Anda di halaman 1dari 17

JOURNAL READING

Tacrolimus Ointment for Treatment of Vernal


Keratoconjunctivitis
Abdulrahman M. Al-Amri, Aleem Gulzar Mirza1, Ahmed Mossa Al-Hakami2

Oleh:
Amalia Alfi Karromallahu D.
215.04.101010

Pembimbing:
dr. Sigit Wibisono, Sp.M

LABORATORIUM ILMU KESEHATAN MATA


RSUD KANJURUHAN KEPANJEN KABUPATEN MALANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ISLAM MALANG
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, hidayah, serta
inayah-Nya kepada penyusun sehinggaJournal Reading Laboratorium Ilmu Kesehatan Mata
yang berjudul Tacrolimus Ointment for Treatment of Vernal Keratoconjunctivitis ini
dapat terselesaikan sesuai rencana yang diharapkan.
Tujuan penyusunan makalah journal reading ini adalah menambah ilmu pengetahuan
mengenai permasalahan penyakit pada mata khususnya pengelolaan uveitis, serta memenuhi
tugas Kepaniteraan Klinik Madya. Penyusun menyampaikan terima kasih kepada
pembimbing,dr. Sigit Wibisono, Sp.M., atas segenap waktu, tenaga dan pikiran yang telah
diberikan selama proses pembuatan journal reading ini.
Penyusun menyadari bahwa laporan journal reading ini masih jauh dari sempurna.
Untuk itu, saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat diharapkan demi perbaikan
kedepan. Atas saran dan kritik pembaca, saya ucapkan terima kasih.
Semoga journal reading ini bermanfaat demi kemajuan ilmu pengetahuan di bidang
kedokteran.

Kepanjen, Januari 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
Judul
Kata Pengantar ................................................................................................. i
Daftar Isi ......................................................................................................... ii
BAB I : ISI JURNAL
Judul.......................................................................................................... 1
Abstrak...................................................................................................... 1
Introduksi.................................................................................................. 1
Material dan metode.................................................................................. 2
Hasil.......................................................................................................... 4
Diskusi...................................................................................................... 6
Kesimpulan............................................................................................... 8
BAB II : TELAAH JURNAL ....................................................................... 9
Lampiran Jurnal

BAB I
ISI JURNAL
1.1

Judul
Salep Takrolimus Sebagai Terapi Keratokonjungtivitis Vernal

1.2

Abstrak

1. Tujuan: Untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas salep takrolimus 0,1% untuk
pengobatan keratokonjungtivitis vernal (KKV) refrakter.
2. Material

dan

Metode:

Penelitian

serial

kasus

prospektif

nonrandomisasi

ini

mengikutsertakan 20 pasien (40 mata) dengan KKV berat yang diterapi dengan salep
takrolismus 0,1%. Rerata usia pasien adalah 18,25 4,2 tahun (kisaran 9-31 tahun). Setiap
pasien menyelesaikan follow-up dalam jangka waktu minimal 24 bulan.
3. Hasil: Perbaikan yang signifikan pada tanda dan gejala klinis pada seluruh pasien setelah 6
minggu pengobatan dengan takrolimus topikal. Terapi dikurangi secara bertahap, dengan
peningkatan interval antara penggunaan salep. KKV kambuh pada seluruh pasien yang
mencoba menghentikan terapi. Tidak ada obat tambahan yang diperlukan dan tidak ada
perubahan yang signifikan dalam ketajaman visual atau refraksi. Lima pasien menghentikan
terapi karena sensasi terbakar yang berat dan dikeluarkan dari penelitian.
4. Kesimpulan: Salep takrolimus 0,1% adalah pengobatan yang aman dan efektif untuk KKV
refrakter dan dapat digunakan sebagai pengganti terapi steroid yang digunakan untuk
mengendalikan penyakit. Namun, efek samping takrolismus dapat menyebabkan kepatuhan
yang buruk.
5. Kata kunci: Alergi, Takrolimus, Keratokonjungtivitis Vernal.
1.3

