Anda di halaman 1dari 3

1.

Abdurrahman bin 'Auf


Abdurrahman bin 'Auf dilahirkan pada tahun kesepuluh dari tahun Gajah dan umurnya
sepuluh tahun lebih muda dari Nabi, Abdurrahman dilahirkan pada tahun 581 M. Namanya pada
masa jahiliyah adalah Abdu Amru dan dalam satu pendapat lain Abdul Ka'bah. Lalu Nabi s.a.w.
menggantikannya menjadi Abdurrahman. Nama lengkapnya adalah Abdurrahman bin Auf bin Abdu
Manaf bin Abdul Harits bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah al-Qurasyi al-Zuhri.
a. Dermawan

Thalhah bin Abdullah bin Auf mengatakan, Semua penduduk Madinah


merasakaan manfaat dari Abdurrahman binAuf, sepertiga (penduduk Madinah)
diberi pinjaman oleh beliau, sepertiga lagi di bayarkan utang-utang mereka dan
sepetiga dikunjungi (silaturrahmi) oleh beliau.
ketika akan wafat beliau mewasiatkan hartanya dalam jumlah yang
banyak untuk dimanfaatkan di jalan Allah. Penulis kitab Asadul Ghabah menukil
sebuah riwayat yang disampaikan oleh Urwah bin Zubair, Abdurrahman
mewasiatkan 50.000 dinar untuk infaq fi Sabilillah. Disamping itu beliau juga
mewasitkan 400 dinar untuk diberikan kepada setiap veteran perang Badar yang
masih hidup. Jumlah veteran perang Badar
yang masih hidup saat
Abdurrahman meninggal sekitar 100 orang. Jadi beliau menginfakkan 40.000
dinar untuk perang Badar. Beliau juga mewasiatkan 1000 ekor kuda untuk
diifakkan di jalan Allah. Selain itu, dia juga berwasiat agar sejumlah besar
uangnya diberikan kepada ummahatul mukminin (janda-janda Rasulullah saw)
sehingga Aisyah berdoa: semoga Allah memberi minum kepadanya air dari
mata air salsabil di surga. Dan Ali berkata sesudah Abdurrahman bin Auf wafat.
Katanya, pergilah wahai Ibnu Auf. Kamu telah memperoleh jernihnya dan telah
meninggalkan kepalsuannya (keburukannya). (HR. Al-Haakim).
2. Tawadhu (rendah hati)

Sahabat Abdurrahman bin Auf juga dikenal sebagai sosok yang tawadhu. Kekayaannya yang
berlimpah tidak membuatnya sombong. Syekh Abdurrahman Rafat Basya menggambarkan
kerendahhatian sahabat yang mulia ini. Beliau berkata: Walaupun begitu kaya- rayanya,
namun harta kekayaan itu seluruhnya tidak mempengaruhi jiwanya yang penuh Iman dan
Taqwa. Apabila dia berada di tengah-tengah budaknya, orang tidak adapat membedakan di
antara mereka, mana yang majikan dan mana yang budak.[1]
Saad bin Hasan At-Tamimi mengatakan: Abdurrahman bin Auf tidak bisa
dibedakan dengan budak-budaknya, lantaran ketawaduan beliau di dalam berpakaian.
Semoga Allah meridhai Abdurrahman bin Auf dan seluruh Sahabat Rasulullah shallallaahu
alaihi wasallam yang mengetahui (kebaikan) dan mengamalkaannya. Mereka mengetahui
sabda Rasul yang mengatakan: Al Badzadzah Minal Iman, Badzadzah adalah bagian dari
Iman[2]. Badzaadzah artinya pakaian sederhana dan tawadhu. Dalam hadits lain Rasulullah
shallaallaahu alaihi wasallam bersabda: Barangsiapa yang meninggalkan pakaian (tertentu)
karena tawadhu kepada Allah, padahal ia sanggup memilki pakaian tersebut, maka pada hari
kiamat kelak Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk lalu Allah menyuruhnya
memilih perhiasan iman yang ia kehendaki untuk ia pakai.
3. Zuhud terhadap Kekuasaan

Sebelum meninggal dunia Amirul Mukminin Umar bin Khathab radhiyallaahu anhu
berwasiat dan menunjuk enam orang Sahabat sebagai Tim Formatur yang akan menunjuk
khalifah sepeninggal beliau. Umar menjelang wafatnya mengatakan, Aku tidak menemukan
orang yang lebih pantas menempati urusan ini (khalifah) selain beberapa orang yang ketika
Rasulullah meninggal, Beliau ridha terhadap mereka. Lalu Umar menyebut nama-nama
mereka satu persatu, Ali, Utsman, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah, Saad bin
Abi Waqqash, dan Abdurrahman bin Auf. Kalian akan disertai/disaksikan oleh Abdullah
bin Umar tetapi ia tidak berhak terhadap perkara ini (khilafah).
Enam orang tersebut kemudian bermusyawarah. Sebelum mereka sampai pada satu
keputusan, Abdurrahman angkat suara, serahkan urusan ini kepada tiga orang diantara kalian.
Lalu masing-masing menunjuk satu orang. Zubair menunjuk Ali . Thalhah menunjuk
Utsman, sedangkan Saad menunjuk Abdurrahman bin Auf. Jadilah khilafah hak bagi tiga
orang. Utsman, Ali, dan Abdurrahman bin Auf. Kemudian Abdurrahman mengundurkan
diri dan mengusulkan agar mereka memilih satu diantara dua, yaitu Utsman dan Ali. Ali
berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallaahu alaihi wasallam bersabda bahwa
engkau adalah orang yang dipercaya oleh penduduk langit dan bumi. Akhirnya Abdurrahman
memilih Utsman bin Affan sebagai khalifah menggantikan Umar bin Khathab. Pilihan
Abdurrahman disetujui oleh lima orang dalam tim itu bahkan disetujui oleh kaum Muslimin
di kota Madinah.
B. Abidzar al- Ghifari
1. Pemberani
Segera saja Abu dzar menuju Masjidil Haram dan di hadapan Kabah banyak berkumpul para tokohtokoh kafir Quraisy. Demi melihat banyaknya orang berkumpul padanya, Abu Dzar berteriak dengan sekeraskeras suara dengan menyatakan :
Wahai orang-orang Quraisy, aku sesungguhnya telah bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang benar
kecuali Allah dan aku bersaksi pula Muhammad itu adalah hamba dan utusan Allah.

