Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN PENDAHULUAN HIPERTENSI

A. Definisi
Hipertensi adalah tekanan darah persisten dimana tekanan sistolik diatas 140 mmHg dan
tekanan diastolik diatas 90 mmHg. Hipertensi lebih dikenal dengan tekanan darah tinggi dimana
seseorang mengalami peningkatan tekanan darah diatas tekanan normal yang mengakibatkan
peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas) (Setiawan, 2008).
Hipertensi dengan peningkatan systole tanpa disertai peningkatan diastole lebih sering pada
lansia, sedangkan hipertensi dengan peningkatan diastole tanpa disertai peningkatan systole lebih
sering terjadi pada dewasa muda. Hipertensi dapat pula digolongkan sebagai esensial dan
sekunder. Disebut hipertensi esensial bila tanpa memiliki etiologi spesifik, sedangkan disebut
hipertensi sekunder bila memiliki penyebab (Tambayong, 2002).
B.

Etiologi
Sekitar 90% kasus hipertensi adalah hipertensi primer atau esensial sedangkan 7%

disebabkan oleh kelainan ginjal atau hipertensi renalis dan 3% disebabkan oleh kelainan
hormonal atau hipertensi hormonal serta penyebab lainnya. Faktor tertentu yang mungkin
menjadi faktor penyebab lainnya adalah (Muttaqin, 2009):
1. Usia lanjut
Kemungkinan pertambahan usia juga berpengaruh pada penderita hipertensi. Karena
adanya perubahan struktural dan fungsional sistem vaskular perifer. Perubahan ini
meliputi asteroklerosis, dan hilangnya elastisitas jaringan ikat. Dengan pertambahan usia,
jantung penderita menjadi kaku dan kurang berfungsi.
2. Jenis kelamin
Umumnya hipertensi lebih banyak terjadi pada laki-laki pada usia pertengahan umur,
sedangkan pada perempuan terjadi setelah usia pertengahan umur. Penyakit ini banyak
menyebabkan komplikasi dan kematian pada pria.
3. Keturunan
Faktor keturunan sangat berpengaruh pada penderita hipertensi. Keluarga tertentu
memiliki kadar natrium intraseluler dan menurunkan rasio potassium natrium. Studi
menunjukkan hubungan antara tekanan darah dan lingkungan untuk anggota keluarga
genetiknya mirip. Dari studi tersebut, peneliti memperkirakan hampir 25-60% kasus
hipertensi disebabkan oleh faktor genetik.

4. Obesitas
Umumnya, lebih besar berat badan orang, semakin tinggi tekanan darahnya. Oleh karena
itu, orang dengan berat badan obesitas disarankan untuk menurunkan berat badannya
secara signifikan agar tekanan darah juga turun sehingga dapat mengurangi dosis obat
antihipertensi. Penumpukan lemak pada tubuh bagian atas khususnya perut lebih
berpotensi menderita hipertensi daripada lemak dibagian pinggul dan paha.
5. Konsumsi tembakau
Meskipun merokok belum tentu menjadi penyebab, namun orang yang berhenti merokok
dapat mengurangi resiko terserang penyakit jantung. Berdasarkan hasil penelitian,
penderita hipertensi yang tidak merokok, tiga sampai lima kali lebih kecil
kemungkinannya untuk menderita infark miokard dibandingkan pasien hipertensi yang
merokok.
6. Diet lemak tinggi
Makanan dengan kandungan lemak tinggi memiliki efek langsung pada tekanan darah.
Diet lemak tinggi memberikan kontribusi untuk obesitas dan hiperlipidemia yang
meningkatkan risiko penderita komplikasi kardiovaskular. Hiperlipidemia merupakan
kelebihan lemak dalam plasma yang dapat meningkatkan risiko aterosklerosis. Dengan
demikian, pasien hipertensi harus dimotivasi untuk makan diet rendah lemak untuk
mengurangi risiko komplikasi cardiovascular.
7. Stress
Tekanan darah pada penderita hipertensi dapat meningkat sebagai respon normal akibat
stresor fisiologis seperti marah, takut, dan rasa sakit fisik. Namun, jika stressor tersebut
tetap berlangsung, vasokonstriksi meningkat, detak jantung meningkat, dan stimulasi
pelepasan renin dapat menyebabkan tekanan darah terus tinggi. Dengan demikian, pasien
yang terkena stres berulang memiliki peningkatan risiko hipertensi.
8. Gaya hidup yang menetap
Risiko hipertensi meningkat sebanyak 25% akibat gaya hidup yang menetap. Penderita
hipertensi harus didorong untuk latihan pola hidup sehat sebagai cara memperbaiki
kesehatan kardiovaskularnya. Latihan yang dilakukan tidak perlu berat, misalnya
aktivitas ringan seperti berjalan cepat 30-45 menit selama tiga sampai lima kali
seminggu. Dengan mempertahankan aktivitas aerobik secara teratur, pasien hipertensi
dapat menurunkan tekanan darah sistoliknya sekitar 10mmHg.
C.