Pendahuluan
Keratokonjungtivitis vernal (KKV) adalah peradangan kronis bilateral dari
konjungtiva yang paling banyak diderita anak-anak antara 3 dan 16 tahun. KKV biasanya
sembuh pada masa pubertas, tetapi dapat terus berlanjut sampai dewasa. Meskipun nama
vernal menunjukkan musim, terutama musim semi, kondisi alergi ini sering berlanjut
sepanjang tahun dan biasanya meningkat pada musim yang lebih hangat. 1,2 Pasien dengan
KKV mengalami morbiditas yang signifikan. 2 Gejala KKV meliputi rasa gatal, mata
berair, sekresi mukus, dan fotofobia.4 Tanda konjungtival pada KKV adalah hiperemia,
hipertrofi papiler, papil raksasa, sekret, dan bintik trantas.5
1

Takrolimus merupakan supresor imum nonsteroid kuat yang diisolasi dari


Streptomyces tsukubaensi.6 Takrolismus berikatan dengan protein pengikat FK506 pada
limfosit T dan menghambat aktivitas kalsineurin. Penghambatan kalsineurin menekan
defosforilasi faktor nuklir dari sel T teraktivasi dan transfer faktor nuklir tersebut ke dalam
nukleus, yang menekan pembentukan T helper (Th) 1 (interleukin [IL] 2, interferon ) dan
sitokin Th2 (IL 4, IL 5).7 Takrolismus juga menghambat pelepasan histamin dari sel mast,
yang diduga untuk meringankan gejala alergi.8 Takrolismus 100 kali lebih poten
dibandingkan siklosporin.9-11 Salep takrolismus digunakan secara luas untuk pengobatan
dermatitis atopik. Takrolismus topikal (0,02-0,1%) juga telah digunakan untuk mengobati
konjungtivitis papiler raksasa, keratokonjungtivitis atopik (KKA) dan KKV12-18 dengan
hasil yang baik. Selain itu, suspensi tetes mata takrolismus 0,1% telah digunakan untuk
pengobatan KKA dan KKV dengan masa tindak lanjut hanya 4 minggu.18
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi hasil klinis jangka panjang salep
takrolismus sebagai pengobatan untuk KKV refrakter.
1.4

Material dan Metode


Penelitian kasus serial prospektif, nonrandomisasi, tanpa kontrol ini menyertakan 40
mata dari 20 pasien dengan KKV aktif yang refrakter terhadap terapi konvensional.
Dewan Peninjaun Raja Khalid University, Abha, Arab Saudi menyetujui protokol
penelitian. Pasien direkrut dari Rumah Sakit Magrabi Aseer setelah izin tertulis diperoleh.
Penelitian ini berpegang pada prinsip dari deklarasi Helsinki.
Seluruh peserta penelitian menderita KKV aktif dan dependen terhadap steroid,
meskipun telah mendapat terapi siklosporin atau terapi konvensional lain, seperti
antihistamin, stabilisator sel mast, anti inflamasi nonsteroid topikal, dan steroid topikal.
Kriteria eksklusi penelitian ini adalah penyakit konjungtiva lain yang terjadi bersamaan,
trauma kimia, sindrom Stevens Johnson, penyakit kornea, uveitis, infeksi mata, dan
penggunaan lensa kontak, riwayat penggunaan antiinflamasi non-steroid sistemik atau
penggunaan obat imunosupresif, dan operasi mata dalam 3 bulan sebelumnya. KKV
didiagnosis dengan (1) gejala (kronis, gatal bilateral, kemerahan); dan (2) tanda (bintik
trantas, papil pada konjungtiva tarsal superior, erosi kornea). Pemeriksaan mata lengkap
dilakukan, termasuk tajam visual dengan koreksi terbaik (best spectacle-corrected visual
acuityBSCVA), slit lamp biomikroskop, pewarnaan fluoresein, funduskopi, dan
tonometri aplanasi.

