-zat sisa metabolisme yang

VII Tahun 2015

4
4

UIN Alauddin Makassar | Profesi Ners Angkt.

LAPORAN PENDAHULUAN

tidak diperlukan oleh tubuh. Untuk melaksanakan hemodialisa diperlukan akses


vaskuler sebagai tempat suplai dari darah yang akan masuk ke dalam mesin
hemodialisa (NKF, 2006).
Suatu mesin ginjal buatan atau hemodializer terdiri dari membran
semipermeabel yang terdiri dari dua bagian, bagian untuk darah dan bagian lain
untuk dialisat. Darah mengalir dari arah yang berlawanan dengan arah dialisat
ataupun dalam arah yang sama dengan arah aliran darah. Dializer merupakan sebuah
hollow fiber atau capillary dializer yang terdiri dari ribuan serabut kapiler halus yang
tersusun pararel. Darah mengalir melalui bagian tengah tabung-tabung kecil ini, dan
dialisat membasahi bagian luarnya. Dializer ini sangat kecil dan kompak karena
memiliki permukaan yang luas akibat adanya banyak tabung kapiler.
Menurut Corwin (2000) hemodialisa adalah dialisa yang dilakukan di luar
tubuh. Selama hemodialisa darah dikeluarkan dari tubuh melalui sebuah kateter
masuk ke dalam sebuah mesin yang dihubungkan dengan sebuah membran
semipermeabel (dializer) yang terdiri dari dua ruangan. Satu ruangan dialirkan darah
dan ruangan yang lain dialirkan dialisat, sehingga keduanya terjadi difusi. Setelah
darah selesai dilakukan pembersihan oleh dializer darah dikembalikan ke dalam
tubuh melalui arterio venosa shunt (AV-shunt).
Suatu sistem dialisa terdiri dari dua sirkuit, satu untuk darah dan satu lagi
untuk dialisat. Darah mengalir dari pasien melalui tabung plastik (jalur arteri/ blood
line), melalui dializer hollow fiber dan kembali ke pasien melalui jalur vena. Dialisat
membentuk saluran kedua. Air kran difiltrasi dan dihangatkan sampai sesuai dengan
suhu tubuh, kemudian dicampur dengan konsentrat dengan perantaraan pompa
pengatur, sehingga terbentuk dialisat atau bak cairan dialisa. Dialisat kemudian
dimasukan ke dalam dializer, dimana cairan akan mengalir di luar serabut berongga
sebelum keluar melalui drainase. Keseimbangan antara darah dan dialisat terjadi
sepanjang membran semipermeabel dari hemodializer melalui proses difusi, osmosis,
dan ultrafiltrasi.
Komposisi dialisat diatur sedemikian rupa sehingga mendekati komposisi ion
darah normal, dan sedikit dimodifikasi agar dapat memperbaiki gangguan cairan dan
elektrolit yang sering menyertai gagal ginjal. Unsur-unsur yang umum terdiri dari
Na+, K+, Ca++, Mg++, Cl- , asetat dan glukosa. Urea, kreatinin, asam urat dan fosfat
dapat berdifusi dengan mudah dari darah ke dalam dialisat karena unsur-unsur ini
tidak terdapat dalam dialisat. Natrium asetat yang lebih tinggi konsentrasinya dalam

VII Tahun 2015

5
5

UIN Alauddin Makassar | Profesi Ners Angkt.