Setelah menyatakan keislamannya, ia menuju Masjidil Haram dan di hadapan Kabah banyak
berkumpul para tokoh-tokoh kafir Quraisy, untuk meneriakkan bahwa ia seorang Muslim, hingga ia
dipukuli oleh suku Quraisy. Atas bantuan dari Abbas bin Abdul Muthalib, ia dibebaskan dari suku
Quraisy, setalah suku Quraisy mengetahui bahwa orang yang dipukuli berasal dari suku Ghifar.
Dan apa yang dihadapinya hari ini, tidak menciutkan nyalinya Keesokan harinya dia mengulangi
proklamasi keimanan yang penuh keberanian itu di depan Kabah, dan teriakan syahadatainnya menimbulkan
kembali berangnya para tokoh kafir Quraisy. Sehingga mereka memerintahkan untuk mengeroyok seorang Abu
Dzar untuk kedua kalinya. Dan untuk kedua kalinya ini, Al Abbas berteriak lagi seperti kemarin dan Abu Dzarpun
dilepaskan oleh masa yang sedang mengamuk itu dalam keadaan babak belur bersimbah darah seperti kemarin.
Setelah dia puas membuat marah orang-orang kafir Quraisy dengan proklamasi masuk Islamnya,
meskipun dia harus beresiko hampir mati dikeroyok masa. Barulah dia bersemangat melaksanakan wasiat
Rasulullah sallallahu alaihi wa aalihi wa sallam untuk pulang ke kampungnya di kampung Bani Ghifar

2. Pantang Menyerah
Pada perang Tabuk, beberapa orang tertinggal dari rombongan besar
Rasulullah SAW. Dan ketika ini dilaporkan, beliau bersabda, "Biarkanlah!

Andaikan ia berguna, tentu akan disusulkan oleh Allah kepada kalian. Dan jika
tidak, Allah telah membebaskan kalian dari dirinya."
Salah seorang yang tertinggal tersebut adalah Abu Dzar. Keledai yang
ditungganginya sangat lelah sehingga tidak bisa bergerak lagi. Berbagai cara
dicoba Abu Dzar agar keledainya berjalan lagi tetapi tidak berhasil, bahkan
akhirnya mati.
Sementara itu rombongan Nabi SAW sedang beristirahat ketika pagi tiba.
Seorang sahabat melaporkan ada satu sosok terlihat berjalan sendiri di jauh di
ufuk. Nabi SAW bersabda, "Mudah-mudahan orang itu Abu Dzar!!"
Setelah dekat dan sampai di hadapan Nabi SAW, ternyata memang Abu
Dzar-lah orangnya. Ia memanggul barang dan perbekalan di punggungnya dan
meneruskan perjalanan menyusul rombongan Nabi SAW dengan berjalan kaki.
Walau jelas terlihat kelelahannya, tetapi wajahnya bersinar gembira bisa
bertemu dengan Nabi SAW dan anggota pasukan lainnya. Beliau menatapnya
penuh takjub, kemudian dengan senyum yang santun dan penuh kasih, beliau
bersabda, "Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya pada Abu Dzar, ia berjalan
sendirian, ia meninggal sendirian, dan ia akan dibangkitkan sendirian"
3. Dermawan
Suatu ketika ada kabar bahwa ada sekelompok orang-orang miskin yang
kehabisan bekal makanan, berkemah di dekat mata air. Abu Dzar
memerintahkan pembantunya dari bani Sulaim untuk menyembelih satu ekor
unta buat mereka. Ia memilih yang terbaik dari unta yang dimiliki Abu Dzar, dan
ternyata ada dua, salah satunya tampak lebih bagus untuk ditunggangi. Karena
dimaksudkan untuk bekal makanan dan akan disembelih, ia memilih unta yang
satunya kemudian dibawa menghadap Abu Dzar. Ketika melihat unta tersebut,
Abu Dzar berkata, "Engkau mengkhianati janjimu dulu?"
Orang tersebut sadar apa yang dimaksudkan Abu Dzar, ia membawa
kembali unta tersebut dan menukarnya dengan unta yang lebih bagus untuk
ditunggangi. Abu Dzar menyuruh dua pembantunya menyembelih unta tersebut
dan membagikan dagingnya. Untuk keluarganya, sama banyaknya dengan
keluarga dalam kelompok orang miskin tersebut.