Peserta penelitian menghentikan seluruh pengobatan 1 minggu sebelum perlakuan


dimulai. Seluruh peserta diminta untuk menggunakan salep dermatologi takrolismus 0,1%
(Astellas Toyama, Toyama, Jepang) pada forniks konjungtiva inferior pada setiap mata.
Dosis untuk KKA berat adalah sekali sehari selama 1 bulan diikuti oleh penurunan dosis
selang hari selama 1 minggu; kemudian dua kali seminggu selama 1 minggu; selanjutnya
sekali seminggu. Dosis untuk KKA moderat adalah sekali setiap hari selama 1 bulan
diikuti oleh penurunan dosis untuk dua kali seminggu selama 1 minggu; kemudian sekali
seminggu. Dosis untuk KKA ringan adalah dua kali seminggu untuk bulan 1 dan
kemudian sekali seminggu. Selama perawatan, pasien kembali untuk evaluasi setelah 1
minggu, 4 minggu, 6 minggu, dan kemudian setiap 6 bulan. Target terapi adalah perubahan
dari titik awal setelah terapi dengan takrolismus topikal. Hasil utama dinilai berdasarkan
tingkat keparahan tanda dan gejala pada awal (sebelum terapi) dan pada setiap kunjungan
menggunakan 4 skala (0 = tidak ada gejala; 1 = ringan, 2 = sedang; 3 = berat) [Tabel 1].
Gejala termasuk gatal, kemerahan, sensasi benda asing. Tanda termasuk konjungtiva
hiperemis, hipertrofi papiler dari konjungtiva tarsal superior, bintik trantas, dan keratopati
pungtuata seperfisialis.
Tabel 1: Skala Penilaian Tanda Klinis
Tanda
Konjungtiva hiperemis

Papil
Bintik trantas

Keratopati pungtata superfisial

Skor
3
2
1
3
2
1
3
2
1
0
3
2
1
0

Definisi
Dilatasi pembuluh difus pada seluruh
konjugtiva bulbar
Dilatasi banyak pembuluh
Dilatasi sedikit pembuluh
Besar papil >0.3 mm
Besar papil 0.2-0.3 mm
Besar papil <0.2 mm
6 bintik
4-6 bintik
1-3 bintik
Tidak ada
Seluruh permukaan kornea
Lebih dari setengah permukaan kornea
Kurang dari setengah permukaan kornea
Tidak ada

Seluruh data dianalisis dengan menggunakan SPSS (IBM Corp, New York, NY, USA).
Analisis varian dan uji Wilcoxon digunakan untuk menganalisis perubahan dalam nilai
rerata dari tanda dan gejala setelah terapi dengan salep takrolismus topikal 0,1%. P 0,05
dianggap signifikan secara statistik.

1.5

Hasil
Empat puluh mata dari 20 pasien (18 laki-laki) dengan KKV bilateral (rerata durasi
standar deviasi; 61,25 4,24 bulan) dilibatkan dalam penelitian ini. Usia rata-rata adalah
23,14 3,8 tahun [Tabel 2]. Seluruh pasien menderita KKV aktif, perineal, yang refrakter
terhadap obat-obatan, termasuk antihistamin, stabilisator sel mast, siklosporin topikal, dan
steroid. Gatal adalah gejala yang paling menonjol (17/20); keluhan lain termasuk
kemerahan dan sensasi benda asing. Seluruh mata memiliki penebalan kelopak mata,
konjungtiva hiperemis, dan konjungtivitis papiler, dan 10% dari pasien memiliki riwayat
atopi. Setelah memulai pengobatan dengan salep takrolismus 0,1%, pasien diikuti selama
rerata durasi 27,20 0.70 bulan [Tabel 3].
Tabel 2: Karakteristik Pasien Dewasa dengan KKV
No. Kasus
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20

Jenis kelamin/umur
Laki-laki/19
Perempuan/11
Laki-laki/17
Laki-laki/31
Laki-laki/21
Laki-laki/12
Laki-laki/25
Laki-laki/15
Laki-laki/21
Laki-laki/09
Laki-laki/23
Laki-laki/16
Laki-laki/22
Laki-laki/10
Laki-laki/24
Laki-laki/31
Perempuan/15
Laki-laki/10
Laki-laki/20
Laki-laki/13

Durasi KKV (bulan)