LAPORAN PENDAHULUAN

dialisat, akan berdifusi ke dalam darah. Tujuan menambahkan asetat adalah untuk
mengoreksi asidosis penderita uremia. Asetat dimetabolisme oleh tubuh pasien
menjadi bikarbonat. Glukosa dalam konsentrasi yang rendah ditambahkan ke dalam
dialisat untuk mencegah difusi glukosa ke dalam dialisat yang dapat menyebabkan
kehilangan kalori dan hipoglikemia. Pada hemodialisa tidak dibutuhkan glukosa
dalam konsentrasi yang tinggi, karena pembuangan cairan dapat dicapai dengan
membuat perbedaan tekanan hidrostatik antara darah dengan dialisat.
Ultrafiltrasi terutama dicapai dengan membuat perbedaan tekanan hidrostatik
antara darah dengan dialisat. Perbedaaan tekanan hidrostatik dapat dicapai dengan
meningkatkan tekanan positif di dalam kompartemen darah dializer yaitu dengan
meningkatkan resistensi terhadap aliran vena, atau dengan menimbulkan efek vakum
dalam ruang dialisat dengan memainkan pengatur tekanan negatif. Perbedaaan
tekanan hidrostatik diantara membran dialisa juga meningkatkan kecepatan difusi
solut. Sirkuit darah pada sistem dialisa dilengkapi dengan larutan garam atau NaCl
0,9 %, sebelum dihubungkan dengan sirkulasi penderita. Tekanan darah pasien
mungkin cukup untuk mengalirkan darah melalui sirkuit ekstrakorporeal (di luar
tubuh), atau mungkin juga memerlukan pompa darah untuk membantu aliran dengan
quick blood (QB) (sekitar 200 sampai 400 ml/menit) merupakan aliran kecepatan
yang baik. Heparin secara terus-menerus dimasukkan pada jalur arteri melalui infus
lambat untuk mencegah pembekuan darah. Perangkat bekuan darah atau gelembung
udara dalam jalur vena akan menghalangi udara atau bekuan darah kembali ke dalam
aliran darah pasien. Untuk menjamin keamanan pasien, maka hemodializer modern
dilengkapi dengan monitor-monitor yang memiliki alarm untuk berbagai parameter.
Menurut PERNEFRI (2003) waktu atau lamanya hemodialisa disesuaikan
dengan kebutuhan individu. Tiap hemodialisa dilakukan 45 jam dengan frekuensi 2
kali seminggu. Hemodialisa idealnya dilakukan 1015 jam/minggu dengan QB 200
300 mL/menit. Sedangkan menurut Corwin (2000) hemodialisa memerlukan waktu
35 jam dan dilakukan 3 kali seminggu. Pada akhir interval 23 hari diantara
hemodialisa, keseimbangan garam, air, dan pH sudah tidak normal lagi. Hemodialisa
ikut berperan menyebabkan anemia karena sebagian sel darah merah rusak dalam
proses hemodialisa.
Price dan Wilson (1995) menjelaskan bahwa dialisat pada suhu tubuh akan
meningkatkan kecepatan difusi, tetapi suhu yang terlalu tinggi menyebabkan
hemolisis sel-sel darah merah sehingga dapat menyebabkan pasien meninggal.

VII Tahun 2015

6
6

UIN Alauddin Makassar | Profesi Ners Angkt.

LAPORAN PENDAHULUAN

Robekan pada membran dializer yang mengakibatkan kebocoran kecil atau masif
dapat dideteksi oleh fotosel pada aliran keluar dialisat. Hemodialisa rumatan biasanya
dilakukan tiga kali seminggu, dan lama pengobatan berkisar dari 4 sampai 6 jam,
tergantung dari jenis sistem dialisa yang digunakan dan keadaan pasien.
Skema proses hemodialisa

G. Komplikasi
Menurut Havens dan Terra (2005) selama tindakan hemodialisa sering sekali
ditemukan komplikasi yang terjadi, antara lain :
1. Kram otot
Kram otot pada umumnya terjadi pada separuh waktu berjalannya
hemodialisa sampai mendekati waktu berakhirnya hemodialisa. Kram otot
seringkali terjadi pada ultrafiltrasi (penarikan cairan) yang cepat dengan volume

2.

yang tinggi.
Hipotensi
Terjadinya hipotensi dimungkinkan karena pemakaian dialisat asetat,
rendahnya dialisat natrium, penyakit jantung aterosklerotik, neuropati otonomik,

3.

dan kelebihan tambahan berat cairan.


Aritmia
Hipoksia, hipotensi, penghentian obat antiaritmia selama dialisa,
penurunan kalsium, magnesium, kalium, dan bikarbonat serum yang cepat

4.

berpengaruh terhadap aritmia pada pasien hemodialisa.


Sindrom ketidakseimbangan dialisa
Sindrom ketidakseimbangan dialisa dipercaya secara primer dapat
diakibatkan dari osmol-osmol lain dari otak dan bersihan urea yang kurang cepat
dibandingkan dari darah, yang mengakibatkan suatu gradien osmotik diantara
kompartemen-kompartemen ini. Gradien osmotik ini menyebabkan perpindahan
air ke dalam otak yang menyebabkan oedem serebri. Sindrom ini tidak lazim dan
biasanya terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisa pertama dengan
azotemia berat.

VII Tahun 2015

7
7

UIN Alauddin Makassar | Profesi Ners Angkt.

LAPORAN PENDAHULUAN

5.
6.

Hipoksemia
Hipoksemia selama hemodialisa merupakan hal penting yang perlu
dimonitor pada pasien yang mengalami gangguan fungsi kardiopulmonar.
Perdarahan
Uremia menyebabkan ganguan fungsi trombosit. Fungsi trombosit dapat
dinilai dengan mengukur waktu perdarahan. Penggunaan heparin selama

7.

hemodialisa juga merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan.


