Anda di halaman 1dari 8

PEMETAAN SUNGAI DAN AREA BANJIR

DENGAN AIRBORNE LIDAR TECHNOLOGY


diajukan oleh:

PT INDRACARTO PERSADA

Jakarta, 25 September 2012

Halaman : 1/8

EXECUTIVE SUMMARY
Aspek penting dari pemodelan hidrologi banjir adalah hubungan representasi
topografi sungai dan dataran banjir. Aplikasi model banjir yang sudah ada umumnya
pada daerah topografi sederhana dengan perubahan topografi beraturan sehingga
topografi cukup disimulasikan dengan menggunakan DEM resolusi rendah. DEM ini
dapat diterapkan untuk membuat simulasi banjir daerah pedesaan, meskipun aspek
topografi penting tetapi properti tidak disimulasikan secara nyata. Berbeda pada daerah
urban/perkotaan, dimana fitur properti seperti: jalan, bangunan, sungai/saluran air dan
tanggul berpengaruh besar pada dinamika aliran dan propagasi banjir dengan demikian
aspek properti harus diperhitungkan dalam pengembangan model.
Tahap evaluasi area genangan dalam pemodelan hidrologi banjir pada suatu
ketinggian muka air tertentu memerlukan peta skala besar, akurasi tinggi, dan terbaru.
Peta skala besar yang diperlukan memiliki skala setidaknya 1:1.000. Dengan
menerapkan metoda pemetaan terbaru Airborne LiDAR dapat diperoleh data
permukaan bumi dijital skala besar dalam waktu cepat dan sedikit memerlukan titik
kontrol tanah. Pengambilan data Airborne LiDAR dengan peralatan Laser sehingga
diperoleh data akurasi tinggi, konsisten untuk seluruh area liputan dalam waktu yang
relatif cepat.
Metoda ini menggunakan alat pengukur posisi akurat berupa laser dan media citra
dari kamera dijital optis resolusi tinggi. Keunggulan utama dari teknologi Airborne
LiDAR antara lain: dapat menghasilkan koordinat muka bumi serta obyek di atasnya
dengan akurasi tinggi, format data digital, waktu pekerjaan relatif cepat dan sedikit
memerlukan titik kontrol tanah. Penggabungan data hasil LiDAR berupa DEM 3D
dengan data lain melalui proses GIS menjadikan penggunaan metoda LiDAR sebuah
solusi terbaik bagi berbagai kebutuhan pemetaan modern saat ini. Adapun kelemahan
dari metoda ini adalah hambatan pengambilan data karena awan, asap dan hujan.
Dengan adanya data DEM LiDAR dan Ortho photo pada area dataran banjir
beberapa sungai di Provinsi Papua, dapat dilakukan pemodelan banjir, analisa luas
area bantaran sungai dan sekitarnya yang akan tergenang dengan cara simulasi di
komputer. Sehingga dapat diperkirakan lokasi dan luas area pembebasan untuk
mengurangi resiko banjir.

Halaman : 2/8

Teknologi LiDAR
Tekologi LiDAR merupakan kependekan dari Light Detection and Ranging yaitu metoda
pengukuran dengan menggunakan sensor cahaya laser. Cahaya Laser sebagaimana
dikenal dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan yang meliputi bidang: kesehatan,
industri, militer, pengukuran dan pemetaan. Beberapa metoda pemetaan yang
dipergunakan saat ini antara lain: metoda teristris, metoda citra satelit, metoda foto
udara (fotogrametri), metoda IFSAR, dan metoda LiDAR.
Dibanding dengan metoda yang lain, metoda LiDAR lebih unggul dalam hal; akurasi
tinggi, kecepatan dalam pengumpulan data topografi dan tutupan lahan, format digital,
dan sedikit titik kontrol tanah. Kelemahan dari metoda LiDAR pada harga yang cukup
mahal dan hambatan cuaca.
Peralatan utama dari Teknologi LiDAR antara lain:
1. ALS (Airborne Laser Scanner)
2. Kamera Dijital
3. IMU
4. GPS receiver
5. Data Storage, Controller dan Display Monitor