24
28
21
180
60
84
72
132
120
60
15
48
13
36
120
144
14
12
24
18

Tindak lanjut (bulan)


26
28
24
30
26
31
25
24
26
27
24
29
28
30
26
25
32
27
29
27

KKV: keratokonjugtivitis vernal

Tabel 3: Skor rerata gejala pada pasien dengan KKV sebelum dan setelah terapi
dengan salep takrolismus topikal 0.1%
Gejala
Gatal
Kemerahan
Sensasi

Sebelum
2.090.33
2.120.40
2.010.55

1 minggu
1.200.39
1.210.41
1.300.44

6 minggu
1.110.30
0.140.31
0.080.21

Final follow-up
0.210.31
0.120.34
0.230.41

p
<0.001
<0.001
<0.001

benda asing
P<0.05 signifikan secara statistik, KKV: keratokonjungtivitis vernal

Tabel 4: Skor rerata tanda objektif pada pasien dengan KKV sebelum dan setelah
terapi dengan salep takrolismus topikal 0.1%
Tanda
Penebalan kelopak
Konjungtiva hiperemis
Papil
Bintik trantas
Keratopati pungtuata

Sebelum
2.100.42
2.160.52
2.070.54
2.120.49
2.000.62

1 minggu
1.200.41
1.660.55
1.260.51
1.010.30
1.180.39

6 minggu
1.020.32
0.910.21
0.900.21
0.930.15
0.860.35

Final follow-up
0.260.41
0.310.42
0.160.31
0.180.22
0.100.09

p
<0.001
<0.001
<0.001
<0.001
<0.001

superfisialis
<0.05 signifikan secara statistik, KKV: keratokonjungtivitis vernal

Terdapat perbaikan yang signifikan dalam tanda dan gejala klinis setelah memulai
pengobatan dengan takrolismus [Tabel 4]. Gatal adalah gejala pertama yang mengalami
penurunan. Pada awal penelitian, 17 dari 20 pasien mengeluhkan gatal (14 berat, 3
moderat), namun, setelah 1 minggu pengobatan, seluruh pasien membaik. Setelah 6
minggu, seluruh pasien mencapai resolusi lengkap dari gejala gatal yang dialami [Tabel 3].
Pada akhir periode tindak lanjut, seluruh pasien tetap asimtomatik tetapi terus melanjutkan
pemakaian salep takrolismus topikal. Tidak ada obat tambahan, seperti stabilisator mast
cell, siklosporin topikal, atau steroid, yang diperlukan untuk meringankan tanda dan
gejala.
Sebelum pengobatan, terdapat konjungtiva hiperemis pada 38 mata (28 berat, 6
sedang, 4 ringan). Konjungtiva hiperemis membaik sempurna pada 36 dari 40 mata, 6
minggu setelah memulai pengobatan.
Perbaikan pada hipertrofi papil konjungtiva terlihat pada 20 mata, 6 minggu setelah
memulai terapi. Setelah 3 bulan, hanya 8 pasien mengalami hipertrofi papiler ringan. Dua
puluh satu mata yang menderita penebalan kelopak moderat atau berat pada awal
menunjukkan perbaikan dalam tanda klinis, 6 minggu setelah memulai pengobatan.
Seluruh pasien (20/40 mata) dengan erosi epitel kornea pungtuata moderat atau berat
menunjukkan peningkatan 8 minggu setelah memulai terapi. Seluruh mata mengalami
perbaikan menjadi erosi epitel kornea pungtuata ringan setelah 2 bulan pengobatan yang
sembuh sempurna pada kunjungan tindak lanjut terakhir [Tabel 4]. Pada akhir penelitian,
seluruh pasien dengan KKV masih menggunakan salep takrolismus karena kekambuhan
ketika mencoba untuk menghentikan pengobatan. Namun, pasien ini mengalami
peningkatan dramatis setelah kembali pada rejimen pengobatan takrolismus sekali
seminggu. Lima pasien menghentikan pengobatan karena sensasi terbakar berat dan

dikeluarkan dari penelitian. BSCVA dan pembiasan tetap tidak berubah selama periode
tindak lanjut.
1.6