Ganguan pencernaan
Gangguan pencernaan yang sering terjadi adalah mual dan muntah yang
disebabkan karena hipoglikemia. Gangguan pencernaan sering disertai dengan

sakit kepala.
8. Infeksi atau peradangan bisa terjadi pada akses vaskuler.
9. Pembekuan darah bisa disebabkan karena dosis pemberian heparin yang tidak
adekuat ataupun kecepatan putaran darah yang lambat.
H. Penatalaksanaan Jangka Panjang pada Pasien Hemodialisa
1. Diet
Diet merupakan faktor penting bagi pasien yang menjalani hemodialisa
mengingat adanya efek uremia. Apabila ginjal tidak mampu mengekskresikan
produk akhir metabolisme, substansi yang bersifat asam ini akan menumpuk
dalam serum pasien dan bekerja sebagai racun. Gejala yang terjadi akibat
penumpukan tersebut secara kolektif dikenal dengan gejala uremik dan akan
mempengaruhi setiap sistem tubuh. Lebih banyak toksin yang menumpuk, lebih
berat gejala yang timbul.
Diet rendah protein akan mengurangi penumpukan limbah nitrogen dan
dengan demikian meminimalkan gejala. Penumpukan cairan juga dapat terjadi
dan dapat mengakibatkan gagal jantung kongestif serta edema paru. Dengan
demikian pembatasan cairan juga merupakan bagian dari resep diet untuk pasien
ini. Dengan penggunaan hemodialisa yang efektif, asupan makanan pasien dapat
diperbaiki meskipun biasanya memerlukan beberapa penyesuaian atau
pembatasan pada asupan protein, natrium, kalium dan cairan.
2. Masalah cairan
Pembatasan asupan cairan sampai 1 liter perhari sangat penting karena
meminimalkan resiko kelebihan cairan antar sesi hemodialisa. Jumlah cairan
yang tidak seimbang dapat menyebabkan terjadinya edema paru ataupun
hipertensi pada 2-3 orang pasien hemodialisa. Ketidakseimbangan cairan juga
dapat menyebabkan terjadinya hipertropi pada ventrikel kiri.

VII Tahun 2015

8
8

UIN Alauddin Makassar | Profesi Ners Angkt.

LAPORAN PENDAHULUAN

Jumlah asupan cairan pasien baik cairan yang diminum langsung ataupun
yang dikandung oleh makanan dapat dikaji secara langsung dengan mengukur
kenaikan berat badan antar sesi hemodialisa (Interdialytic Weight Gain/ IDWG).
IDWG adalah peningkatan berat badan antar hemodialisa yang paling utama
dihasilkan oleh asupan garam dan cairan. Secara teori, konsekuensi dari asupan
tersebut terdiri atas dua bagian yaitu on the one hand yang artinya asupan air dan
salin dapat bekerja sama dengan kalori dan protein dalam makanan, yang akan
disatukan untuk memperoleh status nutrisi yang lebih baik. Tetapi on the other
hand, asupan air dan garam dapat menimbulkan peningkatan cairan tubuh. Yang
menjadi kunci untuk kejadian hipertensi dan hipertropi ventrikel kiri (Villaverde,
2005).
3. Pertimbangan medikasi
Banyak obat yang diekskresikan seluruhnya atau sebagian melalui ginjal.
Apabila seseorang pasien menjalani dialisis, semua jenis obat dan dosisnya harus
dievaluasi dengan cermat. Terapi antihipertensi yang sering merupakan bagian
dari susunan terapi dialisis, merupakan salah satu contoh dimana komunikasi,
pendidikan dan evaluasi dapat memberikan hasil yang berbeda.

VII Tahun 2015

9
9

UIN Alauddin Makassar | Profesi Ners Angkt.

LAPORAN PENDAHULUAN

BAB II
KONSEP DASAR ASUHAN KEPERAWATAN
A. Data Dasar Pengkajian
1. Identitas
Nama pasien, umur, jenis kelamin, tempat/ tanggal lahir, suku, agama, nama
penanggung jawab, alamat rumah, nomor telepon.
2. Keluhan utama
Nyeri yang menyebar sampai ke punggung, edema, muncul tanda/ gejala gagal
ginjal akut/ kronis.
3. Riwayat penyakit sekarang
Pasien mengalami gagal ginjal akut atau kronik.
4. Riwayat penyakit dahulu
Pasien pernah mengalami gagal ginjal akut sebelumnya, pernah dilakukan
dialisis sebelumnya.
5. Pola aktivitas-istirahat
Gejala :
- Keletihan, kelemahan, malaise
- Gangguan tidur (insomnia/ gelisah atau somnolen)
Tanda : kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan rentang gerak.
6. Sirkulasi
Gejala (pada GGK) :
- Riwayat hipertensi lama atau berat
- Palpitasi; nyeri dada (angina)
Tanda :
- Hipotensi/ hipertensi (termasuk hipertensi malignan, eklampsia/ hipertensi
-

akibat kehamilan
Diritmia jantung
Nadi lemah, hipotensi ortostatik (hipovolemia)
DVJ, nadi kuat (hipervolemia)
Edema jaringan umum (termasuk area periorbital, mata kaki, sacrum)
Pucat, kecenderungan perdarahan.