1. ALS (Airborne Laser Scanner)


ALS adalah seperangkat sistem yang membangkitkan pulsa laser, mengirimkan pulsa
laser, dan menangkap pengembalian pulsa laser yang mengenai obyek. Dalam
perkembangannya, ALS mengalami perbaikan dalam hal jumlah pulsa laser yang dapat
dikirimkan ke permukaan bumi dan ditangkap kembali. Di pasar Indonesia saat ini, ALS
yang beredar memiliki kemampuan antara 150 Khz sampai dengan 500 Khz. Semakin
tinggi nilai rate return akan semakin banyak kemampuan mengirim dan menerima pulsa
laser, maka akan semakin banyak jumlah titik persatuan luas di permukaan bumi. Hal
ini sangat berhubungan dengan detil yang dapat disajikan, dan skala peta lebih besar.
2. Kamera Dijital
Kamera dijital yang digunakan dalam pemetaan ini jenis kamera optis metrik medium
format dengan jumlah kapasitas memori satu frame mencapai 39 MB. Dengan tinggi
terbang pemotretan LiDAR dapat diperoleh resolusi piksel untuk obyek di muka bumi
sekitar 15 cm.
3. IMU (Inertial Measurement Unit).
IMU memiliki fungsi mencatat pergerakan sensor laser terhadap sumbu (x, y, z) secara
akurat. Dengan parameter orientasi sumbu koordinat pada setiap saat dapat diperoleh
posisi ALS akurat dan selanjutnya posisi titik laser di permukaan bumi secara akurat.

Halaman : 3/8

4. GPS receiver.
GPS receiver level geodetic terdapat di pesawat dan di permukaan bumi sebagai titik
kontrol tanah (TKT). Dengan adanya Titik Kontrol Tanah bersama dengan GPS di
pesawat dihitung koordinat akurat dengan metode kinematic GPS.
5. Data Storage, Controller dan Display Monitor.
Kelengkapan lain yang diperlukan sebagai satu sistem LiDAR antara lain: Data storage
(penyimpan data), data controller, dan dispaly monitor pengendali pengambilan data.
Wahana pengambilan data dengan menggunakan pesawat terbang, fix wing atau
helicopter tergantung keperluan dan tujuan survey. Untuk survey LiDAR pada area
berupa luasan misal area; tambang, perkebunan, perkotaan dll lebih tepat
dipergunakan pesawat jenis fix wing yang cukup untuk tujuh orang. Kebutuhan khusus
pesawat terbang ini adalah tersedianya lobang untuk pemotretan.
Sedangkan untuk area berupa jalur memanjang misal: Sungai, Jalan Raya/Tol dan
Jalur Kereta Api, Jalur Pipa Gas/Minyak, Jalur Kabel Listrik, dll lebih tepat
dipergunakan Helikopter.

Halaman : 4/8

Pemetaan dengan Tekologi Airborne LiDAR.


Urutan kegiatan pemetaan dengan Tekologi Airborne LiDAR secara berurutan terdiri
dari sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.

Persiapan
Perencanaan
Pengambilan Data LiDAR
Proses Data LiDAR
Penyerahan hasil akhir

1. Persiapan.
Persiapan dimaksud persiapan teknis dan
persiapan administrasi. Persiapan teknis meliputi;
pengecekan peralatan, team dan kontrak pesawat.
Sebagai catatan kondisi saat ini : ketersediaan
pesawat untuk survei LiDAR, pada saat ini tidak
sebanding dengan jumlah pekerjaan LiDAR.
Sehingga persiapan dan rencana kerja yang
matang diperlukan agar diperoleh hasil sesuai
dengan jadwal kerja. Persiapan administrasi;
pengurusan Security Clearance (SC) di Ditwilhan
Dephan, dan permohonan Security Officer (SO)
dari Dispotrud TNI AU. Kedua komponen tersebut,
SC dan SO sangat menentukan jadwal kerja
Pemotretan LiDAR. Perkiraan waktu untuk
memperoleh SC dan SO apabila semua dokumen
yang diperlukan lengkap, sekitar 20 30 hari.
Persiapan pekerjaan untuk lapangan adalah
menentukan posisi Titik Kontrol Tanah dengan
ikatan Titik Koordinat Nasional dari Bakosurtanal
(Badan Informasi Geospasial BIG).
Kontrak pesawat udara merupakan hal terpenting
dan sulit dalam tahap persiapan ini. Jumlah
pesawat yang memenuhi syarat untuk pemotretan
udara di Indonesia yang terbatas menjadi kendala
dalam Pekerjaan Survey Airborne LiDAR.

Halaman : 5/8

2. Perencanaan.
Perencanaan meliputi kegiatan: menentukan Airport Homebase operasi pengambilan
data. Hal ini berkaitan dengan jarak ke lokasi pemetaan dan ketersediaan bahan bakar.
Rencana jalur terbang untuk memperoleh liputan area yang efektif, dan efisien dari sisi
penerbangan untuk mendapat akurasi hasil akhir. Rencana kerja berkaitan dengan tata
waktu berkaitan dengan musim dan cuaca harian pada daerah area aliran sungai
dimaksud. Cuaca harian pada lokasi sangat menentukan keberhasilan pengambilan
data LiDAR, berhubung dengan kamera optis dan laser yang tidak dapat tembus awan.
Untuk pengambilan data area sungai di Provinsi Papua, bandara sebagai homebase
dapat dipilih bandara terdekat ke lokasi pekerjaan. Bandara di Provinsi Papua tersebar
di beberapa daerah dengan kondisi baik karena pesawat terbang merupakan moda
angkutan yang umum di Papua mengingat jalan darat masih terkendala topografi dan
jarak antar kota di Papua.