Diskusi
Takrolismus merupakan agen yang efektif untuk pengelolaan pasien dengan KKA dan
KKV yang refrakter terhadap pengobatan konvensional, termasuk topikal siklosporin. 12-18.
Dalam penelitian ini, takrolismus topikal mencapai hasil yang baik dalam pengelolaan
KKV berat yang resisten siklosporin. Sebelumnya, Daniell dkk. 19 melaporkan bahwa
siklosporin topikal 0,05% bukan merupakan agen pengganti steroid yang efektif dalam
konjungtivitis alergi yang dependen steroid. Konsisten dengan laporan sebelumnya,
hampir seluruh pasien dalam penelitian ini menunjukkan perbaikan dramatis dalam tanda
dan gejala inflamasi tanpa efek samping yang signifikan. Meskipun tidak ada dari pasien
pada penelitian ini yang memerlukan obat tambahan, termasuk steroid topikal,
penggunaan takrolismus jangka panjang diperlukan untuk mengontrol kekambuhan
penyakit. Dalam percobaan klinis acak multisenter, Ohashi et al. 17 menggunakan suspensi
mata takrolismus 0,1% dua kali sehari selama 4 minggu pada 21 pasien dengan KKA dan
7 pasien dengan KKV dan dibandingkan dengan hasil pada kelompok plasebo. Mereka 17
menemukan mata dengan perlakuan menunjukkan perbaikan yang nyata dalam gejala
setelah 4 minggu pengobatan.
Dalam penelitian ini, seluruh pasien menyelesaikan tindak lanjut selama 24 bulan, dan
tidak ada dari pasien yang membutuhkan obat tambahan, seperti antihistamin, steroid, atau
stabilisator sel mast, untuk mengontrol aktivitas penyakit. Dalam penelitian ini, 5 pasien
dikeluarkan karena tidak toleran terhadap sensasi terbakar berat yang disebabkan oleh
pemakaian salep takrolismus. Efek ini mungkin berhubungan dengan aktivasi keratitis
herpes simpleks dendritik oleh sifat imunosupresif dari salep takrolismus. 16 Namun, tidak
ada satu pun dari pasien ini yang mengalami keratitis herpes simpleks selama tindak lanjut
periode jangka panjang. Kemungkinan aktivasi herpes simpleks keratitis dendritik dengan
pengobatan takrolismus membutuhkan studi lebih lanjut. Dalam sebuah studi klinis yang
dilakukan oleh Sengoku dkk.,16 penggunaan tetes mata takrolismus 0,1-1% mencapai
peningkatan gejala yang dramatis pada pasien dengan KKV refrakter. Dalam penelitian
ini, pada awal peneltian sebanyak 20 pasien mengalami konjungtiva hiperemis ringan
(yang reda sesudahnya) untuk 3 hari pertama setelah memulai pengobatan diikuti dengan
gatal yang berkurang [Tabel 3]. Saat Miyazaki et al.18 menggunakan salep takrolismus
0,02% salep untuk mengobati 5 pasien dengan KKA dan 1 pasien dengan KKV yang
6

refrakter terhadap pengobatan konvensional; terdapat peningkatan yang nyata dalam gejala
dalam 2-4 minggu pengobatan.
Gejala pada sebagian besar pasien dalam penelitian ini membaik 4 minggu setelah
mulai pengobatan salep takrolismus [Tabel 3]. Gejala alergi kambuh pada seluruh pasien
yang berusaha untuk menghentikan pemakaian takrolimus. Akibatnya, pasien tersebut
meneruskan pengobatan salama periode tindak lanjut. Meskipun risiko limfoma sel T pada
pasien yang menggunakan takrolismus topikal telah dilaporkan,20 belum ada bukti
epidemiologi yang cukup untuk menentukan apakah inhibitor kalsineurin topikal dapat
menyebabkan keganasan.21 Selain itu, terdapat kelangkaan data mengenai dosis dan durasi
pengobatan yang optimal. Bahkan, profil konsentrasi darah dari pasien yang menggunakan
salep takrolismus 0,1% berada di bawah batas kuantitatif (0,5 ng / ml) pada sebagian besar
pasien.22 Dalam penelitian ini, tidak ada keganasan yang terjadi selama 2 tahun periode
tindak lanjut, dan risiko perkembangan ke arah keganasan setelah penggunaan salep
takrolismus topikal 0,1% sangat rendah. Hasil dari literatur yang tersedia menunjukkan
bahwa salep kulit takrolismus merupakan pengobatan yang aman dan efektif untuk pasien
dengan KKV refrakter.20 Ukuran sampel yang kecil dan kurangnya randomisasi dan
kelompok kontrol adalah keterbatasan utama dari penelitian ini.
1.7