7. Pola eliminasi
Gejala :
- Perubahan pola berkemih biasanya: peningkatan frekuensi, poliuria,
-

VII Tahun 2015

(kegagalan dini), atau penurunan frekuensi/ oliguria (fase akhir)


Disuria, ragu-ragu, dorongan, dan retensi (inflamasi/ obstruksi, infeksi)
Abdomen kembung, diare, atau konstipasi.
Riwayat BPH, batu/kalkuli.

10
10

UIN Alauddin Makassar | Profesi Ners Angkt.

LAPORAN PENDAHULUAN

Tanda :
- Perubahan warna urine (kuning pekat, merah, coklat, berawan)
- Oliguria (biasanya 12-21 hari), poliuria (2-6 L/hari).
8. Makanan/ cairan
Gejala :
- Peningkatan berat badan (edema), penurunan berat badan (dehidrasi)
- Mual, muntah, anorekia, nyeri ulu hati
- Pengguaan diuretic.
Tanda :
- Perubahan turgor kulit/ kelembaban
- Edema (umum, bagian bawah).
9. Neurosensori
Gejala :
- Sakit kepala, penglihatan kabur
- Kram otot/ kejang; sindrom kaki gelisah.
Tanda :
- Gangguan status mental (penurunan lapang perhatian, ketidakmampuan
berkonsentrasi, hilang memori, kacau, penurunan tingkat kesadaran),
azotemia, ketidakseimbangan elektrolit/ asam/ basa.
- Kejang, faskikulasi otot, aktivitas kejang.
10. Nyeri/ kenyamanan
Gejala : nyeri tubuh, sakit kepala.
Tanda : perilaku berhati-hati, distraksi, gelisah.

11. Pernafasan
Gejala : nafas pendek.
Tanda :
- Takipnea, dipsnea, peningkatan frekuensi, kedalaman (pernafasan Kusmaul);
nafas ammonia.
- Batuk produktif dengan sputum kental merah muda (edema paru).
12. Keamanan
Gejala : adanya reaksi tranfusi.
Tanda :
- Demam (sepsis, dehidrasi)
- Petekie, area kulit ekimosis
- Pruritus, kulit kering.
B. Diagnosa Keperawatan
1. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional; ancaman pada konsep diri;
perubahan status kesehatan.
2. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis, kebutuhan perawatan dan
pengobatan berhubungan dengan kurang terpajan informasi.
3. Nyeri akut berhubungan dengan prosedur invasive; pemasukan kateter malalui
dinding abdomen/ iritasi kateter; penempatan kateter yang tidak tepat.

VII Tahun 2015

11
11

UIN Alauddin Makassar | Profesi Ners Angkt.

LAPORAN PENDAHULUAN

4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan terapi pembatasan, prosedur


dialisis yang lama.
5. Resiko cidera dengan faktor resiko kehilangan akses vaskuler akibat pembekuan;
perdarahan karena lepasnya sambungan secara tidak sengaja.
6. Resiko kelebihan volume cairan dengan faktor resiko tidak adekuatnya gradient
osmotic dialisat; retensi cairan (malposisi kateter); pemasukan oral/IV
berlebihan.
7. Resiko kekurangan volume cairan dengan faktor resiko penggunaan dialisat
hipertonik dengan pembuangan cairan berlebihan dari volume sirkulasi.
8. Resiko infeksi dengan faktor resiko kontaminasi kateter selama pemasangan,
kontaminasi kulit pada sisi pemasangan kateter.

DAFTAR PUSTAKA
Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan, Ed. 31. Jakarta : EGC.
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku Patofisiologi Corwin. Jakarta : Aditya Media.
Havens, L dan Terra, R. P. 2005. Hemodialysis. http://www.kidneyatlas.org (16 Juni
2015).
NKF. 2006. Hemodialysis. http://www.kidneyatlas.org (16 Juni 2015).
PERNEFRI. 2003. Konsensus Dialisis. Jakarta : Sub Bagian Ginjal dan Hipertensi
Bagian Ilmu Penyakit Dalam, FKUI-RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.
Price, Sylvia A dan Wilson S. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit,
Ed. 6. Jakarta: EGC.
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner & Suddarth, ed.8 vol.1. Jakarta: EGC
Wilkonson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan : Diagnosis NANDA,
Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC, Ed. 6. Jakarta: EGC.

VII Tahun 2015

12
12

UIN Alauddin Makassar | Profesi Ners Angkt.

LAPORAN PENDAHULUAN

(Smeltzer dan Bare, 2002)

(2009)

VII Tahun 2015

(2009)

(2005)

13
13

UIN Alauddin Makassar | Profesi Ners Angkt.