3. Pengambilan Data LiDAR.


Dalam tahap Pengambilan Data LiDAR terdiri dari:
Pemasangan Patok TKT, Pengukuran Koordinat Titik
dengan GPS. Mobilisasi pesawat, team, peralatan ke
lapangan. Titik Kontrol Tanah untuk memperoleh
koordinat hasil akhir (DSM, dan DTM) yang
berkoordinat tanah/lapangan, sehingga DSM/DTM
dapat langsung dapat dipergunakan untuk rencana
kerja evaluasi dan perencanaan daerah dataran banjir
suatu sungai.
Untuk wilayah sungai obyek memanjang diperlukan
pengukuran sejumlah titik kontrol dengan GPS yang
mengikuti jalur terbang arah aliran sungai dengan jarak
20 30 km per satu titik kontrol nya. Dengan adanya
beberapa titik pengukuran GPS dapat dikurangi resiko
yang timbul akibat kegagalan dalam pengukuran
koordinat GPS dan kesulitan identifikasi.
Pengambilan data LiDAR hanya dapat dilakukan
dengan syarat : cuaca cerah, tidak ada awan, tidak ada
asap, tersedia S.O, dan kesiapan pesawat udara.

Pesawat LiDAR

ALS 500 KHz

Diperkirakan cuaca terbaik untuk melakukan pengambilan data LiDAR area pekerjaan
di Provinsi Papua antara bulan Mei Oktober.

Halaman : 6/8

4. Proses Data LiDAR.


Proses Data LiDAR terdiri dari proses di lapangan dan
proses data di fasilitas proses data di kantor. Proses di
lapangan lebih menekankan untuk pengecekan
kelengkapan liputan area, kelengkapan data dan
kualitas data. Pengecekan kelengkapan liputan area
dilihat dari pengambilan data yang memenuhi seluruh
rencana jalur terbang. Kelengkapan data meliputi
adanya data LiDAR, data GPS, data IMU, dan data
kamera dijital. Kelengkapan kualitas data meliputi data
tanpa tutupan awan, atau kabut, dan ketidak
sempurnaan perekaman data akibat peralatan yang
tidak bekerja dengan sempurna. Apabila seluruh data
mentah di lapangan lengkap dan memenuhi syarat
kualitas, maka data mentah dapat dikirim ke proses
data akhir.

Blok Adjusment data LiDAR

Proses data akhir yang penting adalah proses hitungan


koordinat dengan prinsip perataan kesalahan
(adjusment), proses ortophoto untuk image. Mosaik
dan pemotongan menjadi ukuran lembar peta.
Titik Laser Area Kebun

Kualitas untuk mosaik untuk image dilihat pada daerah sambungan yang memiliki
kesamaan obyek, warna, rona dan kecerahan. Sedangkan kualitas untuk mosaik DEM
dilihat dari kesinambungan titik-titik tinggi yang tergambar pada garis kontur yang
kontinyu. Garis kontur yang melonjak pada daerah sempit, nampak sebagai patahan
dapat mengindikasikan sebagai kualitas proses adjustment yang salah.
Akurasi DEM (DSM dan DTM) dapat mencapai 5 cm pada daerah terbuka dan 15 cm
pada daerah berhutan cukup rapat. Sedangkan resolusi piksel image optis yang dapat
diperoleh pada tinggi terbang 700 m 1.000 m mencapai 15 cm.

5. Hasil Akhir
Hal terpenting dari hasil akhir adalah format data yang sesuai dengan kebutuhan
pengguna. Format akhir yang umum diserahkan berupa: TIF untuk image dan ASCII
untuk DSM dan DTM. Namun selain format tersebut tidak tertutup kemungkinan pada
beberapat software tertentu diperlukan format khusus yang sesuai.
Hasil akhir standar dari Teknologi Airborne LiDAR antara lain:
a. Image dari kamera digital ortophoto dalam ukuran lembar peta.
b. DSM Digital Surface Model
c. DTM Digital Terrain Model
d. Profil memanjang dan melintang sepanjang aliran sungai dengan interval
tertentu.
e. Kontur Dijital dengan interval kontur 1 meter.

Halaman : 7/8

Lampiran :
1. DEM dan Ortho image

Data LiDAR area Aceh Tengah tahun 2011. Kiri : Ortho Image resolusi piksel 15 cm.
Kanan : DTM area genangan banjir (flood plain) akurasi 10 cm.

2. Data LiDAR area Flood plain Perkotaan


Data LiDAR DEM di overlay dengan ortho photo. Evaluasi dan analisa lokasi serta
luas area yang tergenang banjir dengan simulasi komputer.

Halaman : 8/8