Kesimpulan
Takrolimus salep 0,1% efektif dalam mengendalikan tanda klinis dan gejala KKV
berat yang refrakter terhadap agen antihistamin topikal dan siklosporin topikal. Hasil
peneltian ini menunjukkan bahwa takrolismus adalah alternatif yang menjanjikan untuk
pengobatan KKV berat. Studi acak terkontrol lebih lanjut diperlukan untuk mengevaluasi
konsentrasi dan dosis takrolismus topikal yang tepat, serta keamanan sistemik jangka
panjang dari obat ini.

BAB II
TELAAH JURNAL
1. Judul
Syarat-syarat judul yang baik :
a) Spesifik
b) Efektif, judul tidak boleh lebih dari 12 kata untuk Bahasa Indonesia dan 10 kata untuk
Bahasa Inggris.
c) Singkat, Menurut Day (1993), judul yang baik adalah yang menggunakan kata-kata
sesedikit mungkin tetapi cukup menjelaskan isi paper. Namun, judul tidak boleh
terlalu pendek sehingga menimbulkan cakupan penelitian yang terlalu luas yang
menyebabkan pembaca bingung.
d) Menarik
e) Pembaca dapat langsung menangkap makna yang disampaikan dalam jurnal dalam
sekali baca.
Judul jurnal ini adalah :
Tacrolimus Ointment for Treatment of Vernal Keratoconjunctivitis
Kritik terhadap judul jurnal:
1) Spesifik, singkat, dan menarik karena pembaca dapat langsung menangkap makna
yang disampaikan dalam jurnal dalam sekali baca.
2) Keefektifan judul dilihat dari kelugasan penulisannya yaitu tidak lebih dari 10 kata.
2. Nama Penulis
Syarat-syarat penulisan nama penulis jurnal :
a. Tanpa gelar akademik/professional
b. Jika lebih dari 3 orang yang dicantumkan boleh hanya penulis utama, dilengkapi
dengan dkk; nama penulis lain dimuat di catatan kaki atau catatan akhir
c. Ditulis alamat dari penulis berupa email dari peneliti
d. Tercantum nama lembaga tempat peneliti bekerja

e. Jika penulisan paper dalam tim, penulisan nama diurutkan sesuai kontribusi penulis.
Penulis utama: penggagas, pencetus ide, perencana dan penanggung jawab utama
kegiatan. Penulis kedua: kontributor kedua, dst.
Penulis jurnal ini adalah :
Abdulrahman M. Al-Amri, Aleem Gulzar Mirza1, Ahmed Mossa Al-Hakami2
Department of Ophthalmology, College of Medicine, King Khaled University,
1

Department of Ophthalmology, Aseer Central Hospital,

Department of Microbiology and Clinical Parasitology, College of Medicine, King


Khaled University, Abha, Saudi Arabia
Corresponding Author: P. O. Box 641, Abha 61421, Saudi Arabia. E-mail:
amaamri@gmail.com

Kritik terhadap penulisan penulis jurnal :