Manifestasi Klinik

Hipertensi tidak memberikan tanda-tanda (simptom) pada tingkat awal. Kebanyakan orang
mengira bahwa sakit kepala terutama pada pagi hari, pusing, berdebar-debar, dan berdengung di
telinga merupakan tanda-tanda hipertensi. Tanda-tanda tersebut sesungguhnya dapat terjadi pada
tekanan darah normal bahkan seringkali tekanan darah yang relatif tinggi tidak memiliki tandatanda tersebut. Cara yang tepat untuk meyakinkan seseorang memiliki tekanan darah tinggi
adalah dengan mengukur tekanannya. Bila hipertensi sudah mencapai taraf lanjut yang berarti
telah berlangsung beberapa tahun akan menyebabkan sakit kepala, nafas pendek, pandangan
mata kabur, dan mengganggu tidurnya (Soeharto, 2001).
Pada pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah yang
tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti perdarahan, eksudat,
penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat dapat ditemukan edema pupil (edema pada
diskus optikus). Gejala hipertensi antara lain sakit kepala bagian belakang, kaku kuduk, sulit
tidur, gelisah, kepala pusing, dada berdebar-debar, lemas, sesak nafas, berkeringat dan pusing
(Price, 2005).
Gejala-gejala penyakit yang biasa terjadi baik pada penderita hipertensi maupun pada
seseorang dengan tekanan darah yang normal hipertensi yaitu sakit kepala, gelisah, jantung
berdebar, perdarahan hidung, sulit tidur, sesak nafas, cepat marah, telinga berdenging, tekuk
terasa berat, berdebar dan sering kencing di malam hari. Gejala akibat komplikasi
hipertensi yang pernah dijumpai meliputi gangguan penglihatan, saraf, jantung, fungsi ginjal
dan gangguan serebral (otak) yang mengakibatkan kejang dan pendarahan pembuluh darah otak
yang mengakibatkan kelumpuhan dan gangguan kesadaran hingga koma (Cahyono, 2008).
Corwin menyebutkan bahwa sebagian besar gejala klinis timbul setelah mengalami
hipertensi bertahun-tahun adalah nyeri kepala saat terjaga, kadang kadang disertai mual
dan muntah yang disebabkan peningkatan tekanan darah intrakranial (Corwin, 2005).
Evaluasi pasien hipertensi atau penyakit jantung hipertensi ditujukan untuk:
1. Meneliti kemungkinan hipertensi sekunder,
2. Menetapkan keadaan pra pengobatan,
3. Menetapkan faktor-faktor yang mempengaruhi pengobatan atau faktor yang akan berubah
karena pengobatan,
4. Menetapkan kerusakan organ target,
5. Menetapkan faktor resiko penderita jantung koroner lainnya.
D. Evaluasi Diagnostik