1) Sudah tepat karena penulis tidak mencantumkan gelar akademik/profesionalitas, tertulis
alamat email penulis, dan tercantum lembaga penelitian.
3. Abstrak
Abstrak merupakan ringkasan suatu paper yang mengandung semua informasi yang
diperlukan pembaca untuk menyimpulkan apa tujuan dari penelitian yang dilakukan,
bagaimana metode/pelaksanaan penelitian yang dilakukan, apa hasil-hasil yang diperoleh
dan apa signifikansi/nilai manfaat serta kesimpulandari penelitian tersebut.
Abstrak yang baik harus mencakup tentang permasalahan, objek penelitian, tujuan
dan lingkup penelitian, pemecahan masalah, metode penelitian, hasil utama, serta
kesimpulan yang dicapai.
Selain judul, umumnya pembaca jurnal-jurnal ilmiah hanya membaca abstrak saja dari
paper-paper yang dipublikasi dan hanya membaca secara utuh paper-paper yang paling
menarik bagi mereka. Berdasarkan penelitian abstrak dibaca 10 sampai 500 kali lebih
sering daripada papernya sendiri.
Cara penulisan abstrak:

Tersusun tidak lebih dari 200 250 kata. Namun ada pula yang membatasi abstraknya
tidak boleh lebih dari 300 kata. Karena itu untuk penulisan abstrak cermati ketentuan
yang diminta redaksi.
Ditulis dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Diawali bahasa Inggris jika penulisan
keseluruhan tubuh paper dalam bahasa Inggris, diawali bahasa Indonesia jika
penulisan keseluruhan tubuh paper dalam bahasa Indonesia.
Latar Belakang atau Background terdiri dari 2-3 kalimat tentang latar belakang
penelitian, dan sebuah kalimat tentang tujuan penelitian. Metode atau Methods berisi:
Rancangan/desain penelitian, lokasi penelitian, sampel, variabel terikat dan bebas,
cara mengukur variabel (teknik pengumpulan data), dan metode analisis data. Hasil
Penelitian atau Results berisi hasil utama penelitian. Simpulan atau Conclusion terdiri
dari 1-2 kalimat simpulan penelitian, bisa ditambahkan sebuah kalimat implikasi atau
saran penelitian.
Bagian awal dari tiap alinea tidak diketik menjorok ke dalam, tetapi antara alinea satu
dengan alinea berikutnya diberi jarak 2 spasi. Pada awal dari alinea pertama, kedua,
ketiga dan keempat berturut-turut diketik tulisan: Latar Belakang:, Metode
Penelitian:, Hasil Penelitian: dan Simpulan Penelitian: atau dalam Bahasa
Inggris: Bacground:, Methods:, Results:, dan Conclusions:
Untuk jenis paper hasil penelitian: Penulisan abtraknya tanpa tabel, tanpa rumus,
tanpa gambar, dan tanpa acuan pustaka. Jadi tidak boleh mengutip pendapat orang
lain, harus menggunakan data-data dan hasil penelitian serta argumen yang didapat
dari penelitian sendiri.
Untuk jenis paper hasil review: Penulisan abstrak boleh mengutip hasil penelitian
orang lain dari acuan pustaka atau sumber yang diacu.
Di bawah abstrak ditulis kata kunci, paling sedikit terdiri dari tiga kata yang relevan
dan paling mewakili isi karya tulis. Demikian juga di bawah abstract ditulis paling
sedikit tiga key words yang sesuai dengan kata kunci pada abstrak (Bahasa Indonesia).
Kata kunci, tidak selalu terdiri 3 kata, ada juga yang menentukan kata kunci ditulis
dalam 4-6 kata (tergantung redaksi, jadi perhatikan ketentuan yang diminta).
10

Pada jurnal ini abstraknya adalah :

Kritik terhadap penulisan abstrak jurnal:


1) Cara penulisan dan isi abstrak:
a. Abstrak tersusun tidak lebih dari 250 kata
b. Abstrak terdiri dari empat alinea dan bagian awal tidak menjorok ke dalam.
Rincian alinea abstrak:
1)

Alinea pertama : Latar Belakang atau Background


11

2)

Alinea kedua : Metode Penelitian atau Methods

3)

Alinea ketiga : Hasil Penelitian atau Results

4)

Alinea keempat : Simpulan Penelitian atau Conclusion.

c. Isi abstrak bersifat ringkasan, mengandung informasi yang diperlukan


pembaca seperti tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan.
d. Penulisan abtraknya tanpa tabel, tanpa rumus, tanpa gambar, dan tanpa acuan
pustaka. Tidak mengutip pendapat orang lain, menggunakan data-data dan
hasil penelitian serta argumen yang didapat dari penelitian sendiri.
e. Mencantumkan keyword/kata kunci dibawah abstrak dan terdapat 3 kata kunci.
4. Introduksi
Bagian ini mengandung isi sebagai pengantar yang berisi justifikasi penelitian,
hipotesis dan tujuan penelitian. Jika artikel berupa tinjauan pustaka, maka pendahuluan
berisi latar belakang yang memuat tentang pentingnya permasalahan tersebut diangkat,
hipotesis (jika ada) dan tujuan penulisan artikel. Pada bagian ini pustaka hanya dibatasi
pada hal-hal yang paling penting. Perlu diperhatikan metode penulisan pustaka rujukan
sesuai dengan contoh artikel atau ketentuan dalam Instruction for authors. Jumlah kata
dalam bagian ini juga kadang dibatasi jumlah katanya. Ada juga jurnal yang membatasi
jumlah referensi yang dapat disitir pada pendahuluan, tidak lebih dari tiga pustaka. Tidak
dibenarkan membahas secara luas pustaka yang relevan pada pendahuluan.
Kritik terhadap introduksi pada jurnal ini :
Introduksi pada jurnal ini cukup baik karena mengemukakan alasan dilakukannya
penelitian, tujuan, dan desain penelitian
Pada jurnal ini tidak dijelaskan hipotesis penelitian yang digunakan.
Pendahuluan juga didukung oleh pustaka yang kuat dan relevan.

5. Material dan Metode


Kritik terhadap metode dan penentuan subjek penelitian pada jurnal ini :
1. Desain :

12

Jurnal penelitian ini menggunakan metode penelitian kasus serial prospektif,


nonrandomisasi, tanpa kelompok kontrol
2. Populasi dan Sample Penelitian
Pada jurnal ini, subyek penelitian disebutkan dengan jelas, yakni 40 mata dari
20 pasien dengan KKV aktif yang refrakter terhadap terapi konvensional yang
direkrut dari Rumah Sakit Magrabi Aseer setelah izin tertulis diperoleh.
Protokol penelitian telah disetujui oleh Dewan Peninjaun Raja Khalid
University, Abha, Arab Saudi.
Tidak terdapat kelompok kontrol, sehingga tidak dapat dibandingkan
kelompok perlakuan yang telah mendapatkan terapi dengan kelompok control
yang tidak mendapatkan terapi seperti pada penelitian.
3. Perlakuan
Pada jurnal ini, perlakuan sudah dijelaskan dengan terperinci agar dapat
direplikasi.
Perlakuan mempunyai arti biologis dan klinis.
Perlakuan tersedia dan dapat diterima penderita.

6. Hasil
Kritik terhadap hasil pada jurnal ini
Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel, dan telah dijabarkan dengan detail.
Hasil penelitian dilakukan analisa statistik, sehingga kemaknaan dari penelitian ini
dapat digunakan sebagai acuan.
7. Discussion
Kritik terhadap diskusi pada jurnal ini :
Keseluruhan pembahasan ditulis dengan bahasa yang lancar, mudah dibaca,
informatif, hemat kata, efektif, serta berisi informasi mengenai contoh obat yang
digunakan, dosis, dan efek samping.
Metode penulisan pustaka rujukan sesuai dengan contoh ketentuan yakni
menggunakan angka rujukan.
8. Conclusion
13

Kritik terhadap kesimpulan pada jurnal ini:


Jurnal ini telah menyantumkan conclusion cukup baik yang menjelaskan hasil ringkasan
pembahasan yang terdapat di jurnal dengan singkat, padat, dan jelas.
9. References
Kritik terhadap referensi pada jurnal ini :
Literatur yang digunakan sudah tepat
Semua bahan acuan dalam bentuk jurnal ataupun naskah ilmiah yang digunakan
sebagai referensi atau acuan ditulis pada bagian ini. Referensi yang dirujuk haruslah
yang benar-benar mempunyai kontribusi nyata dalam penelitian tersebut.

14