Riwayat dan pemeriksaan fisik yang menyeluruh sangat penting. Retina harus diperiksa, dan
juga harus dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk mengkaji kemungkinan adanya kerusakan
organ, seperti ginjal atau jantung, yang dapat disebabkan oleh tingginya tekanan darah.
Hipertrofi ventrikel kiri dapat dikaji dengan elektrokardiografi, protein dalam urin dapat
dideteksi dengan urinalisa. Dapat terjadi ketidakmampuan untuk mengkonsentrasikan urin dan
peningkatan nitrogen urea darah. Adanya faktor resiko lainnya juga harus dikaji dan di evaluasi.
Evaluasi diagnostic menurut Baughman, 2002:
1. Riwayat dan pemeriksaan fisik termasuk pemeriksaan retina, pemeriksaan laboratorium
untuk organ yang mengalami kerusakan, EKG untuk hipertrofi ventrikel kiri.
2. Pemeriksaan khusus : renogram, pielogram intravena, arteriogram ginjal, pemeriksaan
fungsi ginjal terpisah, dan kadar renin.
3. Pemeriksaan untuk mendeteksi penyakit ginjal:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Urinalisis
Biakan urin
Kimia Darah (kolesterol, albumin, globulin, asam urat, ureum, kreatinin)
Klirens kreatinin dan ureum
Darah lengkap
Pielografi intravena (bila scanning ginjal dan USG tak tersedia)

Pemeriksaan untuk mendeteksi penyakit endokrin:


a. Elektrolit serum
b. Aktivitas renin plasma dan aldosteron
c. Katekolamin plasma
d. Katekolamin urin dan metabolitnya dalam urin
e. Aldosteron dan metabolit steroid dalam urin
4. Evaluasi akibat hipertensi terhadap organ target:
EKG, foto thorax dan ekokardiografi.
E. Klasifikasi Tekanan Darah
Klasifikasi tekanan darah oleh JNC VII untuk pasien dewasa berdasarkan rata-rata
pengukuran dua tekanan darah atau lebih pada dua atau lebih kunjungan klinis (Tabel 1).
Klasifikasi tekanan darah mencakup 4 kategori, dengan nilai normal tekanan darah sistolik
(TDS) 120 mmHg dan tekanan darah diastolik (TDD) 80 mmHg. Prehipertensi tidak
dianggap sebagai kategori penyakit tetapi mengidentifikasikan pasien-pasien yang tekanan
darahnya cenderung meningkat ke klasifikasi hipertensi dimasa yang akan datang. Ada dua

tingkat (stage) hipertensi, dan semua pasien pada kategori ini harus diterapi obat (JNC VII,
2003).
Tabel 1. Klasifikasi Hipertensi Menurut JNC-VII 2003
Klasifikasi Tekanan
Tekanan Darah Sistol
Darah
(mmHg)
Normal
120
Pra hipertensi
120-139
Hipertensi stadium I
140-159
Hipertensi stadium II
160

Tekanan Darah Diastol


(mmHg)
80
80-89
90-99
100

Krisis hipertensi adalah suatu keadaan peningkatan tekanan darah yang mendadak
(systole 180 mmHg dan/atau diastole 120 mmHg), pada penderita hipertensi yang
membutuhkan penanggulangan segera yang ditandai oleh tekanan darah yang sangat tinggi
dengan kemungkinan timbulnya atau telah terjadi kelainan organ target (otak, mata/retina,
ginjal, jantung, dan pembuluh darah).
Tingginya tekanan darah bervariasi, yang terpenting adalah cepat naiknya tekanan darah,
dibagi menjadi dua:
a. Hipertensi emergensi
Situasi dimana diperlukan penurunan tekanan darah yang segera dengan obat
antihipertensi parenteral karena adanya kerusakan organ target akut yang bersifat progresif
sehingga tekanan darah harus diturunkan segera (dalam hitungan menit-jam) untuk
mencegah kerusakan organ lebih lanjut. Contoh gangguan organ target akut antara lain,
encephalopathy, pendarahan intrakranial, gagal ventrikel kiri akut disertai edema paru,
dissecting aortic aneurysm, angina pectoris tidak stabil dan eklampsia atau hipertensi
berat selama kehamilan.
b. Hipertensi urgensi
Situasi dimana diperlukan penurunan tekanan darah yang bermakna tanpa adanya gejala
yang berat atau kerusakan organ target yang bersifat progresif dan tekanan darah perlu
diturunkan dalam beberapa jam. Penurunan tekanan harus dilaksanakan dalam kurun
waktu 24-48 jam (penurunan tekanan darah dapat dilaksanakan lebih lambat/dalam
hitungan jam-hari).